Logis Tapi Tidak Masuk Akal


Judul tulisan ini dimaksudkan untuk membedakan dua hal yang tidak menunjukan kesesuaian. Persoalan ini diangkat dari konsep generalisai. Generalisasi memegang peranan penting dalam cara berpikir, sebab hal semacam ini membuat kita tidak tergesa-gesa untuk menghakimi atau menganggap sesuatu dengan tidak melihat perbandingan di sisi lain. Karena banyak sekali fenomena yang mana secara tergesa-gesa dianggap salah tanpa dilakukan pembuktian secara holistic atau sebaliknya.

Generalisasi adalah  pengambilan kesimpulan yang di dasarkan atas memepelajari terhadap sesuatu yang kecil/ sedikit dengan sunggug-sungguh darinya aqal bisa mengambil kesimpulan umum. Atau yang lebih umum mengenai generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki. Dengan begitu, hukum yang disimpulkan dari fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki, oleh karena itu, hukum yang dihasilkan oleh penalaran generalisasi tidak pernah sampai kepada kebenaran pasti tetapi hanya sampai kepada kebenaran kemungkinan besar.

Penulis pernah membaca pada sebuah Majalah Inovasi yang diterbitkan oleh sebuah perguruan tinggi di daerah Yokyakarta , tulisan tersebut memaparkan sebuah ide yang mungkin diaanggap sebuah inovasi.  Persoalan yang diangkat adalah luasnya lahan pertanian yang gersang dan tidak produktif, yakni lahan atau tanah  yang ditumbuhi oleh alang-alang. Katanya di Indonesia terdapat jutaan ha tanah yang ditumbuhi oleh alang-alang. Salah seorang DR di bidang pertanian mengusung sebuah ide yang cukup cemerlang, dengan ide itu ada kemungkinan lahan pertanian yang gersang itu dapat menjadi subur dan bila ditanami akan lebih produktif.

Sayang sekali..... lahannya gersang

Pendek cerita, idenya adalah sebagai berikut; di Lahan yang gersang itu dibuat  lobang dengan ukuran 1m x 1m x 1m. Setelah itu kedalam lobang  dimasukan kompos, diatasnya humus tanah, diatasnya lagi dimasukan pupuk kandang, demikianlah seterusnya masing-masingnya agak dua lapis hingga lubang itu penuh. Setelah lubang tersebut berisi lapiasan kompos, tanah dan pupuk kandang , maka dibiarkan kira satu bulan atau dua bulan ( sampai terjadi pelapukan).

Kemudian barulah di atas tanah tersebut ditanam tanaman, seperti jeruk atau kopi. Maka tanaman yang tumbuh di dalam lobang yang penuh berisi unsur  hara  akan subur. Tanaman juga akan sehat dan menghasilkan buah yang banyak.

Dari ide yang sederhana itu memang sangat logis bagi orang pertanian. Logis artinya  bagi petani sudah ada bukti dan dapat dibuktikan dengan mudah. Karena kenyataan memang tanaman  tumbuh subur dan menghasilkan lebih banyak bila tanaman itu  ditanam dilahan yang banyak mengandung unsur hara. Tidak seorang pun petani akan membantahnya. Karena memang sudah terbukti oleh banyak pengalaman.

Bibit durian siap untuk di tanam

Namun demikian dalam dunia penalaran tentu saja dalam mengambil sebuah kesimpulan tidaklah gampang. Ide yang bagus tersebut diatas tidak dapat digeneralisasi demikian saja. Artinya  ide menyuburkan lahan yang gersang, dan bisa lebih produktif  seperti cerita di atas, idenya tidak mungkin diterapkan untuk menyuburkan lahan gersang yang ditumbuhi oleh alang-alang,  yang mana luasnya jutaan ha yang ada di Indonesia. Untuk itu  ada factor yang akan mempengaruhinya.

Disini penulis akan menjelaskan factor-faktor yang menyebabkan ide tersebut tidak masuk akal. Tidak masuk akal artinya dalam jumlah besar akal tidak mampu lagi mengelolanya. Pertama adalah untuk menyuburkan jutaan ha lahan yang gersang yang ada di Indonesia itu dibutuhkan berapa buah lobang ? Kedua untuk keperluan pengisi lobang tersebut dibutuhkan berapa banyak kompos dan pupuk kandang ? Kemudian (ketiga) dari mana kita dapatkan pupuk kandang dan kompos?  Keempat  kita harus pula berfikir, demi sebuah inovasi tersebut, tentu saja kita tidak akan mengganggu pemakaian kompos dan pupuk kandang yang telah berjalan di dalam masyarakat tani di Indonesia. Kalau mau mengumpulkan tahi ternak yang masih berserakan alangkah sulit jalan yang harus ditempuh. Kelima kalau di Impor, bayangkan juga proses mengumpulkannya di Negara importir dan juga proses mendistribusikannya keseluruh tanah air. Sebutir padi akan mudah ditelan oleh seekor burung Pipit, tapi  bagi Buaya tidak  demikian bila  berhadapan dengan seekor gajah  yang sudah tua.

Demikian untuk bahan berfikir bagi yang suka merenung. Mungkin ada kasus lain yang mirip dengan persoalan di atas ?

*)  Coba anda analisis juga :  Indonesia needs 25 years to be green

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

4 Responses to Logis Tapi Tidak Masuk Akal

  1. Didik Ternando says:

    Setuju pak,,,,,,,mau dicari kemana pupuk kompos sebanyak itu…yang ada nanti para petani demo besar-besaran karena pupuk kompos mereka di ambil…

  2. andriwifa says:

    Assalamualaikum wr wb. Saya setuju dengan logika Bapak jika proses mengembalikan kesuburan lahan kritis tersebut dilaksanakan dengan cara seperti yang Bapak ilustrasikan. Tapi Pak, jika prosesnya dibuat bertahap dan berkelanjutan yang mana lahan subur yang baru dihasilkan menopang proses penyuburan lahan gersang yag masih tersisa, yang tadinya logis tapi tidak masuk akal dapat menjadi logis dan masuk akal. Dengan demikian, implementasi dari sebuah teori yang logis dan masuk akal membutuhkan metode yang logis dan masuk akal juga. Wassalam

    Dari: Andriwifa
    di Ulak Karang

  3. andriwifa says:

    Assalamualaikum wr wb. Saya setuju dengan logika Bapak jika proses mengembalikan kesuburan lahan kritis tersebut dilaksanakan dengan cara seperti yang Bapak ilustrasikan. Tapi Pak, jika prosesnya dibuat bertahap dan berkelanjutan yang mana lahan subur yang baru dihasilkan menopang proses penyuburan lahan gersang yag masih tersisa, yang tadinya logis tapi tidak masuk akal dapat menjadi logis dan masuk akal. Dengan demikian, implementasi dari sebuah teori yang logis dan masuk akal membutuhkan metode yang logis dan masuk akal juga. Wassalam

    Dari: Andriwifa
    di Ulak Karang

    • Jalius HR says:

      Terima kasih Andriwifa, atas kunjungan and.
      Namun kita telah mendapatkan masukan untuk bahan berfikir…..

      Semoga bermanfaat, wassalam dari Jalius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s