Tiga Konsep Sebagai Dasar Berfikir


Semua orang berfikir.  Mulai dari Nabi Adam as sampai pada siapapun hari ini.  Pilsuf, ulama, rohaniwan, petani,  guru,  murid,  politisi,  selebriti  apalagi akademisi. Sangat banyak orang  suka berfikir.  Biasanya ada orang berfikir berdasarkan filsafat tertentu.  Ada pula yang  berfikir  serampangan (artinya tidak ada pola).  Ada juga berfikir berdasarkan  ikutan ( bagaimana kebanyakan pola berfikir orang dalam masyarakat)  maka ia pun demikian pula .

Dalam tulisan pendek ini saya menyampaikan tiga konsep sebagai dasar    berfikir.  Kalau tidak ada yang tiga ini maka proses berfikirnya akan kacau -balau.  Paling tidak sebagian betul  atau sebagian salah.  Dalam hal berfikir  perlu sekali penataan  proses  berpikir dalam disiplin yang terpelihara.  Agar  proses berfikir menjadi runtun.  Yang dimaksud dengan runtun itu adalah dasarnya  harus baik,  prosesnya juga harus  baik dan hasilnya juga akan menjadi  baik. Oleh sebab itu terlebih dahulu kita harus memahami dengan baik dasar-dasar  berfikir.

Tiga konsep sebagai dasar dalam berfikir. ( benar, betul, baik )

Pertama, Jika kita berfikir harus ada dan jelas objek yang akan dipikirkan. Apa yang menjadi objek untuk dipikirkan adalah apa yang ada dan dapat kita inderai. Untuk kepentingan  ini kita karus mengerti  dan memahami konsep ke-benar-an. Dalam hal ini   perlu kita ingat, bahwa  kita  sering menemukan  kekeliruan  pemakaian ungkapan  atau  pernyataan  benar.  Sering orang bicara dengan menggunakan ungkapan  benar tidak berbeda dengan ungkapan betul. Padahal konsep benar dan konsep  betul tidak sama.  Dalam hal ini   dapat kita  berikan contoh;  batu itu keras.  Terhadap hal yang demikian maka kita akan memberikan pernyataan atau pengakuan dengan menggunakan kata  benar .  Jika sebuah batu ,  dimasukan ke dalam air maka batu itu akan terbenam,  keadaan yang seperti itu dinyatakan dengan  menggunakan  kata benar.  Tahi ayam baunya busuk, keadaan seperti itu dinyatakan sebagai benar, kemudian ada orang yang mengatakan nama saya  Jalius  juga diakui dengan menggunakan kata benar.  Jadi dengan contoh yang telah dikemukan tadi maka dapat diambil pengertian benar,  yakni  sesuatu yang ada ,  adanya itu tidak dapat dinafikan atau disangkal.  Adanya itu sungguh ada” dan tidak bisa di pungkiri. Siapapun orangnya  dia akan menemukan seperti itu adanya. Dia tidak bisa menafikannya. Siapa saja dan dimana saja jika dia bertemu dengan batu, dia akan mendapatkan batu itu dalam keadaan keras dan akan terbenam jika dimasukan ke dalam air. Mutlak adanya.

Ada-nya sesuatu tentu saja adalah apa  yang ada di langit dan apa yang ada di bumi  serta apa yang ada diantara keduanya.  Dengan kata lain apa yang ada di alam raya ini. Dalam sistem berfikir  apa yang ada di alam raya ini adalah sebagai objek berfikir. Dengan kata lain  semua isi alam raya ini kita jadikan sebagai objek yang difikirkan. Perlu juga diingat bahwa kitab sucipun termasuk kedalamnya.  Ada-nya sesuatu biasanya  didukung oleh tiga  aspek utama  sebagai atribut dari sesuatu (yang ada) yakni  bentuk dari apa yang ada, zat dari apa yang ada dan sifat dari apa yang ada.

 Ingat kebenaran itu semua adalah hasil ciptaan Tuhan (Allah) mutlak adanya. Jika ada orang yang mengatakan ” ada kebenaran relatif ” itu bukan kebenaran itu yang relatif, akan tetapi adalah pengetahuan manusia (seseorang) tentang sesuatu yang relatif.  (Hal ini perlu dibahas lagi dalam kesempatan lain).

Kedua, jika kita berfikir harus tahu  hukum yang berlaku atas objek berfikir tersebut. Biasanya hukum ini disebut juga dengan hukum alam. Untuk itu kita harus tahu  dan memahami  dengan  baik tentang hukum alam tersebut terutama konsep hukum kausalitas yang menyatakan  hubungan sebab dan akibat .  Misalnya,  2 + 3 =  5  atau  sebuah batu  jika dimasukan kedalam air akan berkurang beratnya. Pada contoh ini  jelas kita temukan bahwa  penggabungan  atau  penjumlahan  bilangan 2 dengan bilangan 3 (sebagai sebab) maka  munculnya bilangan 5 sebagai akibat.  Demikian pula  jika sebuah batu  dimasukan ke dalam air maka akibat yang timbul adalah perobahan berat pada batu, yakni batu menjadi lebih ringan. Contoh lain adalah jika semangkok tahi kucing dimasukan kedalam lemari es (alat pendingin) maka tahi kucing itu tidak berbau busuk lagi.   Seorang anak yang belum tahu tentang sesuatu, jika  ia diajar maka dia akan menjadi pintar.  Jika sebuah vas di letakan di dalamnya bunga maka akan terasa senang mata siapa yang melihatnya. Begitulah seterusnya. Jadi dalam hal ini ada hukum yang berlaku yakni hukum kausalitas. Dengan memahami hukum kausalitas ini kita akan mudah memahami bentuk-bentuk hubungan yang ada di alam raya ini.

Ketiga,  di dalam proses berfikir harus tahu guna dari objek fikir. Di dalam hal ini juga perlu pemahaman tentang fungsi-fungsi. Sebagai dasar berfikir yang wajib kita ketahui  adalah konsep tentang  guna. Dengan memahami ke-guna-an sesuatu maka kita akan dapat mengerti tentang apa  yang dikatakan  baik atau buruk.  Kata baik ini  berfungsi sebagi ungkapan atau pernyatan tentang; jika sesuatu yang ada ber-guna atau bersesuaian dengan keperluan atau kebutuhan.  Misalnya sepotong roti.    Roti sebagai makanan rasanya enak. Berdasarkan pengalaman Roti tidak merusak kesehatan jika kita makan. Roti  jika dimakan akan mendatangkan rasa kenyang dan kekutan kepada tubuh. Terhadap Roti itu kita katakan;  Roti tawar itu  baik untuk  makanan.  Tahi ayam walupun   baunya busuk,  tapi  jika digunakan  untuk pupuk tanaman,  makanya dinyatakan sebagai baik bahkan sangat baik. Karena tahi ayam dapat berfungsi sebagai menyuburkan tanaman dan meningkatkan hasilnya. Maka pernyataan kita tentang itu adalah tahi ayam sangat baik (bagus) untuk pupuk tanaman.

Kata  baik untuk sementara saya gunakan sebagai sebuah konsep umum dari guna atau fungsi yang mengandung cakupan yang luas dan juga bersifat universal.  Ke dalamnya termasuk apa yang disebut dengan bagus,  indah ,  cantik , ramah , dan sebagainya.   Yang  lebih  penting  lagi  yang  termasuk kedalam konsep baik   adalah  boleh, wajib,  pantas atau seharusnya . Intinya adalah bahwa yang baik itu adalah yang sesuai dengan keinginan  atau  kebutuhan  kita  atau     orang banyak,  atau juga untuk kepentingan yang lain.

Tiga Konsep kontradiktif. ( bathil – salah – buruk )

Setelah kita tahu tiga konsep dasar  utama di atas , maka penting juga diketahui atau dipahami adalak  konsep-konsep    kontradiktif-nya  dari tiga  bentuk pernyataan (konsep) tadi.  Sebagaimana yang terurai di atas, pernyataan baik kontradiktif-nya adalah buruk.  Makanya  ungkapan buruk juga bermakna sebagai konsep umum, ke dalamnya masuk jelek,  hina, kotor,  tidak etis, atau  a moral, dan  sebagainya.  Intinya adalah tidak adanya ke-sesui-an sesuatu dengan kebutuhan atau keinginan, atau juga tidak sesuai dengan kepentingan .

Dalam hal ini ada rentangan skala keadaan antara  baik dengan  buruk. Kita boleh saja membuat rentangan skala itu misalnya dari sangat baik sampai  kepada sangat buruk.  Persoalan inilah yang  dimaksudkan dengan konsep nilai yakni penetapan  ketentuan baik dan   buruk atas sesuatu. Dari sini pulalah kita dapat memulai penjabaran atau klasifikasi nilai-nilai, misalnya nilai sosial, nilai ekonomi, nilai budaya dan sebagainya.

Pernyataan betul  kontradiktif-nya adalah  salah,  Pernyataan salah harus diberikan kepada jika sesuatu atau gejala tidak menunjukan hukum kausalitas atau hukum sebab dan akibat, misalnya jika ada orang yang mengatakan 3 + 4 = 5 atau besi jika dipanaskan menguap. Karena memang tidak ada realitasnya atau bukti untuk itu, dan  tidak pula  dapat  dibuktikan bahwa  hal  itu   menunjukan adanya hukum sebab dan akibat.

Demikian pula halnya dengan pernyataan  benar.  Sering orang menyamakan pernyataan benar dengan  betul ,  terutama di sekolah atau kampus.  Sang guru kepada siswanya sering bertanya yang  mengandung pilihan jawaban dengan ungkapan kata (benar atau salah ). Seharusnya  adalah  menggunakan pilihan ungkapan kata ( betul atau salah). Oleh sebab itu dalam hal ini penulis  sampaikan bahwa pernyataan  benar kontradiktif-nya adalah  bathil (arab) atau  batil (Indonesia).  Tetapi kata batil pengertianya  tidak memadai untuk keperluan analisa ini. Bathil dalam tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukan bahwa sesuatu itu tidak ada, atau sesuatu itu di tiadakan atau juga dijadikan tidak ada.  Misalnya jika saya mengatakan   ada dua jenis batu;  yakni  ada batu keras dan ada batu cair.  Maka  terhadap pernyataan ada batu cair adalah sesuatu yang dinyatakan sebagai bathil ( mustahil adanya).  Karena sampai saat ini kemana saja kita cari tidak akan pernah ada ditemukan batu yang bersifat cair.  Terhadap apa yang saya katakan itu harus diakui sebagai pernyaan  yang bathil  (karena tidak ada realitasnya sebagai bukti).

Mungkin pada suatu saat kita bertemu dengan sebuah  peraturan. Setelah ditinjau atau di selidiki, ditanya di sana dan ditanya di sini, rupanya peraturan itu tidak berlaku  lagi, maka hal yang seperti  itu juga dinyatakan sebagai bathil atau batal. Atinya peraturan itu tidak diberlakukan lagi ( telah dibatalkan ). Artinya peraturan itu telah dinyatakan  tidak ada lagi.

Berdasarkan uraian di atas maka  kita akan teringat berbagai kekeliruan orang berpikir yang dapat diketahui melalui apa yang di ucapkannya, misalnya ada orang yang berseru  mari kita memperjuangkan kebenaran, …. jadilah anda sebagai pembela kebenaran.  Seharusnya   mereka  menyeru  masyarakat atau umat manusia adalah untuk menegakan kebajikan   dan membela nilai-nilai kebaikan (nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat).  Kita tidak perlu menyeru masyarakat atau mengajak seseorang untuk menegakan kebenaran, seperti kita tidak perlu berusaha mengeraskan sebuah batu atau membusukan semangkok tahi kucing. Yang pantas adalah mengajak berbuat kebajikan  (sesuai dengan nilai yang berlaku). Kita wajib mencegah perbuatan yang keji dan mungkar serta memperbanyak amal shaleh.

Demikian untuk sementara, semoga ada gunanya untuk berpikir dengan perspektif  lain.

Padang  -  Indonesia ,  Februari  10

Wassalam Jalius. HR

About these ads

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

2 Responses to Tiga Konsep Sebagai Dasar Berfikir

  1. kedaitsarwah mengatakan:

    ijin mengkopy artikel nya….
    maklum masih pemula

  2. Jalius HR mengatakan:

    Yup….. selamat semoga Kedai Sarwah dapat memanfaatkannya dan untuk berbagi dengan teman yang lain.

    Wassalam Jalius.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.