Kemiskinan Mendekatkan diri kepada Kekufuran; Jangan Salah Tafsir


Kemiskinan Mendekatkan diri kepada Kekufuran; Jangan Salah Tafsir

Ada sepenggal Hadis Rasulullah yang sangat popular oleh umat islam yakni …“Kemiskinan itu akan mendekatkan diri kepada kekufuran”…

Kemiskinan berasal dari kata miskin, pada  berbagai literatur kita akan  lebih sering menemukan kata tersebut diartikan sebagai sebuah keadaan seseorang atau sekelompok orang yang tidak memiliki cukup harta. Atau menunjukkan kategori orang yang sekedar memenuhi kebutuhan primer hidupnya (pangan, sandang dan papan) saja terlihat kembang kempis, seperti orang yang kesulitan bernapas. Sebutan miskin dengan mudah diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu membiayai kehidupannya secara layak.

Dalam keseharian sering kita melihatnya. Para pengemis, anak-anak jalanan, buruh-buruh perusahaan yang bergaji rendah, para pemulung sampah, petani atau penggarap  sawah dengan upah yang sangat kecil, para pedagang kaki lima, berserakan di depan mata kita. Perumahan kumuh, penginapan kolong jembatan, dan rumah-rumah kardus bukanlah pemandangan asing di wilayah perkotaan. Rumah-rumah beralas tanah, rumah beratap rumbia, atau serumah dengan hewan piaraan juga bukanlah fenomena yang tidak biasa. Makan tiwul, makan nasi akik, atau makan sisa-sisa dari tong sampah juga bukan pemberitaan yang mengada-ada. Semuanya hal tersebut merujuk pada kemiskinan yang seharusnya melahirkan rasa keprihatinan dan menggerakkan kepedulian pada setiap orang yang menatapnya.

Pendapat lain tentang ini dapat kita simpulkan sebagaiberikut; Kemiskinan berasal dari kata miskin, pada pengertian pertama lebih sering diartikan sebagai sebuah keadaan seseorang atau sekelompok orang yang tidak memiliki cukup harta. Atau menunjukkan kategori orang yang sekedar memenuhi kebutuhan primer hidupnya (pangan, sandang dan papan) saja terlihat kembang kempis, seperti orang yang kesulitan bernapas. Sebutan miskin dengan mudah diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu membiayai secara layak kehidupan pribadi dan keluarganya, dan sangat identik dengan minimnya jumlah kepemilikan uang dan benda (Iin Parlina).

Sikap Cendekiawan Muslim dan Ulama

Kebanyakan cendekiawan Muslim atau juga para ulama cenderung menjelaskannya dengan sikap yang diskriminatif.  Mereka memojokan kelompok orang miskin dan menaikan derajat orang kaya. Mereka mengatakan dengan alasan lebih kurang sebagai berikut ini;  “Kefakiran terkadang mendorong seseorang melakukan tindakan-tindakan yang tak dibenarkan agama. Kefakiran juga memaksanya untuk melakukan tindakan haram; seperti mencuri, mencopet, merampok, menipu, dan melacur dan sebagainya. Karenanya, tidak bisa disalahkan jika ada ungkapan bahwa kefakiran atau kemiskinan mendekatkan kepada kekufuran”.

Sebaliknya mereka lupa dengan sikap orang kaya atau mampu. Pada  kelompok orang kaya memungkinkan seseorang melakukan seperti mencuri, merampok, menipu, dan melacur dan sebagainya. Apalagi kejahatan yang berdampak merugikan secara sistemik dan meluas pada banyak orang. Perbuatan koruptor, mafia hukum, politisi kotor, dan para kapitalis mempertontonkan bagaimana keserakahan mereka terhadap harta benda. Bahkan  tidak jarang ditemukan orang kaya yang dunia usahanya semakin menumbuhkan dan menyebarkan kemiskinan.  Sikap orang tidak henti-hentinya ingin menumpuk kekayaan dan meraih kekuasaan dengan jalan apapun termasuk memakan yang bukan haknya atau menyingkirkan orang lain bahkan dengan menumpahkan darah.

Kita jangan lupa dengan Firman Allah di dalam surat Asysyura ayat 27…” Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya  mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat “.Dan juga “Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Qs 2.243.

Allah juga telah menegaskan; Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Banyak lagi Firman Allah yang dilupakan mereka dalam mejelaskan maksud hadist Rasulullah di atas.   Allah  menjelaskan bahwa sangat sedikit di anatara orang yang diberi kelebihan rezeki yang mau bersyukur. Juga mereka melupakan realitas di dalam masyarakat betapa zalimnya orang-orang yang diberi kekayaan dan kekuasaan oleh Allah. Ulama dan cendekiawan muslim seakan lupa betapa banyaknya para pedagang yang tidak jujur, betapa banyak pedagang kaya yang melakukan kecurangan dan mengurangi takaran. Sangat kasat mata orang-orang menengah ke atas melakukukan penipuan dan pembohongan publik. Bukankah hal-hal yang seperti itu bukan perilaku “kekufuran” ?

Pada dasarnya  orang miskin dan orang kaya untuk berbuat kekufuran peluang sama-sama terbuka. Bahkan pada orang kaya mungkin lebih luas dan besar dampak  kejahatan yang  dilakukannya  baik kwalitas maupun kuantiasnya .

Mendekatkan kepada Kekufuran

Dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan kondisi kemiskinan itu akan mendekatkan diri kepada kekufuran.

Secara umum salah satu kewajiban orang beriman adalah menginfaqkan sebagaian hartanya, tentu saja penerimanya terutama adalah orang miskin. Allah juga memerintahkan untuk menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Tentu saja perintah ini berlaku untuk orang yang mampu (ada kelebihan rezki), terutama orang kaya.

Bila ada orang yang kondisinya dalam keadaan  miskin, berarti  kondisi itu menimbulkan proses pendekatan (menjadi dekat), yakni mendekatkan orang kaya kepada  orang miskin tersebut. Proses pendekatan itu dikarenakan perintah Allah kepada orang kaya atau mampu tersebut. Berarti juga   kodidsi kemiskinan itu  menimbulkan tanggung jawab (kewajiban) yang harus dijalankan orang kaya. Artinya di dalam kondisi kemiskinan ada tanggung jawab orang mampu (kaya) terhadap orang miskin, yakni memberikan sebagian dari hartanya (infaq). Tentu saja guna meringankan penderitaan saudaranya yang miskin itu.

Dalam hal yang seperti itu, jika orang kaya tidak melaksanakan kewajibannya, maka jadilah orang kaya itu masuk  kedalam daftar orang kafir atau kufur. Karena tidak menjalankan kewajiban atau perintah Allah. Sekaitan dengan itu  dengan Firman Allah di dalam  Al Quran  kita telah diingatkan;  “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong diri (dan masyarakat) untuk memberi makan orang miskin. Celakalah orang yang shalat,  tetapi berbuat riya dan enggan menolong orang lain. Qs.107: 1-7.

Di samping itu Rasulullah juga mengingatkan kita dengan sabdanya. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda (yang artinya);

Demi Allah, bukan kefakiran (kemiskinan) yang aku khawatirkan atas kamu tetapi yang kukhawatirkan atas kamu ialah apabila dunia ini dibentangkan (dilapangkan) untuk kamu sebagaimana dilapangkan untuk orang-orang sebelum kamu, lantas kamu berlomba-lomba memperebutkannya, lantas kamu binasa karenanya sebagaimana mereka binasa karenanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). maksudnya mereka kufur nikmat.

Maka dari hal demikian marilah kita  belajar untuk peduli dan belajar untuk memberi….dan selalu menyantuni orang miskin.

Demikian semoga bermanfaat.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

14 Responses to Kemiskinan Mendekatkan diri kepada Kekufuran; Jangan Salah Tafsir

  1. didik ternando says:

    pak menurut saya orang miskin itu adalah orang kaya dan orang kaya itu adalah orang miskin..

    orang miskin adalah orang kaya : meskipun ia miskin materi namun kaya hati dan selalu bersyukur dalam hidupnya..yang lucunya sudahlah miskin sombong lagi…

    orang kaya adalah orang miskin : meskipun ia kaya mobil dua,rumah mewah istri tiga tapi selalu merasa kurang dan ingin menambah kekayaannya dan tidak bersyukur..tapi kalau orang kaya lagi dermawan itu lebih baik…

  2. bagus badaiiii. makasih

  3. yasrizal says:

    Fir,aun itu siapa, qarun, hamman, Tsa’labah, abu jahal mereka itu adalah orang-orang kaya dizamannya, tapi mereka amat kufur

    • Jalius HR says:

      Terima kasih atas kunjungan dan komen Yasrizal..
      Komennya sangat baik sebagai masukan untuk memperkuat argumentasi.
      Semoga siapa yang membaca Blog ini mendapat hidayah hendaknya.
      Wassalam, Jalius

  4. agus says:

    Salam hangat buat semua
    Miskin bukan berarti Kufur ,Orang yang tidak mampu Duniawinya tetapi dia ahli ibadah maka dia bukanlah orang Miskin hanya dlm pandangan manusia saja dia Orang miskin, akan tetapi dialah Orang yang kaya sesungguhnya dlm pandangan Alloh, begitupun sebaliknya Orang yang Kaya Raya hartanya tetapi dia KIKIR itulah yang lebih pantas dikatakan Miskin (Miskin Hati) Karena Miskin itu banyak diartikan tidak mampu dlm duniawinya maka banyaklah Orang yang menyatakan Dirinya Miskin, maka mengapa Kata Miskin itu jadi mendekatkan diri ke arah Kufur ?
    karena kalau Orang sudah menyatakan dirinya Miskin itu sudah jelas membuat kekufuran Nikmat yang Alloh berikan , Jadi Orang yang Kufur adalah yg tidak mensyukuri Nikmat itulah Miskin yang sesungguhnya .

    • Jalius HR says:

      Terima kasih Agus atas kujungannya dan juga atas tambahan pemikirannya. Semoga Allah selalu melimpahkan hidayah kepada kita semua.

      Wassalam dari Jalius HR.

      • Gaul says:

        Mungkin benar mungkin salah. tinggal bagaimana menyingkapi Arti Makna dari Kefakiran itu apa. Klo Fakir diartikan Miskin Segala galanya maka Benar tp Klo diartikan hanya duniawiyah maka salah Besar Karna yang Menyebabkan Orang Kufur itu bukan Miskin Tp Iman nya. Semiskin Miskinnya Manusia soal Duniawiyah klo imannya kuat maka tidak akan Tergoda.

      • Jalius. HR says:

        Sdr Gaul… Kemiskinan itu ada dua bentuknya: 1. Fakir artinya orang miskin yang tidak memiliki apa-apa (harta)., serpti rumah sawah dan ladang serta uang. 2. Miskin artinya orang memiliki harta tetapi tidak mencukupi untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Walaupun sawah ladangnya luas…tapi tidak produktif, dari satu musimpanen ke musimpanen berikutnya produksinya tidak dapat memenuhi kebutuhan.

        Jadi yang dikatakan kemiskinan itu tidak dalam makna lain, baik iman atau ilmu., hanya sebatas pemilikan harta, 

        Wassalam Jalius

  5. Jalius. HR says:
  6. yuli says:

    miskin harta asal kaya iman itu baik, asal jangan miskin harta miskin iman sombong lagi, tetapi lebih baik lagi kaya harta, kaya iman dan dermawan

  7. “Kemiskinan itu akan mendekatkan diri kepada kekufuran” klo saya setuju sangat. Pada saat miskin, ada banyak hal yg akan dilakukan pada saat “kepepet”. Orang bisa menasehati, tapi nyatanya, apa yg berkecukupan itu membantu agar orang2 miskin itu tidak mengambil jalan pintas. dan Nyatanya isi penjara banyaknya orang2 kepepet. Pada saat kepepet, setan gampang mempengaruhi. bisa dihitung dari berapa banyak manusia yg dirundung kemiskinan kuat akan iman dan sabar nya.

  8. Ary Anshorie says:

    memang benar…
    rata-rata narapidana kelas teri adalah mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan..
    dan sudah menjadi tanggung jawab para hartawan yang harus rela membantu mereka
    untuk lepas dari penderitaan

  9. kaya miskin hanyalah ujian..
    sekuat apakah mereka mampu menghadapi ujian diatas,
    ada yang menjadi alim karenanya, bahkan adapula sebaliknya


    artikel yang luar biasa pak, terima kasih udah share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s