Sebab – Akibat (kausalitas)


Tulisan ini dibuat karena pikiran saya terusik oleh sebuah berita di Harian Singgalang  yang diterbitkan di Padang. Koran Nasional itu tertanggal, Selasa 5 April 2011. Sebuah berita yang terletak pada halaman muka berjudul Kemiskinan Turun Kelas Menengah Naik. Setelah saya baca, dapat diketahui bahwa di Indonesia umumnya dan di daerah Sumatera Barat khususnya angka kemiskinan menurun dan angka kelas menengah naik. Walaupun angka kemiskinan menurun namun angkanya masih saja tergolong tinggi. Dari berita tersebut salah satu peragrafnya spontan saya kutip yakni  “Berbagai analisa menyebutkan, penyebab masih tingginya angka kemiskinan tersebut dikarenakan masyarakat masih mengalami keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar itu, seperti mendapatkan Pendidikan, kesehatan dan sani tasi serta kurangnya modal”

Maka dari kutipan itu dapat diketahui bahwa penulis berita tidak mengerti “apa itu sebab dan apa pula itu akibat”. Kalau pada kutipan itu “mengalami keterbatasan untuk memnuhi kebutuhan dasarnya” adalah merupakan akibat dari kemiskinan, bukannya sebagai “sebab terjadinya kemiskinan”. Oleh karena itu perlu dijelaskan disini tentang sebab dan akibat ( kausalitas).

Kausalitas dalam filsafat adalah kenyataan bahwa setiap peristiwa adalah disebabkan oleh asal, penyebab atau prinsip. Untuk   penyebab dari suatu peristiwa B   harus memenuhi tiga kondisi:
Bahwa A terjadi sebelum B.
Yang selalu terjadi  adalah B.
A dan B dekat dalam ruang dan waktu.

Pengamatan, setelah beberapa kali pengamatan, kita generalisasi bahwa karena hingga sekarang telah ditetapkan selalu terjadi B, di masa depan akan sama. Ini artinya kita menetapkan hukum. Ide sebab telah menimbulkan sejumlah perdebatan filosofis. Dari usaha filosofis pertama  Aristoteles menyimpulkan kitabnya  Posterior Analytics dengan cara pikiran manusia pada masa datang untuk mengetahui kebenaran dasar atau tempat utama atau prinsip-prinsip pertama, yang bukan bawaan, karena tidak mungkin kita untuk mengabaikan  sebagian besar dari hidup kita. Tidak dapat dikurangkan  pengetahuan sebelumnya atau tidak pula pada prinsip-prinsip pertama. Ia mengatakan bahwa prinsip-prinsip pertama diturunkan dengan induksi, persepsi sensorik, yang mengimplementasikan pikiran manusia yang   universal. Ide ini berasal dari “tidak ada dalam intelek yang tidak ada pertama kali di indra”.

Dengan mempertahankan bahwa “mengetahui sifat sesuatu untuk mengetahui, mengapa?” dan bahwa “kita memiliki pengetahuan ilmiah hal hanya bila kita tahu penyebabnya,” didalilkan Aristoteles empat jenis penyebab utama: bagaimana identitas sebuah objek, sebuah kasus yang memerlukan penyebab, konsisten efisien, bentukan akhir . Seperti  Hume mengatakan pada zamannya, tidak pernah ada pengamatan yang cukup untuk menghubungkan A ke B. Pada hal Kant, yang tidak sependapat dengan Hume berpikir bahwa ia ingin menulis teori filosofis kausalitas adalah kategori pemahaman apriori, dan kemudian itu berasal dari kebiasaan (seperti dikatakan Hume  ) tetapi itu adalah suatu keharusan dan universal. Hal ini memungkinkan ilmu yang universal bertumpu pada prinsip kausalitas tidak lagi diperlukan.

Dalam fisika, istilah kausalitas menggambarkan hubungan antara sebab dan akibat, dan merupakan dasar untuk semua ilmu alam, khususnya fisika.  Secara umum, sebab-akibat dapat dipelajari dari berbagai perspektif: filsafat, komputasi dan statistik.

Dalam fisika klasik diasumsikan bahwa semua peristiwa yang disebabkan oleh orang-orang sebelumnya dan bahwa kausalitas ini dapat dinyatakan dalam hal hukum alam.  Klaim itu pada tingkat tertinggi dalam laporan Pierre Simon Laplace. Laplace mengatakan bahwa jika Anda mengetahui keadaan dunia dengan presisi, seseorang dapat memprediksi setiap peristiwa di masa depan. Pandangan ini disebut determinisme, atau lebih tepatnya  determinisme kausal.

Prinsip kausalitas mendalilkan bahwa setiap efek- semua event, selalu harus memiliki penyebab (yang, dalam keadaan identik, menyebabkan selalu memiliki efek yang sama dikenal sebagai “prinsip keseragaman”). Hal ini digunakan untuk mencari hukum yang pasti, yang ditugaskan untuk setiap kasus efek.  Prinsip ini   mencerminkan perilaku mekanik alam, yang sampai abad kedua puluh telah diterima dan diinterpretasikan dalam arti deterministik. Namun, pada awal abad ini memperkenalkan prinsip ketidakpastian Heisenberg, yang sangat mengubah prinsip kausalitas klasik.

Heisenberg dan  Bapak mekanika kuantum lainnya memperkenalkan model atom yang melepaskan pandangan klasik dari senyawa partikel dan gelombang.  Disimpulkan bahwa ia pasti akan gagal segala upaya untuk menarik analogi antara struktur atom dan intuisi kita tentang objek makroskopik.  Perumusan matematis dari teori mekanika matriks Heisenberg awalnya penggunaannya yang klasik matriks aljabar linear. formulasi ini melengkapi gelombang mekanik, fisikawan Austria Erwin Schrödinger.                           .

Kausalitas ini merupakan jenis khusus persebaban yang ditemukan dalam alam (nature) eksternal, sub-spiritual. Kausalitas jenis ini berbeda dari jenis kegiatan psike (jiwa) atau sebab-sebab spiritual. Hubungan antara peristiwa-peristiwa alam tidak semata-mata me­rupakan hubungan fungsi matematis. Sebab, hubungan ini meme-nuhi pendapat tentang suatu sebab sejati. Hubungan ini jelas. Karena menurut prinsip kausalitas, setiap akibat memerlukan sebuah sebab efisien yang memadai untuk menjelaskan kenyataan baru. Karena dalam alam kodrat sub-insani tidak terdapat hal seperti penentuan-diri yang bebas, sebab-sebab alamiah menghasilkan akibat-akibatnya secara niscaya.

Oleh karena itu, terdapat suatu hubungan jelas antara sebab dan akibat sedemikian rupa sehingga sebab-sebab yang sama menghasilkan akibat-akibat yang sama pula. Suatu sebab dalam dunia sub-insani tidak dapat menghasilkan akibat lain, yang lebih besar atau yang kurang dari akibat yang sesungguhnya ia hasilkan. Dalam dunia organis, yang harus diperhitungkan sebagai sebab-sebab yang secara langsung menimbulkan akibat, bukan hanya daya tarik eksternal, melainkan juga situasi khusus organisme itu sendiri yang memberikan reaksi.

Berbeda dengan pandangan okasionalisme, kegiatan menghasil-kan akibat dianggap sebagai kegiatan khusus benda. Namun, ke­giatan ini dalam setiap kegiatan alam pada tingkatan ini masing-masing benda tercakup dalam kausalitas timbal balik. Melalui fungsi daya satu benda menyebabkan suatu perubahan dalam benda lain. Perubahan-perubahan keadaan ini sebagian besar terjadi dalam alam energi. Energi berarti kemampuan untuk melakukan pekerjaan dan energi ini mengambil bentuk-bentuk yang sangat berlainan (misalnya, energi mekanis, elektris, termal). Energi tidak tetap sama dalam peristiwa yang sama. Karena, energi dapat berpindah dari satu benda ke benda lain, dengan keefektifan sebab energi baru timbul. Sedangkan dalam proses ini energi lain hilang. Dari situ prinsip konservasi energi dikukuhkan. Menurut prinsip ini, jumlah energi baru yang dihasilkan sama dengan jumlah energi yang hilang.

Sebagian besar dari efektivitas kausalitas alamiah terletak pada daya tarik menarik (attraction) dan daya tolak menolak (repulsion). Disebabkan oleh kedua kekuatan ini benda-benda berada dalam suatu hubungan timbal balik sedemikian rupa sehingga mereka berusaha atau untuk saling mendekati atau pun untuk saling me-lepaskan diri. Dalam hal ini tidak akan pernah ada akibat dari jarak jauh. Maksudnya ialah suatu sebab material tidak dapat menghasilkan suatu akibat pada tempat yang berada dalam jarak yang jauh tanpa menghubungkan benda-benda yang terletak di antaranya. Apakah telekinesis semacam ini juga sama sekali mustahil tidak dapat dibuktikan secara pasti, tetapi ini sesuatu yang pro-babel. Untuk menjelaskan pengaruh satu benda atas benda lain, sebagian fllsuf telah mengandaikan eksistensi dari apa yang mereka sebut ether. Ether ini didefinisikan sebagai suatu perantara elastis yang tidak dapat diukur yang mengisi ruang hampa di sekeliling benda-benda yang dapat diukur .

Padang,  April 2011

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

18 Responses to Sebab – Akibat (kausalitas)

  1. radhyan says:

    Jadi, apakah benar yang saya tangkap:
    – Kausalitas: lebih mengarah pada “akibat” pasti memiliki “sebab” ?
    – Determinisme : lebih mengarah bahwa karena adanya “sebab” kita dapat memprediksi “akibat” ?

  2. Jalius HR says:

    Terima kasih, Radhyan telah berkenan membaca dan mengajukan pertanyaan.
    Pertanyaannya sangat bagus dan akan menambah luasnya wawasan ke filsafatanini.

    Jika kita cermati…. Kausalitas merupakan konsep yang sifatnya umum atau lebih luas jika dibandingkan dengan determinisme. Istilah yang kedua ini lebih berorientasi kepada tampilan perilaku. Tidak bersifat mekanis. Seperti keadaan hidup dan perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor fisik geografis, biologis, psikologis, sosiologis, ekonomis dan keagamaan yang ada. Dengan kata lain boleh jadi sebagai suatu kecenderungan, bukan kemestian.

    Jadi apa yang Radhyan tanyakan menjadi betul adanya.

  3. wenda says:

    kalau kita bawa pembahasan sebab utama itu kepada tuhan,
    apakah menjadi logis tuhan tsb tanpa sebab, kenapa tuhan menjadi sebab yang dikecualikan

  4. Jalius. HR says:

    Selamat Datang Wenda……terima kasih atas kunjungan dan komennya. Semoga Wenda sanantiasa mendapat hidayah dariNya.
    Sungguh sangat logis Tuhan hadirnya tanpa sebab. Dia lah yang paling awal….
    Jika ada “sebab”,…. “sebab” itu ada selalu sebelum ada “sesuatu” di depannya.
    Maka logikanya….tidak ada lagi sebab sebelum Tuha.
    Tuhan adalah asal mula (sebab) dari segala yang ada (selain Dia). kalau kita mengecualikan boleh saja, karena memang Dia satu-satunya yang tiada sebab (yang mendahuluinya).
    Sangat jauh beda dengan yang lain (makhluqNya).
    Kalau makhluknya..umumnya selalu berada dalam hukum sebab – akibat.
    Misalnya….Manusia ada disebabkan oleh adanya “kehendak” Tuhan untuk menghadirkan khalifah di muka Bumi ini. dst.

    Wassalam dari Jalius.

    • wenda says:

      blum ketemu saya dgn alur nalarnya, yg jelas ada ‘gap’ disitu ketika menyematkan term tuhan itu sendiri
      mungkin bapak bisa membuktikannya dgn cara logis yg lain, karna kalau tuhan yg diberikan dispensasi, maka dengan logis juga bisa muncul siapa yg menyebabkan tuhan itu sendiri

      • Jalius. HR says:

        Jika Wenda telah bicara tentang Tuhan (Allah)… Maka Dia lah yang awal dan Dia lah yang akhir.
        Jika masih ada (siapa) yang “menyebabkan” Tuhan itu sendiri.. berarti kita belum sampai nalarnya kepada Tuhan itu sendiri. Tidak ada sebelum Tuhan itu, dan tidak ada lagi sesudah Tuhan itu. Dia berdiri dengan sendirinya. Yang lain dari Dia adalah hasil perbuatannya (ciptaanNya). Makanya Tuhan itu sebagai “Kausalitas”.

        Wassalam dari Jalius.

      • wenda says:

        secara ontologis, term ttg ‘tuhan’ berarti hanya berada di pikiran saja
        karena ‘tuhan’ dgn makna yg berbeda jika disebut sebagai sesuatu entitas maka, apakah dapat dikatakan ‘tidak ada’

      • Jalius. HR says:

        Yth. Sdr Wenda;
        Kita “hanya” bisa memulai berpikir “jika” ada “starting point”.

  5. wenda says:

    apakah itu artinya ketika kita mulai berpikir maka ‘ada’ itu baru muncul

  6. Jalius. HR says:

    Sdr. Wenda…. “ada” itu tidak disebabkan oleh “kita mulai berpikir”
    Walau kita tidak ada (tidak berpikir) yang “ada” itu akan tetap ada.
    Dalam hal inilah kekeliruan Rene Descartes…”Aku berpikir karena itu aku ada”.

  7. wenda says:

    bagaimana cara kita menentukan starting point nya utk mengatakan sesuatu itu ‘ada’
    mungkin bisa lebih dirinci oleh pak julius ttg kekeliruan descartes

    • Jalius. HR says:

      Coba pahami persoalan ini secara baik (renungkan )
      Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir.

      Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah:

      “Aku berpikir maka aku ada”. (Ing: I think, therefore I am)

      Sesuatu yang “ada” bisa diakuinya hanya “jika hanya” dapat diindarai dan dinalar atau diolah dengan pikiran.
      Pada hal tentang yang “ada” tapi yang ada itu bersifat “gaib”…tidak masuk kedalam kategori pikiran Descartes.

      • wenda says:

        artinya hal ghaib dalam pemikiran descartes bukan sesuatu yang ‘ada’
        begitu maksudnya ya pak?

      • Jalius. HR says:

        Terima kasih wenda….masih mau belajar filsafat….Kita lanjutkan mejawab pertanyaannya.
        Tolong di pahami catatan di bawah ini:
        Cogito ergo sum adalah sebuah ungkapan yang diutarakan oleh Descartes, sang filsuf ternama dari Perancis. Artinya adalah: “aku berpikir maka aku ada”. Maksudnya kalimat ini membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri. Keberadaan ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa ia bisa berpikir sendiri.

        Jika dijelaskan, kalimat “cogito ergo sum” berarti sebagai berikut. Descartes ingin mencari kebenaran dengan pertama-tama meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda di sekelilingnya. Ia bahkan meragukan keberadaan dirinya sendiri.

        Descartes berpikir bahwa dengan cara meragukan semua hal termasuk dirinya sendiri tersebut, dia telah membersihkan dirinya dari segala prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang salah. Ia takut bahwa mungkin saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja bahwa pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada kebenaran, namun sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan tertentu yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.

        Sampai di sini, Descartes tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun pikiran mengarahkan dirinya kepada kesalahan, namun ia tetaplah berpikir. Inilah satu-satunya yang jelas. Inilah satu-satunya yang tidak mungkin salah. Maksudnya, tak mungkin kekuatan tadi membuat kalimat “ketika berpikir, sayalah yang berpikir” salah. Dengan demikian, Descartes sampai pada kesimpulan bahwa ketika ia berpikir, maka ia ada. Atau dalam bahasa Latin: COGITO ERGO SUM, aku berpikir maka aku ada.

        Ingat…Descartes hanya bisa berpikir sebatas “apa saja” yang dia Inderai (apa yang dia tahu). Pada hal sangat banyak yang dia belum dan tidak pernah menginderainya. Dia merasa hebat berpikir sebatas pengetahuannya saja. Pengetahuannya atau pengetahuan orang-orang semasa dengan dia, hanya sebatas apa yang ada zaman itu….Terang saja bagi kita bahwa zaman sekarang kita bisa “berinternet ria”…tidak pernah masuk kedalam alam pikir atau logikanya. “Apa” yang kita (juga orang lain) lakukan hari ini adalah fakta yang gaib pada zaman Descartes.

        Semoga bermanfaat….
        Salam buat Wenda..

      • Jalius. HR says:

        yA…SEBAB yang ghaib itu tidak bisa masuk ke dalam ranah berpikir “Rene Descartes”..
        Baca lagi pemikiran Rene yang lain sekaitan dengan berpikir…dan apa saja yang dapat di “pikirkan”.

  8. iweng says:

    Assalamualaikum Pak Jalius…

    sangat menarik menggali pemahaman tentang “sebab-akibat”… karena menurut saya “sebab-akibat” menjadi pondasi awal manusia berfilsafat.. mengkaji diri, mengkaji alam semesta, hingga mengkaji pertanyaan tentang tuhannya…

    saya langsung tertarik di awal membaca artikel bapak diatas yang mengkritisi konten sebuah berita dari sudut pandang hukum sebab-akibat… namun analisis berita tersebut pada akhirnya memang menjadi melebar ke ranah filsafat ketika penjelasan bapak mengenai “sebab-akibat” menjadi pembahasan yang mendominasi hampir seluruh isi artikel ketimbang tujuan menganalisis beritanya…

    secara sederhana (umumnya), orang Indonesia terbiasa menggunakan “bahasa keseharian” dengan maksud dan tujuan yang sama namun berbeda penyampaiannya, dalam sebuah percakapan misalnya; “laper nih, kita makan yuk” dan atau “kita makan yuk, laper secara sederhana (umumnya), orang Indonesia terbiasa menggunakan “bahasa keseharian” dengan maksud dan tujuan yang sama namun berbeda penyampaiannya, dalam sebuah percakapan misalnya; “laper nih, kita makan yuk” dan atau “kita makan yuk, laper secara sederhana (umumnya), orang Indonesia terbiasa menggunakan “bahasa keseharian” dengan maksud dan tujuan yang sama namun berbeda penyampaiannya, dalam sebuah percakapan misalnya; “laper nih, kita makan yuk” dan atau “kita makan yuk, laper secara sederhana (umumnya), orang Indonesia terbiasa menggunakan “bahasa keseharian” dengan maksud dan tujuan yang sama namun berbeda penyampaiannya, dalam sebuah percakapan misalnya; “laper nih, kita makan yuk” dan atau “kita makan yuk, laper nih”

    menurut saya, tata bahasa yang digunakan dalam berita tersebut;
    “penyebab kemiskinan masih tinggi di SumBar adalah karena kurangnya ini-itu dan seterusnya”… bisa saja ditulis; “oleh karena/dikarenakan kurangnya ini-itu dan seterusnya, berakibat kemiskinan masih tinggi di SumBar”

    kata-kata “penyebab” bisa saja dimaknai “dikarenakan” atau “oleh karena”… secara tata bahasa tidak ada yang salah selama maksud atau tujuan komunikasi yang ingin disampaikan oleh

  9. Jalius. HR says:

    Terima kasih ata kunjungannya….
    Iweng betul juga…

  10. wenda says:

    terimakasih atas penjelasanya pak julius,
    tapi misalkan dengan dasar pemikiran descartes tersebut, lalu ada yg berpendapat seperti ini :
    ‘ eksistensi tuhan hanyalah berupa pikiran semata. Tidak berentitas, dan bukan realitas. keberADAan/Eksistensi tuhan adalah ketika pikiran meyakini keberADAannya (eksistensi tuhan)’
    dalam konteks itu apakah dapat dibenarkan, ato pak julius punya pandangan tersendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s