Konsep Syi’ah di dalam Al Quran

Tulisan ini sengaja dibuat dalam rangka menanggapi pemikiran yang berkembang di kalangan cendekiawan Muslim yang menyatakan bahwa Syi’ah itu bukan Islam dan sesat. Mereka menyatakan Syi’ah itu berdasarkan sejaran semenjak Imam Ali ra.  Seakan mereka lupa “syi’ah” juga dijelaskan di dalam Al Quran.

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ

Dan sesungguhnya  Syi’ah-nya (Nuh) adalah Ibrahim. (As Shaaffat 83)

Kata “syi’ah” di dalam ayat tersebut  mengandung dua arti; pertama bermakna kelompok. Jika seseorang masuk kedalam kelompok tertentu, berarti bahwa sifat, keahlian dan keterlibatannya dalam kegiatan yang ditekuni kelompok terebut amat mantap. Karena biasanya seseorang tidak dimasukan ke dalam satu kelompok kecuali setelah memenuhi kriteria tertentu dan dan setelah melalui seleksi. Jika seseorang termasuk kedalam kelompok orang yang beragama Islam, berarti dia telah diakui memenuhi ketentuan yang berlaku di dalam agam Islam. Demikian juga halnya dengan seseorang yang mejadi anggota kelompik Ikatan Dokter Indonesia, maka berarti dia di bidang kecakapanya telah diakui.

Kedua; kata “syi’ah” di dalam ayat tersebut sangat jelas maksudnya yakni pengikut atau yang mewarisi agama  Nabi Nuh as. yakni agama Islam. Sehubungan dengan pewarisan agama tersebut, Allah menjelaskan lagi pada ayat yang lain, yakni;

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ

وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ [٢:١٣٦

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. ( Al Baqarah 136)

Artinya agama Islam yang dikembangkan oleh para Rasulullah itu  secara pewarisan turun temurun dari Nabi terdahulu kepada nabi berikutnya. Termasuk Nabi Muhammad SAW. Beliau mewarisi agama Ibrahim as.

Ibrahim as telah dipilih oleh Tuhannya di dunia sebagai imam dan dipersaksikan di akhirat sebagai orang saleh. Ia dipilihNya Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, tunduk  patuhlah (Islamlah)”, maka ia tidak menunda-nundanya, tidak ragu-ragu, tidak menyimpang, dan diterimanya  sepenuh hati  seketika perintah itu, Ibrahim menjawab, “aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.

Inilah agama Nabi Ibrahim, agama Islam yang tulus dan tegas. Namun, Ibrahim tidak merasa cukup Islam hanya untuk dirinya sendiri saja, tetapi beliau tinggalkan juga Islam untuk anak cucu sepeninggalnya dan diwasiatkannya buat mereka. Ibrahim as mewasiatkan agama ini untuk anak cucu beliau dan Ya’qub juga mewasiatkannya untuk anak cucunya. Ibrahim dan Ya’qub mengingatkan kepada anak cucunya akan nikmat yang diberikan Allah atas mereka karena telah  memilih agama ini buat mereka,

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ [٢:١٣٢

“ dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

Agama Islam ini sudah menjadi pilihan Allah. Maka, mereka tidak boleh mencari-cari pilihan lain sesudah itu. Dan kewajiban karena pemeliharaan dan karunia Allah atas mereka itu, ialah mensyukuri nikmat yang dipilihkanNya agama ini untuk mereka dan hendaklah mereka sportif terhadap apa yang dipilihkan Allah itu, serta berusaha keras agar tidak meninggalkan dunia melainkan dalam keadaan tetap memelihara amanat tersebut, “Maka janganlah kamu mati melainkan dalam memeluk agama Islam.Inilah kesempatan yang bagus, telah datang kepada mereka seorang rasul yang mengajak mereka kepada Islam, seorang rasul yang merupakan buah dari doa yang dipanjatkan moyang mereka, Nabi  Ibrahim as. Berikut Allah mengingatkan lagi:

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ [٢:١٣٠  

“dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan Sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh”.

Makanya yang perlu dipahami adalah, bahwa Umat Islam sekarang  juga sebagai “Syi’ah-nya” (mengikuti dan mewarisi) agama Muhammad Rasulullah SAW. Mereka wajib menjadikan Al Quran sebagai kitab sucinya, karena Al Quran itu berisikan ajaran agama para Rasul sebelumnya.

Tapi sayang sekali kebanyakan umat Islam hanya tahu tentang “Syi’ah” hanya terhadap orang-orang  atau sekelompok orang yang dianggap sesat bentuk pengamalan agamanya. Kebanyakan cendekiawan muslim hanya tahu tentang “syi’ah” berdasarkan sejarah semenjak Imam Ali ra. Dan seakan tidak pernah tahu tentang konsep “syi’ah” yang ada di dalam Al Quran ini.

Namun demikian kita harus hati-hati memahami konsep dasar Syi’ah dan memberikan tuduhan terhadap bentuk implementasi (pengamalan) agama yang salah oleh orang tertentu.

Riba Tidak dapat dihalalkan Dengan Mudharabah

Riba Tidak dapat dihalalkan Dengan Mudharabah; Oleh Jalius. HR Tenaga Pengajar UNP
Tulisan ini dibuat dalam rangka memeberikan kritikan terhadap fatwa sejumlah ulama yang menghalalkan Bunga Bank (riba) dan Asuransi terutama Bank dan Asuransi yang diberi label dengan kata “Syari’ah”. Karena kelebihan uang yang diterima oleh nasabah tidak termasuk ke dalam konsep jual-beli. Riba dan Jual-beli dua konsep yang saling berlawanan. Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Makanya harus ada ketegasan sikap terhadap kedua konsep tersebut.

Menurut bahasa atau lugat, pengertian Riba adalah ziyadah (tambahan) atau nama’ (berkembang). Sedangkan menurut istilah pengertian dari riba adalah penambahan pada harta dalam akad pinjam-meminjam. Dalam kata lain adanya imbalan atau pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal yang dipinjamkan.

Di dalam  Al Quran Riba dalam bentuk apa pun dan dengan alasan apa pun juga  dilarang oleh Allah SWT. Sehingga, hukum riba itu adalah haram. Firman Allah SWT dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan riba diantaranya yakni:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba Al-Baqoarah 275.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.  Al Baqoarah 278.

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Al Baqorah 276.
Allah tidak  akan merubah esensi suatu barang (ketetapan hukum) berdasarkarkan kesepakatan manusia atau fatwa para Ulama.

Terlebih dahulu mari kita mengambil dn memahami ayat al Qoran berikut ini sebaga sebuah hukum dalam mengambil sebuah keputusan.

مَّا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِّن قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ

ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُم بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
 Ayat di atas sengaja dikutip untuk mendapatkan landasan berpikir dalam rangka mengambil keputusan. Memang ayat tersebut tidak behubungan langsung dengan hukum riba atau jual beli. Namun sangat penting dijadikan pedoman dalam memahami staus sebuah hukum yang telah ditetapkan Allah. Jika Allah telah menetapkan suatu hukum tidak seorangpun berwenang mengubah statusnya misalnya dari haram menjadi halal atau sebaliknya.
Dari dalam ayat di atas tersebut kita dapat mengeluarkan dan mengambil  dalil untuk dapat dijadikan sebagai landasan berpikir. Pertama; Allah tidak menerima pernyataan seseorang atau para ahli dalam satu esensi dibangun dua konsep. Seperti diisyaratkan di awal ayat di atas. “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”, karena setiap manusia diciptakan Allah satu rongga dada untk satu hati. Kedua; dari kalimat “Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu (statusnya)“ atauDia tidak menjadikan anak-anak angkatmu (statusnya) sebagai anak kandungmu”. Esensi (hakikat) dari seorang istri tidak sama dengan esensi seorang ibu. Esensi dari anak angkat tidak sama dengan anak kandung. Walaupun diberikan pengakuan olek sesorang atau bersepakat sekelompok ulama untuk itu. Namun Allah tidak akan merubah ststus hukum yang berlaku di atasnya.
Dalam perkataan lain, Allah tidak akan menjadikan (merubah) esensi suatu barang menjadi esensi dalam bentuk  esensi yang lain berdasarkan “keinginan” seseorang atau kesepakatan banyak orang. Walaupun semua orang yang ada di dalam suatu masyarakat bersepakat untuk itu, walaupun dinyatakan pula dengan akte-notaris. Pada satu diri orang tidak akan dapat dinyatakan sekaligus atasnya status Istri dan juga status Ibu.

Demikian juga halnya dengan staus anak angkat dan anak kandung. Anak angkat sekali-kali tidak akan dapat dirubah emnjadi anak kandung dengan sebuah pernyataan atau kesepakatan.

Allah tidak akan merubah esensi  Riba menjadi jual-beli berdasarkarkan fatwa para Ulama.
Sebuah contoh yang sangat menarik yang terjadi di dalam masyarakat kita dewasa ini adalah banyak para ulama bersepakat menghalalkan Riba (manfaat tambahan dalam kegiatan utang-piutang atau pinjam meminjam). Seperti bunga yang ada di Bank Syari’ah dan kalim asuransi Lembaga Asuransi Syari’ah. Mereka menghalalkanya dengan menggunakan konsep “mudharabah”. Sehingga akibatnya Riba menjalani metamorfosis. Dalam hal ini Allah sekali-kali tidak akan merubah status Riba yang hukumnya haram menjadi halal hanya dengan fatwa ulama.
 Menurut istilah fiqih, Mudharabah ialah akad perjanjian (kerja sama usaha) antara kedua belah pihak, yang salah satu dari keduanya memberi modal kepada yang lain supaya dikembangkan, sedangkan keuntungannya dibagi antara keduanya sesuai dengan ketentuan yang disepakati. Artinya ada “keuntungan tambahan” yang yang disepakati. Keuntungan itu akan diterima oleh orang yang mnyerahkan modal. Jelas dalam hal ini tidak mengandung konsep jual beli.
Jika ada ulama yang berfatwa menghalalkan riba dengan alasan atau menggunakan konsep “mudharabah”,  itu di sisi Allah hanya sekedar perkataan belaka tidak memiliki kekutan hukum dari Allah… sebagaimana Allah telah menegaskan ”Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja” (Al Ahzab – 4 ). Artinya sebuah fatwa atau kesepakatan tidak akan merubah ketetapan Allah  merubah esensi riba (haram) itu menjadi halal.
Untuk mendapatkan tambahan (keuntungan) Allah telah menghalalkan jual-beli (tukar menukar barang yang berlainan jenisnya). Jual beli sekali-kali tidak sama dengan Riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Cermati dan fahamilah Firman Allah ini:

وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). Ar Room 39.
Rasulullah juga mengingatkan kita ….”Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)
Tidak ada sedikitpun wewenang manusia menetapkan hukum “haram” atau “halal” nya sesuatu. Sepenuhhnya adalah wewenang Allah.
Semoga berguna untuk pengembangan ilmu dan amal shaleh.

Tahun Masehi, Tahun Kelahiran Nabi Isa as.

      Tahun “Masehi” adalah tahun kelahiran Nabi Isa  as, Nama tahunya  berasal dari kata Isa Al Maseh.  Tiap tahun masyarakat kita selalu memperingati atau menyambut “tahun baru” dengan berbagai perayaan. Ada tahun baru Hijriah dan ada pula tahun baru Masehi. Saya pernah menerima kiriman dari kerabat kerja E-Newsletter Disdik Sumbar ucapan “Selamat Tahun Baru Islam” (maksudnya tahun hijrah).,tapi sayangnya tidak pada tahun baru masehi, ada apa ?
Tahun Hijriah disebut juga Tahun Qomariyah, adalah sistim penanggalan (perhitungan hari dan bulan yang didasarkan atas peredaran Bulan [qomariyah]). Pemberian nama yang lebih populer saat ini adalah Tahun Hijriah (Karena umat Islam bersepakat menggunakan hitungan kalender menggunakan peristiwa Hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai nama hitungannya). Artinya awal tarikh hijriah sekarang dihitung  mulai dari hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, dari kota Mekkah ke kota Madinah (Saudi Arabia). Sebelumnya diberi nama tahun Gajah atau tahun lahirnya Muhammad.
        Sedangkan sistim penanggalan yang didasarkan pada waktu perputaran bumi mengelilingi matahari disebut sistim penanggalan Syamsiah atau disebut juga kelender Masehi. Karena awal hitungan sistem penanggalannya didasarkan pada  tahun kelahiran Nabi Isa Almasih. Nama bulan yang di pakai adalah mulai dari Januari  sampai  Desember. Yang dianggap hari hijrah ialah hari tanggal 8 Rabi’ul Awwal – bersaan dengan 20 September 622M. Penetapan tahun Hijriah dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khattab. Tepatnya pada tahun ke-empat ia berkuasa, yakni hari Kamis, 8 Rabi’ul Awwal 17 H.
     Tarikh atau kalender tahun Hijrah mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622 M. Menurut perhitungan, kalender Hijrah 11 hari lebih singkat dari tahun menurut perhitungan peredaran matahari (kalener Masehi). Sedikit informasi untuk menghitung bagaimana tahun hijriah (H) bertepatan atau sebaliknya dengan tahun masehi (M) maka dapat dipakai rumus M = 32/33 ( H+622 ) atau sebaliknya H = 33/32 (M-622). Penjelasannya tentang sistem penanggalan tahun Qomariah dan Syamsiah  diatas cukup baik dan jelas. Namun demikian ada  kekeliruan,  yakni pernyataan  kebanyakan orang-orang islam tentang (hanya) : “Tarikh tahun Hijrah mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622″.

Menggunakan kalender Masehi, kita dapat menentukan keadaan    Iklim dan cuaca serta pencatatan sistem administrasi.

Ada di antara mereka orang Islam yang tidak mengakui sistem penanggalan yang menggunakan kalender Masehi. Pernyataan itu tidak memiliki dasar atau dalil yang kuat dan justru tidak sesuai dengan Sunnatullah dan firmanNya. Ketetapan menolak itu sangat bersifat emosional dan  tidak populer. Pada hal  Allah sudah  menjelaskan dalam  Al-Quran surat Yunus ayat 5 sebagai berikut;

   هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan perjalannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
          Di dalam ayat tersebut sangat jelas mengandung kedua sistem perhitungan penanggalan dan perhitungan tahun yang telah di uraikan di atas, yakni sistem “qomariah” dan sistem “Syamsiah”. Sangat keliru lagi jika perhitungan  kalender masehi tidak diakui termasuk kedalam sistem perhitungan kalender  umat Islam. Kedua sistem perhitungan tanggal dan tahun tersebut sangat berguna dalam kehidupan muslim khususnya dan umat manusia umumnya. Sistem penanggalan masehi dapat digunakan untuk menentukan perhitungan iklim dan musim (misalnya) atau kepentingan pencatatan sistem administrasi. Sedangkan sistem penanggalan Qomariah sangat penting untuk menetapkan jadwal-jadwal ibadah (misalnya).
       Makna  yang terkandung di dalam ayat al-Quran tersebut jangan  dipilih hanya satu sistem saja. Coba anda bayangkan dalam kehidupan sehari-hari yang belaku sepanjang masa, hampir semua muslim dewasa ini mencatat tanggal lahir dan sitem administrasinya menggunakan kalender tahun Masehi. Itu apa maknanya ? Suka atau tidak itulah ketentuan Allah, baik dalam firmanNya maupun dalam ciptaanNya. Bias sekali perkiraan banyak orang, bahwa …”kebanyakan kaum Muslim tidak tahu dengan penanggalan tahunnya”…Sudahlah lupa dengan sistem penanggalan kalender Hijriah tidak pula mengakui penanggalan sistem syamsiah atau kalender masehi.
     Ingat,… nama atau kata “Masehi” juga sudah merupakan nama yang sesuai dengan Al Quran…..yang bersal dari;… Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Maseh putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Berarti nama tahun masehi adalah diambil dari nama Rasulullah “  Al Maseh ” atau Masehi.
Pemakaian kalender Masehi dikokohkan kenapa pengakuannya tidak ?
Baca juga berita terkait;
PBNU: Tahun Baru Masehi Milik Umat Kristiani, Umat Islam Tidak Baik Merayakannya
https://www.islampos.com/pbnu-tahun-baru-masehi-milik-umat-kristiani-umat-islam-tidak-baik-merayakannya-154928/

Do’a Anak Shaleh Yang Keliru

Tulisan ini  berjudul “Do’a  Anak Shaleh Yang Keliru “  ditulis dalam rangka menanggapi sebuah hadist yang tidak relevan dengan konteks Al Quran. Do’a anak Shaleh yang keliru itu dimaksudkan adalah jika seorang anak mendo’akan ibu bapaknya baik yang beriman, kafir, munafik atau fasik, seperti ayahnya Nabi Ibrahim as. Sebagaimana anak shaleh (Nabi Ibrahim as) dan Ayahnya (sebagai orang fasik juga musuh Allah). Namun semua ulama menerima kesahihan hadis ini, yakni hadist dari Abu Hurairah r.a. bahawa Nabi Muhammad s.a.w bersabda sebagai berikut:

 “Apabila mati seorang Bani Adam (anak Nabi Adam as)  putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau  do’a anak  yang soleh yang berdoa untuknya.”  (Hadith Sahih – Riwayat Muslim dan lain-lainnya)

Dalam hadis di atas (menurut mayoritas ulama) menerangkan bahawa apabila telah meninggalnya seseorang manusia, tidak ada  apa apa yang dapat menolongnya kecuali tiga perkara sahaja yakni;

  1. Sedekah Jariah. Segala bentuk sedekah bahan yang dikeluarkan oleh si mati semasa hayatnya seperti sedekah uang, makanan, harta benda lainnya. Dalam katogeri ini termasuk juga harta yang di waqafkan oleh si mati semasa hidupnya. Sebagai contoh seseorang itu mendirikan surau untuk kegunaan  masyarakat tempat tinggalnya. Selagi  surau itu di menfaatkan selama  itu pulalah pahala mengalir untuk si mati. Orang yang hidup atau waris boleh juga bersedekah bagi pihak si mati,  baik sedekah ituberupa  uang, harta peninggalan si mati atau  pewaris sendiri.  Yang pentingnya ialah niat  untuk bersedekah bagi pihak si mati. Amalan “waqaf” dalam Islam juga telah bermula semenjak zaman Rasulullah s.a.w. dan telah berkembang di negara-negara Islam hingga hari ini dan seterusnya, malah ada yang muncul membentuk “Kementerian Waqaf “

  1. Doa Anak yang Shaleh. Dan hadits terakhir ini sangat mahsyur dan patut di ketahui di hadits di atas itu “Do’a Anak Yang Shaleh/Shalehah” itu adalah salah satu amal yg tidak terputus, kalau tidak shaleh/shalehah maka jelas itu tidak termasuk, dan shaleh/shalehah disini tentu adalah anak yang beriman, taat kepada Allah dengan cara menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.

Selain dari doa anak anak yang soleh/solehah terhadap ibubapanya, doa antara sesama kaum muslimin pun bermenfaat untuk orang yang telah meninggal dunia.

Selain dari doa anak anak yang soleh/solehah terhadap ibubapanya, doa antara sesama kaum muslimin pun bermenfaat untuk orang yang telah meninggal dunia.

  1. Ilmu yang bermenfaat. “Ilmu yang berguna atau bermanfaat yang di ajarkan kepada orang lain,” yang tersebut dalam hadith ialah ilmu yang berhubung dengan ilmu agama dan ilmu kemajuan di dunia secara umum, sama ada melalui syarahannya, pengajaran kepada murid-muridnya dan orang ramai, atau melalui kitab-kitab dan buku-buku karangannya. Selagi ilmu yang diajarkannya atau kitab-kitab dan buku-buku karangannya masih wujud dan dinikmati faedahnya oleh umum maka ia akan mendapat pahalanya berterusan semasa ia hidup dan sesudah ia mati.

Di dalam hadis tertulis  di atas  ada kata  “Bani Adam”…… Bani Adam berarti anak cucu Nabi Adam as.  Artinya termasuk semua manusia. Di dalam  semua manusia itu ada kelompok muslim ada yang tidak muslim. Pada kelompok Muslim jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan non muslim. Jika penduduk dunia dewasa ini sekitar 7.5 milyar jwa, yang muslim cuma kurang dari 2,5 milyar.

Pada kelompok muslim hanya sedikit yang taqwa (beriman dan beramal shaleh), mayoritas mereka termasuk ke dalam kelompok munafiq atau fasik. Dengan demikian berarti bahwa sungguh sedikit orang-orang  Takwa atau orang-orang yang;  1) terpelihara dirinya untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya; 2) ke- insafan diri yg diikuti kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya; 3) kesalehan hidup). Hal ini berarti juga bahwa mayoritas manusia di dunia ini dalah kafir (termasuk kedalamnya musyrik dan fasik).

Sehubungan dengan itu (terhadap orang kafir, musyrik dan fasik), penting diingat dan dipahami secara baik  ketegasan firman Allah di dalam Al Quran yang menyatakan bawa:

  1. Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik.( At Taubah 55)

  2. Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (At Taubah 80)

  3. Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (At Taubah 84)

  4. Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.( At Taubah 113)

  5. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah 114)

Pada hal Allah  mengabulkan do’a anak yang shaleh “hanya jika”  kedua ibu dan bapaknya juga seorang muslim yang baik (tidak termasuk kelompok munafiq dan fasik). Bukan hanya ibu bapanya saja tapi juga muslim yang lain. Tentu hal ini berarti bahwa seakan akan Rasulullah tidak bijak mengeluarkan pernyataan dan seakan-akan Rasulullah lupa pada ayat Al Quran yang dikutip di atas. Tentu saja ini suatu yang mustahil pada diri rasulullah.

Seharusnya Hadist itu jika memang dari Rasulullah menyatakan “jika meninggal seorang muslim atau orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh”…. Ya betul, memang yang dapat menolong seorang yang beriman adalah yang tiga perkara tersebut….(dalam artian masih ada dosa-dosa yang diperbuatnya  memang di luar kemampuannya untuk menghindar).

Namun masih ada lagi yang lain yang dapat menolongnya di samping yang tiga perkara di atas, yakni “Syafa’at” dari Rasulullah  sendiri.

Kemudian di samping itu lagi….seakan rasulullah tidak tahu bahwa jumlah orang yang sungguh beriman dan beamal shaleh sangat sedikit. Sementara pernyataan (hadist) tersebut meliputi semua orang (Bani Adam). Jika demikian …ya…gembira juga orang munafik dan fasik dengan hadis tersebut, jika dia (seorang) yang meninggalkan anak yang shaleh. Hal yang demikian merupakan hal yang mustahil pada diri Rasulullah.

Apakah memang  “hadist” itu di akui sahih, jika memang ya diakui sebagai hadist sahih berarti juga pengakuan itu mengandung makna bahwa Rasulullah itu “kurang cerdas“. Terutama dalam hal mengambil kesimpulan dan menggeneralisasi realitas yang sedikit menjadi lingkup yang besar jumlahnya dan validitasnya tidak cocok.

 Demikian saja semoga bermanfaa.

Semoga Allah selalu menunjukan kita jalan benar….

Berpikir Positif dan Negatif Secara Proporsional

      Tulisan ini dibuat dalam rangka memberikan tanggapan kepada banyaknya cendekiawan yang suka mengagungkan konsep “berpkir positif”. Orang  orang yang selalu mengusung konsep “berpikir positif”  menafikan konsep “berpikir negative”.

Pengertian Bepikir Positif dan Negative   (Oleh Jalius HR tenaga pengajar Universitas Negeri Padang)

      Bepikir positif adalah proses bepikir yang ber-kecenderungan menerima apa-apa (informasi) yang telah dianggap baik, buruk, betul atau salah oleh kebanyakan orang atau masyarakat. Cara berpikir ini tidak melakukan  analisa yang lebih mendalam dan menerima tanpa syarat. Pada umumnya orang yang berpikir positif ditandai oleh suka menerima berbagai pendapat walaupun berbeda-beda. Biasanya mereka suka bersikap (menghargai pendapat orang) walaupun belum jelas betul atau salah, baik atau buruknya suatu pikiran atau informasi.  Bahkan orang yang seperti ini tidak suka mempersoalkan jika informasi itu mengandung permasalahan. Gejala ini dapat dilihat pada karya tulis, misalnya mereka membuat (mengutip) banyak pengertian yang dikemukakan oleh para ahli….tetapi tidak dianalisa satu persatu…. Terus mereka membuat sebuah rumusan lagi seolah-olah merupakan kesimpulan yang positif (sebagai pembenaran).

     Bepikir negative adalah cara berpikir yang ber-kecenderungan meragukan sesuatu yang telah dianggap baik atau betul oleh kebanyakan orang dan masyarakat. Dengan kata lain orang berpikir negatif sering bersikap skeptis. Orang yang berpikir negative sangat kritis terhadap informasi (kepercayaan) yang ada pada kebanyakan orang atau masyarakatnya. Informasi yang diterima dianalisa secermat mungkin, hingga ditemukan hal-hal yang meragukan atau terdapat kebathilan di dalamnya. Jika mereka berhadapan dengan pikiran orang lain, dia akan selalu mempertanyakan keabsahan dan kebenarannya. Orang yang berpikir negatif akan berpikir sampai jelas hakikat atau esensinya. Setiap pernyataan selalu dikontrol atu dihubungkan dengan informasi lain…..kemudian barulah ia mengambil keputusan menolak atau mengakuinya.  Bahkan sering berujung kepada penolakan terhadapa keyakinan seseorang atau masyarakat tersebut. Jika ada suatu ketentuan atau keputusan selalu di diterima dengan berbagai syarat atau kesangsian. Gejala ini sering ditemui pada orang-orang yang membantah teori yang telah ada dan memunculkan teori baru sebagai penggtinya.

      Di dalam Al Quran dijelaskan   sikap seorang Muslim yang beriman harus berpikir  positif dan negative secara proporsional. Nah kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhannya adalah merupakan contoh yang baik untuk itu.

            Memang dalam al Qur’an banyak dibahas masalah akidah, tentang keimanan dan  panjang lebar diuraikan contoh proses keimanan yang dilakukan Nabi Ibrahim as . Oleh sebab itu Nabi Ibrahim as dikenal sebagai Nabi aqidah, karena dalam  perjalanan spiritualnya Ibrahim mengalami proses yang sangat dinamis dan juga sangat mendasar. Dia berpikir dimulai dari sikap keragu-raguan.

      Seperti dijelaskan dalam surat Al Anbiyaa ayat  50-70. Dalam ayat itu dikisahkan proses Nabi Ibrahim membangun kesadaran masyarakatnya bahwa patung  (berhala) bukan Tuhan yang sesungguhnya, karena patung itu tidak bisa memberikan pertolongan, bahkan Ibrahim menunjukkan eksperimennya, dia hancurkan patung-patung itu  untuk membuktikan bahwa patung itu memang bukan Tuhan.

    Kemudian dalam surat Al An’am ayat 74-79. Di ayat itu diterangkan bagaimana Ibrahim mencari Tuhan dengan pendekatan yang jujur dan rasional, sehingga datang gelap malam tak ada satu pun manusia yang berkutik, tidak ada yang  memiliki kekuasaan lagi, semua kehidupan terhenti ketika datang gelap malam.  Kesimpulannya manusia dan alam semesta ini ditaklukkan oleh gelap malam dan pada saat gelap itu Nabi Ibrahim melihat sebuah bintang dan dia berkata inilah Tuhanku, tetapi bintang yang dipertuhankan itu lama kelamaan sirna. Dan Ibrahim melihat alternatif lain, ada bulan, inilah Tuhanku tapi bulan juga sirna .

   Apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim? Ternyata dia gagal mencari Tuhannya. Dia gagal mencapai Tuhannya, dia tidak bisa meraih Tuhannya dengan indranya  dengan  matanya, telinganya, tangannya  bahkan dengan fikirannyapun dia mencoba membayangkan macam apa wujud Tuhan, Ibrahim gagal.

    Rupanya memang Allah itu Al Ghaib, suatu yang misterius dan Ibrahim memang  gagal mencapai Tuhannya dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Tetapi untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tak ada, justru pengalaman Ibrahim selama ini mengarahkan pada kesimpulan, mesti ada sesuatu yang mengendalikan alam ini, Tuhan itu mesti ada. Tapi yang mana?  Akhirnya Nabi Ibrahim  bersikap  sebagaimana terungkap dalam Q S. 6 : 79.

     Tapi dari situ Ibrahim hanya bisa mengetahui bahwa Dia, Tuhan itu tetap Gaib. Oleh sebab itu siapa Dia, sebagai zat dalam al qur’an juga tidak dikenal. Istilah istilah keTuhanan dalam alqur’an , hanya nama- nama yang menjelaskan sifatnya saja, zatnya tidak diperkenalkan (Asmaul Husna 99).

        Kemudian ada lagi 2 nama yang  menjelaskan tentang Dia, tapi menjelaskan tentang kedudukannya saja, Rabbun dan Ilaahun. Rabbun artinya pemilik dan penguasa, pendidik, pemelihara, pengendali, yang menjelaskan kedudukan dan Ilahun berasal dari kata Laha dan Ilaha yang berarti sesuatu yang abdi, yang dicintai, yang dikejar, yang diingini, yang didamba, yang diharap.  Jadi zat itu sendiri apa disebutnya? Memang ada satu istilah yang dalam  Al-Qur’an yang banyak dipakai yaitu Allah sebagai nama zat. Allah itu selain sebagai Tuhan alam semesta, dalam Al-Qur’an dijelaskan pula sebagai sifat dan kedudukanNya, sebagian lagi ada ulama yang menjelaskan, ada lagi nama yang menjelaskan sebagai isim yaitu Allah. Tapi soal ini sebagian ulama ada perbedaan pendapat.

Pertama dari sejarah, kalau dilihat kamus lisanul Arab, istilah Allah itu berasal dari Ilah, yang dicintai, yang diagungkan, yang dijadikan tempat bergantung. Jika demikian apapun bisa menjadi Ilah; yang dicintai, yang dikejar, yang didamba, segala yang diingin dan diharap itu namanya Ilah. Tetapi apakah yang segala diharap itu menjadi Tuhan alam semesta? Ya tentu tidak. Jadi ada Ilah subyektif, manusia yang menginginkan, manusia yang mendambakan, manusia yang mengejar, maka sesuatu yang dikejar oleh manusia itu jadi Ilah bagi manusia itu sendiri. Tapi apakah arti Ilah dalam arti sesungguhnya?  Belum tentu secara obyektif. Oleh sebab itu Ilah itu bisa menjadi banyak, jama’nya adalah Alihah, dia bisa berupa benda-benda, orang atau  ambisi jadi Ilah. Sehingga di kalangan bangsa Arab ada Ilah yang dikejar oleh manusia tapi fiktif, sekedar sesuatu yang diinginkan manusia saja, dicintai, dikejar, didamba manusia. Tapi ada Ilah yang sesungguhnya, memang Dialah yang diinginkan dan dikejar oleh manusia dan penguasa alam semesta. Ilah dalam arti  sesungguhnya itu dalam bahasa Arab mendapat awalan alif lam, jadi Al-Ilah itu Allahu (dalam pengucapan) lam diidghomkan.

            Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Ilah itu isim jamad, nama dari zat Tuhan alam semesta ini. Tapi sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ini bukan nama  zat Tuhan,  karena Allah berasal dari kata Ilah, sedangkan Ilah dan Robb hanya menjelaskan kedudukan.

    Jadi arti Allah itu sesuatu yang sebenar-benarnya dicintai, dikejar, didamba. jika itu yang dipakai,  nama sifatnyau ada, nama kedudukannya ada, Ilah dan Robb, lalu  terbentuk kata Allah (Tuhan). Lalu nama zat mana? Sebagian ulama mengatakan nama zat tidak ada. Kenapa? Karena penamaan sesuatu berarti pembatasan.

    Sebuah pena akan menjadi pena ditangan saya, jika bentuknya begitu dan fungsinya begitu, tapi pena sudah tergiling mesin giling, hancur, dia sudah tidak disebut pena, sudah berubah bentuk, warna dan zat. Sedangkan zat Allah Maha Tidak terbatas. Zat Allah tidak ada yang pernah mengenali, sesuatu yang tidak terhenti, terbatasi. Mana bisa dinamai, jika dinamakan berarti membatasi.

            Dalam ilmu Keimanan, maka Dia Yang Maha Kuasa, Tuhan alam semesta hanya bisa kita kenal:

  1. Sifat-sifatnya saja

  2. Kedudukannya saja, statusnya sebagai ilah dan robb

  3. Soal nama zat, sebagian ulama mengatakan tidak ada nama zat, sehingga dalam mengenali Dia, ada sebuah istilah dinamakan Huwa, Dia, Hu.

    Istilah Allah sebenarnya sudah digunakan orang Arab sebelum turunnya Al-Qur’an. Ayah Nabi Muhammad namanya Abdullah (artinya hamba Allah). Jadi orang Arab Quraisy itu sudah mengenal istilah Allah.

Tapi Allah itu bagaimana menurut orang Quraisy? Allah itu artinya ilah,

sebenar-benar ilah. Tuhan alam semesta, yang Dia adalah bapak dari 3 orang dewa wanita (perempuan) yang disimbolkan dalam bentuk patung Latta, Uzza, Manna yang disembah itu. Lalu turunlah ajaran Islam dengan surat Al-Ikhlas. Surat itu untuk mengcounter Trinitas,  mengcounter konsep Trinitasnya Quraisy juga Nasrani. images

      Kelebihan manusia itu mampu memilih. Kesadaran intelektualnya, kesadaran moralnya meyebabkan manusia bisa memilih. Dengan naluri ber-Tuhan itu kadang-kadang diarahkan pada bukan Tuhan yang sesungguhnya, belum lagi selain itu ada unsur hawa (kecenderungan-kecenderungan, keinginan-keinginan). Keinginan-keinginan itu bisa membentuk manusia sehingga tidak ber-Tuhan kepada yang sebenar-benarnya Tuhan. Tetapi Tuhan yang secara adhoc (secara singkat) nampak memberikan pertolongan, memberi manfaat.

     Misalnya pertolongan Tuhan tidak terlihat secara langsung. Sementara jika punya uang, pertolongan uang itu bisa jelas dan langsung kelihatan, maka orang sering terpeleset lalu memper-ilah uang, memper-ilah materi, memper-ilah pejabat yang punya kekuasaan. namun secara hakekat, secara substansial apakah betul uang itu memberikan daya tolong yang efektif? Sebenarnya tidak. Ternyata naluri ber-Tuhan terkalahkan oleh kecenderungan-kecenderungan yang rendah dan kepentingan sesaat. Allah mengingatkan orang beriman dengan firmanNya:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka t idak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Qs. 6 116 Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. QS. 2. 130

Namun demikian salah seorang filsuf Perancis Rene Descartes menggunakan gaya Nabi Ibrahim as. dalam mengembangkan pemikirannya. Dia berpikir secara negatif kemudian membangun sebuah thesis secara positif.

Descartes, kadang dipanggil “Penemu Filsafat Modern” dan “Bapak Matematika Modern”, adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18.

Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir.

Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah:

“Aku berpikir maka aku ada”. (Ing: I think, therefore I am)

Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius, yang memengaruhi perkembangan kalkulus modern.

Ia juga pernah menulis buku sekitar tahun 1629 yang berjudul Rules for the Direction of the Mind yang memberikan garis-garis besar metodenya. Tetapi, buku ini tidak komplet dan tampaknya ia tidak berniat menerbitkannya. Diterbitkan untuk pertama kalinya lebih dari lima puluh tahun sesudah Descartes tiada. Dari tahun 1630 sampai 1634, Descartes menggunakan metodenya dalam penelitian ilmiah. Untuk mempelajari lebih mendalam tentang anatomi dan fisiologi, dia melakukan penjajakan secara terpisah-pisah. Dia bergumul dalam bidang-bidang yang berdiri sendiri seperti optik, meteorologi, matematika, dan pelbagai cabang ilmu lainnya.

Sedikitnya ada lima ide Descartes yang punya pengaruh penting terhadap jalan pikiran Eropa: (a) pandangan mekanisnya mengenai alam semesta; (b) sikapnya yang positif terhadap penjajakan ilmiah; (c) tekanan yang, diletakkannya pada penggunaan matematika dalam ilmu pengetahuan; (d) pembelaannya terhadap dasar awal sikap skeptis; dan (e) penitikpusatan perhatian terhadap epistemologi.

Karya filsafat Descrates dapat dipahami dalam bingkai konteks pemikiran pada masanya, yakni adanya pertentangan antara scholasticism dengan keilmuan baru galilean-copernican. Atas dasar tersebut ia dengan misi filsafatnya berusaha mendapatkan pengetahuan yang tidak dapat diragukan. Metodenya ialah dengan meragukan semua pengetahuan yang ada, yang kemudian mengantarkannya pada kesimpulan bahwa pengetahuan yang ia kategorikan ke dalam tiga bagian dapat diragukan.

1.Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi dapat diragukan, semisal kita memasukkan kayu lurus ke dalam air maka akan tampak bengkok.

2.Fakta umum tentang dunia semisal api itu panas dan benda yang berat akan jatuh juga dapat diragukan. Descrates menyatakan bagaimana jika kita mengalami mimpi yang sama berkali-kali dan dari situ kita mendapatkan pengetahuan umum tersebut

3.Logika dan Matematika prinsip-prinsip logika dan matematika juga ia ragukan. Ia menyatakan bagaimana jika ada suatu makhluk yang berkuasa memasukkan ilusi dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matriks.

Dari keraguan tersebut, Descrates hendak mencari pengetahuan apa yang tidak dapat diragukan. Yang akhirnya mengantarkan pada premisnya Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada). Baginya eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya, tidak dapat diragukan lagi bahwa pikiran itu sendiri eksis/ada.

Pikiran sendiri bagi Descrates ialah suatu benda berpikir yang bersifat mental (res cogitans) bukan bersifat fisik atau material. Dari prinsip awal bahwa pikiran itu eksis Descrates melanjutkan filsafatnya untuk membuktikan bahwa Tuhan dan benda-benda itu ada.

Keikhlasan dan Ketaqwaan Berkurban Yang Mengantarkan Kepada Ridha Allah

Tulisan ini merupakan sebuah tanggapan terhadap jargon PKPU tentang ibadah kurban,… “Kuantar Kau Kesurga

 

Dasar Hukum Berkurban

Dasar hukum pelaksanaan qurban adalah firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (Q.S.al-Kautsar/108: 1-3).

Dasar kedua adalah firman Allah SWT yang artinya: “Dan telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagaian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” (Q.S.22: 36).

Selain itu Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang memperoleh suatu kelapangan, tetapi dia tidak berkurban, janganlah ia menghampiri tempat shalat kami” (HR.Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Berdasarkan ayat-ayat dan hadits di atas, Abu Hanifah (Imam Hanafi) memandang bahwa menyembelih kurban hukumnya wajib. Kewajiban itu berlaku untuk setiap tahun bagi orang yang bermukim (menetap) dalam kampung. Akan tetapi jumhur (mayoritas) ulama yang terdiri dari Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) memandang bahwa hukum melaksanakan ibadah kurban bukan wajib, tetapi sunah muakkad (sunah yang dikuatkan). Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang artinya: “Bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda apabila kamu melihat hilal (awal bulan) Dzulhijah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, hendaklah ia menahan (diri dari memotong) rambut dan kuku-kukunya (binatang yang akan dikurbankan)” (HR Jamaah kecuali Bukhari dari Ummu Salamah). Jumhur ulama yang berpendapat bahwa kurban itu boleh tidak dilakukan didasarkan pada kalimat: “salah seorang yang melakukannya adalah lebih baik. Dalam hadits lain disebutkan secara tegas oleh Rasulullah SAW: “Ada tiga hal yang wajib atasku dan tatawwu (sunah) bagi kamu, yaitu: shalat witir, kurban, dan shalat duha”. (HR. Ahmad, al-Hakim, dan Daru Qutni dari Ibnu Abbas). Dengan hadits ini jumhur ulama memperjelas makna ayat yang mujmal (global) di atas dan menyimpulkan bahwa hukum melaksanakan ibadah kurban adalah sunah muakkad.

Sehubungan dengan pelaksanaan ibadah kurban tersebut, berbagai lembaga dan organisasi kemasyarakatan, juga organisasi politik selalu memanfaatkan momen berkurban itu mengajak dan merayu anggota masyarakat untuk melaksanakan kurban memelui lembaga dan oragniasai yang mereka dirikan. Salah satu di antaranya adalah lembaga PKPU. Lembaga ini sangat aktif sekali mencari peserta kurban dan menyalurkannya kepada pihak yang membutuhkan daging kurban. Salah satu upaya mereka adalah membuat spanduk ukuran besar yang di pajang pada baliho di berbagai tempat yang strategis. Di samping itu juga tidak luput bagi mereka membuat sebuah Website untuk menyebarkan promosi kerja dan merayu pelanggan.

 Ada salah satu  jargon yang mereka usung, yakni “ Kuantar Kau Ke Surga”. Jika saya baca dan  analisa jargon tersebut sangat tidak cocok dengan ketentuan syari’at yang ada di dalam Al Quran. Coba pahami beberapa hadist yang mereka kutib dan gambar yang mereka upload ke dalam Website mereka itu. Untuk itu dapat dilihat pada: http://www.kuantarkesurga.com/

Beberapa hadits dan gambar yang mereka upload itu antara lain:

Hadits Riwayat, Ibn Majah dan Tirmidzi

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban – di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.”

Daging Qurban

Hadits Riwayat, Ahmad dan ibn Majah

Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.

Hadits Riwayat, Ibn Majah dan Tirmidzi

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan, darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban – di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.”

Ku Antar ke Sorga

Adapun Hadist yang dikutip diatas sebagai dalil dan gambar imajinatif yang di upload sungguh tidak cocok untuk  menjelaskan maksud ayat yang menjelaskan soel keikhlasan dan ketakwaan.. Mereka lupa dengan landasan Syari’at yang paling pokok.

Padahal Allah berfirman di dalam Al quran:

 لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ

عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ [٢٢:٣

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. 22.37

 

Sangat jelas sekali pernyataan Allah tersebut, bahwa yang mengatarkan kita kepada Ridha Allah adalah keikhasan dan ketakwaan, bukan daging dan darah binatang sembelihan sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadist di atas.

Susila dan Tuna Susila

Susila dan Tuna Susila oleh Jalius HR Tenaga pengajar Universitas Negeri Padang

Tulisan ini bermula dari materi pelajaran Filsafat Pendidikan. Dari berbagai literatur yang saya baca saya temukan pembahasan tentang dimensi-dimensi hakikat manusia yakni dimensi kesusilaan.  Di samping itu juga tugas-tugas mahasiswa yang bersumber dari berbagai penulis juga demikian. Pengertian susila itu saya rangkum  sebagai berikut:

Kata kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapat awalan ke dan akhiran an. Kata tersebut berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Su dan Sila. Su berarti baik, bagus dan Sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma.Kata Susila selanjutnya digunakan untuk arti sebagai aturan hidup yang lebih baik. Orang yang susila adalah orang yang berkelakuan baik, sedangkan orang yang tidak susila adalah orang yang berkelakuan buruk.  Pelaku zina (pelacur) misalnya sering diberi gelar sebagai Tuna Susila.

Selanjutnya kata susila (decency) dapat pula berarti sopan, beradab, baik budi bahasanya. Dan kesusilaan sama dengan atau mengandung makna kesopanan. Dengan demikian kesusilaan lebih mengacu kepada upaya membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan dan memasyarakatkan hidup yang sesuai dengan norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Kesusilaan menggambarkan keadaan dimana orang selalu menerapkan nilai-nilai yang dipandang baik dalam kehidupannya.

Sama juga halnya dengan moral, pedoman untuk membimbing orang agar berjalan secara baik didasarkan pada nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat dan mengacu kepada sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat.

Dari rangkuman di atas dapat disederhanakan susila sebagai “orang yang berkelakuan baik”. Konsep susila itu pernah saya diskusikan bersama mahasiswa di dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan di Universitas Negeri Padang. Mula-mula saya bertanya kepada para mahasiswa peserta kuliah,  “pernahkah saudara membaca bahwa manusia itu adalah makhluk susila?” Mereka sepakat mengatakan “sering Pak”, jawaban mereka serentak.

Saya bilang ok…..Kemudian saya ajukan pertanyaan kedua, “apakah manusia itu baik semua?”. Mereka juga sentak menjawab “tidak Pak”. Kenapa tidak? Mereka menjelaskan satu persatu, bahwa banyak juga orang yang jelek. Kemudian saya menambahkan satu pertanyaan lagi, mana yang banyak orang  jelek dari orang yang baik? Mereka juga serentak menjawab “banyak yang jelek Pak”. Itulah yang kita maksud ke dengan tuna susila.

Kemudian saya menjelaskan persoalan manusia sebagai “makhluk susila” tersebut.

Walaupun kesusilaan itu dapat diberi skala dari  kurang baik sampai kepada yang sangat baik. Namun di dalam masyarakat kita hanya dikenal dua kutub perilaku saja yakni susila dan tuna susila. Pertama orang yang berperilaku baik (susila) biasanya disebut dengan akhlak mulia. Kedua orang yang berperilaku tidak baik (tuna susila), adalah perilaku yang tidak disukai oleh masyarakat. Di dalam kehidupan seharian masyarakat menggunakan kata tuna susila hanya tertuju kepada wanita yang selalu melakukan hubungan sex di luar nikah. Pada hal pengertian tuna susila (Immoral)  sangat luas meliputi semua perilaku yang tidak baik. Seorang yang pencuri juga termasuk tuna susila. Jika kita telusuri di dalam masyarakat, orang yang pencuri terdiri dari banyak sebutan. Misalnya menipu, merampok, mencopet dan ada juga yang disebut dengan nama korupsi. Makanya pejabat yang korupsi juga termasuk orang yang tuna susila. Jika ada seorang dukun yang kerjanya menyantet, maka dukun tersebut juga masuk kategori tuna susila. Hanya saja masyarakat kita tidak terbiasa menggunakan selain untuk wanita tuna susila.

Karena  itu manusia (perilakunya) tidak dapat kita simpulkan dengan sebuah pernyataan bahwa “manusia adalah makhluk susila”. Karena selalu ada dua kelompok bentuk perilaku manusia di muka bumi ini. Perilaku manusia yang baik dan yang jelek dalam jumlah yang sulit untuk diukur. Disamping itu juga perbandingan jumlahnya belum bisa dipastikan kelompok mana jumlahnya lebih besar. Persoalan susila atau tuna susila adalah merupakan jalan kehidupan yang dijalani seseorang. Kedua kelompok manusia itu selalu ada di dalam setiap masyarakat. Ada orang yang selalu berupaya agar ia jadi orang baik-baik (susila) dan sebaliknya mereka ada pula yang selalu menempuh jalan yang tidak diingini oleh masyarakat (tuna susila). Dengan kata lain menarik sebuah kesimpulan kita boleh hanya memilih salah satu dari dua fenomena yang ada.

Allah di dalam Al Quran telah mengingatkan kita dengan FirmanNya Qs.91:7 sebagai berikut;

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan (jalan) ketakwaan.

Itulah fitrah manusia, manusia dilahirkan pada masa bayi perilakunya belum bernilai apa-apa…. kedua orang tuanya yang memberi corak perilakunya terutama melalui pendidikan. Jelek atau baik perilaku manusia tergantung kepada (maunya) jalan yang  ditempuh di dalam kehidupannya. Kita dapat melihatnya di dalam masyarakat, ada orang menempuh jalan ketakwaan dengan segala sebutannya misalnya sebagai dermawan, pejuang, pendidik dan sebagainya. Demikian pula ada orang yang menempuh jalan pintas untuk cepat kaya, mereka merampok, korupsi atau manipulasi (itulah jalan kefasikan).

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. QS 91: 7-10

Politik Uang

Politik Uang, oleh Jalius. HR Tenaga Pengajar Universitas Negeri Padang

Politik Uang “Penting Untuk Perjuangan Umat Islam”

Tulisan ini dilatar belakangi oleh berbagai pendapat di dalam literatur tentang politik uang. Berbagai pendapat tersebut dapat saya rangkum sebagai berikut:

“Politik uang atau politik perut adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Pembrian biasa dilakukan menggunakan uang atau barang. Politik uang umumnya dilakukan simpatisan, kader atau bahkan pengurus partai politik menjelang hari pemilihan umum. Praktik politik uang dilakukan dengan cara pemberian berbentuk uang, perlengkapan sekolah, sembako antara lain beras, minyak dan gula kepada masyarakat dengan tujuan untuk menarik simpati masyarakat agar mereka memberikan suaranya untuk partai yang bersangkutanPolitik uang sebenarnya akan menyebabkan nilai-nilai demokrasi luntur. Oleh karenanya, jangan sampai ada pihak yang seolah-olah mendukung politik uang ini. Politik uang harus tidak ada “.

Yang menjadi persoalan bagi penulis adalah pengertian politik uang tersebut hanya yang bernuansa negatif dan berkaitan dengan pemilihan umum saja.  Padahal politik itu sifatnya netral, artinya nilainya tergantung kepada penggunaannya. Jika penggunaanya untuk kecurangan berarti bernilai negatif, demikian pula sebaliknya, jika penggunaannya untuk mencapai kebajikan maksimal maka politik akan bernilai positif.

Politik

Aristoteles dapat dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan kata politik. Kata politik ditancapkan pada pengamatannya tentang manusia yang ia sebut zoon politikon. Dengan istilah itu ia ingin menjelaskan bahwa hakikat kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah pasti akan melibatkan hubungan politik. Aristoteles melihat politik sebagai kecenderungan alami dan tidak dapat dihindari manusia, misalnya ketika ia mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika ia berusaha meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia berupaya memengaruhi orang lain agar menerima pandangannya.

Aristoteles berkesimpulan bahwa usaha memaksimalkan kemampuan individu dan mencapai bentuk kehidupan sosial yang tinggi adalah melalui interaksi politik dengan orang lain. Interaksi itu terjadi di dalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan konflik sosial dan membentuk tujuan negara. Dengan demikian kata politik menunjukkan suatu aspek kehidupan, yaitu kehidupan politik yang lazim dimaknai sebagai kehidupan yang menyangkut segi-segi kekuasaan dengan unsur-unsur kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy, beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation).

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem negara (kekuasaan) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusan (decision making) mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi terhadap beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah dipilih. Sedangkan untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijakan-kebijakan strategis yang menyangkut pengaturan dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation) dari sumber-sumber (resources) yang ada.

Untuk bisa berperan aktif melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, perlu dimiliki kekuasaan (power) dan kewenangan (authority) yang akan digunakan baik untuk membina kerjasama maupun untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses itu. Cara-cara yang digunakan dapat bersifat meyakinkan (persuasive) dan jika perlu bersifat paksaan (coercion). Tanpa unsur paksaan, kebijakan itu hanya merupakan perumusan keinginan (statement of intent) belaka.

Politik merupakan upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki.  Dalam implementasinya bahwa politik tidak hanya berkisar di lingkungan kekuasaan negara atau tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh penguasa negara saja. Dalam banyak aspek kehidupan, manusia sering melakukan tindakan politik, baik politik dagang, budaya, sosial, maupun dalam aspek kehidupan lainnya. Politik dapat dijalankan pada pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Melepasakan diri dari kekuasaan orang lain juga perlu politik. Demikianlah politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seseorang, organisasi atau seluruh masyarakat (public goals). Dengan kata lain politik menyangkut kegiatan berbagai kelompok, termasuk partai politik, korporasi, keagamaan dan kegiatan-kegiatan perseorangan (individu) lainnya.

Politik Uang.

Perlu juga dipahami secara baik, ” Politik uang” itu belum tentu bermakna negatif. Politik uang nilainya ditentukan oleh penggunaanya. Politik uang dapat merupakan bagian dari sistem kekuasaan yang dijalankan. Jika penggunaanya pada program jihad maka akan bernilai positif dan sebaliknya. Jika politik uang  dipahami secara populer adalah menyogok alias ruswah sungguh merupakan dalam pengertian sempit, sogok ( ruswah) salah satu bentuk politik uang yang di mainkan dalam pengertian negatif. Politik uang itu maknanya juga luas, hanya saja kebiasaan penggunaannya terbatas sesuai dengan tingkat pengetahuan si pemakai.

Politik pada dasarnya adalah berbagai upaya yang dilakukan untuk menjalankan kekuasaan atas sesuatu. Boleh jadi kekuasaan atas harta benda, kekuasaan atas tanggung jawab di dalam organisasi, bahkan sampai ke tinggkat negara. Hanya saja sering pemakaian politik pada tingkat negara saja. Pada hal jika dianalisis akan meliputi semua sistem kehidupan bermasyarakat (bernegara). Mengelola sistem keuangan untuk menunjang kegiatan sisitem yang lain tidak dapat dipisahkan. Pengelolaan keuangan merupakan bagian integral dari sistem sebuah lembaga (korporasi) atau kenegaraan.

Chairman Lippo Group Mochtar Riady (tengah) bersama Presiden Lippo Group Theo L Sambuaga (dua dari kiri) dan Mendikbud M. Nuh (kiri) saat menyerahkan “Bantuan bagi Mahasiswa Berprestasi” (BMB) 2013 kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta, Selasa (27/8/2013). Lippo Group memberikan BMB 2013 senilai Rp1,5 miliar kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). BMB 2013 merupakan salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) Lippo Group yang diberikan rutin setiap tahun.

Chairman Lippo Group Mochtar Riady (tengah) bersama Presiden Lippo Group Theo L Sambuaga (dua dari kiri) dan Mendikbud M. Nuh (kiri) saat menyerahkan “Bantuan bagi Mahasiswa Berprestasi” (BMB) 2013 kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta, Selasa (27/8/2013). Lippo Group memberikan BMB 2013 senilai Rp1,5 miliar kepada 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). BMB 2013 merupakan salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) Lippo Group yang diberikan rutin setiap tahun.

Makanya politik uang sangat erat kaitannya dengan pengelolaan keuangan secara tepat guna dalam rangka mencapai tujuan-tujuan perjuangan, untuk efektifitas dan efisiensi strategi yang dijalankan. Jika kita berjuang (berjihad) mengembangkan (membangun) Islam…kita akan terlibat dengan uang atau barang berharga lainnya. Mau atau tidak kita akan mengelola penggunaan uang sesuai kebijaksanaan yang tepat. Pengelolaan keuangan suatu, organisasi, korporasi, masyarakat atau negara meliputi penggalian sumber dan pendistribusian uang. Pengaturan penggunaan uang atau barang berharga lainnya sasarannya banyak sekali, seperti untuk kepentingan konsumsi, pendidikan, untuk membeli perlengkapan, biaya perjalanan, menciptakan loyalitas sosial (terutama) dan sebagainya. Tidak tertutup untuk kepentingan santunan orang terlantar, mangasihi orang yang tidak mampu. Bahkan diperintahkan untuk membujuk hati orang untuk ingin menganut Islam (mu’alaf misalnya). Artinya penggunaan uang (harta) tidak dapat dipisahkan dari perjuangan jihad (secara menyeluruh). Jika orang Islam mengharamkan politik uang, camkanlah Firman Allah di bawah ini:

 

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ

أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [٤٩:١٥

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. Hujurat 15

Sekaitan denga hai ini sebagian dari elit politik telah melaksanakan politik uang secara baik dan konsisten. Misalnya pada saat mengawali karir politik sering mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan keagamaan (misalnya pesantren), mereka menemui Kiyai dan memberikan sejumlah uang sebagai sumbangan kepada lembaga untuk mendapatkan simpati. Mengunjungi tokoh pemuda dan memberikan bantuan kegiatan. Mengunjungi sebuah desa dan memberikan bantuan untuk pembangunan. Hasil yang diharapkan tentu saja tertanam budi baik di dalam hati sang pemimpin dan anggota masyarakat. Dampak yang diprediksi adalah adanya balas budi untuk dukungan suara dan restu.

Hubungan Agama dengan Filsafat

Agama dan Filsafat tidak ada hubungannya, oleh Jalius HR

Agama dan filsafat memainkan fungsi yang  sangat penting dalam sejarah dan kehidupan kebanyakan manusia. Secara inheren tidak ada hubungannya. Namun dapat dihubungkan. Orang-orang yang mengetahui secara mendalam tentang sejarah agama dan filsafat niscaya ia memahami secara baik bahwa pembahasanya  sama sekali tidak membicarakan pertentangan antara keduanya dan juga tidak seorang pun mengingkari peran sentral keduanya. Sebenarnya yang menjadi tema dan inti perbedaan pandangan dan terus menyibukan para pemikir tentangnya sepanjang abad adalah bentuk “hubungan”   dan kesesuaian dua mainstream disiplin ini.  Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas apa itu agama dan apa filsafat serta bentuk hubungannya. Semoga pembaca tidak keliru menyikapinya.

 

Agama

Agama (Islam) dapat dipahami sebagai sebuah Risalah dari Tuhan (Allah) kepada manusia. Risalah yakni seperangkat informasi yang diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia melalui utusan atau Rasul.  Risalah itu mengandung berbagai informasi, terutama:

  1. Informasi mengenai perintah  dan larangan.  Perintah atau suruhan dan larangan ada yang berkenaan dengan sistem kehidupan bermasyarakat (muamalah) dan system ritual, ritus atau perayaan  (sistem beribadah) dan sebagainya.

  2. Berita; misalnya tentang sejarah masa lalu dan yang akan datang,

  3. Penjelasan apa yang baik dan yang buruk atau sebuah proses.

  4. Pemberitahuan, tentang apa yang ada di Langit dan apa yang ada di Bumi. Apa yang akan terjadi dan telah terjadi.

  5. Hukum atau kaedah-kaedah dan sebagainya.

Risalah ini berfungsi atau dapat digunakan oleh manusia sebagai:

  1. Pedoman untuk melakukan sesuatu atau menata sistem kehidupan dalam rangka mencapai kehidupan yang baik (harmonis) di dalam masyarakat dan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari.

  2. Sumber pengetahuan tentang alam raya saat ini dan masa salu, termasuk kisah-kisah umat masa lalu.

  3. Sumber hukum, dan sebagainya.

Risalah tersebut biasanya dihimpun dalam sebuah buku yang disebut  kitab-suci (misalnya Al-Quran). Kitab-suci dikembangkan dengan penjelasan (tafsir). Setelah seseorang membaca Risalah tersebut dalam rangka mendapatkan pemahaman dan mempercayainya, kemudian dia beramal sesuai dengan risalah itu. Maka orang tersebut dinyatakan telah beragama.

Ceramah Agama
Khotbah di Masjid salah satu bentuk penyampaian ajaran (pesan) Agama kepada jemaah.

Pada pemahaman seperti itu maka dapat dikatakan, jika seseorang disebut “beragama” berarti dia terlebih dahulu harus mendapatkan ilmu yang ada di dalam Kitab Suci dan berbuat (beramal) menurut pengetahuan tersebut. Berdasarkan pengamalan yang telah dilakukan dan berita pengalaman dari orang lain maka akan menumbuhkan sikap dan keyakinan tertentu. Jadi orang yang beragama adalah orang yang telah mengetahui risalah dan mengamalkannya. Dengan kata lain orang tersebut telah menjadikan Kitab Suci dari Tuhan itu sebagai panduan atau jalan hidup. Dia berbuat (beramal) sesuai dengan pesan yang ada di dalam risalah tersebut. Dia menjalankan hukum-hukum yang ada pada Risalah tersebut. Dari hasil memahami dan pengalaman pengamalan risalah akan menimbulkan keyakinan-keyakinan dan kepercayaan  seseorang.

Filsafat.

Berpikir berlangsung semenjak manusia ada di dunia. Proses berpikir walaupun dalam tingkat yang sederhana,  manusia pasti mempraktikkan hukum (pola) berpikir. Persoalannya….  Manusia itu kebanyakan tidak menyadari ia telah melakukan kegiatan berpikir (yang berpola). Dalam hal berpikir banyak cara yang dapat ditempuh. Berpikir yang seperti itu disebut berpikir alamiah atau logika naturalis. Manusia berkembang semakin kompleks. Perkembangan itu juga seiring dengan perkembangan permasalah kehidupan. Sejalan dengan itu manusia sering mengalami kesulitan yang komplek dalam melakukan olah pikir untuk menyelesaikan masalah.

Berpikir mengelolapengetahuan yang telah ada untuk menjawab persoalan
Berfilsafat merupakan proses menemukan pemahaman terhadap suatu realita. Memahami realita makasudnya adalah mengolah pengetahuan tentang suatu realita yang telah ada di dalam alam pikir.

Agar masalah yang komplek itu dapat terpecahkan secara baik dan betul, manusia berupaya membuat aturan-aturan  berpikir, hal inilah yang biasa dikenal dengan sebutan logika artificialis/logika buatan. Di dalam sejarah tentang aturan berpikir yang disusun secara sistematis berawal dari Yunani Kuno. Yunani orangnya pun telah mengusahakan  logika artificialis. Logika artificialis berkembang ke seluruh Dunia. Sampai sekarang dipelajari dimana-mana perguruan tinggi terutama dengan sebutan Logika (ilmu menalar). Penerapan Logika (ilmu menalar) pada disiplin tertentu melahirkan berbagai cabang filsafat, seperti Filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat moral dan sebagainya.

 Filsafat merupakan salah satu model cara berfikir cendekiawan Yunani. Bukan satu satunya model berpikir. Sebagai sebuah model, filsafat memiliki metode-metode dalam memahami sesuatu yang ada. Adapun metode berpikir tersebut antara lain, deduktif, induktif dan apriori atau spekulatif. Dari proses berpikir yang dilakukan itu akan lahir berbagai macam hasil berpikir yang disebut pemikiran. Dalam hal ini pemikiran yang dihasilkan itu disebut pemikiran filosofis. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa filsafat merupakan:

  1. Metodologi berpikir.

  2. Hasil berpikir (pemikiran).

Model lain dalam sistem berpikir untuk memahami apa yang ada di alam ini misalnya menggunakan Ilmu Mantik, Al Bayan atau Al Ma’ani. Bahkan dengan berpikir secara tradisional, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan manusia di muka bumi ini, dapat memahami realitas secara baik. Demikian pula hasil berpikir, banyak ilmu atau pengetahuan yang tidak merupakan pemikiran filosofis. Sehubungan dengan itu, kita tidak boleh serta merta mengatakan “filsafat” satu-satunya jalan untuk memahami realitas secara mensalam.

Hubungan  Agama dengan Filsafat

Sekarang muncul pertanyaan…. Apakah ada hubungan filsafat dengan agama?  Jawabannya adalah agama dan filsafat jelas tidak ada hubungannya. Namun filsafat dan agama dapat dan boleh dihubungkan. Agama dapat dipahami secara baik tanpa filsafat. Sudah jutaan umat manusia yang memahami agama Islam tanpa menggunakan filsafat. Memahami agama cukup dengan menggunakan akal dan pikiran. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya filsafat adalah salah satu motodologi dan pemikiran. Untuk dapat mengerti dan memahami sesuatu akal dan pikir memang memainkan peran sangat penting. Mulai dari sistem berpikir yang sederhana sampai kepada cara berpikir yang lebih komplek. Masyarakat Islam sering menggunakan Ilmu Mantik, Al Bayan atau Al Ma’ani, ilmu bahasa (Nahu dan Syaraf). Apalagi di dalam agama Islam dalam hal tertentu, manusia dituntut sami’na wa atha’na (dengar dan ta’at). Tentu saja dalam kasus yang seperti itu tidak dapat dimasuki oleh filsafat. Boleh jadi dalam hal-hal  lain kita dapat menggunakan filsafat untuk memahami ayat-ayat kitab suci (Al Quran). Pemikiran filsafat tentang masyarakat misalnya dapat digunakan untuk membantu memahami hukum yang ada di dalam kitab suci dalam menata kehidupan bermasyarakat. Tapi ingat hasil berpikir tentang ayat Al Quran itu tidak dapat di klaim sebagai pemikiran filosofi. Sebab filsafat dalam hal ini tidak menemukan (yang baru) akan tetapi menemukan bukti atau memperjelas konsep yang datang dari Tuhan.

Maka sangat kelirulah  cendekiawan muslim yang mengatakan bahwa Al Quran itu adalah kitab filsafat pendidikan yang paling besar.  Mereka kebanyakan tidak membedakan secara tegas antara pemikiran filosofis dengan  Risalah (berita dari Tuhan).  Bahkan mereka sering mengatakan “jika filsafat tidak dilandasi oleh agama tidak akan menemukan kebenaran sesungguhnya”. Padahal kebenaran bukan hanya agama saja, akan tetapi juga ayat-Ayat Allah atau fenomena alam yang ada di alam raya ini juga kebenaran yang tidak dapat dibantah adanya.  Jika berfilsafat tentang fenomena alam orang akan pasti menemukan kebenaran sesungguhnya walau tidak dipandu oleh agama. Misalnya dengan jalan mengamati dan merenugkan kehudupan umat manusia akan menemukan sebuah kebenaran; bahwa manusia hidup butuh makan dan minum.

Jika kita membuat sebuah ilustrasi, seperti sebuah spidol dan pembelajaran di sekolah. Apakah ada hubungan spidol dengan pembelajaran?  spidol dan  pembelajaran  jelas tidak ada hubungannya. Hanya saja kita boleh menghubungkannya dan boleh tidak.  Dalam proses belajar mengajar kita boleh (dapat) menggunakan spidol sebagai alat bantu untuk menulis di papan tulis. Gunanya untuk memudahkan anak menerima pesan guru atau pelajaran. Tanpa spidol proses belajar tetap dapat  berlangsung  secara baik. Spidol  hanya merupakan salah satu alat tulis yang dapat dipakai.

Semoga adapa manfaatnya.

 

Profesional

Oleh Jalius HRTenaga pengajar Universitas Negeri Padang.

Sebuah Istilah Yang Elitis

A qualified professional is someone who has completed a professional degree in one or more profession. The term also describes the standards of education and training that prepare members of the profession with the particular knowledge and skills necessary to perform the role of that profession. In addition, most professionals are subject to strict codes of conduct enshrining rigorous ethical and moral obligations. Professional standards of practice and ethics for a particular field are typically agreed upon and maintained through widely recognized professional associations. Some definitions of professional limit this term to those professions that serve some important aspect of public interest  and the general good of society.

Professional adalah sebuah kata telah menjadi istilah elit di dalam masyarakat dunia. Kata ini menjadi elit karena istilah ini selalu diusung untuk kepentingan tertentu.  Istilah ini ditujukan untuk membedakan keahlian seseorang atau sekelompok orang dengan kawan-kawannya yang lain. Pembeda itu bukan hanya sekedar penunjukan  sebuah kondisi dan stratifikasi, akan tetapi sekaligus mengacu kepada hak-hak istimewa di dalam masyarakat. Istilah profesional berasal dari kata profesi yang ditujukan kepada bidang pekerjaan tertentu yang harus dikerjakan dengan pengetahuan dan keterampilan khusus (keahlian). Bidang pekerjaan itu jika dikerjakan dengan  keahlian khusus dapat mencapai hasil yang maksimal, baik secara kuantitas maupun kualitas. Sementara kata profesional merupakan upaya menempatkan seseorang pada bidang pekerjaan  tertentu yang sesuai dengan keahliannya.

Jika kita telusuri kebelakang logikanya berawal dari; di dalam masyarakat di mana pun selalu ada orang-orang yang bagus kemampuan kerjanya. Mereka itu ditandai oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Biasanya dan memang seperti itu, mereka memiliki kemampuan bekerja yang lebih baik berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Biasanya spesifik pada jenis pekerjaan tertentu. Sebagai bukti kemampuan kerja yang bagus itu dapat dilihat dari efektivitas dan efisiensi kerjanya. Proses penyelesaian kerja membutuhkan waktu relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan kebanyakan orang lain. Artinya ada penghematan waktu. Misalnya orang yang professional pada fotografi, proses memfokuskan kamera pada objek yang difoto relatif lebih cepat dan tepat (sesuai dengan keinginan). Pada bagian lain dapat kita lihat cara mereka bekerja relatif lebih mudah, karena mereka tidak perlu banyak berpikir dalam menyelesaikan pekerjaannya. Mereka bekerja juga hemat tenaga dan biaya serta minimalis bahan yang digunakan. Hasil yang dicapai kualitasnya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan jika dikerjakan oleh orang lain.

Kemampuan kerja mereka yang bagus (ahli) itu menyebabkan banyak orang meminta tolong atau memakai jasa mereka untuk mengerjakan sesuatu. Maksudnya adalah untuk mendapatkan hasil yang bagus dan layak. Banyak orang memakai jasa mereka, karena mereka memang senang atau suka menolong orang. Sebaliknya orang yang memakai jasa mereka juga tidak merasa berkeberatan memberikan imbalan jasa pada mereka. Dalam keadaan seperti itu sangat kental nuansa suka sama suka tanpa ada aturan yang meningkat. Kondisi seperti ini menimbulkan dampak yang sangat luas terhadap sistem budaya atau peradaban bangsa.

Semakin banyak orang memakai jasa mereka, mengakibatkan mereka kekurangan waktu untuk dapat melakukan pekerjaan lain. Terutama pekerjaan yang berkaitan dengan perekonomian mereka. Waktu mereka banyak disita oleh orang lain yang minta tolong. Namun mereka juga mendapatkan banyak imbalan jasa. Karena memang masyarakat menyadari bahwa waktu mereka sudah tersita untuk menolong. Pada sebagian dari mereka terjadilah sebuah kondisi dimana kebutuhan hidup mereka sudah (hanya) berasal dari imbalan jasa dari pekerjaan yang mereka lakukan itu.

Hakikat dari profesional adalah penguasaan “pengetahuan dan keterampilan” yang memadai untuk mengerjakan satu atau dua bidang pekerjaan. Awalnya orang yang profesional, mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman. Dalam perjalanan hidup pengetahuan dan keterampilan yang sederhana (dasar) relatif cepat atau lambat berkembang kearah yang lebih baik. Pengetahuan dan keterampilan dasar yang telah dikuasai melalui pekerjaan secara rutin dapat meningkat efektivitas dan efisiensinya.  Kesempurnaan keahlian dapat juga dicapai jika melakukan latihan sampai pada target yang diinginkan. Seorang guru yang baru mengajar, ia hanya bisa sekedar dapat mengajar secara baik. Akan tetapi ia masih banyak mengalami kesulitan-kesulitan dalam berbagai hal, seperti menyiapkan bahan atau materi  pelajaran tertentu dan sebagainya. Namun setelah memperoleh banyak pengalaman dalam beberapa tahun berikutnya ia akan semakin mudah melakukan pekerjaan mengajar. Bahkan sampai pada taraf sangat mudah. Berbagai strategi dan metoda dikuasai secara lebih baik. Dengan keadaan seperti itu hampir semua anak didik mengakui dan menyenangi sang guru yang pintar mengajar.

Pekerjaan yang ditangani oleh orang-orang yang profesional memang sangat memuaskan hasilnya. Setiap pekerjaan yang dikerjakan oleh orang yang profesional dapat menghasilkan produk unggul dalam berbagai hal. Untuk mendapatkan produk unggulan itu didukung oleh, misalnya kecepatan dan ketepatan waktu, hemat biaya dan tenaga serta tidak membutuhkan banyak pikiran. Secara alamiah jumlah mereka sangat sedikit atau terbatas. Keadaan seperti itu dapat dipecahkan dengan cara belajar di sekolah, agar dapat menghasilkan tenaga dalam jumlah lebih besar. Melalui kegiatan magang dan kursus juga dapat menghasilkan tenaga profesional dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat.

Untuk menjadi profesional, seseorang perlu belajar, ada yang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan juga relatif singkat. Hal itu tergantung kepada jenis pekerjaan (ketrampilan). Baik melalui belajar di lembaga pendidikan formal, melalui pengalaman maupun melalui pelatihan. Profesional merupakan konsep yang meliputi hampir semua orang yang menguasai keahlian dalam pekerjaan, dalam arti tanpa batas jalur pendidikan dan bidang pekerjaan.

Professional konsep yang dikebiri

Dewasa ini istilah professional semakin ditingkatkan “gengsi”-nya. salah satu trik yang dijalankan adalah menambah persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat menyandang gelar profesional. Tujuan utamanya adalah memperjelas keistimewaan di dalam kelompok atau masyarakat. Sebelumnya kemampuan profesional dapat saja diperoleh dan disandang oleh orang memiliki keahlian pada bidang pekerjaan tertentu walaupun ia tidak pernah belajar di sekolah sampai ke Perguruan Tinggi. Artinya banyak orang yang bisa disebut sebagai profesional, asalkan saja dia memiliki keahlian dan mampu bekerja sesuai dengan keahliannya itu. Atau dapat di tambahkan, keahlian mereka dipakai dan dibayar oleh oleh pemakai jasa. Namun sekarang dicari-cari dalih agar kemampuan profesional hanya bisa disandangkan kepada orang-orang ditetapkan secara khusus, yakni dengan syarat tambahan. Syarat tambahan itu sungguh sangat memberatkan yaitu orang yang berusaha mendapatkan keahliannya melalui jalur pendidikan formal di Perguruan tinggi. Peningkatan gengsi itu diikuti pula dengan pemberian tunjangan khusus pada karyawan/pegawai, pada pegawai negeri sipil di Indonesia disebut dengan tunjangan profesi.

Menapaki tangga profesional
Menapaki tangga profesional

 

Untuk kepentingan itu kelompok orang yang profesional tingkat tinggi (biasanya di Perguruan tinggi) berupaya memaksakan kehendaknya itu. Kelompok mereka ini adalah orang-orang yang ada di Perguruan tinggi yang telah bergelar Profesor (Profesor = orang yang paling professional). Mereka merumuskan sebuah ketentuan bahwa orang yang profesional adalah orang yang bekerja, pekerjaannya itu sebagai mata pencahariannya. Sedangkan pengetahuan dan ketrampilan (keahlian) harus diperoleh melalui belajar di perguruan tinggi. Profesionalitas itu diakui dengan sebuah sertifikat atau ijazah. Pemikiran yang seperti itu disusun atau dikemas dengan berbagai macam analogi dan logika sebagai alasan. Pada akhirnya mereka menyodorkan agar bisa dijadikan sebagai undang-undang atau peraturan pemerintah. Jika seperti itu berarti orang yang profesional adalah orang (tamat perguruan tinggi) yang mengakui dirinya sendiri sebagai orang hebat atau kapabel di dalam masyarakat.

Sekilas memang persoalan ini “dianggap” sangat baik. Namun dibalik itu ada suatu hal yang sangat merugikan masyarakat sebagai dampaknya. Orang-orang yang bagus atau kapabel pada pekerjaan tertentu, kehebatan mereka  terbukti dan diakui oleh masyarakat tetapi mereka tidak berasal dari Perguruan Tinggi mereka tersingkir secara imperatif. Pada hal jasa mereka sangat/sama pentingnya dalam menangani suatu pekerjaan. Berarti juga memperketat persyaratan sebutan profesional menciptakan kondisi yang tidak adil. Terjadi sebuah diskriminasi dalam  masyarakat. Me-marginal-kan kelompok tertentu. Jika kita hubungkan dengan undang-undang sistem pendidikan di Indonesia, bahwa pendidikan dan belajar dapat diselenggarakan melalui tiga jalur yakni jalur formal, non formal dan informal. Jika orang yang belajar melalui jalur formal (sampai ke Perguruan Tinggi) memperoleh pengetahuan dan keterampilan (keahlian) berhak menyandang gelar profesional, tentu demikian pula halnya bagi orang belajar melalui jalur non formal dan informal. Persoalan sekarang adalah perlu pula semacam pengakuan secara formal, misalnya memberikan sertifikat untuk dinyatakan atau sebagai legalitas.

Seharusnya orang-orang yang berkiprah di perguruan tinggi (Profesor) mencari dan menggunakan istilah lain yang cocok dengan identitas mereka,  kepentingan untuk menyatakan tenaga profesional yang berasal dari Perguruan tinggi. Tujuannya agar masyarakat tahu bahwa ada tenaga professional yang berasal dari perguruan tinggi dan ada pula yang tidak. Semisal   “dokter”, sangat jelas bedanya dengan “dukun”.

Menurut pemikiran penulis tidak etis menjadikan milik bersama (banyak orang) menjadi milik pribadi atau kelompok. Istilah profesional tepat disandang oleh orang yang memiliki “keahlian tertentu dan mampu bekerja lebih baik”. Sementara soal bayaran sama saja antara kedua kelompok itu. Ingat istilah profesional bukan hanya sekedar menunjukan tingkat keahlian seseorang, akan tetapi lebih dari itu, menyangkut sumber ekonomi atau mata pencaharian dan juga sebagai alternatif yang lebih hemat bagi masyarakat. Disamping itu juga melekat status kehormatan.

Dewasa ini jika masyarakat menggunakan jasa tenaga profesional lulusan Perguruan Tinggi mayoritas masyarakat merasa berat dengan bayaran yang relatif tinggi jika dibandingkan orang-orang ahli secara pengalaman. Jika masyarakat berurusan kesehatan dengan dukun, mereka sangat senang tanpa ada beban perasaan yang memberatkan soal bayaran. Cukup dengan pemberian berapa sanggup/mau. Etika profesi mereka  juga memberatkan masyarakat. Seperti ogah mendatangi pasien ke rumahnya, betapa pun miskinnya mereka. sampai ke pelosok pedesaan. Di samping itu juga tingkat sosialistis profesional yang berasal dari Perguruan Tinggi kurang bersahabat dengan masyarakat khususnya kelompok menengah ke bawah.  Pendidikan di Perguruan tinggi secara tidak disadari telah melahirkan sikap individualis dalam masyarakat. Misalnya saja tenaga profesional dari perguruan tinggi secara enteng saja menyatakan di media massa orang yang melahirkan dengan jasa dukun tidak terjamin kebersihan, hal itu akan membahayakan kesehatan anak dan ibu. Ada juga yang lebih tidak etis lagi dengan kata-kata seperti ““Sebab, tukang urut tidak mengetahui anatomi tubuh anak. Tindakan yang dilakukan di luar medis juga dapat memperburuk keadaan anak,” jelas dokter muda, dr. Intania Imron.

Kata yang seperti itu telah menimbulkan image kesombongan dan pelecehan. Ada lagi “orang tua tidak pandai mendidik anaknya secara profesional”, digunakan sebagai dasar pemikiran dalam rangka mengembangkan lembaga pendidikan anak usia dini. Hanya saja ucapan yang seperti itu tidak lebih dari dalam rangka mempromosikan diri sebagai profesional. Namun di balik itu juga terselubung makna merampas pelanggan (hak orang lain).

Demikian, tulisan ini hanya sebuah refleksi terhadap perkembangan profesi.

Semoga bermanfaat.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.