Alam Takambang Jadi Guru

Alam takambang jadi guru adalah pepatah yang berasal dari Minangkabau. Kalau dijadikan bahasa Indonesia, kira-kira menjadi ” alam terkembang (terbentang luas) dijadikan sebagai guru “. Dewasa ini, pepatah tersebut masuk dalam moto pembelajaran untuk guru. Entah kapan dimulai, yang jelas perangkat pembelajaran tersebut telah digandakan oleh banyak guru. Secara tidak langsung menyebarluaskan pepatah alam takambang jadikan guru. Nyata bagi banyak guru pepatah ini sudah familiar juga. Bahkan di Negeri Belanda juga sangat dikenal oleh pakar pendidikan di sana.

alam-takambang1 - Copy

Gerbang Universitas Negeri Padang- Sumatera Barat, Indonesia.
(Foto Jalius, arah dari dalam ke luar, menggunakan Axio Android)

Guru di daerah Sumatra Barat dan guru-guru penutur Bahasa Melayu pada umumnya akan langsung mengerti makna pepatah tersebut. Di Ranah Minang ungkapan tersebut sangat komunikatif. Sementara itu, mereka yang tidak mengerti bahasa Melayu dan bahasa Minang, hanya bisa mengira dan mendiskusikan pengertiannya kepada teman sejawat. Namun mereka tidak akan banyak menemui kesulitan untuk itu. Lagi pula konsep alam takambang jadikan guru sangat praktis dan universal. Cakupannya meliputi semua dimensi.
Pepatah Alam Takambang jadikan guru ini sangat dipahami oleh setiap orang yang berasal dari Sumatra Barat. Pewarisannya secara oral. Pepatah ini diajarkan turun temurun. Dewasa ini penyebarannya selain secara lisan juga melalui berbagai karya tulis, termasuk di dalamnya karya sastra. Pepatah atau ungkapan ini bermakna ‘agar kita belajar pada alam yang menyajikan berbagai fenomena. Alam terbentang luas senantiasa mengabarkan sebuah kearifan’. Sejatinya pepatah atau ungkapan filosofi ini mengandung makna, pertama menunjukan sikap seseorang terhadap tanggung jawab yang seharusnya ia dilaksanakan dalam rangka pengembangan potensi diri. Keduaungkapan ini bermakna menunjukan kepada kita apa sesungguhnya sumber dari pengetahuan, teknologi dan keterampilan. AlamTakambang yakni menujukan “sumber belajar” sekaligus sebagai “sumber ilmu” yang sesungguhnya, yakni sumber belajar yang sungguh-sungguh dapat memenuhi “kebutuhan kita semua” yang sifatnya selalu ada sepanjang zaman.

Alam diciptakan Allah untuk dimanfaatkan untuk beragam keperluan. Dapat dirinci, di antaranya sangat banyak pelajaran yang bisa diambil darinya. Karena kearifan para pemikir masyarakat Minangkamabu itu muncul ungkapan “Alam Takambang jadikan Guru”. Banyak sudah teknologi canggih yang kita gunakan sekarang ini mengambil prinsip kerjanya dari alam ini. Untuk itu kita selalu bersahabat dengan alam (lingkungan dimana kita berada) agar kita selalu dapat memetik “pelajaran” darinya.

Alam Takambang Sebagai Sumber Pengetahuan.
Alam Takambang jadikan guru pengertian yang paling pas untuk itu adalah “alam” (sama juga artinya dengan di dalam bahasa Indonesia alam) yang “Takambang” (membentang luas tanpa batas) ini atau alam raya ini dengan segala isinya. “Jadi“ diartikan dijadikan sebagai dan “guru ” ( sama dengan arti bahasa Inonesia ). “ Guru ” maksudnya adalah apa saja yang ada yang dapat kita pelajari atau memberikan pengetahuan kepada kita, atau apa yang dapat kita pelajari padanya. Maka guru disini bermakna luas, berlaku untuk semua baik berupa orang dan alam sekitar di segala tempat dan keadaan. Dengan kata lain maksud guru itu adalah sumber belajar dan atau sumber pengetahuan. Sebagai sumber belajar dan pengetahuan sangat baik untuk di sekolah maupun di luar persekolahan. Anak dapat belajar dirumah dengan buku dan internet, anak dapat belajar dengan binatang piaraan dan tanaman dikebun atau air yang mengalir disungai.

AECT (Association for Education and Communication Technology) menyatakan bahwa sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. Sumber belajar adalah bahan-bahan yang dimanfaatkan dan diperlukan dalam proses pembelajaran, yang dapat berupa buku teks, media cetak, media elektronik, narasumber, lingkungan sekitar, dan sebagainya yang dapat meningkatkan kadar keaktifan dalam proses pembelajaran.

Sumber pengetahuan adalah segala sesuatu yang tersedia di sekitar atau di lingkungan belajar yang berfungsi menyediakan aneka pengetahuan baik pengetahuan fiksika, sosial ataupun psikologis. Alm sekitar sebagai sumber pengetahuan juga berfunsi untuk membantu optimalisasi aktifitas belajar. Optimalisasi aktifitas belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar saja, namun juga dilihat dari proses pembelajaran yang berupa interaksi siswa dengan berbagai sumber belajar. Sumber belajar dapat memberikan rangsangan untuk belajar dan mempercepat pemahaman dan penguasaan bidang ilmu yang dipelajari. Kegiatan belajarnya dapat berlansung dimana saja dan kapan saja, dengan kata lain dengan sumber belajar yang bersifat sangat luas itu anak belajar tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Hal ini berarti bahwa bahwa alam sekitar yang dijadikan sumber belajar bermakna jauh lebih luas dan lebih bervariasi jika dibandingan “guru” dan perpustakaan di sekolah sebagai sumber belajar atau sumber pengetahuan. Dengan hal yang seperti itu semua orang akan mendapat peluang untuk belajar sepanjang hayat, karena didukung dengan ketersediaan sumber belajar sekaligus sumber ilmu dimana-mana. Hal ini juga mengandung makna bahwa seorang guru yang mengajar mengambil bahan pelajaran juga berasal dari alam takambang ini. Alam Takambang Jadikan Guru tantu saja merupakan sumber belajar yang maha lengkap, jauh lebih lengkap jika dibandingkan dengan sumber belajar pendidikan formal yang berupa pustaka, labortoriun dan work shop.
Belajar dengan alam takambang akan selalu serasi dan selaras dengan perkembangan anak, perkembangan ilmu dan teknologi. Karena belajar dengan alam takambang tidak akan ada dirumitkan oleh apa-apa saja, yang disebut dengan keterikatan, keterbelakangan, keterbatasan , kadaluarsa dan lain sebagainya. Alam Takambang dijadikan guru tidak jadi masalah terkait dengan jauh atau dekat objek, karena dengan bantuan teknologi banyak hal menjadi sangat mudah. Pemerataan mendapatkan pendidikan dan pengajaran, pemerataan peningfkatan mutu atau memperluas peluang dan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak ada masalah….yang penting penyesuaian penggunaan metodologi belajar atau pembelajaran.
Dengan prinsip-prinsip belajar dengan alam takambang akan menumbuhkan jiwa kemerdekaan, seseorang hanya patuh dan ta’at kepada kebenaran dan patuh dan hormat kepada kebajikan, bukan patuh kepada siapa-siapa kecuali kepada yang jujur atau berakhlak mulia.

Iklan

Tujuan Hidup

Tujuan Hidup oleh Jalius HR Dosen Universitas Negeri Padang

 Apa Tujuan Hidup ?

       Pertanyaan tentang tujuan hidup sudah tidak terhingga ditanyakan orang. Terutama di dalam mata kuliah Filsafat dan agama. Bermacam-macam pertanyaan diajukan, misalnya, mengapa kita hidup ? atau  Apakah hidup kita  bertujuan? Apa tujuan hihup kita sesungguhnya ? Untuk apa kita hidup? dan lain-lain.

Banyak para ahli telah merumuskan tujuan hidup. Sebanyak buku yang saya abaca atau sebanyak ceramah yang saya dengar tentang tjuan hidup, setelah saya analisis, ternya belum ada yang pas.

Misalnya para ulama Islam menyatakan; “ Tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah (menyembah) kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. Ketentuan itu di dasarkan pada ayat Al Quran, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al- Qur’an Surat Adz-Dzaariyaat ayat 56 yang berbunyi: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia  melainkan supaya mereka menyembah-Ku” dan Surat Al-Baqarah ayat 21 yang mengatakan “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa”.

 Demikian juga para ahli Kitab menyatakan dengan nada yang sama tentang tujuan hidup manusia. Alkitab menunjukkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menjalin persahabatan dengan Allah.  Mereka menyandarkan argumentasi kepada beberapa kenyataan penting yang ada dalam Alkitab.

Allah adalah Pencipta kita. Alkitab mengatakan, ”(Allah)lah yang menjadikan manusia, dan bukan kita sendiri.”—>Mazmur 100:3; Penyingkapan [Wahyu] 4:11. Allah punya tujuan, atau kehendak, bagi semua ciptaan-Nya, termasuk kita.—>Yesaya 45:18. Allah menciptakan kita dengan ”kebutuhan rohani”, sehingga kita sangat ingin mengetahui makna kehidupan. (Matius 5:3) Ia ingin agar kebutuhan itu terpenuhi.—> Mazmur 145:16

Aristoteles di dalam bukunya yang berjudul Ethika Nikomacheia, atau Etika Nikomacheia, mencoba menjawab pertanyaan ini.  Argumen pertama Aristoteles adalah, bahwa setiap tindakan selalu mengarah pada tujuan tertentu, yakni yang baik itu sendiri di dalam bidang itu. Misalnya memasak. Memasak punya tujuan yang utama, yakni memasak secara baik, sehingga menghasilkan makanan yang enak. Menyanyi juga bertujuan untuk menyanyi dengan indah, sehingga bisa menghibur orang. Ini berlaku untuk semua tindakan manusia.

Aristoteles juga membedakan dua macam tujuan. Tujuan pertama adalah tujuan yang ada di dalam dirinya sendiri, yakni di dalam tindakan itu sendiri. Tujuan kedua adalah tujuan yang ada di luar tindakan itu sendiri. Contoh tujuan kedua adalah membersihkan pakaian, supaya pakaian terlihat bagus. Contoh tujuan pertama adalah, seperti diberikan Aristoteles, bermain alat musik flut, yang memberikan kepuasan pada dirinya sendiri.

Sebagai manusia, setiap orang juga punya tujuan tertinggi, yakni mencapai Eudaimonia. Biasanya, kata ini diterjemahkan sebagai kecukupan, atau kepenuhan hidup. Ini adalah tujuan tertinggi dalam arti ini merupakan tujuan terakhir manusia. Tidak ada lagi selain ini.

       Perlu analisis kembali.

Jika jika perhatikan kembali apa yang dinyatakan olrh para ulama Islam tentang tujuan hidup, mereka merujuk kepada ayat Al Quran “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia  melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, Ayat tersebut sesungguhnya menjelaskan tujuan penciptaan manusia oleh Allah. Allah menciptakan manusia tujuannya adalah untuk mengabdi atau menyembah. Artinya manusia harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkanNya, baik secara sukarela maupun secara terpaksa.

       Jika kita lihat dari sisi manusianya, “untuk mengabdi atau menyembah” adalah merupakan kewajiban bagi manusia. Mengabdi bukan bukan keinginan manusia, akan tetapai adalah kehendak sang pencipta. Manusia harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Misalnya manusia harus berjalan, harus berkata atau berkomunikasi, manusia harus makan, dan mausia harus melakukan banyak usaha untuk bereksistensi.

Menurut Aristoteles tujuan hidup adalah mencapai Eudaimonia yakni sebagai kecukupan, atau kepenuhan hidup. Artinya tercapainya Produk-produk usaha yang menunjang kelangsungan hidup manusia itu sendiri.

Tujuan hidup sesungguhnya adalah Bahagia.

Jika kita bicara tentang tujuan hidup manusia tidak lah terlalu sulit, asalkan kita mau mengerti apa yang ia usahakan. Tujuan selalu mengarah kepada hasil yang diharapkan. Setelah hasil diperoleh, manusia mau apa dengan penghasilannya itu. Jika manusia setiap hari sepanjang masa hidupnya selalu berusaha  ada produk yang dihasilkannya. Secara parsial dapat kita berikan contoh, becocok tanam di sawah, manusia mengharapkan perolehan berupa padi atau beras untuk dijadikan makanan. Hasil panen yang cukup dan melimpah juga sebuah harapan. Dengan berbagai produk usha mereka mengupayakan memenuhi berbagai keperluan untuk hidup.

Secara keseluruhan manusia selalu berusaha….mereka harus mengupaya mewujudkan keadaan yang kondusif setiap saat. Hidup pada kondisi yang selalu di sukai dan mendatangkan kenyamanan. Secara sederhana keadaan yang kondusif itu tidak lain adalah bahagia. Konsep bahagia adalah perwujudan dari situasi dan kondisi yang mengandung dua aspek utama, yakni rasa senang dan rasa aman. Perpaduan rasa senang dengan rasa aman tersebut menyebabkan tiadanya pilihan lainMuslim biasanya selalu mendambakan kebahagiaan itu untuk di dunia dan di akhirat.

Di dalam Al Quran dinyatakan dengan kata Hasanah;

فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً

Kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di Akhirat.

Untuk mencapai tujuan hidup itu ada dua hal yang perlu kita bedakan; yakni bahagia hidup di dunia dan bahagia hidup di akhirat. Untuk kita bisa bahagia jika hanya bahagia di dunia saja yang penting harus diusahakan adalah memenuhi (minimal) kebutuhan pokok dan menjalin hubungan social yang baik. Untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat manusia perlu menambahkan uapaya  menjalankan seruan Tuhan (agama)nya.

Konsep Pendidikan dan Pengajaran

Oleh Jalius. HR tenaga pengajar Universitas Negeri Padang.

Pendidikan merupakan sebuah konsep pekerjaan. Dalam konsep pendidikan  terdapat apa yang dikatakan mendidik. Mendidik mengandung makna yaitu serangkaian kegiatan yang harus dilakukan secara sistematis oleh seorang guru terhadap dan bersama anak didiknya. Tujuan yang ingin dicapai adalah anak sadar dan mau berperilaku sesuai dengan nilai dan norma masyarakat dimana anak tersebut berada. Sementara disisi lain pengajaran juga sebuah konsep pekerjaan. Dari konsep ini dapat dikeluarkan sebuah istilah kerja yakni mengajar. Secara sederhana mengajar disini diartikan sebagai serangkaian usaha-usaha yang dilakukan secara sistematis oleh seorang guru terhadap dan bersama anak muridnya. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah anak tahu tentang sesuatu dan terampil mengerjakan sesuatu.

Di sini titik awal dari suatu kekeliruan dapat kita ditemukan, yaitu mendidik dalam pengertian menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran anak untuk mau dan selalu berbuat atau berperilaku  baik, tentu saja sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat dikaburkan oleh pemahaman terhadap  pendidikan dalam pengertian memberikan sejumlah pengetahuan atau keterampilan kepada anak.

Pada masa orde lama kedua terminology tersebut sangat jelas dan sangat komunikatif dan reflektif. Maksudnya jika ada orang bicara tentang pendidikan, kebanyakan orang dapat mengerti maksudnya. Demikian juga jika ada orang bicara tentang pengajaran kebanyak orang akan musdah memahami maksudnya. Pengungkapanya sering bersamaan yakni pedidikan dan pengajaran. Bila disebut salah satunya, waktu saya masih duduk di sekolah dasar saja sudah bisa mengerti maksudnya. Orang –orang lain pun tidak sulit untuk saling mengerti.

Dewasa ini  terminology  pengajaran tidak popular, karena reduction. Sama halnya dengan istilah belajar dan mengajar, kedua istilah itu lebih komunikatif dan reflektif, telah direduksi oleh kebanyakan pakar pendidikan dengan istilah  pembelajaran. Hendaknya kita semua menyadari secara rasional bahwa mendidik dan mengajar konsepnya sangat berbeda. Tapi proses keduanya dapat dan sering saja bersamaan.

Dalam praktek mendidik dan mengajar kita akan menggunakan metoda dan alat bantu. Pendiakan dan pengajaran akan menggunakan metoda dan alat bantu yang berbeda. Untuk memperjelas persoalan ini akan saya kemukakan sebuah contoh. Barang kali setiap orang tua ingin putranya pandai shalat, maka beliau sang orang tua mengajar anaknya terlebih dahulu tentang bacaan shalat. Dalam waaktu beriringan anak juga diajarkan cara berwuduk.

Dalam proses belajar,  orangtua bisa saja membacakan kepada anaknya, satu kalimat demi  kalimat, kemudian diikuti oleh anaknya. Metode membacakan oleh orangtua dan didengarkan oleh anak, setelah itu diikuti dengan ulang mengucapkannya oleh anak. Setelah berapa lama, orangtua menyuruh anaknya menghafal bacaan shalat tersebut. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah agar anak hafal akan bacaan shalat. Disamping itu dapat saja berbarengan dengan mengajarkan kepada anak cara mengambil wudhuk. Pada tahap berikutnya orangtua    melakukan praktek shalat bersama anaknya. Setelah melalui beberapa kali pertemuan kegiatan belajar, akhirnya anak  pandai dan mampu mengerjakan shalat. Dalam hal ini mungkin saja anak sudah berusia 7 atau 8 tahun.  Dalam rentang waktu tiga atau enam bulan saja pengajaran tentang shalat yang dilakukan oleh orangtua selesai. Maka pelajaran shalat sudah dapat dinyatakan bahwa pengajaran tuntas. Pelajaran dinyatakan berhasil, karena anak telah hafal bacaanya dan bisa melaksanakan pekerjaan shalat secara baik..

Selanjutnya, sebagai umat islam shalat harus dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Orangtua harus berupaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran anaknya  supaya selalu mau  mengerjakan shalat setiap hari bila waktu shalat telah tiba. Jadi usaha-usaha kearah itu dinamakan mendidik..

Contoh lain adalah, orangtua  mengajarkan kepada anaknya cara membersihkan halam rumah (linkungan). Mungkin yang akan diawali dengan mengumpulkan sampah  dangan alat bantu berupa sapu lidi dan kerajang sampah. Sampah yang telah terkumpul dibuang ketempat yang telah tersedia. Kegiatan lain yang dilakuakan adalah mencabut rumput dan lain sebagainya, kemudian membuangnya ketempat pembuangan sampah. Akhirnya pekarangan atau halaman rumah  menjadi bersih.

                            menyapu-halaman

Hanya satu kali atau dua kali pertemuan saja materi pelajaran berhasil disampaikan secara tuntas, anak mampu membersihkan halaman rumah. Sekarang muncul pertanyaan usaha apa yang harus dilakukan supaya anak mau selalu membuang sampah ketempat yang telah disediakan ?

Penulis yakin bahwa orangtua bisa memahaminya dengan cara baik bahwa konsep mendidik dan mengajar  berbeda, metoda dan alat yang digunakan juga berbeda, tentu saja ada aspek-aspek yang sama.  Jika kita melaksanakan pengajaran seperti contoh diatas di rumah atau di sekolah metoda yang kita gunakan boleh saja antara lain , metoda ceramah, metoda diskusi, metoda eksperimen dan yang lain. Sedangkan alat bantu adalah media dan alat peraga.

Lain halnya dalam kegiatan mendidik, baik di sekolah di rumah atau pun di dalam masyarakat, metoda yang digunakan adalah berita gembira dan kabar petakut (basira dan nazira ). Berita gembira disampaikan kepada anak adalah, jika seseorang selalu berbuat kebajikan semua orang akan menyenagi kita. Tuahnpun akan memberikan pahala. Selaliknya jika kita sering berbuat yang jelek berikanlah kabar petakut. Siapasaja yang berbuat jeleh semua orang akan membenci kita….Demikian juga tuhan akan marah kepada kita, baik di dunia dan juga di akhirat kelak. Sedangkan alat Bantu yang digunakan dalam mendidik adalah hukuman dan ganjaran. Khususnya dalam mendidik anak, jika anak yang rajin mengerjakan atau berperilaku yang baik diberi ganjaran. Ganjaran tersebut bisa saja bentuknya sederhana misalnya sebuah pujian dan bisa pula yang lebih komplit, misalnya hadiah berupa barang atau jabatan terhormat.

Sebaliknya, jika terhadap anak yang nakal atau tidak mau berbuat kebaikan diberikan padanya hukuman. Hukuman bisa berada dalam rentangan yang paling ringan sampai kepada yang paling berat penderitaanya…Biasanya hukuman atau sangsi sangat efektif diberkalukan terhadap anak asalkan tidak melampaui batas. Dalam hal memberikan sangsi boleh saja sangsi berupak hukuman mental atau hukuman fisik. Hukuman fisik (kekerasan) pada anak tertentu dan unruk jenis kesalahan tertentu ada kalanya sangat penting…..asalkan tidak dilakukan secara beringas.

Jadi dalam proses mengajar kemampuan guru atau seni guru menggunakan metoda dan alat bantu atau media sangat dituntut dalam hal kesesuaian dan ketepatannya. Penting sekali di perhatikan dalam kegiatan mendidik baik dirumah atau pun di sekolah adalah bentuk-bentuk perilaku anak. Dibina perilaku yang baik dan dicegah perilaku yang jelek dengan menggunakan metoda dan alat bantu pendidikan yang tepat seperti yang telah disebutkan tadi. Kedua metode itu diharapkan jangan sampai melewati batas kewajaran.

Demikian semoga dpat dipahami secara baik.

Syi’ah Dahulu dan Sekarang

Tulisan ini sengaja dihadirkan di sini dalam rangka menjelaskan sebuah kata (terminologi) yang telah dinista oleh sebagian Muslim, yakni kata “Syi’ah”. Penistaan itu dengan berbagai ungkapan seperti Syi’ah itu sesat dan menyesatkan. Kata Syi’ah kita temukan di dalam Al Quran di antaranya adalah di dalam surat As Saffat ayat 83.

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِۦ لَإِبْرَ‌ٰهِيمَ    ٣٧:٨٣

Sungguh Syi’ah-nya(Nuh) adalah Ibrahim.

     Sepotong Ayat di dalam Al-Quran kelihatannya seakan-akan dilupakan oleh kebanyakan cendekiawan Muslim. Ada di antara mereka yang mengucapkan perkataan kepada saya … ‘itu hanya permaian kata’ .., tidak perlu kita serius membahasnya. Di dalam surat As-Saffat ayat 83 yang akan kita bahas di sini, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah “Syi’ah”-nya Nabi Nuh as. Bagi saya dan juga di sisi Allah walau hanya satu kata jangan dianggap enteng atau tidak berguna. Sebuah kata adalah penujuk suatu objek yang sederhana atau sebuah konsep yang rumit. Dari berbagai literatur yang saya abaca  (terutama tafsir), kata “syi’ah” berarti golongan atau kelompok dan di bagian lain ada yang mengatakan sebagai pewaris.

Jika kita jelaskan lebih lanjut dalam makna kelompok, Nabi Ibrahim as. sekelompok dengan Nabi Nuh as. yakni dalam arti  sama-sama sebagai Nabi dan Rasul.. Jika Nabi Nuh as. mengemban tugas mengembangkan syari’at Islam, maka Nabi Ibrahim as. Juga mengemban tugas yang sama, yakni sama-sama mengembangkan syari’at Islam. Ini bermakna lanjutan bahwa Nabi Ibrahim as. mewarisi peran dan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh Nabi Nuh as.

sikap-yahudiKarena Nabi Ibrahim as. telah dinyatakan termasuk kelompok Nabi Nuh as. maka Nabi dan Rasul yang lain juga termasuk kelompok Nabi Nuh as yakni termasuk kelompok para Nabi dan Rasul. Dalam hal ini tentu mengandung konsekwensi lanjutan, yakni bahwa Nabi Muhammad saw. juga sebagai ‘Syi’ah-nya‘ Nabi Ibrahhim as. dan Syi’ahnya Nabi Nuh as. Dalam hal ini tentu saja semua Nabi selalu mewarisi syaraiat dan tanggung jawab yang sama di tengah-tengah umat.   Sungguh Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. (Wasiatnya juga sama).

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi, maka ajaran yang di sampaikan oleh Rasululah juga menjadi tanggung jawabnya. Semua ulama mengemban tugas warisan yakni mengembangkan ajaran agam Islam.  Pada gilirannya tentu semua Muslim menerima warisan beliau yakni Syari’at Islam.

Persoalan lain yang perlu dipahami adalah, bagi kebanyak orang Islam mengakui ada kata “Syi’ah” sebagai sebuah konsep  di dalam al Quran…Seperti yang sering saya ingatkan di media sosial (Facebook), di dalam surat As-Saffat ayat 83; Kata “Syi’ah ” itu tentu maknan baik. Sementara itu muncul pula “konsep Syi’ah” sepeninggal Rasullah dalam pengertian lain, kata mereka (banyak cendekiawan Muslim) “Syi’ah” itu sesat dan menyesatkan atau mengandung makna tidak baik.
Berikut ini penulis kutipkan bebeapa pengertian Syi’ah yang berkembang setelah bermetamorfosis. Penulis mengambilnya dari website Belajar Isam, belajar Islam mengambil sumber dari  Dakwatuna.com                                                                                                             pengertian-syiah
Sehubungan dengan perubahan itu, coba hubungkan dengan sikap Yahudi yang diterangkan Allah di dalam ayat berikut ini;

يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّۭا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ [٥:١٣

Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya (Al maidah 13)

Jelas sekali penistaannya, konsep Syi’ah dirubahnya dari kelompok orang yang baik (orang yang beriman dan bermal Shaleh) atau terminologi bernilai baik (+) ke pada orang yang menentang Allah dan Rasul atau terminoogi bermakna jelek (-).

Di samping adanya perubahan makna, terjadi pemotongan fakta sejarah….mereka hanya memulai pengakuan terhadap konsep syi’ah hanya setelah meninggalnya Rasulullah, saw. Fakta sejarahnya dimulai dari sang tokok yakni Imam Ali ra.

Muslim itu harus konsisten dengan semua makna perkataan Allah di dalam Al Quran….jangan sampai ada kata atau konsep dan pengertian yang ada di dalam Al Quran dirubah. Dalam perkataan lain Muslim tidak sewajarnya mengucapkan; ”Itu syi’ah dahulu”….dan ” Ini Syi’ah sekarang “.

Masya Allah.

 

Konsep Syi’ah di dalam Al Quran

Tulisan ini sengaja dibuat dalam rangka menanggapi pemikiran yang berkembang di kalangan cendekiawan Muslim yang menyatakan bahwa Syi’ah itu bukan Islam dan sesat. Syi’ah itu sesat dan menyesatkan. Berbagai buku, majalah, surat kabar, media cetak lainnya serta vidio telah beredar secara luas untuk menyatakan Syia’h itu sesat. Sangat banyak para da’i dan mubaligh di atas mimbar secara lantang mengatakan kesesatan syi’ah itu. Mereka menyatakan Syi’ah itu berdasarkan fakta sejarah  semenjak Imam Ali ra. Itu artinya ada pemotongan rentangan sejarah. Seakan mereka lupa bahwa Syi’ah sudah dinyatakan oleh Allah semenjak Nabi Ibrahim as. Hal ini dapat juga dilihat di dalam Al Quran.

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ

Dan sesungguhnya  Syi’ah-nya (Nuh) adalah Ibrahim. (As Shaaffat 83)

Kata “syi’ah” di dalam ayat tersebut  mengandung dua arti; pertama bermakna kelompok. Jika seseorang masuk kedalam kelompok tertentu, berarti bahwa sifat, keahlian dan keterlibatannya dalam kegiatan yang ditekuni kelompok terebut amat mantap. Karena biasanya seseorang tidak dimasukan ke dalam satu kelompok kecuali setelah memenuhi kriteria tertentu dan telah melalui seleksi. Jika seseorang termasuk kedalam kelompok orang yang beragama Islam, berarti dia telah diakui memenuhi ketentuan yang berlaku di dalam Islam. Demikian juga halnya dengan seseorang yang mejadi anggota kelompok Ikatan Dokter Indonesia, maka berarti dia di bidang kecakapanya telah diakui oleh semua dokter yang ada di dalam organisasi.

Di samping itu (jika sudah diakui sebagai anggota kelompok) berarti juga dia sudah dekat dengan anggota kelompok yang lain. Dalam hal ini Ibrahim sebgai Nabi dan Rasul Allah bersama Nabi Nuh as dan juga Nabi dan Rasul yang lain.

Kedua; kata ‘syi’ah’ di dalam ayat tersebut sangat jelas maksudnya yakni pengikut atau yang mewarisi agama  Nabi Nuh as. yakni agama Islam. Sehubungan dengan pewarisan agama Islam tersebut, Allah menjelaskan lagi pada ayat yang lain, yakni;

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ

وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ٢:١٣٦

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. ( Al Baqarah 136)

Artinya agama Islam yang dikembangkan oleh para Rasulullah itu   pewarisannya secara turun temurun dari Nabi terdahulu kepada nabi berikutnya. Termasuk Nabi Muhammad SAW. Beliau Rasulullah Muhammad saw adalah pewaris agama Ibrahim as.

Ibrahim as telah dipilih oleh Tuhannya di dunia sebagai imam dan dipersaksikan di akhirat sebagai orang saleh. Ia dipilihNya Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, tunduk  patuhlah (masuklah ke dalam Islam)”, maka ia tidak menunda-nundanya, tidak ragu-ragu, tidak menyimpang, dan diterimanya  sepenuh hati  seketika perintah itu, Ibrahim menjawab, aku tunduk dan patuh kepada Tuhan semesta alam.

Inilah agama Nabi Ibrahim, agama Islam yang tulus dan tegas. Namun, Ibrahim tidak merasa cukup Islam hanya untuk dirinya sendiri saja, tetapi beliau tinggalkan juga Islam untuk anak cucu sepeninggalnya dan diwasiatkannya buat mereka. Ibrahim as mewasiatkan agama ini untuk anak cucu beliau dan Ya’qub juga mewasiatkan untuk anak cucunya. Ibrahim dan Ya’qub mengingatkan kepada anak cucunya akan nikmat yang diberikan Allah atas mereka karena telah  memilih agama Islam ini buat mereka;

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ٢:١٣٢

“ dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

Agama Islam ini sudah menjadi pilihan Allah untuk manusia. Maka, mereka tidak boleh mencari-cari pilihan lain sesudah itu. Dan kewajiban pemeliharaan dan karunia Allah atas mereka itu, ialah mensyukuri nikmat yang dipilihkan untuk mereka dan hendaklah mereka sportif terhadap apa yang dipilihkan Allah itu, serta berusaha keras agar tidak meninggalkan dunia melainkan dalam keadaan tetap memelihara amanat tersebut, “Maka janganlah kamu mati melainkan dalam memeluk agama Islam.Inilah kesempatan yang bagus, telah datang kepada mereka seorang rasul yang mengajak mereka kepada Islam, seorang rasul yang merupakan buah dari doa yang dipanjatkan moyang mereka, Nabi  Ibrahim as.

Berikut Allah mengingatkan lagi:

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ ٢:١٣٠  

“dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan Sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh”.

Makanya yang perlu dipahami adalah, bahwa Umat Islam sekarang  juga sebagai “Syi’ah-nya” (mengikuti dan mewarisi) agama Muhammad Rasulullah SAW. Mereka wajib menjadikan Al Quran sebagai kitab sucinya, karena Al Quran itu berisikan ajaran agama para Rasul sebelumnya. Allah menegaskan lagi di dalam Al Quran hubungan kita dengan Nabi Muhammad saw  sampai ke Nabi Ibrahim as;

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ ٣:٦٨

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Ali Imran 68)

Tapi sayang sekali kebanyakan cendekiawan muslim tahu tentang Syi’ah hanya ditujukan terhadap orang-orang  atau sekelompok orang yang dianggap sesat bentuk pengamalan agamanya, terhadap orang yang dianggap sesat dan menyesatkan. Kebanyakan cendekiawan muslim hanya tahu tentang “syi’ah” berdasarkan cerita dan berita yang ditulis oleh orang tidak mengerti dan memahami Al Quran secara baik. Bahkan secara historis semenjak Imam Ali ra. Seakan tidak pernah tahu tentang konsep  ‘syi’ah’ yang ada di dalam Al Quran ini. Jika mau mencermati secara hati-hati akan kelihatan salah konsep dan terminologi tentang Syi’ah. Ada kesengajaan pemotongan sejarah. Saya yakin itulah salah satu sikap Yahudi sepeninggal Rasulullah. Selalau saja membuat cerita yang berlawanan konsep dengan Al Quran. Pada sa’at Rasulullah masih hidup tidak seorangpun di antara mereka yang mampu berhujah atau berdebat denan beliau. Jika masih saja ada orang yang mengatakan Syi’ah sesat dan menyesatkan….berarti mereka bersama Yahudi sangat lantang menista seorang Nabi dan Rasul Allah, Ibrahim as.

syiah

Dewasa ini terjadilah suatu keanehan. Jika seorang cendekiawan dihadapkan kepada Al Quran, ada yang mau mengakui surat As-Saffat ayat 83 itu, tapi jika dihadapkan kepada sejarah yang beredar di amsyarakat mereka serta merta mencela syi’ah sebagai kelompok orang yang sesat dan menyesatkan. Dua konsep atau substansi tentang syi’ah yang saling berlawan. Mereka tidak sadar pikiran mereka telah menyalahi hukum Allah dan logika. Ingat Allah tidah pernah menjadikan dua hati dalam rongga dada manusia. Seekor ayam di dalam kandang , jika dilepas ke luar ia tetap sebagai ayam.

Namun demikian kita harus hati-hati memahami konsep dasar Syi’ah dan memberikan tuduhan terhadap bentuk implementasi (pengamalan) agama Islam yang salah oleh orang tertentu. Waspadalah terhadap orang selalu mengatakan syiah itu sesat dan menyesatkan. Karena mereka tidak mampu membedakan antara ‘syi’ah’ (sistem pewarisan) dengan  “dhalal” (perilaku menyimpang).

Kita hanya wajib percaya kepada ayat Al Quran itu…..

Riba Tidak dapat dihalalkan Dengan Mudharabah

Riba Tidak dapat dihalalkan Dengan Mudharabah; Oleh Jalius. HR Tenaga Pengajar UNP
Tulisan ini dibuat dalam rangka memeberikan kritikan terhadap fatwa sejumlah ulama yang menghalalkan Bunga Bank (riba) dan Asuransi terutama Bank dan Asuransi yang diberi label dengan kata “Syari’ah”. Karena kelebihan uang yang diterima oleh nasabah tidak termasuk ke dalam konsep jual-beli. Riba dan Jual-beli dua konsep yang saling berlawanan. Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Makanya harus ada ketegasan sikap terhadap kedua konsep tersebut.

Menurut bahasa atau lugat, pengertian Riba adalah ziyadah (tambahan) atau nama’ (berkembang). Sedangkan menurut istilah pengertian dari riba adalah penambahan pada harta dalam akad pinjam-meminjam. Dalam kata lain adanya imbalan atau pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal yang dipinjamkan.

Di dalam  Al Quran Riba dalam bentuk apa pun dan dengan alasan apa pun juga  dilarang oleh Allah SWT. Sehingga, hukum riba itu adalah haram. Firman Allah SWT dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan riba diantaranya yakni:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba Al-Baqoarah 275.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.  Al Baqoarah 278.

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Al Baqorah 276.
Allah tidak  akan merubah esensi suatu barang (ketetapan hukum) berdasarkarkan kesepakatan manusia atau fatwa para Ulama.

Terlebih dahulu mari kita mengambil dn memahami ayat al Qoran berikut ini sebaga sebuah hukum dalam mengambil sebuah keputusan.

مَّا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِّن قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ

ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُم بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
 Ayat di atas sengaja dikutip untuk mendapatkan landasan berpikir dalam rangka mengambil keputusan. Memang ayat tersebut tidak behubungan langsung dengan hukum riba atau jual beli. Namun sangat penting dijadikan pedoman dalam memahami staus sebuah hukum yang telah ditetapkan Allah. Jika Allah telah menetapkan suatu hukum tidak seorangpun berwenang mengubah statusnya misalnya dari haram menjadi halal atau sebaliknya.
Dari dalam ayat di atas tersebut kita dapat mengeluarkan dan mengambil  dalil untuk dapat dijadikan sebagai landasan berpikir. Pertama; Allah tidak menerima pernyataan seseorang atau para ahli dalam satu esensi dibangun dua konsep. Seperti diisyaratkan di awal ayat di atas. “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”, karena setiap manusia diciptakan Allah satu rongga dada untk satu hati. Kedua; dari kalimat “Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu (statusnya)“ atauDia tidak menjadikan anak-anak angkatmu (statusnya) sebagai anak kandungmu”. Esensi (hakikat) dari seorang istri tidak sama dengan esensi seorang ibu. Esensi dari anak angkat tidak sama dengan anak kandung. Walaupun diberikan pengakuan olek sesorang atau bersepakat sekelompok ulama untuk itu. Namun Allah tidak akan merubah ststus hukum yang berlaku di atasnya.
Dalam perkataan lain, Allah tidak akan menjadikan (merubah) esensi suatu barang menjadi esensi dalam bentuk  esensi yang lain berdasarkan “keinginan” seseorang atau kesepakatan banyak orang. Walaupun semua orang yang ada di dalam suatu masyarakat bersepakat untuk itu, walaupun dinyatakan pula dengan akte-notaris. Pada satu diri orang tidak akan dapat dinyatakan sekaligus atasnya status Istri dan juga status Ibu.

Demikian juga halnya dengan staus anak angkat dan anak kandung. Anak angkat sekali-kali tidak akan dapat dirubah emnjadi anak kandung dengan sebuah pernyataan atau kesepakatan.

Allah tidak akan merubah esensi  Riba menjadi jual-beli berdasarkarkan fatwa para Ulama.
Sebuah contoh yang sangat menarik yang terjadi di dalam masyarakat kita dewasa ini adalah banyak para ulama bersepakat menghalalkan Riba (manfaat tambahan dalam kegiatan utang-piutang atau pinjam meminjam). Seperti bunga yang ada di Bank Syari’ah dan kalim asuransi Lembaga Asuransi Syari’ah. Mereka menghalalkanya dengan menggunakan konsep “mudharabah”. Sehingga akibatnya Riba menjalani metamorfosis. Dalam hal ini Allah sekali-kali tidak akan merubah status Riba yang hukumnya haram menjadi halal hanya dengan fatwa ulama.
 Menurut istilah fiqih, Mudharabah ialah akad perjanjian (kerja sama usaha) antara kedua belah pihak, yang salah satu dari keduanya memberi modal kepada yang lain supaya dikembangkan, sedangkan keuntungannya dibagi antara keduanya sesuai dengan ketentuan yang disepakati. Artinya ada “keuntungan tambahan” yang yang disepakati. Keuntungan itu akan diterima oleh orang yang mnyerahkan modal. Jelas dalam hal ini tidak mengandung konsep jual beli.
Jika ada ulama yang berfatwa menghalalkan riba dengan alasan atau menggunakan konsep “mudharabah”,  itu di sisi Allah hanya sekedar perkataan belaka tidak memiliki kekutan hukum dari Allah… sebagaimana Allah telah menegaskan ”Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja” (Al Ahzab – 4 ). Artinya sebuah fatwa atau kesepakatan tidak akan merubah ketetapan Allah  merubah esensi riba (haram) itu menjadi halal.
Untuk mendapatkan tambahan (keuntungan) Allah telah menghalalkan jual-beli (tukar menukar barang yang berlainan jenisnya). Jual beli sekali-kali tidak sama dengan Riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Cermati dan fahamilah Firman Allah ini:

وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). Ar Room 39.
Rasulullah juga mengingatkan kita ….”Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)
Tidak ada sedikitpun wewenang manusia menetapkan hukum “haram” atau “halal” nya sesuatu. Sepenuhhnya adalah wewenang Allah.
Semoga berguna untuk pengembangan ilmu dan amal shaleh.

Tahun Masehi, Tahun Kelahiran Nabi Isa as.

      Tahun “Masehi” adalah tahun kelahiran Nabi Isa  as, Nama tahunya  berasal dari kata Isa Al Maseh.  Tiap tahun masyarakat kita selalu memperingati atau menyambut “tahun baru” dengan berbagai perayaan. Ada tahun baru Hijriah dan ada pula tahun baru Masehi. Saya pernah menerima kiriman dari kerabat kerja E-Newsletter Disdik Sumbar ucapan “Selamat Tahun Baru Islam” (maksudnya tahun hijrah).,tapi sayangnya tidak pada tahun baru masehi, ada apa ?
Tahun Hijriah disebut juga Tahun Qomariyah, adalah sistim penanggalan (perhitungan hari dan bulan yang didasarkan atas peredaran Bulan [qomariyah]). Pemberian nama yang lebih populer saat ini adalah Tahun Hijriah (Karena umat Islam bersepakat menggunakan hitungan kalender menggunakan peristiwa Hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai nama hitungannya). Artinya awal tarikh hijriah sekarang dihitung  mulai dari hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, dari kota Mekkah ke kota Madinah (Saudi Arabia). Sebelumnya diberi nama tahun Gajah atau tahun lahirnya Muhammad.
        Sedangkan sistim penanggalan yang didasarkan pada waktu perputaran bumi mengelilingi matahari disebut sistim penanggalan Syamsiah atau disebut juga kelender Masehi. Karena awal hitungan sistem penanggalannya didasarkan pada  tahun kelahiran Nabi Isa Almasih. Nama bulan yang di pakai adalah mulai dari Januari  sampai  Desember. Yang dianggap hari hijrah ialah hari tanggal 8 Rabi’ul Awwal – bersaan dengan 20 September 622M. Penetapan tahun Hijriah dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khattab. Tepatnya pada tahun ke-empat ia berkuasa, yakni hari Kamis, 8 Rabi’ul Awwal 17 H.
     Tarikh atau kalender tahun Hijrah mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622 M. Menurut perhitungan, kalender Hijrah 11 hari lebih singkat dari tahun menurut perhitungan peredaran matahari (kalener Masehi). Sedikit informasi untuk menghitung bagaimana tahun hijriah (H) bertepatan atau sebaliknya dengan tahun masehi (M) maka dapat dipakai rumus M = 32/33 ( H+622 ) atau sebaliknya H = 33/32 (M-622). Penjelasannya tentang sistem penanggalan tahun Qomariah dan Syamsiah  diatas cukup baik dan jelas. Namun demikian ada  kekeliruan,  yakni pernyataan  kebanyakan orang-orang islam tentang (hanya) : “Tarikh tahun Hijrah mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622″.

Menggunakan kalender Masehi, kita dapat menentukan keadaan    Iklim dan cuaca serta pencatatan sistem administrasi.

Ada di antara mereka orang Islam yang tidak mengakui sistem penanggalan yang menggunakan kalender Masehi. Pernyataan itu tidak memiliki dasar atau dalil yang kuat dan justru tidak sesuai dengan Sunnatullah dan firmanNya. Ketetapan menolak itu sangat bersifat emosional dan  tidak populer. Pada hal  Allah sudah  menjelaskan dalam  Al-Quran surat Yunus ayat 5 sebagai berikut;

   هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan perjalannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
          Di dalam ayat tersebut sangat jelas mengandung kedua sistem perhitungan penanggalan dan perhitungan tahun yang telah di uraikan di atas, yakni sistem “qomariah” dan sistem “Syamsiah”. Sangat keliru lagi jika perhitungan  kalender masehi tidak diakui termasuk kedalam sistem perhitungan kalender  umat Islam. Kedua sistem perhitungan tanggal dan tahun tersebut sangat berguna dalam kehidupan muslim khususnya dan umat manusia umumnya. Sistem penanggalan masehi dapat digunakan untuk menentukan perhitungan iklim dan musim (misalnya) atau kepentingan pencatatan sistem administrasi. Sedangkan sistem penanggalan Qomariah sangat penting untuk menetapkan jadwal-jadwal ibadah (misalnya).
       Makna  yang terkandung di dalam ayat al-Quran tersebut jangan  dipilih hanya satu sistem saja. Coba anda bayangkan dalam kehidupan sehari-hari yang belaku sepanjang masa, hampir semua muslim dewasa ini mencatat tanggal lahir dan sitem administrasinya menggunakan kalender tahun Masehi. Itu apa maknanya ? Suka atau tidak itulah ketentuan Allah, baik dalam firmanNya maupun dalam ciptaanNya. Bias sekali perkiraan banyak orang, bahwa …”kebanyakan kaum Muslim tidak tahu dengan penanggalan tahunnya”…Sudahlah lupa dengan sistem penanggalan kalender Hijriah tidak pula mengakui penanggalan sistem syamsiah atau kalender masehi.
     Ingat,… nama atau kata “Masehi” juga sudah merupakan nama yang sesuai dengan Al Quran…..yang bersal dari;… Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Maseh putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Berarti nama tahun masehi adalah diambil dari nama Rasulullah “  Al Maseh ” atau Masehi.
Pemakaian kalender Masehi dikokohkan kenapa pengakuannya tidak ?
Baca juga berita terkait;
PBNU: Tahun Baru Masehi Milik Umat Kristiani, Umat Islam Tidak Baik Merayakannya
https://www.islampos.com/pbnu-tahun-baru-masehi-milik-umat-kristiani-umat-islam-tidak-baik-merayakannya-154928/

Do’a Anak Shaleh Yang Keliru

Tulisan ini  berjudul Do’a  Anak Shaleh Yang Keliru  ditulis dalam rangka menanggapi sebuah Hadist (kata banyak orang hadis dari Rasulullah) yang tidak relevan dengan konteks Al Quran. Do’a anak Saleh yang keliru itu dimaksudkan adalah jika seorang anak (yang shaleh) mendo’akan ibu bapaknya yang telah meninggal dunia tidak relevan untuk semua orang. Tidak relevannya itu sebagai dalilnya adalah, bahwa banyak orang yang meninggal dunia tidak semua yang beriman. Kebanyakan dari manusia (bani Adam) adalah orang kafir dan munafik atau fasik.
kita dapat melihat contoh kasus seperti ayahnya Nabi Ibrahim as. Sebagai anak shaleh (Nabi Ibrahim as) dan Ayahnya (sebagai orang kafir atau fasik). Do’a Nabi Ibrahim as. di tolak oleh Allah dengan sebuah peringatan. Namun semua ulama menerima dan mengakui kesahihan Hadis ini, yakni hadist dari Abu Hurairah. Katanya (para perawi) bahwa Nabi Muhammad S.a.w pernah bersabda sebagai berikut:

 “Apabila mati seorang Bani Adam (anak Nabi Adam as)  putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau  do’a anak  yang soleh yang berdoa untuknya.”  (Hadith Sahih – Riwayat Muslim dan lain-lainnya)

Dalam hadis di atas (menurut mayoritas ulama) menerangkan bahawa apabila telah meninggalnya seseorang manusia, tidak ada  apa apa yang dapat menolongnya dari siksaanAllah kecuali tiga perkara sahaja yakni;

  1. Sedekah Jariah. Segala bentuk sedekah bahan yang dikeluarkan oleh si mati semasa hayatnya seperti sedekah uang, makanan, harta benda lainnya. Dalam katogeri ini termasuk juga harta yang di waqafkan oleh si mati semasa hidupnya. Sebagai contoh seseorang itu mendirikan surau untuk kegunaan  masyarakat tempat tinggalnya. Selagi  surau itu di menfaatkan selama  itu pulalah pahala mengalir untuk si mati. Orang yang hidup atau waris boleh juga bersedekah bagi pihak si mati,  baik sedekah ituberupa  uang, harta peninggalan si mati atau  pewaris sendiri.  Yang pentingnya ialah niat  untuk bersedekah bagi pihak si mati. Amalan “waqaf” dalam Islam juga telah bermula semenjak zaman Rasulullah s.a.w. dan telah berkembang di negara-negara Islam hingga hari ini dan seterusnya, malah ada yang muncul membentuk “Kementerian Waqaf “

  2. Doa Anak yang Shaleh. Dan hadits terakhir ini sangat masyhur dan patut di ketahui di dalam hadits di atas itu “Do’a Anak Yang Shaleh/Shalehah” itu adalah salah satu amal yg tidak terputus, kalau tidak shaleh/shalehah maka jelas itu tidak termasuk, dan shaleh/shalehah disini tentu adalah anak yang beriman, taat kepada Allah dengan cara menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.

Selain dari doa anak anak yang soleh/solehah terhadap ibubapanya, doa antara sesama kaum muslimin pun bermenfaat untuk orang yang telah meninggal dunia.

Selain dari doa anak anak yang soleh/solehah terhadap ibu -apanya, doa antara sesama kaum muslimin pun bermenfaat untuk orang yang telah meninggal dunia.

  1. Ilmu yang bermenfaat. “Ilmu yang berguna atau bermanfaat yang di ajarkan kepada orang lain,” yang tersebut dalam hadith ialah ilmu yang berhubung dengan ilmu agama dan ilmu kemajuan di dunia secara umum, sama ada melalui syarahannya, pengajaran kepada murid-muridnya dan orang ramai, atau melalui kitab-kitab dan buku-buku karangannya. Selagi ilmu yang diajarkannya atau kitab-kitab dan buku-buku karangannya masih wujud dan dinikmati faedahnya oleh umum maka ia akan mendapat pahalanya berterusan semasa ia hidup dan sesudah ia mati.

Di dalam hadis tertulis  di atas  ada kata  “Bani Adam”…… Bani Adam berarti anak cucu Nabi Adam as.  Artinya termasuk semua manusia. Di dalam  semua manusia itu ada kelompok muslim ada yang tidak muslim. Pada kelompok Muslim jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan non muslim. Jika penduduk dunia dewasa ini sekitar 7.5 milyar jwa, yang muslim cuma kurang dari 2,5 milyar.

Pada kelompok muslim hanya sedikit yang taqwa (beriman dan beramal shaleh), mayoritas mereka termasuk ke dalam kelompok munafiq atau fasik. Dengan demikian berarti bahwa sungguh sedikit orang-orang  Takwa atau orang-orang yang;  1) terpelihara dirinya untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya; 2) ke- insafan diri yg diikuti kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya; 3) kesalehan hidup). Hal ini berarti juga bahwa mayoritas manusia di dunia ini dalah kafir (termasuk kedalamnya musyrik dan fasik).

Sehubungan dengan itu (terhadap orang kafir, musyrik dan fasik), penting diingat dan dipahami secara baik  ketegasan firman Allah di dalam Al Quran yang menyatakan bawa:

  1. Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik.( At Taubah 55)

  2. Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (At Taubah 80)

  3. Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (At Taubah 84)

  4. Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.( At Taubah 113)

  5. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah 114)

Pada hal Allah  mengabulkan do’a anak yang shaleh “hanya jika”  kedua ibu dan bapaknya juga seorang muslim yang baik (tidak termasuk kelompok munafiq dan fasik). Bukan hanya ibu bapanya saja tapi juga muslim yang lain. Tentu hal ini berarti bahwa seakan akan Rasulullah tidak bijak mengeluarkan pernyataan dan seakan-akan Rasulullah lupa pada ayat Al Quran yang dikutip di atas. Tentu saja ini suatu yang mustahil pada diri rasulullah.

Seharusnya “Hadist” itu jika memang dari Rasulullah menyatakan “jika meninggal seorang muslim atau orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh”…. Ya betul, memang yang dapat menolong seorang yang beriman adalah yang tiga perkara tersebut….(dalam artian masih ada dosa-dosa yang diperbuatnya  memang di luar kemampuannya untuk menghindar).

Namun masih ada lagi yang lain yang dapat menolongnya di samping yang tiga perkara di atas, yakni “Syafa’at” dari Rasulullah  sendiri.

Kemudian di samping itu lagi….seakan rasulullah tidak tahu bahwa jumlah orang yang sungguh beriman dan beamal shaleh sangat sedikit. Sementara pernyataan (hadist) tersebut meliputi semua orang (Bani Adam). Jika demikian …ya…gembira juga orang munafik dan fasik dengan hadis tersebut, jika dia (seorang) yang meninggalkan anak yang shaleh. Hal yang demikian merupakan hal yang mustahil pada diri Rasulullah.

Apakah memang  “hadist” itu di akui sahih, jika memang ya diakui sebagai hadist sahih berarti juga pengakuan itu mengandung makna bahwa Rasulullah itu “kurang cerdas“. Terutama dalam hal mengambil kesimpulan dan menggeneralisasi realitas yang sedikit menjadi lingkup yang besar jumlahnya dan validitasnya tidak cocok.

 Demikian saja semoga bermanfaa.

Semoga Allah selalu menunjukan kita jalan benar….

Berpikir Positif dan Negatif Secara Proporsional

      Tulisan ini dibuat dalam rangka memberikan tanggapan kepada banyaknya cendekiawan yang suka mengagungkan konsep “berpkir positif”. Orang  orang yang selalu mengusung konsep “berpikir positif”  menafikan konsep “berpikir negative”.

Pengertian Bepikir Positif dan Negative   (Oleh Jalius HR tenaga pengajar Universitas Negeri Padang)

      Bepikir positif adalah proses bepikir yang ber-kecenderungan menerima apa-apa (informasi) yang telah dianggap baik, buruk, betul atau salah oleh kebanyakan orang atau masyarakat. Cara berpikir ini tidak melakukan  analisa yang lebih mendalam dan menerima tanpa syarat. Pada umumnya orang yang berpikir positif ditandai oleh suka menerima berbagai pendapat walaupun berbeda-beda. Biasanya mereka suka bersikap (menghargai pendapat orang) walaupun belum jelas betul atau salah, baik atau buruknya suatu pikiran atau informasi.  Bahkan orang yang seperti ini tidak suka mempersoalkan jika informasi itu mengandung permasalahan. Gejala ini dapat dilihat pada karya tulis, misalnya mereka membuat (mengutip) banyak pengertian yang dikemukakan oleh para ahli….tetapi tidak dianalisa satu persatu…. Terus mereka membuat sebuah rumusan lagi seolah-olah merupakan kesimpulan yang positif (sebagai pembenaran).

     Bepikir negative adalah cara berpikir yang ber-kecenderungan meragukan sesuatu yang telah dianggap baik atau betul oleh kebanyakan orang dan masyarakat. Dengan kata lain orang berpikir negatif sering bersikap skeptis. Orang yang berpikir negative sangat kritis terhadap informasi (kepercayaan) yang ada pada kebanyakan orang atau masyarakatnya. Informasi yang diterima dianalisa secermat mungkin, hingga ditemukan hal-hal yang meragukan atau terdapat kebathilan di dalamnya. Jika mereka berhadapan dengan pikiran orang lain, dia akan selalu mempertanyakan keabsahan dan kebenarannya. Orang yang berpikir negatif akan berpikir sampai jelas hakikat atau esensinya. Setiap pernyataan selalu dikontrol atu dihubungkan dengan informasi lain…..kemudian barulah ia mengambil keputusan menolak atau mengakuinya.  Bahkan sering berujung kepada penolakan terhadapa keyakinan seseorang atau masyarakat tersebut. Jika ada suatu ketentuan atau keputusan selalu di diterima dengan berbagai syarat atau kesangsian. Gejala ini sering ditemui pada orang-orang yang membantah teori yang telah ada dan memunculkan teori baru sebagai penggtinya.

      Di dalam Al Quran dijelaskan   sikap seorang Muslim yang beriman harus berpikir  positif dan negative secara proporsional. Nah kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhannya adalah merupakan contoh yang baik untuk itu.

            Memang dalam al Qur’an banyak dibahas masalah akidah, tentang keimanan dan  panjang lebar diuraikan contoh proses keimanan yang dilakukan Nabi Ibrahim as . Oleh sebab itu Nabi Ibrahim as dikenal sebagai Nabi aqidah, karena dalam  perjalanan spiritualnya Ibrahim mengalami proses yang sangat dinamis dan juga sangat mendasar. Dia berpikir dimulai dari sikap keragu-raguan.

      Seperti dijelaskan dalam surat Al Anbiyaa ayat  50-70. Dalam ayat itu dikisahkan proses Nabi Ibrahim membangun kesadaran masyarakatnya bahwa patung  (berhala) bukan Tuhan yang sesungguhnya, karena patung itu tidak bisa memberikan pertolongan, bahkan Ibrahim menunjukkan eksperimennya, dia hancurkan patung-patung itu  untuk membuktikan bahwa patung itu memang bukan Tuhan.

    Kemudian dalam surat Al An’am ayat 74-79. Di ayat itu diterangkan bagaimana Ibrahim mencari Tuhan dengan pendekatan yang jujur dan rasional, sehingga datang gelap malam tak ada satu pun manusia yang berkutik, tidak ada yang  memiliki kekuasaan lagi, semua kehidupan terhenti ketika datang gelap malam.  Kesimpulannya manusia dan alam semesta ini ditaklukkan oleh gelap malam dan pada saat gelap itu Nabi Ibrahim melihat sebuah bintang dan dia berkata inilah Tuhanku, tetapi bintang yang dipertuhankan itu lama kelamaan sirna. Dan Ibrahim melihat alternatif lain, ada bulan, inilah Tuhanku tapi bulan juga sirna .

   Apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim? Ternyata dia gagal mencari Tuhannya. Dia gagal mencapai Tuhannya, dia tidak bisa meraih Tuhannya dengan indranya  dengan  matanya, telinganya, tangannya  bahkan dengan fikirannyapun dia mencoba membayangkan macam apa wujud Tuhan, Ibrahim gagal.

    Rupanya memang Allah itu Al Ghaib, suatu yang misterius dan Ibrahim memang  gagal mencapai Tuhannya dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Tetapi untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tak ada, justru pengalaman Ibrahim selama ini mengarahkan pada kesimpulan, mesti ada sesuatu yang mengendalikan alam ini, Tuhan itu mesti ada. Tapi yang mana?  Akhirnya Nabi Ibrahim  bersikap  sebagaimana terungkap dalam Q S. 6 : 79.

     Tapi dari situ Ibrahim hanya bisa mengetahui bahwa Dia, Tuhan itu tetap Gaib. Oleh sebab itu siapa Dia, sebagai zat dalam al qur’an juga tidak dikenal. Istilah istilah keTuhanan dalam alqur’an , hanya nama- nama yang menjelaskan sifatnya saja, zatnya tidak diperkenalkan (Asmaul Husna 99).

        Kemudian ada lagi 2 nama yang  menjelaskan tentang Dia, tapi menjelaskan tentang kedudukannya saja, Rabbun dan Ilaahun. Rabbun artinya pemilik dan penguasa, pendidik, pemelihara, pengendali, yang menjelaskan kedudukan dan Ilahun berasal dari kata Laha dan Ilaha yang berarti sesuatu yang abdi, yang dicintai, yang dikejar, yang diingini, yang didamba, yang diharap.  Jadi zat itu sendiri apa disebutnya? Memang ada satu istilah yang dalam  Al-Qur’an yang banyak dipakai yaitu Allah sebagai nama zat. Allah itu selain sebagai Tuhan alam semesta, dalam Al-Qur’an dijelaskan pula sebagai sifat dan kedudukanNya, sebagian lagi ada ulama yang menjelaskan, ada lagi nama yang menjelaskan sebagai isim yaitu Allah. Tapi soal ini sebagian ulama ada perbedaan pendapat.

Pertama dari sejarah, kalau dilihat kamus lisanul Arab, istilah Allah itu berasal dari Ilah, yang dicintai, yang diagungkan, yang dijadikan tempat bergantung. Jika demikian apapun bisa menjadi Ilah; yang dicintai, yang dikejar, yang didamba, segala yang diingin dan diharap itu namanya Ilah. Tetapi apakah yang segala diharap itu menjadi Tuhan alam semesta? Ya tentu tidak. Jadi ada Ilah subyektif, manusia yang menginginkan, manusia yang mendambakan, manusia yang mengejar, maka sesuatu yang dikejar oleh manusia itu jadi Ilah bagi manusia itu sendiri. Tapi apakah arti Ilah dalam arti sesungguhnya?  Belum tentu secara obyektif. Oleh sebab itu Ilah itu bisa menjadi banyak, jama’nya adalah Alihah, dia bisa berupa benda-benda, orang atau  ambisi jadi Ilah. Sehingga di kalangan bangsa Arab ada Ilah yang dikejar oleh manusia tapi fiktif, sekedar sesuatu yang diinginkan manusia saja, dicintai, dikejar, didamba manusia. Tapi ada Ilah yang sesungguhnya, memang Dialah yang diinginkan dan dikejar oleh manusia dan penguasa alam semesta. Ilah dalam arti  sesungguhnya itu dalam bahasa Arab mendapat awalan alif lam, jadi Al-Ilah itu Allahu (dalam pengucapan) lam diidghomkan.

            Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Ilah itu isim jamad, nama dari zat Tuhan alam semesta ini. Tapi sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ini bukan nama  zat Tuhan,  karena Allah berasal dari kata Ilah, sedangkan Ilah dan Robb hanya menjelaskan kedudukan.

    Jadi arti Allah itu sesuatu yang sebenar-benarnya dicintai, dikejar, didamba. jika itu yang dipakai,  nama sifatnyau ada, nama kedudukannya ada, Ilah dan Robb, lalu  terbentuk kata Allah (Tuhan). Lalu nama zat mana? Sebagian ulama mengatakan nama zat tidak ada. Kenapa? Karena penamaan sesuatu berarti pembatasan.

    Sebuah pena akan menjadi pena ditangan saya, jika bentuknya begitu dan fungsinya begitu, tapi pena sudah tergiling mesin giling, hancur, dia sudah tidak disebut pena, sudah berubah bentuk, warna dan zat. Sedangkan zat Allah Maha Tidak terbatas. Zat Allah tidak ada yang pernah mengenali, sesuatu yang tidak terhenti, terbatasi. Mana bisa dinamai, jika dinamakan berarti membatasi.

            Dalam ilmu Keimanan, maka Dia Yang Maha Kuasa, Tuhan alam semesta hanya bisa kita kenal:

  1. Sifat-sifatnya saja

  2. Kedudukannya saja, statusnya sebagai ilah dan robb

  3. Soal nama zat, sebagian ulama mengatakan tidak ada nama zat, sehingga dalam mengenali Dia, ada sebuah istilah dinamakan Huwa, Dia, Hu.

    Istilah Allah sebenarnya sudah digunakan orang Arab sebelum turunnya Al-Qur’an. Ayah Nabi Muhammad namanya Abdullah (artinya hamba Allah). Jadi orang Arab Quraisy itu sudah mengenal istilah Allah.

Tapi Allah itu bagaimana menurut orang Quraisy? Allah itu artinya ilah,

sebenar-benar ilah. Tuhan alam semesta, yang Dia adalah bapak dari 3 orang dewa wanita (perempuan) yang disimbolkan dalam bentuk patung Latta, Uzza, Manna yang disembah itu. Lalu turunlah ajaran Islam dengan surat Al-Ikhlas. Surat itu untuk mengcounter Trinitas,  mengcounter konsep Trinitasnya Quraisy juga Nasrani. images

      Kelebihan manusia itu mampu memilih. Kesadaran intelektualnya, kesadaran moralnya meyebabkan manusia bisa memilih. Dengan naluri ber-Tuhan itu kadang-kadang diarahkan pada bukan Tuhan yang sesungguhnya, belum lagi selain itu ada unsur hawa (kecenderungan-kecenderungan, keinginan-keinginan). Keinginan-keinginan itu bisa membentuk manusia sehingga tidak ber-Tuhan kepada yang sebenar-benarnya Tuhan. Tetapi Tuhan yang secara adhoc (secara singkat) nampak memberikan pertolongan, memberi manfaat.

     Misalnya pertolongan Tuhan tidak terlihat secara langsung. Sementara jika punya uang, pertolongan uang itu bisa jelas dan langsung kelihatan, maka orang sering terpeleset lalu memper-ilah uang, memper-ilah materi, memper-ilah pejabat yang punya kekuasaan. namun secara hakekat, secara substansial apakah betul uang itu memberikan daya tolong yang efektif? Sebenarnya tidak. Ternyata naluri ber-Tuhan terkalahkan oleh kecenderungan-kecenderungan yang rendah dan kepentingan sesaat. Allah mengingatkan orang beriman dengan firmanNya:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka t idak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Qs. 6 116 Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. QS. 2. 130

Namun demikian salah seorang filsuf Perancis Rene Descartes menggunakan gaya Nabi Ibrahim as. dalam mengembangkan pemikirannya. Dia berpikir secara negatif kemudian membangun sebuah thesis secara positif.

Descartes, kadang dipanggil “Penemu Filsafat Modern” dan “Bapak Matematika Modern”, adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18.

Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir.

Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah:

“Aku berpikir maka aku ada”. (Ing: I think, therefore I am)

Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius, yang memengaruhi perkembangan kalkulus modern.

Ia juga pernah menulis buku sekitar tahun 1629 yang berjudul Rules for the Direction of the Mind yang memberikan garis-garis besar metodenya. Tetapi, buku ini tidak komplet dan tampaknya ia tidak berniat menerbitkannya. Diterbitkan untuk pertama kalinya lebih dari lima puluh tahun sesudah Descartes tiada. Dari tahun 1630 sampai 1634, Descartes menggunakan metodenya dalam penelitian ilmiah. Untuk mempelajari lebih mendalam tentang anatomi dan fisiologi, dia melakukan penjajakan secara terpisah-pisah. Dia bergumul dalam bidang-bidang yang berdiri sendiri seperti optik, meteorologi, matematika, dan pelbagai cabang ilmu lainnya.

Sedikitnya ada lima ide Descartes yang punya pengaruh penting terhadap jalan pikiran Eropa: (a) pandangan mekanisnya mengenai alam semesta; (b) sikapnya yang positif terhadap penjajakan ilmiah; (c) tekanan yang, diletakkannya pada penggunaan matematika dalam ilmu pengetahuan; (d) pembelaannya terhadap dasar awal sikap skeptis; dan (e) penitikpusatan perhatian terhadap epistemologi.

Karya filsafat Descrates dapat dipahami dalam bingkai konteks pemikiran pada masanya, yakni adanya pertentangan antara scholasticism dengan keilmuan baru galilean-copernican. Atas dasar tersebut ia dengan misi filsafatnya berusaha mendapatkan pengetahuan yang tidak dapat diragukan. Metodenya ialah dengan meragukan semua pengetahuan yang ada, yang kemudian mengantarkannya pada kesimpulan bahwa pengetahuan yang ia kategorikan ke dalam tiga bagian dapat diragukan.

1.Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi dapat diragukan, semisal kita memasukkan kayu lurus ke dalam air maka akan tampak bengkok.

2.Fakta umum tentang dunia semisal api itu panas dan benda yang berat akan jatuh juga dapat diragukan. Descrates menyatakan bagaimana jika kita mengalami mimpi yang sama berkali-kali dan dari situ kita mendapatkan pengetahuan umum tersebut

3.Logika dan Matematika prinsip-prinsip logika dan matematika juga ia ragukan. Ia menyatakan bagaimana jika ada suatu makhluk yang berkuasa memasukkan ilusi dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matriks.

Dari keraguan tersebut, Descrates hendak mencari pengetahuan apa yang tidak dapat diragukan. Yang akhirnya mengantarkan pada premisnya Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada). Baginya eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya, tidak dapat diragukan lagi bahwa pikiran itu sendiri eksis/ada.

Pikiran sendiri bagi Descrates ialah suatu benda berpikir yang bersifat mental (res cogitans) bukan bersifat fisik atau material. Dari prinsip awal bahwa pikiran itu eksis Descrates melanjutkan filsafatnya untuk membuktikan bahwa Tuhan dan benda-benda itu ada.

Keikhlasan dan Ketaqwaan Berkurban Yang Mengantarkan Kepada Ridha Allah

Tulisan ini merupakan sebuah tanggapan terhadap jargon PKPU tentang ibadah kurban,… “Kuantar Kau Kesurga

 

Dasar Hukum Berkurban

Dasar hukum pelaksanaan qurban adalah firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (Q.S.al-Kautsar/108: 1-3).

Dasar kedua adalah firman Allah SWT yang artinya: “Dan telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagaian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” (Q.S.22: 36).

Selain itu Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang memperoleh suatu kelapangan, tetapi dia tidak berkurban, janganlah ia menghampiri tempat shalat kami” (HR.Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Berdasarkan ayat-ayat dan hadits di atas, Abu Hanifah (Imam Hanafi) memandang bahwa menyembelih kurban hukumnya wajib. Kewajiban itu berlaku untuk setiap tahun bagi orang yang bermukim (menetap) dalam kampung. Akan tetapi jumhur (mayoritas) ulama yang terdiri dari Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) memandang bahwa hukum melaksanakan ibadah kurban bukan wajib, tetapi sunah muakkad (sunah yang dikuatkan). Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang artinya: “Bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda apabila kamu melihat hilal (awal bulan) Dzulhijah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, hendaklah ia menahan (diri dari memotong) rambut dan kuku-kukunya (binatang yang akan dikurbankan)” (HR Jamaah kecuali Bukhari dari Ummu Salamah). Jumhur ulama yang berpendapat bahwa kurban itu boleh tidak dilakukan didasarkan pada kalimat: “salah seorang yang melakukannya adalah lebih baik. Dalam hadits lain disebutkan secara tegas oleh Rasulullah SAW: “Ada tiga hal yang wajib atasku dan tatawwu (sunah) bagi kamu, yaitu: shalat witir, kurban, dan shalat duha”. (HR. Ahmad, al-Hakim, dan Daru Qutni dari Ibnu Abbas). Dengan hadits ini jumhur ulama memperjelas makna ayat yang mujmal (global) di atas dan menyimpulkan bahwa hukum melaksanakan ibadah kurban adalah sunah muakkad.

Sehubungan dengan pelaksanaan ibadah kurban tersebut, berbagai lembaga dan organisasi kemasyarakatan, juga organisasi politik selalu memanfaatkan momen berkurban itu mengajak dan merayu anggota masyarakat untuk melaksanakan kurban memelui lembaga dan oragniasai yang mereka dirikan. Salah satu di antaranya adalah lembaga PKPU. Lembaga ini sangat aktif sekali mencari peserta kurban dan menyalurkannya kepada pihak yang membutuhkan daging kurban. Salah satu upaya mereka adalah membuat spanduk ukuran besar yang di pajang pada baliho di berbagai tempat yang strategis. Di samping itu juga tidak luput bagi mereka membuat sebuah Website untuk menyebarkan promosi kerja dan merayu pelanggan.

 Ada salah satu  jargon yang mereka usung, yakni “ Kuantar Kau Ke Surga”. Jika saya baca dan  analisa jargon tersebut sangat tidak cocok dengan ketentuan syari’at yang ada di dalam Al Quran. Coba pahami beberapa hadist yang mereka kutib dan gambar yang mereka upload ke dalam Website mereka itu. Untuk itu dapat dilihat pada: http://www.kuantarkesurga.com/

Beberapa hadits dan gambar yang mereka upload itu antara lain:

Hadits Riwayat, Ibn Majah dan Tirmidzi

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban – di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.”

Daging Qurban

Hadits Riwayat, Ahmad dan ibn Majah

Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.

Hadits Riwayat, Ibn Majah dan Tirmidzi

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan, darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban – di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.”

Ku Antar ke Sorga

Adapun Hadist yang dikutip diatas sebagai dalil dan gambar imajinatif yang di upload sungguh tidak cocok untuk  menjelaskan maksud ayat yang menjelaskan soel keikhlasan dan ketakwaan.. Mereka lupa dengan landasan Syari’at yang paling pokok.

Padahal Allah berfirman di dalam Al quran:

 لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ

عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ [٢٢:٣

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. 22.37

 

Sangat jelas sekali pernyataan Allah tersebut, bahwa yang mengatarkan kita kepada Ridha Allah adalah keikhasan dan ketakwaan, bukan daging dan darah binatang sembelihan sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadist di atas.