Bersyukur


“Bersyukur “ Sering Juga Salah Konsep.

Banyak orang  yang sering mengatakan pantas kita syukuri. Besukurlah untung saja kita selamat dari mara bahaya. Marilah kita  panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah swt.

Persoaan kali ini adalah  seperti apa  seharusnya bentuk amal atau  perbuatan dari  konsep bersyukur  ? Persoalan ini perlu dijelaskan karena menyangkut kewajiban umat. Bila konsepnya tidak jelas maka bentuk amalnya juga tidak jelas. Selanjutnya penulis ingin pula menyampaikan penjelasan tentang apa yang dikatakan bersyukur. Apa bentuk kerja dari bersyukur yang diperintahkan Allah kepada kita ? Untuk itu penulis akan mengutip beberapa ayat Al Quran yang berkaitan dengan perintah bersyukur ini. “Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih.”34: 13

Firman Allah tersebut menjelaskan kepada kita, bahwa kita disuruh bekerja atau beramal untuk mensyukuri nikmat (pemberian) Allah. Nikmat Allah yang diberikan Allah kepada kita sangat banyak, dan kita tidak mampu menghitungnya. Nikmat yang telah diberikan itu wajib disyukuri. Baik berupa harta benda, kelengkapan tubuh, alam sekitar dan ilmu pengetahuan. Maka untuk bersyukur kita harus bekerja (harus ada bentuk amal untuk itu). Dalam proses kerja tersebut kita harus memanfaatkan atau menggunakan nikmat-nikmat yang telah ada pada kita. Untuk memudahkan pemahaman kita, perhatikan contoh sebagai berikut; Seorang Insinyur pertanian, dia telah dianugerahkan oleh Allah ilmu tentang bertani. Ilmu pertanian itulah merupakan nikmat Allah untuk dia. Maka Insinyur tersebut harus bekerja, dalam bekerja itu dia menggunakan ilmu pertaniannya. Dalam hal ini tentu saja dia harus  bekerja sebagai seorang petani. Jika Insinyur itu bekerja (bertani) menggunakan ilmu pertaniannya, tentu hasilnya akan bagus dan prosuktifitas akan tinggi.

Hasil yang diperoleh oleh Insinyur itu juga merupakan nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya. Ini berarti Allah telah menambah pemberian nikmatNya kepada Insinyur itu. Ini pula salah satu makna yang terkandung dalam Firman Allah berikut :  Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.  14:7

Jadisangat jelas sekali hubungan sebab akibatnya dari konsep bersyukur dengan tambahan pemberian nikmat Allah kepada umat manusia. Menggunakan nikmat yang telah ada dalam bekerja akan mendatangkan perolehan tambahan nikmat, yaitu berupa hasil usaha tersebut.  Tapi sebaliknya jika ilmu pertanian itu tidak digunakan dalam bekerja, niscaya Allah tidak akan menambah NikmatNya. Jika seandainya Insinyur itu tetap juga dia bekerja sebagai petani, tetapi tidak ilmu pertaniannya yang digunakan, tentu saja hasil kerjanya akan jelek. Bahkan  akan menimbulkan petaka, maka bersama petaka itulah azab Allah terlaksana. Paling kurang masyarakat sekitarnya akan mengejek dengan nada menhina.

Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” 2:185 Makanya untuk melaksanakan pekerjaan ber-syukur itu haruslah dengan petunjuk Allah yang maha Agung itu.

Demikian pula seterusnya terhadap nikmat Allah yang lain. Kita harus menggunakan nikmat yang ada pada kita itu untuk bekerja. Kita tidak dapat membantah ketegasan firman Allah tersebut diatas. Bila kita melihat gunakanlah mata, bila mendengar gunakanlah telinga, bila kita memotong kain gunaknlah gunting, dan seterudnya. Gunakanlah nikmat itu dengan baik niscaya Allah akan menambah nikmatNya kepada kita.

Kalau kita lihat contoh yang lain misalnya, kalau kita punya uang, maka bekerjalah dan gunakanlah uang itu dalam bekerja (misalnya buka usaha berjualan). Niscaya Allah akan memberikan hasil pada usaha itu. Maka hasil usaha itulah nikmat tambahan. Tapi ingat kita punya uang yang banyak tidak dimanfaatkan untuk berusaha, hanya disimpan saja, maka tunggu saja kerugian yang akan kita derita itulah azab Allah pasti akan datang. Kita punya keteramplan tapi tidak digunakan untuk bekerja, tunggu saja kerugian yang akan kita derita.

Sebagai contoh lain yang gampang adalah: anda punya keterampilan menyapu halam rumah, dihalaman rumah anda juga sering sampah berserakan. Tapi anda tidak mau menyapu halaman dengan berbagai alasan, kerugian atau kesulitan yang anda derita adalah pertama mungkin pada suatu saat halaman rumah anda penuh oleh sampah dan akan medatangkan berbagai macam penyakit atau terganggu aktifitas lain. Kedua anda harus mengeluarkan uang untuk menggaji orang yang mau bekerja menyapu sampah di halamn rumah anda. Mencari uang untuk itu adalah konsekwensi logis dari ke-tidak-mau-an anda bekerja menggunakan keterampilan menyapu (sebagai nikmat) yang ada pada anda.

Dengan demikian pula kita akan dapat menemukan suatu ketentuan, bahwa semakin penting fungsi dari sebuah nikmat (pemberian Allah) , jika tidak disyukuri semakin besar pula akibat (azab) yang ditimbulkannya. Hanya saja kebanyakan dari kita tidak menyadarinya.

Jika sesorang menempati atau ditempatkan pada posisi jabatan, pekerjaan yang amanahkan pada dia tidak sesuai dengan keahliannya, maka hal yang demikian termasuk juga kedalam  tidak bersyukur. Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda, bila suatu pekerjaan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggu sajalah kehancuran. Itulah azab bagi yang tidak bersyukur.

Syukur juga  salah konsep.

Bersyukur biasanya kita kaitkan dengan hal-hal yang positif, menyenangkan atau mengembirakan. Itulah  pendapat umum yang sering kita dengar dan sering kita lihat  sejak kanak-kanak, kita amalkan, dan kita ajarkan kembali. Bersyukur, ketika naik kelas. Bersyukur, karena mendapat makanan. Bersyukur, karena bisa jalan-jalan. Bersyukur, karena baju baru, mainan baru. Bersyukur, karena mempunyai teman yang baik.  Ketika usia beranjak dewasa pola bersyukurpun tidak berubah. Bersyukur, karena naik pangkat atau dapat promosi. Bersyukur, karena makan enak. Bersyukur, karena bisa libur ke luar negeri. Bersyukur, karena rumah baru dan mobil baru, dan sebagainya.

Pernah saya melihat, Bahkan sering terjadi dalam masyarakat kita kegiatan bersyukur . Kali ini sebagai contoh ada seorang teman juga tetangga setelah lulus ujian CPNS lansung dia mengadakan acara “syukur-an”. Di rumahnya disediakan sejumlah masakan, kemudian diundang tentangga dan kerabat dekat. Tidak lupa menghadirkan seorang guru agama atau sering disebut Ustadz.Setelah makan bersama-sama, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh seorang Ustadz. Setelah selesai berdo’a, berakhir pulalah acara “syukuran”.

Begitulah salah satu bentuk  bersyukur yang dipahami dan telah menjadi tradisi di dalam masyarakat kita. Syukur yang seperti itu termasuk syukur besar, karena melibatkan banyak orang dan biaya yang cukup relatif besar. Tentu saja di samping itu ada pula namanya syukur kecil tapi biasanya tidak disebutkan “kecil” –nya itu. Syukur kecil biasanya hanya sebatas ucapan kalimat “al-hamdalah” baik scara jahar atau secara siir. Sebetulnya kegiatan seperti itu berada dalam konsep “Betasbih dan bertahmid kepada Allah.  Bertasbih adalah pengakuan kita kepada kesucian Allah dari segala yang tidak layak bagiNya dan mengakui kesucian Allah dari segala kekurangan. Sedangkan bertahmid adalah menyatakan pujian kepada Allah atas segala kasih dan sayangnya pada hambanya, karena Allah telah banyak memberi nikmat kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dalam hal inilah kita harus selalu mengucapkan alhamdallah jika kita  menerima nikmat dari Allah, sebagai tanda kegembiraan hati kita. Juga mengucapkan terimakasih kepada siapa yang memberi sesuatu yang baik kepada kita, sebagai pertanda bahwa kita sangat senang menerima pemberian itu. Yang lebih penting lagi adalah jika kita melihat sesuatu sebagai nikmat dari Allah maka ucapkanlah La-haula  la-quwwata illa-billah. Jadi konsep puji dan terima kasih (tasbih dan tahmid) bukan berada dalam konsep  syukur.  Perhatikan perintah Allah berikut ini;

Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. (As-Sajda: 15) ….. dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang, (Taa-Haa: 130)

Maka dengan demikian kebanyakan kita baru hanya telah  merasa”  bersyukur.

Demikian saja untuk sementara, semoga saya tidak salah faham.

Wassalam   –    Jalius  HR

Padang    –    Indonesia   –    September 10.

About these ads

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

2 Responses to Bersyukur

  1. dedehsh mengatakan:

    terima kasih atas kunjungan Bapak, dan membawa saya ke artikel tulisan Bapak ini.. sangat bermanfaat. salam ukhuwwah, Pak.. blog-nya menarik..:)

  2. Jalius HR mengatakan:

    —————–
    ؤ عليكم ا سلأم ؤ رحمة اللة ؤبر كة
    ———————————–

    Semoga kita semua selalu diberi Hidayah oleh Allah.

    Salam kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.