Konsep Hijrah


Tujuan tulisan ini adalah dalam rangka membuat sebuah   perbandingan  dalam berfikir,  mengambil makna dan memaknai serta membuat kesimpulan-kesimpulan, terutama dalam menanggapi persoalan-persoalan yang kita lihat dan kita baca. Jika terjadi sebuah peristiwa dalam kehidupan  umat manusia, banyak orang akan menanggapi atau memberikan respon. Dalam hal ini ada dua model dalam meresponnya yakni pertaman  ‘memberikan makna (memaknai) terhadap peristiwa atau fenomena yang terjadi. Kedua mengeluarkan atau mencari makna yang terkandung di dalam peristiwa atau fenomena tersebut. Kedua konsep itu sangat berbeda.

Kebanyakan orang hanya menaggapi atau merespon terhadap peristiwa berupa ‘pemberian’ makna kepada peristiwa  tersebut. Sebuah contoh penulis ambil untuk kita gunakan sebagai bahan analisa bagi kita semua, yakni seputar persoalan “Tahun Baru Hijrah”. Dalam hal ini apakah sebaiknya kita memberikan makna  atau ‘mengambil’ makna dari peristiwa hijrah tersebut ? Saya tekankan dan ingatkan bahwa memberikan makna (memaknai) tidak sama dengan mengambil makna dari sebuah fenomena yang kita baca.

Ada Konsep Hijrah Yang Keliru

Untuk menanggapi persoalan pergantian tahun hijrah setiap tahun, banyak para ulama dan cendekiawan “memberikan” pengertian atau makna pada hijrahnya Nabi Muhammad saw. Dengan kata lain menafsirkan hijrah Rasulullah saw. Pada hal seharusnya kita  mendahulu kan “mengambil” makna  yang terdapat di dalam  peristiwa hijrahnya Rasulullah dan para sahabatnya. Dengan kata lain kita merumuskan konsep hijrah yang dilakukan Rasulullah tersebut. Terutama pengenalan terhadap fenomena yang terjdi sebelum peristiwa, proses jalannya dan Anlisis situasi dan kondisi di tempat yang baru serta tujuan dari perintah hijrah tersebut. 

Sebagai contoh saya mengutip pernyatan dalam berbagai tulisan di media massa (berbagai sumber) sekaitan dengan “memkanai”hijrahnya Rasulullah.

Kita akan memasuki Tahun Baru Hijrah,….. Artinya usia kita berkurang satu tahun lagi dari sisa usia yang sudah digariskan oleh Allah swt. Perlu kita renungkan apa yang sudah kita perbuat di masa lalu, hari ini, dan untuk masa yang akan datang. Maka  harus menjadi bahan renungan bagi kita bersama! Apa sebenarnya makna hijrah itu ? Makna hijrah adalah;

1. Hijrah secara zahir yaitu pindah tempat dari suatu tempat yang kurang harmonis ke tempat lain yang lebih harmonis. Dari lingkungan yang kurang islami menuju lingkungan islami, sehingga dengan lingkungan yang baru tersebut kita dapat melaksanakan ibadah dengan lebih baik dan lebih khusyuk.

2. Hijrah dalam Perbuatan/Ibadah yaitu  menghijrahkan diri kita dari perbuatan-perbuatan yang melanggar syareat menuju perbuatan-perbuatan yang sholeh dan terpuji. Marilah kita perdalam dalam membaca perintah Allah dan laranganNya. Dengan demikian kita akan dapat menentukan mana yang wajib, sunnah, makruh,  mubah, makhruh  dan haram.

3. Hijrah dalam Akal pikiran kita yaitu menghijrahkan akal pikiran kita dari pendalilan yang kurang baik yang kurang sistematis menuju pendalilan yang baik dan sistematis. Dengan demikian yang ada dalam pikiran kita adalah berakal berpikir yang sholeh menuju kesejahteraan akal pikiran kita, sehingga  selalu memperoleh perlindungan dari Allahswt.

4. Hijrah dalam hati/Qolbu yaitu menghijrahkan hati/qolbu kita dari qolb belum mukmin menjadi qolbu mukmin. Hati/qolbu mukmin dekat dengan Allah swt. Dengan qolbu mukmin kita akan selalu memperoleh kebahagiaan dalam setiap ibadah keseharian, menjadi keluarga.. yang sakinah mawadah wa rahmah.

5. Hijrah dalam mencari nafkah yaitu menghijrahkan diri kita dalam memperoleh riziq dari Allah swt. Allah swt. tidak akan merubah nasib seseorang, apabila kita tidak merubah nasib kita sendiri. Menghijrahkan diri kita dengan memaksimalkan usaha/ikhtiar dalam mencari riziqi harta benda, sehingga memperoleh riziq harta benda yang halal, berkah, barokah untuk kepentingan ibadah kepada Allah swt”.

Setelah kita memahami uraian tersebut diatas muncul pertanyaan; Apakah Rasulullah hijrah dalam rangka mewujudkan uraian di atas?

Bagaimana kita memahami konsep hijrah ?

Para pembaca yang saya hormati.  Selanjutnya bagaimana pula, jika  kita mengambil makna dari  fenomena yang terkandung dalam proses hijrah nya Nabi  Muhammad saw.

Hijrah zaman Rasulullah sebagai suatu sistem perjuangan yang mengandung banyak makna. Sebab utama yang melatarbelakangi hijrah Rasulullah yang tidak boleh dilupakan dalam memahami dan merumuskan konsep hijrah adalah pertama Rasulullah disakiti dan kedua Rasulullah diusir dan ketiga Rasulullah dan sahabatnya diperangi oleh orang-orang kafir Mekah. Prosedur yang ditempuh adalah pindah tempat tinggal dari Mekah ke Madinah. Tujuan utama adalah tegaknya syari’at Islam. Diantara  makna penting hijrah Rasulullah yang penulis kutip adalah sistem pembuktian. Allah menyuruh  Nabi hijrah untuk pembuktian.

Peristiwa hijrah Nabi saw dan para sahabatnya dapat membuktikan bahwa pengikut Nabi sudah besar jumlahnya. Perintah hijrah memperjelas keaadan penenerima Islam secara baik. Tentu saja pembuktiannya brupa kepatuhanny mengikuti Rasulullah. Rasulullah dapat melihat secara jelas mana kawan dan mana lawan, dengan hijrah ke madinah terbukti dengan jelas siapa pengikut setia dan mana yang munafik . Dimensi yang lain yang dapat saya kemukakan disini adalah hijrah sebagai strategi melemahkan lawan (kafir Qurasy Mekah). Rasulullah hijrah berarti juga hijrah pula pengikutnya dalam jumlah besar.

hijrah1

Suatu hal yang  sangat penting kita ketahui dan disadari   adalah muncul suatu kondisi atau situasi terjadi ketimpangan pada sistem kemasyarakatan di Kota Makkah. Kekurangan tenaga kerja pada banyak sektor kehidupan tidak dapat dihindarkan. Ini berarti sistem kemasyarakatan atau pemerintahan menjadi rusak alias tidak berjalan secara baik (chaos). Banyak orang kaya Kota Mekah ditinggalkan pembantunya, banyak karyawan baik lembaga pemerintahan maupun swasta tidak masuk kantor, dan seterusnya. Akibatnya sistem kemasyarakatan porak poranda, baik pada bidang ekonomi, pada bidang politik atau sistem sosial budaya.  Pertahanan dan keamanan masyarakat orang kafir Qurasy menjadi lemah. Sistem ekonomi juga hancur. Peraturan tidak lagi berjalan menurut semestinya. Singkat cerita stabilitas dan intergritas nasional terganggu.

Sebaliknya pengikut rasulullah menjadi kuatdan solid, karena dilandasi oleh iman yang kuat dan semangat persatuan, rasa senasib. Mudah diatur apalagi dapat dukungan oleh masyarakat Madinah, dan seterusnya…… Terbukti bahwa masyarakat kota Mekah setelah ditinggalkan Rasulullah dan para sahabatnya menjadi lemah dan kacau. Terbukti bahwa orang beriman bersama Rasulullah  saw jumlahnya sangat besar jika dibandingkan dengan yang belum beriman (menerima Islam). Terbukti pengikut Rasulullah sangat solid dalam satu komando.

Maka akhirnya dalam waktu yang relatif tidak lama, Rasulullah dan sahabatnya tanpa mengalami kesulitan dapat kembali berdomisili di Kota Mekah. Terbukti juga masyarakat kafir Qurasy memang tidak mampu memberikan perlawanan. Mereka terpaksa menyerah dan mengizinkan Rasulullah dan sahabatnya berdakwah dan beribadah menurut Syari’at Islam. Di Makkah jugalah Rasulullah dapat menyelesaikan tugas-tugas kerasulannya sampai beliau meninggal dunia.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini adalah jangan memberikan makna atau menafsirkan peristiwa hijrah yakni perpindahan dari perilaku (kondisi) yang  jelek kepada perilaku atau sikap  yang  baik untuk membangun konsep hijrah. Rasulullah Saw dan sahabatnya selama di Mekah tetap saja sebagai orang baik-baik, di Madinah juga demikian. Mungkin ada lagi makna lain yang terkandung di dalam peristiwa hijrah nya Rasulullah itu, perlu juga  analisa kita semua. Dapat juga kita katakan Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah merupakan metodologi Allah dalam menjelaskan bentuk-bentuk perjuangan di dalam Islam. Semua diberi contoh melalui RasulNya. Bukan kehendak siapa-siapa.

Ada satu hal yang penting diingat;  jika  berbicara tentang perubahan tingkah laku dari yang tidak baik menjadi perilaku yang baik, itu harus dimaksudkan sebagai konsep tobat. Tobat dan hijrah tidak sama. Makanya konsep hijrah jangan dicampur dengan konsep tobat. Tobat juga sangat penting, kenapa harus diganti istilah dengan hijrah?

Peringatan untuk kita semua: Yang  suka merubah-rubah konsep dan pengertian adalah sebagai sifat Yahudi  (Alquran 5: 13, 41 ).

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ

Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya

 

Padang   –     Indonesia   –     Jalius.HR

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

One Response to Konsep Hijrah

  1. Ping-balik: Konsep Hijrah Jangan Dirubah | Jalius HR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s