Tiga Jenis Nafs, Betulkah ?


Dalam bahasa Arab, Nafs mempunyai banyak arti, dalam tulisan ini dimaksudkan adalah jiwa. Kajian tentang nafs ini sudah sangat banyak dan tidak terhitung pula jumlah pakar dan jenis tulisannya. Kajian tentang nafs atau jiwa juga dalam banyak cabang ilmu, seperti filsafat, psikologi, tasauf dan kesehatan mental. Kajian tentang nafs ini merupakan kajian tentang substansi manusia . Yang menarik bagi saya adalah  para ilmuan atau para guru kita mengajarkan dan membahas tentang nafs ini,  yakni yang menyangkut dengan ada  tiga “ jenis Nafs ”.

  1. Nafsu amarah, yaitu  jiwa yang selalu menyuruh kepada keburukan. Dalil  yang digunaka qs. 12.53
  2. Nafsu  lawwamah, yaitu  jiwa yang suka mencela diri. Dalil yang dagunakan qs.75.2
  3. Nafsu muthmainnah. Yaitu jiwa yang tenang. Dalil yang digunakan  qs.89.27

Sekaitan dengan tiga jenis nafs atau jiwa manusia tersebut, setelah saya mencoba menganalisa kembali, maka ada beberapa hal yang saya anggap keliru;

  1. Saya tidak menemukan dalam masyarakat siapa saja contoh orang yang nafs atau jiwanya yang termasuk kedalam jenis yang pertama. Siapa saja orang yang jiwanya termasuk kedalam kelompok jenis kedua. Demikian pula siapa orang yang jiwanya yang termasuk kedalam kelompok atau jenis ke tiga.
  2. Kalau pengelompokan tersebut merupakan urutan perkembangan, kita juga tidak akan menemukan hal yang seperti itu. Perkembangan pertama kita mengalami jenis jiwa yang mana ?, terus perkembangan berikutnya atau kedua kita mengalami jenis yang mana ? Dan terakhir apakah semua orang akhir perkembangan nafs atau jiwanya adalah pada jenis yang ke tiga ?

Dengan demikian anatara pernyataan dengan realita (bukti) tidak cocok. Pada jenis nafs yang pertama yaitu nafs amarah, dalil yang digunakan adalah qs.12.53 yakni:….”Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”…..

Ayat tersebut terjemahannya dan penafsirannya mengandung pernyataan yang sangat tendensius, yaitu “ karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh  kepada kejahatan.  Menurut pemikiran saya suatu hal yang tidak mungkin adanya. Perlu kita ingat kata “selalu”  menyuruh kepada keburukan suatu keadaan yang tidak mungkin terjadi  pada jiwa manusia. Tidak akan ada jiwa manusia seperti itu. Pada banyak kesempatan orang tergolong jahat sering juga mengerjakan kebaikan. Lebih-lebih lagi bagi orang dikisahkan dalam ayat tersebut adalah peristiwa Nabi Yusuf  as dengan istri seorang raja yakni Yulaikha. Siapa pun di antara keduanya, saya yakin bahwa jiwanya (nafs) tidak akan pernah ada dalam kondisi “selalu” menyuruh kepada kejahatan atau keburukan. Menurut hemat saya pengertian “selalu” dalam terjemahan dan penafsiran ayat tersebut sebaiknya dibuang saja. Karena peristiwa yang tidak diinginkan itu mungkin terjadi hanya “sekali” itu saja. Tidak pernah terjadi sebelumnya atau sesudah itu.

Terhadap ayat tersebut saya mengambil  pemahaman, bahwa peristiwa yang terjadi itu adalah atas perintah nafs atau jiwa salah seorang di antaranya yaitu Yulaikha. Di dalamnya terkandung makna, bahwa salah satu fungsi nafs atau jiwa  adalah memerintah ( amarah ). Perlu juga  kita ingat bahwa kata  amarah dalam bahasa Arab tidak sama dengan amarah dalam bahasa Indonesia. Sungguh pun tidak sama amarah dalam pengertian bahasa Indonesia juga belum tentu bermakna jelek atau buruk, bahkan   kita juga disuruh oleh Allah swt untuk itu, yaitu melakukan peperangan.

Untuk jenis nafs yang kedua dalil yang digunakan adalah qs. 75.2;…” dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) “…..Ayat tersebut menceritakan tentang suatu keadan (sebagai dampak), dimana seseorang yang memikirkan kembali apa yang telah pernah dikerjakannya secara salah. Lantas apakah hal yang demikian lansung saja kata lawwamah dikutip sebagai  kata sifat, sehingga menujukan sebagai jenis dari jiwa manusia ? Ibnu Abbas pun sangat membatasi pengertiannya, yaitu hanya nanti di hari kiamat. Bagaimana di dunia (sekarang) ? Juga manusia telah berlalu masa hidupnya ?

Dalam sebuah kamus yang disusun oleh H. Mhd Fadhlullah terbitan tahun 1934 halaman 814 saya temukan salah satu arti dari lawwamah adalah “tegur-menegur” atau sama juga dengan ingat- mengingatkan. Dengan demikian kita dapat mengambil sebuah pemahaman bahwa lawwamah adalah salah satu funsi nafs lagi. Siapa saja orangnya pasti jiwanya berfungsi ingat-mengingatakan, atau tegur-menegur sesamanya dan juga pada dirinya sendiri (introspeksi). Seorang ayah menegur anaknya yang salah, atau seorang mengingatkan temannya yang tersesat jalannya.

Terakhir Jenis nafs yang ketiga yaitu nafs muthmainnah dalil yang sering digunakan adalah qs.89.27;….” Hai jiwa yang tenang “..  Kata muthmainnah (tenang) dalam ayat tersebut  menunjukan suatu kondisi yang ditimbulkan oleh hasil usaha dalam beramal  shaleh. Karena telah banyak beramal shaleh maka pahala atau kebaikan yang diperolehnya menimbulkan ketenangan. Mereka tidak merasa takut dan cemas lagi. Orang yang seperti inilah yang dipanggil oleh ALLah untuk memasuki syorga yang telah disediakanNya. Keadaan ini berlaku nanti di akhirat.

Dengan demikian kata muthmainnah juga bukan menunjukan jenis jiwa.  Perlu disadari bahwa   nafs atau jiwa manusia itu  sama , karena Allah telah menciptakannya dalam keadaan “Fitrah”. Jelek atau baiknya jiwa seseorang ditentukan oleh ke-taqwaannya, bukan karena jenis jiwanya. Salah satu  perangkat  jiwa manusia   adalah hawa (keinginan). Salah satu sifat dari keinginan manusia adalah thama’ atau tamak, yang berarti sangat berkeinginan terhadap sesuatu. Ada manusia sangat berkeinginan terhadap sesuatu yang nilainya baik, karena metodologinya diredhai oleh Allah.  Ada juga manusia yang  sangat berkeinginan terhadap sesuatu yang nilainya buruk, karena metologinya dilarang oleh Allah. Semuanya itu   ditentukan oleh jalan atau metodologi yang digunakan. Jadi baik atau buruknya nilai suatu amal atau perbuatan manusia bukan  menunjukan jenis nafs atau jenis jiwa manusia itu sendiri.

Demikian saja uraian pendek ini, kalau saya yang keliru tolong pula di tunjuki.

Wassalam.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

3 Responses to Tiga Jenis Nafs, Betulkah ?

  1. erlis says:

    ass.ww. barakallahu walakum, jempol pak..

    gak bisa beri komen, bagi saya bagus sekali kerana lengkap dengan dalil dan contoh,..penjelasan yg detail sekali..serta pejelasan makna kata2 yg digunakan..

    cuma disini sy mengambil bbrapa pengajaran, spt nafsu lawwamah, itu menurut saya sama dg intropeksi diri..

    semoga saya mempunyai jiwa muthmainnah itu , jiwa yg tenang, bila kembali kepda Allah nanti.
    saya setuju dg bapak ,nafsu tidak selalu menyuruh membuat kejahatan, ada juga utk kebaikan, misalnya nafsu ingin maju..

    wslm, maaf fikiran sy terlalu dangkal utk mencerna itu semua..

    • Jalius HR says:

      Terima kasih Erlis, anda telah mengunjungi Blog dan membaca tulsan saya. Saya berharap semoga Erlis mendapat pemahaman yang lebig baik dari Allah swt. Wassalam. Your Friend.

      ________________________________

  2. Assalamu’alaikum, Wr.Wb

    Selamat Pak Julius Semoga kita ke depan tetap eksis berjuang untuk memajukan pendidikan anak negeri ini.
    Artikel Saya yang berjudul ” Menggairahkan nafsu belajar siswa melalui penciptaan lingkungan belajar bernilai estetis ” memang merujuk dan mengacu pada makna ” Nafsu Mutmainnah ”
    Salam kenal selamat berjuang dan semoga sukses.

    Wassalam, Wr.Wb

    Dari:
    Mohamad Juri, S.Pd.,MMPd

    Guru SDN Omben 2 Kecamatan Omben Kabupaten Sampang (Madura) Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s