Guru Kita Juga Keliru Dalam Berteman


Ada sebuah artikel yang dimuat oleh koran Nasional yaitu koran Republika. Artikel itu diterbitkan pada tanggal  Minggu 04 April 2010 dengan  judul Etika Dalam Berteman. Setelah saya baca, ada suatu hal yang dapat saya simpulakan dalam fikiran saya, yakni “logis tapi tidak masuk akal”. Betapa tidak, selanjutnya saya kutipkan bahagian artikel itu yang merupakan pokok pikiran  yang terkandung di dalamnya, kemudian saya lanjutkan dengan komentar  tentang tulisan tersebut.

….” Salah satu pembahasan yang menarik yang dibicarakan dalam kitab Maraqi al-Ubudiyah adalah adab atau etika dalam berteman. Dengan memperhatikan etika dalam pergaulan, akan membuat persahabatan menjadi semakin langgeng.

Teman adalah sahabat dalam pergaulan. Bergaul dengan teman yang baik, niscaya akan mengantarkan kita pada perbuatan yang baik pula. Sebab, teman yang baik akan senantiasa memberikan sesuatu yang terbaik. Karena itu, janganlah teman yang seperti ini disakiti. Sebaliknya, teman yang tidak baik akan membawa kita pada perbuatan yang tidak baik. Bergaul dengan teman seperti ini, dapat menjerumuskan kita pada hal-hal yang negatif

Berkaitan dengan masalah ini. Imam Ghazalie dan Syekh Nawawi menuliskan beberapa syarat atau adab dalam persahabatan atau memilih teman. Di dalam kitabnya ini, Syekh Nawawi menyebutkan setidaknya ada dua hal besar yang harus diperhatikan dalam pergaulan. Pertama, perhatikan terlebih dahulu tata cara berteman dan memilih teman yang baik, agar kita tidak ikut terjerumus dalam perbuatan yang tidak baik. Kedua, kewajiban yang harus dipenuhi dalam berteman.

Al-Ghazalie mengatakan, bila engkau mencari seseorang untuk dijadikan teman dalam menuntut ilmu, serta urusan keagamaan dan duniawi, maka perhatikanlah lima hal, di antaranya:

Pertama, pintar. Berteman dengan orang yang pintar akan membawa kita menjadi makin pintar. Sebaliknya, berteman dengan orang yang bodoh, akan membuat diri kita menjadi bodoh. Dan kata al-Ghazalie, tidak ada manfaatnya berteman dengan orang bodoh.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Janganlah berteman dengan orang bodoh, karena engkau akan celaka.”

Kedua, memiliki akhlak yang baik. Berteman dengan orang yang berakhlak baik, akan mengantarkan kita menjadi orang baik. Dia akan senantiasa memberikan nasihat yang baik dan melarang kita melakukan perbuatan maksiat.

“Sahabat sejati adalah orang yang selalu bersama-mu. Ia rela berkorban untuk membantumu. Dan ketika engkau sedang ditimpa kesusahan, maka ia akan senantiasa memerhatikan dan menolongmu,” ujar Ali bin Abi Thalib.

Ketiga, bergaulah dengan orang saleh. Bergaul dengan orang saleh akan membawa kita pada kedamaian dan ketenangan. Sedangkan bergaul dengan orang yang fasik akan membuat dirimu susah dan jiwamu tidak tenang. Bergaul dengan orang fasik akan menghilangkan rasa bencimu pada kemaksiatan. “Hindarilah hal demikian,” tulis Syekh Nawawi “…..

Komentar yang dapat saya sampaikan adalah,….” Etika dalam berteman dalam Islam, menurut Al-Qur an berbeda dengan apa yang dirumuskan oleh para  Guru kita seperti Ibnu Miskawaaih atau imam Gaazali dan Imam Ali , sperti yang dimuat oleh koran republika  di atas.  Rumusannya dalam Al-Quran sederhana sekali tapi makna sangat urgen  dan luas. Yakni berteman dengan semua orang tapi jangan diikuti perilaku jeleknya (seperti langkah-langkah  syetan). Arinya bertemanlah dengan semua orang dengan patut. Uraian berikut ini akan memperlihatkan sebuah logika yang  tidak masuk akal.

Salah satu contohnya adalah ” jangan berkawan dengan orang bodoh ” (kutipan pertama). Pembaca yang budiman, berikut ini saya jelaskan bagaimana  keanehan logika tersebut. Misalnya di suatu tempat atau daerah ada dua orang pemuda. Yang satu orang pintar (P) dan yang ke dua adalah orang bodoh (B). Berdasarkan nasehat orang tua dan gurunya disuruhlah B bergaul dengan P. Sedangkan P  tahu bahwa B adalah  orang yang bodoh. Berdasarkan keadaan yang demikian P tidak mau berteman dengan B dan dia selalu menghindar dari si B bila dia mendekat. Bila si B mendekat lansung saja si P menghindar. Begitulah seterusnya,  satu menurut (mendekat) yang satu menghindar atau tidak mau melayani sebagai teman. Apa akibatnya ? Ya sudah jelas proses pendidikan atau sosialisasi tidak berjalan dengan baik. Akan demikian pula logika untuk poin yang lainnya.

Maka kita dapat bertanya dalam hati: bagaimana bentuk hubungan Guru dengan Murid ? Bagaimana bentuk hubungan seorang anak yang telah pintar sementara ayahnya tetap saja sebagai orang bodoh karena tidak bersekolah dan dengan alasan lainnya ? Dan juga hubungan kekerabatan ? Bagaimana bentuk hubungan antara buruh dan majikan ? Yang lebih penting lagi adalah bagaimana bentuk hubungan Sang Guru kita itu dengan murid dan masyarakatnya ?

Semoga menjadi bahan penalaran bagi  yang  berakal.

Wassalam  –   Jalius  HR

Padang  –    Indonesia

 

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s