KAKI LIMA


Tulisan ini dibuat sebagai tanggapan terhadap tulisan yang dibuat oleh Ali Margono. Tulisan tersebut saya temui dalam Webblog ACCENT Esensi. Untuk lebih baiknya saya tampilkan kutipan sabagian dari tusan Ali Margono dengan judul Kaki Lima, selamat membaca…..

………setelah mendapati PKL, masih tidak habis pikir juga karena yang ditemukan adalah orang sedang berjualan di tempat terbuka dan bukan di pasar. Di tempat itu pula tidak ada sesuatu yang berkaki lima. Bila terdapat meja atau kursi, juga hanya berkaki empat. Sebagian ada yang pakai tenda atau gerobak. Namun bagi yang tidak menggunakan sarana semacam itu disebut PKL juga. Mereka itu hanya menempati “lapak”, yakni berupa petak pada lahan yang mereka kuasai dan digunakan untuk menggelar barang dagangannya. Pemerhati bahasa Indonesia asal Eropa, Andre Moliere pernah menulis di Kompas tentang kaki lima dan ia berusaha mencari tahu arti sebenarnya, namun belum juga menemukan jawaban yang tepat.

Pengertian “Pedagang Kaki Lima”  (selanjutnya PKL) secara harfiah juga masih rancu, karena obyeknya tidak jelas. Seorang pedagang adalah spesialis dalam berniaga untuk barang dagangan tertentu. Ada pedagang kain, pedagang sayur, pedagang mobil, pedagang minyak, pedagang beras, pedagang pakaian, pedagang kelontong, pedagang ikan dan masih banyak lagi.Atas dasar penalaran ini apakah berarti bahwa yang dijual oleh PKL adalah kaki lima? Sekali lagi, apakah  Kaki Lima itu?

Di kenal dengan Kekuatan Sektor Informal

Di kenal dengan Kekuatan Sektor Informal

PKL banyak ditemukan di Pasar dan Totoar, di Bahu jalan umum atau ruang terbuka di lokasi ramai. Dengan demikian “pedagang kaki lima” sebenarnya mengandung arti kiasan bagi pelaku usaha nonformal yang menempati lokasi-lokasi tersebut. Munculnya PKL mirip dengan sejarah lahirnya pasar tradisional. PKL muncul secara tiba-tiba di lokasi tertentu tanpa diundang dan tanpa melalui persyaratan tertentu. Kemudian PKL lainnya menyusul. Pasar tradisional biasanya dibuka oleh pemerintah lokal atau atas prakarsa masyarakat setempat. Kerumunan PKL jika dibiarkan menetap, seiring berjalanya waktu…..lokasi PKL  akan menjelma menjadi sebuah pasar……

Setelah saya membaca tulisan diatas ada sesuatu yang tertinggal, yakni fakta historis.

Berdasarkan cerita yang saya terima dari orang  tua saya, bahwa istilah Kaki Lima berasal dari zaman belanda atau zaman penjajahan. Istilah ini berlaku untuk daerah  perkotaan. Tidak digunakan untuk pedagang di pasar tradisional pedesaan atau pasar mingguan (pasar yang aktifitasnya sekali seminggu) di desa-desa.

Pada zaman penjajahan tempo doeloe sistem pedagang pasar-pasar perkotaan sangat tertata rapi jika dibandingkan dengan sekarang. Para pedagang diatur sedemikian rupa yang terbagi kedalam tiga kelompok. Kelompok pertama pedagang yang menempati bangunan pertokoan, kedua pedagang yang menempati bangunan los terbuka ( artinya bangunan yang beratap tapi tidak berdinding). Yang ketiga para pedagang asongan atau yang sekarang sering disebut dengan Lapak, yang tempatnya tetap dipasar.

Kelompok pedagang yang pertama dan yang kedua ini sifatnya resmi, mereka terdaftar pada dinas pasar. Sedangkan kelompok yang ketiga mereka tidak terdaftar secara resmi, tetapi mereka dibolehkan karena alasan tertentu dengan aturan tertentu. Pedagang asongan ini biasanya menempati tempat-tempat yang selalu dilewati oleh banyak orang misalnya didepan deretan pertokoan atau di gang-gang pasar. Mereka menggelar dagangannya seperti sekarang juga, ada yang hanya diatas tikar yang dibentangkan diatas tanah, ada juga yang pakai meja dan lainnya. Untuk mereka ini diberlakuakan aturan tertentu, salah satu aturan tersebut  adalah jarak minimal dari lokasi pedang resmi (deretan pertokoan), yakni adalah 5 Kaki ( sama dengan 1,5 meter ).  Misalnya seorang pedagang dibolehkan berjualan 5 kaki dari depan sebuah toko (resmi).  Maka para pedagang yang menempati areal yang berjarak 5 Kaki dari lokasi pedagang resmi inilah yang beri istilah dengan  pedagang kaki lima. Istilah inilah yang berkembang saat ini, yakni PKL. Maka,  jika ada seseorang bertanya pada temannya, apa usha atau apa  pekerjaan sekarang ? Lantas temannya menjawab “berjualan di Kaki Lima” . Maksudnya adalah dia berjualan di daerah yang berjarak lima kaki dari tempat pedagang resmi di pasar.

Pada zaman penjajahan jumlah pedagang Kaki 5 lima ini jumlahnya tidak sebanyak sekarang. Maklum saja jumlah penduduk  watu itu  masih sedikit tentu saja jumlah pedagang juga sedikit. Disamping itu juga jumlah atau jenis barang yang layak dijual oleh pedagang Kaki 5 belum sebanyak sekarang. Karena itu pula dinas pasar tidak sulit mengaturnya. Tambahan lagi sikap mental masyarakat umumnya zaman itu sangat patuh pada pimpinan  (pemerintah). Pedagang pun patuh dan mudah diatur. Disiplin ditegakkan., kalau ada yang melanggar  sangsipun diberikan.

Lain halnya dengan zaman sekarang. Saat ini jumlah penduduk sangat banyak jika dibandingkan dengan tempo doeloe .Kalau penduduk banyak otomatis jumlah pedagang juga banyak. Akibat yang ditimbulkannya antara lain, lahan pasar menjadi sempit dan K3 sulit diwujudkan. Bahkan dewasa ini pedagang Kaki Lima semakin berkembang, mereka sudah menempati bahu-bahu jalan dan trotoar. Berbagai persoalan yang ditimbulkannya tidak dapat dikira dengan pasti. Keruwetan dan kesemrawutan terjadi dimana-mana kota baik  di Indonesia amupun di banyak negara berkembang. Penyelesaiannya  sebenarnya tidak sulit, syarat utama adalah ada kemauan (komitmen) kearah itu….. Orang bijak bilang “di mana ada kemauan, di sana ada jalan”.

Demikian saja untuk sementara, semoga dapat menambah pemahaman, Wassalam.

Lubuk Buaya, Oktober ‘09

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

One Response to KAKI LIMA

  1. website says:

    I’ve been browsing online more than 4 hours today, yet I never found any interesting article like yours.

    It’s pretty worth enough for me. Personally, if all web owners and bloggers made good
    content as you did, the internet will be much more useful than ever before.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s