Mendidik – Mengajar – Media Televisi


Terima kasih kepada semua kerabat kerja e-newsletter disdik Sumbar atas kiriman artikel yang berjudul Bila Media Televisi Tidak Bernilai Pendidikan.

Artikel tersebut ditulis oleh   Bapak Marjohan (BM). Saya senang  dan bangga dapat berkonsultasi  dengan beliau melalui E-Newsletter itu. Yang lebih menyenangkan lagi adalah beliau berkemungkinan besar sebagai seorang assessor.

Setelah saya membaca uraian artikel beliau, tanpa disadari saya langsung  berada dalam kesunyian merenung. Berfikir berulang-ulang, sambil berharap ada jawaban terhadap permasalahan yang beliau khawatirkan.

Sekarang saya mencoba memaparkan hasil pemikiran  yang diperoleh dari perenungan tersebut.  Dalam  artikel tersebut ada dua  terminology sangat  minimal untuk dipahami. Pertama apa yang  disebut dengan pendidikan dan kedua persoalan  pengajaran.

Pendidikan merupakan sebuah konsep pekerjaan. Dalam konsep pendidikan ini terdapat  apa yang dikatakan mendidik. Mendidik mengandung makna yaitu serangkaian kegiatan yang harus dilakukan secara sistematis oleh seorang guru terhadap dan bersama anak didiknya. Tujuan yang ingin dicapai adalah anak sadar dan mau berperilaku sesuai dengan nilai dan norma masyarakat dimana anak tersebut berada. Sementara disisi lain pengajaran juga sebuah konsep pekerjaan. Dari konsep ini dapat dikeluarkan sebuah istilah yakni mengajar. Secara sederhana mengajar disini diartikan sebagai serangkaian usaha-usaha yang dilakukan secara sistematis oleh seorang guru terhadap dan bersama anak muridnya. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah anak tahu tentang sesuatu dan terampil mengerjakan sesuatu.

Disini titik awal dari suatu kekeliruan dapat ditemukan, yaitu mendidik dalam pengertian menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran anak untuk berbuat atau berperilaku yang baik sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat dikaburkan oleh pemahaman terhadap  pendidikan dalam pengertian memberikan sejumlah pengetahuan atau keterampilan kepada anak.

Pada masa orde lama kedua terminology tersebut sangat jelas dan sangat komunikatif dan reflektif. Pengungkapanya sering bersamaan yakni pedidikan dan pengajaran. Bila disebut salah satunya, waktu saya masih duduk di sekolah dasar saja sudah bisa mengerti maksudnya. Orang –orang lain pun tidak sulit untuk saling mengerti.

Dewasa ini  terminology  pengajaran tidak popular, karena reduction. Sama halnya dengan istilah belajar dan mengajar, kedua istilah itu lebih komunikatif dan reflektif, telah direduksi oleh pakar pendidikan dengan terminology pembelajaran. Hendaknya kita semua menyadari bahwa mendidik dan mengajar konsepnya sangat berbeda. Tapi proses keduanya dapat saja sejalan.

Dalam prakteknya mendidik dan mengajar kita akan menggunakan metoda dan alat Bantu yang berbeda. Untuk memperjelas persoalan ini akan saya kemukakan sebuah contoh. BM barang kali ingin putranya pandai shalat, maka beliau mengajar anaknya terlebih dahulu tentang bacaan shalat. Boleh saja BM membacakanya kepada anaknya, satu kalimat demi satu kalimat, kemudian diikuti oleh anaknya. Setelah berapa lama, BM menyuruh anaknya menghafal (secara konvensional) bacaan shalat tersebut. Disamping itu dapat saja berbarengan dengan mengajarkan kepada anak cara mengambil uduk. Pada tahap berikutnya BM melakukan praktek shalat bersama anaknya. Setelah melalui beberapa kali pertemuan, akhirnya anak BM pandai dan mampu mengerjakan shalat. Dalam hal ini mungkin saja di usia 7atau 8 tahun dan dalam rentang waktu dua atau tiga bulan saja pengajaran tentang shalat yang dilakukan oleh BM sudah dapat dinyakan bahwa PBM berhasil atau pengajaran berhasil.

Selanjutnya, sebagai umat islam shalat harus dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari semalam. BM harus berupaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran anaknya supaya selalu (mau)  mengerjakan shalat setiap hari bila waktu shalat telah tiba. Jadi usaha-usaha kearah itu dinamakan mendidik (pendidikan).

Contoh lain adalah, BM mengajarkan kepada anaknya cara membersihkan halam rumah (linkungan). Mungkin yang akan diawali dengan mengumpulkan sampah  dangan alat Bantu berupa sapu lidi dan kerajang sampah. Sampah yang telah terkumpul dibuang ketempat yang telah tersedia. Kegiatan lain yang dilakuakan adalah mencabut rumput dan lain sebagainya, kemudian membuangnya ketempat pembuangan sampah. Akhirnya pekarangan atau halaman rumah BM menjadi bersih.

Hanya satu kali atau dua kali pertemuan saja materi pelajaran berhasil disampaikan dengan tuntas, anak mampu membersihkan halaman rumah. Sekarang muncul pertanyaan usaha apa yang harus dilakukan supaya anak selalu membuang sampah ketempat yang telah disediakan ?

Penulis yakin bahwa BM dapat memahaminya bahwa mendidik dan mengajar  konsepnya berbeda, metoda dan alat yang digunakan juga berbeda, tentu saja ada aspek-aspeknya yang sama. Sekarang yang akan dipersoalkan adalah media televisi digunakan untuk apa dan oleh siapa? Apakah BM akan menggunakanya untuk alat Bantu pendidikan atau untuk alat Bantu pengajaran ?

Dalam tulisan ini saya sampaikan kepada Kita semua termasuk rekan-rekan BM , kalau kita melaksanakan pengajaran seperti contoh diatas di rumah atau di sekolah metoda yang kita gunakan antara lain , metoda ceramah, metoda diskusi, metoda eksperiment dan lainya. Sedangkan alat bantunya adalah media dan alat peraga.

Kalau dalam kegiatan mendidik baik disekolah, rumah tangga ataupun dalam masyarakat, metoda yang digunakan adalah berita gembira dan kabar petakut (basira dan nazira ). Sedangkan alat Bantu yang digunakan dalam mendidik adalah hukuman dan ganjaran.

Kususnya dalam mendidik anak, anak yang rajin mengerjakan atau berperilaku yang baik diberi ganjaran. Ganjaran tersebut bisa bentuknya sederhana misalnya sebuah pujian dan bisa pula yang lebih komplit, misalnya hadiah berupa barang atau jabatan terhormat.

Terhadap anak yang nakal atau tidak mau berbuat kebaikan diberikan padanya hukuman. Hukuman bisa berada dalam rentangan yang paling ringan sampai kepada yang paling berat penderitaanya.

Jadi dalam proses mendidik kemampuan guru atau seni guru menggunakan metoda dan alat bantu sangat dituntut kesesuaian dan ketepatanya. Apa saja yang dilihat dan didengar oleh anak sebenarnya tidak ada masalah (tentu ada pengecualianya) . Sebagai ilustrasi saya kemukakan, baik pada usia kanak-kanak atau pada usia remaja saya dan juga kawan-kawan yang lain, sering melihat orang mandi bertelanjang di sungai. Kata orang alim sekarang kan itu tontonan porno.  …. Saya dan kawan-kawan juga pernah begitu, tapi…. Saya dan kawan-kawan yang lain tidak pernah berani tampil bertelanjang di temapat lain ( tempat umum ).

Yang penting di perhatikan dalam kegiatan mendidik baik dirumah ataupun di sekolah adalah bentuk-bentuk perilaku anak. Dibina perilaku baik dan dicegah perilaku jelek dengan menggunakan metoda dan alat bantu pendidikan yang telah disebutkan tadi. Lihat juga Az-Zumar ayat 18 “ Yang mendengarkan perkataan (semua informasi) lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya : Mereka itulah orang-orang yang diberi Allah petunjuk dan mereka itulah ulul albab ”.

Terakhir, media televisi sebagai alat Bantu (media) pengajaran tidak perlu dibahas disini dan yang jelas sangat bagus. Lebih lagi mampu menanggulangi kelemahan kemampuan guru. Pesan kali ini untuk BM adalah  jangan karena marah kepada tikus, lantas lumbung padi nenek yang dibakar.

Demikian saja untuk sementara, selamat menganalisis dan saling koreksi, bila diperlukan dapat disambung lagi. Wassalam.

Lubuk Buaya, September 09

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

2 Responses to Mendidik – Mengajar – Media Televisi

  1. Bagus juga. Tapi :mengajar” itu busa juga pakai hadiah (ganjaran), lho. Anak bisa mengerjakan hitungan semuanya benar, kita bilang bagus atau pintar, itu ganjaran.Tapi, yang salah mengerjakan tidak bisa dihukum, karena tidak “bersalah”, ia tidak paham. Orang tak paham tak bisa dihukum, tugas guru mengajarinya kembali agar dia paham. Dalam memberikan ganjaran “hasil belajar/mengajar” pada kepintaran anak, sebenarnya kita “mendidik” kebanggaan anak dan motivasi anak untuk belajar lebih giat dan baik lagi. Nah, siapa bilang mengajar dan mendidik itu sangat amat terpisah! Tipis benar batasnya, ya, kayaknya. Trims.

  2. Jalius HR says:

    ____________السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته ___________

    Terima kasih Pak Tatang, yang telah mengunjungi blog ini, Juga telah memberikan komentar sebagai bukti kunjungannya.

    Apa yang saya tulis itu adalah konsep dasar dari “mendidik” dan “mengajar”. tulisan itu menjelaskan stressingnya. Apa yang Pak Tatang maksud di atas, ganjaran dalam mengajar juga dapat diberikan, tapi tujuan yang ingin dicapai lain, yakni meningkatkan motivasi. Itu apa artinya ? Ya mendidik dan mengajar tentu saja ada hal-hal yang sama, dalam saat tertentu dapat dipisahkan operasionalnya, dalam waktu tertentu bisa berbarengan.
    Demikian untuk sementara, semoga kita dapat membangun pemikiran anak negeri ini dengan pemahaman yang baik dan teratur.

    Wassalam dari Jalius di Padang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s