Politik Uang

Politik Uang, oleh Jalius. HR Tenaga Pengajar Universitas Negeri Padang

Politik Uang “Penting Untuk Perjuangan Umat Islam”

Tulisan ini dilatar belakangi oleh berbagai pendapat di dalam literatur tentang politik uang. Berbagai pendapat tersebut dapat saya rangkum sebagai berikut:

“Politik uang atau politik perut adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Pembrian biasa dilakukan menggunakan uang atau barang. Politik uang umumnya dilakukan simpatisan, kader atau bahkan pengurus partai politik menjelang hari pemilihan umum. Praktik politik uang dilakukan dengan cara pemberian berbentuk uang, perlengkapan sekolah, sembako antara lain beras, minyak dan gula kepada masyarakat dengan tujuan untuk menarik simpati masyarakat agar mereka memberikan suaranya untuk partai yang bersangkutanPolitik uang sebenarnya akan menyebabkan nilai-nilai demokrasi luntur. Oleh karenanya, jangan sampai ada pihak yang seolah-olah mendukung politik uang ini. Politik uang harus tidak ada “.

Yang menjadi persoalan bagi penulis adalah pengertian politik uang tersebut hanya yang bernuansa negatif dan berkaitan dengan pemilihan umum saja.  Padahal politik itu sifatnya netral, artinya nilainya tergantung kepada penggunaannya. Jika penggunaanya untuk kecurangan berarti bernilai negatif, demikian pula sebaliknya, jika penggunaannya untuk mencapai kebajikan maksimal maka politik akan bernilai positif.

Politik

Aristoteles dapat dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan kata politik. Kata politik ditancapkan pada pengamatannya tentang manusia yang ia sebut zoon politikon. Dengan istilah itu ia ingin menjelaskan bahwa hakikat kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah pasti akan melibatkan hubungan politik. Aristoteles melihat politik sebagai kecenderungan alami dan tidak dapat dihindari manusia, misalnya ketika ia mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika ia berusaha meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia berupaya memengaruhi orang lain agar menerima pandangannya.

Aristoteles berkesimpulan bahwa usaha memaksimalkan kemampuan individu dan mencapai bentuk kehidupan sosial yang tinggi adalah melalui interaksi politik dengan orang lain. Interaksi itu terjadi di dalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan konflik sosial dan membentuk tujuan negara. Dengan demikian kata politik menunjukkan suatu aspek kehidupan, yaitu kehidupan politik yang lazim dimaknai sebagai kehidupan yang menyangkut segi-segi kekuasaan dengan unsur-unsur kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy, beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation).

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem negara (kekuasaan) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusan (decision making) mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi terhadap beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah dipilih. Sedangkan untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijakan-kebijakan strategis yang menyangkut pengaturan dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation) dari sumber-sumber (resources) yang ada.

Untuk bisa berperan aktif melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, perlu dimiliki kekuasaan (power) dan kewenangan (authority) yang akan digunakan baik untuk membina kerjasama maupun untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses itu. Cara-cara yang digunakan dapat bersifat meyakinkan (persuasive) dan jika perlu bersifat paksaan (coercion). Tanpa unsur paksaan, kebijakan itu hanya merupakan perumusan keinginan (statement of intent) belaka.

Politik merupakan upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki.  Dalam implementasinya bahwa politik tidak hanya berkisar di lingkungan kekuasaan negara atau tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh penguasa negara saja. Dalam banyak aspek kehidupan, manusia sering melakukan tindakan politik, baik politik dagang, budaya, sosial, maupun dalam aspek kehidupan lainnya. Politik dapat dijalankan pada pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Melepasakan diri dari kekuasaan orang lain juga perlu politik. Demikianlah politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seseorang, organisasi atau seluruh masyarakat (public goals). Dengan kata lain politik menyangkut kegiatan berbagai kelompok, termasuk partai politik, korporasi, keagamaan dan kegiatan-kegiatan perseorangan (individu) lainnya.

Politik Uang.

Perlu juga dipahami secara baik, ” Politik uang” itu belum tentu bermakna negatif. Politik uang nilainya ditentukan oleh penggunaanya. Politik uang dapat merupakan bagian dari sistem kekuasaan yang dijalankan. Jika penggunaanya pada program jihad maka akan bernilai positif dan sebaliknya. Jika politik uang  dipahami secara populer adalah menyogok alias ruswah sungguh merupakan dalam pengertian sempit, sogok ( ruswah) salah satu bentuk politik uang yang di mainkan dalam pengertian negatif. Politik uang itu maknanya juga luas, hanya saja kebiasaan penggunaannya terbatas sesuai dengan tingkat pengetahuan si pemakai.

Politik pada dasarnya adalah berbagai upaya yang dilakukan untuk menjalankan kekuasaan atas sesuatu. Boleh jadi kekuasaan atas harta benda, kekuasaan atas tanggung jawab di dalam organisasi, bahkan sampai ke tinggkat negara. Hanya saja sering pemakaian politik pada tingkat negara saja. Pada hal jika dianalisis akan meliputi semua sistem kehidupan bermasyarakat (bernegara). Mengelola sistem keuangan untuk menunjang kegiatan sisitem yang lain tidak dapat dipisahkan. Pengelolaan keuangan merupakan bagian integral dari sistem sebuah lembaga (korporasi) atau kenegaraan.

Chairman Lippo Group Mochtar Riady (tengah) bersama Presiden Lippo Group Theo L Sambuaga (dua dari kiri) dan Mendikbud M. Nuh (kiri) saat menyerahkan “Bantuan bagi Mahasiswa Berprestasi” (BMB) 2013 kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta, Selasa (27/8/2013). Lippo Group memberikan BMB 2013 senilai Rp1,5 miliar kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). BMB 2013 merupakan salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) Lippo Group yang diberikan rutin setiap tahun.

Chairman Lippo Group Mochtar Riady (tengah) bersama Presiden Lippo Group Theo L Sambuaga (dua dari kiri) dan Mendikbud M. Nuh (kiri) saat menyerahkan “Bantuan bagi Mahasiswa Berprestasi” (BMB) 2013 kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta, Selasa (27/8/2013). Lippo Group memberikan BMB 2013 senilai Rp1,5 miliar kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). BMB 2013 merupakan salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) Lippo Group yang diberikan rutin setiap tahun.

Makanya politik uang sangat erat kaitannya dengan pengelolaan keuangan secara tepat guna dalam rangka mencapai tujuan-tujuan perjuangan, untuk efektifitas dan efisiensi strategi yang dijalankan. Jika kita berjuang (berjihad) mengembangkan (membangun) Islam…kita akan terlibat dengan uang atau barang berharga lainnya. Mau atau tidak kita akan mengelola penggunaan uang sesuai kebijaksanaan yang tepat. Pengelolaan keuangan suatu, organisasi, korporasi, masyarakat atau negara meliputi penggalian sumber dan pendistribusian uang. Pengaturan penggunaan uang atau barang berharga lainnya sasarannya banyak sekali, seperti untuk kepentingan konsumsi, pendidikan, untuk membeli perlengkapan, biaya perjalanan, menciptakan loyalitas sosial (terutama) dan sebagainya. Tidak tertutup untuk kepentingan santunan orang terlantar, mangasihi orang yang tidak mampu. Bahkan diperintahkan untuk membujuk hati orang untuk ingin menganut Islam (mu’alaf misalnya). Artinya penggunaan uang (harta) tidak dapat dipisahkan dari perjuangan jihad (secara menyeluruh). Jika orang Islam mengharamkan politik uang, camkanlah Firman Allah di bawah ini:

 

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ

أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [٤٩:١٥

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. Hujurat 15

Sekaitan denga hai ini sebagian dari elit politik telah melaksanakan politik uang secara baik dan konsisten. Misalnya pada saat mengawali karir politik sering mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan keagamaan (misalnya pesantren), mereka menemui Kiyai dan memberikan sejumlah uang sebagai sumbangan kepada lembaga untuk mendapatkan simpati. Mengunjungi tokoh pemuda dan memberikan bantuan kegiatan. Mengunjungi sebuah desa dan memberikan bantuan untuk pembangunan. Hasil yang diharapkan tentu saja tertanam budi baik di dalam hati sang pemimpin dan anggota masyarakat. Dampak yang diprediksi adalah adanya balas budi untuk dukungan suara dan restu.

Profesional

Oleh Jalius HRTenaga pengajar Universitas Negeri Padang.

Sebuah Istilah Yang Elitis

A qualified professional is someone who has completed a professional degree in one or more profession. The term also describes the standards of education and training that prepare members of the profession with the particular knowledge and skills necessary to perform the role of that profession. In addition, most professionals are subject to strict codes of conduct enshrining rigorous ethical and moral obligations. Professional standards of practice and ethics for a particular field are typically agreed upon and maintained through widely recognized professional associations. Some definitions of professional limit this term to those professions that serve some important aspect of public interest  and the general good of society.

Professional adalah sebuah kata telah menjadi istilah elit di dalam masyarakat dunia. Kata ini menjadi elit karena istilah ini selalu diusung untuk kepentingan tertentu.  Istilah ini ditujukan untuk membedakan keahlian seseorang atau sekelompok orang dengan kawan-kawannya yang lain. Pembeda itu bukan hanya sekedar penunjukan  sebuah kondisi dan stratifikasi, akan tetapi sekaligus mengacu kepada hak-hak istimewa di dalam masyarakat. Istilah profesional berasal dari kata profesi yang ditujukan kepada bidang pekerjaan tertentu yang harus dikerjakan dengan pengetahuan dan keterampilan khusus (keahlian). Bidang pekerjaan itu jika dikerjakan dengan  keahlian khusus dapat mencapai hasil yang maksimal, baik secara kuantitas maupun kualitas. Sementara kata profesional merupakan upaya menempatkan seseorang pada bidang pekerjaan  tertentu yang sesuai dengan keahliannya.

Jika kita telusuri kebelakang logikanya berawal dari; di dalam masyarakat di mana pun selalu ada orang-orang yang bagus kemampuan kerjanya. Mereka itu ditandai oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Biasanya dan memang seperti itu, mereka memiliki kemampuan bekerja yang lebih baik berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Biasanya spesifik pada jenis pekerjaan tertentu. Sebagai bukti kemampuan kerja yang bagus itu dapat dilihat dari efektivitas dan efisiensi kerjanya. Proses penyelesaian kerja membutuhkan waktu relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan kebanyakan orang lain. Artinya ada penghematan waktu. Misalnya orang yang professional pada fotografi, proses memfokuskan kamera pada objek yang difoto relatif lebih cepat dan tepat (sesuai dengan keinginan). Pada bagian lain dapat kita lihat cara mereka bekerja relatif lebih mudah, karena mereka tidak perlu banyak berpikir dalam menyelesaikan pekerjaannya. Mereka bekerja juga hemat tenaga dan biaya serta minimalis bahan yang digunakan. Hasil yang dicapai kualitasnya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan jika dikerjakan oleh orang lain.

Kemampuan kerja mereka yang bagus (ahli) itu menyebabkan banyak orang meminta tolong atau memakai jasa mereka untuk mengerjakan sesuatu. Maksudnya adalah untuk mendapatkan hasil yang bagus dan layak. Banyak orang memakai jasa mereka, karena mereka memang senang atau suka menolong orang. Sebaliknya orang yang memakai jasa mereka juga tidak merasa berkeberatan memberikan imbalan jasa pada mereka. Dalam keadaan seperti itu sangat kental nuansa suka sama suka tanpa ada aturan yang meningkat. Kondisi seperti ini menimbulkan dampak yang sangat luas terhadap sistem budaya atau peradaban bangsa.

Semakin banyak orang memakai jasa mereka, mengakibatkan mereka kekurangan waktu untuk dapat melakukan pekerjaan lain. Terutama pekerjaan yang berkaitan dengan perekonomian mereka. Waktu mereka banyak disita oleh orang lain yang minta tolong. Namun mereka juga mendapatkan banyak imbalan jasa. Karena memang masyarakat menyadari bahwa waktu mereka sudah tersita untuk menolong. Pada sebagian dari mereka terjadilah sebuah kondisi dimana kebutuhan hidup mereka sudah (hanya) berasal dari imbalan jasa dari pekerjaan yang mereka lakukan itu.

Hakikat dari profesional adalah penguasaan “pengetahuan dan keterampilan” yang memadai untuk mengerjakan satu atau dua bidang pekerjaan. Awalnya orang yang profesional, mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman. Dalam perjalanan hidup pengetahuan dan keterampilan yang sederhana (dasar) relatif cepat atau lambat berkembang kearah yang lebih baik. Pengetahuan dan keterampilan dasar yang telah dikuasai melalui pekerjaan secara rutin dapat meningkat efektivitas dan efisiensinya.  Kesempurnaan keahlian dapat juga dicapai jika melakukan latihan sampai pada target yang diinginkan. Seorang guru yang baru mengajar, ia hanya bisa sekedar dapat mengajar secara baik. Akan tetapi ia masih banyak mengalami kesulitan-kesulitan dalam berbagai hal, seperti menyiapkan bahan atau materi  pelajaran tertentu dan sebagainya. Namun setelah memperoleh banyak pengalaman dalam beberapa tahun berikutnya ia akan semakin mudah melakukan pekerjaan mengajar. Bahkan sampai pada taraf sangat mudah. Berbagai strategi dan metoda dikuasai secara lebih baik. Dengan keadaan seperti itu hampir semua anak didik mengakui dan menyenangi sang guru yang pintar mengajar.

Pekerjaan yang ditangani oleh orang-orang yang profesional memang sangat memuaskan hasilnya. Setiap pekerjaan yang dikerjakan oleh orang yang profesional dapat menghasilkan produk unggul dalam berbagai hal. Untuk mendapatkan produk unggulan itu didukung oleh, misalnya kecepatan dan ketepatan waktu, hemat biaya dan tenaga serta tidak membutuhkan banyak pikiran. Secara alamiah jumlah mereka sangat sedikit atau terbatas. Keadaan seperti itu dapat dipecahkan dengan cara belajar di sekolah, agar dapat menghasilkan tenaga dalam jumlah lebih besar. Melalui kegiatan magang dan kursus juga dapat menghasilkan tenaga profesional dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat.

Untuk menjadi profesional, seseorang perlu belajar, ada yang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan juga relatif singkat. Hal itu tergantung kepada jenis pekerjaan (ketrampilan). Baik melalui belajar di lembaga pendidikan formal, melalui pengalaman maupun melalui pelatihan. Profesional merupakan konsep yang meliputi hampir semua orang yang menguasai keahlian dalam pekerjaan, dalam arti tanpa batas jalur pendidikan dan bidang pekerjaan.

Professional konsep yang dikebiri

Dewasa ini istilah professional semakin ditingkatkan “gengsi”-nya. salah satu trik yang dijalankan adalah menambah persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat menyandang gelar profesional. Tujuan utamanya adalah memperjelas keistimewaan di dalam kelompok atau masyarakat. Sebelumnya kemampuan profesional dapat saja diperoleh dan disandang oleh orang memiliki keahlian pada bidang pekerjaan tertentu walaupun ia tidak pernah belajar di sekolah sampai ke Perguruan Tinggi. Artinya banyak orang yang bisa disebut sebagai profesional, asalkan saja dia memiliki keahlian dan mampu bekerja sesuai dengan keahliannya itu. Atau dapat di tambahkan, keahlian mereka dipakai dan dibayar oleh oleh pemakai jasa. Namun sekarang dicari-cari dalih agar kemampuan profesional hanya bisa disandangkan kepada orang-orang ditetapkan secara khusus, yakni dengan syarat tambahan. Syarat tambahan itu sungguh sangat memberatkan yaitu orang yang berusaha mendapatkan keahliannya melalui jalur pendidikan formal di Perguruan tinggi. Peningkatan gengsi itu diikuti pula dengan pemberian tunjangan khusus pada karyawan/pegawai, pada pegawai negeri sipil di Indonesia disebut dengan tunjangan profesi.

Menapaki tangga profesional
Menapaki tangga profesional

 

Untuk kepentingan itu kelompok orang yang profesional tingkat tinggi (biasanya di Perguruan tinggi) berupaya memaksakan kehendaknya itu. Kelompok mereka ini adalah orang-orang yang ada di Perguruan tinggi yang telah bergelar Profesor (Profesor = orang yang paling professional). Mereka merumuskan sebuah ketentuan bahwa orang yang profesional adalah orang yang bekerja, pekerjaannya itu sebagai mata pencahariannya. Sedangkan pengetahuan dan ketrampilan (keahlian) harus diperoleh melalui belajar di perguruan tinggi. Profesionalitas itu diakui dengan sebuah sertifikat atau ijazah. Pemikiran yang seperti itu disusun atau dikemas dengan berbagai macam analogi dan logika sebagai alasan. Pada akhirnya mereka menyodorkan agar bisa dijadikan sebagai undang-undang atau peraturan pemerintah. Jika seperti itu berarti orang yang profesional adalah orang (tamat perguruan tinggi) yang mengakui dirinya sendiri sebagai orang hebat atau kapabel di dalam masyarakat.

Sekilas memang persoalan ini “dianggap” sangat baik. Namun dibalik itu ada suatu hal yang sangat merugikan masyarakat sebagai dampaknya. Orang-orang yang bagus atau kapabel pada pekerjaan tertentu, kehebatan mereka  terbukti dan diakui oleh masyarakat tetapi mereka tidak berasal dari Perguruan Tinggi mereka tersingkir secara imperatif. Pada hal jasa mereka sangat/sama pentingnya dalam menangani suatu pekerjaan. Berarti juga memperketat persyaratan sebutan profesional menciptakan kondisi yang tidak adil. Terjadi sebuah diskriminasi dalam  masyarakat. Me-marginal-kan kelompok tertentu. Jika kita hubungkan dengan undang-undang sistem pendidikan di Indonesia, bahwa pendidikan dan belajar dapat diselenggarakan melalui tiga jalur yakni jalur formal, non formal dan informal. Jika orang yang belajar melalui jalur formal (sampai ke Perguruan Tinggi) memperoleh pengetahuan dan keterampilan (keahlian) berhak menyandang gelar profesional, tentu demikian pula halnya bagi orang belajar melalui jalur non formal dan informal. Persoalan sekarang adalah perlu pula semacam pengakuan secara formal, misalnya memberikan sertifikat untuk dinyatakan atau sebagai legalitas.

Seharusnya orang-orang yang berkiprah di perguruan tinggi (Profesor) mencari dan menggunakan istilah lain yang cocok dengan identitas mereka,  kepentingan untuk menyatakan tenaga profesional yang berasal dari Perguruan tinggi. Tujuannya agar masyarakat tahu bahwa ada tenaga professional yang berasal dari perguruan tinggi dan ada pula yang tidak. Semisal   “dokter”, sangat jelas bedanya dengan “dukun”.

Menurut pemikiran penulis tidak etis menjadikan milik bersama (banyak orang) menjadi milik pribadi atau kelompok. Istilah profesional tepat disandang oleh orang yang memiliki “keahlian tertentu dan mampu bekerja lebih baik”. Sementara soal bayaran sama saja antara kedua kelompok itu. Ingat istilah profesional bukan hanya sekedar menunjukan tingkat keahlian seseorang, akan tetapi lebih dari itu, menyangkut sumber ekonomi atau mata pencaharian dan juga sebagai alternatif yang lebih hemat bagi masyarakat. Disamping itu juga melekat status kehormatan.

Dewasa ini jika masyarakat menggunakan jasa tenaga profesional lulusan Perguruan Tinggi mayoritas masyarakat merasa berat dengan bayaran yang relatif tinggi jika dibandingkan orang-orang ahli secara pengalaman. Jika masyarakat berurusan kesehatan dengan dukun, mereka sangat senang tanpa ada beban perasaan yang memberatkan soal bayaran. Cukup dengan pemberian berapa sanggup/mau. Etika profesi mereka  juga memberatkan masyarakat. Seperti ogah mendatangi pasien ke rumahnya, betapa pun miskinnya mereka. sampai ke pelosok pedesaan. Di samping itu juga tingkat sosialistis profesional yang berasal dari Perguruan Tinggi kurang bersahabat dengan masyarakat khususnya kelompok menengah ke bawah.  Pendidikan di Perguruan tinggi secara tidak disadari telah melahirkan sikap individualis dalam masyarakat. Misalnya saja tenaga profesional dari perguruan tinggi secara enteng saja menyatakan di media massa orang yang melahirkan dengan jasa dukun tidak terjamin kebersihan, hal itu akan membahayakan kesehatan anak dan ibu. Ada juga yang lebih tidak etis lagi dengan kata-kata seperti ““Sebab, tukang urut tidak mengetahui anatomi tubuh anak. Tindakan yang dilakukan di luar medis juga dapat memperburuk keadaan anak,” jelas dokter muda, dr. Intania Imron.

Kata yang seperti itu telah menimbulkan image kesombongan dan pelecehan. Ada lagi “orang tua tidak pandai mendidik anaknya secara profesional”, digunakan sebagai dasar pemikiran dalam rangka mengembangkan lembaga pendidikan anak usia dini. Hanya saja ucapan yang seperti itu tidak lebih dari dalam rangka mempromosikan diri sebagai profesional. Namun di balik itu juga terselubung makna merampas pelanggan (hak orang lain).

Demikian, tulisan ini hanya sebuah refleksi terhadap perkembangan profesi.

Semoga bermanfaat.

Konflik

KONFLIK, Oleh Jalius HR tenaga pengajar di FIP UNiversitas Negeri Padang

Konflik merupakan salah satu bentuk efek dinamika kehidupan berkelompok atau bermasyarakat. Tidak ada kelompok masyarakat yang tidak mengalami konflik. Artinya konflik adalah salah satu fakta sosial. Konflik adalah bentuk pertentangan alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok karena di antara mereka yang terlibat mungkin memiliki perbedaan sikap, kepercayaan, nilai-nilai, serta kebutuhan.

Konflik adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih saling tergantung tentang tujuan dan atau metode untuk mencapai tujuan. Meskipun beberapa pemikir menggunakan istilah konflik untuk merujuk pada ketegangan intern atau kebingungan (misalnya, seorang ibu memiliki ”konflik peran” ketika dia terombang-ambing antara tuntutan waktu dan perhatian   sebagai orang tua dan sebagai bekerja profesional), konflik merupakan fenomena sosial mengenai perbedaan pendapat antara beberapa pihak.

Konflik antar individu dalam organisasi yang sama. Hal ini sering disebabkan oleh perbedaan- perbedaan kepribadian. Konflik ini juga berasal dari adanya konflik antar peranan seperti antara manajer dan bawahan.

Konflik antar individu dalam organisasi yang sama. Hal ini sering disebabkan oleh perbedaan- perbedaan kepribadian. Konflik ini juga berasal dari adanya konflik antar peranan seperti antara manajer dan bawahan.

Pihak yang terlibat pada sebuah konflik bisa pada tataran individu, kelompok, organisasi, negara, atau bangsa. Seringkali, konflik adalah antara dua pihak individu. Tapi konflik bisa melibatkan banyak pihak. Semakin banyak pihak yang terlibat konflik, semakin sulit untuk mengelola proses konflik dan untuk  mendapatkan sebuah keputusan atau penyelesaian yang dapat diterima oleh semua pihak.

Semua pihak yang terlibat konflik saling bergantung, mereka bergantung satu sama lain untuk beberapa tindakan atau sumber daya yang diperlukan untuk mengelola atau menyelesaikan konflik. Semakin satu pihak yang dibutuhkan oleh pihak lain, semakin besar kekuatan dan pengaruh bahwa partai harus mendefinisikan konflik, menentukan kapan dan bagaimana konflik tersebut dikelola, dan mempengaruhi hasil akhir atau solusi bagi konflik.

Apa jenis perselisihan yang dapat memicu konflik?

Konflik dapat disebabkan oleh perselisihan mendapatkan sumber daya yang langka dan bagaimana  prosedur harus ditempuh untuk distribusikan. Sumber daya yang langka mungkin ekonomi, seperti uang, peralatan, dan modal, atau mereka dapat menjadi sumber daya relasional, seperti status, rasa hormat, informasi, dan waktu. Beberapa kali terjadi, konflik ketidak-sepakatan tentang persepsi bahwa salah satu pihak yang menjalankan kontrol yang tidak diinginkan atas pihak lain. Konflik sering berupa perbedaan pendapat tentang tujuan-pertanyaan tentang apa yang harus dicapai dan mengapa harus begitu. Bahkan jika pihak yang setuju pada tujuan atau hasil yang diinginkan, mereka mungkin tidak setuju pada metode terbaik untuk mencapai hasil. Sebagai contoh, ada sebuah kelompok setuju dengan penggantian pimpinan mereka, tetapi mereka tidak setuju cara pemilihan dengan voting suara.

Konflik dapat menjadi fungsional atau disfungsional tergantung pada bagaimana konflik tersebut dikelola. Dalam konflik  fungsional, pihak puas dengan proses yang digunakan untuk mengelola konflik dan resolusi konflik. Belajar manajemen konflik fungsional penting bagi pembangunan sosial dan pengembangan relasional. Dari anak usia dini, orang belajar bagaimana menjadikan hubungan agar damai dengan memahami bagaimana mengelola konflik secara konstruktif. Banyak ahli psikologi perkembangan mengidentifikasi belajar untuk mengelola konflik secara konstruktif penting sebagai keterampilan, dan mungkin dapat disebut sebagai keterampilan sosial yang paling penting, semenjak masa kanak-kanak. Pendidik yang bekerja untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak-anak dan kompetensi emosional juga melihat manajemen konflik yang konstruktif sebagai keterampilan kunci bagi orang kompeten secara emosional. Ketika konflik adalah fungsional, pihak yang bersikap terbuka dan bersedia untuk berbagi informasi secara jujur, ada rasa tenang dan hormat, pihak yang mau bekerja sama untuk mencoba memecahkan masalah bersama-sama, dan mereka fleksibel dalam mencari alternatif solusi.

Konflik disfungsional terjadi ketika peserta tidak puas dengan proses atau hasil dari konflik. Misalnya, salah satu pihak dapat marah bahwa pihak lain yang tidak bersedia  mencari pihak ketiga (misalnya, mediator) untuk membantu menyelesaikan konflik, atau merasa solusi untuk konflik ini tidak adil. Ketika konflik menjadi disfungsional, mereka meningkat dalam hal perilaku semakin negatif. Konflik disfungsional ditandai dengan ketidakpercayaan, keengganan untuk berbagi informasi secara terbuka dan jujur, ketegangan, dan adopsi sikap” kita versus mereka” yang mengarah ke perilaku yang kompetitif dan agresif. Konflik disfungsional sering kehilangan fokus, dan pihak-pihak mulai berdebat tentang isu-isu lain daripada yang awalnya memicu konflik. Pertimbangkan seorang suami dan istri yang mulai berdebat tentang uang dan tiba-tiba berdebat tentang mertua, orang tua, dan pekerjaan rumah tangga juga. Ketika konflik menjadi disfungsional, hal itu mempengaruhi konflik di masa depan. Jika seseorang merasa dia diperlakukan tidak adil, orang tersebut cenderung defensif dan agresif dalam konflik berikutnya dengan partai yang sama.

Ada lima cara untuk mengelola konflik tanpa bantuan dari pihak ketiga: kompetisi, kerjasama, kompromi, akomodasi, dan penghindaran. Jika digunakan dalam situasi yang tepat, semua teknik ini atau gaya dapat menimbulkan konflik fungsional. Kompetisi adalah pendekatan win-lose approach (pendekatan menang-kalah), dan tujuannya adalah mungkin lebih banyak untuk untuk mendapatkan peluang.  Kompetisi tidak harus menjadi kekerasan atau agresif, misalnya, membeli mobil biasanya dilakukan melalui tawar-menawar, yang merupakan pendekatan kompetitif untuk mengelola konflik. Kerjasama, juga disebut kolaborasi, a win-win approach (sama sama mendapat) yang berpeluang memecahkan masalah dan menghasilkan solusi yang memenuhi kebutuhan semua orang. Kerjasama yang terbaik adalah ketika ada pendekatan kreatif untuk memaksimalkan keuntungan dan ketika pihak harus berkomitmen untuk menerapkan solusi. Kompromi adalah memberi dan menerima pendekatan yang bekerjasama dengan baik ketika ada sumber daya yang terbatas. Namun, sumber daya mungkin tidak begitu terbatas, dan kerjasama mungkin merupakan pendekatan yang lebih baik. Akomodasi adalah membiarkan pihak lain mendapatkan apa yang dia inginkan dalam konflik; strategi ini efektif jika keharmonisan relasional yang paling penting dimajukan. Bahayanya ada harapan atau aspirasi pada satu pihak yang yang terpenuhi. Penghindaran secara fisik dan atau psikologis menarik diri dari konflik. Untuk konflik jangka pendek yang tidak penting atau, penghindaran adalah pilihan yang layak, tetapi kontraproduktif ketika konflik akan menjadi lebih buruk jika pokok persoalan tidak ditangani.

Manajemen konflik juga dapat bergantung pada proses thirdparty seperti mediasi, arbitrase, dan adjudication  untuk menyelesaikan konflik. Program pendidikan sebagai resolusi konflik membantu mengajar remaja dan orang dewasa mengelola konflik secara konstruktif .

Ulil Amri

Sekilas Tentang Ulil Amri

Istilah Ulil Amri yang dalam tulisan dirujuk dari Al-Quran Surat An-Nisa: 59 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu…”.

Kata Ulil Amri merupakan kata yang akrab ditelinga kita (muslim). Seringkali dalam perbincangan sehari-hari kita menggunakan istilah ini. Akan tetapi apa sebenarnya makna ulil amri yang dimaksud dalam ayat tersebut?

Telah banyak ahli tafsir yang menjelaskannya, namun semuanya selalu menunjukan keapada orang yang faqih (ali dibidang urusan hukum agama). Namun juga tafsirannya belum memberikan kejelasan, artinya belum jelas makna spesifiknya. Sehingga akibatnya menimbulkan kekaburan jika dihubungkan dengan konsep pemimpin (wali). Untuk lebih jelas baca juga pengertian wali dalam Blog ini.

Sejumlah kitab tafsir, khususnya kitab tafsir klasik semisal Tafsir at-Thabari dan Ruh al-Maani, hanya menyebutkan contoh ulil amri itu pada jabatan atau profesi yang dipandang krusial pada masanya. Sedangkan Tafsir al Maraghi, yang merupakan kitab tafsir yang ditulis pada abad 20 ini, menyebutkan contoh-contoh Ulil Amri itu tidak hanya berkisar pada ahlul halli wal aqadi, ulama, pemimpin perang saja; tetapi juga memasukkan profesi wartawan, buruh, pedagang, petani ke dalam contoh Ulil Amri.

Sesungguhnya Ulil Amri itu adalah orang-orang/lembaga atau institusi yang mengurusi kebutuhan kita. Mereka menyediakan berbagai kebutuhan kita keseharian, seperti pendidikan, keamanan, tersedianya kebutuhan pokok seperti makan dan minum, layanan kesehatan dan sebagainya. Dengan kata lain Ulil Amri itu adalah orang/lembaga yang memegang otoritas (kuasa) untuk menjalankan tugas dalam rangka memenuhi kebutuhan seseorang atau sekelompok orang.

Otoritas (kuasa)

Kamus American Heritage menuliskan bahwa otoritas adalah kuasa untuk menegakkan hukum, untuk menciptakaan ketaatan, kemampuan memerintahkan atau menghakimi. Kuasa untuk mempengaruhi, mengatur orang lain, otorisasi.

Kamus Barons menyebutkan bahwa otoritas adalah kemampuan untuk mengarahkan supaya pekerjaan dapat terlaksana dengan baik. Otoritas hanya bisa berjalan baik jika seseorang mau menerima arahan tersebut.

Menurut Weber, kata authority diturunkan dari kata bahasa Latin “auctoritas”, biasanya digunakan di dalam hukum Roma untuk menghadapi orang-orang yang menentang pemerintahan atau keputusan pemerintah. Dalam Weberian sociology, authority dianggap sebagai bagian dari kekuasaan. Otoritas dianggap sebagai kuasa yang terlegitimasi dan terlindungi secara hukum untuk menjalankan kekuasaan atas diri orang lain. Otoritas dianggap sebagai hak atau kuasa yang terjustifikasi untuk memerintah, menegakkan hukum bahkan mengadili, yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi atau memerintah orang lain.

Dari berbagai pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa otoritas itu berhubungan dengan kekuasaan yang dimilliki seseorang atau sekelompok orang yang memiliki hak, wewenang dan legitimasi untuk mengatur, memerintah, memutuskan sesuatu, menegakkan aturan, menghukum atau menjalankan suatu mandate. Melalui pengertian tersebut, otoritas memiliki kaitan yang sangat erat dengan kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang.

Otoritas yang ada pada seseorang atau sebuah lembaga adalah karena adanya kepercayaan seseorang/ sekelompok orang yang diberikan (diamanahkan) kepada seseorang /lembaga untuk melaksanakan tugas tertentu guna memenuhi kebutuhan tertentu. Seperti seseorang diberi kepercayaan untuk mendirikan sebuah bangunan (tukang). Apapun yang dilakukan dan apapun permintaan atau perintah tukang tersebut (yang berkaitan dengan kepentingan bangunan) harus dipenuhi. Dalam hal itu tukang memiliki otoritas atas pelaksanaan bangunan tersebut. Apa saja keputusan  yang ditetapkan tukang semua pihak wajib mengikutinya. Yang memberikan kuasa tersebut dapat saja oleh seseorang kepada seseorang /lembaga. Masyarakat memberikan kuasa kepada polisi untuk mengatur tertib lalulintas dan sebagainya. Maka siapa saja yang menggunakan jalan raya wajib patuh pada aturan yang ada. Polisi jalan raya sealau bekerja menegakkan aturan itu. Dalam hal ini polisi diberi amanah menegakkan tertib lalu lintas.

Yang sering terjadi di dalam masyarakat adalah masyarakat memberikan kuasa (otoritas)  kepada seseorang atau kepada lembaga untuk melaksanakan suatu urusan. Orang atau lembaga yang menerima kuasa tersebut harus bekerja sesuai dengan amanah atau kepercayaan yang diberikan. Misalnya lagi seorang guru mengaji di surau, masyarakat memberikan amanah kepada seorang guru untuk menjalankan tugas sebagai seorang pendidik dan mengajar di lembaga surau. Maka setiap ketentuan yang diberlakukan oleh seorang guru kepada muridnya di dalam proses pembelajaran, maka murid tersebut wajib mematuhinya. Orang tua murid juga harus ikut pula mendukung keputusan guru tersebut.

Wajib Taat Pada Ulil Amri.

Ikut Ulil Amri salah satu pilar ketaatan kepada Allah. Masyarakat muslim di Indonesia Ikut Muhammadiyah tidak wajib, karena tidak ada alasan dan perintah untuk itu. Sampai saat ini masyarakat muslim di Indonesia belum memberikan otoritas (kuasa) kepada Muhammadiyah. Setiap  tahun penentuan jatuhnya 1 Ramadhan/Syawal (jadwal berpusa/lebaran bersama) di Indonesia otoritas telah diberikan kepada Departemen Agama. Hal ini sudah Inheren dengan tugas yang diembankan ke Departemen itu, yakni mengelola berbagai kepentingan kegiatan Agama Islam di Indonesia. Jika perhitungan awal Ramadhan (misalnya) tidak pas…tidak ada dosa untuk itu, karena sudah berada di dalam kerangka perintah Allah. Sekaligus telah memenuhi panggilan Allah untuk selalu bermusyawarah dalam berbagai perkara dan menegakan persatuan. Allah juga telah mengingatkan bahwa orang beriman itu bersaudara sesamanya. Dalam hal ini manifestasi dari persaudaraan itu adalah setiap persatuan. Maka dari itu sangat pantas persatuan itu juga harus dikoordinir dengan baik seefektif dan seefisien mungkin.  Dalam hal inilah menyatukan umat salah satu tugas yang diemban  oleh Departemen Agama. Demikian juga departemen yang lain.

Jadi dapat  ditegaskan setiap orang yang punya otoritas mengurusi kepentingan atau kebutuhan kita itu termasuk Ulil Amri. Apa lagi jika kita telah memberikan amanah kepada orang atau lembaga untuk mengurus kepentingan kita. Jika seorang atau lembaga menyuruh kita berbuat maksiat atau murtad (misalnya)… itu bukan Ulil Amri…(karena persoalan itu bukan memenuhi kebutuhan kita). Tambahan lagi… hal seperti itu telah menyalahi amanah yang diberikan.

Ulil amri yang sering disebut seperti Umar Ibnu Khatab, Utsman Ibnu Affan, Ali Ibnu Abi thalib dan Abu Bakar Sidik itu contoh di zamannya. Jika mereka sudah meninggal tentu tidak dia lagi, Pada zaman beliau itu penduduk dan kebutuhan belum banyak, hampir semua kebutuhan masyarakat bisa dia yang mengelola. jika dibandingkan dengan Indonesia sekarang. Bagaimana pula kira-kira pikiran pembaca tentang itu ?

Walau pelakunya bukan muslim, jika dia memegang otoritas (karena diberi kuasa) untuk mengurus atau mengelola kebutuhan kita tetap dia termasuk Ulil Amri…..harap dibedakan pemahamannya dengan konsep pemimpin. Pemimpin didalam Aq Quran lebih mengarah konsep wali. Tidak ada salahnya dan larangannya jika kita mendelegasikan tugas tertentu kepada bukan muslim. Larangan memberikan suatu urusan kepada bukan muslim jika memang mukmin tidak ada atau tidak kapabel tentang urusan yang diserahkan  itu. Misalnya menyerahkan urusan lalu lintas kepada orang yang bukan muslim. Mengelola penangkapan ikan di laut dan sebagainya.

Jadi Ulil Amri itu adalah orang-orang/lembaga yang mengurusi kebutuhan kita. Mereka menyediakan berbagai kebutuhan kita keseharian, seperti pendidikan keamanan, tersedianya kebutuhan pokok makan dan minum, layanan kesehatan dan sebagainya. Apa saja ketentuan yang ada pada lembaga tersebut wajib dipatuhi oleh segenap warga yang berkepentingan dengannya.

Sebuah catatan jangan lupa; Kita memang diperintah oleh Allah untuk taat kepada ulil amri.  Namun perlu diperhatikan bahwa perintah taat kepada ulil amri tidak digandengkan dengan kata “taat” penulisannya di dalam Al Quran atau pengucapannya; sebagaimana kata “taat” yang digandengkan dengan Allah dan Rasul (periksa redaksi QS an-Nisa: 59 yang telah dituliskan di atas). Quraish Shihab, yang disebut-sebut sebagai mufassir Indonesia, memberi ulasan yang menarik: “Tidak disebutkannya kata “taat” pada ulil amri untuk memberi isyarat bahwa ketaatan kepada mereka tidak berdiri sendiri tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul, dalam arti bila perintahnya bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka tidak dibenarkan untuk taat kepada mereka. Dalam hal ini dikenal kaidah yang sangat populer yaitu: “La thaat li makhluqin fi ma’shiyat al-Khaliq”. Tidak dibenarkan adanya ketaatan kepada seorang makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq (Allah).”

Jika kita merasa tidak aman kita membutuhkan polisi, jika kita ingin pendidikan Ulil Amri menyediakan sekolah. Jika kita menikah Ulil Amri menyediakan Penghulu dan membuat catatan sebagai bukti legal. Dalam hal ini yang paling dominan tidak lain dari Pemerintah. Jika tidak mau ikut pemerintah jika perlu jangan masuk lembaga pemerintah baik menempuh jenjang pendidikan sekolah ataupun jadi pegawai negeri.. Janganlah  hanya sekedar beda pendapat di awal Ramadhan dan awal Syawal saja. Polisi… juga Ulil Amri.. karena kita memberikan otoritas atau amanah kepadanya untuk menjaga keamanan…walau polisi itu  bukan muslim. Depdiknas juga termasuk Ulil Amri…. karena lembaga tersebut memberikan pelayanan atau mengelola kebutuhan pendidikan untuk masyarakat. Demikian pula Departemen Agama di Indonesia….berbagai urusan keagamaan kita berikan kuasa kepadanya  untuk mengelola. Menetapkan jatuhnya awal Ramadhan/Syawal tugas pemerintah sangat penting untuk kebersamaan. Oleh sebab itu Umat Islam di Indonesia wajib mendukung persatuan. Jika tidak berarti menabur bibit perpecahan. Kita umat Islam di Indonesia jangan mengurai kembali benang yang telah di tenun.

Demikian uraian pendek ini,  semoga Allah merahmati kita semua yang mengikuti jalanNya.

Wassalam

Nilai Sosial

Satu bagian penting dari kebudayaan atau suatu masyarakat adalah nilai sosial. Suatu tindakan dianggap sah, dalam arti diterima oleh orang lain sebagai anggota kelompok atau komunitas, kalau tindakan tersebut harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat di mana tindakan tersebut dilakukan.  Dalam sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi kasalehan beribadah, maka apabila ada orang yang malas beribadah tentu akan menjadi bahan pergunjingan, cercaan, celaan, cemoohan, atau bahkan makian.  Sebaliknya, kepada orang-orang yang rajin beribadah, dermawan, dan seterusnya, akan dinilai sebagai orang yang pantas, layak, atau bahkan harus dihormati dan diteladani.

Dalam ini Jalius, HR menjelaskan, bahwa nilai merupakan sikap pandang terhadap kesesuaian apa yang ada dengan kebutuhan.  Sebuah benda jika dihubungkan dengan kebutuhan, kalau benda itu sesuai atau cocok dengan kebutuhan, maka benda itu dinyatakan sebagai “baik”. Demikian pula sebaliknya, jika benda itu tidak sesuai dengan kebutuhan, maka dinyatakan sebagai buruk. Dengan kata lain  nilai merupakan konsepsi yang menjelaskan hubungan- hubungan fungsional  (guna) antara sesuatu dengan kebutuhan. Konsep nilai selalu dinyatakan kata-kata yang bermakna “baik” atau “buruk”.

Sekarung tahi ayam jika dihubungkan dengan makanan manusia akan menunjukan keadaan tidak sesuai, maka tahi ayam itu bernilai buruk (tidak baik). Akan tetapi sekarung tahi ayam akan dinyatakan baik jika digunakan untuk pupuk tanaman. Karena tahi ayam itu memang cocok untuk meningkatkan kesuburan tanaman. Maka sekarung tahi ayam akan bernilai baik bahkan sangat baik. Pada tataran yang lebih umum kita sering menyaksikan di dalam masyarakat, bahwa pupuk kompos sangat dibutuhkan oleh petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Nilai sosial adalah merupakan nilai yang menjelaskan baik atau buruknya sesuatu jika dihubungkan dengan kepentingan kelompok atau masyarakat. Apa yang dinyatakan bernilai baik atau bernilai buruk didasarkan kepada kesepakatan bersama di dalam kelompok atau komunitas. Nilai sosial lingkupnya sangat luas, yakni meliputi semua kebutuhan hidup bersama (bermasyarakat). Misalnya kebutuhan akan makanan, jenis makanan, kaitannya dengan situasi dan kondisi serta kaitannya dengan berbagai aktivitas sosial. Kebutuhan akan pakaian, kaitannya dengan situasi dan kondisi serta kaitannya dengan berbagai kegiatan sosial.

Sepasang sandal dapat bernilai individual dan juga sosial. Bernilai individual karena menyangkut dengan kebutuhan keamanan kaki seseorang. Sepasang sandal akan bernilai sosial jika dihubungkan dengan kebutuhan akan kebersihan bersama. Sepatu akan bernilai sosial jika pada suatu lembaga telah disepakati pemakaiannya. Suatu perbuatan dinyatakan bernilai sosial jika perbuatan itu dapat memenuhi keinginan anggota komunitas, atau memang sangat diharapkan oleh anggota kelompok atau masyarakat. Misalnya orang kaya suka dan sering bersedekah atau menyantuni orang miskin.

Nilai Sosial dapat berfungsi; sebagai faktor pendorong, hal ini berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan; Sebagai petunjuk arah mengenai cara berfikir dan bertindak, panduan menentukan piliha; Sebagai sarana untuk menimbang penghargaan sosial, pengumpulan orang dalam suatu unit sosial, dan sebagainya. Sebagai benteng perlindungan atau menjaga stabilitas budaya.

Oleh sebab itu nilai sosial  merupakan satu bagian penting dari kebudayaan atau suatu masyarakat. Suatu tindakan dianggap sah, dalam arti secara moral diterima, kalau tindakan tersebut harmonis dengan  kebutuhan  yang disepakati. Kebutuhan itu dijunjung tinggi oleh masyarakat di mana tindakan tersebut dilakukan atau sesuatu itu diadakan. Biasanya nilai sosial mengandung  dua unsur pokok, yakni ganjaran bagi orang yang senantiasa menegakan nilai kebajikan dan sangsi bagi orang yang melanggarnya atau suka membuat yang tidak baik. 

 

 

Sunny dan Syiah Serta Lainnya Wajib Bersaudara

Jika tidak bersatu Allah akan menetapkan orang  kafir sebagai pengaturnya

Tidak ada hak seseorang untuk mengatakan bahwa kelompoknya yang yang betul dan baik. Islam itu pedomanya adalah  Al Quran dan dijelaskan dengan as-sunnah. Jika ada perbedaan itu sebagai bukti pengetahuannya belum sempurna tentang itu. Jika Islam diembeli dibelakangnya berarti juga ada usaha memisahkan diri  atau mereka membuat cabang Islam, kelompok yang lainnya membuat  Islam  tandingan. Sesungguhnya mereka yang seperti itu termasuk  musuh  Islam juga. Islam itu hanya satu. Umatnya laksana satu tubuh dengan persaudaraan.  Apa yang membuat mereka berbeda itu bukan perintah Allah di dalam Al Quran. Perbedaan itu hanya bersumber dari hawa nafsu (keinginan) mereka.  Ingat bahwa  orang  beriman bersaudara  sesamanya. Makanya orang mengaku beriman wajib bersatu dalam satu wadah institusi. Secara sosiologis harus selalu berintraksi dalam berbagai urusan. Tidak mengikuti banyak pemimpin dalam setiap urusan.

Sekat harus disingkirkan.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptaka manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah  Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah salat dan janganlah  kamu termasuk  orang-orang  yang mempersekutukan Allah,  yaitu  orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjad beberapa golongan.  Tiap-tiap  golongan  merasa bangga  dengan apa yang ada pada golongan mereka. Rum 29-32

Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa perbedaan itu datangnya setelah mereka mendapatkan pengetahuan yang baru. Kebanyakan orang akan memilih apa yang terbaik menurut kehendaknya, bukan mengikuti yang terbaik menurut ketentuan Allah swt. Itulah penyebab sering terjadinya perpecahan. Tidak ada jaminan bahwa apa yang terbaik menurut keinginan itu “sungguh baik”, kecuali yang  mengikuti ketentuan  Allah.

Kita juga sering melihat seperti apa yang difirmankan Allah di dalam Al Quran:

 ” Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim”. Ali-Imran 86

Ada orang atau kelompok mereka menerima pengajian agama Islam dan meyakini materi yang disampaikan kepada mereka. Bahkan mereka mengatakan bahwa pesan yang disamapaikan tersebut memang benar. Tidak ada embel-embel lain. Akan tetapi mereka menginkarinya dalam perbuatan. Maka dalam hal ini mereka menjadi dua kelompok, pertama kelompok yang disebut dengan “ murtad” . Kelompok ini memang betul-betul meninggalkan agama Isalam. Kemudian mereka masuk ke dalam kelompok agama lain atau tidak beragama sama sekali. Kelompok kedua adalah mereka yang diberi nama kelompok fasikin (orang-orang fasik). Kelompok ini tetap saja mengaku beragama Islam, akan tetapi pengetahuannya tentang suruhan dan larangan mereka ingkari, aturan tidak mereka indahkan. Mereka tahu tentang sesuatu larangan atau perintah,  tetapi perbuatan-perbuatannya selalu berlawanan dengan itu. Bekerja sering tidak sesuai dengan aturan. Mereka sering melaksanakan apa yang terlarang. Termasuk mengingkari persaudaraan. Terhadap  orang yang seperti itu Allah sekali-kali tidak akan memberikan petunjuknNya (hidayah). Ingat saat ini semua negara Islam kendali ekonomi dan politiknya berada di tangan non muslim. Bahkan sistem ilmu dan teknologi selalu merujuk pada mereka.

Bayangkan betapa banyaknya orang-orang yang mabuk dengan organisasi keagamaan di Indonesia, mereka hanya rukun sesama anggota kelompok dan selalu menjauh diri dari kelompok lainnya. Sungguh mereka telah tenggelam ke dalam Lautan Kefasikan.  Mereka selalu membangun kokohnya tembok pemisah hati sesama muslim dengan berbagai bentuk organisasi. Apakah mereka menyangka bahwa nama dan lambang organisasinya akan membawa mereka ke surga kelak ?  Jika tidak sudah sepantasnya sekat pemisah itu dirobohkan, agar kita menemukan jalan yang lempang menujuNya.

 Semoga ada manfaatnya.

MUHAJIRIN – ANSHAR – Masyarakat Madani

Hubungan Muhajirin dan Anshar sebagai dasar Masyarakat Madani.

Tulisan ini sengaja dibuat dalam rangka memberikan pemahaman yang baik tentang kerukunan hidup bermasyarakat. Terutama di Negara kita Indonesia, kita sering menemukan pada banyak daerah yang mana masyarakatnya terdiri dari dua kelompok,  kelompok pendatang dan penduduk asli daerah. Di dalam Islam dua kelompok tersebut dikenal dengan sebutan Muhajirin dan Anshar. Mereka hidup rukun dan damai dengan toleransi tingkat tinggi. Barangkali pokok pikiran yang terkandung di dalam tulisan ini akan bermanfaat untuk membina masyarakat yang berakhlak mulia. Terutama dalam rangka menemukan format apa yang sering digagas  oleh para cendekiawan muslim sebagai “ Masyarakat Madani” dewasa ini.

Perlu juga diingat oleh pemikir muslim, sungguh sebuah kekeliruan jika konsep ” Masyarakat Madani ” disamakan dengan konsep  Civil Society  yang konsepnya dilahirkan oleh pemikir non muslim. Kedua konsep itu sangat berbeda background nya. Civil Society merupakan akumulasi pemikiran filosofis.   Sementara Masyarakat Madani merupakan konsep tentang realitas kehidupan masyarakat madinah dibawah naungan Nur Ilahi ( penataan perilaku masyarakat bukan berdasarkan pemikiran filosofis, melainkan lebih pada bimbingan wahyu). Tata masyarakatnya lansung dibawah binaan Rasulullah SAW.

Umat Islam yang bertempat tinggal di Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW   telah menjadi dua kaum, yakni kaum Muhajirin, yakni mereka yang berhijrah dari Makkah (sebagai pendatang)  dan kaum Anshar  yakni penduduk asli Madinah (sebagai kelompok penolong). Ciri-ciri dari kedua kaum ini dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran surat  Al-A’raaf sebagai berikut;

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi….(Al-Anfaal: 72)

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (Al-Anfaal: 74)

Itulah karakter yang sangat dominan pada kedua kelompok anggota masyarakat di Madinah, mereka saling  memberikan yang terbaik   kepada sesama saudaranya.  Kelompok anshar sikap  utamanya adalah suka melayani dan selalu menolong. Sementara itu kelompok muhajirin sebagai pendatang sikap utamanya adalah tidak ingin berkuasa baik secara ekonomis maupun politis. Setiap permasalahan yang dihadapi selalu di-”musyawarah“-kan. Sehingga bentuk masyarakat yang tercipta adalah masyarakat tanpa kekerasan,  itulah konsep masyarakat madani. Karena Allah telah menyatakan di dalam Al Quran karakter masyarakat tersebut, maka wajib bagi  Muslim untuk mengembangkan konsep Masyarakat Madani di dalam kehidupan bermasyarakat.  Masyarakat madani dibentuk berdasarkan kesadaran akan nilai kebajikan yang ada di dalam Islam. Setiap muslim yang sejatinya adalah mereka berlomba untuk memberikan yang terbaik untuk orang lain. Muslim tidak berlomba untuk unggul atas orang lain. Mereka sangat sadar akan sebuah kebajikan (peradaban) yang agung harus didukung oleh semua komponen yang ada di dalam komunitas.
Sekilas tentang keadaan mereka sebagai berikut;

 I.Kaum Muhajirin

Kaum Muhajirin ini telah mengalami siksaan yang tiada henti-hentinya dari orang-orang kafir Makkah, sehingga tak tertahankan lagi untuk terus menetap di sana. Keadaan inilah yang memaksa mereka untuk berhijrah ke Madinah. Orang-orang kafir Makkah menguasai tempat tinggal dan harta benda yang mereka tinggalkan. Maka dari itu Allah SWT menyebut mereka didalam Al-Qur’an sebagai Fakir, atau dengan kata lain amat sangat miskin. Seringkali, sebagian besar dari mereka tidak memiliki apapun untuk sekedar makan sehingga biasanya mereka mengikatkan batu-batu untuk menekan perut, menahankan lapar. Banyak pula yang diantara mereka yang menggali tanah, membuat liang untuk duduk melindungi diri mereka sendiri dari terpaan udara dingin.

Ciri-ciri ke-dua dari para Muhajirin ini adalah alasan yang melatar-belakangi kepergian mereka meninggalkan kampung-halaman mereka. Mereka berhijrah bukan demi keuntungan duniawi berupa apapun. Dapat dipastikan bahwa mereka melakukannya demi mencari ridha Allah SWT dalam kehidupan di dunia ini, dan untuk mencari karunia-Nya di Hari Pembalasan kelak.

Ciri-ciri yang ke-tiga, mereka berhijrah untuk menolong Allah SWT dan Rasulullah SAW.Maksud dari menolong Allah SWT disini adalah menolong dalam hal mendakwahkan Al-Islam.Mereka telah memberikan pengorbanan yang luar biasa demi mencapai dua macam tujuan di atas.

Ciri-ciri ke-empat dari para Muhajirin ini adalah, mereka itu benar dalam kata dan perbuatan.Mereka berdiri tegak diatas ikrar yang mereka ucapkan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW (mengucapkan dua kalimat syahadat) di awal mula mereka masuk Islam. Allah SWT menegaskan didalam firman-Nya diatas, bahwa para Muhajirin itu seluruhnya adalah benar (shiddiq).Maka, mengatakan sesuatu keburukan perihal mereka adalah bertentangan dengan pernyataan Allah SWT tersebut di atas.

 II. Kaum Anshar

Pada ayat berikutnya; Surat Al-Hasyr Ayat 9; Allah SWT menjelaskan ciri-ciri kaum Anshar,

Dan mereka yang sebelum itu telah bertempat tinggal di Madinah dan telah beriman (kaum Anshar), mencintai para Muhajirin, tidak ada kecemburuan didalam dada mereka atas apa-apa yang telah mereka berikan (kepada para Muhajirin) dan mereka itu lebih mengutamakan (para Muhajirin) diatas kepentingan mereka sendiri, walaupun sebenarnya mereka juga membutuhkan apa-apa yang telah diberikan itu.Dan barangsiapa yang terpelihara dari kekikirannya sendiri, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Penting untuk digaris-bawahi, bahwa Imam Malik menganggap kota Madinah adalah kota yang paling diberkati oleh Allah SWT dan merupakan kota yang amat berbeda dengan kota-kota lain di dunia ini. Sebab, kota ini telah tertaklukkan oleh Iman. Adapun kota-kota lain, termasuk Makkah, tertaklukkan melalui pertempuran dalam arti yang sebenarnya. Maka, Allah SWT menyatakan bahwa ciri-ciri pertama dari kaum Anshar adalah, mereka dibesarkan di kota yang dimuliakan, karena dipersiapkan sebagai tempat bernaung bagi Rasulullah SAW dan para pengikutnya.

Cir-ciri yang ke-dua, kaum Anshar tidak memandang para Muhajirin yang tak berdaya itu sebagai aral atas diri mereka. Mereka menerima para Muhajirin dengan tangan terbuka dan mencintai mereka secara tulus. Mereka sangat termotivasi dengan ketentuan dari Allah, bahwa orang beriman itu bersudara sesamanya. Karena cinta persudaraan  inilah, kaum Anshar rela berbagi rata seluruh kepemilikan mereka dengan kaum Muhajirin, bahkan sampai pada perlengkapan rumah-tangga pun mereka bagikan. Lebih dari itu, orang-orang Anshar yang beristri lebih dari satu, secara sukarela segera menceraikan satu diantaranya agar dapat dinikahi oleh para muhajirin. Dalam menjalankan hal ini, orang Anshar memperkenalkan saudaranya dari Muhajirin kepada istri-istrinya, kemudian ia menyuruh saudaranya muhajirin itu untuk memilih yang mana yang paling menarik hatinya. Kebetulan, pada waktu itu kewajiban mengenakan jilbab belum diwahyukan.

Ciri-ciri yang ke-tiga dari kaum Anshar adalah, mereka menerima dengan sepenuh-hati apapun yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada kaum Muhajirin. Sebagai contoh, ketika kaum Muslim berhasil mengambil alih kendali atas harta kekayaan dari Banu Nadhir dan Banu Qainuqa’ tanpa menempuh jalan pertempuran, harta benda itu harus dibagikan oleh Rasulullah SAW kepada lima kategori penerima Fa’i sebagaimana tersebut didalam Al-Qur’an. Maka beliau meminta Tsabit bin Qaish RA untuk mengumpulkan kaum Anshar. Beliau kemudian berkhutbah di hadapan mereka dan memuji perilaku keteladanan mereka terhadap para Muhajirin. Selanjutnya, Nabi SAW menawarkan dua pilihan berkaitan dengan pembagian kepemilikan harta kekayaan yang baru saja diperoleh itu, “Jika kubagikan perolehan ini kepada semua orang Anshar dan Muhajirin, maka para Muhajirin masih akan terus tinggal di rumah para Anshar. Pilihan lainnya, kubagikan perolehan ini hanya kepada para Muhajirin dan dengan demikian mereka bisa meninggalkan rumah para Anshar dan memulai hidup mandiri.” Pemimpin kaum Anshar, Sa’ad bin ‘Ibada dan Sa’ad bin Ma’az menanggapi, “Silahkan, bagikanlah diantara kaum Muhajirin saja, dan hendaklah merekapun tetap tinggal di rumah kami.” Allah SWT menyukai tanggapan para Anshar ini dan mewahyukan ayat yang menyatakan bahwa kaum Anshar sama sekali tidak merasa keberatan didalam hati mereka perihal pembagian harta kekayaan yang bernilai tinggi.

Kaum Anshar berbuat demikian bagaikan mereka sama sekali tidak membutuhkan harta itu. Jika ada di dalam hati kaum Anshar percikan kecemburuan social, sedikitpun tidak kelihatan dari sikapnya keseharian.

Begitulah, pembagian pun dilakukan diantara kaum Muhajirin saja oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, dua orang Anshar yang sangat membutuhkan, yakni Sahal bin Hanif RA dan Abu Dujana RA juga memperoleh bagian.

Ciri-ciri ke-empat dari kaum Anshar adalah, mereka lebih cenderung mencukupi kebutuhan kaum Muhajirin, walaupun mereka juga mempunyai kebutuhan yang sama.

Qurthubi telah menguraikan beberapa situasi yang menyangkut hubungan Muhajirin dan Anshar. Beberapa diantaranya disajikan disini karena sangat penting untuk penyadaran seluruh umat manusia.

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa, suatu kali seseorang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata, “Saya teramat sangat lapar dan sudah tak tertahankan lagi.”Maka Rasulullah bertanya kepada istri-istri beliau adakah makanan di rumah.Mereka menjawab bahwa tidak ada lagi makanan, hanya air saja yang tersedia.Maka, beliau bertanya kepada para sahabat, “Siapa yang akan menjamu saudara kita ini pada malam ini?”Seorang Anshar menawarkan diri.Ia membawa saudara yang kelaparan itu ke rumahnya dan menyuruh istrinya menyajikan makanan. Tetapi istrinya menjawab, “Makanan hanya pas-pasan untuk dibagikan pada anak-anak kita saja.”Orang Anshar itupun berkata kepada istrinya,”Baringkanlah anak-anak, agar mereka tertidur.Lalu, sajikankah makanan itu dan matikanlah lentera.Aku harus berpura-pura makan bersama tamu kita ini.Ia tidak akan mengetahuinya dalam gelap.”Maka tamu itupun makan, dan keesokan harinya kedua orang itu kembali menjumpai Rasulullah SAW.Maka Nabi SAW memberi ucapan selamat kepada orang Anshar ini, beliau bersabda, “Allah SWT sangat menyukai keramah-tamahanmu tadi malam.” (Tirmidzi)
Peristiwa ini adalah membuktikan di depan Nabi SAW betapa kaum Anshar mampu menerjemahkan atau mengimplementasikan pesan-pesan iman kedalam perilakunya keseharian.

Abdullah bin Umar RA meriwayatkan, seseorang mengirimkan bingkisan daging domba kepada seorang saudaranya sesama Muslim. Orang yang dihadiahi ini menghadiahkan bingkisan itu kepada seorang Muslim yang lain, karena ia berpendapat bahwa yang diberinya itu lebih membutuhkan daripada dirinya sendiri. Orang yang ke-tiga ini memberikan bingkisan itu kepada orang ke-empat yang dipandang jauh lebih membutuhkan daripada dirinya sendiri.Bingkisan itu telah berpindah-pindah melalui tujuh tangan sampai kembali kepada orang yang semula menghadiahkan daging domba ini.

Hadits ini disebutkan oleh Qusyari.Riwayat serupa juga diriwayatkan oleh Anas sebagaimana diterangkan oleh Tsa’labi.

Aisyah RA meriwayatkan bahwa, seorang peminta-minta mendatangi rumahnya dan meminta sedekah.Pada waktu itu hanya ada sepotong roti di rumahnya. Aisyah RA menyuruh pembantunya untuk memberikan roti satu-satunya itu kepada sang pengemis, pembantunya pun bertanya keheranan bagaimana Aisyah RA petang nanti berbuka puasa. Namun Aisyah RA tetap mendesak agar roti itu diberikan.Saat berbuka puasa tiba, seseorang mengirimkan hadiah daging domba panggang kepada Aisyah RA, maka diundanglah pembantunya untuk ikut serta makan malam bersamanya.

Nasa’i mengisahkan bahwa sekali waktu Abdullah bin Umar RA jatuh sakit, ia ingin sekali makan beberapa butir buah anggur. Maka dibelilah buah anggur dan dibawakan kepadanya.Kebetulan sekali, datang seorang meminta-minta, Ibnu Umar RA pun memberikan anggur itu. Salah seorang yang menjenguk Ibnu Umar mengikuti kemana perginya pengemis itu, dibelinya lagi anggur itu dari si pengemis dan diberikannya lagi kepada Ibnu Umar RA. Pengemis itu hendak kembali lagi kepada Ibnu Umar RA untuk meminta-minta, tetapi orang-orang melarangnya untuk kembali lagi. Kebetulan Ibnu Umar RA mengira bahwa buah anggur yang dikirimkan kepadanya dibeli di pasar, kalau saja tidak berpikir demikian maka pastilah ia gagal menikmati buah anggur itu untuk ketiga-kalinya.

Ibnu Mubarak menulis dalam Masnadnya bahwa, suatu ketika Khalifah Umar RA mengutus pembantunya mengirim hadiah uang empat ratus dinar kepada Abu Ubaidah bin Jarah. Umar RA menugaskan pembantunya untuk mengamati bagaimana uang itu dibelanjakan.Sang pembantu melaporkan bahwa Abu Ubaidah membagi-bagikan uang itu kepada orang-orang yang membutuhkan.

Khalifah Umar RA juga mengirimkan uang dengan jumlah yang sama kepada Muaz bin Jabal RA melalui pembantu beliau, dan memerintahnya agar mengamati bagaimana uang itu dibelanjakan. Pembantu itu melaporkan kepada Umar RA bahwa Muaz juga membagi-bagikan uang itu untuk mereka yang membutuhkan.Ketika tersisa dua dinar, istri Muaz berkata, “Akupun orang miskin, maka akupun juga pantas mendapat bagian.”Muaz pun memberikan sisa uang itu kepada istrinya.Khalifah Umar berkata kepada pembantunya, “Mereka semuanya bersaudara dan serupa pula sifat-sifatnya.”

Hudzaifah ‘Adawi RA meriwayatkan, “Aku berangkat untuk mencari Jasad sepupuku sewaktu perang Yarmuk.Aku memiliki air yang kupersiapkan untuk mereka yang masih terdapat tanda-tanda hidup. Kutemukan sepupuku dalam keadaan hampir mati. Aku tawarkan kepadanya air yang kubawa. Ia mendengar rintihan saudara Muslim yang lain yang berjarak dekat dengannya. Sepupuku menolak untuk minum air itu dan mendesakku agar air itu diberikan kepada sesamanya yang juga cedera. Begitu aku sampai didekat orang kedua, iapun mendengar rintihan saudara Muslim yang lain lagi. Orang kedua ini mengambil air itu untuk diberikan kepada orang yang ke-tiga. Dengan cara demikian aku telah mendatangi tujuh orang yang berlainan yang sama-sama cedera. Masing-masing dari mereka cenderung memperhatikan kebutuhan saudaranya daripada dirinya sendiri. Ketika aku sampai pada orang ke-tujuh, ia baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Bersegera aku kembali kepada sepupuku, iapun telah menjumpai maut.”

Allah SWT menggolongkan Umat Nabi Muhammad SAW dalam tiga kelompok; Muhajirin, Anshar, dan selebihnya yang bukan dari Muhajirin ataupun Anshar.Allah menggambarkan banyak sekali keutamaan Muhajirin dan Anshar didalam Al-Qur’an.Namun, Allah SWT hanya menguraikan satu keutamaan yang perlu digaris-bawahi mengenai umat yang selebihnya. Kelompok ke-tiga ini haruslah secara tulus menghargai para sahabat Nabi Muhammad SAW, karena mereka itu bukan saja menonjol dari segi kemurnian Iman mereka, tetapi juga melalui mereka itulah Iman ini sampai kepada kita. Dengan demikian, Kelompok ketiga ini hendaklah mendo’akan para sahabat Rasulullah SAW, dan jangan memendam aneka perasaan tidak nyaman dalam hal apapun di dalam hati terhadap para sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Bagaimana sikap mental atau kondisi psikologis orang beriman setelah generasi sahabat sebaiknya, maka Allah memberitahukan kepada kita secara tersirat dengan redaksi doa. Do’a yang sangat indah itu diajarkan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Hasyr Ayat 10.

Dan sikap orang-orang yang datang sesudah mereka berdo’a;

“Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami, dan janganlah Engkau biarkan didalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman, wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”( Al-Hasyr Ayat 10.)

Mus’ab bin Sa’id meriwayatkan bahwasanya kita hanya bisa termasuk dalam kelompok yang ke-tiga ini dengan cara mengamalkan keutamaan yang telah dinyatakan di atas. Wajib meneladani sikap perilaku mereka dalam mengimplementasikan pesan-pesan  Allah kepada orang beriman.

Dari ayat di atas, Qurthubi menyimpulkan bahwa, adalah wajib bagi kita untuk memiliki rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada para sahabat Rasulullah SAW. Imam Malik berkata, “Seorang Muslim tidak akan mendapat bagian dari apapun yang diperoleh jika ia tidak memiliki timbal balik berupa rasa hormat kepada Sahabat Rasulullah SAW. Abdullah bin Abbas berkata, “Allah SWT telah memerintahkan umat Islam untuk mendo’akan para sahabat Nabi Muhammad SAW meskipun Allah mengetahui bahwa diantara para sahabat itu ada yang berbeda pendapat satu sama lain, bahkan ada yang bertikai satu sama lain, namun mereka saling menahan diri untuk tidak merasa lebih antara satu sma lain. Jadi, kita harus tetap menanamkan perasaan hormat terhadap seluruh Sahabat Rasulullah Muhammad SAW.

Aisyah RA meriwayatkan, “Aku mendengar dari Rasulullah Muhammad SAW bahwa umatnya tidak akan mengalami kehancuran jika mereka tidak mengecam umat yang terlebih dahulu ada daripada mereka.”

Abdullah bin Umar RA meriwayatkan, “Bilamana kamu bertemu dengan seseorang yang mengecam para sahabat Nabi Muhammad SAW, hendaknya katakan saja dengan ringan, “Semoga Allah SWT menimpakan kecaman-Nya kepada yang terburuk diantara kalian.” Dengan cara ini, Allah SWT sendiri yang akan memutuskan balasan yang layak bagi si pengecam itu.

‘ Awwam bin Jusyab RA berkata, “Aku dapati kaum muslimin pada masa dahulu (salafus shalih) saling mengingatkan terhadap yang lain perihal keutamaan-keutamaan para Sahabat yang sangat penting untuk dikenang agar dapat meningkatkan kecintaan kita kepada mereka. Mereka (umat muslim generasi dahulu/salafus shalih) itu menghidarkan diri dari menyebutkan perbedaan pendapat dan perselisihan diantara para Sahabat, sehingga para musuh Islam tidak menjadi terlalu berani mencela para Sahabat Rasulullah SAW.”

Semoga Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita untuk menghargai dan menghormati keutamaan para Sahabat Rasulullah SAW, sehingga kita bisa dimasukkan Allah SWT kedalam kelompok yang ketiga  umat Muhammad Rasulullah SAW, dan memperoleh keberhasilan di dalam kehidupan yang sekarang maupun di kehidupan mendatang. Terutama meneladani Keutamaan karakter sikap para Sahabat Rasulullah SAW  Muhajirin dan Anshar dalam hidup bermasyarakat. Cendekiawan muslim wajib mempelajari dan mengembangan sistem manajemen yang mendukung Masyarakat Tanpa Kekerasan, manajemen tanpa diskriminasi, manajemen yang menjamin kebutuhan setiap orang terpenuhi secara mudah dan  tidak hanya menguntungkan segelintir orang. Setiap perjuangan harus selalu bermuara pada tegaknya tegaknya kebajikan.

Amiin…..

PROSES KEPUTUSAN INOVASI

A. Pengertian Proses Keputusan Inovasi

Proses keputsan inovasi ialah proses yang dilalui individu  mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keuputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menlak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya. Proses keputusan inovsdi bukan kegiatan yang dapat berlangsung seketika, tetapi meruapakan searangkaian kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu, sehingga individu atau organisasi dapat menilai gagasan yang baru itu sebagai bahan pertimbangan untuk selanjutnya akan menolak atau menerima inovasi dan menerapkannya. Cirri pokok keputusan inovasi dan merupakan perbedaannya dengan tipe keputusan yang lain adalah dimulai denga adannya ketidaktentuan tentang sesuatu.

Sumber Tulisan ini

Sumber Tulisan ini

 

 B. Model Proses Keputusan Inovasi

Menurut Roger, proses keptusan inovasi terdiri dari 5 tahap, yaitu tahap pengetahuan,   tahapan bujukan, tahapan keputusan, tahap implementasi   dan tahap konfirmasi.

 

   1. Tahap Pengetahuan (Knowledge)

  Proses keputusan inovasi dimulai dengan taghap pengetahuan yaitu tahap pada saat    seorang menyadari adanaya suatu inovasi  dan ingin tahu bagaimana fungsi inovasi tersebut. Pengertian menyadari dalam hal ini bukan memahami tetapi membuka diri untuk mengetahui inovasi.

 Seseorang menjadi  atau  membuka suat inovasi tentu dilakukan secara aktif bukan secara pasif. Misalnya pada acara siaran televisi disebutkan berbagai macam acara, salah satu menyebutkan bahwa pada jam 19.30 akan ada siaran tentang metode baru cara mengajar berhitung disekolah dasar. Guru A yang mendengar dan melihat acara tersebut kemudian sadar bahawa ada metode baru tersebut, maka pada diri guru A tersebut sudah mulai proses keputusan inovasi pada tahap pengetahuan. Sedangkan Guru b walaupun mendengar dan melihat acara TV, tidak ada keinginan untuk tahu dan acara tersebut berlalu demikian saja,  maka belum terjadi proses keputusan inovasi.

Seseorang menyadari perlunya menegtahui inovasi biasanya tentu berdasarkan pengamatan tentang inovasi itu sesuai dengan kebutuhannya, minat atau mungkin juga kepercayaaan nya. Seperti contoh Guru A tersebut di atas, berarti ia ingin tahu metode baru berhitung karena ia memerlukannya. Adanaya inovasi menumbuhkan kebutuhan karena kebetulan ia merasa butuh. Tetapi mungkin juga terjadi bahkan karena seseorang butuh sesuatu maka untuk memenuhinya diadakan inovasi. Dalam kenyataanya di masyarakat hal yang kedua ini jarang terjadi, karena banyak orang tidak tahu apa yang diperlukan. Apalagi dalam bidang pendidikan, yang dapat merasakan perlunya ada perubahan biasanya orang yang ahli. Sedang guru sendiri belum tentu mau menerima perubahan atau inovasi yang sebenarnya diperlukan untuk mengefektifkan pelaksanaan tugasnya. Sebagaimana halnya untuk seorang dokter, manusia memerlukan makan vitamin, tetapi juga tidak menginginkan nya, dan sebaliknya sebenarnya ingin sate tetapi menurut dokter justru sate membahayakan kita. Setelah seseorang menyadari adanaya inovasi dan membuka dirinya untuk mengetahui inovasi , maka keaktifan untuk memenuhi kebutuhan ingin tahu tentang inovasi itu bukan hanya berlangsng pada tahap pengetahuan saja tetapi juga pada tahap yang lain bahkan sampai tahap konfirmasi. Artinya masih ada keinginan untuk mengetahui aspek – aspek tertentu dari inovasi.

2. Tahap Bujukan (Persuation)

Pada tahap  persuasi dari proses keputusan inovasi, sesorang membentuk sikap menyenangi atau tidak  menyenangi terhadap inovasi. Jika pada tahap pengetahuan proses kegiatan mental yang utama bidang kognitif, amaka pada tahap persuasi yang berperan   utama bidang afeksi atau persaan. Sesorang tidak dapat menyenangi inovasi  sebelum ia tahu lebih dulu tentang inovasi.

Dalam tahap persuasi ini lebih banyak keaktifan mental yang memegang peran. Seseorang akan bersaha mengetahui lebih banyak tentang inovasi dan menafsirkan informasi yang diterinmanya. Pada tahap ini berlangsung seleksi informasi disesuaikan dengan kondisi dan sifat pribadinya. Di sinilah peranan katrakteristik inovasi dalam mempengaruhi proses keputusan inovasi.

Dalam tahap persuasi ini juga sangat penting peran keamampuan untuk mengantisipasi kemungkinan penerapan inovasi di masa dating. Perlu ada kemampuan untuk untuk memproyeksikan penerapan inovasi dalam pemikiran berdasrkan kondisi dan situsai yang ada. Untuk mempermudah proses mental itu, perlu adanaya gambaran yang jelas tentang bagaimana pelaksanaannya inovasi, jika mungkin sampai pada konsukuensi inovasi.

Hasil dari tahap persuasi yang utama ialah adanya penentuan menyenangi atau tidak menyenangi inovasi. Diharapkan hasil tahap persuasi akan mengarahkan proses keputusan inovasi atau dengan kata lain ada kecenderungan kesesuaian antara menyenangi inovasi dan menerapkan inovasi. Namun perlu diketahui bahwa sebenarnya antara sikap dan aktifitas masih ada jarak. Orang menyenangi  inovasi belum tentu ia menerapkan inovasi. Ada jarak atau kesenjangan antara pengetahuan-sikap, dan penerapan ( praktik ). Misalnya seorang guru tahu tentang metode diskusi, tahu cara menggunakannya, ddan senang seandainya menggunakan, tetapi ia tidak pernah menggunakan, karena beberapa factor : tempat duduknya tidak memungkinkan, jumlah siswanya terlalu besar, dan takut bahan pelajarannya tidak akan dapat disajikan sesuai batas waktu yang ditentukan. Perlu adanya bantuan pemecahan masalah.

3. Tahap Keputusan ( Decision )

Tahap keputusan dari proses inovasi, berlangsung jika seseorang melakukan kegiatan yang mengarah untuk menetapkan menerima atau menolak inovasi. Menerima inovasi berarti  sepenuhnya  akan menerapkan inovasi. Menolak inovasi berarti  tidak akan menerapkan inovasi.

Sering terjadi seseorang akan menerima inovasi setelah ia mencoba lebih dahulu. Bahkan jika mungkin mencoba sebagian kecil lebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan secara keseluruhan jika sudah terbukti berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi tidak semua inovasi dapat dicoba dengan dipecahkan menjadi beberapa bagian. Inovasi yang dapat dicoba bagian demi bagian akan lebih cepat diterima. Dapat juga terjadi percobaan cukup dilakukan sekelompok orang dan yang lain cukup memepercayai dengan hasil percobaan temannya.

Perlu diperhatikan bahwa dalam kenyataan pada setiap tahap dalamproses keputusan inovasi dapat terjadi penolakan inovasi. Misalnya penolakan dapat terjadi pada awal tahap pengetahuan, dapat juga terjadi pada tahap persuasi, mungkin juga terjadi setelah konfirmasi, dan sebagainya.

Ada dua macam penolakan inovasi yaitu : ( a) penolakan aktif artinya penolakan inovasi setelah  inovasi setelah melalui mempertimbangkan untuk menerima inovasi atau mungkin sudah mencoba lebih dahulu, tetapi keputusan terakhir menolak inovasi, dan ( b ) penolakan pasif artinya penolakan inovasi dengan tanpa pertimbangan sama sekali.

Dalam pelaksanaan difusi inovasi antara : pengetahuan , persuasi, dan keputusan inovasi sering berjalan bersamaan. Satu dengan yuang lainnya saling berkaitan. Bahkan untuk jenis inovasi tertentu dapat terjadi urutan : pengetahuan-keputusan inovasi-baru persuasi.

4. Tahap Implementasi ( Implementation )

Tahap implementasi dari proses keputusan inovasi terjadi apabila seseorang menerapka inovasi. Dalam tahap implementasi ini berlang sung keaktifan baik mental maupun perbuatan. Keputuisan penerima gagasan atau ide baru dibuktikan dalam praktik. Pada umumnya implementasi tentu mengikuti hasil keputussan inovasi. Tetapi daoat juga terjadi karena sesuatu hal  sudah memutuskan menerima inovasi tidak diikuti imlementasi. Biasanya hal ini terjadi karena fasilitas penerapan yang tidak tersedia.

Kapan tahap implementasi berakhir? Mungkin tahap ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama, tergantung  dari keadaan inovasi itu sendiri. Tetapi biasanya suatu tanda bahwa taraf imlpementasi inovasi berakhir jika penerapan inovasi itu sudah melembaga atau sudah menjadi hal-hal yang bersifat rutin. Sudah tidak merupakan hal yang baru lagi.

Hal-hal yang memungkinkan terjadinya re-invensi antara inovasi yang sangat komplek dan sukar dimengerti, penerima inovasi kurang dapat memahami inovasi karena sukar untuk menemui agen pembaharu, inovasi Yang memungkinkan berbagai kemungkinan komunikasi, apabila inovasi diterapkan untuk memecahkan masalah yang sangat luas, kebanggaan akan inovasi yng dimiliki suatu daerah tertentu juga dapat menimbulkan reinvensi

5. Tahap Konfirmasi ( Confirmation )

Dalam tahap konfirmasi ini seseorang mencari penguatan terhadap keputusan yang telah diambilnya,dan ia dapat menarik kembali keputusannya jika memang diperoleh informasi yang bertentangan dengan informasi semula. Tahap  konfirmasi ini sebenarnya berlangsung secara berkelanjutan sejak terjadi keputusan menerima atau menolak inovasi yang berlangsung tak terbatas. Selama dalam konfirmasi seseorang berusaha  menghindri terjadinya  disonansin paling  tidak berusaha menguranginya.

Terjadinya perubahan tingkah laku seseorang antara lain disebabkan karena terjadinya ketidakseimbangan internal. Orang itu merasa dalam dirinya ada sesuatu yang tidak sesuai atau tidak selaras yang disebut disonansi, sehingga orang itu merasa tidak enak. Jika seseorang merasa dalam dirinya terjadi ddisonansi, maka ia akan berusaha akan menghilangkannya atau paling tidak menguranginya dengan cara pengetahuannya, sikap atau perbuatannya. Dalam hubungannya dengan difussi inovasi, usaha mengurangi ddisonanasi terjadi :

a) Apabila seseorang menyadari akan ssesuatu kebutuhan  dan berusaha mencari sesuatu  untuk memenuhi kebutuhan misalnya dengan mencari informasi tentang inovasi hal ini pada terjadi tahap pengetahuan dalam proses keputusan inovasi :

b) Apabila seseorang tahu tentang inovasi dan telah bersikap menyenagi inovasi, tersebut tetapi  belum menetapkan keputusan untuk menerima inovasi. Maka ia akan berusaha untuk menerimanya, guna mengurangi adanya disonansi antara apa yang disenangi dan diyakini dengn apa yang dilakukan. Hal ini terjadi pada tahap keputusan inovasi, dan tahap implementasi dalam proses keputusan inovasi.

c) Setelah seseorang menetapkan menerima dan menerapkan inovasi, kemudian diajaka unuk menolaknya. Maka disonansi ini dapat dikurangi dengan cara tidak melanjutkan penerimaan dan penerapan inovasi ( discontinuiting ). Ada kemungkinan  lagi  seseorang telah menetapkan untuk menolak inovasi, kemudian diajak menerimanya. Maka usaha mengurangi disonansi dengan cara menerima inovasi ( mengubah keputusan semula ). Perubahan ini terjadi ( tidak meneruskan inovasi atau mengikuti inovasi terlambatpada tahap konfirmasi ).

Ketiga cara mengurangi disonansi tersebut,  berkaitan dengan perubahan tingkah l;aku seseorang sehingga antara sikap, perasaan, pikiran, perbuatan sangat erat hubungannya bahkan sukar dipisahkan karena yang satu mempengaruhi yang lain.  Sehingga dalam kenyataannya kadang-kadang sukar  orang akan mengubah keputusan yang sudah terlanjur mapan dan disenangi, walaupun secara rasional diketahui adanya kelemahannya. Oleh karena sering terjadi untuk menghindari timbulnya disonansi, maka itu hanya berubah mencari informasi yang dapat memperkuat keputusannya. Dengan kata lain orang itu melakukan seleksi informasi dalam tahap konfirmasi  ( selective exposure ). Untuk menghindari terjadinga drop out dalam penerimaan dan imlementasi  inovasi ( discontinue ) peranan agen pembaharu sangat dominan. Tanpa ada monitoring dan penguatan orang akan mudah terpengaruh pada informasi negative tentang inovasi.

C. Tipe Keputusan Inovasi

Inovasi dapat diterima atau ditolak oleh seseorang (individu) sebagai anggota sistem sosial, atau oleh keseluruhan  anggota sistem sosial, yang menentukan untuk menerima inovasi berdasarkan keputusan bersama atau berdasarkan paksaan (kekuasaan). Dengan dasar kenyataan tersebut maka dapat dibedakan adanya beberapa tipe keputusan inovasi :

1. Keputusan inovasi opsional, yaitu pemilihan menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang ditentukan oleh individu (seseorang) secara mandiri tanpa tergantung atau terpengaruh dorongan anggota sistem sosial yang lain. Meskipun dalam hal ini individu mengambil keputusan itu berdasarkan norma sistem sosial atau hasil komunikasi interpersonal dengan anggota sistem sosial yang lain. Jadi hakikat pengertian keputusan inovasi opsional ialah individu yang berperan sebagai pengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu inovasi.

2. Keputusan inovasi kolektif, ialah pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang dibuat secara bersama-sama berdasarkan kesepakatan antara anggota sistem sosial. Semua anggota sistem sosial harus mentaati keputusan bersama yang telah dinuatnya. Misalnya, atas kesepakatan warga masyarakat di setiap RT untuk tidak membuang sampah di sungai, yang kemudian disahkan pada rapat antar ketua RT dalam suatu wilayah RW. Maka konsekuensinya semua warga RW tersebut harus mentaati keputusan yang telah dibuat tersebut, walaupun mungkin secara pribadi masih ada beberapa individu yang masih merasa keberatan.

3. Keputusan inovasi otoritas, ialah pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai kedudukan, status, wewenang atau kemampuan yang lebih tinggi daripada anggota yang lain dalam suatu sistem sosial. Para anggota sama sekali tidak mempunyai pengaruh atau peranan dalam membuat keputusan inovasi. Para anggota sistem sosial tersebut hanya melaksanakan apa yang telah diputuskan oleh unit pengambil keputusan misalnya, seorang pimpinan perusahaan memutuskan agar sejak tanggal 1 maret semua pegawai harus memakai seragam hitam putih. Maka semua pegawai sebagai anggota sistem sosial di perusahaan itu harus melaksanakan apa yang telah diputuskan oleh atasannya.

Ketiga tipe keputusan inovasi tersebut merupakan rentangan dari keputusan opsional (individu dengan penuh tanggung jawab secara mandiri mengambil keputusan), dilanjutkan dengan keputusan kolektif (individu memperoleh sebagian sebagian wewenang untuk mengambil keputusan), dan yang terakhir keputusan otoritas (individu sama sekali tidak mempunyai hak untuk mengambil alih keputusan). Keputusan kolektif dan otoritas banyak digunakan dalam organisasi formal, seperti perusahaan, sekolah, perguruan tinggi, organisasi pemerintahan, dan sebagainya. Sedangkan keputusan opsional sering digunakan dalam penyebaran inovasi kepada petani, konsumen, atau inovasiyang sasarannya anggota masyarakat sebagai individu bukan sebagai anggota organisasi tertentu.

Biasanya yang paling  cepat diterimanya inovasi dengan menggunakan tipe keputusan otoritas, tetapi masih juga tergantung bagaimana pelaksanaannya. Sering terjadi juga kebohongan dalam pelaksanaan keputusan keputusan otoritas. Dapat juga terjadi bahwa keputusan opsional lebih cepat dari keputusan kolektif, jika ternyata untuk membuat kesepakatan dalam musyawarah antara anggota sistem sosial mengalami kesukaran. Cepat lambatnya difusi inovasi tergantung pada berbagai faktor.

Tipe keputusan yang digunakan untuk menyebarluaskan suatu inovasi dapat juga berubah dalam waktu tertentu. Rogers memberi contoh inovasi penggunaan tali pengaman bagi pengendara mobil (auto mobil seat belts). Pada mulanya pemasangan seatbelt di mobil diserahkan kepada pemilik kendaraan yang mampu membiayai pemasangannya. Jadi menggunakan keputusan opsional. Kemudian pada tahun berikutnya peraturan pemerintah mempersyaratkan semua mobil baru harus dilengkapi dengan tali pengaman. Jadi keputusan inovasi pemasangan tali pengaman dibuat secara kolektif. Kemudian banyak reaksi terhadap peraturan ini sehingga pemerintah kembali kepada peraturan lama keputusan menggunakan tali pengaman diserahkan kepda tiap individu (tipe keputusan opsional).

4. Keputusan inovasi kontingensi (contingent), yaitu pemilihan menerima atau menolak suati inovasi, baru dapat dilakukan hanya setelah ada keputusan inovasi yang mendahuluinya. Misalnya di sebuah Perguruan Tinggi, seorang dosen tidak mungkin untuk memutuskan secara opsional untuk memakai komputer sebelum didahului keputusan oleh pimpinan fakultasnya untuk melengkapi peralatan fakultas dengan komputer. Jadi ciri pokok dari keputusan inovasi kontingan ialah digunakannya dua atau lebih keputusan inovasi secara bergantian untuk menangani suatu difusi inovasi, terserah yang mana yang akan digunakan dapat keputusan opsional, kolektif atau otoritas.

Sistem sosial terlibat secara langsung dalam proses keputusan inovasi kolektif, otoritas dan kontingen dan mungkin tidak secara langsung terlibat dalam keputusan inovasi opsional.

Sertifikat Ulama

Hati-hati jika  orang berilmu telah berlaku fasik.
  ……” Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Quro Pondok Cabe, Tangerang Selatan KH Syarif Rahmat berpendapat pentingnya sertifikasi ulama di Indonesia terkait upaya menghadang paham terorisme melalui saluran keagamaan. Menurut dia, dua ukuran yang dipakai dalam melakukan sertifikasi ulama atau ustadz.
“Kriterianya dua hal yakni keislaman dan keindonesiaan, itu yang menjadi ukurannya. Saya kira MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang memiliki otoritas,” ujar Syarif kepada INILAH.COM melalui saluran telepon, Minggu (16/9/2012)….”
(http://nasional.inilah.com/read/detail/1905537/sertifikasi-ulama-kenapa-tidak)
Disamping itu juga disinyalir, bahwa BNPT juga telah berwancana pula untuk itu.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/09/12/ma8oh9-sertifikasi-ulama-bnpt-ilmunya-harus-lebih-tinggi
Ulama tidak perlu sertifikat atau disertifikasi.
Tidak ada lembaga yang berhak mematok standar Ulama.  Orang yang diakui sebagai ulama adalah orang yang telah teruji pengetahuan dan sikapnya di dalam lingkungan masyarakatnya. Bukan dengan tes kompetensi secara formal. Masyarakatlah yang menjadi saksinya, tua – muda, besar atau kecil, waktu siang atau malam, orang miskin atau kaya, semua ikut menilainya dan memberikan pengakuan terhadapnya.  Bukan berdasarkan tes oleh lembaga tertentu atau dengan mengukur kuantitas pengetahuannya. Akan tetapi di samping ilmu yang relative memadai,  Ilmu dan sikapnya harus sejalan.
Lagi pula, kemampuan seorang ulama juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan budayanya dan perjalanan kehidupan ( pengalaman) ulama bersangkutan.  Artinya kualitas (standar) ulama  tidak dapat di patok  awal seseorang menjadi ulama. Bentuk amal shaleh yang mereka kerjakan keseharian menjadi panutan bagi warga di sekitar. Mereka muncul secara alamiah, bukan diorbitkan dan dipersiapkan dengan sertifikasi. Seorang ulama biasanya ter-orbit dengan sendirinya, dia besar sendiri dan tidak dibesarkan.
Jika ada pemikiran kearah itu(sertifikasi ulama), berarti orang tersebut sudah terkontaminasi oleh paham Yahudi dan Nasrani. Sebab Memang Yahudi dan Nasranilah selalu menekan perkembangan Islam di mana-mana. Mereka yang menggagas ide itu berarti mereka tidak tahu esensi dari seorang ulama. Seperti yang di kutip di atas, “Kriterianya dua hal yakni ke Islaman dan ke Indonesiaan”,  Inilah sebuah kekeliruan. Ulama itu adalah pewaris para Nabi….. Kalau syarat utama ke Islaman, terang saja ulama yang kita bicarakan hanya dalam kontek Islam.  Jika bicara soal ke Islaman, sulit mematok standar minimal Ke Islaman seseorang untuk itu.  Misalnya berapa ayat Al Quran yang harus hafal, berapa pula hadist Rasulullah. Bagaimana pula pemahaman terhadap kandungan makna di dalam ayat-ayat yang dihafalnya.  Apa pula alat ukurnya untuk amal shaleh keseharian yang diperbuatnya. Sedangkan Ke Indonesiaan, ….jangan dikira ulama hanya ada di Indonesia saja. Bukan ulama yang ada di Indonesia saja warisatul anbia’
Makanya,….
Jika ada orang yang ber- ide untuk melakukan sertifikasi ulama perlu juga di waspadai, bahwa mereka ingin menekan perkembangan Islam dan akan melarang secara diam-diam orang yang memperjuangkan Islam. Sedikit demi sedikit terjadi pendangkalan dan pengkerdilan. Yang terakhir inilah yang sangat penting dari tujuan mereka. Ingat orang Islam bukan Docile.
Wassalam Jalius.

PENTIP

Quo Vadis Winarno Surakhmad ?

Prof. DR. Winarno Surakhmad. MSc. Ed, Pada tahun 2005 di Bukittinggi dalam Temu Nasional FIP/JIP seluruh Indonesia  mengatakan bahwa “ Pendidikan kita dewasa ini diselenggarakan tanpa ilmu pendidikan. Sehingga biasa disebut sebagai pendidikan tanpa ilmu pendidikan atau PENTIP “.
Juga dikutip oleh Prayitno sebagai dasar pemikiran (rasional) bukunya yang berjudul Model Pendidikan karakter Cerdas.  Walau sudah tujuh tahun pernyataan berlalu, namun demi untuk sebuah kebenaran dan kejujuran perlu juga kita analisa. Sangat penting sekali dalam rangka membangun sikap ilmiah dikalangan orang-orang yang terpelajar di tanah air ini.
Apa yang dinyatakan oleh Winarno itu merupakan sebuah pernyataan yang terlalu tendensius. Sang Profesor barang kali sudah lupa bahwa   ilmu pendidikan adalah milik masyarakat semenjak dahulu kala. Terlalu arogan jika yang hanya memiliki ilmu pendidikan itu hanya orang setaraf Profesor. Apakah pernyataan ini dalam rangka mengelabui orang banyak atau dalam rangka mempromosikan diri sebagai Profesor di bidang pendidikan. Forum Temu Nasional FIP/JIP seluruh Indonesia di Bukittinggi itu bukanlah pertemuan sekedar pertemuan kangen-kangenan tenaga pengajar atau dosen-dosen FIP/JIP. Peremuan itu adalah pertemuan Ilmiah. Berarti sangat penting esensi dan fungsinya. Jadi jika di dalam forum itu disampaikan pernyataan tersebut sungguh sangat perlu dipertanyakan, terutama apakah memang  PENTIP  di Indonesia selama ini. Sudah sepantasnya logika diuamakan untuk menganalisis pernyataan tersebut. Sekali lagi,… forum tersebut  adalah forum ilmiah.
Bayangkan, sudah ratusan juta rakyat Indonesia yang dididik  dengan “Tanpa Ilmu Pendidikan”.  Sungguh ironis dan mencengangkan. Sangat riskan, jika ratusan ribu guru dan dosen dibiarkan mengajar. Lebih jauh lagi betapa rakyat indonesia selama ini tertipu oleh guru-guru yang tidak memiliki ilmu pandidikan.
Perlu diingat, sebelum Winarno lahir ke dunia, masyarakat Indonesia tetap saja melaksanakan pendidikan dengan Ilmu pendidikan. Misalnya seorang ayah atau ibu rumah tangga (mereka tidak pernah bersekolah formal sama sekali) mengajarkan kepada anaknya  agar  mengucapkan terima kasih jika ada orang yang memberi sesuatu kepadanya, atau mengucapkan kata  Alhamdulillah. Tidak mungkin terlaksana pendidikan itu secara baik jika sang ayah atau ibu tersebut tidak memiliki ilmu tentang  cara mengucapkan terima kasih. Walaupun ilmu tentang itu hanya sedikit.
Ilmu pada umumnya,  ilmu pendidikan khususnya sama juga halnya seperti air. Jika ukurannya hanya satu sendok,  statusnya tetap air, jika ukurannya satu ember, tetap juga  statusnya sebagai air. Demikian seterusnya untuk ukuran satu samudera yang luas itu,  statusnya tetap air. Di samping itu ilmu pada umumnya atau ilmu pendidikan khususnya ada sebagian yang bersifat terbuka dan ada yang tersembunyi. ilmu yang bersifat terbuka dapat di transferkan kepada orang lain baik secara oral atau tulisan. Sementara ilmu pendidikan yang tersembunyi sulit untuk di transferkan kepada orang lain. Pada bagian yang terakhir itu biasanya diperoleh dari pengalaman lapangan.
Begitu juga halnya dengan ilmu pendidikan. Mendidik anak hanya sebatas mengucapkan salam setiap berjumpa dengan sahabat atau kawan, tetap itu terlaksana secara baik dengan ilmu juga. Setiap pekerjaan yang baik sudah jelas tentu ada ilmunya, termasuk mendidik anak-anak atau juga orang dewasa. Jangan dikira jika seseorang telah menjadi Profesor barulah ia memiliki ilmu pendidikan. Berapa banyak anggota masyarakat kita, yang telah berhasil mendidik anak-anak dengan berbagai nilai dan norma serta pengetahuan dan keterampilan. Saya pikir semua itu terlaksana justru dengan ilmu pendidikan. Saya Juga pernah bersekolah di SPG (Sekolah Pendidikan Guru)….. disana juga diajarkan Ilmu-ilmu untuk mendidik anak-anak. Mungkin demikian juga guru-guru kita di semua sekolah dan semua jenjang pendidikan, sudah pasti mereka bisa mendidik dengan Ilmu. Ilmu yang digunakan untuk mendidik tidak dapat diklaim hanya sebagai produk perguruan tinggi dan dibawah binaan sorang Professor. Di luar sekolah ( pendidikan informal dan nonformal ) ilmu berkembang dari satu generasi kepada  generasi berikutnya secara oral termasuk juga Ilmu yang digunakan untuk mendidik anak-anak sampai mereka dewasa.
Umumnya di Pedesaan mereka belajar tanpa guru profesional. Mereka lebih terampil dan cekatan serta sangat faham dengan etik bermasyarakat
Perlu juga dipahami oleh kita semua bahwa di dalam masyarakat Indonesia sistem pendidikan   terselenggara melalui tiga jalur sebagai wahana pencapaian tujuan. Ketiga jalur memiliki keunggulan masing-masing, seyogianya karakteristik masing-masing mendapat porsi perhatian yang memadai oleh pemerhati pendidikan. Paparan karakteristik jalur pendidikan tersebut telah dijadikan  Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, sebagai dasar  pemikiran ini meliputi yakni:
a. Jalur Pendidikan Formal
b. Jalur Pendidikan Non Formal
c. Jalur Pendidikan In Formal
Secara ideal, ketiga jalur tersebut seharusnya mendapat perhatian sepadan, bahkan pemerhati tidak memilah dan membedakan (dalam arti jalur yang satu lebih penting dari jalur yang lain) ketiga jalur pendidikan tersebut.  Dimana para pemerhati pendidikan tidak menonjolkan pendidikan formal saja yang dikelola dengan Ilmu Pendidikan. Setiap satuan pendidikan tersebut ada ilmu pengelolaannya.  Diiringi persepsi dan kebiasaan masyarakat terhadap layanan pendidikan, tidak mengherankan apabila diantara ketiga jalur layanan tersebut, pendidikan sekolah formal lebih menyita perhatian Pemerintah dan masyarakat termasuk kebijakan pengembangan dan penetapan program. Kondisi tersebut selain menciptakan ketimpangan juga menyemai ketidakadilan perlakuan baik terhadap penyelenggara, sasaran dan program pendidikan.  Semua itu berawal dari pemahaman yang keliru juga.
Sekarang ke depannya adalah, apakah Winarno terjebak oleh pragmatisme atau ingin menggantinya dengan ilmu pendidikan dengan paradigma baru ? Kalau ia… kita tunggu.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.