Fanatik


Fanatik adalah salah satu kata yang sering diucapkan oleh para komentator. Apakah dia komentator dibidang politik, agama, olah raga, ekonomi, kesenian dan sebagainya. Untuk apa sebaiknya kata fanatik ini digunakan ? Untuk menjawab pertanyaan ini sebaiknya dipahami dulu apa pengertian dari kata   ini.
Kata fanatik pada dasarnya  digunakan untuk menyatakan kondisi kepercayaan seseorang   yang sangat kuat terhadap suatu pikiran atau faham. Pikiran atau faham tersebut dapat saja bersumber dari sebuah agama, budaya atau ajaran seseorang. Kepercayaan yang sangat kuat itu menumbuhkan keyakinan yang kokoh yang sulit dirubah.
Kepercayaan dan keyakinan yang kokoh tersebut berasal dari pemahaman seseorang terhadap sebuah konsep, yang mana konsep tersebut dianggap sangat cocok dengan kebutuhannya. Kebutuhan tersebut dapat saja untuk kepentingan diri sendiri atau untuk kelompok atau komunitas. Jika seseorang menemukan sebuah konsep pemikiran yang cocok dengan kebutuhan atau keinginanya, maka orang tersebut serta merta bersikap ingin mengadopsi pemikiran itu untuk diterapkan di dalam kehidupannya.
Biasanya orang yang akan mengadopsi atau mau meneriman pemikiran tersebut  mereka melakukan berbagai pertimbangan yang matang, sehingga dia merasa bahwa itulah yang terbaik  jika dibandingkan dengan pemikiran atau  faham yang lain. Tentu saja pertimbangan yang dilakukan pada saat menerima  meliputi banayak faktor atau aspek. Fakator-faktor yang menjadi bahan pertimbangan tersebut di antaranya adalah efektifitas dan efesiensinya. Biasanya sering berkaitan dengan ruang dan waktu, biaya atau modal, situasi dan kondisi, tujuan-tujuan hidup dan sebagainya. Sebagai sebuah konsep fanatik itu mengandung makna positif, senang hati menerima, suka mengamalkannya, siap sedia membela dan mempertahankannya. Disamping itu juga rela berkorban demi pengembangan paham atau pemikiran yang telah menjadi keyakinan tersebut. Dengan kata lain konsep fanatik merupakan paham atau pikiran yang telah terinternalisasi di dalam diri seseorang atau sekelompok orang.
Demi tanah air siap berkorban. (nasionalisme)

Demi tanah air siap berkorban. (nasionalisme)

Dalam hal tertentu, seseorang mengambil keputusan untuk menerima sebuah pemikiran atau faham didasarkan pada rasionalitas. Ia akan melakukan serangkaian pengkajian dengan menggunakan data empiris, pengalaman sendiri dan juga orang lain atau sistem budaya. Misalnya seseorang menerima pemikiran dibidang ekonomi, mau menerima sistem kapitalis atau sistem sosialis. Bagi yang suka berusaha dengan modal sendiri, karena memang ia punya modal atau berusaha untuk mendapatkan modal maka orang tersebut lebih cenderung memilih sistem kapitalis. Mereka mungkin melakukan pertimbangan dengan sikap tidak ingin berbagi keberhasilan dengan orang lain. Sikap yang terbenamkan di dalam diri mereka adalah jika ada keuntungan yang diperoleh sepenuhnya untuk  diri sendiri. Sedangkan jika ada resiko   merekamem bebankannya kepada orang lain. Karena menurut pertimbangan pikirannya sistem itulah yang sesuai atau yang cocok dengan kebutuhannya atau kelompoknya.  Demikian pula sebaliknya, bagi mereka yang ada modal tapi terbatas dalam berbagai hal, maka mereka lebih suka memilih sistem kerjasama mengelola ekonominya (sosialis). Keuntungan yang diperoleh untuk bersama dan resiko yang timbul menjadi beban bersama. Di dalam ungkapan masyarakat Minang Kabau digunakan istilah tarampai samo kariang, tarandam samo basah ( jika di dalam terik matahari  sama kekeringan, jika di dalam air kita sama basah ).  Karena dengan kerja sama yang baik  biasanya menimbulkan kekuatan yang hebat.
Pada sisi lain ada juga seseorang menerima pemikiran atau faham didasarkan kepada emosional. Misalanya menerima suatu “kepercayaan”, terutama secara emosional mengikuti orang tua atau tokoh tertentu. Biasanya orang ini tidak atau belum melakukan pengkajian yang lebih hati-hati dan mendalam tentang itu. Karena memang keterbatasannya untuk melakukan pengkajian dan melakukan berbagai pertimbangan. Mereka hanya mendasarkan sikapnya yang cenderung menerima itu hanya berpedoman kepada orang-orang tertentu sebagai tokoh panutannya. Betul atau salah  paham atau pemikiran yang diterima tidak pernah dipersoalkan. Misalnya menerima kepercayaan terhadap dewa  Nyai roro Kidul  dan sebagainya.
Kondisi atau situasi keyakinan yang kuat  dalam menghayati dan mengamalkan  suatu konsep pemikiran atau paham itu disebut juga dengan fanatisme. Dalam hal ini fanatisme dapat dirumuskan sebagai  keyakinan atau perilaku yang melibatkan semangat kritis, terutama ditujukan untuk penyebab penganut agama atau politik yang  sangat kuat, atau pendukung dalam pertandingan  olah raga  dengan sangat antusias. Dalam hal ini sikap yang menujukan fanatisme itu sangat diutamakan dan perlu dibina. Sering juga dengan berbagai kegiatan atau cara sikap fanatik ini ditumuh kembangkan agar menjadi sebuah kekuatan dalam sistem komunitas.  Di dalam masyarakat  Minang Kabau ada istilah yang sangat popular yakni “tagak di suku mamaga suku, tagak di kampuang mamaga kampuang” (artinya  jika  kita berada di dalam Kelompok maka kita harus bersikap membela dan memperjuangkan kepentingan kelompok, jika kita berada di dalam sebuah Desa /Negara maka kita harus bersikap membela dan memperjuangkan Desa/Negara). Menurut Winston Churchill,…. “adalah orang yang fanatik tidak dapat berubah pikiran dan tidak akan mengubah topik”. Dengan deskripsi fanatik yang baik menampilkan standar yang sangat ketat dan sedikit toleransi untuk ide-ide atau pendapat yang bertentangan. Sikap yang seperti itu dapat menjaga keutuhan nilai dan norma yang ada di dalam komunitas atau masyarakat. Dengan kata lain fanatik juga merupakan manifestasi dari loyalitas sosial yang tinggi. Suatau sikap yang sangat diharapkan oleh setiap unit sosial.
Namun demikian pemakaian kata fanatik ini  telah  gunakan secara keliru. Kata ini  digunakan secara keliru oleh  orang-orang yang  hipokrit. Demi kepentingan dirinya. Terhadap orang kuat keyakinan dan pendiriannya enak saja dia mengatakan …” jangan terlalu fanatik ”… atau …”mereka masih fanaik kepada gurunya”….. dan sebagainya.  Dalam perkembangannya penggunaan kata fanatik itu maknanya menjadi berubah, yani dari bermakna positif menjadi makna negatif atau tidak baik. Dalam hal ini kata fanatik kalau salah pemakaiannya dapat berfungsi sebagai usaha untuk melemahkan semangat orang orang yang taat akan pendirian atau orang yang kuat kepribadiannya.
Sebagai contoh, Filsuf George Santayana mendefinisikan fanatisme sebagai… “melipatgandakan usaha Anda ketika Anda lupa tujuan Anda”; Pada hal tindakan orang orang yang fanatik membela komunitas atau keyakinan mereka adalah suatu hal yang memang harus dilakukan. Itu suatu kewajiban yang melekat pada keyakinan atau paham itu. Merka tentu tidak akan mau menyerah begitu saja kalau ada orang lain yang menggangu, atau mengajak mereka untuk berubah keyakinan. Misalnya orang Islam yang istiqomah dan bertaqwa mau berjihat (berperang sampai tetesan darah terkhir) demi membela agamanya. Sikap ini juga dianaut oleh kelompok komunitas yang lain. Demikian pula sebaliknya, orang yang tidak memiliki sikap fanatik dalam berkeyakinan berarti mereka tidak memiliki konsep diri yang jelas dalam kehidupannya. Dengan kata lain dia tidak berpendirian alias hipokrit.
Perlu juga kita sadari bahwa ada di antara orang-perorangan sebagai anggota kelompok dalam membela dan mempertahankan keyakinan kelompoknya melakukan tindakan yang melampaui batas ketentuan yang berlaku. Artinya mereka tersalah karena teknis pelaksanaan keyakinan mereka,   Sikap fanatik mereka sudah bagus tapi pelaksanaan (perilaku pendukungnya) pada saat merespon ransangan dari lingkungannya  melampaui batas toleransi. Dengan demikian konsep fanatik tetap pada posisi positif, tapi sering dirusak (dinegatifkan) oleh tidakan orang-orang yang tidak pas melaksanakannya. Biasanya emosi pendukungnya dibangkitkan secara berlebihan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.  Sesungguhnya konsep fanatik senantiasa  sejalan dengan teknis pelaksaannya agar terjadi keharmonisan dalam sistem fanatisme itu. Dengan kata lain sudah ada aturan pelaksanaannya yang jelas.
Untuk itu kita perlu juga  mencari istilah  yang tepat untuk menyatakan seseorang itu salah atau melewati batas toleransi dalam menjalankan  pikiran dan pahamnya.
About these ads

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.