Metode Pengulangan (Metode Konvensional)


Surat Tebuka Untuk Pak Guru.

Tulisan ini sengaja dibuat untuk memberikan tanggapan kepada para tokoh pendidikan (Pak Guru) yang menganggap metode konfensional sudah seharusnya ditinggalkan. Karena mereka merasa sudah menemukan ada metoda yang modern yang dapat menggantikan fungsinya. Namun bagi penulis anggapan yang seperti itu hanyalah  sebagai ilusif belaka.

Dalam Al-quran terdapat sebuah ayat yang menjelaskan pentingnya metode “pengulangan”. Dan sesungguhnya dalam Al Qur’an ini Kami telah ulang-ulangi   agar mereka selalu ingat.

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلا نُفُورًا

Dan sesungguhnya dalam Al Qur’an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulanganperingatan itu tidak lain hanyalah menyebabkan mereka tidak suka (terhadap pelajaranyang diberikan). Al-Isaraa 41.

Setahu saya baik melalui studi literatur, media massa atau pun berdasrkan realitas dalam masyarakat, sungguh metoda ini sangat penting. Metoda “pengulangan ini” boleh dibilang sebagai metoda sangat tradidional, tidak tergolong modern bahkan malah super konvensional.

Namun demikian tidak seorangpun yang akan berhasil dengan baik dalam belajar kalau metoda ini dilecehkan, apa lagi kalau ditinggalkan.

Anan Krisna pernah menulis tentang “Manipulasi Fikiran

…….” Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) yang pertama kali menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Ibarat komputer, mind atau ”gugusan pikiran” manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya.

Bagaimana Perilaku manusia ?

Dalam otobiografinya, Hitler menulis, ”Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila hal yang terpenting tidak diperhatikan. Yaitu, membatasi kata-kata dan memperbanyak pengulangan.”

Kemungkinan besar, Hitler telah mempelajari penemuan Pavlov, ilmuwan asal Rusia dan peraih hadiah Nobel 1904 untuk psikologi dan ilmu medis. Melalui teorinya tentang conditioned reflex atau involuntary reflex action, sang ilmuwan membuktikan, ”perilaku manusia dapat diatur atau dikondisikan  sesuai dengan ”proses pembelajaran” yang diperolehnya.

Sebenarnya Pavlov terinspirasi oleh law of association atau ”hukum keterkaitan” yang banyak dibahas para pujangga dan ilmuwan sebelumnya. Menurut hukum itu, ”suatu kejadian” dalam hidup manusia atau bentuk kehidupan lain —tetapi tidak terbatas pada hewan dan tumbuhan—dapat dikaitkan dengan ”keadaan” atau ”perangsang” atau ”apa saja” yang sebenarnya tidak terkait secara langsung dengan kejadian itu.

Ketika seekor anjing diberi makanan, ia mengeluarkan air liur. Ini disebut refleks yang lazim atau unconditioned reflex. Ia tak perlu menjalani proses pembelajaran. Namun, pada saat yang sama bila dibunyikan lonceng, terjadilah proses pembelajaran. Anjing itu mulai ”mengaitkan” bunyi lonceng dengan makanan dan air liurnya. Setelah beberapa kali mengalami kejadian serupa, maka saat mendengar bunyi lonceng, air liurnya keluar sendiri meski tidak diberi makanan. Ini disebut conditioned reflex, refleks tak lazim. Keluarnya air liur itu tidak lazim, tidak ada makanan. Namun, ia tetap mengeluarkan air liur.

Pembelajaran ini harus “diulang” beberapa kali agar ”keterkaitan” yang dihendaki tertanam dalam gugusan pikiran atau mind hewan, atau… manusia! Maka, tak salah bila Adolf Hitler menganjurkan pengulangan. Dalam ilmu psikologi dan neurologi modern, pengulangan atau repetition juga dikaitkan dengan intensity. Apa yang hendak ditanam harus terus diulangi secara intensif.

Demikian bila seekor anjing dapat mengeluarkan air liur yang sesungguhnya tak lazim, manusia pun dapat dikondisikan, dipengaruhi untuk berbuat sesuatu di luar kemauannya.

Pengulangan Presiden Franklin Delano Roosevelt pernah menyangkal, ”Pengulangan tidak dapat mengubah kebohongan menjadi kebenaran.” Betul, tetapi pengulangan dapat membuat orang percaya pada kebohongan ( bahaya ini memang harus diwaspadai ). Hitler membuktikan keabsahan sebuah pepatah lama dari Tibet, ”Bila diulangi terus-menerus, kebohongan pun akan dipercayai orang.” Memang banyak contoh untuk ini, seperti banyak sarjana muslim mempercayai materi pelajaran bahwa sifat Allah 20 dan sifat rasulnya 4.

Saat saya membahas hal ini dengan seorang teman baik di salah satu lembaga  pendidikan tinggi, dia membenarkan dan mengakui metode pengulan memang sangat ampuh.  Lantas dia  mengutip sebuah pepatah masyarakat Minang Kabau “pasa jalan dek baturuik, lanca kaji dek baulang”.  Bisa saja digunakan untuk kebaikan oleh guru  dan demikian juga untuk  kejahatan oleh provokator .

Sekian saja untuk sementara semoga berguna oleh bapak dan ibuk Guru. Juga agar menghindari diri dari bersikap hipokrit.

Lubuk Buaya   Padang,  Agustus  2010.                                                                                                                                                                     Wassalam           Jalius   HR

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

5 Responses to Metode Pengulangan (Metode Konvensional)

  1. yasrizal says:

    Betul sekali itu pak Yus, kita bisa belajar juga kepada Air dan Batu. Air adalah bersifat cair dan lembut sedangkan batu bersifat keras dan diam. Nah air menetesi badan batu pada satu titik secara berulang lama kelamaan batu bisa tembus oleh air. Perumpamaan kedua ” Tukang Bangunan Dan Batu “. Batu besar itu pecah oleh tukang bangunan itu bukanlah pada pukulan pertama, tapi pada pukulan terakhir ini disebabkan oleh pukulan yang berulang-ulang. Padangsidimpuan, 23-8-2010 jam 22.27 WIB.

    • Jalius HR says:

      ———————
      الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
      ———————–
      Terima Kasih atas kunjungannya, Terhadap apa yang anda baca semoga diberkati oleh Allah swt,

      Wassalam – Jalius

  2. Elan says:

    saya setuju dengan penerapan metode pebgulangan ini agar siswa lebih rajin menghafal pelajaran.

  3. windarto says:

    mohon izin untuk mengutip tulisan ini pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s