Malthus Juga Keliru


Banyak Anak Banayak Rezeki

Malthus merumuskan suatu hukum populasi yang menyatakan bahwa “populasi bertambah menurut deret ukur, sementara kekayaan atau ekonomi bertambah menurut deret hitung”. Oleh karena itu tidak wajar (logis) takut mati,  atau  mencegah pertumbuhan penduduk hanya dengan alasan  karena kekurangan sandang dan pangan. Karena sedikit anak juga tidak jaminan untuk sejahtera. Allah pun telah mengingatkan kita, bahwa Allah telah menjamin rezeki umat manusia selagi mereka masih hidup. Hanya saja jaminan itu tidak diberikan secara merata. Ada di antara manusia yang memperoleh banyak dan lebih, ada juga yang memperoleh sedikit atau tidak sama sekali. Dengan ketentuan seperti itu juga Allah memerintahkan kepada orang-orang yang banyak diberi rezeki untuk berbagi dengan orang-orang yang kurang rezekinya atau tidak mendapat sama sekali.  Baik dengan transaksi atau sedekah.  Perhatikanlah  Firman Allah

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا

بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا

[يَجْمَعُونَ [٤٣:٣٢ 

”Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?  Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka  atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan (melayani)  sebahagian yang lain”…..Az-zukhruf 32

Malthus (1766 – 1834) menguraikan pandangan-pandangannya dalam  An Essay on the Principle of  Population. Malthus merumuskan suatu hukum populasi yang menyatakan bahwa “populasi bertambah menurut deret ukur, sementara kekayaan atau ekonomi bertambah menurut deret hitung”. Karena itu dia mempertahankan kontradiksi-kontradiksi dalam perkembangan sosial. Malthus yakin bahwa kontradiksi sosial hanya dapat diatasi dengan mencegah pertumbuhan populasi (membatasi perkawainan dan perkawinan anak) Pencegahan pertumbuhan populasi (penduduk) juga dapat terjadi karena kelaparan, wabah penyakit dan peperangan,  serta lainnya.

Sehubungan dengan pendapat Malthus tersebut saya pernah berdialog dengan seorang pakar ekonomi di Perguruan Tinggi kita. Dalam dugaan saya dia termasuk kagum pada Malthus. Topik yang dibicarakan tentang banyak anak  banyak rezeki. Ungkapan itu merupakan ungkapan masyarakat kita di timur. Sang pakar mengatakan pada saya ungkapan itu boleh-boleh saja. Tentu saya menjadi penasaran dengan pernyataan “boleh-boleh saja”  itu. Lantas saya balik bertanya apa maksudnya. Maka dia menjelaskan kepada saya, bahwa ungkapan tersebut memang berlaku, itu kan dulu, sekarang  tentu saja tidak lagi seperti itu, karena situasi dan kondisinya sudah berubah. Masyarakat dunia sudah berkembang pesat. Sehingga berbagai kebutuhan umat manusia semakin sulit untuk dipenuhi.

Persoalannya sekarang adalah bahwa kedua pakar tersebut tidak bersikap “kolot”. Kolot ini saya maksudkan adalah  sebagai akronim dari kata kontrol dan lontar. Artinya bila ada ide atau konsep pemikiran harus dilakukan kontrol terlebih dahulu, kontrol terhadap faktor-faktor atau variabel yang mungkin sekali besar pengaruhnya  terhadap betul atau salahnya ide tadi, tepat atau tidaknya ide atau konsep yang telah dirumuskan . Setelah itu, kalau telah yakin  bahwa pemikiran tersebut betul atau cocok barulah ide tersebut dilontarkan ke ruang publik, atau dipublikasikan kedalam masyarakat luas.

Terhadap ungkapan  banyak anak banyak rezeki juga terkait dengan teori Malthus  di atas, maka saya memberikan masukan kepada kawan diskusi tadi. Saya bilang sama dia salah satu alat untuk menganalisis bagi seorang ekonom adalah data statistik. Coba bapak lihat data statistik tentang penduduk Indonesia sekitar tahun 1900. Pada sebuah sumber pernah saya baca, tahun 1900 penduduk Indonesia diperkirakan 36   juta jiwa. Dan juga data tentang produksi pangan pada tahun yang sama. Yang jelas saat itu siapa yang hidup ada rezekinya. Baik berupa sandang dan pangan. Kalau tidak ada datanya paling tidak kan bisa dikira. Kemudian bandingkan dengan data statistik tentang jumlah penduduk  dan produksi pangan di Indonesia sekarang  tahun 2010 ini. Bapak pasti mendapatkan  angka yang mencengangkan, yakni angka yang sebanding.

Artinya bila bertambah jumlah anak (penduduk) maka bertambah pula jumlah  rezeki ( pangan). Sampai hari ini semua penduduk Indonesia tetap saja cukup  sandang dan pangan. Dan tidak ada orang meninggal di Indonesia sebagai akibat persediaan makan tidak cukup atau tidak ada. Kalau ada warga Indonesia yang mati dan sakit karena kurang makan, penyebabnya adalah orang kaya atau kelompok the have  tidak mau dan terlambat  berbagi. Makanya jangan takut mati karena kekurangan pangan. Kita harus suka memberi dan selalu berbagi dengan sesama manusia.

Padang    Indonesia     Februari 10


Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

One Response to Malthus Juga Keliru

  1. Ping-balik: Keluarga Berencana dan Kekeliruan Ulama | Jalius HR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s