Tangan di Atas dan Tangan di Bawah Jangan Salah Tafsir


Tulisan ini sengaja dibuat ditujukan untuk para ulama, pendidik atau guru-guru sebagai panduan dan contoh dalam sebuah penalaran, semoga bermanfaat. Tulisan ini diawali dengan sebuah kutipan dari sebuah berita Nasional;

…….“Sebuah peringatan bagi para pengemis dihembuskan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengeluarkan fatwa haram mengemis. Tindakan meminta-minta itu dinilai sebagai hal yang dilarang agama karena dapat merendahkan pribadi seseorang. Fatwa ini pun didukung MUI Pusat. “Tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah. Dalam pengertian, Islam tidak menyenangi orang yang meminta-minta,” kata Ketua MUI Pusat, Umar Shihab, di Jakarta, Selasa (25/8).” (Liputan6.com)…….

Dari kutipan diatas ada sebuah  ungkapan yang perlu dikeluarkan dari tempat berdomisilinya, yakni ungkapan tangan di atas dan tangan di bawah. Ungkapan tersebut berasal dari sepotong hadis rasulullah, lengkapnya adalah sebagai berikut;        Dari Hakim Ibnu Hazm Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

…”Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima); dan mulailah dari orang-orang yang banyak tanggungannya; dan sebaik-baik sedekah ialah yang diambil dari sisa kebutuhan sendiri, barangsiapa menjaga kehormatannya Allah akan menjaganya dan barangsiapa merasa cukup Allah akan mencukupkan kebutuhannya.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

Berati juga " saling memberi dan menerima "
Tangan di atas dan tangan di bawah
( Ilustrasi: armaininurjali )

Tangan di atas dan tangan di bawah berada dalam konsep “memberi dan menerima”. Memberi dan menerima adalah merupakan suatu sistem dari sikap hidup makhluq manusia. Dengan  sikap itulah manusia berkasih sayang, cinta-mencintai dan juga dibilang sebagai makhluk sosial. Kedudukan manusia sebagai makhluk sosial, berarti di dalam kehupannya  manusia itu tidak bisa  secara sendiri-sendiri, pasti membutuhkan orang lain. Mulai dari manusia itu dilahir sampai dia mati juga tetap memerlukan bantuan dari orang lain (tidak terbatas pada keluarga/saudara/teman) karena  manusia diciptakan berpasangan,  berbeda-beda kemampuan  untuk saling melengkapi dan menolong.

Kalau kita cermati konsep “memberi dan menerima” adalah merupakan sebuah konsep yang sangat universal. Konsep ini merupakan sikap semua orang yang berada dalam semua kelas dan strata. Semua manusia terlibat dengan sistem memberi dan menerima. Coba kita pehatikan kegiatan “memberi dan menerima”  sering dilakukan oleh anak-anak sesamanya, dilakukan oleh remaja sesamanya dan dilakukan oleh orang tua sesamanya, apalagi terhadap anaknya.

Menerima dan memberi juga ada dilakukan oleh orang kaya sesamanya, oleh orang sederhana sesamanya dan juga oleh orang miskin sesamanya. Yang uniknya lagi adalah ada juga orang miskin yang sering memberi sesuatu kepada orang kaya dan orang kaya itulah yang menerima. Padahal banyak orang baik ia cendekiawan, atau ulama seklipun telah besepakat bahwa tangan yang dibawah adalah hina atau tidak mulia, tapi senyatanya ada orang kaya kalau dia diberi akan merasa senang,  walaupun  yang memberi orang kaya itu adalah orang miskin. Ada juga seorang guru sangat senang dengan pemberian muridnya. Memang begitulah tabiatnya makhluk social.

Menerima dan memberi adalah konsekwensi logis dari karakter manusia yang hidunya harus tolong-menolong. Tidak seorang pun diantara manusia ini yang menjalani kehidupannya hanya menghandalkan usaha sendiri. Yang namanya manusia dia harus memberi pertolongan kepada orang lain, dia harus memberikan bantuan kepada orang lain. Terutama kepada yang lemah dan berkekurangan, misalnya kepada bayi atau anak-anak. Pendek kata konsep memberi selalu tertuju kepada pihak yang bermasalah, memiliki beban berat dan sebagainya. Biasa juga kita memberikan sesuatu kepada orang lain dalam rangka semakin kokohnya jiwa tolong menolong dan persahabatan, senang sama senang dalam pergaulan atau juga saling harga mengaharagai.

Di pihak yang lain  orang-orang  harus pula menerima apa yang diberikan oleh orang lain. Mereka harus menerima bantuan dan menerima pertolongan. Apa yang diberikan bisa bermacam-macam. Sulit pula kita menghitungnya, karena apa yang akan diberikan sebanyak kebutuhan manusia dan demikian juga apa yang akan dan harus kita terima.

Dengan bahasa lain dapat dikatakan tolong-menolong dalam 1001 kebutuhan. Walau sesorang itu dia kaya, namun dia juga harus menerima sebuah perment dari seorang temannya. Bahkan dalam lingkup yang lebih luas, misalnya sebuah organisasi memberikan atau menerima bantuan. Sebuah negara sering juga saling memberi dan menerima bantuan atau pertolongan. Begitulah saling menerima atau saling memberi adalah proses hidup makhluq manusia.

Sekarang yang menjadi persoalan adalah kenapa ungkapan rasulullah itu dipelesetkan penafsirannya ? Atau kenapa diberikan interpretasi dalam lingkup yang sempit dan negatif ? Yakni langsung memberikan makna yang bersfat menghina / merendahkan derajat orang yang menerima. Bahkan ironisnya lagi adalah menjadikan hadits ini sebagai referensi utama untuk menghina pengemis (orang yang suka meminta).

Pada hal yang dituju oleh ungkapan rasulullah itu adalah penunjukan nilai dari posisi pelaku. Orang yang berada pada posisi pemberi, orang tersebut memperoleh nilai  baik (nilai +  atau mulia) jika dibandingkan denga orang yang berada pada posisi penerima. Orang yang berada pada posisi penerima, orang tersebut tidak memperoleh nilai, nilai kurang  juga tidak.

Dengan kata lain siapa saja orangnya, kalau dia memberikan sesuatu kepada orang lain dia akan dimuliakan oleh Allah atau juga oleh manusia. Dia akan mendapat ganjaran yang baik. Bisa saja yang memberi itu adalah orang miskin kepada orang kaya atau seorang murid kepada gurunya. Bahkan seorang anak memberi kepada orang tuanya, dalam rangka berbuat baik kepada kedua orang tua. Samapi hari berbangit sekalipun namun derajad orang tua tidak akan pernah turun karena pemberian anaknya.

Dalam hal ini perlu juga diingat, orang yang berada pada pihak yang menerima jangan pula bersegera kita mengatakan bahwa orang tersebut hina atau tidak mulia.  Hanya saja mereka tidak semulia orang yang memberi, nilai kurang juga tidak.  Jangan dipukul  pula para pengemis dengan ungkapan ini, sehingga terjadi apa yang disebut dengan;  “sudah jatuh ditimpa tangga” pula. Maka sebaiknya hadits ini kita gunakan untuk spirit  agar orang punya kelebihan suka bersedekah dan berinfaq. Sedekah dan infaq nilainya 700 derajat, inilah makna sesungguhnya.

Fa’tabiru ya ulil abshar, la’allakum turhamun.

Wassalam

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

6 Responses to Tangan di Atas dan Tangan di Bawah Jangan Salah Tafsir

  1. saya says:

    salam ‘alaik

    alhamdulillah terima kasih atas artikel di atas.bagus sekali

    • Jalius HR says:

      Ya, terima kasih atas kunjungan dan komennya.
      Semoga ALLah selalu memberikan keberkatan ilmu yang kita miliki.
      Sekaligus sebagai salam perkenalan.
      Wassalam.

  2. yasrizal says:

    Sebenarnya kalau kita sama-sama berdayakan kehidupan mereka, semuanya akan bahagia. Tapi saya melihat pemerintah gusar hati, melihat banyak orang mengemis baik di jalan2, lampu merah, yang dituntun, yang digendong dsbnya. Kalau sakit mata kita melihat orang mengemis kenapa pemerintah kurang peduli sama mereka. Kan UUD kita mengatur bahwa “Fakir, miskin dan anak-anak terlantar di pelihara oleh negara”. Apakah salah arti orang ndak tahu awak. Apakah orangnya yang di pelihara atau kemiskinannya yang tetap di pelihara. Dikantor-kantor pemerintah dan swasta sering kita baca ” Tidak menerima permintaan sumbangan dalam bentuk apapun jua”. Ini pun harus adil, bagaimana kalau ada orang yang memberikan sumbangan kekantor tersebut baik berupa barang atau uang, apakah di tolak atau di terima??????

  3. urfi says:

    whoaa, terimakasih pakk. Memperjelas yang dulunya masih kurang jelas. 🙂

    • Jalius HR says:

      Bagaimana isinya Urfie… cocok atau keliru ?

      ________________________________

      • urfi says:

        cocok pak,:-)
        memang zaman sekarang banyak orang yang menafsirkan secara keliru hadist-hadist. Mereka tidak memahami secara luas. Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Kata2 motivasi yang mengajak seseorang untuk lebih banyak berbuat dan memberi kebaikan lagi. Bukan berarti melarang ataupun merendahkan orang yang menerima kebaikan. Jika tidak ada yang menerima bagaimana mungkin ada yang memberi. Take and give itu kan salah satu cara hidup, semakin banyak memberi kita juga semakin banyak menerima. Allah memberi kita nikmat kemudian juga menerima ibadah kita.^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s