Ilmu Sebagai Akumulasi Nama

Ilmu (Arab) sepadan/sama dengan pengetahuan (Indonesia) dan knowledge  (Inggris). Namun Ilmu dalam konteks Arab sedikit berbeda dengan Ilmu dalam konteks Indonesia. Di dalam konteks Indonesia Ilmu dimaksudkan untuk menyatakan pengetahuan yang telah terstruktur secara baik dan mengenai objek tertentu.

Kita berangkat dari sebuah sejarah dan realitas di dalm kehidupan kita. Pada awal sejarah tentang ke ilmuan, Allah mengajarkan kepada Nabi Adam as nama-nama semua (apa yang ada). Allah tidak mengajarkan kepada Nabi Adam ilmu seperti sekarang, seperti Bologi, Matematika, Fisika atau antropologi. Namun semua itu akan dapat diketahui Oleh Nabi Adam as dengan nama-nama itu. Ini Firman Allah di dalam Al-Baqara: 31

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya.

Ayat itu menerangkan kepada kita bawa  Allah memberikan “ilmu” kepada Nabi Adam as. Cara Allah member tahu kepada Nabi Adam as nama-nama dari apa yang ada. Perlu kita sadari bahwa apa yang ada tentu saja yang ada di langit dan yang ada di bumi serta yang ada di antar keduanya. Pada saat proses pemberitahuan itu Allah menunjukan objeknya atau bendanya dan diikuti dengan penyebutan namanya. Dengan demikian Nabi Adam as tahu persis apa bendanya dan apa namanya. Sehingga Nabi Adam as tidak ada keraguan baginya atas apa yang ada dan namanya. Misalnya sebatang pohon mulai dari akar, batang, daun dan buah. Di dalam masing – masing bagian itu ada lagi bagian yang lebih kecil juga diberi nama. Setiap proses pada saat tumbuhnya diberi nama dan diberi tahu kepada Rasulullah itu. Dst.

Di dalam proses mengajarkan nama-nama yang disertai dengan memperkenalkan apa yang ada secara keseluruhan dan bagian-bagiannya. Setiap bagian objek diberi nama oleh Allah dan sampaikan kepada Nabi Adam as. Tentu saja yang sangat penting pada awalnya adalah nama suara yang diucapkan (abjad). Dengan pengenalan abjad itu Nabi Adam as dapat secara mudah berkomunikasi dengan istri, anak dan cucunya.

Apa yang ada meliputi adanya benda dengan segala bentuk, ukuran dan warnanya, segala sifat dan segala kandungan zat-nya….di samping itu juga ada berupa kondisi dan situasi serta proses kerja dll. Misalnya zat cair yang bisa diminum namanya air,  sifat dan bentuknya menyerupai wadah yang di tempati, sifatnya mengalir dan, Zatnya H2O. Banyak cahaya namanya terang, sedikit cahaya namanya gelap.

Apa saja yang dapat kita di inderai, di dengar, di lihat, dicium diraba dan dicicipi dengan lidah. Semua gambaran yang telah diinderai oleh Nabi Adam as tersimpan di dalam hati beliau.  Gambaran dan kesan yang tersimpan di dalam hati itu diberi nama dengan tahu ((علم. Maka dari itu pengetahuan dapat kita pahami sebagai akumulasi (kumpulan)  gambaran atau kesan dan atau bayangan  tentang segala yang “ada” dan tersimpan di dalam hati.

Gambaran atau kesan adalah gambaran dari apa saja yang pernah bersentuhan dengan indera kita. Dengan kata lain gambaran tersebut adalah produk dari penginderaan. Produk penginderaan yang telah terakumulasi semanjak kita lahir ke dunia hingga saat ini (batas usia). Gambaran tersebut bisa saja berupa gambaran tentang benda-benda (bentuk,  zat,  dan sifat ), bunyi, situasi dan atau kondisi seperti cuaca, siang atau malam. Gambaran tersebut dapat diperoleh  melalui melihat, mencium, meraba, mencicipi dan mendengar. Apa saja yang telah diamati dengan menggunakan pancaindera, masing-masing objek diberi “nama”, seperti rasa garam, namanya asin, warna garam putih, tempat atu ruang masuk kedalam rumah namanya pintu. Maka dengan demikian pengetahuan itu mengandung dua aspek, pertama gambaran, bayangan atau kesan (perasaan) dari objek dan kedua nama dari objek tersebut. Bentuk kegiatan yang dapat mendatangkan gambaran tentang sesuatu  dengan menggunakan pancaindera itu bisa saja berupa pengamatan (observasi), tanya jawab,  eksperimen  dan membaca buku. Yang lebih populer di kalangan masyarakat kampus atau perguruan tinggi adalah melalui penelitian. Tempatnya  boleh di sekolah di kebun atau sawah, bahkan yang sering  dilakukan secara formal adalah di laboratorium.

Pengetahuan seseorang   terakumulasi semenjak dari  dia lahir. Gambaran yang ada dalam hati seseorang mulai dari hal yang kecil sampai pada yang sangat besar, mulai dari yang sederhana hingga yang lebih komplek, mulai dari yang sedikit hingga jumlah yang banyak. Semua gambaran itu bersumber dari apa yang ada  disekitar kita. Apa yang ada itu dapat bersentuhan (memberikan rangsangan) dengan panca indera. Proses persentuhan pancaindera dengan alam disekitar kita itulah yang disebut dengan pengalaman. Makanya peng-alam-an sebagai proses yang dapat  menghasilkan  gambaran dan kesan. Semua gambaran dan kesan itu disebuat tahu  ((علم. Dalam jumlah banyak disebut sebagai pengetahuan. Hal ini berarti bahwa pengetahuan adalah  produk dari proses penginderaan atau pengalaman.

Dalam pemahaman selanjutnya, pengetahuan  seseorang tentang suatu objek  ada yang lengkap ada yang tidak. Artinya ada di antara kita  yang tahu sebagian saja dan ada yang tahu secara keseluruhan.  Seperti seorang petani, dia banyak  tahu tentang tanaman padi. Dia tahu mulai dari pengenalan bibit, menyemai bibit, cara  menanam dan perawatan hingga panen. Setelah panen pengetahuannya juga meliputi pengolahan hasil pasca panen, mengolah jadi makanan, pengemasan dan penjualan. Akan lain halnya dengan seorang  yang tinggal di perkotaan. Boleh jadi dia tidak tahu dengan tanaman padi sama sekali, atau boleh jadi dia hanya tahu hanya bentuk tanaman  dan buahnya saja. Ada orang yang hanya tahu beras saja, gabah tidak tahu sama sekali.

Jika ada banyak orang bekerja, menghasilkan banyak barang, diberi nama memproduksi. Jika barang yang telah diproduksi itu disebarkan kepada banyak orang diberinama distribusi dan terus untuk digunakan memenuhi kebutuanya disebut konsumsi. ……Kesemuanya, produksi, distribusi dan dikonsumsi biasa disebut ekonomi.

Kain penutup badan bagian atas didebut baju, kain penutup badan bagian bawah disebut celana/rok. Sedangkan baju tambah  celana/rok disebut sebagai pakaian. Begitu juga yang lainnya.

Selanjutnya pengetahuan yang lengkap tentang suatu objek kajian dapat disusun secara sistematis (terstruktur atau tata urutannya). Jika pengetahuan telah disusun secara sistematis maka hal ini dinyatakan sebagai Ilmu. Pengetahuan yang telah di klasifikasi sebagai Ilmu itu dapat diberi nama dengan nama tertentu, misalnya ilmu beternak ayam atau perunggasan, ilmu memasak kue dan makanan atau tata boga, ilmu bela diri, dan Ilmu (membuat) anyaman. Apa yang disebut sain termasuk kedalam kelompok ini.

Ada ilmu yang hanya sekedar ditahui, sangat kecil kemungkinannya untuk dapat dimanfaatkan, bahkan ada ilmu yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Biasanya ilmu yang tidak ada manfaatnya terkait juga dengan profesi seseorang. Ada ilmu yang menjelaskan suatu prosedur, kelompok inilah yang diberi nama atau disebut ilmu teoritis. Sebaliknya ada ilmu yang memang sangat penting / berguna untuk bekerja atau untuk melakukan aktivitas. Biasanya ilmu seperti inilah yang disebut dengan ilmu praktis ( keterampilan tepat guna, yang berguna untuk bekerja). Seseorang tidak akan bisa bekerja kalau tidak ada ilmu tentang apa yang mau ia kerjakan.

Dewasa ini kita dapat mengenal nama-nama secara mudah melalui kamus. Orang yang banyak mengetahui isi kamus berarti dia banyak tahu tentan sesuatu berupa nama benda, kegiatan, keadaan, situasi dan kondisi. Makanya sangat penting, semua orang yang belajar banyak membaca kamus.

Iklan

Hidup Tanpa Bersuku dan Berbangsa

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

selanjutnya di dalam bahsan, penulis memfokuskan analisa pada penggalan ayat di atas, yakni;

وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا 

menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal

Ada saja cendekiawan yang mengatakan; …… ” lalu apa sebenarnya tujuan Allah menciptakan manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku?  Jadi alasannya adalah agar kita saling mengenal satu sama lain, agar mendapatkan pengetahuan, saling menghargai dan menghormati, bisa bekerja sama, saling tolong-menolong dan banyak hal lainnya. Itu semua merupakan karunia dan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang diberikan-Nya kepada kita semua “….

Padahal jika kita amati kontek ayat dan kaitannya dengan ayat lain pernyataan itu tidak bersesuaian. Allah tidak menghendaki seperti itu maksudnya. Saling mengenal itu bukan dalam maksud saling mengambil manfaat dari kebaikan yang ada pada tiap suku atau bangsa. Saling mengenal dimasudkan adalah menemukan alasan-alasan kenapa kita disuruh bersatu atau tidak berfirqoh. Kita disuruh tidak terikat oleh suku atau bangsa….Sebab suku dan bangsa tatanan kehidupannya adalah nilai budaya. Secara imperatif akan selalu berbeda dengan segala konsekwensinya.

Saling kenal

Untuk kepentingan pemahaman saling mengenal tersebut di dunia akademik harus dilakukan dengan kajian sosiologis. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah jauh dengan yang namanya hubungan sosial, karena bagaimanapun hubungan tersebut memengaruhi perilaku orang-orang. Sebagai bidang studi, cakupan sosiologi sangatlah luas. Sosiologi juga melihat bagaimana orang mempengaruhi kita, bagaimana institusi sosial utama, seperti pemerintah, agama, dan ekonomi memengaruhi kita, serta bagaimana kita sendiri memengaruhi orang lain, kelompok, bahkan organisasi.

Kajiannya bukan hanya secara teori yang bersumber dari analisa literatur saja akan yang lebih penting melakukan pengamatan langsung (bergaul) di dalam kelompok masyarakat yang bersuku dan berbangsa itu.

Jika kita saling mengenal satu sama lain, maka kita akan tahu;

  1. Bahwa ada banyak bangsa dan suku di dunia ini.
  2. Setiap suku dan bangsa merasa lebih baik dari yang lainnya.
  3. Ada bangsa (ras) yang menganggap mereka paling mulia di dunia ini (orang kulit putih).
  4. Ada suku bangsa yang dianggap paling rendah derajatnya.
  5. Ada suku bangsa yang berkasta-kasta (diskriminasi).
  6. Setiap suku atau bangsa selalu menata sistem kehupannya dengan “kebudayaan” mereka masing-masing.

Akibat dari semuanya itu tidak dapat dihindari sering terjadi pertikaian, pertengkaran, perkelahian, bahkan sampai kepada saling berperang. Mereka saling menegakan hegemoni suku atau bangsa masing-masing. Akibat lainnya amat sulit saling menghargai dan menghormati, bisa bekerja sama yang harmonis.

Keadaan manusia yang bersuku dan berbangsa-bangsa itu belum dinyatakan Allah sebagai suku atau bangsa yang baik. Allah belum menetapkan suku atau bangsa mana yang lebih baik atau yang dimuliakan. Maka  Allah  membuat ketentuan bahwa “ Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”….Orang yang bertaqwa adalah orang yang berperilaku baik atau berakhlak mulia. Allah “menyuruh” jika ingin jadi orang beriman harus  bersatu. Tidak bergolongan, bersuku dan berbangsa yang saling membanggakan diri.  Tidak pula terikat oleh ruang dan waktu…..dimana saja dan kapan saja mukmin itu sama sikap dan perilakunya…..sama hak dan kewajibannya.

 [فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ   [٤٣:٤٣   

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu.

 Nilai dan normanya berlaku untuk semua orang, tidak membedakan bangsa atau ras,  yakni Al Quran. Mukmin wajib bersatu di bawah panji Allah itu.

[وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ ۖ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ [٤٣:٤٤     

Dan sesungguhnya Al Quran itu sungguh adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.

 

Pendidikan Karakter Berdasarkan Filosofi Alam Takambang Jadi Guru

Wakatu ketek taraja-raja – Lah gadang tarubah tido
Indonesia : Waktu kecil (awal) ikut-ikutan atau mulai membiasakan diri – Setelah dewasa menjadi kebiasaan,  menjadi tabiat atau perilaku (sulit untuk dirubah).

Cukup memadai usaha kita membentuk kebiasaan setiap saat dalam kehidupan ini. Beberapa kebiasaan ada yang diinginkan, ada pula yang sifatnya tidak diinginkan. Beberapa, meski tidak terlalu buruk dalam diri sendiri, sangat buruk dalam efek kumulatif bagi orang lain. Hal itu menyebabkan kita kehilangan banyak waktu, banyak rasa sakit dan kesedihan, sementara lawan kita justru sebaliknya akan membawa kedamaian dan sukacita. Sudahkah kita berada di dalam kekuatan kita untuk menentukan kapan jenis kebiasaan yang akan terbentuk dalam hidup kita? Dengan kata lain, apakah pembentuk kebiasaan, sebagai pembentukan karakter, merupakan masalah kebetulan, atau apakah kita berada di dalam kendali kita sendiri? Kita memiliki, sepenuhnya dan mutlak “saya akan menjadi apa yang saya inginkan,” dapat diakui dan harus diakui oleh setiap jiwa manusia.

Setelah ini dengan berani dan tegas kita berkata, dan tidak hanya berkata, tapi sepenuhnya menyadari di dalam diri kita ada sesuatu yang tersisa. Masih ada sesuatu yang harus dikatakan mengenai hukum yang amat agung yang mendasari pembentuk kebiasaan sebagai pembentukan karakter. Karena ada metode sederhana, alami dan menyeluruh yang harus diketahui oleh semua orang. Metode dimana kebiasaan tanah atau tempat kelahiran yang lama dan tidak diinginkan dapat dipatahkan, dan kebiasaan di tempat berdomisili yang baru dan diinginkan dapat diperoleh. Metode dimana sebagian atau keseluruhannya dapat diubah, asalkan seseorang cukup sungguh-sungguh untuk mengetahui dan memahaminya, menerapkan hkum itu.

Pemikiran adalah kekuatan utama yang mendasari semua, dan apa yang kita maksud dengan ini? Cukup ini: Setiap tindakan kita – setiap tindakan sadar tiap hari- didahului oleh sebuah pemikiran. Pikiran kita yang mendominasi menentukan tindakan kita. Dalam ranah pikiran kita sendiri, kita memiliki kendali mutlak, atau seharusnya, dan jika suatu saat kita tidak melakukannya, maka ada metode untuk mengendalikan kita, dan di alam pikiran menjadi tuan yang teliti. Untuk mendapatkan dasar pemikiran ini, mari kita lihat hal ini sejenak. Karena jika pikiran selalu menjadi tuan terhadap tindakan, kebiasaan, kehidupan kita, maka pertama-tama perlu kita mengetahui sepenuhnya bagaimana mengendalikan pikiran kita.

Di sini mari kita simak hukum pikiran yang sama seperti hukum dalam hubungan dengan sistem saraf tubuh, hukum yang mengatakan bahwa setiap kali seseorang melakukan suatu kerja dengan cara tertentu, lebih mudah melakukannya. Hal yang sama dengan cara yang sama di lain waktu, terus kita lakukan dan masih lebih mudah pada tahap berikutnya, dan berikutnya, tahap berikutnya, sampai pada saatnya, sampai terjadi bahwa tidak ada usaha yang diperlukan, atau tidak perlu usaha untuk dibicarakan. Namun justru sebaliknya membutuhkan usaha. Pikiran membawa serta kekuatan yang melanggengkan jenis pemikirannya sendiri. Sama seperti yang dimiliki tubuh melalui sistem saraf sebelum ini, kekuatan yang mengabadikan dan membuat tindakannya semakin mudah dilakukan sendiri. Jadi usaha sederhana untuk mengendalikan pikiran seseorang, sebuah pengaturan sederhana tentang hal itu. Bahkan jika pada kegagalan pertama adalah hasilnya, dan bahkan jika untuk suatu kegagalan  tentang satu hasil, pada waktunya, cepat atau lambat, bawalah dia ke titik kontrol yang mudah, penuh, dan lengkap. Masing-masing, kemudian, dapat menumbuhkan kekuatan untuk menentukan, mengendalikan pikiran kita. Kekuatan untuk menentukan jenis pemikiran apa yang kita atau dia inginkan dan jenis apa yang tidak akan kita atau dia sukai. Karena itu, marilah kita tidak pernah berpisah dengan kenyataan ini, bahwa setiap upaya sungguh-sungguh sepanjang garis membuat tujuan, hanya sedikit lebih mudah untuk setiap keberhasilan, bahkan jika, seperti yang telah alami, kegagalan nyata adalah hasil dari usaha-usaha sebelumnya. Ini adalah kasus di mana bahkan kegagalan adalah kesuksesan, karena kegagalannya tidak dalam usaha, dan setiap usaha sungguh-sungguh menambahkan peningkatan kekuatan mencapai tujuan yang diraih. Kita bisa, kemudian, mendapatkan kekuatan penuh dan lengkap untuk menentukan karakter apa, jenis pikiran apa yang kita yang dapat kita tampilkan.

Haruskah kita memperhatikan dua atau tiga kasus konkret? Inilah seorang pria, kasir sebuah perusahaan dagang besar, atau kasir sebuah bank. Di koran pagi dia membaca tentang seorang pria yang telah menjadi sangat kaya, telah menghasilkan banyak uang setengah juta atau satu juta dolar dalam beberapa jam melalui spekulasi di pasar saham. Mungkin dia telah melihat cerita tentang pria lain yang telah melakukan hal yang sama pada akhir-akhir ini atau sebelumnya. Namun, dia tidak cukup bijak untuk memahami fakta bahwa ketika dia membaca satu atau dua kasus semacam ini, dia dapat menemukannya, apakah dia harus menyelidiki masalah ini dengan seksama, satu atau ratusan kasus orang yang telah kehilangan semua itu memiliki cara yang sama dia berpikir. Bagaimanapun, bahwa dia akan menjadi salah satu dari orang-orang yang beruntung. Dia tidak sepenuhnya menyadari bahwa tidak ada jalan pintas menuju kaya yang dengan jujur. Dia mengambil sebagian dari tabungannya, dan sama seperti semua kasus dalam kasus ini. Dia kehilangan semua yang telah dia masukkan, sekarang ia berpikir bahwa dia melihat mengapa dia hilang, dan semakin banyak uang yang bisa dia dapatkan. Kembali kepada apa yang telah hilang, dan mungkin membuat sejumlah tindakan sebagai tambahan yang mapan. Hal  demikian pikiran cepat datang kepadanya  untuk menggunakan sebagian dana yang dimilikinya. Sembilan – delapan dari sepuluh kasus walau tidak semua  kasus, hasil yang pasti diketahui mengikuti secara baik sehingga tidak perlu mengikutinya lebih jauh.

Dimana keselamatan pria itu sesuai dengan apa yang telah dia  pertimbangkan? Cukup begini: saat memikirkan penggunaan dana untuk tujuannya sendiri milik orang lain masuk ke dalam pikirannya. Jika dia bijak dia akan langsung memikirkan di alam pikirannya. Ini akhirnya akan menguasai kekuasaan kemauannya, memberi kekuatan dan melalui langkah-langkah yang berhasil, resiko akan menjadi miliknya. Mudah baginya memikirkan pikiran itu dari pikirannya saat pertama kali memasuki arena. Tapi saat dia menghiburnya, ia tumbuh sedemikian rupa sehingga semakin sulit baginya untuk mengalihkannya dari pikirannya.  Oleh karena itu menjadi tidak mungkin baginya untuk melakukannya. Semangat dan motivasi pertandingan, yang sedikit usaha bernafas akan padam pada awalnya, berubah memberi nyala api yang bisa mengamuk di seluruh bangunan, dan sekarang hampir tidak mungkin menaklukannya.

Haruskah kita melihat kasus konkret lainnya? Suatu kasus yang mungkin telah basi,  tapi di mana kita bisa melihat bagaimana kebiasaan terbentuk, dan juga bagaimana kebiasaan yang sama bisa tidak terbentuk. Inilah seorang anak muda, dia mungkin katakanlah dia adalah anak dari orang tua yang malang, atau dia mungkin saja adalah anak dari orang tua kaya. Seorang di jajaran kehidupan biasa, atau salah satu kedudukan sosial tinggi, apapun itu adanya atau artinya. Dia baik hati, secara umum dia orang baik. Dia keluar dengan beberapa sahabat, sahabat tipe umum yang sama. Mereka keluar malam untuk menyenangkan pikiran, untuk waktu yang tepat. Tapi mereka yang pergi dan hanya untuk “minum” bersama. Seorang muda yang ingin menjadi ramah, hampir tidak mendengarkan saran yang masuk ke dalam kesadaranya bahwa akan lebih baik baginya untuk tidak jatuh bersama yang lain dalam hal ini. Dia tidak berhenti cukup lama untuk menyadari fakta bahwa kekuatan terbesar dan kemuliaan karakter selalu ada dalam mengambil pendirian suatu usaha dan membiarkan dirinya terpengaruh oleh apa pun yang akan melemahkan pendirian ini. Dia pergi, oleh karena itu, dengan teman-temannya ke tempat minum. Dengan teman yang sama atau dengan teman-teman lain kegiatan tersebut diulang-ualang sekarang, kemudian dan seterusnya. Setiap kali diulang kekuatannya untuk mengatakan “tidak” secara bertahap menurun. Dengan cara ini, dia sedikit telah menyukai minuman keras. Dia tidak bermimpi, atau sedikit pun tidak menyadari. Bagaimana caranya merawatnya, sampai tiba suatu hari ketika dia sadar akan kenyataan bahwa dia tidak memiliki kekuatan. Bahkan dorongan untuk menahan rasa yang secara bertahap tumbuh menjadi bentuk kecil yang sederhana  keinginan untuk “minum” dan memabukkan. Namun, berpikir bahwa dia akan bisa berhenti saat dia benar-benar dalam bahaya masuk ke kebiasaan minum. Dia berjalan tanpa berpikir dan tanpa ceroboh. Kita  akan melewati berbagai langkah campur tangan. Sampai pada saat kita menemukannya sebagai pemabuk yang konfirmasi ceritanya   seribu atau bahkan sejuta kali….mungkin.

Akhirnya dia terbangun dengan kondisi sejatinya; dan karena rasa malu, derita, degradasi, dan keinginan yang menimpanya, dia merindukan kembalinya hari-hari ketika dia adalah orang yang bebas. Tapi harapan sudah hampir hilang dari hidupnya. Akan lebih mudah baginya untuk tidak memulai, dan lebih mudah baginya untuk berhenti sebelum mencapai kondisi sekarang. Tapi bahkan dalam kondisi sekarang, jadilah dia yang terendah dan paling tak berdaya  yang bisa dibayangkan, dia memiliki kekuatan untuk keluar dari sana dan menjadi orang bebas sekali lagi. Mari kita lihat, keinginan untuk minum datang kepadanya lagi. Jika dia menghibur pikiran, menenangkan keinginan, dia tersesat lagi.

Satu-satunya harapannya, satu-satunya cara untuk melarikan diri adalah ini: ada saatnya   pikiran cepat itu datang kepadanya, jika dia akan menyingkirkannya dari pikirannya, maka ia akan menyingkirkan nyala api kecil itu. Jika dia menghibur pikiran itu, si kecil akan berkomunikasi dengan dirinya sendiri sampai hampir sebelum dia menyadarinya bahwa sebuah kebakaran memakan habis bangunan dan kemudian berbagai usaha hampir tidak berguna. Pikiran harus dibuang dari pemikiran begitu masuk; Ketergantungan dengan itu berarti kegagalan dan kekalahan, atau pukulan tak terlukiskan itu lebih baik dari pada jika pikiran itu dikeluarkan pada awalnya.

Dan di sini kita harus mengatakan mengenai sebuah undang-undang yang dapat kita sebut “hukum yang tidak langsung.” Pikiran dapat dipikirkan lebih mudah dan lebih berhasil, bukan dengan menghimpunnya, bukan dengan mencoba menaruhnya. Keluar secara langsung, tapi dengan melemparkan pikiran ke objek lain dengan meletakkan beberapa objek pemikiran lain ke dalam pikiran itu. Ini mungkin, misalnya, cita-cita penguasaan diri yang sempurna dan atau mungkin itu adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dari pemikiran yang menghadirkan dirinya sendiri, pikiran berjalan dengan mudah dan alami. Ini pada saatnya akan menjadi pemikiran yang menyerap pikiran, dan bahayanya sudah lewat. Tindakan-tindakan yang sama yang diulang ini akan secara bertahap menumbuhkan kekuatan untuk melupakan pikiran minuman. Lebih baik saat menyajikan dirinya sendiri, dan secara bertahap akan menumbuhkan pikiran untuk memasukkan pemikiran yang paling diinginkan seseorang. Hasilnya adalah bahwa seiring berjalannya waktu memikirkan minum akan hadir dengan sendirinya.   Ketika hal itu terjadi, ia dapat dipikirkan dengan lebih mudah setiap kali berhasil, sampai saatnya tiba ketika ia dapat disingkirkan tanpa kesulitan, dan akhirnya waktunya akan tiba saat pikiran untuk minum tidak lagi masuk akal.

Masih ada kasus lain. Banyak orang mungkin lebih atau kurang dari sifat mudah tersinggung secara alami, mungkin, mudah diprovokasi untuk marah. Seseorang mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu yang tidak kita sukai. Dorongan pertama kita adalah menunjukkan kebencian dan mungkin untuk memberi jalan kepada kemarahan. Pada tingkat yang kita membiarkan kebencian ini untuk menampilkan dirinya, bahwa kita membiarkan dirinya memberi jalan kepada kemarahanya. Pada tingkat itu akan lebih mudah melakukan hal yang sama ketika ada penyebab. Bagaimanapun juga, akan semakin sulit bagi kita untuk menahan diri padanya, sampai pada rasa dendam, kemarahan, dan bahkan mungkin kebencian dan balas dendam menjadi ciri khas alam kepribadian kita, pesona, dan kecerahan untuk semua orang yang kita datangi. dalam kontak interkasi dengan mereka.

Namun, jika dorongan untuk marah dan kemarahan muncul, kita memeriksanya saat itu juga, dan melemparkan pikiran ke beberapa objek pemikiran lainnya. Kekuatan itu akan berangsur-angsur tumbuh dengan sendirinya untuk melakukan hal yang sama.  Hal ini dengan lebih mudah, sampai pada saat ketika akan hampir tidak ada sesuatu yang dapat mengganggu kita, dan tidak ada yang dapat mendorong kita untuk marah. Sampai pada kecerahan dan pesona alam dan kecanggihan yang tiada tara akan menjadi kebiasaan kita. Kesadaran dan kemuliaan yang hampir tidak mungkin tidak terpikirkan hari ini. Jadi kita bisa mengambil kasus demi kasus. Karakteristik demi karakteristik, kebiasaan dmi kebiasaan. Kebiasaan masuk dan kebalikannya tumbuh dengan cara yang sama. Karakteristik kecemburuan dan kebalikannya; karakteristik ketakutan dan kebalikannya. Dengan cara yang sama kita menumbuhkan cinta atau kebencian. Dengan cara ini, kita akan mengambil perkiraan hidup yang suram dan pesimistis, yang menentukan dirinya sendiri secara alami. Persoalan sejenis ini, atau kita menumbuhkan sifat cerah, penuh harapan, ceria, apapun yang membawa serta begitu banyak kegembiraan dan keindahan dan kekuatan untuk diri kita sendiri, serta begitu banyak harapan dan inspirasi dan kegembiraan bagi seluruh manusia, ditempuh dengan cara yang sama.

bolaSosialisasi : bersaing dan kerja sama.

Tidak ada yang lebih benar dalam kaitannya dengan kehidupan manusia daripada kita tumbuh menjadi serupa dengan hal-hal yang kita renungkan. Secara harfiah dan ilmiah dan tentu benar adalah bahwa “seperti yang dipikirkan manusia di dalam hatinya, demikian juga dia.” Bagian dari hal itu “ada” adalah karakternya. Karakternya adalah jumlah total dari kebiasaannya.  Kebiasaannya telah terbentuk oleh tindakan sadarnya. Tapi setiap tindakan sadar, seperti yang telah kita temukan, didahului oleh sebuah pemikiran. Jadi, kita memilikinya – berpikir di satu sisi, karakter, kehidupan, dan takdir di sisi lain. Sederhana jadinya jika ketika kita mengingat bahwa ini hanyalah pemikiran saat sekarang, dan saat berikutnya ketika mereka berada di depan kita, dan kemudian, berikutnya, dan seterusnya sepanjang masa.

Seseorang dapat dengan cara ini mencapai cita-cita apa pun yang akan dia capai. Dua langkah diperlukan: Pertama, melakukan pikiran seperti hari-hari berlalu, untuk membentuk cita-cita seseorang; dan Kedua, mengikutinya terus-menerus, apapun yang mungkin timbul, kemanapun mereka bisa menuntunnya. Selalu ingat bahwa karakter hebat dan kuat adalah orang yang selalu siap mengorbankan kesenangan saat ini untuk kebaikan masa depan. Dia yang kemudian akan mengikuti cita-citanya yang tertinggi saat mereka mempresentasikan dirinya di dalam masyarakat dari tahun ke tahun, dari masa ke masa, akan menemukannya sebagai dante, mengikuti kekasih dari dunia ke dunia, akhirnya menemukannya di gerbang kasih sayang. Jadi dia akan menemukan dirinya sendiri di gerbang yang sama. Hidup bukan kita boleh berkata, untuk kesenangan belaka, tapi untuk liputan tertinggi yang bisa dicapai seseorang Karakter paling mulia yang bisa tumbuh, dan untuk pelayanan terbaik yang bisa diberikan seseorang ke seluruh banyak orang. Dalam hal ini, bagaimanapun, kita akan menemukan kesenangan tertinggi, karena di dalam inilah satu-satunya kesenangan sebenarnya terletak. Siapa yang menemukannya dengan jalan pintas, atau dengan memasuki jalan lain, pasti akan mendapati bahwa keadaan terakhirnya selalu lebih buruk daripada yang pertama. Juga  jika dia melanjutkan jalan lain selain ini, dia akan mendapati bahwa dia tidak akan pernah menemukan kesenangan sejati dan abadi sama sekali.

Kita tidak membuat pertanyaan, “Apa kondisi dalam kehidupan kita?” Tetapi, “Bagaimana kita memenuhi persyaratan yang kita temukan di sana?” Dan apapun kondisinya, jika tidak bijaksana dan tidak berdaya untuk membangkitkan mereka. Bahkan jika kondisi mereka yang kita inginkan sebaliknya, sikap dalam pengaduan, karena keluhan akan membawa depresi, dan depresi akan melemah dan bahkan mungkin membunuh semangat, Hal seperti itu yang akan melahirkan kekuatan yang memungkinkan kita membawa ke dalam kehidupan kita seperangkat kondisi yang sama sekali baru.

Agar bersikap konkret, bahkan dengan risiko menjadi pribadi, saya akan mengatakan bahwa menurut pengalaman saya sendiri, telah tiba di berbagai situasi. Keadaan dan kondisi hidup saya yang dengan senang hati saya dapat lari dari pada waktu pra kondisi yang disebabkan pada waktu penghinaan dan rasa malu dan semangat derita. Namun, selama waktu  yang cukup lama berlalu, saya dapat melihat ke belakang dan melihat dengan jelas bagian bahwa setiap pengalaman tipe yang baru disebutkan harus dimainkan dalam kehidupan saya. Saya telah melihat pelajaran yang penting untuk belajar; dan hasilnya adalah bahwa sekarang saya tidak akan menghilangkan satu pun pengalaman ini dari hidup saya, keculi hanya jika lupa. Hal ini juga pelajaran yang telah saya pelajari: kondisi apa pun yang ada dalam hidup saya hari ini yang bukan yang termudah dan paling menyenangkan, dan apapun kondisi jenis ini yang akan datang, saya akan membawa mereka begitu saja, tanpa keluhan, tanpa depresi. Bertemu kondisi dengan cara yang paling bijaksana; mengetahui bahwa mereka adalah kondisi terbaik yang mungkin ada dalam hidup saya saat itu, atau jika tidak, ia tidak akan berada; menyadari kenyataan bahwa, walaupun pada saat itu saya mungkin tidak melihat mengapa ia ada dalam hidup saya, Walaupun saya mungkin tidak melihat bagian apa yang harus saya mainkan. Waktunya akan tiba, dan kapan akan saya dapat melihat semuanya, dan  segala puji hanya bagi Allah untuk setiap  kondisi yang saya lalui seperti apa adanya.

Masing-masing kita sangat berpikir tentang pengalaman, kondisinya sendiri, pencobaan atau kesulitannya sendiri, atau perjuangannya sendiri, seperti kasusnya mungkin lebih besar daripada jumlah umat manusia yang besar, atau mungkin lebih besar daripada yang dimiliki oleh seseorang di dunia lain. Dia lupa bahwa masing-masing memiliki cobaan atau kesulitan atau kesengsaraan tersendiri untuk menanggung, atau berjuang dalam kebiasaan untuk diatasi, dan bahwa itu hanyalah kesamaan dari semua orang. Kita cenderung membuat kesalahan dalam hal ini – karena kita melihat dan merasakan dengan sungguh-sungguh percobaan kita sendiri, atau kondisi buruk, atau karakteristik yang harus diatasi. Sementara hal lain yang tidak kita lihat dengan jelas. Karenanya kita cenderung untuk berpikir bahwa mereka sama sekali tidak sama dengan kita. Masing-masing memiliki masalah sendiri untuk dipecahkan. Masing-masing harus mengatasi masalahnya sendiri. Masing-masing harus menumbuhkan wawasan yang memungkinkannya melihat penyebabnya yang membawa kondisi yang tidak menguntungkan ke dalam hidupnya; masing-masing harus menumbuhkan kekuatan yang memungkinkannya menghadapi kondisi ini, dan untuk mengatur kekuatan operasi yang akan menghasilkan kondisi yang berbeda. Kita mungkin saling membantu satu sama lain dengan cara memberi saran. Menggunakan cara saling membawa pengetahuan tentang hukum dan kekuatan yang lebih tinggi – hukum dan kekuatan yang akan mempermudah melakukan hal yang akan kita lakukan. Namun, tindakan itu harus dilakukan masing-masing untuk dirinya sendiri. Jadi, cara untuk keluar dari pengkondisian apa pun yang kita hadapi. Entah sengaja atau tidak sengaja, baik sengaja atau tidak sengaja, adalah dengan meluangkan waktu untuk melihat kondisi di wajah, dan menemukan hukum yang menyebabkannya terjadi.

 Ketika kita menemukan hukum ilahi, hal yang harus dilakukan adalah tidak memberontak melawannya, bukan untuk menolaknya, tapi meneruskannya dengan bekerja selaras dengannya dalam sikap sabar. Jika kita bekerja selaras dengan itu, hal demikian akan bekerja untuk kebaikan tertinggi kita, dan akan membawa kita kemanapun kita inginkan. Jika kita menentangnya, atau jika kita menolaknya, jika kita gagal untuk bekerja selaras dengannya, pada akhirnya akan menghancurkan diri kita sendiri. Hukum tidak berubah dalam cara kerjanya. Pergilah dengan itu, dan itu membawa kembali segala sesuatu ke pada kita; Menahan diri, hal itu membawa penderitaan, rasa sakit, kehilangan, dan kehancuran.

 Pada sebuah kisah seorang wanita yang paling berharga yang tinggal di sebuah peternakan kecil sekitar lima atau enam hektar di New England. Suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu, seorang pria yang baik hati, rajin, tapi orang yang menghabiskan hampir semua penghasilannya untuk makan dan diminum. Ketika dia meninggal, peternakan kecil itu belum dibayar, dan sang istri mendapati dirinya tanpa sarana pendukung yang nyata, dengan beberapa anggota keluarga yang harus dirawat. Alih-alih berkecil hati dengan seperti banyak orang menyeebutnya dengan susah payah. Alih-alih memberontak melawan keadaan di mana dia menemukan dirinya sendiri, dia menghadapi masalah ini dengan berani, dengan yakin dan percaya bahwa ada cara-cara yang dengannya dia bisa mengaturnya. Meskipun dia belum dapat melihatnya secara jelas pada saat itu. Dia menanggung bebannya saat untuk menemukannya, dan dengan berani maju.

Selama beberapa tahun ia datang ke negara bagian itu, dia merawat asrama yang bangun secara teratur pada musim panas. Dia mengatakan, pada pukul setengah tiga jam empat pagi, dan bekerja sampai pukul sepuluh setiap malam. Di musim dingin, saat sumber pemasukan ini terputus. Dengan cara ini, lahan pertanian kecil sekarang hampir dibayar; Anak-anaknya tetap di sekolah, dan sekarang mereka bisa membantunya sampai tingkat yang lebih rendah. Melalui semua itu, dia tidak menimbulkan ketakutan atau kecemasan; dia tidak menunjukkan pemberontakan apapun. Dia belum pernah menendang keadaan yang membawa kondisi di mana dia menemukan dirinya sendiri. Dia telah menyesuaikan diri dengan hukum yang akan membawanya ke kondisi lain. Melalui semua itu, dia mengatakan telah terus-menerus bersyukur bahwa dia dapat bekerja. Bagaimanapun keadaannya sendiri, dia belum pernah menemukan seseorang yang keadaannya masih sedikit lebih buruk daripada dirinya sendiri.

Mari kita luangkan waktu untuk melihat bagaimana kondisi yang sama ini bisa dipenuhi oleh orang yang kurang berkhikmat, orang yang tidak begitu berpikiran jauh seperti wanita yang baik dan terkasih ini oleh banyak orang. Untuk beberapa saat mungkin semangatnya pasti hancur. Ketakutan dan hasrat segala macam mungkin akan menangkapnya. Dia pasti merasa bahwa tidak ada yang bisa dia lakukan bisa berguna. Mungkin dia memberontak terhadap agensi, melawan undang-undang yang membawa kondisi di mana dia dapat menemukan dirinya sendiri, Dia mungkin menjadi sakit hati terhadap dunia. Secara bertahap juga melawan berbagai orang yang dia berhubungan dengannya. Atau lagi, dia mungkin mengira bahwa usahanya tidak akan mampu memenuhi keadaan. Bahwa hal demikian adalah tugas seseorang untuk mengangkatnya dari kesulitannya. Dengan cara ini, tidak ada kemajuan sama sekali yang bisa dicapai terhadap pencapaian hasil yang diinginkan. Secara terus-menerus dia akan merasa lebih tajam keadaan di mana dia dapat menemukan dirinya sendiri, karena tidak ada yang bisa menempati pikirannya. Dengan cara ini, pertanian kecil itu tidak akan menjadi miliknya, dia tidak akan bisa melakukan apapun untuk orang lain. Sifatnya akan menjadi sakit hati melawan segala hal dan semua orang.

Memang benar, bukan “kondisi apa yang ada dalam kehidupan seseorang?” Tetapi, “Bagaimana dia memenuhi persyaratan yang dia temukan di sana?” Ini akan menentukan semua. Dan jika sewaktu-waktu kita cenderung berpikir bahwa nasib kita sendiri adalah tentang yang paling sulit yang ada. Jika kita dapat setiap saat untuk meyakinkan diri kita bahwa kita tidak dapat menemukan siapa saja di mana yang sedikit lebih sulit daripada kita. Marilah kita belajar sebentar karakter Pompilia. Dalam puisi Browning dan setelah mempelajarinya, alhamdulilah bahwa kondisinya dalam kehidupan kita sangat menyenangkan; dan kemudian mengatur dengan semangat percaya dan pemberani untuk mengaktualisasikan kondisi yang paling diinginkan oleh banyak orang.

Pemikiran berada di bawah semua kemajuan atau kemunduran. Semua kesuksesan atau kegagalan, dari semua hal yang diinginkan atau tidak diinginkan dalam kehidupan kita. Jenis pemikiran yang kita hibur keduanya menciptakan dan menarik kondisi yang mengkristal tentang hal itu, kondisi persis sama di alam seperti juga pemikiran yang memberi mereka wajah. Pikiran adalah kekuatan, dan masing-masing menciptakan jenisnya, entah kita menyadarinya atau tidak. Hukum kekuatan kausalitas yang maha agung menarik perhatian, pikiran, yang mengatakan bahwa menciptakan seperti,  menarik seperti, terus-menerus bekerja dalam setiap kehidupan manusia, karena ini adalah salah satu hukum abadi alam semesta yang tak berubah. Bagi seseorang untuk meluangkan waktu untuk melihat dengan jelas hal-hal yang akan dia capai, dan kemudian mempertahankan cita-cita itu dengan mantap dan terus-menerus di pikirannya, tidak pernah membiarkan keyakinan – kekuatan pemikiran positifnya – untuk memberi jalan atau dinetralisir oleh keraguan dan ketakutan. Kemudian untuk mengatur setiap hari apa yang harus dilakukan tangannya, tidak pernah mengeluh, tapi menghabiskan waktu yang harus ia keluarkan dalam keluhan, dalam memusatkan kekuatan pemikirannya pada cita-cita yang ideal. Pikirannya telah dibangun, cepat atau lambat akan membawa perwujudan penuh dari apa yang dia tetapkan. Ada orang-orang yang, ketika mereka mulai memahami fakta bahwa ada “ilmu pemikiran” yang ketika mereka mulai menyadari bahwa melalui instrumentalitas batin, kekuatan spiritual, kekuatan kita, kita harus memiliki kekuatan. Secara bertahap mencetak kondisi kehidupan sehari-hari seperti yang akan kita dapatkan, antusiasme awal tidak dapat melihat hasilnya secepat yang mereka harapkan. Cenderung berpikir, oleh karena itu, bagaimanapun juga, harus disadari tidak semua hal itu ada baru sampai pada pengetahuan mereka. Namun, mereka harus ingat bahwa dalam usaha mengatasi kebiasaan lama atau menumbuhkan kebiasaan baru, semuanya tidak dapat dilakukan sekaligus.

Pada tingkat yang kita coba gunakan kekuatan pikiran, kita terus bisa menggunakannya dengan lebih efektif. Kemajuannya lambat pada awalnya, lebih cepat saat kita melanjutkan. Kekuatan tumbuh dengan menggunakan kekuatan yang terus meningkat. Hal ini diatur oleh hukum yang sama seperti semua hal dalam hidup kita, dan segala sesuatu di alam semesta tentang kita. Setiap tindakan dan kemajuan yang dilakukan oleh pemusik sesuai dengan hukum. Tidak ada seorang pun yang memulai studi tentang musik, misalnya, duduk di depan piano dan memainkan sepotong master pada usaha pertama. Dia tidak boleh menyimpulkan, bahwa bagian master tidak dapat dimainkan olehnya, atau, dalam hal ini, oleh siapa saja. Dia mulai mempraktikkannya. Hukum pikiran yang telah kita sadari datang untuk menolongnya, dimana pikirannya mengikuti musik dengan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih pasti setiap kali berhasil, dan di sana juga mulai beroperasi dan untuk membantunya hukum yang mendasari tindakan yang telah kita perhatikan. Jari-jarinya mengepal dan melaksanakan gerakan dengan gerakan pikirannya dengan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih akurat setiap waktu berikutnya. Sampai kapan dan ketika dia tersandung terlebih dahulu, bahwa di mana tidak ada keharmonisan. Akhirnya mengungkapkan dirinya sebagai pemimpin empu musik yang menggetarkan dan menggerakkan massa. Jadi itu adalah penggunaan kekuatan pikiran. Ini adalah pengulangan, pengulangan pemikiran yang konstan yang menumbuhkan kekuatan pemikiran yang terus-menerus kuat – yang berfokus, dan yang akhirnya membawa manifestasi.

Ada bangunan karakter tidak hanya untuk yang muda tapi juga untuk orang yang telah tua. Apa bedanya ada orang tua! Berapa banyak tumbuh orang tua anggun, dan berapa banyak tumbuh orang tua dengan cara yang sifatnya berbeda. Ada rasa manis dan pesona atau wibawa yang menggabungkan daya tarik di usia tua. Sama seperti ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata di sini. Beberapa orang tua tumbuh terus-menerus lebih sayang kepada teman-teman mereka dan anggota keluarga dekat mereka. Sementara ada yang lainnya merasa memiliki gagasan bahwa teman-teman dan anggota keluarga mereka kurang memperhatikannya daripada sebelumnya. Berkali-kali mereka salah terus-menerus melihat lebih banyak dalam hidup untuk dinikmati, yang lain melihat terus-menerus kurang. Menjadi orang tua lebih sayang dan menarik bagi orang lain, yang lain kurang begitu. Dan mengapa ini? Melalui kebetulan Dengan tidak bermaksud secara pribadi saya tidak percaya ada hal seperti kebetulan di seluruh kehidupan manusia, atau bahkan di dunia atau alam semesta yang agung dimana kita tinggal. Namun ada ada satu hukum sebab dan akibat yang besar mutlak. Walaupun kadang-kadang kita kadang-kadang kembali  lebih cepat daripada yang biasa kita menemukan penyebabnya, orang tua dari efek ini atau itu, atau yang teraktualisasikan, meski tidak harus diaktualisasikan kondisi itu secara permanen.

Di jalan menuju kebun adalah pohon. Selama bertahun-tahun telah berkembang hanya “buah alami.” tidak lama sejak dicangkokkan. Mata air telah datang dan pergi. Satu setengah pohon itu mekar dan separuh lainnya juga. Bunga pada setiap bagian tidak bisa dibedakan oleh pengamat biasa. Bunga-bunga telah diikuti oleh buah-buahan muda yang menggantung melimpah di seluruh pohon. Hanya ada sedikit perbedaan di dalamnya sekarang; tetapi beberapa minggu kemudian, perbedaan bentuk, ukuran, warna, kualitas, kualitas,   sehingga tidak ada yang bisa membedakan keduanya atau sulit memilihnya. Yang satu akan menjadi apel kecil, agak keras dan keriput, asam, kuning kekuningan, dan akan bertahan beberapa minggu sampai musim gugur. Yang lainnya akan menjadi apel besar yang lezat, berwarna lembut, merah tua, dan akan tetap bertahan sampai pohon yang tumbuh itu mekar lagi.

Tapi kenapa kejadian ini dari kebun dan alami. Sampai pada periode tertentu dalam pertumbuhan buah, meski interiornya, membentuk kualitas apel sedikit berbeda dari awal, hanya sedikit yang bisa membedakannya. Pada periode tertentu dalam pertumbuhan mereka, bagaimanapun, kualitas interior mereka yang berbeda mulai mengekspresikan diri begitu cepat dan sangat jelas. Sehingga kedua buah itu menjadi tipe yang sangat berbeda seperti yang telah kita ceritakan itu. Tidak ada yang ragu untuk memilih di antara keduanya. Dan mengetahui sekali pembentuk kualitas penentu masing-masingnya. Selanjutnya kita dapat memberi tahu sebelum- nya dengan pasti bahwa itu benar-benar mutlak, produk eksternal dari masing-masing bagian pohon itu nantinya.

Kejadian itu sama saja dalam kehidupan manusia. Jika seseorang memiliki usia tua yang indah dan menarik, dia harus memulainya di masa muda dan di tengah kehidupan. Jika, bagaimanapun, dia telah mengabaikan atau gagal dalam hal ini, dia dapat dengan bijak menyesuaikan diri dengan keadaan dan menjadikan dirinya tekun untuk menerapkan semua kekuatan dan pengaruh kontra penyeimbang yang diperlukan. Tetapi jika seseorang memiliki usiatua yang sangat cantik dan menarik, dia harus memulainya dari awal dan di tengah kehidupan, karena ada proses ketika kebiasaan berpikir awal mulai berjalan. Pada diri mereka sendiri, kekuatan berpikir yang sangat mendominasi, dan kebiasaan berpikir seumur hidup mulai muncul ke permukaan.

Ini bukan hal yang buruk bagi setiap orang untuk mendapatkan sedikit filsafat “alam takambang jadi guru” ke dalam hidupnya. Ini akan banyak membantu saat dia maju dalam kehidupan; Maka akan berkali-kali menjadi sumber penghiburan yang besar, juga kekuatan, dalam masa-masa sulit dan di kemudian hari. Bahkan mungkin kita, kalau kita memiliki sesuatu yang sama, waktunya akan tiba saat kekurangannya akan mencemooh kita. Mungkin kadang ketika, bahwa orang yang memilikinya tidak selalu begitu sukses dalam urusan sampai pada kesuksesan bisnis. Kadang-kadang memasok sesuatu yang sangat nyata dalam kehidupan yang menghasilkan uang atau kesuksesan bisnis. Meskipun dia tidak tahu apa kekurangan sebenarnya, dan walaupun dia tidak memiliki cukup uang untuk membeli, dia tahu.

Kita semua dalam drama komedi dan tragedi hidup yang hebat, senyuman dan air mata, sinar matahari dan bayangan, musim panas dan musim dingin, dan pada saatnya kita mengambil semua bagian. Kita harus mengambil bagian kita, apapun itu, pada waktu tertentu, selalu berani dan dengan apresiasi yang tinggi atas setiap kesempatan. Kewaspadaan yang tajam setiap saat saat permainan berlangsung. “Pintu masuk” yang bagus dan “jalan keluar” yang bagus berkontribusi kuat pada peran yang pantas dilakukan. Kita tidak selalu bisa memilih seperti halnya rincian jalan masuk kita, tapi cara bermain kita dan cara keluar kita semua, kita semua bisa menentukan. Ini bukan siapa-siapa, tidak ada kekuatan yang bisa kita menyangkal. Hal ini  dalam setiap kehidupan manusia, jika dapat dibuat memang paling mulia, namun rendah hati mungkin harus dimulai, atau betapapun rendah hati itu tetap atau ditinggikan mungkindan biasa terjadi sesuai dengan penghakiman konvensional.

Bagi saya, kita berada di sini untuk mewujudkan realisasi diri melalui pengalaman. Kita maju dalam tingkat dimana kita memanipulasi dengan bijak segala hal yang masuk ke dalam kehidupan kita. Hal demikian membuat jumlah total pengalaman hidup kita. Mari kita menjadi berani dan kuat di hadapan setiap masalah, karena menyajikan diri dan membuat yang terbaik dari semuanya rahmatallil’alamin.. Mari kita bantu hal-hal yang bisa kita bantu. Marilah kita tidak terganggu atau lumpuh oleh hal-hal yang tidak dapat kita bantu. Allah yang agung dari semua orang melihat dan memanipulasi hal-hal ini dengan sangat bijak dan kita tidak perlu takut atau bahkan mempedulikannya.

Untuk hidup setinggi-tingginya dalam segala hal yang berhubungan dengan kita, untuk mengulurkan tangan sebaik mungkin kepada orang lain untuk tujuan yang sama ini. Untuk membantu meluruskan kesalahan yang melewati jalan kita dengan cara menunjukkan kesalahan kepada cara yang lebih baik, dan dengan demikian membantu dia menjadi kekuatan untuk selamanya, tetap berada di alam selalu manis dan sederhana dan rendah hati, dan karena itu kuat, untuk membuka diri sepenuhnya dan menjaga diri kita sebagai saluran untuk Kekuatan Ilahi. Untuk bekerja melalui kita, untuk membuka diri, dan untuk menjaga wajah kita selalu terhadap kepada cahaya-Nya. Mencintai segala sesuatu dan untuk berdiri dengan takjub atau takut tidak ada yang menyelamatkan. Kesalahan kita sendiri-lakukan, untuk mengenali kebaikan yang ada di hati tentang segala sesuatu. Menunggu ekspresi sesame manusia dalam kebaikannya. Cara dan waktu – ini akan membuat bagian kita dalam kehidupan yang besar dan belum dipahami sepenuhnya benar-benar mulia. Kita perlu berdiri dalam ketakutan tidak berarti, hidup atau mati, karena kematian juga menuju kehidupan. Atau lebih tepatnya, ini adalah transisi cepat ke kehidupan dalam bentuk lain. Menanggalkan pakaian usang dan mengenakan yang baru. Lebih baik menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan lingkungan di dunia pengalaman. Keluar dengan semua yang telah diperoleh dari sifat itu di dunia ini. Tapi tanpa hak milik. yang lewat bukan dari terang ke gelap, tapi dari terang ke terang. Mengambil hidup di tempat lain dari tempat kita tinggalkan di sini. Sebuah pengalaman untuk tidak dijauhi atau ditakuti, namun disambut dengan baik dengan cara dan waktu baik pula.

Semua kehidupan adalah dari dalam ke luar. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diulangi terlalu sering. Mata air kehidupan semuanya dari dalam. Ini menjadi kenyataan, akan lebih baik bagi kita untuk memberi lebih banyak waktu kepada kehidupan batin daripada yang biasa kita berikan kepadanya, terutama di dunia Barat ini.

Tidak ada yang akan membawa kita keuntungan yang melimpah seperti untuk mengambil sedikit waktu dalam ketenangan setiap hari dalam hidup kita. Kita membutuhkan ini untuk menghilangkan kecerdikan dari pikiran kita, dan karenanya keluar dari kehidupan kita. Kita membutuhkan ini untuk membentuk cita-cita kehidupan yang lebih baik. Kita membutuhkan ini untuk melihat dengan jelas apa yang kita berkonsentrasi dan fokus pada kekuatan pikiran. Kita membutuhkan ini agar terus berlanjut dan menjaga hubungan sadar kita dengan yang Tak Terbatas. Kita membutuhkan ini agar tidak terburu-buru dan tergesa-gesa dalam kehidupan.  Kita   tidak menjauhkan dari kesadaran kita tidak memiliki kekuatan. Untuk mewujudkan fakta ini sepenuhnya, dan untuk hidup di dalamnya secara sadar setiap saat, adalah untuk menemukan kerajaan Allah. Sesungguhnya kerajaan Allah yang berlaku  pada dasarnya adalah kerajaan batin. Kerajaan surga atau ketengan hanya dapat ditemukan di dalam. Hak ini dilakukan sekali untuk selamanya. Ketika kita menyadari realisasi kenyataan hidup di dalam diri kita. Sebenarnya kita pada dasarnya satu dengan Ilahi. Kita berupaya membuka diri terus menerus sehingga kehidupan bersama Ilahi dapat menjelaskan dan mewujudkan diri kita. Dengan cara ini kita masuk ke kondisi dimana kita terus berjalan bersama Ilahi. Dengan cara ini, kesadaran akan Tuhan menjadi kenyataan hidup dalam kehidupan kita. Pada tingkat di mana ia menjadi kenyataan, hal itu membawa kita ke dalam realisasi kebijaksanaan, wawasan, dan kekuatan yang terus meningkat.

 Kesadaran akan Tuhan dalam jiwa manusia ini adalah esensi, memang semua dan substansi dari semua agama. Ini mengidentifikasi agama dengan setiap tindakan dan setiap saat dalam kehidupan sehari-hari. Siapa yang tidak mengidentifikasi dirinya setiap dengan setiap tindakan kehidupan adalah agama hanya dalam nama dan tidak dalam kenyataan. Kesadaran akan Tuhan dalam jiwa manusia adalah satu hal yang diajarkan secara seragam oleh semua Nabi dan Rasul, oleh semua orang yang diilhami, oleh semua orang pengamat dalam sejarah dunia. Kapanpun, dimanapun negara itu, apapun agamanya, apapun perbedaan kecil yang bisa kita temukan dalam kehidupan dan ajaran-Nya. Sehubungan dengan ini mereka semua sepakat, ini adalah inti ajaran, karena ini juga merupakan rahasia kekuatan dan rahasia Sang Pengaruh abadi.

Inilah sikap anak yang diperlukan sebelum kita bisa masuk ke dalam kerajaan surga. Seperti yang telah dikatakan kebanyakan orang, “Kecuali kamu menjadi seperti anak kecil, kamu tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surga.” Karena kita kemudian menyadari bahwa dari diri kita sendiri kita tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi hanya karena kita menyadari bahwa itu adalah kehidupan Ilahi. Hal itu kekuatan yang bekerja di dalam diri kita, dan hanya saat kita membuka diri, bahwa hal itu dapat berhasil melalui upaya kita, karena kita dapat melakukan apapun kebajikan. Dengan demikian, kehidupan sederhana, yang pada dasarnya adalah kehidupan yang paling menyenangkan dan pencapaian terbesar dimasuki.

Di Timur, orang-orang berbagai kelas menghabiskan lebih banyak waktu dalam ketenangan, dalam kesunyian yang kita jalani. Beberapa dari mereka membawa hal ini sebisa sekuat mungkin kita lawan. Kita memberi begitu banyak waktu untuk kegiatan kehidupan luar sehingga kita tidak cukup waktu dalam ketenangan untuk membentuk cita-cita, kondisi spiritual, pemikiran, dan kondisi yang akan kita kenalkan dan terwujud dalam kehidupan terluar. Kita perlu menciptakan keseimbangan yang menyenangkan antara kebiasaan dalam hal ini dari dunia Timur dan Barat. Kita beralih dari ekstrem yang satu ke yang lainnya. Ini saja akan memberikan kehidupan yang ideal; dan itu adalah kehidupan ideal adalah kehidupan yang benar-benar memuaskan. Di Timur banyak orang yang berhari-hari duduk di tempat yang tenang, bermeditasi, merenungkan, mengidealkan, dengan mata terfokus pada perut mereka dalam kegembiraan spiritual, sementara karena kurangnya aktivitas luar, di perut mereka, mereka benar-benar kelaparan.

Di dunia Barat, pria dan wanita, dalam kesibukan dan aktivitas hidup. Kita biasa berjalan ke sana dan ke sana, tanpa pusat, tidak ada Fondasi untuk berdiri, tidak ada yang bisa mereka jangkar dalam hidup mereka, karena mereka tidak mengambil Waktu yang cukup memadai untuk mewujudkan apa pusatnya, tentang apa realitas kehidupan mereka. Jika orang orientas mau melakukan renungannya, lalu bangun dan melakukan pekerjaannya, dia akan berada dalam kondisi yang lebih baik; Dia akan menjalani kehidupan yang lebih normal dan memuaskan. Jika di Timur akan membutuhkan lebih banyak waktu dari kesibukan dan aktivitas hidup untuk merenungkan, untuk meditasi, untuk menemukan yang ideal, untuk berkenalan dengan diri sejati, dan kemudian mengerjakan pekerjaan kita yang mewujudkan kekuatan diri kita yang sesungguhnya, kita akan jauh lebih baik, karena kita akan hidup lebih alami, kehidupan lebih normal. Untuk menemukan pusat kehidupan seseorang, untuk menjadi terpusat di alam yang Tak Terbatas. Adalah hal penting pertama dari setiap kehidupan yang memuaskan; dan kemudian pergi keluar, berpikir, berbicara, bekerja, mencintai, hidup, dari pusat ini.

Dalam bangunan karakter tertinggi, seperti yang telah kita pertimbangkan di atas. Ada orang-orang yang mereka merasa cacat oleh apa yang kita sebut keturunan. Dalam arti mereka benar, dalam arti lain mereka sungguh salah. Hal ini sejalan dengan pemikiran yang telah mereka tanamkan di dalam diri mereka melalui couplet (sepotong syair) di New England Primer: “Di jatuhnya Adam, kita telah berbuat dosa semua.” Sekarang, di tempat pertama, agak sulit untuk memahami Keadilan ini jika memang benar. Di tempat kedua, agak sulit untuk mengerti mengapa itu benar. Di tempat ketiga sama sekali tidak ada kebenaran. Kita sekarang berurusan dengan diri pada esensi yang sebenarnya, dan, betapa lamanya Adam, Tuhan itu abadi. Ini berarti kamu itu berarti saya; Artinya setiap jiwa manusia. Bila kita sepenuhnya menyadari fakta ini kita melihat bahwa turun-temurun adalah buluh yang mudah pecah. Kehidupan setiap orang ada di tangannya sendiri dan dia dapat membuatnya menjadi karakter, pencapaian, kekuatan, realisasi ilahi, dan karenanya, dalam pengaruh, apa yang dia kehendaki untuk mewujudkannya. Semua hal yang paling dia idam-idamkan adalah miliknya, atau mungkin menjadi begitu jika dia benar-benar sungguh-sungguh. Pada saat ia semakin naik ke cita-citanya, dan tumbuh dalam kekuatan dan pengaruh karakternya Ia menjadi teladan dan inspirasi bagi semua orang yang dengannya ia berhubungan. Sehingga melalui dia yang lemah dan goyah didorong dan diperkuat. Sehingga mereka yang memiliki cita-cita rendah dan tipe hidup yang rendah secara naluri dan tak terelakkan untuk memiliki cita-cita yang lebih baik. Mereka, dan cita-citanya tidak ada yang bisa dibangkitkan tanpa menunjukkan dirinya di luar kehidupannya. Ketika dia maju dalam genggaman dan memahami kekuatan dan potensi kekuatan pemikirannya, dia menemukan berkali-kali melalui proses sugesti mental. Dia dapat memberikan bantuan yang luar biasa kepada orang yang lemah dan berjuang dengan mengirimkannya sekarang dan kemudian, dan dengan terus-menerus menahannya pada pemikiran tertinggi, memikirkan kekuatan, kebijaksanaan dan cinta tertinggi. Kekuatan “saran”, saran mental, adalah salah satu yang memiliki kemungkinan besar untuk selamanya jika kita mau, tapi belajar ke dalamnya dengan saksama, memahaminya sepenuhnya, dan menggunakannya dengan secara baik.

Orang yang membutuhkan waktu yang cukup baik dalam mental yang tenang untuk membentuk cita-citanya, waktu yang cukup untuk membuat dan terus-menerus menjaga hubungan sadar dengan-Nya dengan yang Maha Esa tak terbatas, dengan kehidupan dan kekuatan Ilahi, adalah orang yang paling sesuai dengan kehidupan yang berat. Dia yang bisa pergi keluar dan berurusan, dengan kebijaksanaan dan kekuatan. Apapun masalah yang mungkin timbul dalam urusan kehidupan sehari-hari. Dia adalah orang yang membangun bukan untuk tahun-tahun tapi selama berabad-abad, bukan untuk waktu tertentu saja, tapi untuk selamanya. Dan dia bisa pergi keluar tanpa tahu ke mana dia pergi, mengetahui bahwa kehidupan Ilahi di dalam dirinya tidak akan pernah mengecewakan, tapi akan menuntunnya sampai dia melihat wajah-Nya secara langsung di akhirat kelak.

Cahaya Berlapis Cahaya Sebagai Petunjuk Mengenal Alam Semesta

Bagaimana caranya kita mengenal alam semesta ini ? Bagaimana kita tahu dengan benda-benda sebagai isi alam semesta ini ? Shubungan dengan itu Allah telah memberikan petujuk kepada kita tentang esensi dari alam semesta ini beserta benda-benda yang ada di dalamnya. Untuk itu mari kita melihat sebuah perumpamaan yang dinyatakan Allah di dalam Al Quran.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  [٢٤:٣٥

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Analisis:
Allah membuat perumpamaan, cahaya Allah, adalah seperti;

  1. Lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita.
  2. Pelita  itu di dalam kaca.
  3. Kaca itu seakan-akan bintang bercahaya  seperti mutiara.
  4. Dinyalakan dengan minyak dari pohon  zaitun

Interpretasi:

  1. Lubang yang tidak tembus berari lubang yang kedap cahaya. Ruang yang seperti itu merupakan ruang yang sangat gelap. Kita tidak bisa melihat dan tidak tahu apa-apa. Kegelapan ruang menimbulkan kondisi di mana manusia belum dan tidak mengetahui apapun. Belum ada sesuatu yang bisa disebutkan. Keadaan lubang gelap tanpa cahaya itu yang dimaksudkan  perumpamaan sebagai kebodohan atau ketidak tahuan manusia. Setelah dinyalakan pelita di dalamnya, maka manusia bisa melihat menyadari dan mengamati pelita
  2. Pelita(api) yang selalu menghasilakan cahaya. Pelita (api) yang selalu mengeluarkan sinar merupakan sebagai perumpamaan dari sifat sifat tiap benda, yakni selalu mengeluarkan pengaruh terhadap apa yang ada di sekitarnya. Sifat suatu benda sangat utama dan penting. “Sifat benda” itu meberikan reaksi terhadap apa yang ada disekitarnya. Sifat itu yang akan memberikan petunjuk dan penjelasan kepada kita. Dengan sifat itu melahirkan hukum sebab akibat atau hukum fisika lainnya.. Dengan mengenali adanya bermacam sifat dari benda-benda, kita bisa berbuat untuk memanfaatkannya. Misalnya sepotong besi, memiliki sfat “keras” kita manfaakan untuk berbagai keperluan tertentu yang berkaian dengan kekuatan dan kemampuan. Seperti Air memiliki sifat menanggalkan kotoran. Air menguap bila dipanaskan.  Gula menimbulkan rasa manis jika bersentuhan denga lidah. Pelita “besar” pada sebuah benda mengandung makna cukup banyak sifat yang terkandung di dalamnya. Semenjak manusia ada sampai saat ini selalu saja berjalan proses penelitian untuk menemukan sifat-sifat benda yang ada di alam raya ini. Fifat inilah yang selalu menjaga eksistensi tiap benda, sekaligus sebagai karakternya.  Sifat benda itu selalu dimanfaatkan dan mendatangkan banyak manfaat kepada manusia.
  3. Kaca sebagai rangka atau bingkai  pelita menentukan dan sebagai bentuk benda. Bentuk atau format pelita ditentukan oleh kaca. Misalnya jika kacanya panjang, pendek, bulat, persegi, besar atau kecil maka seperti itulah bentuk pelita. Kaca pelita itu bagaikan bintang mengeluarkan cahaya seperti mutiara . Bintang itu mengeluarkan cahaya atau berkilau seperti layaknya mutiara. Karena bintang sangat jauh letaknya dari bumi, sangat sulit kita memahami soal bintang itu, maka bintang dikiaskan kepada mutiara yang mudah diinderai. Mutiara itu berkilau karena diterpa sinar matahari dan memantulkan cahaya yang menjadikannya berkilau. Bintang pun juga demikian, memantulkan cahaya yang berasal dari sinar mata hari. “Memantulkan“ cahaya berari hanya sedikit memberikan keterangan, yakni sekitar bentuk, warna dan ukuran benda-benda.
  4. Minyak merupakan cairan untuk menyalakan pelita. Pada minyak itu bercokol pelita.  Minyak   yang akan dibakar oleh pelita (api) sebagai perumpamaann dari zat yang dikandung oleh suatu benda, sebagai medium sifat benda. Minyak pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang mengandung arti bahwa asal usulnya tidak ditentukan oleh arah dan dan tempat. Misalnya zat air dibarat sama saja dengan zat air yang ada di timur, di utara dan di selatan. Benda “ada” di mana-mana, benda yang sama sifatnya juga sama. Minyaknya saja hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. “Hampir” menerangi terselip makna di dalamnya (sedikit), Artinya bawa keterangan tentang zat suatu benda tidak banyak…hanya menyangkut kandungan zat pada tiap  sesuatu, seperti air, kandungan zatnya H2O. Tapi perannya sangat penting terutama sebagai mewujudkan eksistensi dan medium dari sifat.

Cahaya berlapis Cahaya2

Sangatjelas realitasnya cahaya di atas cahaya. Selanjutnya Allah menegaskan lagi tujuan-Nya memberikan nur kepada langit dan bumi;

وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ [٥٧:٢٨

…” menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan”…

Cahaya sebagai Nur Allah menjadikan panca indera kita bisa berfungsi. Cahaya itulah yang memberikan ransangan atau stimulus kepada panca indera. Dengan cahaya kita lebih mudah memberikan respon untuk menjawab atu mengelola alam sekitar. Dengan adanya cahaya kita dapat melihat jalan. Cahaya dapat kita manfaatkan untuk mengenali apa yang ada di jalan atau apa yang ada di kiri dan di kanan jalan. Dengan cahaya itu kita dapat mengarahkan kemana kita mau berjalan (berbuat dan mengelola apa yang ada di alam raya ini). Jika cahaya tidak ada akan gelaplah alam semesta ini.

Dari penjelasan di atas kita dapatkan sebuah pemikiran, bahwa untuk  mengetahui  segala sesuatu (benda yang ada di langit dan di bumi) harus dengan “Cahaya Ilahi “. Cahaya di atas cahaya berarti  cahaya itu berlapis-lapis. Lapisan itu meliputi variable perumpamaan yang telah di uraikan di atas. Kita dapat mengenali setiap benda melalui 3 variabel sebagai manifestasi cahaya dari Allah. Secara sederhana dengan tegas kita nyatakan bahwa untuk mengenali benda-benda  secara sempurna harus melalui pengamatan terhadap bentuk, sifat dan Zat benda. Nur Allah yang meliputi apa yang ada sebagai sebuah system yang komponennya 3 variabel itu. Kita mengenali bentuknya saja belum cukup, mengenali sifatnya saja juga tidak cukup, mengenali zatnya saja juga belum cukup memadai. Makanya untuk kesempurnaan pemahaman kita tentang suatu benda harus mengenali ketiga dimensi benda  itu.

Allah membimbing kepada cahaya-Nya (mengenali benda-benda) siapa yang dia kehendaki. Pernyataan ini sangat universal. Berlku untuk semua manusia. Artinya muslim orang itu atau tidak,  Allah akan membimbingnya untuk memahami gejala dan fenomena yang ada di alam raya. Pernyataan itu berlaku bagi siapa saja yang ada berkehendak, dan berusaha sungguh-sungguh untuk itu. Siapa yang ingin tahu tentang suatu yang ada sebagai kebenaran. Kemauan dan kesungguhan syarat mutlah yang harus dipenuhi untuk mendapatkan bimbangan Allah. Siapa yang bersungguh-sungguh mengenali apa yang ada dia akan memperoleh keberuntungan, yakni ilmu.

Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Tujuan utamanya adalah agar manusia mudah memahami. Biasanya cerita yang panjang dan rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata disajikan dengan perumpamaan. Karena perumpamaan itu dimabil dari hal yang mudah diinderai dan mudah pula dianalogikan serta dimengerti. Di samping itu dengan perumpamaan kita bisa berpikir dan berpkir lagi. Dengan menggunakan perumpamaan kita akan lebih efektif dan efisien dalam kegiatan mengerti dan memahami.

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, karena nur-Nya ada dan meliputi apa yang ada dilangin dan di bumi. Tidak ada yang luput dan tidak ada pengecualian.

Alam Takambang Jadi Guru

Alam takambang jadi guru adalah pepatah yang berasal dari Minangkabau. Kalau dijadikan bahasa Indonesia, kira-kira menjadi ” alam terkembang (terbentang luas) dijadikan sebagai guru “. Dewasa ini, pepatah tersebut masuk dalam moto pembelajaran untuk guru. Entah kapan dimulai, yang jelas perangkat pembelajaran tersebut telah digandakan oleh banyak guru. Secara tidak langsung menyebarluaskan pepatah alam takambang jadikan guru. Nyata bagi banyak guru pepatah ini sudah familiar juga. Bahkan di Negeri Belanda juga sangat dikenal oleh pakar pendidikan di sana.

alam-takambang1 - Copy

Gerbang Universitas Negeri Padang- Sumatera Barat, Indonesia.
(Foto Jalius, arah dari dalam ke luar, menggunakan Axio Android)

Guru di daerah Sumatra Barat dan guru-guru penutur Bahasa Melayu pada umumnya akan langsung mengerti makna pepatah tersebut. Di Ranah Minang ungkapan tersebut sangat komunikatif. Sementara itu, mereka yang tidak mengerti bahasa Melayu dan bahasa Minang, hanya bisa mengira dan mendiskusikan pengertiannya kepada teman sejawat. Namun mereka tidak akan banyak menemui kesulitan untuk itu. Lagi pula konsep alam takambang jadikan guru sangat praktis dan universal. Cakupannya meliputi semua dimensi.
Pepatah Alam Takambang jadikan guru ini sangat dipahami oleh setiap orang yang berasal dari Sumatra Barat. Pewarisannya secara oral. Pepatah ini diajarkan turun temurun. Dewasa ini penyebarannya selain secara lisan juga melalui berbagai karya tulis, termasuk di dalamnya karya sastra. Pepatah atau ungkapan ini bermakna ‘agar kita belajar pada alam yang menyajikan berbagai fenomena. Alam terbentang luas senantiasa mengabarkan sebuah kearifan’. Sejatinya pepatah atau ungkapan filosofi ini mengandung makna, pertama menunjukan sikap seseorang terhadap tanggung jawab yang seharusnya ia dilaksanakan dalam rangka pengembangan potensi diri. Keduaungkapan ini bermakna menunjukan kepada kita apa sesungguhnya sumber dari pengetahuan, teknologi dan keterampilan. AlamTakambang yakni menujukan “sumber belajar” sekaligus sebagai “sumber ilmu” yang sesungguhnya, yakni sumber belajar yang sungguh-sungguh dapat memenuhi “kebutuhan kita semua” yang sifatnya selalu ada sepanjang zaman.

Alam diciptakan Allah untuk dimanfaatkan untuk beragam keperluan. Dapat dirinci, di antaranya sangat banyak pelajaran yang bisa diambil darinya. Karena kearifan para pemikir masyarakat Minangkamabu itu muncul ungkapan “Alam Takambang jadikan Guru”. Banyak sudah teknologi canggih yang kita gunakan sekarang ini mengambil prinsip kerjanya dari alam ini. Untuk itu kita selalu bersahabat dengan alam (lingkungan dimana kita berada) agar kita selalu dapat memetik “pelajaran” darinya.

Alam Takambang Sebagai Sumber Pengetahuan.
Alam Takambang jadikan guru pengertian yang paling pas untuk itu adalah “alam” (sama juga artinya dengan di dalam bahasa Indonesia alam) yang “Takambang” (membentang luas tanpa batas) ini atau alam raya ini dengan segala isinya. “Jadi“ diartikan dijadikan sebagai dan “guru ” ( sama dengan arti bahasa Inonesia ). “ Guru ” maksudnya adalah apa saja yang ada yang dapat kita pelajari atau memberikan pengetahuan kepada kita, atau apa yang dapat kita pelajari padanya. Maka guru disini bermakna luas, berlaku untuk semua baik berupa orang dan alam sekitar di segala tempat dan keadaan. Dengan kata lain maksud guru itu adalah sumber belajar dan atau sumber pengetahuan. Sebagai sumber belajar dan pengetahuan sangat baik untuk di sekolah maupun di luar persekolahan. Anak dapat belajar dirumah dengan buku dan internet, anak dapat belajar dengan binatang piaraan dan tanaman dikebun atau air yang mengalir disungai.

AECT (Association for Education and Communication Technology) menyatakan bahwa sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. Sumber belajar adalah bahan-bahan yang dimanfaatkan dan diperlukan dalam proses pembelajaran, yang dapat berupa buku teks, media cetak, media elektronik, narasumber, lingkungan sekitar, dan sebagainya yang dapat meningkatkan kadar keaktifan dalam proses pembelajaran.

Sumber pengetahuan adalah segala sesuatu yang tersedia di sekitar atau di lingkungan belajar yang berfungsi menyediakan aneka pengetahuan baik pengetahuan fiksika, sosial ataupun psikologis. Alm sekitar sebagai sumber pengetahuan juga berfunsi untuk membantu optimalisasi aktifitas belajar. Optimalisasi aktifitas belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar saja, namun juga dilihat dari proses pembelajaran yang berupa interaksi siswa dengan berbagai sumber belajar. Sumber belajar dapat memberikan rangsangan untuk belajar dan mempercepat pemahaman dan penguasaan bidang ilmu yang dipelajari. Kegiatan belajarnya dapat berlansung dimana saja dan kapan saja, dengan kata lain dengan sumber belajar yang bersifat sangat luas itu anak belajar tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Hal ini berarti bahwa bahwa alam sekitar yang dijadikan sumber belajar bermakna jauh lebih luas dan lebih bervariasi jika dibandingan “guru” dan perpustakaan di sekolah sebagai sumber belajar atau sumber pengetahuan. Dengan hal yang seperti itu semua orang akan mendapat peluang untuk belajar sepanjang hayat, karena didukung dengan ketersediaan sumber belajar sekaligus sumber ilmu dimana-mana. Hal ini juga mengandung makna bahwa seorang guru yang mengajar mengambil bahan pelajaran juga berasal dari alam takambang ini. Alam Takambang Jadikan Guru tantu saja merupakan sumber belajar yang maha lengkap, jauh lebih lengkap jika dibandingkan dengan sumber belajar pendidikan formal yang berupa pustaka, labortoriun dan work shop.
Belajar dengan alam takambang akan selalu serasi dan selaras dengan perkembangan anak, perkembangan ilmu dan teknologi. Karena belajar dengan alam takambang tidak akan ada dirumitkan oleh apa-apa saja, yang disebut dengan keterikatan, keterbelakangan, keterbatasan , kadaluarsa dan lain sebagainya. Alam Takambang dijadikan guru tidak jadi masalah terkait dengan jauh atau dekat objek, karena dengan bantuan teknologi banyak hal menjadi sangat mudah. Pemerataan mendapatkan pendidikan dan pengajaran, pemerataan peningfkatan mutu atau memperluas peluang dan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak ada masalah….yang penting penyesuaian penggunaan metodologi belajar atau pembelajaran.
Dengan prinsip-prinsip belajar dengan alam takambang akan menumbuhkan jiwa kemerdekaan, seseorang hanya patuh dan ta’at kepada kebenaran dan patuh dan hormat kepada kebajikan, bukan patuh kepada siapa-siapa kecuali kepada yang jujur atau berakhlak mulia.

Tujuan Hidup

Tujuan Hidup oleh Jalius HR Dosen Universitas Negeri Padang

 Apa Tujuan Hidup ?

       Pertanyaan tentang tujuan hidup sudah tidak terhingga ditanyakan orang. Terutama di dalam mata kuliah Filsafat dan agama. Bermacam-macam pertanyaan diajukan, misalnya, mengapa kita hidup ? atau  Apakah hidup kita  bertujuan? Apa tujuan hihup kita sesungguhnya ? Untuk apa kita hidup? dan lain-lain.

Banyak para ahli telah merumuskan tujuan hidup. Sebanyak buku yang saya abaca atau sebanyak ceramah yang saya dengar tentang tjuan hidup, setelah saya analisis, ternya belum ada yang pas.

Misalnya para ulama Islam menyatakan; “ Tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah (menyembah) kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. Ketentuan itu di dasarkan pada ayat Al Quran, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al- Qur’an Surat Adz-Dzaariyaat ayat 56 yang berbunyi: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia  melainkan supaya mereka menyembah-Ku” dan Surat Al-Baqarah ayat 21 yang mengatakan “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa”.

 Demikian juga para ahli Kitab menyatakan dengan nada yang sama tentang tujuan hidup manusia. Alkitab menunjukkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menjalin persahabatan dengan Allah.  Mereka menyandarkan argumentasi kepada beberapa kenyataan penting yang ada dalam Alkitab.

Allah adalah Pencipta kita. Alkitab mengatakan, ”(Allah)lah yang menjadikan manusia, dan bukan kita sendiri.”—>Mazmur 100:3; Penyingkapan [Wahyu] 4:11. Allah punya tujuan, atau kehendak, bagi semua ciptaan-Nya, termasuk kita.—>Yesaya 45:18. Allah menciptakan kita dengan ”kebutuhan rohani”, sehingga kita sangat ingin mengetahui makna kehidupan. (Matius 5:3) Ia ingin agar kebutuhan itu terpenuhi.—> Mazmur 145:16

Aristoteles di dalam bukunya yang berjudul Ethika Nikomacheia, atau Etika Nikomacheia, mencoba menjawab pertanyaan ini.  Argumen pertama Aristoteles adalah, bahwa setiap tindakan selalu mengarah pada tujuan tertentu, yakni yang baik itu sendiri di dalam bidang itu. Misalnya memasak. Memasak punya tujuan yang utama, yakni memasak secara baik, sehingga menghasilkan makanan yang enak. Menyanyi juga bertujuan untuk menyanyi dengan indah, sehingga bisa menghibur orang. Ini berlaku untuk semua tindakan manusia.

Aristoteles juga membedakan dua macam tujuan. Tujuan pertama adalah tujuan yang ada di dalam dirinya sendiri, yakni di dalam tindakan itu sendiri. Tujuan kedua adalah tujuan yang ada di luar tindakan itu sendiri. Contoh tujuan kedua adalah membersihkan pakaian, supaya pakaian terlihat bagus. Contoh tujuan pertama adalah, seperti diberikan Aristoteles, bermain alat musik flut, yang memberikan kepuasan pada dirinya sendiri.

Sebagai manusia, setiap orang juga punya tujuan tertinggi, yakni mencapai Eudaimonia. Biasanya, kata ini diterjemahkan sebagai kecukupan, atau kepenuhan hidup. Ini adalah tujuan tertinggi dalam arti ini merupakan tujuan terakhir manusia. Tidak ada lagi selain ini.

       Perlu analisis kembali.

Jika jika perhatikan kembali apa yang dinyatakan olrh para ulama Islam tentang tujuan hidup, mereka merujuk kepada ayat Al Quran “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia  melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, Ayat tersebut sesungguhnya menjelaskan tujuan penciptaan manusia oleh Allah. Allah menciptakan manusia tujuannya adalah untuk mengabdi atau menyembah. Artinya manusia harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkanNya, baik secara sukarela maupun secara terpaksa.

       Jika kita lihat dari sisi manusianya, “untuk mengabdi atau menyembah” adalah merupakan kewajiban bagi manusia. Mengabdi bukan bukan keinginan manusia, akan tetapai adalah kehendak sang pencipta. Manusia harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Misalnya manusia harus berjalan, harus berkata atau berkomunikasi, manusia harus makan, dan mausia harus melakukan banyak usaha untuk bereksistensi.

Menurut Aristoteles tujuan hidup adalah mencapai Eudaimonia yakni sebagai kecukupan, atau kepenuhan hidup. Artinya tercapainya Produk-produk usaha yang menunjang kelangsungan hidup manusia itu sendiri.

Tujuan hidup sesungguhnya adalah Bahagia.

Jika kita bicara tentang tujuan hidup manusia tidak lah terlalu sulit, asalkan kita mau mengerti apa yang ia usahakan. Tujuan selalu mengarah kepada hasil yang diharapkan. Setelah hasil diperoleh, manusia mau apa dengan penghasilannya itu. Jika manusia setiap hari sepanjang masa hidupnya selalu berusaha  ada produk yang dihasilkannya. Secara parsial dapat kita berikan contoh, becocok tanam di sawah, manusia mengharapkan perolehan berupa padi atau beras untuk dijadikan makanan. Hasil panen yang cukup dan melimpah juga sebuah harapan. Dengan berbagai produk usha mereka mengupayakan memenuhi berbagai keperluan untuk hidup.

Secara keseluruhan manusia selalu berusaha….mereka harus mengupaya mewujudkan keadaan yang kondusif setiap saat. Hidup pada kondisi yang selalu di sukai dan mendatangkan kenyamanan. Secara sederhana keadaan yang kondusif itu tidak lain adalah bahagia. Konsep bahagia adalah perwujudan dari situasi dan kondisi yang mengandung dua aspek utama, yakni rasa senang dan rasa aman. Perpaduan rasa senang dengan rasa aman tersebut menyebabkan tiadanya pilihan lainMuslim biasanya selalu mendambakan kebahagiaan itu untuk di dunia dan di akhirat.

Di dalam Al Quran dinyatakan dengan kata Hasanah;

فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً

Kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di Akhirat.

Untuk mencapai tujuan hidup itu ada dua hal yang perlu kita bedakan; yakni bahagia hidup di dunia dan bahagia hidup di akhirat. Untuk kita bisa bahagia jika hanya bahagia di dunia saja yang penting harus diusahakan adalah memenuhi (minimal) kebutuhan pokok dan menjalin hubungan social yang baik. Untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat manusia perlu menambahkan uapaya  menjalankan seruan Tuhan (agama)nya.

Konsep Pendidikan dan Pengajaran

Oleh Jalius. HR tenaga pengajar Universitas Negeri Padang.

Pendidikan merupakan sebuah konsep pekerjaan. Dalam konsep pendidikan  terdapat apa yang dikatakan mendidik. Mendidik mengandung makna yaitu serangkaian kegiatan yang harus dilakukan secara sistematis oleh seorang guru terhadap dan bersama anak didiknya. Tujuan yang ingin dicapai adalah anak sadar dan mau berperilaku sesuai dengan nilai dan norma masyarakat dimana anak tersebut berada. Sementara disisi lain pengajaran juga sebuah konsep pekerjaan. Dari konsep ini dapat dikeluarkan sebuah istilah kerja yakni mengajar. Secara sederhana mengajar disini diartikan sebagai serangkaian usaha-usaha yang dilakukan secara sistematis oleh seorang guru terhadap dan bersama anak muridnya. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah anak tahu tentang sesuatu dan terampil mengerjakan sesuatu.

Di sini titik awal dari suatu kekeliruan dapat kita ditemukan, yaitu mendidik dalam pengertian menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran anak untuk mau dan selalu berbuat atau berperilaku  baik, tentu saja sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat dikaburkan oleh pemahaman terhadap  pendidikan dalam pengertian memberikan sejumlah pengetahuan atau keterampilan kepada anak.

Pada masa orde lama kedua terminology tersebut sangat jelas dan sangat komunikatif dan reflektif. Maksudnya jika ada orang bicara tentang pendidikan, kebanyakan orang dapat mengerti maksudnya. Demikian juga jika ada orang bicara tentang pengajaran kebanyak orang akan musdah memahami maksudnya. Pengungkapanya sering bersamaan yakni pedidikan dan pengajaran. Bila disebut salah satunya, waktu saya masih duduk di sekolah dasar saja sudah bisa mengerti maksudnya. Orang –orang lain pun tidak sulit untuk saling mengerti.

Dewasa ini  terminology  pengajaran tidak popular, karena reduction. Sama halnya dengan istilah belajar dan mengajar, kedua istilah itu lebih komunikatif dan reflektif, telah direduksi oleh kebanyakan pakar pendidikan dengan istilah  pembelajaran. Hendaknya kita semua menyadari secara rasional bahwa mendidik dan mengajar konsepnya sangat berbeda. Tapi proses keduanya dapat dan sering saja bersamaan.

Dalam praktek mendidik dan mengajar kita akan menggunakan metoda dan alat bantu. Pendiakan dan pengajaran akan menggunakan metoda dan alat bantu yang berbeda. Untuk memperjelas persoalan ini akan saya kemukakan sebuah contoh. Barang kali setiap orang tua ingin putranya pandai shalat, maka beliau sang orang tua mengajar anaknya terlebih dahulu tentang bacaan shalat. Dalam waaktu beriringan anak juga diajarkan cara berwuduk.

Dalam proses belajar,  orangtua bisa saja membacakan kepada anaknya, satu kalimat demi  kalimat, kemudian diikuti oleh anaknya. Metode membacakan oleh orangtua dan didengarkan oleh anak, setelah itu diikuti dengan ulang mengucapkannya oleh anak. Setelah berapa lama, orangtua menyuruh anaknya menghafal bacaan shalat tersebut. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah agar anak hafal akan bacaan shalat. Disamping itu dapat saja berbarengan dengan mengajarkan kepada anak cara mengambil wudhuk. Pada tahap berikutnya orangtua    melakukan praktek shalat bersama anaknya. Setelah melalui beberapa kali pertemuan kegiatan belajar, akhirnya anak  pandai dan mampu mengerjakan shalat. Dalam hal ini mungkin saja anak sudah berusia 7 atau 8 tahun.  Dalam rentang waktu tiga atau enam bulan saja pengajaran tentang shalat yang dilakukan oleh orangtua selesai. Maka pelajaran shalat sudah dapat dinyatakan bahwa pengajaran tuntas. Pelajaran dinyatakan berhasil, karena anak telah hafal bacaanya dan bisa melaksanakan pekerjaan shalat secara baik..

Selanjutnya, sebagai umat islam shalat harus dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Orangtua harus berupaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran anaknya  supaya selalu mau  mengerjakan shalat setiap hari bila waktu shalat telah tiba. Jadi usaha-usaha kearah itu dinamakan mendidik..

Contoh lain adalah, orangtua  mengajarkan kepada anaknya cara membersihkan halam rumah (linkungan). Mungkin yang akan diawali dengan mengumpulkan sampah  dangan alat bantu berupa sapu lidi dan kerajang sampah. Sampah yang telah terkumpul dibuang ketempat yang telah tersedia. Kegiatan lain yang dilakuakan adalah mencabut rumput dan lain sebagainya, kemudian membuangnya ketempat pembuangan sampah. Akhirnya pekarangan atau halaman rumah  menjadi bersih.

                            menyapu-halaman

Hanya satu kali atau dua kali pertemuan saja materi pelajaran berhasil disampaikan secara tuntas, anak mampu membersihkan halaman rumah. Sekarang muncul pertanyaan usaha apa yang harus dilakukan supaya anak mau selalu membuang sampah ketempat yang telah disediakan ?

Penulis yakin bahwa orangtua bisa memahaminya dengan cara baik bahwa konsep mendidik dan mengajar  berbeda, metoda dan alat yang digunakan juga berbeda, tentu saja ada aspek-aspek yang sama.  Jika kita melaksanakan pengajaran seperti contoh diatas di rumah atau di sekolah metoda yang kita gunakan boleh saja antara lain , metoda ceramah, metoda diskusi, metoda eksperimen dan yang lain. Sedangkan alat bantu adalah media dan alat peraga.

Lain halnya dalam kegiatan mendidik, baik di sekolah di rumah atau pun di dalam masyarakat, metoda yang digunakan adalah berita gembira dan kabar petakut (basira dan nazira ). Berita gembira disampaikan kepada anak adalah, jika seseorang selalu berbuat kebajikan semua orang akan menyenagi kita. Tuahnpun akan memberikan pahala. Selaliknya jika kita sering berbuat yang jelek berikanlah kabar petakut. Siapasaja yang berbuat jeleh semua orang akan membenci kita….Demikian juga tuhan akan marah kepada kita, baik di dunia dan juga di akhirat kelak. Sedangkan alat Bantu yang digunakan dalam mendidik adalah hukuman dan ganjaran. Khususnya dalam mendidik anak, jika anak yang rajin mengerjakan atau berperilaku yang baik diberi ganjaran. Ganjaran tersebut bisa saja bentuknya sederhana misalnya sebuah pujian dan bisa pula yang lebih komplit, misalnya hadiah berupa barang atau jabatan terhormat.

Sebaliknya, jika terhadap anak yang nakal atau tidak mau berbuat kebaikan diberikan padanya hukuman. Hukuman bisa berada dalam rentangan yang paling ringan sampai kepada yang paling berat penderitaanya…Biasanya hukuman atau sangsi sangat efektif diberkalukan terhadap anak asalkan tidak melampaui batas. Dalam hal memberikan sangsi boleh saja sangsi berupak hukuman mental atau hukuman fisik. Hukuman fisik (kekerasan) pada anak tertentu dan unruk jenis kesalahan tertentu ada kalanya sangat penting…..asalkan tidak dilakukan secara beringas.

Jadi dalam proses mengajar kemampuan guru atau seni guru menggunakan metoda dan alat bantu atau media sangat dituntut dalam hal kesesuaian dan ketepatannya. Penting sekali di perhatikan dalam kegiatan mendidik baik dirumah atau pun di sekolah adalah bentuk-bentuk perilaku anak. Dibina perilaku yang baik dan dicegah perilaku yang jelek dengan menggunakan metoda dan alat bantu pendidikan yang tepat seperti yang telah disebutkan tadi. Kedua metode itu diharapkan jangan sampai melewati batas kewajaran.

Demikian semoga dpat dipahami secara baik.

Syi’ah Dahulu dan Sekarang

Tulisan ini sengaja dihadirkan di sini dalam rangka menjelaskan sebuah kata (terminologi) yang telah dinista oleh sebagian Muslim, yakni kata “Syi’ah”. Penistaan itu dengan berbagai ungkapan seperti Syi’ah itu sesat dan menyesatkan. Kata Syi’ah kita temukan di dalam Al Quran di antaranya adalah di dalam surat As Saffat ayat 83.

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِۦ لَإِبْرَ‌ٰهِيمَ    ٣٧:٨٣

Sungguh Syi’ah-nya(Nuh) adalah Ibrahim.

     Sepotong Ayat di dalam Al-Quran kelihatannya seakan-akan dilupakan oleh kebanyakan cendekiawan Muslim. Ada di antara mereka yang mengucapkan perkataan kepada saya … ‘itu hanya permaian kata’ .., tidak perlu kita serius membahasnya. orang yang berkata demikian berarti sensitiffitasnya sanga lemah dan girahnya sudah hilang.

Di dalam surat As-Saffat ayat 83 itu yang akan kita bahas di sini, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah “Syi’ah”-nya Nabi Nuh as. Bagi saya dan juga di sisi Allah walau hanya satu kata jangan dianggap enteng atau tidak berguna. Sebuah kata adalah penujuk suatu objek yang sederhana atau sebuah konsep yang rumit. Dari berbagai literatur yang saya abaca  (terutama tafsir), kata “syi’ah” berarti golongan atau kelompok dan di bagian lain ada yang mengatakan sebagai pewaris.

Jika kita jelaskan lebih lanjut dalam makna kelompok, Nabi Ibrahim as. sekelompok dengan Nabi Nuh as. yakni dalam arti  sama-sama sebagai Nabi dan Rasul. Kalau Nabi Nuh as beragama Islam makan Nabi Ibrahim as juga beragama Islam. Jika Nabi Nuh as. mengemban tugas mengembangkan syari’at Islam, maka Nabi Ibrahim as. Juga mengemban tugas yang sama, yakni sama-sama mengembangkan syari’at Islam. Ketentuan Ini bermakna (selanjutnya) bahwa Nabi Ibrahim as. mewarisi peran dan tanggung jawab yang  dijalankan oleh Nabi Nuh as.

sikap-yahudiKarena Nabi Ibrahim as. telah dinyatakan termasuk kelompok Nabi Nuh as. maka Nabi dan Rasul yang lain juga termasuk kelompok Nabi Nuh as yakni termasuk kelompok para Nabi dan Rasul. Dalam hal ini tentu mengandung konsekwensi selanjutnya, yakni bahwa Nabi Muhammad saw. juga sebagai ‘Syi’ah-nya‘ Nabi Ibrahhim as. dan Syi’ahnya Nabi Nuh as. Dalam hal ini tentu saja semua Nabi selalu mewarisi syaraiat dan tanggung jawab yang sama di tengah-tengah umat.

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

 Sungguh Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Al Baqorah 123 (Wasiatnya juga sama).

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi, maka ajaran yang di sampaikan oleh Rasululah juga menjadi tanggung jawabnya. Semua ulama mengemban tugas warisan yakni mengembangkan ajaran agam Islam.  Pada gilirannya tentu semua Muslim menerima warisan beliau yakni Syari’at Islam.

Persoalan lain yang perlu dipahami adalah, bagi kebanyak orang Islam mengakui ada kata “Syi’ah” sebagai sebuah konsep  di dalam al Quran…Seperti yang sering saya ingatkan di media sosial (Facebook), di dalam surat As-Saffat ayat 83; Kata “Syi’ah ” itu tentu maknan baik. Sementara itu muncul pula “konsep Syi’ah” sepeninggal Rasullah dalam pengertian lain, kata mereka (banyak cendekiawan Muslim) “Syi’ah” itu sesat dan menyesatkan atau mengandung makna tidak baik.
Berikut ini penulis kutipkan bebeapa pengertian Syi’ah yang berkembang setelah bermetamorfosis. Penulis mengambilnya dari website Belajar Isam, belajar Islam mengambil sumber dari  Dakwatuna.com                                                                                                             pengertian-syiah
Sehubungan dengan keterangan di atas itu, berarti telah terjadi prubahan. Maka kita coba hubungkan dengan sikap Yahudi yang diterangkan Allah di dalam ayat berikut ini;

يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّۭا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ٥:١٣

Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya (Al maidah 13)

Jelas sekali bentuk penistaannya, konsep Syi’ah dirubahnya dari kelompok orang yang baik-baik (orang-orang yang beriman dan bermal Shaleh) atau terminologi bernilai baik (+) ke pada terminologi bermakna jelek (orang-orang yang menentang Allah dan Rasul). Artinta salah suai penggunaan kata atau Istilah.

Di samping adanya perubahan makna, terjadi pemotongan fakta sejarah….mereka hanya memulai pengakuan terhadap konsep syi’ah hanya setelah meninggalnya Rasulullah, saw. Fakta sejarahnya dimulai dari sang tokok yakni Imam Ali ra. Padahal didalam Al Quran ceritanya semenjak nabi Nuh as.

Muslim itu harus konsisten dengan semua makna perkataan Allah di dalam Al Quran….jangan sampai ada kata atau konsep dan pengertian yang ada di dalam Al Quran dirubah. Dalam perkataan lain Muslim tidak sewajarnya mengucapkan; ”Itu syi’ah dahulu”….dan ” Ini Syi’ah sekarang “.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orangorang yang diberi ilmu oleh Allah)

Masya Allah.

 

Konsep Syi’ah di dalam Al Quran

Tulisan ini sengaja dibuat dalam rangka menanggapi pemikiran yang berkembang di kalangan cendekiawan Muslim yang menyatakan bahwa Syi’ah itu bukan Islam dan sesat. Syi’ah itu sesat dan menyesatkan. Berbagai buku, majalah, surat kabar, media cetak lainnya serta vidio telah beredar secara luas untuk menyatakan Syia’h itu sesat. Sangat banyak para da’i dan mubaligh di atas mimbar secara lantang mengatakan kesesatan syi’ah itu. Mereka menyatakan Syi’ah itu berdasarkan fakta sejarah  semenjak Imam Ali ra. Itu artinya ada pemotongan rentangan sejarah. Seakan mereka lupa bahwa Syi’ah sudah dinyatakan oleh Allah semenjak Nabi Ibrahim as. Hal ini dapat juga dilihat di dalam Al Quran.

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ

Dan sesungguhnya  Syi’ah-nya (Nuh) adalah Ibrahim. (As Shaaffat 83)

Kata “syi’ah” di dalam ayat tersebut  mengandung dua arti; pertama bermakna kelompok. Jika seseorang masuk kedalam kelompok tertentu, berarti bahwa sifat, keahlian dan keterlibatannya dalam kegiatan yang ditekuni kelompok terebut amat mantap. Karena biasanya seseorang tidak dimasukan ke dalam satu kelompok kecuali setelah memenuhi kriteria tertentu dan telah melalui seleksi. Jika seseorang termasuk kedalam kelompok orang yang beragama Islam, berarti dia telah diakui memenuhi ketentuan yang berlaku di dalam Islam. Demikian juga halnya dengan seseorang yang mejadi anggota kelompok Ikatan Dokter Indonesia, maka berarti dia di bidang kecakapanya telah diakui oleh semua dokter yang ada di dalam organisasi.

Di samping itu (jika sudah diakui sebagai anggota kelompok) berarti juga dia sudah dekat dengan anggota kelompok yang lain. Dalam hal ini Ibrahim sebgai Nabi dan Rasul Allah bersama Nabi Nuh as dan juga Nabi dan Rasul yang lain.

Kedua; kata ‘syi’ah’ di dalam ayat tersebut sangat jelas maksudnya yakni pengikut atau yang mewarisi agama  Nabi Nuh as. yakni agama Islam. Sehubungan dengan pewarisan agama Islam tersebut, Allah menjelaskan lagi pada ayat yang lain, yakni;

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ

وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ٢:١٣٦

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. ( Al Baqarah 136)

Artinya agama Islam yang dikembangkan oleh para Rasulullah itu   pewarisannya secara turun temurun dari Nabi terdahulu kepada nabi berikutnya. Termasuk Nabi Muhammad SAW. Beliau Rasulullah Muhammad saw adalah pewaris agama Ibrahim as.

Ibrahim as telah dipilih oleh Tuhannya di dunia sebagai imam dan dipersaksikan di akhirat sebagai orang saleh. Ia dipilihNya Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, tunduk  patuhlah (masuklah ke dalam Islam)”, maka ia tidak menunda-nundanya, tidak ragu-ragu, tidak menyimpang, dan diterimanya  sepenuh hati  seketika perintah itu, Ibrahim menjawab, aku tunduk dan patuh kepada Tuhan semesta alam.

Inilah agama Nabi Ibrahim, agama Islam yang tulus dan tegas. Namun, Ibrahim tidak merasa cukup Islam hanya untuk dirinya sendiri saja, tetapi beliau tinggalkan juga Islam untuk anak cucu sepeninggalnya dan diwasiatkannya buat mereka. Ibrahim as mewasiatkan agama ini untuk anak cucu beliau dan Ya’qub juga mewasiatkan untuk anak cucunya. Ibrahim dan Ya’qub mengingatkan kepada anak cucunya akan nikmat yang diberikan Allah atas mereka karena telah  memilih agama Islam ini buat mereka;

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ٢:١٣٢

“ dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

Agama Islam ini sudah menjadi pilihan Allah untuk manusia. Maka, mereka tidak boleh mencari-cari pilihan lain sesudah itu. Dan kewajiban pemeliharaan dan karunia Allah atas mereka itu, ialah mensyukuri nikmat yang dipilihkan untuk mereka dan hendaklah mereka sportif terhadap apa yang dipilihkan Allah itu, serta berusaha keras agar tidak meninggalkan dunia melainkan dalam keadaan tetap memelihara amanat tersebut, “Maka janganlah kamu mati melainkan dalam memeluk agama Islam.Inilah kesempatan yang bagus, telah datang kepada mereka seorang rasul yang mengajak mereka kepada Islam, seorang rasul yang merupakan buah dari doa yang dipanjatkan moyang mereka, Nabi  Ibrahim as.

Berikut Allah mengingatkan lagi:

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ ٢:١٣٠  

“dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan Sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh”.

Makanya yang perlu dipahami adalah, bahwa Umat Islam sekarang  juga sebagai “Syi’ah-nya” (mengikuti dan mewarisi) agama Muhammad Rasulullah SAW. Mereka wajib menjadikan Al Quran sebagai kitab sucinya, karena Al Quran itu berisikan ajaran agama para Rasul sebelumnya. Allah menegaskan lagi di dalam Al Quran hubungan kita dengan Nabi Muhammad saw  sampai ke Nabi Ibrahim as;

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ ٣:٦٨

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Ali Imran 68)

Tapi sayang sekali kebanyakan cendekiawan muslim tahu tentang Syi’ah hanya ditujukan terhadap orang-orang  atau sekelompok orang yang dianggap sesat bentuk pengamalan agamanya, terhadap orang yang dianggap sesat dan menyesatkan. Kebanyakan cendekiawan muslim hanya tahu tentang “syi’ah” berdasarkan cerita dan berita yang ditulis oleh orang tidak mengerti dan memahami Al Quran secara baik. Bahkan secara historis semenjak Imam Ali ra. Seakan tidak pernah tahu tentang konsep  ‘syi’ah’ yang ada di dalam Al Quran ini. Jika mau mencermati secara hati-hati akan kelihatan salah konsep dan terminologi tentang Syi’ah. Ada kesengajaan pemotongan sejarah. Saya yakin itulah salah satu sikap Yahudi sepeninggal Rasulullah. Selalau saja membuat cerita yang berlawanan konsep dengan Al Quran. Pada sa’at Rasulullah masih hidup tidak seorangpun di antara mereka yang mampu berhujah atau berdebat denan beliau. Jika masih saja ada orang yang mengatakan Syi’ah sesat dan menyesatkan….berarti mereka bersama Yahudi sangat lantang menista seorang Nabi dan Rasul Allah, Ibrahim as.

syiah

Dewasa ini terjadilah suatu keanehan. Jika seorang cendekiawan dihadapkan kepada Al Quran, ada yang mau mengakui surat As-Saffat ayat 83 itu, tapi jika dihadapkan kepada sejarah yang beredar di amsyarakat mereka serta merta mencela syi’ah sebagai kelompok orang yang sesat dan menyesatkan. Dua konsep atau substansi tentang syi’ah yang saling berlawan. Mereka tidak sadar pikiran mereka telah menyalahi hukum Allah dan logika. Ingat Allah tidah pernah menjadikan dua hati dalam rongga dada manusia. Seekor ayam di dalam kandang , jika dilepas ke luar ia tetap sebagai ayam.

Namun demikian kita harus hati-hati memahami konsep dasar Syi’ah dan memberikan tuduhan terhadap bentuk implementasi (pengamalan) agama Islam yang salah oleh orang tertentu. Waspadalah terhadap orang selalu mengatakan syiah itu sesat dan menyesatkan. Karena mereka tidak mampu membedakan antara ‘syi’ah’ (sistem pewarisan) dengan  “dhalal” (perilaku menyimpang).

Kita hanya wajib percaya kepada ayat Al Quran itu…..

Riba Tidak dapat dihalalkan Dengan Mudharabah

Riba Tidak dapat dihalalkan Dengan Mudharabah; Oleh Jalius. HR Tenaga Pengajar UNP
Tulisan ini dibuat dalam rangka memeberikan kritikan terhadap fatwa sejumlah ulama yang menghalalkan Bunga Bank (riba) dan Asuransi terutama Bank dan Asuransi yang diberi label dengan kata “Syari’ah”. Karena kelebihan uang yang diterima oleh nasabah tidak termasuk ke dalam konsep jual-beli. Riba dan Jual-beli dua konsep yang saling berlawanan. Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Makanya harus ada ketegasan sikap terhadap kedua konsep tersebut.

Menurut bahasa atau lugat, pengertian Riba adalah ziyadah (tambahan) atau nama’ (berkembang). Sedangkan menurut istilah pengertian dari riba adalah penambahan pada harta dalam akad pinjam-meminjam. Dalam kata lain adanya imbalan atau pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal yang dipinjamkan.

Di dalam  Al Quran Riba dalam bentuk apa pun dan dengan alasan apa pun juga  dilarang oleh Allah SWT. Sehingga, hukum riba itu adalah haram. Firman Allah SWT dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan riba diantaranya yakni:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba Al-Baqoarah 275.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.  Al Baqoarah 278.

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Al Baqorah 276.
Allah tidak  akan merubah esensi suatu barang (ketetapan hukum) berdasarkarkan kesepakatan manusia atau fatwa para Ulama.

Terlebih dahulu mari kita mengambil dn memahami ayat al Qoran berikut ini sebaga sebuah hukum dalam mengambil sebuah keputusan.

مَّا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِّن قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ

ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُم بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
 Ayat di atas sengaja dikutip untuk mendapatkan landasan berpikir dalam rangka mengambil keputusan. Memang ayat tersebut tidak behubungan langsung dengan hukum riba atau jual beli. Namun sangat penting dijadikan pedoman dalam memahami staus sebuah hukum yang telah ditetapkan Allah. Jika Allah telah menetapkan suatu hukum tidak seorangpun berwenang mengubah statusnya misalnya dari haram menjadi halal atau sebaliknya.
Dari dalam ayat di atas tersebut kita dapat mengeluarkan dan mengambil  dalil untuk dapat dijadikan sebagai landasan berpikir. Pertama; Allah tidak menerima pernyataan seseorang atau para ahli dalam satu esensi dibangun dua konsep. Seperti diisyaratkan di awal ayat di atas. “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”, karena setiap manusia diciptakan Allah satu rongga dada untk satu hati. Kedua; dari kalimat “Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu (statusnya)“ atauDia tidak menjadikan anak-anak angkatmu (statusnya) sebagai anak kandungmu”. Esensi (hakikat) dari seorang istri tidak sama dengan esensi seorang ibu. Esensi dari anak angkat tidak sama dengan anak kandung. Walaupun diberikan pengakuan olek sesorang atau bersepakat sekelompok ulama untuk itu. Namun Allah tidak akan merubah ststus hukum yang berlaku di atasnya.
Dalam perkataan lain, Allah tidak akan menjadikan (merubah) esensi suatu barang menjadi esensi dalam bentuk  esensi yang lain berdasarkan “keinginan” seseorang atau kesepakatan banyak orang. Walaupun semua orang yang ada di dalam suatu masyarakat bersepakat untuk itu, walaupun dinyatakan pula dengan akte-notaris. Pada satu diri orang tidak akan dapat dinyatakan sekaligus atasnya status Istri dan juga status Ibu.

Demikian juga halnya dengan staus anak angkat dan anak kandung. Anak angkat sekali-kali tidak akan dapat dirubah emnjadi anak kandung dengan sebuah pernyataan atau kesepakatan.

Allah tidak akan merubah esensi  Riba menjadi jual-beli berdasarkarkan fatwa para Ulama.
Sebuah contoh yang sangat menarik yang terjadi di dalam masyarakat kita dewasa ini adalah banyak para ulama bersepakat menghalalkan Riba (manfaat tambahan dalam kegiatan utang-piutang atau pinjam meminjam). Seperti bunga yang ada di Bank Syari’ah dan kalim asuransi Lembaga Asuransi Syari’ah. Mereka menghalalkanya dengan menggunakan konsep “mudharabah”. Sehingga akibatnya Riba menjalani metamorfosis. Dalam hal ini Allah sekali-kali tidak akan merubah status Riba yang hukumnya haram menjadi halal hanya dengan fatwa ulama.
 Menurut istilah fiqih, Mudharabah ialah akad perjanjian (kerja sama usaha) antara kedua belah pihak, yang salah satu dari keduanya memberi modal kepada yang lain supaya dikembangkan, sedangkan keuntungannya dibagi antara keduanya sesuai dengan ketentuan yang disepakati. Artinya ada “keuntungan tambahan” yang yang disepakati. Keuntungan itu akan diterima oleh orang yang mnyerahkan modal. Jelas dalam hal ini tidak mengandung konsep jual beli.
Jika ada ulama yang berfatwa menghalalkan riba dengan alasan atau menggunakan konsep “mudharabah”,  itu di sisi Allah hanya sekedar perkataan belaka tidak memiliki kekutan hukum dari Allah… sebagaimana Allah telah menegaskan ”Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja” (Al Ahzab – 4 ). Artinya sebuah fatwa atau kesepakatan tidak akan merubah ketetapan Allah  merubah esensi riba (haram) itu menjadi halal.
Untuk mendapatkan tambahan (keuntungan) Allah telah menghalalkan jual-beli (tukar menukar barang yang berlainan jenisnya). Jual beli sekali-kali tidak sama dengan Riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Cermati dan fahamilah Firman Allah ini:

وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). Ar Room 39.
Rasulullah juga mengingatkan kita ….”Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)
Tidak ada sedikitpun wewenang manusia menetapkan hukum “haram” atau “halal” nya sesuatu. Sepenuhhnya adalah wewenang Allah.
Semoga berguna untuk pengembangan ilmu dan amal shaleh.