Al Islam Dan Addinul Islam


Banyak orang membicarakan tentang Islami dan Tidak Islami atau bernuansa islam agak terasa kurang klop dengan realitas dan konsep dasarnya menurut Alquran. Demikian juga halnya dengan kata  Dinnul Islam ( agama islam  ). Hal ini dapat dibuktikan dengan seringnya orang berfikir dan terus ngomong dengan ungkapan-ungkapan seperti ; Islam dan Barat, Islam dan Komunisme, peradaban Islam dan peradaban Barat,   Islami atau tidak Islami. Dengan pola fikir yang seperti itu, banyak orang beranggapan bahwa di alam semesta ini terdapat lebih dari satu sistem, antar satu sistem dengan sistem yang lain saling berseberangan atau berbeda, berarti cara berfikir seperti itu bersifat parsial.

Dengan kata lain, di alam semesta ini terdapat sistem Islam disuatu sisi dan  sistem bukan islam di sisi lain. Terus jalan pemikiran ini akan mengandung makna yang sangat krusial yakni sistem Islam diataur dan dikuasai  Allah dan sistem non Islam diatur pula oleh tuhan yang lain. Kalau begitu tentu saja tidak dapat di hindari konfrontasi yang maha hebat antara masing-masing pengikut tuhan tersebut (surat Al-Mukminun ayat 91).

Demikian juga halnya dengan menggunakan enam rumusan el-Syathibi dan Syarifuddin Abdullah (kompas 9/12/96). Namun kriteria  dan rumusan yang beliau sampaikan tersebut sudah cukup bagus untuk kepentingan perilaku manusia  yang sangat terbatas dan parsial. Namun demikian tetap saja mengandung persoalan yang kontradiksi. Kandungan pemikiran yang sangat penting mendapat perhatian adalah semua hal yang bersifat positif atau yang baik-baik itulah yang di klaim sebagai Islami. Sebaliknya hal-hal yang bersifat negatif atau yang tergolong buruk dinyatakan tidak Islami. Dengan kata lain Islami itu bukan yang enaknya saja.

Yang sangat penting diperhatikan adalah titik-tolak kita dalam berfikir. Dari titik tolak itu kita beranjak untuk menjuruskannya ke arah konsep yang lebih luas. Dalam Al-Quran ditegaskan sang Maha Pencipta (Khaliq), yang maha mengatur dan berkuasa atas alam semesta ini hanya satu, yaitu Allah. Maka dari sinilah kita harus memulai memahami apa yang ada ( hasil ciptaanNya ).

Berdasarkan ketentuan di atas, pemikiran dan perhatian haus mampu mengarahkan pandangan  kesemua penjuru dan kepada semua apa yang ada dan semua fenomen (gejala) sebagai satu kesatuan yang terintegrasi, bersifat  keseluruhan dan keutuhan. Pandangan kita akan meliputi pada keseluruhan yang ada, meliputi langit dan bumi, serta apa yang ada diantara keduanya. Dalam ketentuan tersebut kesimpulan yang segera dapat diambil adalah apa yang ada di langit dan di bumi terintegrasi dalam satu sistem utuh (totalitas sistem). Pada totalitas sistem itulah ditemukan atau ditempatkan  kekuasaan tunggal yakni kekuasaan Allah.

Pada totlitas sistem itu kita akan menemukan berbagai  sub sistem mulai dari sub-sistem yang sangat rumit (kompleks) sampai pada sub-sistem yang cukup sederhana, kalau diurai (analisis) mungkin kita tidak mampu untuk itu. Seperti sistem tata surya, ekosistem dan sistem pesawat pengungkit atau bakteri Vibrio Comma.

Semua sub-sistem tersebut terikat dalam satu pola yang terintegrasi artinya masing-masing sub-sistem berfungsi pada batas-batas tertentu namun masing-masingnya tidak berdiri sendiri. Antara satu sistem (sub sistem) dengan sistem yang lain terdapat hubungan yang fungsional, sehingga tercipta keharmonisan totalitas sistem jagad raya. Dalam Al-Qur’an S 3:83 dijelaskan apa yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, tunduk dan patuh pada Allah baik secara sukarela ataupun terpaksa. Ayat ini merupakan ketentuan mutlak untuk  tersentralnya totalitas sistem pada Allah SWT.

Suatu ketegasan yang tidak bisa ditawar, semua isi alam (makhluk) secara imperative terikat dalam pola-pola yang ada dalam totalitas sistem. Dalam surat Al-Ankabut ayat 22 terang sekali bahwa kita sebagai manusia tidak akan bisa melepaskan diri dari lingkungan langit dan bumi, kecuali hanya dengan izin Allah. Walaupun ada diantara manusia yang dalam alam fikir dan perilakunya tidak menyatakan pengakuan namun ia tidak akan bisa berada di luar sistem kerajaan Allah tersebut. Seluruh fenomena alam raya ini baik yang bersifat material dan segala tata hukum yang melekat padanya atau segala bentuk dan sifat, baik alam syahadah (yang dapat disaksikan dengan panca indera) atau juga alam gaib ( tidak atau belum terinderai ) terintegrasi secara harmonis dalam totalitas sistem itulah yang harus kita jadikan tafsir bagi al-Islam. AlIslam itulah kerajaan Allah, Dia-lah yang menguasai segala yang ada di alam raya ini dan mengaturnya QS 57: 2 dan 5. Sedangkan semua benda, baik hidup atau mati ,  alam syahadah  atau alam gaib tunduk dan patuh kepada Allah disebut sebagai Muslim

Addinul Islam

Setelah manusia diciptakan dia menjalani kehidupan di bumi sebagai Khalifah (pengelola). Banyak peran dan fungsi yang bisa dan harus dikerjakan yang disebut dengan akhlak ( perilaku ). Perilaku manusia secara imperatif hanya sebatas pola yang telah ditetapkan oleh Allah dan terintegrasi secara harmonis dalam totalitas sistem. Perilaku manusia kelihatan agak istimewa jika dibandingkan dengan perilaku makhluk lain. Ia dapat melakukan permusuhan dan bekerjasama dengan sesamanya, merusak atau mengolah alam sekitarnya untuk kepentingan hidupnya. Manusia harus hidup secara sosial, menyesuaikan diri dengan kondisi linkungan dapat memunculkan berbagai model tata sosial (kebudayaan).

Tapi, manusia diciptaka sebagai khalifah bukan hanya dibiarkan begitu saja. Sang Maha Pencipta punya maksud tersendiri pula terhadap penciptaan manusia, yaitu hanya untuk mengabdi (menjalani ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan) QS 51:56. Dalam hal ini manusia tidak ada pilihan, manusia wajib makan karena manusia ciptakan bukan dengan tubuh yang tidak makan. Manusia makan harus melalui mulut. Atau manusia  tidak bisa melepaskan diri dari bumi dan langit (Qs: 29.22), suka atau tidak ketentuan itu harus dijalani.

Dalam menjalankan fungsinya sebagai khalifah, manusia bukan hanya tunduk dan patuh secara imperatif pada fenomena al-Islam (totalitas sistem) juga harus tunduk dan patuh pada risalah (terdapat dalam kitab suci), yaitu pesan atau informasi tentang yang baik dan yang buruk serta tentang yang boleh atau tidak boleh dikerjakan. Risalah secara prinsipnya terdiri dari suruhan dan larangan dalam berinteraksi dengan sesama  manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Disamping itu juga mengatur tentang tata hubungan manusia dengan Tuhan. Ketundukan pada risalah mengandung dua ketentuan pokok yaitu pertama manusia yang mengerjakan suruhanNya, orang-orang yang berada dalam kelompok ini disebut dengan  beriman, dan  orang-orang yang tidak mengerjakanya kelompok ini disebut dengan istilah kafir.

Pengakuan terhadap dominasi Allah pada semua konsepsi dan fenomena ( mencipta, mengatur dan memelihara )  inilah yang paling penting, betapapun adanya kebebasan pada manusia membuat rumusan, memodifikasi atau rekayasa dalam ruang yang sangat terbatas, secara imperatif tidak bisa keluar dari dominasi / monopoli kekuasaan Allah. Dalam Al-Quran Allah sering bertanya dengan pertanyaan sangat jelas, misalnya tanaman yang kita tanam siapa yang menumbuhkanya? .  Disinilah terpancangnya inti pokok dari Iman, yakni pengakuan

Penolakan ketentuan tersebut di atas, disertai dengan legitimasi terhadap selain Dia (Allah) apalagi terhadap makhluk (manusia tertentu atau makhluk yang lain) untuk mendominasi dan mengatur kehidupan manusia atau jagad raya, inilah pilar utama dari konsepsi Kafir.  Manifestasi pilar utama kekafiran ini banyak sekali, diantaranya  mengadakan pendamping (syarikat) istilahnya dalam Al-Quran adalah syirik.

Ketundukan dan kepatuhan terhadap risalah juga sangat imperatif dalam hal ini Allah memberikan hukuman kepada setiap orang yang melanggar larangan-Nya, yaitu kondisi yang sangat tidak disenangi (neraka) sedangkan kepada setiap orang yang beriman dan beramal shaleh  diberikan ganjaran kenikmatan (sorga). Disamping itu juga ada ketentuan Allah terhadap orang bertobat.

Risalah diberikan Allah kepada manusia disampaikan oleh malaikat (pesuruh Allah) melalui Nabi dan Rasul mulai dari Adam as sampai Nabi Muhammad SAW (ada 25 orang nabi dan rasul yang wajib diimani). Sistem pengelolaan tingkah laku manusia yang didasarkan kepada risalah itulah  yang seharusnya kita jadikan tafsir bagi  Ad-Dinul Islam.

Risalah pada prinsipnya bukan hanya untuk kepentingan manusia saja tapi juga untuk kepentingan makhluk lain (hidup atau mati). Hanya  saja pelaku (pelaksana) risalah adalah manusia, kepentingan makhluk lain dengan sendirinya juga terpenuhi. Tugas manusia menjalankan risalah, demi terwujudnya keharmonisan interaksi sesama muslim yang harus diberikan sebagai makna dari khalifah. Dus, dengan terlaksananya fungsi kekhalifahan tersebut akan mewujudkan pengertian Ad-dinnul Islam sebagai rahmatalil’alamin (rahmat bagi sekalian alam).

Akhir kata, yang ada hanyalah sistem Islam. Barakallahu li walakum.

Lubuk Buaya,  Agustus 09

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

2 Responses to Al Islam Dan Addinul Islam

  1. yyati says:

    ass.
    sy ada pertanyaa dari dosen agama, mohon bantuannya..
    apakah dinul islam bagian dari kebudayaan islam?
    apakah kebudayaan islam bagian dari dinul islam?
    dinul islam dan kebudayaan islam berdiri sendiri?
    dinul islam dan kebudayaan islam menyatu tapi bukan merupakan bagian??

    trims.
    wass

    • Jalius HR says:

      W.Salam ww. Terima kasih, atas kunjungan Sdr. Semoga apa yang dibaca dari blog saya ada manfaatnya. Pertanyaannya sangat bagus, sehingga nanti kita mendapatkan gambaran yang sesungguhnya. Menurut pemikiran Saya, ada dua hal yang perlu ditegaskan: 1. Islam itu bukan kebudayaan. dan ad-dinul islam juga bukan kebudayaan, apalagi merupakan bagian dari kebudayaan Isalam 2. Ad-dinul Islam, sebagiannya dapat dijalankan dengan bantun kebudayaan. Seperti kita disuruh shalat di Masjid. Maka bangunan Masjid boleh dibuat berdasarkan kebudayaan tertentu, seperti arsitektur rumawi atau arsitektu modern dari barat. dsbnya. Perlu juga diingat kebudayaan lahir dari suatu masyarakat, bentuknya berdasarkan “kesepakatan”. Kalau ada suatu kebudayaan yang lahir dari masyarakat yang menganut agama Islam, juga tidak bisa dikatakan sebagai kebudayaan Islam. Kenapa ?? Ya karena nilai-nilai Islam yang melatar belakangi kebudayaan tersebut bukan lahir dari masyarakat dan tidak pula berdasarkan kesepakatan. Menurut pemikiran saya, dalam hal inilah banyak orang yang keliru (bahwa ada kebudayaan Islam). Demikian untuk sementara. Wassalam. Jalius.

      ________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s