Perbaiki Kemasan Pesan Pendidikan


Pendidikan bukanlah ranah asing bagi Ibnu Miskawaih. Ia telah lama bergelut di bidang tersebut walaupun lebih dikenal sebagai filsuf dan lekat dengan bidang etika. Maka, berserak pula uraian konsep-konsepnya tentang pendidikan. Dalam salah satu karyanya, Tahdhib al-Akhlaq , cendekiawan Muslim asal Ray, Persia, ini menyatakan, pendidikan menunjukkan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan orang dewasa, terutama orang tua kepada anak-anaknya dan guru kepada muridnya.
Imam Ghazalie dan Syekh Nawawi menuliskan beberapa syarat atau adab dalam persahabatan atau memilih teman.  Imam  Al-Ghazalie mengatakan, bila engkau mencari seseorang untuk dijadikan teman dalam menuntut ilmu, serta urusan keagamaan dan duniawi, maka perhatikanlah lima hal.(dikutip dari republika):

Pertama, pintar. Berteman dengan orang yang pintar akan membawa kita menjadi makin pintar. Sebaliknya, berteman dengan orang yang bodoh, akan membuat diri kita menjadi bodoh. Dan kata al-Ghazalie, tidak ada manfaatnya berteman dengan orang bodoh. Ali bin Abi Thalib berkata,  “Janganlah berteman dengan orang bodoh, karena engkau akan celaka.”

Kedua, memiliki akhlak yang baik. Berteman dengan orang yang berakhlak baik, akan mengantarkan kita menjadi orang baik. Dia akan senantiasa memberikan nasihat yang baik dan melarang kita melakukan perbuatan maksiat. “Sahabat sejati adalah orang yang selalu bersama-mu. Ia rela berkorban untuk membantumu. Dan ketika engkau sedang ditimpa kesusahan, maka ia akan senantiasa memerhatikan dan menolongmu,” ujar Ali bin Abi Thalib.

Ketiga, bergaullah dengan orang saleh. Bergaul dengan orang saleh akan membawa kita pada kedamaian dan ketenangan. Sedangkan bergaul dengan orang yang fasik akan membuat dirimu susah dan jiwamu tidak tenang. Bergaul dengan orang fasik akan menghilangkan rasa bencimu pada kemaksiatan. “Hindarilah hal demikian,” tulis Syekh Nawawi.

Keempat, jangan tamak atau rakus. Berteman dengan orang yang tamak pada dunia, bagaikan racun yang membunuh. Dan kelima, bertemanlah dengan jujur. Jangan berteman dengan orang yang suka berdusta dan berlaku curang, karena dia akan membawa kita pada perbuatan menipu.

Apa yang telah diuraika oleh Imam gazali tersebut telah menjadi sebuah kemasan dalam dunia pendidika terutama menyampaikan pesan moral kepada siapa saja. Hampir semua guru dan orang tua  menerima kemasan tersebut, menerima tampa syarat atau tampa komentar.

Tapi bagi saya kemasan tersebut mengusik perasaan sensitifitas saya. Apakah mungkin   kemasan tersebut bila dilaksanakan akan cocok untuk dunia pendidikan ? Dalam hal ini saya harus menjelaskan bentuk implementasinya dalam masyarakat, serta dampaknya yang akan timbul.

Untuk kepentingan analisa ini saya cukup mengambil satu contoh dari lima poin yang telah dikemukakan oleh para guru-guru kita tersebut diatas. Krena kelima poin itu mempunyai dasar  pemikiran yang sama, yaitu  mendekati yang baik dan menghindar dari yang buruk. Maka untuk memudahkan pemahaman kita diambil saja poin pertama yakni:….“ Berteman dengan orang yang pintar akan membawa kita menjadi makin pintar.”……..  “Janganlah berteman dengan orang bodoh, karena engkau akan celaka.”

Kalau kita analisa pernyataan tersebut akan kita ketemukan hal-hal sebagai berikut. Misalkan ada dua orang dalam masyarakat yang saling berbeda yakni seorang disebut B (bodoh) dan seorang lagi disebut P (pintar). Kedua orang ini yakni B dan P sama sama diberi nasehat oleh orang tua atau gurunya, baik di rumah ataupun di sekolah. Dalam keseharian, B akan selalu berupaya mendekati P, dengan maksud  dia ingin menjadi orang atau bertambah kepintarannya. Tapi sebaliknya, dalam keseharian P berupaya selalu menghindar dari B katena dia tidak ingin menjadi orang celaka.

Peristiwa tersebut akan selalu berlansung dalam kesehariannya. Yang mana antara B dan P tidak akan pernah bergaul dengan baik. Proses sosialisasi akan mandeg. Yang satu mendekat dan yang satu lagi menghindar. Suasana apa yang akan terjadi ?

Sebaiknya kemasan pesan pendidikan di desain balam bentuk lain sehingga sesuai dengan ketentuan perintah Allah dan yang diperbuat oleh rasulNya. Kita diperintahkan bersosialisai dengan semua orang, kita dilarang mengikuti orang-orang yang  pekerjaannya yang bernilai “buruk” (dalam istilah Qur-an di sebut program-program syetan). Nabi pun menjadikan orang bodoh sebagai sahabatnaya dan membina banyak orang yang serba buruk kepribadiannya. Beliau sangat santun kepada semua orang. Banyak orang senang sama beliau kecuali orang-orang munafiq.

Proses sosialisasi akan terjadi dalam pergaulan, dalam pergaulan bodoh sama bodoh, pintar sama pintar dan juga antara orang bodoh dan orang pintar. Maka yang terkhir inilah yang disebut dengan proses pendidikan. Orang pintar akan memberikan pemikiran yang betul dan mencontohkan perbuatan yang baik. Sebaliknya orang bodoh akan berupaya menambah ilmunya dan mencontoh bagaimana caranya berbuat  baik kepada orang pintar. Proses sosialisasi juga bermakna memberi dan menerima. Tentu saja yang memberi adalah orang lebih dan yang menerima adalah orang kurang. Penataan keharmonisan hubungan itulah yang menjadi tanggung jawab pendidikan. Makanya agar pendidikan itu dapat berfungsi dengan baik tentu harus ditata berdasarkan kemasan pesan yang baik pula.

Kita perlu menyadari bahwa setiap orang ada sisi baiknya dan ada pula sisi jeleknya. Makanya kemasan pesan pendidikan yang harus disampaikan kepada peserta didik adalah bahwa  setiap orang  kita  bergaul dengannya, tentu saja  sesuai dengan sisi baiknya dan kita tidak mengikuti kegiatan jeleknya. Artinya kita hanya membenci pekerjaan leleknya, bukan kesemua kepribadiannya. Kita harus berkasih sayang dengan semua orang , Kita harus pula  ….“mendengarkan semua informasi dari siapa saja dan hanya mengikuti (mengerjakan) yang terbaik di antaranya” Qs.39:18.

Demikian untuk sementara semoga dapat menjadi bahan analisa dalam berdiskusi.

Wassalam, Jalius.HR di Padang.

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

2 Responses to Perbaiki Kemasan Pesan Pendidikan

  1. ulfiarahmi mengatakan:

    tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanya orang malas. Tapi juga tidak ada orang yang pintar dalam segala hal. Masing-masing kita punya kecerdasan berbeda dari yang lain.

    • Jalius HR mengatakan:

      Terima kasih Ulvi, anda telah berkunjung ke Blog Bapak, Dan telah meninggalkan sebuah komentar. Komennya sangat bagus Ulvi betul sekali, pemikirannya merupakan masukan bagi Bapak. Bapak mendoakan semoga Ulvi selalu mendapat hidayah dari Allah swt. Wasalam.

      ________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s