Pengertian Hawa


Ada sebuah artikel yang ditulis oleh Achmad Mubarok, yang berjudul  Makna Hawa. Tulisan tersebut saya temui di Website Pak Guru Online. Tulisan tersebut bagi banyak pembaca mungkin tidak begitu menarik, karena hampir setiap orang telah mengetahuinya dan sering mengucapkan kata hawa tersebut. Walaupun dalam penggunaan dan tingkat pemahaman yang berbeda-beda.

Dalam kontek bahasa, kata hawa berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab kata hawa artinya banyak sekali, demikian juga dalam bahasa Indonesia. Yang menjadi pokok persoalan dalam tulisan ini adalah kata   hawa difokuskan didalam kontek jiwa manusia

Namun bagi saya  pengertian dan konsep hawa itu sangat penting diperhatikan dan juga dipersoalkan. Penting diperhatikan karena menyangkut dengan kepentingan pemahamn semua orang dan penting dipersoalkan karena Prof.Dr.H. Achmad Mubarok termasuk yang lainnya  belum mengambil makna dari kata hawa tersebut  dari dalam kandungan   firman Allahdi di dalam Al quran dan ayat-ayat Allah yang ada pada diri manusia.  Akibatnya apa sesungguhnya pengertian hawa itu tidak jelas bila dibuktikan dengan realitasnya. Namun demikian Beliau itu sudah banyak berbuat memberikan makna bersama-sama dengan yang lainnya.

Betapa  belum pasnya pengertian kata hawa, coba perhatikan kutipan berikut sebagai contoh dalam tulisannya; …”Al-Qur an menyebut hawa dalam berbagai kata bentuknya sebanyak 36 kali, sebagian besar untuk menyebut ciri tingkah laku negatif, (Ahmad Mubarok). Persoalan  apakah ya hawa itu sebagai ciri tingkah laku negatif, maka  perlu di jelaskan sebagai berikut ini.

Kata hawa digunakan untuk mnyebutkan atau sebagai nama dari perasaan ingin , cinta, cenderung, atau suka yang ada dalam jiwa manusia.  Hawa adalah salah satu komponen  jiwa ( nafs ).   Hawa adalah bagian dari sebuah konsep kerja dari pada jiwa. Semua orang diciptakan Allah pakai hawa, makanya setiap orang punya hawa atau perasaan  ingin, cinta, atau suka terhadap sesuatu. Tidak ada orang yang tidak berkeinginan. Setiap orang berkeinginan terhadap sesuatu, mungkin dia berkeinginan terhadap makanan, terhadap pakaian dan sebagainya.

Persoalannya sekarang adalah  apakah hawa itu bernilai negatif ?

Perhatikan contoh berikut:  Rico memakan buah mangga, yang diambilnya di kebun Pak Ahmad. Cika memakan buah mangga yang diambilnya di kebun Pak Ahmad. Riko dan Cika memakan buah mangga karena ia berke-ingin-an untuk itu dan memang dia suka   buah mangga. Dalam hal ini keduanya Riko dan Cika (hawa)nya  sama, yakni sama suka atau sama senang makan buah mangga. Tidak ada yang perlu kita persoalkan. Karena memang sudah fitrahnya  seperti itu. Buah mangga memang terasa enak dimakan. Kita pun begitu, kita semua  ingin sekali makan buah mangga, lebih-lebih buah mangga yang bagus dan matang.

Proses  Riko  Cika mendapatkan buah mangga tersebut dengan jalan datang ke kebun Pak Amad, sesampai dekat pohon mangga  mereka berusaha memanjat pohon. Mereka mengambil buah mangga kemudian mereka turun kembali. Buah mangga tersebut dibawanya ke tempat yang mereka sukai, di sana mereka memakan buah mangga terebut. Karena rasanya lezat mereka pun puas, karena keinginannya terpenuhi.

Tapi ada satu hal yang membuat mereka berbeda. Riko sebelum pergi mengambil buah mangga tersebut memintanya terlebih dahulu kepada Pak Ahmad . Sedangkan Cika tidak memintanya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kebun. Sekarang  tentu muncul  dua persoalan, pertama  Riko dibilang anak yang baik sedangkan Cika disebut sebagai anak yang jelek (karena tidak meminta terlebih dahulu, maka ia  berstatus sebagai mencuri).

Sekarang yang perlu kita ketahui adalah antara Riko dan Cika dia sama  inginnya(hawa) untuk makan buah mangga dan sama pula cara mendapatkannya , yakni diambilnya di kebun Pak Ahmad. Hanya saja Cika dibilang sebagai pencuri karena kurang persyaratan dalam proses  atau prosedur mendapatkan buah mangga tersebut, yaitu “minta” terlebih dahulu sebelum diambil.

Demikian juga contoh yang lain, setiap orang dewasa ada perasaan  ingin (hawa)  untuk berhubungan kelamin dengan lawan jenisnya, karena memang begitu di ciptakan Allah. Kalau hal itu tidak dilakukan mungkin  manusia tidak akan berkembang. Dalam hal ini kasusnya sama saja dengan contoh di atas. Jalan yang ditempuh memang harus diperhatikan. Salah satu syarat yang wajib dipenuhi adalah diawali dengan pernikahan. Pernikahan Itulah yang membedakan anatara pasangan keluarga dengan pasangan kumpul kebo.  Pernikahan  adalah bahagian dari prosedur yang menjadikan proses hubungan kelamin menjadi   dibolehkan  (legalisasi)  , baik menurut ketentuan agama atau legalitas masyrakat.

Makanya perbuatan untuk memenuhi keinginan atau kecintaan terhadap sesuatu  ada “aturan” yang disepakati dalam suatu komunitas atau di gariskan oleh agama. Dalam hal ini ada syarat dan rukunnya. Bila suatu pekerjaan terpenuhi rukun syarat dan rukunnya maka perbuatan seperti itu dibilang baik (sholeh). Tapi sebaliknya jika syarat dan rukunnya  ada yang kurang, atau jalan lain yang tidak dilegalisasi oleh masyarakat maka perbuatan seperti itu dikategorikan sebagai perbuatan jelek (maksiat). Perbuatan yang tergolong  jelek  itulah akan menurunkan atau menjatuhkan harga diri seseorang dalam masyarakat.

Seperti  orang yang berhubungan kelamin yang tidak menikah sebelumnya  dinamakan dengan zina. Perasaan Ingin (hawa) dari jiwa  (nafs) seseorang itu adalah wajar dan tidak perlu dipersoalkan  artinya status hawa belum bisa dinilai negatif atau pun dinilai positif. Jika ada upaya untuk memenuhi keinginan tersebut, maka jalan yang ditempuh yang  diberikan  penilaian, nilainya tergolong baik atau  buruk. Bukan esensi hawa itu yang bernilai jelek.

Makanya  kita harus memahami dengan hati-hati larangan Allah dalam Al Quran seperti:

Janganlah kamu ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui. 45:18. 

Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti  keinginannya tanpai lmupengetahuan. 30:2. 

Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat  Kami,  6:150.  

Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah sesat dahulunya.  45.18

Larangan tersebut bukan berarti tidak boleh mengikuti  keinginan orang bersangkutan secara keseluruhan, akan tetapi adalah berkenaan dengan hal  prosedur atau  proses memenuhi  keinginan   yang tidak mengikuti ketentuan atau persyaratan yang telah ditetapkan oleh Allah atau oleh suatu komunitas. Tegasnya adalah larangan tertuju kepada prosedur atau jalan yang ditempuh. Larangan ada dalam bentuk tidak boleh sama sekali dan ada pula tidak boleh berlebihan. Makanya setiap kita perlu ada  ilmu tentang sesuatu yang kita inginkan. Dengan ilmu itu kita tahu seluk beluk tentang sesuatu itu, cara atau prosedur  mendapatkannya, dibolehkan atau terlarang dan sebagainya.

Demikian saja, jika ada keliru perlu juga diperbaiki.

Wassalam  –     Jalius.HR

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s