Mandiri ?


Mandiri Utopia Belaka

Jika saya membaca, menganalisa  dan memahami persoalan manusia sebagai makhluk social, pikiran saya menjadi cerah karena konsepnya sangat realistis. Tetapi jika saya membaca persoalan  manusia yang berkenaan dengan konsep  mandiri , penalaran saya kehilangan arah, karena saya tidak menemukan realitasnya di dalam kehidupan bermasyarakat. Maka tulisan berikut merupakan sebuah anekdot yang menggugat. Mungkin saja “mandiri” ini adalah sebuah konsep yang saya anggap utopia belaka.

Firman Allah di dalam Al Quran:

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).( Al-Ahzab. 4 )

Dalam ayat ini penulis mengutip dan akan menjelaskan maksud yang terkandung di dalam kata kata “dua buah hati”. Kalau kita membaca Al-Quran kita akan ketemu dengan banyak sekali kata hati. Hati merupakan salah satu perangkat atau komponen dari jiwa, yang berperan sebagai pengelola informasi. Adapun fungsi yang dijalankannya adalah menerima, mengolah dan menyimpan informasi atau pengetahuan.

Dengan peran dan fungsi yang dijalankannya itu maka kita   yang punya hati akan menjadi faham dengan informasi atau berita yang ada. Dengan kata lain hati adalah alat pemahaman bagi kita, (otak, dalam istilah anatomi).

Maka yang dimaksud oleh firman Allah tersebut diatas adalah jika kita melakukan pengamatan terhadap satu objek, kita tidak akan menemukan dua konsep sekaligus berbeda. Kalau ada didapatkan dua konsep yang berbeda, berarti satu diantaranya adalah salah atau bathil. Satu hati, satu pemahaman. Pada satu objek hanya ada satu konsep. Jangan ada perubahan karena alasan  situasi dan kondisi atau keinginan. Seekor ayam tidak dapat berubah konsepnya atau defenisinya menjdi seekor itik hanya dengan sebuah “pernyaan” dari kamu. Hatimu akan memberikan satu kesimpuan untukmu tentang itu.

Lanjutan dari firman Allah diatas, dapat di fahami bahwa  esensi seorang “isteri” tidak dapat dirobah menjadi  esensi atau statusnya menjadi seorang “ibu” (orang tua ) hanya  dengan sebuah “pernyataan” ( zihar  ). Sekalipun bersepakat banyak orang untuk setuju tentang itu. Walaupun dinyatakan lagi dengan selembar sertifikat atau akta dari pejabat  catatan sipil. Demikian juga lanjutan ayat tersebut, anak “angkat” tidak bisa dirobah  esensinya atau statusnya menjadi anak “kandung”.

Dalam realitas yang ada, kita menemukan sebuah  esensi yang nyata, akan tetapi kenapa para ilmuan dan analis memberikan dua  konsep yang saling controversial terhadap esensi tersebut. Yakni tentang salah satu sifat yang sangat esensial bagi manusia, manusia sebagai  makhluk sosial. Pada salah satu sisi manusia sebagai makhluk sosial dan di sisi lain manusia sebagai makhluk yang mampu mandiri.

Bagaimana  manusia itu sebagai makhluk social ? Mari kita baca kutipan berikut:

…………” Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan potensi yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya menggunakan potensinya itu. Dorongan masyarakat yang membina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah atau bersama manusia lainnya.

Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya sampai batas mksimal.

Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu  manusia tunduk pada aturan atau  norma sosial. Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia lainnya.”………… Kata kuncinya adalah “tidak bisa hidup tanpa bantuan orang Lain”. Kita mampu dan terbiasa makan menggunakan tangan kanan untuk menyuap nasi. Itun merpakan produk interaksi sosial. Kita selalu menggunakan pakaian dan mandi pada waktunya… itu juga dalam pola sistem sosial.

Sementara dipihak lain kita menemukan pula para analis menginginkan tujuan-tujuan dari berbagai macam program pendidikan atau pelatihan untuk menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang  mampu mandiri . Misalnya dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling, dalam pendidikan kewiraswastaan, dalam layanan-layanan pendidikan lainnya. Disinilah kontoversi-nya pemikiran dan pemahaman tersebut dengan realitas manusia sebagai makhluk sosial . Coba kita  baca dengan cermat apa yang tercantum dalam kutipan berikut tentang kemandirian;

…………..” Mandiri atau sering juga disebut berdiri diatas kaki sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik.

Mungkinkah berbisnis tanpa mitra atau organisasi ?
Mungkinkah berbisnis tanpa mitra atau organisasi ?

Kemandirian, menurut Sutari Imam Barnadib (1982), meliputi “perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain”. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali (1987) yang mengatakan bahwa kemandirian adalah “hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri”. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian:

Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandiriannya seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang dengan lebih mantap.

Untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan di sekitarnya, agar dapat mencapai otonomi atas diri sendiri. Pada saat ini peran orang tua dan respon dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak sebagai ”penguat” untuk setiap perilaku yang telah dilakukannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Reber (1985) bahwa : “ kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana seseorang secara relatif bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain”. Dengan otonomi tersebut seorang diharapkan akan lebih bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.”……..

Dari kutipan di atas dapat ditarik pengertiannya yang sederhana;  “berfikir dan bertindak dengan kemampuan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Setelah kita membaca dan membandingkan kedua kelompok kutipan di atas didapatkan dua  konsep yang saling beseberangan yakni;  “tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain”  dan “berfikir dan bertindak tanpa bantuan orang lain”, maka akan dimunculkan  aneka macam pertanyaan,  mungkinkah dua konsep yang saling berkontradiksi tersebut menjadi   realitas pada diri manusia ? Atau sebuah realitas dapat memunculkan  satu konsep diantara dua konsep yang disebutkan diatas? Mungkinkah seorang pedagang kaki 5 akan menjadi seorang konglomerat tanpa bermitra dengan orang lain ? Atau apakah memang manusia itu harus berusaha sendiri dibidang ekonomi tanpa memasuki dunia organisasi ? Bayangkan Menteri Pendidikan Nasional (Indonesia) M. Nuh mengatakan “Perguruan tinggi negeri didorong untuk semakin mandiri dalam keuangan“. Tapi apa yang dimaksud dengan semakin mandiri ? tidak lain hanya upaya mengalihkan tanggung jawab pemerintah dalam penyediaan dana operasional kepada pihak lain, misalnya bekerjasama dengan pihak perusahan.

Di suatu komplek perumahan diperlukan kegiatan ronda malam untuk menjaga keamanan. Kita tahu bahwa petugas ronda itu bergantian tiap malam diantara warganya. Seorang anak mampu memakai pakaiannya setelah dicuci oleh ibu dan disetrika oleh kakak atau adiknya. Seorang sarjana mampu melepaskan diri dari tanggung jawab orang tuanya dibidang ekonomi, tapi ia harus bekerja sebagai pegawai neger atau perusahaani. Kita tahu bahwa PNS itu adalah organisasi birokrasi, berapa anggotanya ?.   Seterusnya, anda pernah menikah atau berumah tangga, apakah itu mandiri ? dibidang lain ? Mungkinkah ? Ada Pak Tani di sawah, dia mencangkul sawahnya dari pagi hingga sore sampai selesai dan siap untuk ditanami. Keesokan harinya ada saja ibu-ibu tani yang sedang sibuk menanam benih yang baru saja dicabut dari semaiannya. Menyiangi padi dan memanen selalu bergantian sang ibu dan bapak tani. Apakah itu mandiri namanya? Mandiri itu dimana sih ? Sekali lagi mandiri mungkinkah ?

Dalam konteks yang lebih luas, negara jepang melejit kemajuannya setelah Perang Dunia ke II karena mereka meretas jalan kesemua penjuru dunia (pasar), demi relasi dan kemitraan dalam banyak hal dengan negara lain. Amerika saja tidak bisa mandiri, karena AS selalu membuat  kontrak-kontrak kerjasama di bidang bisnis tentang sumberdaya alam dan ketenagaan dengan negara lain.

Contoh yang menarik, Kita mengendarai sepeda motor di jalan raya sendirian pulang pergi ke tempat tujuan dengan selamat. Jangan juga dimasukan itu kedalam atau sebagai contoh  konsep mandiri. Sebab di jalan raya kita dililit oleh jaringan sosial, yakni peraturan lalu-lintas atau tata nilai dan norma sosial.

Semoga saya tidak bermimpi kemarin dan hari ini, bahwa saya bisa hidup mandiri, karena hati saya masih satu untuk memahami dan mengambil keputusan untuk hidup selalu dalam jaringan sosial yang lebih luas. Bermitra lebih baik, kerjasama juga bsangat baik, apa lagi berorganisasi. Jauh lebih baik dari pada mandiri di dalam hutan belantara.

Sadarkah pembaca bahwa orang beriman itu bersaudara sesamanya,  …….. semoga bermanfaat.

Lubuk Buaya, November 09

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s