Bersyukur


“Syukur “ Sering Juga Salah pemahamanya.

Banyak orang  yang sering mengatakan “pantas kita syukuri”. Bersyukurlah untung saja kita selamat dari mara bahaya. Marilah kita  panjatkan “puji dan syukur “kehadirat Allah swt. Yang lebih parah lagi adalah ” Alhamdulillah puji sykur kita ucapkan kepada Allah……. dsb. Tentu saja kesalah itu diperoleh dari bapak-bapak pendahulu kita. Bagi penyanyi syukur it hanaya sebagai kata hisan saja…yang membuat tertipu.

Persoaan kali ini adalah  seperti apa  dan bagaimana seharusnya bentuk amal atau  perbuatan dari perintah bersyukur ? Persoalan ini perlu dijelaskan karena menyangkut kewajiban umat dalam menjalankan ibadah kepada-Nya. Jika konsep bersyukut tidak jelas maka bentuk amalnya juga tidak jelas. Selanjutnya penulis ingin pula menyampaikan penjelasan tentang apa yang dikatakan bersyukur. Apa bentuk  pengamalan perintah  bersyukur  dari Allah kepada kita ?

Bagi kebanyakan orang kata “syukur” itu selalu dimaknai dengan “ucapan” berterima kasih. Terima kasih dalam artian berupa ucapan atau perkataan saja, seperti halnya di dalam bahasa pergaulan kita sehari-hari. Bila ada orang memberi sesuatu yang berharga kepada kita, maka kita selalu mengucapkan kata “terima kasih”. Jika seperti itu cukup mengucapkan al-Hamdulillah” (segala puji hanya bagi Allah) saja.

Untuk itu penulis akan mengutip beberapa ayat Al Quran yang berkaitan dengan perintah bersyukur ini. 

ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًۭا ۚ وَقَلِيلٌۭ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ ٣٤:١٣

Beramalah  hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).
Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Firman Allah tersebut di atas menjelaskan kepada kita, bahwa kita disuruh bekerja atau beramal untuk mensyukuri nikmat (pemberian) Allah. Nikmat Allah yang diberikan Allah kepada kita sangat banyak, dan kita tidak mampu menghitungnya. Nikmat yang telah diberikan itu wajib disyukuri. Baik berupa harta benda, kelengkapan tubuh, alam sekitar dan ilmu pengetahuan. Maka untuk bersyukur kita harus bekerja (harus ada amal untuk itu). Sukur di dalam hasa Al Quran tidal sama maknanya dengan yang dalam kamus.

Dalam proses kerja (amal) tersebut kita harus “memanfaat”-kan atau menggunakan nikmat-nikmat yang telah ada pada kita. Kita manfaatkan di jalan yang Dia redhoi. Untuk memudahkan pemahaman kita, perhatikan contoh sebagai berikut;

Seorang Insinyur pertanian, setelah dia wisuda berarti dia telah dianugerahkan oleh Allah ilmu tentang bertani dan tanaman. Ilmu pertanian itulah merupakan nikmat Allah untuk dia. Maka Insinyur tersebut harus bekerja, dalam bekerja itu dia menggunakan ilmu pertaniannya. Dalam hal ini tentu saja dia harus  bekerja sebagai seorang petani (kata orang modern petani profesional. Dia akan menerapkan panca usaha tani dan sebagainya.  Jika Insinyur itu bekerja (bertani) menggunakan ilmu pertaniannya itu, tentu hasilnya akan bagus dalam artian prosuktifitas akan tinggi.

Hasil yang diperoleh oleh Insinyur itu juga merupakan nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya. Hasil panennya itu berarti Allah telah menambah pemberian nikmatNya kepada Insinyur itu. Di samping itu dalam perjalanan kariernya Allah menambahkan pengetahuan baru kepadanya (pengalaman kerja). Dia sangat apik mengelola pertanian dengan ilmunya itu. Pengalaman yang sangat berharg juga salah satu makna yang terkandung dalam Firman Allah berikut :  Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [١٤:٧

Jadi sangat jelas sekali hubungan sebab akibatnya dari konsep bersyukur dengan tambahan pemberian nikmat Allah kepada umat manusia. Menggunakan nikmat yang telah ada dalam bekerja akan mendatangkan perolehan tambahan nikmat, yaitu berupa hasil usaha tersebut. Terus jika hasil pertanian itu digunakan lagi untuk tambahan modal…tentu hasil yang diperoleh juga akan meningkat (sebagai tambahan nikmat),…. begilah seterusnya.  Tapi sebaliknya jika ilmu pertanian itu tidak digunakan dalam bekerja, niscaya Allah tidak akan menambah NikmatNya. Jika seandainya Insinyur itu tetap juga dia bekerja sebagai petani, tetapi tidak menggunakan ilmu pertaniannya yang digunakan, tentu saja hasil kerjanya akan jelek. Bahkan  akan menimbulkan petaka, maka bersama petaka itulah azab Allah terlaksana. MIsalnya dia keahliannya  mengenai mengendalian hama, tidak mengerti soal tanah aau bibit. Paling kurang masyarakat sekitarnya akan mengejek dengan nada menghina.

وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ   ٢:١٨٥

Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Makanya untuk melaksanakan pekerjaan ber-syukur itu haruslah dengan petunjuk Allah (Ilmu yang anugerahkannya ) yang maha Agung itu.

Demikian pula seterusnya terhadap nikmat Allah yang lain. Kita harus menggunakan nikmat yang ada pada kita untuk bekerja (beramal). Kita tidak dapat membantah ketegasan firman Allah tersebut diatas. Bila kita melihat gunakanlah mata, bila mendengar gunakanlah telinga, bila kita memotong kain gunaknlah gunting, dan seterudnya. Gunakanlah nikmat itu dengan baik niscaya Allah akan menambah nikmatNya kepada kita.

Kalau kita lihat contoh yang lain misalnya, kalau kita punya uang, maka bekerjalah dan gunakanlah uang itu dalam untuk dunia usaha (misalnya buka usaha berjualan). Niscaya Allah akan memberikan hasil pada usaha itu. Maka hasil usaha (keuntungan berjualan atau dagang) itulah nikmat tambahan. Tapi ingat kita punya uang yang banyak tidak dimanfaatkan untuk berusaha, hanya disimpan saja, maka tunggu saja kerugian yang akan kita derita itulah azab Allah pasti akan datang (seperti penurunan nilai tukarnya) atau dimakan rayap dsb. Kita punya keteramplan tapi tidak digunakan untuk bekerja, tunggu saja kerugian yang akan kita derita (seperti kita terpaksa membayar mahal untuk mendapat apa yang bisa dikerjakan dengan ketrampilan itu).

Sebagai contoh lain yang gampang adalah: anda punya keterampilan menyapu halam rumah, dihalaman rumah anda juga sering sampah berserakan. Tapi anda tidak mau menyapu halaman dengan berbagai alasan, kerugian atau kesulitan yang anda derita adalah seperti; pertama mungkin pada suatu saat halaman rumah anda penuh (banyak) sampah dan akan medatangkan berbagai macam penyakit dan mendatangkan keadaan yang tidak sedap atau terganggu aktifitas lain. Kedua anda harus mengeluarkan uang untuk menggaji orang yang mau bekerja menyapu sampah di halamn rumah anda. Mencari uang untuk itu adalah konsekwensi logis lagi dari ke-tidak-mau-an anda bekerja menggunakan keterampilan menyapu (sebagai nikmat) yang ada pada anda.

Dengan demikian pula kita akan dapat menemukan suatu ketentuan, bahwa semakin penting fungsi dari sebuah nikmat (pemberian Allah) , jika tidak disyukuri semakin besar pula akibat (azab) yang ditimbulkannya. Hanya saja kebanyakan dari kita tidak menyadarinya.

Jika sesorang menempati atau ditempatkan pada posisi jabatan, pekerjaan yang amanahkan pada dia tidak sesuai dengan keahliannya, maka hal yang demikian termasuk juga kedalam  tidak bersyukur. Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda, bila suatu pekerjaan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggu sajalah kehancuran. Itulah azab bagi yang tidak bersyukur.

Syukur juga  salah konsep.

Bersyukur biasanya oleh banyak orang dikaitkan dengan hal-hal yang positif, menyenangkan atau mengembirakan. Itulah  pendapat umum yang sering kita dengar dan sering kita lihat  sejak kanak-kanak, mereka amalkan dalam bentuk lain, dan mereka ajarkan dan kerjakan kembali. Bersyukur, ketika naik kelas. Bersyukur, karena mendapat makanan. Bersyukur, karena bisa jalan-jalan. Bersyukur, karena baju baru, mainan baru. Bersyukur, karena mempunyai teman yang baik.  Ketika usia beranjak dewasa pola bersyukurpun tidak berubah. Bersyukur, karena naik pangkat atau dapat promosi. Bersyukur, karena makan enak. Bersyukur, karena bisa libur ke luar negeri. Bersyukur, karena rumah baru dan mobil baru, dan sebagainya. Bentuk pelaksanaanya adalah berdo’a bersama bersama ustadz di rumah… nama syukuran.

 

Syukuran

Makan bersama anak yatim katanya “Syukuran”


Pernah saya melihat, Bahkan sering terjadi dalam masyarakat kita kegiatan bersyukur . Kali ini sebagai contoh ada seorang teman juga tetangga setelah lulus ujian CPNS lansung dia mengadakan acara “syukur-an”. Di rumahnya disediakan sejumlah masakan, kemudian diundang tentangga dan kerabat dekat. Ada undangan khusunya yakni anak yatim. Tidak lupa menghadirkan seorang guru agama atau Labai atau orang yang sering dipanggil Ustadz. Setelah makan bersama-sama, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh seorang Ustadz. Setelah selesai berdo’a, berakhir pulalah acara “syukur-an”.

Begitulah salah satu bentuk  bersyukur yang dipahami dan telah menjadi tradisi di dalam masyarakat kita. Syukur yang seperti itu termasuk syukuran besar-besaran, karena melibatkan banyak orang dan biaya yang cukup relatif besar. Tentu saja di samping itu ada pula namanya syukur kecil tapi biasanya tidak disebutkan “kecil” –nya itu. Syukur kecil biasanya hanya sebatas ucapan kalimat “Syukur al-hamdalah” baik scara jahar atau dalam hati saja.

Sebetulnya kegiatan seperti itu berada dalam konsep “Betasbih dan bertahmid kepada Allah.  Bertasbih adalah pengakuan kita kepada kesucian Allah dari segala yang tidak layak bagiNya dan mengakui kesucian Allah dari segala kekurangan. Sedangkan bertahmid adalah menyatakan pujian kepada Allah atas segala kasih dan sayangnya pada hambanya, karena Allah telah banyak memberi nikmat kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dalam hal inilah kita harus selalu mengucapkan alhamdallah jika kita  menerima nikmat dari Allah, sebagai tanda kegembiraan hati kita. Juga mengucapkan terimakasih kepada siapa yang memberi sesuatu yang baik kepada kita, sebagai pertanda bahwa kita sangat senang menerima pemberian itu. Jarang terjadi lebih penting lagi adalah jika kita melihat sesuatu sebagai nikmat dari Allah maka ucapkanlah La–quwwata illa-billah. Jadi konsep puji dan terima kasih (tasbih dan tahmid) bukan berada dalam konsep  syukur.  Perhatikan perintah Allah berikut ini;

Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. (As-Sajda: 15) ….. dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang, (Taa-Haa: 130)

Maka dengan demikian kebanyakan kita baru hanya sebatas telah  merasa”  bersyukur. Bersyukur  menurut semestinya belum.

Demikian saja untuk sementara, semoga saya tidak salah faham.

Wassalam   –    Jalius  HR              

Padang    –    Indonesia   –    September 10.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

2 Responses to Bersyukur

  1. dedehsh says:

    terima kasih atas kunjungan Bapak, dan membawa saya ke artikel tulisan Bapak ini.. sangat bermanfaat. salam ukhuwwah, Pak.. blog-nya menarik..:)

  2. Jalius HR says:

    —————–
    ؤ عليكم ا سلأم ؤ رحمة اللة ؤبر كة
    ———————————–

    Semoga kita semua selalu diberi Hidayah oleh Allah.

    Salam kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s