Etika Dalam Berteman


Etika dalam berteman  menurut  Islam,  harus menurut ketentuan yang ada dalam  Al-Quar an. Menurut  keterangan yang ada dalam Al Quran  berbeda dengan apa yang dirumuskan oleh sebagian para  tokoh pendidik atau pencerahan. seperti Ibnu Miskawaaih atau imam Gaazali, beliau itu melarang kita bergaul dengan orang bodoh. Rumusannya dalam Al-Quran sederhana sekali tapi maknanya sangat  mendasar dan luas. Yakni berteman dengan semua orang tapi jangan diikuti perilaku jeleknya (perilaku syetan). Perhatikanlah firman Allah dalam surat Luqman, cermatilah nasehat Lukman kepada anaknya;

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Dari nasehat Luqman kepada anaknya terlihat dengan jelas, bahwa harus bergaul dengan semua orang, maka dalam pergaulan itulah misi mencegah perbuatan yang mungkar dapat dilaksanakan. Apa yang terjadi akibat pergaulan tadi maka harus dihadapi dengan sabar  dan proaktif.

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Kita dilarang memalingkan muka dari manusia. Memalingkan muka tentu saja karena sombong. Orang sombong adalah orang yang merasa lebih dan menganggap diri lebih mulia jika dibandingkan dengan orang lain. Orang sombong bisa saja karena pintar, bisa saja karena kaya, bisa karena kuat, bisa karena bagus fisik dan tidak cacat, bisa karena keturunan bangsawan  dan sebagainya. Maka bentuk kesombongan itu  adalah   ada orang menghindari diri dari bergaul dengan orang bodoh, orang miskin atau orang yang serba berkekurangan. Bila menghindari diri bergaul dengan orang yang  tamak dunia serta orang  penipu (berperilaku buruk), bagaimana upaya mengajak mereka kepada kebaikan dan upaya mencegah kemungkaran ?  Bila kita merasa lebih dari orang lain, maka disinilah munculnya dan tumbuhnya perasaan dan sikap sombong. Bila menghindari diri dari orang-orang yang serba kurang baik, niscaya kita akan medapat resiko yang lebih jelek. Bisa saja seorang anak akan mengabaikan orang tuanya atau orang tua membuang anaknya. Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan dan dikhianati adalah dalam  proses pendidikan merupahan sarana pergaulan orang bodoh dengan orang pintar yang wajib dilaksanakan.

Makanya kehidupan dalam masyarakat yang harmonis adalah dengan membangun kerukunan sesama warga. Fungsi-fungsi yang wajib dijalankan adalah yang kaya menyantuni yang miskin, yang pintar mengajar orang bodoh, yang kuat melindungi yang lemah, yang mampu membantu yang serba berkekurangan. Tidak sebaliknya yakni “ memalingkan muka dari manusia “ atau menzalimi sesama dalam masyarakat.

Allah telah menjelaskan kepada kita (QS.43.32) bahwa hubungan orang yang lebih dengan yang kurang adalah dalam rangka saling melayani. Demikian uraian singkat ini semoga bermanfaat bagi kita semua.

 

Wassalam    –     Jalius  HR

Padang    –   Indonesia   –     November 10

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

One Response to Etika Dalam Berteman

  1. Amy mengatakan:

    Se-tuju..,juga diantara kita saling melengkapi..dengan santun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s