Mengenal Hati Nurani


Kenyataannya, walaupun sudah banyak yang menghimbau dan mengajak untuk menghidupkan hati nurani, mulai dari rakyat kecil menghimbau dengan berbagi deritanya, para aktivis dakwah dengan aneka taujih dan tausyiahnya, mahasiswa dengan gerakan moralnya sampai dengan politisi dan presiden, gubernur, ataupun bupati yang menghimbau dengan bahasa pidato yang mugkin sangat indah didengar namun jauh dari kesungguhannya. Realitanya, belum ada perubahan yang signifikan dalam kehidupan kita. Mungkin masalahnya, ketidaktauan kita tentang apa hati nurani itu sebenarnya?

Itulah keluhan Tengku Zulkhairi dalam artikelnya yang berjudul Menghidupkan Hati Nurani, yang saya baca dalam blog-nya.

Maka kali ini penulis merasa terpanggil pula untuk menjelaskan  tentang apa itu Hati Nurani yang sesungguhnya. Walaupun sudah banyak para ilmuwan yang menjelaskannya. Namun mungkin penjelasan ini yang akan ada manfaatnya bagi pembaca.

Untuk mengawali uraian selanjutnya , terlebih dahulu mari kita mengenal hakekat manusia. Hakekat merupakan inti pokok dari sesuatu, maka pada manusia hakekatnya dalah makhluk Tuhan yang terdiri dari jasad dan roh.

Jadi esensi (hakekat) dari manusia itu adalah jasad dan roh. Dalam hal ini perlu diingat adalah setelah roh ditiupkan atau dimasukan kedalam jasad, maka roh tersebut berubah namanya menjadi nafs (Indonesianya, jiwa). Maka yang namanya manusia (an-naas) adalah makhluk yang memiliki jiwa dan raga. Bila jiwa berpisah dengan raga maka hilanglah sebutan manusia. Kalau jasad saja mungkin bernama mayat dan jiwanya berobah namanya kembali sebagai roh. Pada hakekat itulah terletaknya hal-hal lain yang menjadi atribut manusia.

Pada jasmani (jasad) terdapat berbagai perlengkapan atau komponen-komponen sistem fisik, seperti tangan, kaki, mata dan lain sebagainya. Barang kali persoalan jasad atau jasmani semua kita mengenalnya, tentu saja yang lebih tahu adalah ilmu kedokteran (Anatomy), dan kita tidak mengupasnya dalam kesempatan ini.

Pada jiwa terdapat pula berbagai perlengkapan atau komponen-komponen system kejiwan. Diantara perlengkapan jiwa adalah:

1.     Hati, di dalam Al Quran diterangkan bahwa hati adalah perangkat jiwa yang  berfungsi untuk memahami atau mengerti, maka ia akan menerima informasi, mengolah dan menyimpannya. Hati ini dalam menjalankan tugas ada perlengkapannya. Untuk dapat menjalankan tugas-tugasnya, perlengkapan hati antra lain; akal, fikirhawa (keinginan) dan fuad ( kemampuan untuk menerima dan kemampuan untu menolak ) serta syahwat (kecenderungan kepada lawan jenis).

2.     Pendengaran, kemampuan mendengar  berfungsi melalui organ jasmani yakni melalui telinga.

3.     Penglihatan, kemampuan melihat berfungsi melalui organ jasmani, yakni melalui mata.

4.     Perasa, ada kemampuan perasa ini dapat berfungsi melalui kulit dan lidah.

 5.     Penciuman, kemampuan mencium berfungsi melalui hidung.

Kelengkapan 2 – 5 biasanya disebut dengan istilah “pancaindera”. Panca indra inilah yang bertugas menangkap dan mengirimkan pesan kedalam hati, kemudian hati akan mengelola pesan atau informasi tersebut dengan perangkat yang ada.

Bahagian jiwa yang disebut dengan hati seakan-akan bagaikan sebuah dapur di sebuah rumah. Informasi-informasi yang dibawa oleh panca indera akan dikelola oleh akal. Akal akan mengklasifikasi atau mengelompokan informasi tersebut, mungkin tentang bentuk, sifat, guna dan hukum kausalitas dan sebagainya terus disimpan. Informasi atau gambaran yang tersimpan tersebutlah yang dianggap sebagai pengetahuan. Dalam hal ini tentang fungsi akal diisyaratkan oleh surat Al-Jatsiyah ayat 5.” dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” Maka dalam ayat tersenut terang sekali dari fungsi hati, yakni memahami tentang hukum kausalitas. Akal bekerja menemukan hubungan sebab akibat, yakni kenapa terjadi malam dan kenapa terjadi siang.

Dari berbagai perenungan dan percobaan,maka manusia (para ilmuwan) menemukan jawabannya. Bila belahan bumi menghadap ke mata hari maka permukaan bumi akan terjadi siang. Demikian pula sebaliknya, belahan bumi  yang lain terjadi malam. Demkianlah seterusnya

Bila ada informasi dibawa oleh panca indera kedalam hati yang berupa problematika atau permasalahan, maka tugas-tugas akan dikerjakan oleh fikir. Fikir adalah kemampuan yang ada dalam hati menghubungkan problematika dengan pengetahuan yang telah ada. Adakalanya proses menghubungkan itu berlansung sangat cepat adakalanya sangat lambat atau lama. Misalnya ada informasi berupa pertanyaan “ 2 + 2 = …….? “ dengan kecepatan tinggi fikiran akan menemukan pengetahuan yang telah ada yang bersesuaian sebagai jawabannya dan segera memberikan respon. Adakalanya memang sangat lambat. Fungsi fikir ini diisyaratkat dalam surat Al-Jatsiyah ayat 13. “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir “. Jadi kata-kata menundukan adalah dalam arti bisa diolah untuk memenuhi kebutuhan hidup atau untuk memecahkan masalah. Kata orang bijak bertukar fikiran kita , itu baik. Tapi….. bertukar akal, sekali-kali jangan.

Selanjutnya dalam hati ada perangkat yang namanya Hawa (kemampuan untuk menyenangi atau membenci, suka atau tidak suka). Setiap orang punya hawa atau keinginan. Tapi sayangnya hampir semua orang memberikan pengertian yang konotasinya tidak baik ( – ) bila ada orang yang berkata tentang hawa nafsu. Pada hal hawa nafs(u) artinya adalah keinginan jiwa (keinginan seseorang). Bila segera diartikan negative, akan terhalang penalaran untuk mengembangkan pemikiran terhadap aspek lainnya. Sekaitan dengan hawa nafsu ini, bukan hawa nafsu itu yang jelek, akan tetapi yang jelek itu adalah objek yang diinginkan itu, atau sebaliknya. Persoalan ini sebaiknya dibahas pula dalam kesempatan lain.

Dalam hati ada kemampuan untuk menerima atau menolak sesuatu , di dalam bahasa Al-Quran adalah FuadFuad sangat penting perannya, terutama melakukan perimbangan dalam mengambil keputusan. Setiap orang juga memiliki fuad. Seseorang memiliki kemampuan menerima sangat tinggi dan ada juga yang rendah. Misalnya kita mampu menelan obat yang sangat pahit, (pada hal rasa pahit tidak seorang pun yang suka atau menginginkannya), karena dengan pertimbangan tertentu kita mampu menerima rasa pahit itu. Kita telah tahu dan sadar bahwa memang obat itu dapat menyembuhkan penyakit. Betapa pun kasarnya perkataan orang kepada kita, kita tidak marah dan bersabar. Kita mampu pula menolak yang manis dan enak, karena memang akan mendatangkan siksa di kemudian hari.Contoh yang sangat baik dalam surat Al-Qasash tentang cerita ibunda nabi Musa as, dia mendapat perintah untuk menghanyutkan bayinya ke sungai, tugas itu dilaksanakannya dengan penuh kesadaran dan secara baik (walaupun dalam keadaan berat hati). Begitulah fuad ummi Musa.ra.
Bagi orang awam syahwat selalu dikonotasikan dengan seks sehingga orang suka malu jika disebut sebagai orang yang besar syahwatnya. Sesungguhnya syahwat merupakan salah satu subsistem dalam sistem kejiwaan (sistem nafsani) manusia, bersama dengan akal, hati, dan hati nurani. Syahwat itu bersifat fitrah, manusiawi, normal, tidak tercela, bahkan dibutuhkan keberadaannya, sebab jika seseorang sudah tidak memiliki syahwat pasti ia tidak lagi memiliki semangat hidup. Yang diperlakukan adalah kemampuan mengelola syahwat sehingga ia terkendali dan menjadi penggerak tingkahlaku secara proporsional. Memang syahwat yang tidak terkendali dapat berubah menjadi hawanafsu (menurut bahasa Indonesia hawa nafsu) yang bersifat destruktip.

Tentu saja sistem kerja hati tidak sesederhana uraian diatas. Sistem kerjanya sangat rumit, lebih lagi memahami saling kerjasama atau saling keterkaitan masing-masing perangkat hati tersebut dan lebih lagi masuknya faktor hidayah.

Sebaiknya baca juga tentang dua macam hati, yakni hati yang sehat dan hati yang sakit dalam Al Quran dan buku “Keajaiban Hati”  oleh alm. Ibnu Qayyim Al-Jauziah.

Perlu diingat selama ini pemahaman terhadap hati nurani kehilangan esensi, karena masyarakat kita atau cendekiawan kita melupakan fakta historis bahasa. Kebanyakan para cendekiawan lebih berorientasi atau merujuk pada konsep Conscience

Conscience tidak lebih dari the sense or consciousness of the moral goodness or blameworthiness of one’s own conduct, intentions, or character together with a feeling of obligation to do right or be good. Dalam hal ini baik atau buruknya sebuah sikap atau tindakan hanya tergantung pada nilai konsensus (conformity) komunitas.

Pada awalnya ungkapan hati nurani,  sangat erat kaitannya dengan pemahaman yang baik terhadap Nur Ilahi atau  risalah yang telah di wahyukan Allah kepada RasulNya. Setelah seseorang membaca, memahami  secara baik, maka hati orang tersebut telah disinari oleh Nur Ilahi. Jika orang telah disinari hatinya oleh Nur Ilahi, jika ia berbuat atau beramal, maka perbuatannya selalu didasarkan pada ketentuan pesan Ilahi tersebut. Jika ia menetapkan sikap terhadap sesuatu, maka ia bersikap sesuai dengan pesan Ilahi tersebut, Sikap tersebut adalah sikap yangsangat  diharapkan munculnya oleh orang lain atau komunitas. Dalam hal ini  yang dimaksud dengan  Risalah  adalah semua Risalah kepada semua Nabi dan Rasul. Untuk zaman sekarang sudah jelas hati yang telah memahami  Al-Quran secara baik. Dengan kata lain Hati Nurani  adalah hati yang   memberikan respon sesuai dengan tuntunan ilahi.

Memahami Al Quran dan mengamalkannya merupakan upaya menginternalisasi Nur Ilahi untuk mendapatkan Hati Nurani.

Memahami Al Quran dan mengamalkannya merupakan upaya menginternalisasi Nur Ilahi untuk mendapatkan Hati Nurani.

Bagi orang-orang yang telah memahami  risalah (firman Allah) secara baik tentu dia akan berperilaku atau mengambil keputusan dan tindakan sesuai dengan tuntutan risalah tersebut. Bila ia berkeinginan tentu keinginannya disesuaikan dengan nilai dan norma yang ada di dalam risalah tersebut. Dasar keputusan pelaksanaan dan tujuan tindakan selalu diusahakan berada dalam koridor risalah. Jadi Al-Quran sebagai alat timbangan akal dan fikirannya. Dan orang seperti itu pulalah disebut dengan ahli hikmah.

Itulah yang dimaksud dengan Hati Nurani, yakni hati yang telah terselimuti oleh Nur Ilahi. Ini berarti bahwa untuk menghidupkan hati nurani harus dengan memahami Al Quran.

Bandingkan juga dengan apa yang dinamakan dengan  Conscience. Istilah ini telah terlanjur di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan kata  hati nurani. Pada hal konsep dararnya tidak sama. Faktabiru ya ulill abshaar, La’allakum  turhamuun.

Lubuk Buaya, November 09

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

One Response to Mengenal Hati Nurani

  1. ajahindra says:

    mengapa jin bergentayangan dalam peradaban?
    berusaha melepaskan Indonesia dari belenggu setan dan sekutunya. NYATA.

    silakan kunjungi:
    http://antimain.wordpress.com
    Syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s