Puncak Jaya dan Global Warming


Salah satu isu yang berkembang secara tendensius dewasa ini adalah tentang pemanasan global (global warming). Banyak para ahli merasa cemas. Karena kecemasan tersebut mereka kasak-kusuk kesana-kemari berseminar untuk berdiskusi. Mereka berharap dampaknya dapat diminimalisir.

Tidak tanggung-tanggung, banyak kepala negara ikut pula melakukan KTT Bumi, di Tokyo, di Bali dan Kopenhagen terakhir bulan Desember tahun lalu. Presiden Obama dari Amerika Serikat juga ikut ambil bagian, sebagai bukti lain Presidan Indonesia Susilo Bambang Yudoyono juga terpaksa harus hadir.

Salah satu dampak pemanasan global tersebut yang mereka cemaskan  adalah mencairnya lapisan es di kutup utara dan selatan bumi. Mencairnya lapisan es tersebut menimbulkan kenaikan permukaan air laut. Ini juga mereka buktikan dengan sudah adanya beberapa pulau kecil-kecil yang berkurang luasnya. Dahsyatnya abrasi juga sebagai argumentasi mereka.

Sungguhpun demikian sampai saat ini penulis tetap saja menyangsikan pemanasan global tersebut. Ada berbagai kejanggalan yang tidak disadari oleh banyak orang. Kejanggalan tersebut menyangkut fakta-fakta pendukung isu yang mereka usung.

Para pembaca dan analis yang budiman.

Dilain pihak perlu disadari dan difahami berdasarkan studi literatur, bahwa sampai saat ini ada tiga gunung yang terletak di daerah khatulistiwa masih saja diselimuti oleh salju abadi. Tiga gunung tersebut adalah Puncak Jaya di Indonesia, Gunung Kalimanjoro di Tanzania dan Cayambe di Equador.

Nevado Cayambe

  Cayambe Equador

Puncak Jayawijaya , Indonesia

Kibo_Summit Kalimanjoro, Tanzania

Berdasarkan teori atau hukum fisika, bahwa untuk mencairkan es memerlukan temperetur (panas) lebih tinggi jika dibandingkan dengan panas yang diperlukan untuk melelehkan salju.

Dengan kata lain bila terjadi kenaikan suhu permukaan bumi, lapisan salju yang ada di tiga gunung tadi tentu saja terlebih dahulu lenyap sebelum  gunung-gunung es yang ada di kutub utara dan selatan mencair.

Banyak juga diantara kita yang mengetahui bahwa di puncak pegunungan Himalaya ( mount Efferets)  dan El Chanten Bajo Nubes Patagonia  yang terletak di daerah “sub tropic” (temperaturnya lebih tinggi dari daerah kutup) juga dilapisi oleh bongkahan es. Harusnya juga sudah habis mencair karena volumenya sangat sedikit jika dibandingkan dengan gunung es yang ada di kutub utara dan selatan.

Mount Everest, Himalaya

El Chanten Bajo Nubes, Patagonia Argentina

Fakta lainya adalah, bila memang telah terjadi kenaikan suhu permukaan bumi yang menyebabkan  mencairnya lapisan es tesebut tentu juga badai salju yang melanda USA, Eropa dan Cina  bulan yang lalu tidak terjadi. Seharusnya yang terjadi adalah badai dan hujan saja, dan juga tidak membekukan sungai Elbe di Jerman.

Di daerah kita (di lereng Gunung Merapi dan Singgalang) juga masih sering kita lihat awan atau kabut yang berhawa dingin menyapu puncak-puncak bukit barisan, seharusnya sudah menghilang karena awan tersebut akibat suhu semakin meninggi.

Oleh sebab itu penulis pantas curiga ada apa di balik isu Global Warming ?

Demikian saja, semoga bermanfaat untuk mengembangkan penalaran.

Lubuk Buaya. Januari 2010-01-11

Jalius.HR

Baca juga berita terbaru, dalam berita terkait:

Odds that global warming is due to natural factors: Slim to none

http://www.sciencedaily.com/releases/2014/04/140411153453.htm

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

8 Responses to Puncak Jaya dan Global Warming

  1. haneda says:

    Untuk melihat pengaruh kenaikan suhu ya pake pembanding lah, dulu berapa luasan tutupan lapisan es, skr tinggal barapa. bandingkan suhu rata dulu, berapa suhu rata2 skr

    • jalius.HR says:

      Terima kasih, atas komentar Haneda.
      Haneda termasuk orang cermat dalam menganalisa persoalan.
      Tanggapan Haneda sangat positif. Memang mereka yang mengatakan terjadinya “global warming data itu tidak tersedia. mereka hanya menebarkan isu.

      Terkhir kan ada berita ada tim ekspedisi pendaki tujuh puncak tertinggi di Dunia. Bulan April ini dia melakukan perkemahan di Puncak Jaya. Katanya lapisan salju di sana sudah berkurang luasnya jika dibandingkan dengan tahn 90-an.
      Kalau bulan April, posisi matahari bergerak arah ke selatan khtw. tentu suhu agak naik, kadar salju tentu akan berkurang, ingat (salju tidak hilang). Tapi sebaliknya pada bulan oktober, posisi matahari bergerak kearah utara, maka suhu akan turun (suhu lebih dingi). Tentu hal ini akan menyebabkan lapisan salju menebal/ meluas kembali. Begitulah siklus suhu dan musim setiap tahun.
      Jadi kita juga harus hati-hati juga membandingkan data yang mereka ungkapkan.
      Barang kali persoalan ini butuh juga dukungan Haneda untuk menganalisanya, dan bagaimana sesungguhnya. Kita cari mana yang sesungguhnya itu.
      Wassalam.

  2. ILHAM says:

    SUDAH DIJELASKAN BERABAD ABAD YANG LALU SECARA TEPAT OLEH ALQURAN BAHWA KERUSAKAN LINGKUNGAN BAIK DIDARAT MAUPUN DILAUT TERJADI KARENA ULAH MANUSIA, JIKA KITA CERMATI AYAT YANG MENGURAI TENTANG KERUSAKAN LINGKUNGAN ,PATUTLAH KITA MERASA TERSINDIR, SEJARAH MEMBUKTIKAN BAHWA KERUSAKAN LINGKUNGAN TERJADI 99% PERSEN OLEH TANGAN MANUSIA, APA YANG BISA KITA LALUKAN UNTUK MENYELAMATKAN BUMI TERCINTA INI??,HAL INI SUNGGUH BERAT, NAMUN JIKA KITA BERSAMA SAMA MENGAMPANYEKAN CINTA LINGKUNGAN YANG DIIKUTI DENGAN TINDAKAN NYATA, HAL KECIL APAPUN YANG KITA LALUKAN AKAN CUKUP BERARTI UNTUK ANAK CUCU KITA. SALAM LESTARI.

    • Jalius HR says:

      Terima kasih Ilham atas kunjungannya dan juga atas pesan yang telah anda ingatkan kembali, semoga Allah selalu melimpahkan Hidayahnya kepada kita semua.
      Wassalam

  3. fariz budi hamzah says:

    saya hanya mahasiswa yg masih belajar. numpang menganalisis yg bpk tulis disini. saya jg curiga dgn kabar ini, dgn tujuan menakuti umat manusia. satu lg kabar yg membuat saya bertanya2 yaitu “kelangkaan energi”. setau saya di SMA “energi tidak dpt diciptakan & tidak dapat dimusnahkan” hanya berubah bentuk.
    saya takut ini hanya bertujuan menakuti manusia.
    tp hikmah yg saya ambil adalah bagaimana kita kedepan untuk lebih bijak dalam berkehidupan bersama alam. alam pun melakukan “bencana alam” untuk mendapatkan kesetimbangan baru yg lebih ideal.
    maaf klo ada yg menyimpang dgn topik.hehe

    • Jalius HR says:

      Terima kasih Fariz atas kunjungannya, apa yang sdr. berikan komentar sudah bagus, semoga kita selalu diberi Hidayah olah Allah swt. untuk memahami alam ini.

      Wassalam

  4. Ping-balik: Pemanasan Global dan Krisis Ekonomi AS « Jalius HR

  5. Ping-balik: Global Warming VS Cuaca ekstrim « Jalius HR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s