Sorga Di Bawah Telapak Kaki Ibu ( Guru )


Dalam Al Quran dapat kita temui perintah Allah untuk berbakti kepada kedua orang tua (birru – walidaini). Perintah untuk berbakti atau berbuat baik kepada kedua orang tua, termasuk kedalam urutan cinta kedua setelah cinta terhadap Allah dan RasulNya.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. ( Al Quran 17 : 23)

Perintah ini sangat tegas dan tidak bisa ditawar. Karena perintah itu tegas dan hasilnya pun agung bagi yang melaksanakanya dengan baik. Sehingga dimunculkanlah ungkapan seperti judul tulisan ini oleh orang-alim yakni sorga terletak dibawah telapak kaki ibu.

Tapi perlu juga diingat, ungakapan ini kurang pas dan diskriminatif. Walau kurang pas, namun nilainya tidak berubah. Alasan yang dapat dikemukan disini adalah yang berjasa menjalankan tanggung jawab terhadap  anak  bukan ibu saja,   jasa ayah pun tidak kalah pentingnya dan sangat agung. Walaupun demikian kita harus berlapang dada menerimanya. Kemudian tidak ada salahnya kita beri makna ganda, yakni disamping dibawah telapak kaki ibu juga berada dibawah telapak kaki ayah. Dalam hal ini   terbuka peluang bagi siapa saja yang mau menggunakan ungkapan lain yang mana dalam ungkapan itu secara ekplisit terdapat jasa keduanya  yakni ayah dan ibu. Walau ada hadis rasullullah yang membedakan antara jasa ayah dan ibu, namun    ketegasan perintah Allah melebihi sabda rasul.

Kalimat yang dijadikan judul  tersebut  cukup komunikatif. Bila ada orang  yang mengucapkanya kita akan mudah menangkap maknanya dan tujuanya. Kalimat tersebut juga sangat reflektif. Bila diucapkan orang fikiran dan persaan kita lansung tertuju kepada keagungan jasa baik seorang ibu pada anaknya. Ungkapan tersebut mengandung   dua sisi kewajiban, sisi pertama terletak  di pihak dua orang tua dan sisi lainya di pihak anak.

Secara sederhana dalam tulisan ini dapat dijelaskan kewajiban orang tua kepada anak. Diantaranya adalah orang tua wajib memenuhi hak-hak (kebutuhan) anaknya, seperti kebutuhan makan, minum, kebutuhan akan pakainan, kebutuahan akan perlindungan, kebutuhan akan kesehatan. Salah satu kebutuhan yang lain dan sangat penting adalah kebutuhan akan pendidikan. Setiap orang tua diwajibkan oleh Allah untuk mendidik anak, minimal samapai anak balig berakal.

Melalui upaya pendidikan yang dilaksanakan oleh orang tua terhadap anaknya, kesadaran anak untuk berbuat kebaikan, meninggalkan yang tidak baik, berlaku sopan dan santun terhadap sesama dapat ditumbuh dan dikembangkan. Dengan pendidikan anak dapat mengetahui sesuatu dan mampu pula untuk membuat sesuatu.

Pada giliranya di suatu saat,  anak dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan serta budi pekerti yang baik akan dapat melaksanakan kewajiban-kewajibanya dalam kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat. Lebih khusus lagi adalah kwajibanya untuk berbakti kepada dua orang tuanya.

Perlu kita sadari arti penting dua sisi kewajiban ini, yang pertama kewjiban orang tua pada anaknya disaat masih kecil. Bayangkan dan juga perhatikanlah disaat kita masih bayi betapa pentingnya funsi kasih dan sayang orang tua. Dalam hal ini kita bisa bersepakat bahwa nilai tak terhingga untuk jasa kedua orang tua kepada kita. Dan makna itulah yang terkandung dalam kalimat kama rabbayani saghira.

Kewajiban  kedua dari pihak anak, dalam mengabdi pada dua orang tua adalah yang sangat utama disaat kedua orang tua telah berusia lanjut. Dalam kontek ini sanagat dibutuhkan kesadaran anak tingkat tinggi. Jasa-jasa baik yang telah pernah kita peroleh diwaktu kecil dari pihak orang tua, kita harus pula mampu memberikan balikanya kepada orang tua kita setelah mereka berusia lanjut.  Kita bisa membayangkan pentingnya pengasuhan yang prima orang tua pada bayi atau balitanya, tentu demikian pula halnya pentingnya pengasuhan yang prima   seorang anak terhadap orang tuanya, lebih lagi kalau orang tuanya  sudah tua renta.

Disini perlu diingat, kalau ada anak yang tidak mau berbuat baik kepada kedua orang tuanya, itulah yang sangat tidak adil, istilahnya menurut Al-Quran adalah zalim, dan pantas dia mendapat azab yang pedih.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ada dua bentuk sorga yang kita peroleh dari orang tua. Pertama sorga (dalam pengertian kebahagian) hidup didunia ini. Kehidupan ini bisa kita jalani dengan baik berkat pendidikan dasar yang telah diberikan orang tua kepada kita, disamping pemenuhan kebutuhan lainya. Kedua sorga yang akan kita peroleh kelak diakhirat sebagai ganjaran terhadap pengabdian yang telah kita laksanakan  dengan  baik kepada dua orang tua . Itulah salah satu tafsir yang terkandung dalam ungkapan sorga dibawah telapak kaki ibu.

Terkhir yang menjadi persoalan  dalam tulisan ini adalah judul kecil dari tulisan ini, yakni sorga terletak dibawah telapak kaki ibu guru. Sebagaimana yang dapat kita ketahui bersama , bahwa kemampuan orang tua  mendidik kita sangat terbatas. Terbatasnya kemempuan orang tua kita tidak pula bisa kita menghitung dan mengukurnya satu persatu. Yang jelas sekali adalah terbatasnya penguasaan ilmu, terbatas jenis keterampilan dan erat kaitanya dengan terbatasnya waktu untuk pembelajaran.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa untuk menanggulangi kekurangan-kekurangan yang ada pada orang tua kita adalah dengan jalan kita harus belajar dan dididik oleh orang lain (guru). Kita harus banyak belajar dengan banyak guru. Ada guru disekolah dan ada pula guru diluar sekolah atau dalam masyarakat. Semua ilmu yang diajarkan oleh ibu dan bapak guru kepada kita sangat penting untuk mengenali dunia dan isinya. Semua keterampilan yang diajarkan oleh guru kepada kita sangat berguna bagi kita untuk dapat mengerjakan sesuatu agar bisa memperoleh ssesuatu yang kita butuhkan dalam kehidupan ini.

Dengan bermodalkan pengetahuan dan keterampilan inilah kita menjalankan tugas-tugas dan fungsi-fungsi dalam masyarakat. Dengan ilmu dan ketrampilan yang diperoleh dari guru disekolah kita bisa menjadi petani yang baik, pedagang yang sukses dan menjadi pemimpin dalam masyarakat. Disisi lain akibat dari semuanya itu kita dapat hidup menikmati berbagai fasilitas, baik di daerah kita maupun didaerah orang lain. Semuanya itu berkat jasa guru yang tidak terhingga. Perlu bahkan sangat penting kita sadari bahwa berkat ilmu yang di peroleh dari guru kita bisa tahu mana yang amal shaleh dan mana yang tidak. Bermodalkan kesadaran tersebut kita bisa menjadi orang bertaqwa. Kepada orang bertaqwa nanti di akhirat diberi ganjaran dengan sorga.

Jadi dengan belajar kepada Ibu dan Bapak guru itulah jalan kesorga. Dengan kata lain dapat dipahami bahwa bukan hanya dibawah telapak kaki ibu (orang tua) saja adanya soraga tetapi juga  sorga terletak dibawah telapak kaki ibu guru  juga   …….. Adakah anda setuju setuju …….?????

Demikian uraian singkat ini semoga menggugah hati kita semua untuk selalu menghormati ibu dan guru.

Wassalam

Lubuk Buaya    –      Padang    –      September 09

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s