Hakikat Manusia dan Atribut Kemanusiaan


Hakikat Manusia dan  Atribut  Kemanusiaan, Oleh Jalius. HR Dosen UNP

Tulisan ini akan menjelaskan persoalan hakikat manusia dan atribut kemanusiaan. Penulisan ini di latar belakangi oleh sebuah pernyataan Prayitno dan Afriva Khaidir. Mereka menulis di dalam bukunya yang berjudul  “ Model Pendidikan karakter Cerdas” pada halaman 57 sebagai berikut : ….“ Komponen hakikat manusia ini meliputi lima unsur yang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam kondisi :

1)      Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

2)      Diciptakan Paling sempurna.

3)      Berderajat paling tinggi

4)      Berstatus sebagai khalifah di muka bumi.

5)      Menyandang hak asasi manusia. “

Dari kutipan di atas dapat kita jelaskan beberapa kekeliruan konsepnya.

Di dunia ini ada lebih dari 7 miliar manusia, dapat saja di duga bahwa tidak sampai sebanyak 2 miliar yang beragama Islam. Dari jumlah manusia yang beragama Islam sebesar itu  tidak akan sampai 1 miliar di antara mereka yang “ beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa“. َDan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya. Qs.Yusuf 103. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat pula dinyatakan bukanlah sebagai komponen hakekat manusia.

 1) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah merupakan tujuan pendidikan yang harus dicapai oleh umat Islam, karena hal itu merupakan perintah Allah di dalam Islam. Bahkan di Indonesia juga telah dinyatakan sebagai tujuan utama pendidikan nasional. Boleh jadi pada usia 20 atau 30 tahun ada orang bisa mencapai derajat takwa tersebut, namun pada usia 10 atau 15 tahun saja dia sudah dinyatakan sebagai manusia. Artinya hakekat manusia sudah ada sebelum ia menjadi orang yang beriman dan bertakwa. Allah menyeru manusia agar menjadi orang yang beriman kemudian menjadi orang yang bertakwa. Hakikat manusia diperoleh bukanlah atas usahanya sendiri atau dengan bantuan orang lain, akan tetapi sudah tercipta sebagai bawaan. Allah memberi peluang kepada manusia, ada dua pilihan yakni mau menempuh jalan ke-takwa-an atau jalan ke-fasik-an. Makanya sebuah kesimpulan tidak dapat ditetapkan hanya pada satu pilihan  Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

 2) Manusia bukanlah makhluk yang diciptakan paling sempurna. Jika dibandingkan dengan makhluk lain tetap saja manusia itu memiliki banyak kekurangan. Sesungguhnya menurut keterangan di dalam Al-Quran manusia itu diciptakan Allah adalah dalam keadaan sebaik baik bentuk.  Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Qs. At Tin : 4.  Sebaik baik bentuk bukan berarti lebih baik dari binatang, akan tetapi proses  penciptaan ( format manusia) itu telah diupayakan oleh Allah pada kondisi fisik atau jasadnya   dengan  keadaan yang sebaik-baiknya. Misalnya tata letak organ tubuh, perbandingan ukuran dan sebagainya. Allah telah menciptakan manusia sampai selesai dengan sebaik-baik proses penciptaan, dengan hasil yang paripurna atau sebaik-baik kualitas. Jika sudah sempurna tidak perlu lagi baginya agama.

Manusia bukanlah makhluk yang telah dicipta dengan :

 3) Derajat yang paling tinggi. Allah dengan tegas mengatakan orang paling mulia adalah manusia yang “ bertakwa ” kepada Tuhan Yang Maha Esa. Artinya manusia harus ada usaha terlebih dahulu untuk menjadi orang yang beriman dan bertakwa. Ketakwaan manusia bukan dibawa semenjak lahir sehingga merupakan bagian dari hakikatnya, tapi itu adalah hasil perjuangan hidupnya. Demikian pula sebaliknya se-jelek-jelek manusia adalah orang-orang yang kafir kepada Tuhannya. Allah dengan tegas mengatakan bahwa mereka lebih sesat dari binatang ternak. Kenapa dikatakan lebih sesat jika dibandingkan dengan binatang ternak ? Salah satu alasannya adalah binatang ternak masih mudah diatur oleh orang yang memeliharanya.  Sedangkan orang kafir amat susah diatur oleh siapa saja walau orang tuanya sendiri sekalipun. Apalagi jika manusia itu adalah pengkhianat. Kita telah dapat menduga bahwa kebanyakan manusia di dunia ini memang kafir kepada Tuhan. Namun beriman atau tidak statusnya tetap saja sebagai manusia. Di belahan bumi manapun kekafiran dan kemunafikan tidak disukai olah siapapun. Derajat yang tinggi harus diupyakan oleh seseorang jika ingin menjadi makhluk yang tinggi derajatnya, yakni harus berilmu dan beriman.

Walaupun telah dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional Indonesia adalah membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun manusia itu bukan hanya beragama Islam semua dan bukan pula hanya yang berada di Indonesia saja, di belahan dunia lain terdapat jutaan umat manusia dengan aneka karakternya. Yang jelas amat sedikit di antara mereka yang ingin bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 4) Berstatus sebagai khalifah di muka bumi. Manusia sebagai khalifah di muka bumi merupakan peran yang diberikan Allah atasnya dan fungsi utamanya adalah menyembah atau mengabdi kepadaNya. Hakikat itu sejatinya adalah apa yang ada pada manusia, bukan apa yang diperintahkan kepadanya.

 5) Menyandang hak asasi manusia,  Juga bukanlah sebagai komponen hakikat manusia. Didalam menjalankan fungsi utamanya…kalau manusia itu ingin menjadi orang yang dikasihi oleh Allah di dunia dan di akhirat maka manusia perlu menyandang hak asasi manusia (sebagai perwujudan kewajiban orang beriman). Menyandang hak asasi manusia juga merupakan konsensus di dalam hidup bermasyarakat, baik pada lingkup regional maupun internasional. Artinya menyandang hak asasi manusia  tidak lebih dari kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai orang yang mengakui kemanusiaan yang beradab serta beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain untuk mendapatkan kemampuan “menyandang hak asasi manusia”….. makanya manusia perlu pendidikan.Tujuan utamanya juga adalah agar manusia dapat bergaul  secara harmonis lintas bangsa dan budaya. Jika ada manusia yang melanggar hak asasi manusia berarti dia tidak manusia?
Apa artinya, manusia itu ada yang mau menegakkan hak asasi dan ada pula yang tidak. Makanya terhadap hakikat manusia tidak dapat hanya diambil kesimpulan peluang yang satu diangkat dan peluang satu lagi ditekan. sangat menyalahi hukum logika.

Pernyataan Prayitno dan Afriva Khaidir juga dilanjutkan dengan pernyataan selajutnya ;

Kelima unsur di atas saling terkait satu samalain, dapat dipilah tapi tidak dapat dipisahkan. Kesatuan lima unsur tersebuat berada secara inheren pada diri manusia dan merupakan orientasi bagi segenap perikehidupan manusia “.

Seharusnya perlu pembatasan, sekaitan dengan penjelasan penulis di atas. Seperti ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sungguh tidak inheren untuk semua atau setiap manusia. Penyandang HAM apalagi, semakin jauh dari rasionalitas.

Hakikat Manusia

Berikut ini penulis mencoba menjelaskan pengertian hakikat manusia. Hakikat dapat dinyatakan sebagai apa yang membuat sesuatu terwujud. Hakikat mengacu kepada  faktor utama yang sangat fundamental. Hakikat selalu ada dalam keadaan sifatnya yang tidak berubah-rubah. Baik dalam rentang waktu maupun ruang yang ditempatinya. Tanpa faktor utama tersebut sesuatu tidak akan bermakna sebagai wujud yang kita maksudkan.

Untuk  lebih  memudahkan  pemahaman  kita   selanjutnya ,  ada baiknya mari kita mengenal hakikat manusia. Hakikat merupakan inti pokok dari sesuatu, dengan hakikat itulah sesuatu bereksistensi. Maka pada manusia  sebagai makhluk Tuhan  terbentuk atau terujud  oleh  jasad dan roh. Jadi hakikatnya  sebagai  esensi  dari manusia itu yakni   sitem ikatan  jasad dan roh. Dalam persoalan ini ada satu hal yang perlu diingat yakni setelah roh ditiupkan atau dimasukan kedalam jasad oleh sang Maha Pencipta, maka roh tersebut berubah namanya menjadi nafs ( jiwa).

Suatu  hakikat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dibagi dalam bereksistensi. Dengan kata lain hakikat   mengacu kepada hal-hal yang lebih permanen yang tidak dipengaruh oleh situasi dan kondisi.  Hakikat lebih mantap dan stabil serta tidak mendatangkan sifat yang berubah-rubah, parsial atau yang fenomenal. Maka yang namanya manusia (al annas) adalah salah satu jenis makhluk  yang memiliki jiwa dan jasmani.

Pada jasad atau jasmani terdapat berbagai macam organ tubuh, seperti kaki, tangan kepala dan badan. Pada kepada ada mata, ada hidung ada otak dan sebagainya. Pada jiwa (nafs) ada perangkat-perangkatnya , seperti ada hati (qalbu), akal, fikir, hawa (keinginan), ada fuad (yakni kemampuan untuk menerima atau menolak sesuatu).

 Pada jiwa juga ada perangkat kemampuan penginderaan. Perangkat ini berfungsi melalui organ tubuh , yakni alat-alat pancaindera. Sperti, kemampuan melihat berfungsi dengan mata, kemampuan mendengar berfungsi dengan telinga, kemampuan mencium berfungsi dengan organ hidung, kemampuan merasakan berfungsi melalui lidah dan kemampuan meraba berfungsi  dengan kulit.

 Keharmonisan integritas jasmani dan jiwa menjadikan manusia dapat bereksistensi. Dengan hakikat itu  pula dia dapat menjalankan fungsi-fungsi kemanusiaannya. Pada hakikat itu  terletaknya hal-hal lain yang menjadi atribut manusia. 

Jika jiwa berpisah dengan raga maka hilanglah sebutan manusia. Kalau jasad saja mungkin bernama mayat dan jiwanya berubah namanya kembali sebagai roh. Maka dengan demikian satu saja di antara faktor utama itu  yang ada manusia tidak dapat bereksistensi, dan fungsi-fungsi kemanusiaan tidak dapat dijalankan. Demikian pula berbagai atribut kemanusiaan tidak berarti apa-apa.Itulah yang disebut dengan mati.

Dengan demikian apa yang ditulis oleh Prayitno dan Afriva Khaidir di atas adalah tidak lebih dari atribut-atribut kemanusiaan. Atribut kemanusiaan didapatkan ada yang melalui berbagai upaya yang sistematis, hasilnya secara relatif akan berbeda-beda setiap orang. Di lain sisi atribut secara relatif dapat saja berubah menurut ruang dan waktu. Sedangkan hakekat manusia diperoleh bukanlah atas usahanya sendiri atau dengan bantuan orang lain, akan tetapi sudah tercipta sebagai bawaan.

Manusia semenjak dia dicipta di dalam rahim sang ibunya senantiasa mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Pertumbuhan dan perkembangan itu berlangsung hingga usia yang relatif terbatas. Proses perkembangan dan pertumbuhan setiap orang berbeda beda ukuran dan kecepatannya. Ada yang  ukuran tubuhnya besar dan ada yang kecil, ada yang tinggi ada yang pendek. Jika ada orang kerdil dan bertubuh kecil sampai tuanya, tetap dia diakui sebagai manusia. Ditegaskan disini hakikat bukanlah ukuran tubuh. Ada yang lengkap anggota tubuhnya dan ada yang kurang. Jika ada orang yang tangannya hanya satu, tidak akan mempengaruhi statusnya sebagai manusia. Warna kulitnya ada yang hitam, ada sawo matang dan juga ada yang putih. Jika ada kulit orang yang hitam juga tidak menghilangkan statusnya sebagai manusia. Karena hakikat itu bukan terletak pada warna kulit. Dalam hal ini warna kulit tidaklah berpengaruh atas hakikat manusia. Walaupun ada sebagian masyarakat Eropa yang menyatakan bahwa  kulit putih yang paling mulia  di antara manusia yang ada. Semua hal tersebut kita sebut sebagai atribut. Selain itu manusia dalam perkembangannya juga memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Hal ini juga terkait dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Penguasaan-penguasaan keahlian tersebut  juga menjadi atribut  kemanusiaan.

Selamat menganalisis , semoga bermanfaat bagi kita semua.

About these ads

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

3 Responses to Hakikat Manusia dan Atribut Kemanusiaan

  1. luthor51 mengatakan:

    makasih bngets gan

  2. nenden1310 mengatakan:

    bisa gak ruh itu jiwa yang belum menyatu dalam raga???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.