Pelanggaran dan Sangsi


Berbagai bentuk kesalahan atau pelanggaran dalam  kehidupan bermasyarakat sering dan akan terus terjadi. Mulai dari kesalahan yang sederhana (ringan) sampai kepada kejahatan yang mengerikan. Bahkan intensitasnya pun akan terus meningkat dan kualitasnya semakin memburuk. Persoalan ini tentu saja terkait dengan pertumbuhan umat manusia yang berimplikasi terhadap persaingan memenuhi kebutuhan hidup dan ditunjang oleh kemajuan ilmu dan teknologi.

Yang penting sekali di sadari adalah bahwa setiap pelanggaran atau kesalan harus ada sangsi atau hukuman. Sangsi atau hukuman diberikan agar faham konformitas terpelihara. Faham konformitas merupakan faktor yang mengikat, yang menyebabkan seseorang terdorong untuk bertindak atau tidak bertindak menurut ajaran atau kaidah yang telah disepakati.

Sangsi wajib ada atau diberlakukan pada setiap komunitas. Tentu saja bertujuan agar ada stabilitas sistem sosialnya. Sangsi bisa efektif untuk mencegah agar pelanggaran tidak berulang pada diri seseorang. Paling tidak memberikan dampak minimalis. Sangsi boleh saja bersifat administratif, berupaka kekerasan atau pengucilan. dalam tulisan ini yang sangat penting adalah sangsi dengan kekerasan.

Setiap orang berharap semakin berat kesalahan yang dilakukan oleh seseorang semakin berat pula sangsi yang harus diberikan. Agar sang pelaku jera melakukan kesalahan.  Semakin berat sangsi yang diberikan semakin sangat hati-hati anggota komunitas untuk berbuat dan bertingkah laku, sehingga mereka terhindar dari kesalahan. Sebaliknya jika kejahatannya sudah tergolong berat, sangsi yang diberikan semakin ringan maka anggota komunitas kurang berhati-hati dalam bertindak. Hal ini akan menyebabkan semakin besar kemungkinan sebuah kesalahan berulang kembali atau kejahatan semakin marak.

Sangsi di dalam Islam sangat utama, terutama untuk mencegah kejahatan jangan ada dan perilaku binatang jangan berkembang di dalam masyarakat. Allah secara tegas memerintahkan jika ada orang yang mencuri, berikan hukuman potong tangannya, Jika ada orang yang berzina harus diberi sangsi “rajam”. Jika ada orang yang membunuh satu jiwa wajib dijalankan hukum “qishas”. Selanjutnya juga Rasulullah menyuruh mengajarkan shalat kepada anak yang telah berusia 7 tahun,….jika usianya sudah sampai sepuluh tahun maka pukulah dia (dicambuk).

Yang sering terjadi adalah jika ada anggota komunitas melakukan kesalahan atau kekeliruan, kemudian dia ditetapkan sebagai tersangka bersalah, ada saja orang yang “membelanya”. Ada yang membela dengan kekuatan fisik, dan ada pula yang membelanya secara politis atau  juga dengan uang dan sebagainya. Ironisnya lagi adalah jika sangsi/ hukuman telah dijatuhkan, tapi dengan berbagai dalih dan alasan orang tersebut menjadi terbebaskan.

Kita sering melihat pemenangan terhadap pelaku pelanggaran. Perlakuan yang seperti itu akan membuat sipelaku tidak jera dan juga tidak menimbulkan dampak psikologis terhadap anggota komunitas yang lain. Bahkan menimbulkan keberanian untuk mencoba dengan harapan mudah-mudahan lolos dari jerat hukum atau sangsi. Mereka juga akan berpikir walau ada sangsi masih ringan untuk ditanggung. Seperti pencurian (korupsi), kemaksiatan dan pelanggaran norma susila lainnya.

Memang yang sangat fatal akibat buruknya adalah bila pelanggaran yang terjadi pada “Lembaga Pendidikan”. Apakah di lembaga pendidikan formal, non formal ataupun lembaga keluarga. Makanya sangsi, sebagai suatu yang tidak disenangi harus ada dan bahkan harus ada sangsi yang sangat ditakuti. Orang merasa malu, orang merasa rugi dan orang merasa takut jika diberi sangsi. Dengan kata lai sangsi harus mendatangkan dampak psikologis baik untuk diri sendiri maupun terhadap anggota komunitas yang lain. Yakni perasaan yang tidak mau mengulangi lagi kesalahan yang sama di lain waktu. Artinya harus ada efek jera.

Betapapun bentuk penyadaran yang dilakukan terhadap anak (anggota komunitas), tidak akan efektif jika tidak ada sangsi yang memadai. Lemah lembut saja tidak memadai, pembelajaran yang menyenangkan saja juga tidak cukup. Apalagi kalau hanya sekedar himbauan belaka. Kita tidak bisa hanya memilih salah satu bentuk penyadaran saja. Faktor “sangsi” yang tegas secara imperative wajib menyertainya. Jangan ada proses penawaran. Jangan ada anak salah proteksi.

Faktor individual differences sangat penting diperhatikan. Banyak anak bisa sadar hanya dengan kata-kata. Ada anak sadar tanpa aksara. Tapi ada juga anak bisa sadar harus dengan rotan. Penyadaran itu tidak cukup dirumah aja, penyadaran juga tidak hanya di lembaga pendidikan tertentu saja. Penyadaran itupun waktunya sepanjang umur. Tempatnya pun tidak bisa diduga. Makanya penyadaran itu harus dilakukan di lingkungan pelanggaran itu sendiri. Sangsi wajib diberikan sesuai dengan kejahatan yang dilakukan. Sangsi diberikan sampai kepada tingkat sang pelaku kejahatan tidak mau lagi mengulangi kesalahannya. Pemberian sangsi terhadap kesalahan yang ringan tidak boleh beringas atau melampaui batas wajar. Dengan demikian sungguh keliru orang yang menentang apa yang disebut sebagai  sangsi berupa kekerasan.

Makanya Profesor sekalipun perlu juga disadarkan dengan rotan. Agar ia tidak menjadi orang  hipokrit,  jika ia orang beriman dia boleh masuk sorga setelah meninggal dunia kemudian hari.

Demikian saja tulisan ini sebagai sebuah refleksi komunitas manusia.

Wassalam

Jalius.HR

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s