Pemanasan Global dan Krisis Ekonomi AS


Desmalinda   pernah menulis E-Newsletter Disdik Sumbar pertengahan februari 2010. Tulisan itu dikemas dalam bentuk artikel dengan judul Global Warming Apakah Hanya Sebuah Isu ?

Beliau telah menjelaskan kepada kita teori fluida air dan udara serta pengaruhnya terhadap stabilitas suhu permukaan bumi. Pendapat beliau itu juga didukung oleh data dan fakta yang lain yang menunjukan kepada kita semua bahwa tidak mungkin terjadi “Global Warming.

Beberapa waktu yang lampau  Jalius juga pernah membaca laporan kelompok ilmuan Amerika serikat, diantaranya Mark Cane, Amy Clement, Alexey Kaplan, Yochanan Kushnir,dan lainnya, semuanya dari Observatorium Bumi Kamont-Doherty di Palisadhes, dan Ruagu Muttugudde dari Laboratoruim Proses Hisdrsferik NASA di Greenbelt. Mereka melaporkan dalam jurnal ilmiah Scince. Dalam laporannya itu kesimpulan yang diambilnya adalah Bumi Tidak Terus Memanas. Sebagai buktinya bahwa bumi tidak terus memanas, Jalius juga pernah menulis tentang “Puncak Jaya dan Global warming”. Dimana sampai saat ini tiga gunung di daerah khatulistiwa, Puncak Jaya, Kalimanjoro dan Cyanbe masih saja diselimuti oleh salju abadi. Sampai tahun ini berbagai belahan bumi masih sering di hantam badai salju.  Bahkan Musim dingin yang luar biasa sering terjadi di Eropa Rusia, Cina atau korea. Disamping itu yang lebih penting lagi adalah justru suhu rata-rata global cenderung semakin menurun. Penjelasan tentang suhu rata-rata global akan sangat jelas dibaca pada halaman Bruderheim REA 

Pendapat  para ilmuan itu sayangnya ada yang hilang diruang publik. Makanya sangat menarik juga pertanyaan   Desmalinda pada akhir tulisannya, yakni . Kalaulah demikian halnya apakah mungkin  juga  pemanasan  global akan terjadi?     Apakah mungkin pemanasan global hanya sekedar isu saja?

Sekaitan dengan pertanyaan Buk Desmalinda tersebut,  barangkali dibalik   isu pemanasan global ( Global Warming ) itu mungkin ada udang dibalik batu. Saya mencoba mengadakan seperangkat analisa terhadap gejala yang berkembang didunia beberapa tahun terakhir ini. Dari gejala tersebut saya menyimpulkan bahwa isu global warming itu dalam rangka membantu  menyelamatkan perekonomian Amerika Serikat. Dalam hal ini “perekonomian Amerika Serikat” juga berarti mewakili perekonomian Eropa (negara-negara maju).

Sebelum isu global warming dimuncukan gejala kemandekan laju pertumbuhan ekonomi Amerika sudah mulai kelihatan. Kemerosotan itu telah terbukti saat ini. Bahwa ekonomi Amerika serikat dalam keadaan krisis berat. Saya masih ingat mantan wakil presiden RI Bapak Yusuf Kala pernah menyampaikan penjelasan soal kasus Bank century beberapa bulan yang lalu. Dalam penjelasan tersebut beliau mengatakan bahwa tidak ada krisis global pada tahun 2008. Yang terjadi adalah krisis ekonomi di Amerika Serikat. Krisis itu berimbas kepada perekonomian beberapa negara di dunia. Bayangkan 800 juta US dolar dana talangan pemerintah Amerika Serikat telah dikucurkan tahun itu untuk memulihkan krisis tersebut, nammun sampai saat ini belum juga ada tanda akan berhasil. Sampai tahun 2011 hanya satu negara di Eropa yakni Jerman yang terhindar dari krisis,  sedangkan Yunani semakin terpuruk, Spanyol juga telah menyusul dibelakangnya.

Kenapa isu pemanasan global disosialisasikan keseluruh dunia ?  Para pakar lingkungan hidup (dari Amerika atau Uni Eropa) memberikan jawaban adalah dalam rangka mengurangi gas emisi yang berperan penyumbang karbon dalam pembentukan efek rumah kaca. Jalan yang harus ditempuh untuk itu harus berupa pengurangan pemakaian bahan bakar fosil berupa minyak bumi dan batu bara.  Membatasi pemakaian bahan bakar minyak bumi dan batu bara berarti menekan produk pabrik atau industri. Alasan yang mereka usung adalah agar industri harus dijalankan dengan mesin-mesin yang bersih lingkungan. Tentu saja alasan ini sangat signifikan memberatkan banyak negara berkembang di dunia. Industri bersih lingkungan sudah jelas memerlukan biaya tinggi dan tenaga akhli berkualifikasi tinggi pula. Tidak akan mungkin dapat dicapai oleh negara-negara miskin. Pada hal di negara-negara sedang berkembang, sumber daya alam yang cukup bayak cadangannya adalah minyak bumi dan batu bara. Sumber daya alam itulah modal utama untuk pembangunan , khususnya industri. Ini berarti juga  Negara sedang berkembang ditekan agar jangan menggunakan sumberdaya alamnya itu untuk kepentingan pembngunan.

Maka inti persoalannya adalah bahwa Amerika serikat dan Uni Eropa berupaya menekan laju pertumbuhan industri negara-negara di dunia yang merupakan pesaing dari industri  negeri Paman Sam dan zona Eropa itu. Bayangkan saja perkembangan industri seperti Jepang, Korea, Cina, India,  dan banyak lagi negara-negara yang sedang berkembang semakin maju dengan angka pertumbuhan yang tinggi. Perkembangan industri di negara-negara tersebut telah banyak merebut pasar perdagangan paman Sam dan Eropa itu termasuk di Indonesia. Banyak perusahaan Amerika yang telah menurunkan tingkat produksi dan tidak mampu menggaji karyawan secara penuh. PHK terjadi di banyak industri, berdampak kepada rendahnya daya beli masyarakat. Defisit perdagangan terus bertambah, karena tidak sebanding neraca perdagangan. Setiap tahun selalu saja pemotongan anggaran oleh pemerintah US dalam jumlah yang cukup besar. Sementara di Eropa sering terjadi demonstrasi menentang berbagai kebijakan pemerintah, seperti di Yunani pemerintahnya sudah dililit hutang, Spanyol pemerintahannya memotong anggaran tunjangan sosial dan di negeri Belanda tertundanya pengangkatan personil militernya. Termasuk angka pengangguran yang semakin tinggi di kawasan Uni Eropa. Eurostat memperkirakan bahwa 26.521.000 laki-laki dan perempuan di Uni Eropa-27 , di antaranya 19.211.000 berada di kawasan euro ( EA-17 ), menganggur di bulan Maret 2013.

Amerika dan Eropa mampu menggerakkan industri dengan biaya murah, karena menggunakan tenaga nuklir untuk membangkit listrik. Namun upaya  ini juga mendapat saingan pula dari negara-negara lain seperti Cina, India,  Rusia, Jepang dan lainnya termasuk  Iran. Ada negara yang juga membangun tenaga nuklir, seperti Korea dan Iran, Pakistan untuk tujuan damai. Mereka ditekan habis-habisan. Mumpung mereka negara kecil dan dianggap mudah dikendalikan. US dan sekutunya Eropa selalu memanfaatkan lembaga dunia PBB untuk dapat melakukan tindakan represif. Khususnya Amerika mereka sangat bersahabat dengan Inggris dan Australia untuk melakukan invansi. Tapi pada India dan Cina ? Amerika  tetap saja angkat topi. Persaingan ekonomi semakin ketat. Masyarakat dunia ditakuti dengan isu Global Warming. Berbagai macam  jurnal diterbitkan,  berbagai seminar dibiayai diseluruh dunia. Semuanya itu bertujuan untuk mendapatkan dukungan. Menginvansi Irak dan Afghanistan dengan bantuan  pasukan multi nasional dan mengendalikan Negara Quet untuk menguasai sumber energi, agar energi dunia dapat dikendalikan. Mungkin inilah salah satu bentuk konspirasi kebohongan diabad ke 21 ini ? Yang melibatkan banyak pakar dari banyak negara, termasuk juga kepala Negara kita. Mungkinkah strategi ini akan berhasil ? kita tunggu saja sejarah membuktikannya.

Barangkali  mungkin itu jawaban terhadap pertanyaan Ibuk Desmalinda ?  Dan perlu juga semacam konfirmasi dan klarifikasi lebih lanjut.

Wassalam     –     Jalius HR  _   Padang        –      Indonesia

Baca juga artikel terkait  dan terbaru :  1. Utang AS Hampir Musahil Terbayar

                                                                        2. Buah Dari Kemalasan Warga AS

                                                                        3. Benarkah Pekerja AS Malas ?

                                                                        4. Utang AS Lampaui PDB

                                                                        5. Utang Amerika 15 Oktober 2013

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

One Response to Pemanasan Global dan Krisis Ekonomi AS

  1. Jalius HR says:
  2. Kongres Setujui Pemotongan Anggaran 2011
    Washington, Minggu – Pemotongan anggaran belanja besar-besaran yang disetujui Kongres Amerika Serikat, Sabtu (19/2), menghadapi tantangan besar di Senat. Hal ini mengancam kelangsungan pemerintahan dan membuka lebar pintu debat panjang serta saling menyalahkan di antara kedua kubu.
    Setelah debat panjang hingga lewat tengah malam, DPR AS yang dikontrol Partai Republik mengesahkan pemotongan belanja pemerintah sebesar 61 miliar dollar AS. Pemerintahan Presiden Barack Obama dan pemimpin Senat yang didominasi Partai Demokrat langsung mengkritik keputusan ini.
    ”Tentangan terus-menerus dari Kongres akan meruntuhkan dan merusak kapasitas kami untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan ekonomi,” kata Menteri Keuangan Timothy Geithner, yang berada di Paris mengikuti pertemuan G-20.
    Pemerintah AS saat ini berjalan dengan anggaran sementara yang berakhir pada 4 Maret menyusul ketidaksepakatan dalam kongres tahun lalu. Jika debat ini berkepanjangan melewati batas waktu itu, kubu Demokrat mengklaim pencairan jaminan sosial, pengembalian pajak, dan pembayaran pensiun akan tertunda.
    Kondisi serupa tahun 1995 yang menghentikan pemerintahan secara luas dipandang sebagai penyebab serangan balik pada kubu Republik, yang waktu itu juga mengontrol majelis rendah.
    Kongres memutuskan pemotongan anggaran ini dengan 235 suara setuju dan 189 suara menolak sesuai dengan kekuatan kedua partai di Majelis Rendah.
    ”Tak seorang pun wakil rakyat yang bertanggung jawab akan mempertimbangkan opsi seperti (pemotongan) itu. Konsekuensi dari penghentian itu segera dan menakutkan,” kata Senator Daniel Inouye, ketua komite kelayakan Senat yang berpengaruh.
    Namun, Geithner mengatakan ”sangat yakin” penghentian pendanaan pemerintah ini bisa dihindari.
    Terbesar
    Ketua DPR AS John Boehner merayakan hasil pemungutan suara ini sebagai ”salah satu pemotongan anggaran terbesar dalam sejarah Amerika”. Majelis Rendah memotong dana pemeriksaan kesehatan yang diajukan Obama dan menghentikan Badan Perlindungan Lingkungan untuk mengatur industri yang mengeluarkan emisi gas kaca.
    Boehner menyebut pemotongan ”penting untuk mengurangi ketidakpastian ekonomi, mendorong investasi swasta, dan menciptakan iklim yang lebih baik bagi penciptaan lapangan pekerjaan di negara ini”.
    Kantor Boehner kemudian mengeluarkan analisis yang memperlihatkan hanya 26 dari 127 amandemen pemotongan anggaran belanja yang disponsori Demokrat dan ”sebagian besar hanya simbolis”.
    ”Sulit mengklaim partai Anda fokus pada penciptaan lapangan kerja dan pengurangan defisit jika Anda tak bisa menunjukkan anggaran mana yang ingin Anda potong,” ujar pernyataan itu.
    Majelis Rendah memutuskan memotong dana bagi mesin kedua pesawat tempur F-35 dan menghilangkan dana untuk Institut Perdamaian AS dan Pusat Timur-Barat, yang semula diharapkan kongres sebagai jembatan dengan Benua Asia.
    Hal ini dikritik jubir Departemen Luar Negeri, PJ Crowley, sebagai tidak memiliki rasa kasihan terhadap kesulitan pangan yang dialami dunia. (AFP/WAS)
    Kompas, Senin,21 Februari 2011: http://cetak.kompas.com/read/2011/02/21/03395311/kongres.setujui.pemotongan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s