Sesat Yang Jauh dan Yang Nyata


Kita sudah sering mendengar dan membaca dimedia masa tentang apa yang disebut dengan aliran sesat. Majlis ulama sering memukulkan palu di atas meja, sebagai tanda telah diputuskan sebuah fatwa bahwa satu paham kelompok tertentu dinyatakan sesat. Majlis ulama tersebut bukan hanya di Indonesia saja, akan tetapi lingkupnya manca negara. Majlis ulama khususnya di Indonesia, untuk lebih tegasnya lagi harus pula mempubliksikan apa yang telah dinyatakan sebagai sebuah fatwa, fatwa tentang kriteria suatu ajaran atau  keyakinan yang telah dinyatakan sesat.

Tidak ketinggalan dalam kondisi tertentu ormas-ormas islam ikut demo kejalan-jalan dan melakukan swiping ketempat-tempat yang dianggap sebagai markas sebuah aliran sesat. Tentu saja keeinginan mereka yang berdemo itu adalah agar munculnya sebuah fatwa (keputusan bersama). Memang fatwa sangat dibutuhkan  sebagai landasan hukum untuk bertidak melalukan pelarangan  ataupun legalisasi.

Kata sesat menjadi fenomenal, ketika keyakinan pribadi yang sesat menjadi masalah publik. Artinya keyakinan yang dianut seseorang menjadi keyakinan banyak orang, atau menjadi keyakinan para pengikutnya, sehingga orang yang diikuti keyakinannya yang sesat disebut menyesatkan.

Ajaran adalah suatu pemahaman (yang biasanya menyangkut konsep kehidupan) yang disampaikan kepada pihak yang lebih luas dengan sengaja dan terencana. Sesat adalah salah jalan atau menyimpang dari yang telah ditetapkan. Berbicara tentang ajaran yang sesat, kedua belah pihak dapat saling menuduh yang lain sesat dengan dasar suatu ketetapan yang menguntungkan pihak tersebut, oleh karena itu orang   yang benar perlu mengambil titik tolak yang telah dibuktikan dalam  Kitab atau undang-undang. Semua penganut ajaran, apa pun isi ajarannya, meyakini bahwa ajaran yang mereka anut itu betul. Mereka juga dapat mengatakan bahwa ajaran di luar yang mereka anut adalah sesat. Karena itu,  kelompok manapun perlu melihat faktor penyebab munculnya berbagai ajaran yang disebut sesat, dan dari sudut pandang mana ajaran itu disebut sesat.

Di dalam tulisan ini  akan dijelaskan ada tiga bentuk manifestasi dari konsep sesat. Sifatnya sangat universal, berlaku untuk semua. Kesesatan yang dimaksud bersifat sangat fundamental. Apakah  yang sesat itu ajaran,  faham atau keyakinan ,  atau jalan pikirannya, maka mari kita  merujuk kepada ayat Alquran. Ketiga  bentuk manifestasi kesesatan itu adalah sebagai berikut:

 

Pertama     :        ضَّلالُ الْبَعِيد

Kedua         :         ضَلالٍ مُبِينٍ

Ketiga         :          ضَلالٍ كَبِيرٍ

 

Pertama adalah ضَّلالُ الْبَعِي (sesat yang jauh). Kesesatan yang jauh adalah kesesatan pada tataran konsep atau prinsip.  Kesesatan ini dapat berupa salah pada tingkat desain , salah sasaran atau salah tujuan (objek yang dituju). Hal ini dapat disebabkan oleh salah penafsiran atau salah komunikasi. Pada tataran yang lebih  urgen adalah orang yang menyembah Tuhan. Konsepsi tentang Tuhan adalah selain Allah. Sedangkan dalam pengertian sempit seperti Raja Mesir kuno, Firaun dalam rangka mempertahankan tahta kerajaannya dia perintah pasukan pengawal kerajaan membunuh semua anak-anak (laki-laki) yang baru lahir  dan menghidupkan anak perempuan di dalam masyarakat. Yang salah adalah konsep pertahanan takhta. Atau seperti cerita legenda Malin Kundang, dia tidak mau mengakui ibunya yang telah tua dan wajahnya tidak cantik lagi. Tapi dia masih saja percaya bahwa ibunya masih hidup. Dalam hal ini juga termasuk kelompok masyarakat yang menganggap kelompok etnisnya yang lebih mulia di muka bumi. Sementara bangsa lain dianggapnya rendah derajatnya. Pada hal  sejatinya  konsep “mulia” itu adalah terletak pada   “perilaku” yang baik.

Contoh lainnya adalah dahulu ulama (ilmuan) mengatakan bahwa bumi itu datar,  Pada hal sesungguhnya adalah bulat. Dalam hal ini sumber kesesatan adalah pengetahuan yang ada tidak valid. Pengetahuan yang tidak valid disebabkan metodologi kajian belum tepat.

 

Kedua adalah ضَلالٍ مُبِينٍ (sesat yang nyata) , yakni kesesatan pada tataran implementasi. Kesesatan yang seperti ini sangat banyak contohnya dan ada pada semua bidang kehidupan. Misalnya Islam menghendaki umatnya bersaudara dan bersatu. Untuk kepentingan persatuan itu diperlukan sebuah organisasi. Sehingga mudah mengelolanya, berbagai usaha mudah diselesaikan, beban yang berat menjadi ringan.

Untuk kepentingan itu banyak tokoh/cendekiawan Islam membuat organisasi dan mengajak umat masuk ke dalam organisasi tersebut. Masing-masing tokoh berupaya menanamkan pengaruhnya kepada pengikut-pengikut yang taraf kemampuan berpikirnya rata-rata dibawah sang tokoh. Namun apa yang terjadi ? Banyak bermunculan organisasi. Masing-masing organisasi memperlihatkan ciri dan karakter yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing kelompok membanggakan keunggulan program-programnya. Akibatnya umat Islam terpecah dalam berbagai kelompok atau golong-golongan di dalam kehidupan atau perjuangannya. Masing-masing golongan menempuh jalan yang tidak sama. Mereka sangat menonjolkan kehebatan tokohnya dan program yang dijalankannya. Dengan kata lain masyarakat sangat tertarik pada metodologi sang tokoh ketimbang  kepada “Islam” itu. Sehingga modal dalam berbagai bentuk menjadi tidak efektif dan efisien. Akibatnya sampai saat ini Umat Islam di dalam suatu masyarakat atau negara belum juga mencapai persatuan.

 

Ketiga adalah ضَلالٍ كَبِيرٍ  ( sesat yang besar), yakni kesesatan pada tataran sikap penerimaan. Pada kesesatan ini  dasarnya adalah sikap mental yang tidak mau menerima kebenaran. Sikap ini disebabkan oleh tidak melakukan analisa yang komprehensif, sehingga terlalu cepat mengambil kepuasan.  Keputusan yang diambil itu  berlawanan dengan yang sesungguhnya.  Hal ini  juga disebabkan pada saat suatu kebenaran yang di sampaikan selalu dinilai dengan  tradisi yang berlaku dan tidak rasional. Untuk perkara ini contoh yang sangat penting dapat diajukan adalah orang yang tidak   mau menerima bahwa Tuhan adalah Allah swt dan Muhammad adalah RasulNya.  Contoh yang cukup menarik bagi penulis adalah, bila terjadi perubahan iklim yang ekstrim ilmuan mengatakan bahwa penyebabnya adalah Elnino dan Elnina. Mereka tidak sadar bahwa Elnino atau Elnina adalah nama gejala, bukan penyebab gejala. Elnino dan Elnina hanyalah  nama  fenomena atau gejala, gejala tersebut muncul atau berfungsi mengikuti aturan hukum sebab akibat. Makanya untuk itu diperlukan kemampuan menalar yang memadai.

Contoh lain sangat baik saat ini adalah sikap mental kebanyakan kaum muslim yang tidak mengakui sistem perhitungan bulan dan tahun menurut kalender masehi. Mereka hanya menerima secara konseptual adalah sistem kalender “Hijrah”. Pada hal di dalam Al Quran Allah telah menjelaskan, bawa bilangan bulan dalam satu tahun adalah dua belas, peredaran bulan dan matahari sebagai dasar perhitungannya. (Baca juga “Tahun Hijrah dan Kekeliruan Umat”. Demikian juga fakta di alam raya yang diciptakan Allah ini. Sudah ribuan tahun umat manusia menggunakan sistem kelender  berdasarkan solar sistem.

Sangat beruntunglah orang yang sadar bahwa jika dia tersesat dan mau kembali. Untuk itu berzikir dan berfikir akan dapat menyadarkan kita. Dalam hal ini bahasa akademiknya disebut scholarship.  Sehingga kita dapat terhnidar dari pada kesesatan tersebut.

Semoga……

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

15 Responses to Sesat Yang Jauh dan Yang Nyata

  1. Rino says:

    ada lagi pak, orang yang sangat yakin dengan kesesatannya sebagai sesuatu yang benar dan memaksakan kesesatan itu untk diterima orang lain

    • Jalius HR says:

      Betul atau salah harus ada bukti dalam realita…..
      Misalnya jika ada orang bilang 2 + 2 = 4 lihat dulu buktinya…..Jika memang cocok ya wajib diterima…jangan dicari alasan untuk menolaknya.

  2. Rino says:

    fenomena sekarang orang banyak tersesat dan disesatkan oleh orang yang berpura-pura mengaku benar padahal sesat

  3. Salman/ Ican says:

    Suay Pak, yang paling banyak di derita umat hari ini sesat kabir. Mereka baca Al quran, tapi lebih percaya kebenaran koran tak menerima kebenaran Al Quran. Penolakan tak mereka katakan, tapi terpancar dari sikap dan perbuatan. Tak tercermin lagi kehidupan Qurani walau hampir tiap tahun Al Quran dinyanyikan/ dilombakan.

    • Jalius HR says:

      Ya…. ini ada kaitannya dengan rukun Iman ke 3 Can. Mari kita cermati firman Allah ini:

      الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [٢:١٢١

      Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka menganalisanya secara benar, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya (tidak menganalisanya), maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

      Maksud ayat ini adalah setiap muslim (terutama cedekiawan) wajib menganalisa isi atau kandungan Al Quran. Jika tidak atau belum berarti dia belum beriman dengan kitab.

  4. yasrizal says:

    Kalau lah sesat yang terjadi pada diri masing-masing umat maka amat kacaulah jalan hidupnya, makanya beragama jangan menurut organisasi, tapi lihat dan pedomanilah Al’quran dan hadis nabi, kalau tak pandai bahasa Arab terjemahannya kan ada, tapi jangan lupa minta bimbingan pada Allah dalam menjalankan agama Islam ini.

  5. ulfiarahmi says:

    opick salah satu orang yang tersesat, tapi tersesat di jalan yang benar.

  6. ulfiarahmi says:

    opick salah satu orang yang tersesat, tapi tersesat di jalan yang benar.
    he…

  7. Didik Ternando says:

    Benar pak……..kebanyakan orang sekarang merasa benar di jalan yang salah,,mereka memahami alquran tidak dengan hati tapi dengan akal yang diselimuti ego….

    • yasrizal says:

      Kok belajar Agama Islam bagi yang sanggup pergilah ke sumber Aslinya di Timur Tengah, yaitu Mekkah, Medinah. Jangan belajar Agama Islam ke negara Barat, alih-alih nanti kado kesesatan nanti yang dibawa pulang.

  8. bunda eni says:

    Jika bicara aliran sesat, walau sesat itu jauh-dekat di sekitar kita, yang jelas sudah terjadi penyimpangan yang tidak dapat ditoleransi lagi, sebaiknya kita kembali ke fitrah kita akan sang khalik “Alhaqu Mirobbika fala takunana minal khair”.
    Yang hak itu datangnya dari Robbmu maka janganlah engkau termasuk orang yg ragu-ragu.

    • Jalius. HR says:

      Terima kasih Bunda Eni….. Selamat berkunjung ke Explaining Blog ini.| Salam kenal sekalian…semoga mendapat keberkatan.| Wassalam—- Jalius

      ________________________________

      • jomblo2010 says:

        Asslm.
        Pak.Jalius mau tanya sedikit mengenai sesat pak, terutama kesesatan terhada ALLAH sang halik. Sebenarnya kategori sesat yang di maksud itu seperti apa? Kalau saya merujuk pada salah satu Hadist Qudsi yang bunyinya antara lain “Barang siapa menuntut jalan kepada Allah dengan lain dari pada mengenal akan diri dengan sebenar-benarnya pengenalan, sesungguhnya sesat yang amat jauhlah ia dengan tuhannya” apakah orang yang mengatakan sesat kepad Orang lain atau Majelis Ulama sekalipun apakah benar-benar sudah mempelajari tentang hal yang terkait dgn Hadist tersebut ataukah hanya mempelajari Alqur’an secara akal, lisan (secara jahir) saja lalu mengatakan orang lain sesat, Bukankah yang berhak mengatakan orang itu sesah Hanyalah ALLAH, karena ALLAH lah yang mengetahui mana orang yang sesat dan mana yang benar menurut ALLAH.
        Terimakasih pak, mohon pencerahannya.
        Wassalam

      • Jalius. HR says:

        Terima kasih sekali lagi… semoga Allah melimpahkan hidayahNya kepada Jomlo.| Jomlo benar, pemikiran Jomlo betul. Kesesatan terhadap Allah yakni mengakui Tuhan selain Allah.|

        Sementara seseorang atau ulama sekalipun tidak ada hak prerogatif baginya untuk menyatakan seseorang itu sesat. Misalnya sesorang menyembah batu (sebagai Tuhannya). Bukan kita atau siapa saja, yang menyatakan orang itu sesat. Akan tetapi Allah sendiri yang berhak atas ucapan pernyataan “sesat”. Kita hanya mencocokan keadaan seseorang dengan ketentuan Allah tersebut. jika memang tidak cocok, berarti kita tahu bahwa orang itu sesat.

        Jadi seseorang dinyatakan sesat bukan dengan sebuah fatwa. Suatu makanan yang berhak manyatakannya halal adalah Allah, kita atau rasul sekalipun tidak ada wewenang untuk menyatakan suatu makanan adalah halal atau haram.| Halal dan haram Allah yang menetapkannya. Kita patuh kepada hal yang demikian.

        Misalnya Allah telah menetapkan “babi” haram dimakan. Maka kita wajib menerima ketentuan itu. Tapi kita tidak punya wewenang untuk menyatakan “apel” itu haram dimakan. Itu berarti sebuah fatwa tidak akan dapat menetapkan sebuah produk makan haram. Kita hanya boleh mengenal bahan makanan, kemudian mencocokannya dengan petunjuk yang telah diberikan Allah. jika ada salah satu bahan makanan itu yang terang telah dinyatakan oleh Allah adalah haram, maka dengan dasar itulah kita menerimanya sebagai makanan yang haram.||

        Misalnya Allah telah menetapkan “Babi” adalah haram dimakan,…. Siapa yang memberikan ketentuan bahwa : kucing haram ? Pada hal Allah tidak ada menetapkannya haram ?

        Demikian pula halnya dengan seseorang itu tersesat atau tidak. Jika fatwa ulama membuat kriteria tentang suatu tindakan atau perbuatan sebagai sesat tidak tepat. Seseorang dinyatakan sesat sungguh-sungguh perbuatanya sesuai dengan ketentuan Allah tentang orang yang sesat. Artinya sesat menurut Allah bukan menurut fatwa ulama atau ketentuan seseorang.

        Demikian semoga bermanfaat.

        ________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s