Merumuskan Masalah


Setiap orang selalu saja ada masalah. Masalah telah dan akan menjadi beban dalam kehidupan setiap orang. Masalah selalu saja mengundang tanggung jawab seseorang. Baik tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain atau organisasi. Dalam hal tanggung jawab ini juga meliputi lingkungan kita, baik dalam skala kecil maupun skala relatif lebih luas. Semua orang selalu saja menginginkan terhindar dari masalah. Mereka ingin masalah itu cepat atau pun lambat menjadi sirna dan hilang. Sudah dapat dipastikan bila masalah telah hilang, harapan kebahagiaan atau senang akan menjelma di dalam kehidupan ini. Memang itulah yang menjadi motif bagi semua orang.

Masalah itu ada yang mudah dihilangkan dan ada pula yang sulit, bahkan ada yang tidak bisa sama sekali. Namun demikian ada orang yang gigih  menghilangkan masalahnya. Ada pula yang sering patah semangat atau tidak mau sama sekali. Pada umumnya hal ini dikarenakan tidak mengerti apa masalah yang sesungguhnya yang ia hadapi. Lebih-lebih lagi bila masalah itu tidak kunjung fokus. Tentu juga faktor utama yang menyebabkan datangnya masalah sulit di pastikan. Demikian pula sulit mengambil sebuah keputusan untuk menghilangkan masalah tersebut.

Berkaitan dengan hal itu,  sering juga terjadi dalam rangka membuat sebuah rencana untuk menghilangkan masalah tidak tepat sasaran.  jika  kita analogi kan   seperti orang yang makan obat yang tidak cocok dengan penyakit yang diderita. Akibatnya  banyak sumber daya atau modal sudah terkuras, namun penderitaan akibat masalah tetap saja seperti itu.

Oleh sebab itu kita sangat perlu memahami apa sesungguhnya yang dikatakan masalah. Kita harus mengenal objek masalah itu terletak di mana. Dengan ketentuan itu kita akan terbantu dengan mudah menemukan solusi yang tepat. Maka dalam tulisan yang pendek ini penulis akan mencoba menjelaskan apa sesungguhnya masalah itu. Tentu saja dalam kerangka berpikir yang telah bisa kita lakukan. Sebab ada jenis masalah yang berada diluar jangkauan berpikir kita, karena berada di dalam skenario atau di sisi Allah format dan formula nya.

Untuk memulai analisa kita tentang masalah ini penulis memulainya dengan mengemukakan contoh untuk memudahkan memahaminya. Misalnya seorang hamba yang bernama Abdullah, dia dalam keadaan buta huruf. Artinya dia tidak memiliki kepandaian menulis dan membaca. Apakah itu dalam bahasa latin atau pun bahasa arab, yang jelas dia tidak biasa membaca. Keadaan Abdullah ini, usianya sudah masuk remaja, yang usianya terserah pada pembaca, badannya sehat dan bisa bekerja, makan dan minum seperti layaknya orang lain. Namun di dalam kehidupannya   dia belum pernah bersekolah. Abdullah dalam mendapatkan informasi hanya dengan jalan mendengar dan melihat, meraba dan mencium. Untuk mengetahui rasa tentu saja dia biasa dengan mencicipi. Tapi sayangnya bila buku dan surat kabar yang diperlihatkan kepadanya, dia terpaksa menolak. Penolakannya itu sangat tepat  alasannya, yakni karena dia tidak bisa membaca. Akibatnya dia tidak dapat  memperoleh informasi dari bahan bacaan tersebut…….

Maka pada contoh tersebut di atas, dapat diambil sebuah rumusan; “Abdullah tidak bisa (mengalami kesulitan mendapatkan) informasi dari buku dan surat kabar”. Rumusan itu dapat saja kita buat dengan menggunakan berbagai macam kalimat. Misalnya “orang yang buta huruf akan mengalami kesulitan mendapatkan berita dari bahan bacaan”.

Sebuah contoh lain dapat diajukan disini, Antonio anak Pak Robert, dia baru saja pulang dari sekolah (Pukul 13.00). Dia duduk diatas sebuah kursi dalam keadaan letih. Sebelum dia berangkat ke sekolah dia sarapan pagi seadanya. Di sekolah dia tidak jajan. Rupanya dia merasa letih disebabkan karena lapar. Kemudian Robetr disuruh oleh ibunya mencuci pakai yang sudah seminggu ditumpuk di pojok rumahnya. Lantas Robert menolak, dan pantas menolak karena dia tidak kuat untuk bekerja mencuci pakaian.

Pada contoh kedua ini  kita dapat membuat sebuah rumusan yakni, “Robert tidak sanggup mencuci pakaiannya karena dia sedang lapar”. Dengan melihat contoh itu kita juga dapat membuat rumusannya dengan bentuk kalimat lain, misalnya “orang lapar akan mengalami kesulitan (tidak sanggup)  bekerja”.

Berikutnya, mari kita mencoba menganalisanya dengan cermat tentang apa sesungguhnya masalah itu.  Terlebih dahulu kita harus mengenali dalam sebuah sistem (rangka kerja) ada faktor-faktor pendukung operasi. Kemudian lihat faktor apa yang tidak ada, atau  faktor yang tidak berfungsi sehingga suatu fungsi sistem tidak jalan. Dari contoh pertama di atas kita dapat mengetahui salah  satu faktor utama tidak ada dalam operasi, yakni  “ kemampuan membaca dan menulis” tidak ada. Dalam hal ini kita maksudkan sebagai kondisi awal dari sebuah realitas. Faktor keduanya adalah sebuah keinginan atau kebutuhan. Keinginan ini bisa saja kita maksudkan sebagai situasi atau kondisi yang akan datang/ lanjutannya.

Bila situasi atau kondisi awal dihubungkan dengan suatu keinginan , menimbulkan kesulitan (hambatan) dalam proses mencapai tujuan atau keinginan. Pada contoh di atas,  kondisi buta huruf dihubungkan dengan keinginan  (mengetahui informasi yang ada di dalam bahan bacaan) menimbulkan kesulitan. Karena fungsi faktor utama pengenalan huruf (melek huru) tidak ada, maka menimbulkan kesulitan dalam proses mendapatkan informasi.  Jika Abdullah pandai membaca tentu dia akan mudah mendapatkan informasi yang ada di dalam bahan bacaan. Disini sangat jelas keadaan seseorang yang buta huruf masalahnya hanya dalam hal mendapatkan informasi dari bahan bacaan. Jika keadaan anak yang buta huruf dikaitkan dengan yang lainnya tidak ada masalah.

Masalah yang seperti ini akan selalu ada hanya jika kondisi Buta Huruf dikaitkan atau dihubungkan dengan perolehan informasi dari bahan bacaan. Di dalam hukum sebab dan akibat, orang yang Buta Huruf tidak akan menemui  kesulitan atau hambatan jika dikaitkan atau dihubungkan dengan makan atau berjalan. Demikian pula halnya dengan kondisi lapar akan selalu  mendatangkan masalah kalau dikaitkan dengan  pekerjaan (relatif berat) yang harus dilakukan. Di dalam konteks hukum sebab dan akibat, orang lapar sudah jelas tidak kuat untuk bekerja. Pada contoh kedua ini mungkin bisa lebih luas cakupanya, bila kita kaitkan dengan faktor lain, misalnya perasaan senang. jika kita sedang lapar akan mengalami kesulitan atau hambatan mendapatkan rasa senang.

Ada orang yang mengatakan Buta Huruf adalah sebuah masalah. Pada hal Buta Huruf itu hanya menujukan suatu keadaan atau kondisi seseorang atau realita,  yakni dia tidak memiliki “kemampuan membaca dan menulis”.. Ada juga orang mengatakan kemiskinan itu adalah masalah. Padahal miskin itu adalah suatu kondisi yang ditunjukkan oleh fakta-fakta, “tidak ada uang”, “kurang bahan makan”, “tidak ada pakaian bagus” dan sebagainya. Jika kondisi tersebut kita hubungkan dengan pencapaian suatu keinginan akan dapat dilihat menimbulkan “kesulitan atau hambatan” dalam proses mendapatkannya. Kesulitan atau hambatan itu juga dapat dikatakan sebagai kondisi lambatnya jalan proses atau berhentinya sebuah operasi.

Orang miskin akan mengalami kesulitan mendapatkan keinginannya untuk makanan yang enak-enak, atau mengalami hambatan untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan tinggi. Dengan dasar itu yang dimaksud dengan masalah adalah “terhalangnya atau terhambatnya kelancaran usaha untuk mendapatkan suatu keinginan”. Jadi masalah itu kalau dilukiskan maka letaknya didalam proses mencapai suatu keinginan/tujuan. Posisinya bisa saja di awal atau di akhir proses. Penyebabnya adalah faktor utama (komponen dari sebuah sistem operasi) “tidak ada “ atau sebuah faktor operasi  fungsinya tidak jalan”.

Disamping itu juga dalam sebuah proses hambatan akan muncul bila komponen utama salah pasangan atau ukuran tidak cocok, maka sebuah “fungsi tidak jalan” . Dalam hal ini dapat kita berikan contoh, dua orang yang sedang  terlibat sebuah pelanggaran, saat itu terjadilah pertengkaran,   faktor utama yang harus ada  adalah “maaf”, sementara salah seorang dari mereka yang  diajukan adalah “sangsi”. Terang saja damai sulit dicapai.

Oleh sebab itu kalau mau menghilangkan masalah, maka lihat faktor utamanya yang  tidak ada atau faktor mana yang belum berfungsi. Jika Abdullah kesulitan atau menemui hambatan mendapatkan informasi dari bahan bacaan, maka untuk menghilangkan kesulitannya itu haruslah dengan menghadirkan faktor utama yakni “melek huruf” (keterampilan membaca dan menulis).  Dalam hal ini ada pilihan; Apakah dia Abdullah yang akan belajar membaca dan menulis atau memakai jasa orang lain. Yang penting sebagai prinsip adalah mendapatkan informasi dari bahan bacaan harus dengan melek huruf.

Antonio anak Pak Robert yang  tidak sanggup (tidak kuat)  mencuci pakaiannya. Kita sudah tahu bahwa orang lapar tidak punya kekuatan, untuk menghilangkan hambatan atau kesulitannya itu haruslah dengan menghadirkan sebuah faktor pendukung dalam sistem operasi yakni “kenyang” (setelah  makan   dan minum secukupnya). Kita tahu bahwa kenyang identik dengan adanya kekuatan. Artinya Antonio harus makan terlebih dahulu untuk mendapatkan “tenaga” setelah itu dia akan  bisa dan kuat bekerja mencuci pakaiannya.

Masalah itu harus “dihilangkan“, tidak dipecahkan. Kalau di “pecahkan” masalah bisa menjadi banyak.

Semoga bermanfaat.

Padang    Februari 11

About these ads

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

6 Responses to Merumuskan Masalah

  1. nor agesna mengatakan:

    saya punya tugas nih dari dosen ” mengapa merumuskan masalah tidak mudah ??” mohon bantuan jawabannya say tunggu ya pak !!!

    makasih

    • Jalius HR mengatakan:

      Terima kasih Nor, Semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya.
      Pertanyaan anda sangat bagus, tapi terlalu panjang jawabannya akalau tuntas.
      Bapak sekarang sedikit disibukan oleh gegiatan mengajar dan memeriksa tugas-tugas mhas. Menulis di Blog ini hanya sedikit diluangkan waktu hanya untuk satu tulisan minimal satu bulan.
      Pertanyaan Nor dapat dijawab dengan singkat;
      Banyak orang merasa sulit merumuskan masalah, salah satu faktor penyebabny adalah tidak tahu di mana letak masalah itu. Apa sesungguhnya objek dari “masalah”.
      Kebanyakan orang mengatakan masalah adalah suatu keadaan. Misalnya masalah kemiskinan. Kita harus ingat miskin itu belum masalah, akan tetapi baru sekedar menunjukan suatu keadaan tidak punya uang atau harta.
      Ada juga orang mengatakan masalah itu adalah kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Belum tentu juga pas. Karena banyak yang senjang tidak merupakan masalah, tapi hanya di “permasalahkan”. Dalam arti kata masalah dalam khayalan tidak sepenuhnya dalam realita. Misalnya ada orang rumahnya relatif jelek, maka para ahli lingkungan atau kesehatan katanya rumah tersebut tidakalayak (seharusnya tidak seperti itu atau lebaik dari itu). Namun kalau ditinjau atau diteliti secara hati-hati, maka akan ditemukan didalam rumah itu suatu keadaan (no Problem), semua anggota keluarganya merasa senang alias bahagia..
      Kemudian yang lebih fatal lagi ada orang mengatakan “nila rapor rendah” adalah masalah.Pada hal nilai rapor rendah baru menunjukan suatu keadaan tentang perolehan nilai oleh seorang siswa. Dalam contoh ini “nilai rendah” menjadi masalah adalah kalau nilai itu dihubungkan dengan keinginan melajutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, maka ia akan mengalami kesuliata atau hambatan. Nilai rapor rendah tersut tidak akan menjadi masalah dan anak tidak mengalami kesulitan bila tidak ada hubungan nilai yang diperolehnya dengan kepentingannya (kebutuhannya). Coba kita buat lagi contoh, bila siswa itu (bernilai rendah) disuruh bekerja membeli sesutu ke pasar tidak akan ada masalah, kareana tidak ada hungannya dengan nilai rapor rendah.
      Jadi “ada” yang menjadi masalah bagi orang lain tapi bagi orang bersangkutan tidak. Akibatnya sering solusi yang ditawarkan tidak cocok. Dalam hal ini sering para perencana (pakar) mengalami kegagalan. Sebagai contoh Di sumatera Barat banyak penganguran, pakar pembangunan masyarakat mengatakan ada masalah, yakni tidak punya keterampilan. Lantas beberapa pengangguran tsb (sudah ratusan) diberi keterampilan membatik. Hasilnya ? tidak seorang pun diantara mereka yang menjadikan membatik sebagau dunia usahanya.
      Makanya kalau mau merumuskan maslah Nor dapat menggunakan konsep dasar yang telah Bapak tulis tersebut yakni” kondisi atau situasi yang ada pada seseorang, bila dihubungkan dengan keinginan (sesungguhnya) akan mendatangkan kesulitan atau hambatan untuk mencapai keinginan tersebut”.
      Itu konsep dasarnya dan dapat dikembangkan kepada contoh-contoh kongkrit lainnya.
      Jadi dengan kata lain kesulitan dalam merumuskan masalah itu terletak pada pemehaman tentang objek masalah itu sendiri. Jangan salah letak, Terkadang penyebab yang di katakan masalah dan terkadang akibat yang dijadikan objek masalah.

      Demikian untuk sementara – semoga ada manfaatnya..
      Salam untuk semua pemaca.

  2. pegi jasnil mengatakan:

    jadi pak suatu masalah yang ada pada kita itu bukan sebuah masalah ?melainkan suatu keadaan,kalau sebuah keadaan itu ada yang baik dan ada yang buruk pak.sedangkan masalah adalah sesuatu yang tidak kita inginkan kedatanganya…

    • Jalius HR mengatakan:

      Yth, ananda Jasnil, Betul apa yang and. maksudkan yakni suatu keadaan yang tidak diinginkan (dalam arti mendatangkan kesulitan) atau keadaan atau situasi yang menghalangi kita mencapai tujuan/keinginan. Bukan semua keadaan atau situasi.
      Semoga dapat menambah bahan untuk berfikir.
      Wassalam dari Jalius.

      • pegi jasnil mengatakan:

        terima kasih pak…atas penjelasanya….
        wassalam pegi jasnil

  3. esa septian mengatakan:

    saya mau tanya pak dosen , mohon bantuannya
    manfaat merumuskan suatu masalah itu seperti apa ?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.