Tahun Hijrah dan Kekeliruan Umat


Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan perjalannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab.”   Al-Quan surat Yunus ayat 5.

Tiap tahun masyarakat kita selalu memperingati atau menyambut “tahun baru” ada tahun baru Hijriah dan ada pula tahun baru Masehi. Saya pernah menerima kiriman dari kerabat kerja E-Newsletter Disdik Sumbar ucapan “Selamat Tahun Baru Islam”, tapi sayangnya tidak pada tahun baru masehi, ada apa ?

Tahun Hijriah disebut juga Tahun Qomariyah, adalah sistim penanggalan Islam yang didasarkan atas peredaran bulan [qomariyah]. Pemberian nama yang lebih populer adalah Tahun Hijriah. Karena awal tarikh hijriah dihitung  mulai dari hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, dari kota Mekkah ke kota Madinah (Saudi Arabia).

Sedangkan sistim penanggalan yang didasarkan pada waktu perputaran bumi mengelilingi matahari disebut sistim penanggalan Syamsiah atau disebut juga kelender Masehi. Karena didasarkan pada  tahun kelahiran Nabi Isa Almasih. Nama bulan yang di pakai adalah mulai dari Januari  sampai  Desember.

Yang dianggap hari hijrah ialah hari tanggal 8 Rabi’ul Awwal – 20 September 622M. Penetapan tahun Hijriah dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Tepatnya pada tahun ke-empat ia berkuasa, yakni hari Kamis, 8 Rabi’ul Awwal 17 H.

Tarikh Islam mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622 M. Menurut perhitungan, tarikh islam kira-kira 11 hari lebih singkat dari tahun menurut perhitungan peredaran matahari. Sedikit informasi untuk menghitung bagaimana tahun hijriah (H) bertepatan atau sebaliknya dengan tahun masehi (M) maka dapat dipakai rumus M = 32/33 ( H+622 ) atau sebaliknya H = 33/32 (M-622).

Penjelasannya tentang sistem penanggalan tahun Qomariah dan Syamsiah  diatas cukup baik dan jelas. Namun demikian ada  kekeliruan,  yakni pernyataan  kebanyakan orang-orang islam tentang (hanya) :

“Tarikh Islam mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622”.  Mereka tidak mengakui sistem penanggalan yang menggunakan kalender Masehi.  Pernyataan ini tidak memiliki dasar hukum yang kuat,  hanya ketetapan yang bersifat emosional dan  popular.

Pada hal  Allah sudah  menjelaskan dalam  al-quran surat Yunus ayat 5

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan perjalannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab.”

Ayat tersebut sangat jelas mengandung kedua sistem perhitungan penanggalan dan perhitungan tahun yang telah di uraikan di atas, yakni sistem “qomariah” dan sistem “Syamsiah”. Sangat keliru lagi kalau perhitungan  kalender masehi tidak diakui termasuk kedalam sistem perhitungan kalender  umat Islam.

Kedua sistem perhitungan tanggal dan tahun sangat berguna dalam kehidupan muslim. Sistem penanggalan masehi dapat digunakan untuk menentukan perhitungan iklim dan musim (misalnya). sedangkan sistem penanggalan Qomariah sangat penting untuk menetapkan jadwal-ibadah (misalnya).

Makna makna yang terkandung di dalam ayat al-Quran tersebut jangan  dipilih hanya satu sistem saja. Coba anda bayangkan dalam kehidupan sehari-hari yang belaku sepanjang masa, hampir semua muslim dewasa ini mencatat tanggal lahir dan sitem administrasinya menggunakan kalender masehi. Itu apa maknanya ? Suka atau tidak itulah ketentuan Allah, baik dalam firmanNya maupun dalam ciptaanNya.

Betul sekali perkiraan  banyak orang, bahwa …”kebanyakan kaum Muslim tidak tahu dengan penanggalan tahunnya”…Sudahlah lupa dengan penanggalan kalender Hijriah tidak pula mengakui penanggalan sistem syamsiah atau kalender masehi. Pemakaian kalender masehi dikokohkan kenapa pengakuannya tidak ?

Setelah saya membaca  berbagai pernyataan dan penyikapan terhadap peringatan  “ tahun baru Hijriah ”  saya merasa sangat  heran.  Ada dua hal yang sangat mengherankan saya;

Pertama, pokok fikiran dari  konsep dasar perhitungan tersebut tidak difahami dengan baik, yaitu  pengakuan terhadap   sistem syamsiah (solar sitem) sebagai dasar perhitungan waktu atau sistem kalender. Karena sudah jelas dasar hukumnya, baik berdasarkan ayat Al-Quran maupun berdasarkan realitas di alam raya. Bahkan penggunaanya dalam kehidupan sehari-hari sangat bermanfaat bukan ?  Bagaimanapun tidak ada alasan untuk tidak menerima dan mengakuinya.

Pada awal tahun baru hijriah diisi dengan berbagai acara (ibadah) berzikir bersama dan menghisab diri itu bagus, atau mengenang peristiwa hijrahnya Nabi SAW, sebagai penyadaran umat. Itukan soal bentuk amal yang dilakukan. Bentuk amal itu bisa saja bermacam-macam bentuk dan jenisnya. Tentu saja yang kita harapkan adalah bentuk amal soleh.

Demikian pula halnya dengan awal tahun masehi, seharusnya kan bisa pula di isi dengan acara atau ibadah yang bersifat amal soleh. Tidak diisi dengan acara “hura-hura”. Kalau diisi dengan acara hura-hura sepertinya orang non muslim itulah yang keliru, dewasa ini kan itu yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslim. Bukan saja diawal tahun baru “masehi” pada waktu yang lainpun muslim tidak juga dibolehkan berhura-hura.

Kedua, mungkin banyak orang muslim yang lupa  bahwa Al-masih adalah bahagian dari nama nabi kita Nabi Isa, yakni Al-masih ‘Isa ibnu Maryam. Tercantum dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 45…”(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),”….. Kenapa kita harus pula ikut-ikutan mengingkari. Yang perlu di ingatkan adalah bahwa Nabi ‘Isa tidak sama denganYasus Kristus di kalangan kaum Nasrani. Walau sama penggunaannya dengan kaum Nasrani tidak perlu di persoalkan, kan sama alat dan dasar perhitungan waktu. Sama saja dengan persamaan jenis makanan.

Karena tahun masehi (masehi berasal dari kata al-masih) dimulai semenjak tahun kelahiran Nabi Isa as maka tidak ada salahnya dan pantas juga kita memperingati riwayat hidup Nabi Isa as seperti memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Atau menggali fakta sejarah bagaimana penyimpangan-penyimpangan di zaman pengikut-pengikutnya. “Pengikut Al-masih” tidak sama dengan “pengikut Yesus Kristus”. Pengikut Al-masih adalah orang beriman sedangkan pengikut Yesus  kristus itulah yang Nasrani. Kan perlu dijelaskan kepada Umat.

Kalau muslim mau meninggalkan acara hura-hura dan menggantinya dengan acara amal soleh itulah sikap yang terpuji. Kalau muslim mau memulainya setiap tahun baru masehi itu akan menjadi sutu kemajuan, bisa  juga dianggap sebagai inovasi dan akan menjurus kearah perkembangan Islam. Tapi kalau tidak mau mengakui dan tidak pula mau mengisinya denga acara amal soleh akan menjadi kerdilah pemahaman tentang Islam. Berarti juga termasuk bahagian memperkokoh ketertinggalan dalam memahami dan mengamalkan Al-Quran.

Terakhir jangan lupa bahwa esensi tulisan saya adalah pengakuan terhadap perhitungan waktu berdasarkan sistem Syamsiah sangat penting disamping sistem qomariah. Perhitungan tahunnya boleh saja berdasarkan kelahiran Nabi Isa  as, atau tahun kemerdekaan Republik Indonesia dsb. Tentu saja yang bagus adalah yang disepakati banyak orang. Sedangkan bentuk acara-acara tiap awal tahun pilih saja mana yang suka  dan  yang  bersifat amal soleh.

Berfikir, dan berfikir kembali adalah pelita hati !

 

Banyak maaf.

Wassalam    –    Jalius   HR

di   Lubuk Buaya      –       Padang.

 

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

7 Responses to Tahun Hijrah dan Kekeliruan Umat

  1. ben mengatakan:

    Assalamu ‘alaikum. Awal hari pada sistem syamsiah dimulai pada pukul 00.00. Pertanyaan saya, pada pukul berapakah hari pada sistem Qomariah dimulai? Menurut saya, karena awal bulan / tanggal 1 ditetapkan dengan cara rukyat ataupun hisab, maka awal hari dimulai sekitar pukul 18.00 sistem syamsiah. Mohon penjelasan. Terima kasih. Wassalam.

    • Zulfan Arizona mengatakan:

      Jika berpegang pada acuan waktu pada 24 jam ,…maka kita akan kedapatan bahwa setiap tahun akan menyisakan 4 menit,maka kalo dikalikan sejak ditetapkanya sintem penanggalan maka akan banyak hari yg terlewat yaitu sekitar 14 sampe 15 hari,…makanya tdk bisa dijadikan patokan bahwa waktu jam sebagai acuah 24 jam perhari,….

      • Jalius HR mengatakan:

        Terima kasih Informasinya Zulfan,…..Hal ini akan merupakan bahan kajian lagi ke depannya.
        Wassalam.

  2. taufik taufani suhadak mengatakan:

    kita ini umat nabi siapa coba?….nabi muhammad kan?!///mohon di kaji ulang artikel diatas…

  3. moh. zainudin k mengatakan:

    muslim dalam beribadah berdasarkan kalender mana? masehi or hijriah . walau Al quran mengakui kalender masehi tp tidak ada perintah ibadah dlm quran menyebut bulan2 masehi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s