Tumpulnya Logika Tuan Guru


Dalam tulisan ini sebutan Tuan Guru dimaksudkan sebagai sapaan akrab terhadap seorang guru besar yang jaman sekarang disebut profesor. Istilah ini konon populer tempoe doeloe. Penulis terdorong membuat komentar ini setelah membaca sebuah artikel di SKK Ganto terbitan April- Mei 2008 dengan judul Menggagas Kurikulum Berbasis Riset; Kurikulum Inovatif untuk SMA. Artikel tersebut  ditulis oleh seorang Profesor (Gube). SKK Ganto adalah  Surat Kabar  di Kampus Universitas Negeri Padang  Indonesia. Tentu saja pembacanya adalah kelompok intektual  terutama.

Dalam artikel  tersebut Tuan Guru melontarkan sebuah ide, yang mana ide tersebut dimaksudkan untuk kemajuan pendidikan dalam masyarakat kita, baik tingkat lokal maupun nasional. Sayang sekali  dalam tulisa tersebut permasalahan yang dikemukan   tidak pas dengan  ide  sebagai solusi  yang ditawarkan. Untuk melahirkan ide tersebut Tuan Guru mengangkat beberapa permasalahan atau kondisi yang ada di lapangan. Kondisi atau permasalahan tersebut antara lain:

Pertama, penjurusan di SMA tidak sesuai dengan perkembangan disiplin ilmu.

Kedua,  strategi pembelajaran belum berubah, yaitu pada umumnya guru di daerah atau di sekolah-sekolah masih                             menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran.

Ketiga, beban belajar siswa yang terlalu banyak dan tidak fokus pada keilmuan tertentu.

Keempat, guru dan pelaku pendidikan lainnya belum semuanya punya komitmen yang tinggi.

Kelima,  prasarana pendidikan yang belum memadai.

Untuk kepentingan pemecahan masalah tersebut Tuan Guru  menawarkan ide, yakni sebuah konsep kurikulum harus disusun berbasis riset. Apa dan bagaimana kurikulum berbasis riset dijelaskannya dengan ringkas. Penjelasannya cukup mudah di pahami.

Setelah dicoba menganalisa gagasan Tuan Guru itu ada dua hal yang fatal dalam sistem penalaran yang dilakukan oleh Tuan Guru ini. Pertama, pemahaman terhadap permasalahan yang diungkapkan dan kedua tidak sesuainya permasalahan tersebut dengan konsep ide sebagai pemecahan masalah.

Permasalahan pertama yaitu tidak sesuainya penjurusan di SMA dengan perkembangan ilmu. Alat ukur yang digunakan Tuan Guru adalah pengelompokkan ilmu kedalam empat kelompok, sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Imran Manan dalam mata kuliah Filsafat pendidikan. Tuan Guru kurang memahami bahwa pengelompokkan ilmu tersebut dalam rangka penyederhanaan berfikir dalam proses belajar filsafat ilmu. Sedangkan analisis perkembangan ilmu harus menyangkut keluasan dan kedalaman materi suatu ilmu, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hal ini sudah bersifat pagmatis. Perlu diingat  bahwa penjurusan itu dilakukan berdasarkan karena luasnya  bidang kajian dan perlu kedalaman  kajiannya.

Permasalahan kedua yang harus dipahami adalah penggunaan metode ceramah. Tuan Guru tidak akan bisa mengajar dengan baik  kalau tidak da ceramah walaupun sedikit. Apapun mata pelajarannya perlu metode ceramah, paling tidak untuk memulai atau menutup pelajaran, apalagi di SMA. Tentu saja perlu didampingi dengan metode lain.

Persoalan ketiga adalah tidak fokus pada keilmuan tertentu. Tuan Guru tidak menyadari, kalau kefokusan pada keilmuan tertentu biasanya di SMK atau di perguruan tinggi. Memang mata pelajaran di SMA disetting seperti itu sebagai pengembangan pengetahuan dasar yang diperoleh pada jenjang sebelumnya yaitu SD – SMP. Dan lagi di SMA siswa belum ditempatkan pada bidang studi tertentu

Persoalan keempat adalah guru  belum semuanya punya komitmen. Perlu juga sesekali  kita melihat KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang mana pengertian komitmen adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu ; kontrak. Padahal guru-guru  di SMA melaksanakan tugas sesuai dengan peraturan dan prosedur yang berlaku. Kita yakin sekali tidak ada guru yang mengajar tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Sekolah-sekolah. Hanya saja mungkin ada satu atau dua orang  guru di sekolah tertentu yang kurang bagus pelaksanaan tugasnya. Oleh sebab itu ungkapan komitmen jangan salah alamat ( salah suai ).

Persoalan kelima adalah prasarana pendidikan yang belum memadai. Persoalan  ini sangat jelas sekali akan selalu  menjadi faktor pendukung  situasi dan kondisi dari  strategi pembelajaran yang belum berubah, yaitu pada umumnya guru di daerah atau di sekolah-sekolah masih menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran. Kalau  fasilitas laboratorim tersedia tentu guru akan dapat melaksanakan metoda eksperimen dan demontrasi.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa fenomena yang dikemukakan Tuan Guru kita ini belum pas sebagai alasan untuk menggagas kurikulum berbasis riset.  Tuan Guru belum sepenuhnya memahami bahwa riset itu merupakan sistem pendekatan atau metode penggalian materi pelajaran. Sedangkan basis kurikulum adalah sistem nilai dan kebutuhan yang ada dalam masyarakat, baik atau buruknya suatu kurikulum yang dibangun atau dikembangkan tergantung pada basisnya itu yakni kebutuhan dan nilai yang ada dalam masyarakat. Riset juga sebagai salah satu metode yang  dapat  digunakan untuk menjalankan kurikulum dalam proses belajar dan pembelajaran.

Sangat penting dipahami dalam hal ini adalah, bahwa dasar logika yang harus digunakan adalah apa yang diinginkan dan bagaimana cara atau metodologi mendapatkannya.   Sekarang kita perlu bertanya kepada Tuan Guru, kenapa tidak persoalan strategi, metode dan tekhnik pembelajaran yang tidak efekrif  dipermasalahkan? Padahal sudah jelas riset adalah cara penggalian  atau pendalaman kajian materi  pelajaran. Riset adalah salah satu metodologi dalam pembelajaran, disapingnya banyak lagi metode yang dapat digunakan. Bila riset sebagai solusi, bukan lima persoalan di atas yang merupakan masalahnya. Pada  hal semestinya Tuan Guru tidak perlu lagi menggagas kurikulum berbasis riset, hanya tinggal memilih materi pelajaran yang cocok untuk digali dengan riset dan laksanakan. Dan juga ini merupakan wewenang seorang  guru dalam pemilihan metode pembelajaran.

Dalam hal ini ada suatu pemikiran yang tidak boleh dilupakan, yakni kurikulum tidak bisa di setting hanya berdasarkan satu metode saja. Setiap pembelajara selalu saja seorang guru menggunakan beberapa metode  terpilih, misalnya metode ceramah dan tanya jawab (minimal).  Metode riset bisa dilaksanakan  bila bergandengan dengan metode lain, misalnya ceramah, diskusi atau tanya jawab, melakukan ekperimen, observasi atau survey. Adakalanya dilanjutkan dengan  seminar hasil.

Terakhir dari penulis adalah agar pemahaman Tuan Guru terhadap kondisi pendidikan di Indonesia harus berdasarkan konteks ke- Indonesiaan. Kalau Tuan Guru melihatnya menggunakan konteks Jepang dan Amerika sudah jelas sebagian besar pendidikan di Indonesia gagal total. Oleh sebab itu jangan terlalu tinggi angan-anagan yang membuat sebagian masyarakat kebingungan.Lebih-lebih komposisi masyarakat Indonesia mulai dari yang primitif sampai yang modern perlu menjadi dasar pemahaman oleh Tuan Guru.

Ide mengemukakan kurikulum berbasis riset itupun bagus, tetapi perlu diingat konsepnya sangat kompleks. Klau mau melaksanakannya, berbagai sistem yang ada di jajaran Depdiknas harus dirobah dan penyediaan dana yang tidak sedikit. Sementara hasil yang akan dicapai belum tentu lebih baik jika dibandingkan dengan kurikulum yang telah berjalan. Kurikulum yang telah diterapkan telah banyak menghasilkan orang cerdas dan pintar termasuk Tuan Guru.

Sebagai penutup saya kemukakan salah satu pernyataan mendiang Bapak Yakub Isman beliau pernah menjabat sebagai Rektor IKIP Padang, beliau mengatakan bahwa Betapapun  situasi atau kondisi pengelolaan pendidikan akan selalu menghasilkan putra – putri terbaik  pada zamannya”.

Demikian saja untuk sementara, selamat menganalisis dan saling koreksi. Bila diperlukan dapat disambung lagi.

Padang  – Indonesia  –  Mei ’09.

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s