Otoriter Penting Juga


Topik tulisan ini perlu dijelaskan seperlunya. Penulis sering menemukan di dalam berbagai literatur atau mendengar di berbagai tempat pidato bawa ada tiga gaya kepemimpinan. Salah satu adalah lebih baik dari yang lainnya, yani gaya kepemimpinan  demokratis. Satu di antaranya juga dicitrakan sebagai gaya yang paling jelek yaitu gaya otoriter. Sementara gaya kepemimpinan membebaskan / laissez faire selalu berada di antara yang dua itu. Salah satu contoh sebuah artikel lihat di Media Indonesia.com

Setelah penulis berfikir kembali tentang ketiga gaya kepemimipnan tersebut  maka dengan spontan penulis merasakan ada sesuatu yang tidak adil dan tendensius. Ada kesan tidak adanya proses penalaran yang memadai tentang ke tiga konsep gaya kepemimpinan tersebut. Penulis mencoba merenungkan kembali sepertia apa realitanya di dalam kehidupan kita seharaian. Di bawah ini penulis menjelaskan apa dan bagaimana ketiga gaya kepemimpinan tersebut.

1. Gaya  Otoriter / Authoritarian. Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan secara jelas.

Salah satu gaya yang telah pasti dalam menjalankan system kepemimpinan  misalnya adalah orang tua yang otoriter.  Setiap orang tua  memerlukan ketaatan yang sempurna kepada otoritas dan diduga bahwa itu adalah paling penting untuk memegang kendali yang sangat ketat untuk mengontrol perilaku anak-anak. Dalam kajian sosiologi hal ini dimaksudkan sebagai sosialisasi nilai-nilai. Keluarga berkewajiban menanamkan nilai-nilai komunitas yang telah digariskan, baik nilai agama atau nilai-nilai budya. Persoalan ini tidak gampang dirobah, karena ada alasan  kuat untuk itu yakni  menanamkan “struktur dasar  kepribadian” yang sifatnya sangat funsional. Artinya kalau seorang anak kita harapkan  berfungsi dengan baik di dalam kelompok atau masyarakat, maka  nilai-nilai yang mengatur keperibadian wajib dihayati oleh sang anak.

Dalam arti yang luas, hal-hal yang berkaitan dengan prinsip tentu saja tidak ada pilihan, sang anak atau bawahan wajib mematuhinya. Sang pemimpin berupaya sekuat tenaga untuk melaksanakan apa yang telah digariskan. Hampir tidak ada peluang untuk tawar menawar.

Orang tua ini tetap mempertahankan semua kuasa atas hidup anak-anak, menjaga aturan  (karena memang wajib untuk dijalankan), dan menghukum ketika ada aturan yang rusak. Orang tua dalam hal ini mencoba untuk mempertahankan semua kekuatan dalam hubungan orangtua-anak dan dengan anggota komunitas lainnya. Apalagi yang berkaitan dengan hubungan dengan tuhan.

 2. Gaya  Demokratis / Democratic.  Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang (peluang) secara luas dan terbatas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.

Apa pemahaman yang harus kita ambil di sini ? Yang sangat penting adalah   gaya demokrtis ini perlu diterapkan dalam mencari atau menemukan alternative terbaik sebagai solusi. Misalnya bila berhadapat dengan sebuah masalah, tentu kita akan membutuhkan upaya yang dapat menghilangkannya. Biasanya untuk menghilangkan masalah akan ada berbagai pilihan, pilihan mana yang paling efektif dan efesien tentu saja selalu ada ide dari anggota komunitas atau kelompok. Dalam suatu pertmuan pemikiran akan diambil kesepakatan untuk menetapkan mana ide yang terbaik di atara alternative yang ada. Boleh jadi walaupun tidak ide dari sang pemimpin.

Dalam hal ini yang dimaksud demokratis (kesepakat bersama) lebih ditujukan terhadap pemecahan masalah atau hal-hal yang bersifat teknis atau metodologis. Dengan gaya demokratis ini partisipasi aktif anggota sangat diutamakan. Perlu diingat baik atau jeleknya gaya demokratis ini sangat tergantung kapada tepat atau tidaknya peluang yang diberikan kepada semua anggota atau sebagian dari anggota komunitas atau kelompok yang dipimpin. Faktor situasi dan kondisi sangat perlu sebagai bahan pertimbangan.

3. Gaya  Membebaskan / Laissez Faire. Gaya Pemimpin jenis ini hanya terlibat dalam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi. Gaya ini sangat penting terutama dalam, salah satu di antaranya adalah menumbuh-kembangkan kreatifitas dalam berkarya. Dengan gaya ini memberikan peluang kepada anggota untuk berinovasi. Sebagai mana yang telah banyak kita pahami bahwa dengan inovasi kita memungkinkan untuk maju dan berkembang. Apalagi dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Para individu (anggota komunitas) akan mengahadapi peran-peran baru. Maka anggota komunitas atau kelompok akan diberi kesempatan mempelajari berbagai persyaratan dari peran baru (peran antisipasi). Dalam hal ini bukan saja untuk bawahan, untuk sang pemimpin sediri juga.

Sementara yang lainnya adalah memberikan kesempatan kepada bawahan atau anggota komunitas untuk mendidik diri sendiri melalui pengalamannya. Biasanya banyak juga hal-hal yang tidak bisa atau tidak efektif dididikan kepada seseorang dengan pesan-pesan verbal atau komunikasi lisan. Maka dengan memberikan kesempatan  mengalami lansung kepada seseorang pendidikan itu sangat bagus hasilnya. Baik dalam pengertian melarang dari suatu perbuatan yang tidak dibolehkan  maupun terhadap sutu kemampuan yang sangat diharapkan.

Dengan demikian kita tidak dapat begitu saja memilih mana yang terbaik dan mana yeng terjelek di atara ketiga gaya kepemimpinan tersebut. Sebuah ketentuan tetap berlaku bahwa sesuatu itu dikatakan baik bila adanya kesesuaian atau kecocokan dengan keperluan. Artinyak ketiga gaya itu bisa jelek bila tidak sesuai dan bisa baik bila cocok penggunaannya. Tidak ada satu gaya yang cocok untuk semua. Di samping itu dalam masyarakat penulis  belum menemukan seorang kepala keluarga, kepala daerah atau negara yang sepenuhnya memiliki salah satu gaya kepemimpinan tersebut. Misalnya M. Kadafy adalah presiden yang otoriter, itu hanyalah sebuah pencitraan belaka.

Makanya seorang pemimpin yang baik mungkin saja padanya terdapat kemampuannya memainkan ketiga gaya tersebut secara harmonis. Sebaliknya seorang pemimpin yang dikatakan jelek bila ada ketimpangan dalam memerankan gaya-gaya tersebut.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

One Response to Otoriter Penting Juga

  1. rino says:

    bukan penting malah harus pk yus, gaya kepemimpinan apapun harus berorientasi pada kesejahtearaan bersama dan dilaksanakan secara elegan,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s