Nafsu Amarah


Di dalam berbagai literatur saya  menemukan banyak  pendapat ahli kerohanian tentang pengertian atau makna dari “Nafsu Amarah”. Sering nafsu amarah dianggap atau dipahami sebagai  martabat nafsu yang paling rendah dan kotor di sisi Allah. Segala  yang ditimbulkan darinya adalah tindakan kejahatan yang penuh dengan perlakuan mazmumah (kejahatan/keburukan). Pada tahap ini hati  nurani diyakininya tidak akan mampu untuk memancarkan sinarnya,  karena hijab-hijab dosa yang melekat tebal, lapisan lampu makrifat benar-benar terkunci. Dan tidak ada usaha untuk mencari jalan mensucikannya. Karena itulah hati terus kotor dan diselaputi oleh pelbagai penyakit.

Pada awal analisa ini  ada suatu hal yang perlu  kita  ingat,  yakni pertama  kata nafsu dan kata  amarah dalam bahasa  Arab tidak sama artinya dengan kata ‘nafsu’ dan kata ‘amarah’ di dalam bahasa Indonesia. Kedua kata tersebut dalam bahasa Arab dapat dijelaskan sebagai berikut;

Kata  ‘nafsu’ artinya adalah  jiwa. Kata ‘amarah’ artinya memerintah atau menyuruh  untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan  di dalam bahasa Indonesia kata ‘nafsu’ artinya   keinginan atau dorongan hati yang kuat untuk berbuat yang kurang baik. Kata ‘amarah’ di dalam Bahasa Indonesia berarti  mengeluarkan kata-kata untuk menunjukan perasaan yang tidak suka atau sangat tidak senang. Oleh karena itu pilihan kata sangat penting diperhatikan, karena   kata atau istilah adalah berfungsi penjelas makna. Jadi kata (bahasa Indonesia) yang berasal dari kata (bahasa Arab) kebanyakan sudah berubah artinya, sehingga tidak cocok digunakan untuk menganalisa dan memahami Al-Quran.

Para pembaca yang arif dan bijaksana.  Untuk selajutnya saya akan membahas judul  tulisan  ini  dalam  kontek  makna  yang  mengikuti  Bahasa Arab,  yang bersumber dari kitab suci Al Quran. Terminologi “Nafsu Amarah” dapat diambil dari dalam Al-Quran  surat Yusuf ayat 53;               

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

” Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “

Pemahaman terhadap pengertian  “Nafsu Amarah “ perlu ditinjau kembali. Sebab salah dalam mengambil pengertian tentu akan salah pula jalan fikiran dalam memahami perilaku manusia. Kita tidak akan pernah menemukan dalam masyarakat ada orang yang jenis jiwanya yang selalu menyuruh kepada keburukan. Sejelek-jelek manusia jiwanya akan lebih banyak berkehendak kepada yang baik-baik. Tentu saja kalau dihitung secara statistik dia juga akan lebih banyak berbuat kebaikan dari pada  kejelekan.

Dalam hal ini kalau kita perhatikan pada ungkapan “Nafsu  Amarah”  terdiri dari dua kata, yani satu kata benda dan satu lagi kata kerja. Nafsu artinya jiwa,  sementara  Amarah artinya memerintah atau  menyuruh. Dengan demikian berarti kedua kata tersebut tidak pas digabungkan begitu saja untuk membentuk satu pengertian yakni sebagai sebuah nama, yakni sebagai penunjukan kepada jenis jiwa yang berkeinginan atau  mendorong  untuk selalu berbuat yang kurang baik.

Bila kedua kata itu digabungkan dia akan  membentuk sebuah kalimat sederhana yang terdiri dari subjek dan prediket. Kata “nafsu” sebagai subjek dan kata “amarah” sebagai prediket. Kalau mau mencermati kalimat nafsu amarah di dalam ayat tersebut di atas , kedua kata itu bukan merupakan sebuah kata majemuk. Sebagaimana yang kita pahami didalam bahasa indonesia kalau kata majemuk adalah dua kata yang mengandung satu pengertian . Sedangkan didalam ayat di atas dua kata itu membangun kalimat sederhana. Maka kalimat itu akan mengandung pengertian “ jiwa(lah) yang memerintah atau menyuruh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan ”, yakni pekerjaan yang tergolong bernilai (cerita dalam ayat tersebut di atas bernilai buruk).

Akan tetapi kita perlu tahu bahwa setiap orang yang berkeinginan  terhadap sesuatu akan selalu ‘diperintah’ oleh ‘jiwa’ nya untuk melakukan tindakan  atau pekerjaan.  Apakah perkerjaan itu tergolong bernilai baik atau dibolehkan  dan yang tergolong buruk atau dilarang.  Misalnya kita makan  atau membaca buku, kegiatan itu sudah jelas sebagai perintah atau suruhan dari jiwa kita.  Dengan kata lain  apa saja yang kita lakukan atau  kerjakan , hal itu selalu berdasarkan atas perintah atau disuruh oleh jiwa kita. Jadi konsep dasarnya menyuruh  atau  memerintah (amarah) tersebut  adalah salah satu dari fungsi atau tugas jiwa manusia.

Jiwa menyuruh kita melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan . Fungsi jiwa “ memerintah “ atau me nyuruh kita didorong oleh  hawa ( perasaan ingin, kehendak, atau cinta terhadap sesuatu, atau cenderung ).  Dalam hal ini kita juga harus menyadari bahwa hawa adalah salah satu komponen dari jiwa manusia. Karena tiap manusia  diciptakan oleh Allah mempunyai hawa (perasaan ingin atau suka) sebagai fitrah.

Tiap orang berkeinginan  adalah  terhadap sesuatu yang disukai atau dicintai. Untuk mendapatkan keinginan atau sesuatu yang dibutuhkan tentu harus ada usaha.  Bila proses atau prosedur usaha yang ditempuh dalam pemenuhan kebutuan  tersebut  sesuai dengan norma atau ketentuan yang berlaku dalam komunitas maka keinginan itu bernilai baik. Bila proses atau metodologi dari usaha pemenuhan keinginan itu tidak sesuai dengan norma atau ketentuan atau norma yang berlaku di dalam komunitas,  maka keinginan itu bernilai buruk.

Makanya bukan nafsu atau jiwa itu yang bernilai jelek atau baik,  akan tetapi prosedur yang ditempuh untuk memenuhi keinginan itulah yang diberi nilai yakni  bernilai baik atau bernilai buruk. Adanya kehendak manusia terhadap sesuatu  itu sudah merupakan fitrahnya atau  dasar  kejadiannya. Kehendak jiwa terhadap sesuatu bukan suatu kesalah atau suatu keburukan.  Labih-lebih di saat kita haus, apakah jelek jiwa kita bila berkehendak kepada air ?

Sebagai contoh untuk menjelaskannya,  keinginan berhubungan kelamin (seks) antara wanita dan pria,  ada dua jalan yang dapat  ditempuh. Ada jalan bebas  (sebutlah namanya kumpul kebo)  dan yang  satu lagi  adalah jalan berikatan (berkeluarga). Mereka pada awalnya suka sama suka, tempat dan waktunya bisa sama. Tapi kenapa jalan yang satu satu (kumpul kebo) dinilai “buruk” sedangkan yang kedua berkeluarga dinilai “baik” ?  Persoalannya terletak pada, jalan yang pertama  kurang persyaratannya dari ketentuan yang berlaku dalam masyarakat, yakni  tidak nikah  dan  jalan  yang  kedua    cukup persyaratannya  atau  sesuai  dengan  peraturan  yang  ada dalam masyarakat (nikah). Maka jelas disini yang  jeleknya bukan nafsu (jiwa) atau hawa (perasaan ingin, atau cinta pada  hubungan seks).  Akan tetapi  nilai  jelek atau baik dari suatu perbuatan itu  terletak pada metodologi di  dalam   prosedur yang ditempuh untuk mendapatkan keinginan tadi.

Dengan demikian  pemahaman lain yang dapat  kita  ambil  dari   “ kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku “   adalah  bahwa orang yang selalu mengikuti  norma  agama  dalam  hal mendapatkan  keinginannya,  itulah  nafsu atau jiwa  yang  dirahmati oleh Allah.  Di dalamnya  juga   terkandung maknabahwa jiwa ini tidak akan pernah  ada  selalu menyuruh kepada keburukan, tentu saja sebaliknya.

Demikian  saja , kalau ada yang salah tentu perlu   juga ditunjuki, karena persoalan ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Lubuk Buaya,  Agustus 2010.                                                                                                                                                                           Wassalam.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

One Response to Nafsu Amarah

  1. Wal Asri says:

    amarah
    lawamah
    ——————————-KEBINATANGAN DUNIA
    musawalah
    muthmainah
    ——————————-JIN
    —————————————————————————————————————-
    radhiah
    mardhiah
    kamiliah
    ——————————-MUHAMMAD AKHIRAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s