Apa Salahnya Metoda Konvensional


Setelah penulis melihat situs E – newsletter disdik Sumatera Barat, konten dari berbagai  website, dan media cetak lainya serta berbagai uraian oleh pakar pendidikan dan  penatar, penulis merasakan ada  kemasan pikiran yang kurang garam khususnya tentang metode pembelajaran. Selanjutnya, kali ini penulis akan memberikan respon kepada tulisan   Bapak Marjohan MPd.  yang berjudul “Tinggalkanlah Metoda konvensional”. Tulisan Bapak Marjohan ini terdapat dalam  Website beliau. Dan penulis jadikan sebagai wakil dari tulisan dan pernyataan  pakar yang lain yang memaki-maki metoda konvensional ( yang mereka anggap kuno). Dalam pengertian bahwa yang telah kuno itu tidak lagi tergolong baik untuk dunia pendidikan dewasa ini dan di masa depan.

Tulisan ini   akan penulis  awali  dengan  sebuah  anekdot. Ada beberapa anak balita yang sedang asyik bermain. Mereka bermain menggunakan sejumlah lembaran kertas, gunting dan lainya. Ada salah seorang dari mereka pandai membuat alat permainan berupa pesawat terbang dari bahan kertas yang dilipat-lipat. Kemudian dia mencoba meluncurkanya, ternyata berhasil. Melihat kejadian yang seperti itu temanya yang lain ingin pula bisa membuat permainan serupa itu, yaitu model pesawat terbang dari bahan kertas. Proses belajar dan membelajarkan berlansung cepat sekali. Tidak terlalu lama, dua kali gagal dan yang ketiga kalinya berhasil. Semua anak  asyik bermain. Kelihatan diwajahnya perasaan puas dengan kepintaran yang baru saja diperolehnya. Mereka semua bangga bisa menguasai teknologi permainan tersebut.

Lantas penulis berfikir sejenak tentang peristiwa anak balita yang asyik bermain tadi. Banyak sekali aspek yang bisa difikirkan tentang anak–anak balita tersebut. Salah satu aspek yang selalu dan bahkan sering sekali penulis fikirkan adalah kenapa anak balita saja bisa sukses dalam proses saling membelajarkan ? Pada hal merka belum pernah belajar seperti mahasiswa di perguruan tinggi tentang apa yang disebut metode pembelajaran. Hasil dari perenungan penulis yang dapat diungkapkan disini adalah mereka berhasil karena penguasaan materi (keterampilan) yang sangat baik. Rupanya  metode yang mereka gunakan, adalah tanya jawab dan demontrasi. Saya fikir metode ini mungkin usianya sudah seusia dengan manusia berada di muka bumi.

Selanjutnya pada tulisan ini penulis akan menjelaskan secara singkat hakekat metode , sehingga dengan penjelasan ini kita memperoleh gambaran yang baik apa itu metode dan apanya yang kuno serta apanya yang modern. Penulis menginginkan kita semua faham dengan berbagai metode, mana diantara metode tersebut yang pas untuk digunakan dalam proses pemelajaran.

Istilah metode biasanya kita tujukan sebagai nama dari pada suatu proses kerja  yang dilakukan secara sistematis untuk mencapai tujuan. Dapat juga dalam arti system kerja  dalam  rangka mengantarkan sesuatu dari suatu tempat ketempat lain, atau dari suatu keadaan kepada keadaan lain, atau dari suatu kondisi ke kondisi lain dan seterusnya. Dalam  pembelajaran   maka  metode itu adalah proses kerja mengantarkan materi pelajaran dari suatu tempat (guru) ke tempat lain (murid). Sementara guru bisa saja berupa manusia dan bisa dalam pengertian  sumber belajar. Sebagaimana layaknya system kerja (metode) dalam  proses pembelajaran  selalu terpilih sehingga apa yang di maksud dengan efektifif dan efesien dapat terjadi. Mana metode mana yang   efektif dan efesien tentu yang lebih   tahu adalah   guru bersangkutan.

Guru yang menguasai seluk-beluk (konsep) suatu ilmu secara baik dapat melaksanakan proses mengajar dengan  efektif dan efesien. Sekalipun mereka tidak pernah belajar tentang terori tentang metode mengajar. Namun dalam hal-hal yang  sangat spesifik perlu dipelajari metodologinya (dalam hal inilah  seharusnya yang menjadi fokus kajian  oleh para pakar).  Banyak disiplin ilmu materinya dapat  disampaikan menggunakan metoda yang sama dan ada pula materinya harus disajikan dengan metode khusus pula.

Ada pula suatu mata pelajaran yang menggunakan beberapa metode sekaligus, misalnya pelajaran fisika, diawali dengan berceramah, terus melakukan  percobaan dan  dilanjutkan dengan tanya jawab atau diskusi. Proses mengajar yang seperti itu telah berlansung semenjak manusia ada samapai sekarang. Penggunaan metoda secara tunggal atau bervariasi sudah biasa dilakukan.  Tidak jarang kita temui dalam masyarakat ada saja guru yang disenangi oleh banyak anak karena penguasaan ilmu yang bagus penerapan metoda yang harmonis. Sedangkan guru yang tidak menguasai materi pelajaran secara baik sering mengalami kesulitan dalam mengajar. Muridpun kurang merasa senang belajar.

Beberapa contoh metoda mengajar yang sangat  (sudah tua) usianya antara lain: metodaceramah metoda ini adalah metoda yang paling tua kalau  dilihat  dari sisi sejarah. Penulis berkeyakinan  apa saja pelajaran yang akan kita ajarkan kepada anak khususnya disekolah metoda ceramah ini tidak bisa ditinggalkan. Pada pelajaran tertentu paling sedikit di awal dan di akhir proses pembelajaran.  Metoda tanya jawab, metoda ini usianya   sama usianya dengan metoda ceramah. Lebih-lebih dalam ilmu sosial  metoda ini sangat penting, sangat ampuh untuk melaksanakan sosialisasi. Atau untuk memantapkan keyakinan terhadap informasi yang diterima.  Metoda diskusi, metoda ini adalah saudara kembar dari metoda Tanya jawab. Metoda ini sangat ampuh untuk mencari atau menemukan solusi dari suatu permasalahan. Sangat banyak penggemar metoda ini di seluruh dunia, baik di negara maju maupun di dalam masyarakat yang masih primitif. Itulah tiga contoh metoda yang sangat konvensional    sebagai contoh.

Penggunaan metoda dalam pembelajaran akan sangat efektif dan efisien bila digunakan bervariasi.   Untuk mencapai tingkat efektifitas dan efesiensi yang tinggi  digunakan pula alat bantu. Alat Bantu ini bisa berupa media dan dapat pula berupa alat peraga. Alat Bantu yang berupa media ada yang sederhana dan ada pula kompleks. Media yang sederhana dapat berupa sebuah gambar seekor  bakteri dan gambar yang kompleks dapat berupa audio visual.

Demikian pula alat peraga, ada alat peraga yang sederhana dan ada pula alat peraga yang kompleks atau canggih. Alat peraga yang sederhana misalnya sebuah globe dan yang canggih sebuah prototype atau rangka sebuah mesin dan lain sebagainya. Walaupun ada   metoda yang dianggap modern tapi dasarnya tetap saja  efektifitas dan efesiensi, misalnya metoda research. Metoda tersebut dasarnya sudah lama usianya, hanya saja para ilmuan kita mengemasnya dengan menggunakan istilah asing agar terasa keren. Namun penggunaanya selalu ada penyesuaian, dimana ,bila dan oleh siapa ? Demikian juga dengan persoalan alat bantu, yaitu media dan alat peraga. Dalam dunia pendidikan alat bantu dapat saja berupa barang yang sudah sangat kuno sampai kepada alat yang canggih.

Metoda dan alat Bantu mana yang akan di gunakan dalam proses pembelajaran, memamg harus terpilih tepat, sehingga tercapai tingkat efektifitas dan efesiensi yang tinggi. Keterpilihan metoda dan alat Bantu tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis materi yang akan disampaikan, siapa gurunya, daerah dimana, tingkat pendidikan  siswa, kemampuan keuangan, waktu dan lain sebagainya. Sekaitan dengan persoalan ini sangat penting mendapat perhatian bagi pakar pendidikan, agar tidak terjadi “asal modern”  atau “asal keren” saja.

Perlu juga penulis sampaikan disini, sebuah metoda dikatakan efektif bila  metoda yang digunakan dapat mencapai sasaran atau tujuan yang kita inginkan. Selanjutnya suatu metoda atau alat peraga yang dikatakan efesien bila memenuhi lima aspek. Yang pertama adalah tidak memerlukan biaya yang besar. Kedua tidak menghabiskan waktu yang lama. Ketiga tidak menggunakan ruang beasar/luas. Keempat tidak menguras tenaga terlalu besar dan kelima tidak membutuhkan pemikiaran yang berat. Dengan kata lain adanya penghematan.

Perlu juga kita sadari bahwa pilihan yang dikatakan modern adalah pilihan yang tingkat efektifitasnya dan efesiensinya yang tinggi. Bukan terletak pada tingkat mutakhirnya suatu alat yang digunakan.  Dalam hal ini sering terjadi   kekeliruan berfikir   kebanyakan pakar pendidikan, terutama dalam hal mengadopsi ide-ide baru dalam dunia pendidikan. Terkadang kita ketemu dengan sebuah ungkapan klasik harap burung terbang tinggi  Punai ditangan dilepaskan. Coba tanya sama guru sekolah dasar   yang mengajarkan dasar-dasar matematika kepada anak didiknya di kelas I, apakah   mengajarkan  +   _    :   dan   X . Mana yang akan lebih bagus menggunakan alat bantu berupa lidi kelapa dibandingkan menggunakan kalkulator ?

Terakhir adalah apa yang di sebut sebagai “kuno” adalah untuk menyatakan sesbuah produk berupa barang-barang yang dibuat sudah lebih satu abad yang lalu. Istilah itu tidak berlaku untuk cara  memproduksinya atau sebuah metoda.

Demikian saja untuk sementara, selamat menganalisa dan saling koreksi.

Wassalam.

Lubuk Buaya, Oktober 09

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s