Kesetaraan Gender Dan Kekacauan Sistem Sosial


Di dalam Firman Allah tersebut di atas terkandung makna karakter dari suasana malam, yakni tidak ada cahaya dan karakter suasana siang ada cahaya. Cahaya itu satu faktor yang sangat mempengaruhi berbagai bentuk dan jenis aktifitas makhluk hidup di bumi ini. Pada siang hari kelihatan lebih banyak kegiatan terlaksana. Demikian pula yang terjadi pada penciptaan laki-laki dan perempuan. Pada keduanya (laki-laki dan perempuan)  ada satu faktor utama yang sangat penting dalam membedakannya yakni alat kelamin (system reproduksi). Alat kelamin ini sangat besar pengaruhnya terhadap pembedaan berbagai aktifitas kedua kelompok jenis kelamin manusia. Dengan tegas Allah menyampaikan pesan “sesungguhnya usaha kamu memang berbada-beda”. 

Apa itu Gender ?

Banyak di antara kita mungkin belum mengerti  apa itu gender. Bahkan ada yang salah kaprah menganggap gender itu makhluk yang tidak perlu ada karena  banyak merugikan pihak tertentu. Atau sebaliknya. Gender itu berasal dari bahasa latin “GENUS” yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Kalau begitu antara gender dengan seks apakah sama ? Pertanyaan itu sering muncul dari pengertian kata asli dari genus atau gender itu sendiri.

Biasanya istilah ini dipakai dalam ilmu Sosiologi atau Antropologi. Menurut Ilmu Sosiologi dan Antropologi, gender itu digunakan untuk menunjukan perilaku atau pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang sudah dikonstruksikan atau dibentuk di masyarakat  tertentu dan pada masa waktu tertentu pula. Gender ditentukan oleh sosial dan budaya setempat. Sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang telah ditentukan oleh Tuhan.  Misalnya laki-laki mempunyai penis, memproduksi sperma dan menghamili, sementara perempuan mengalami menstruasi, bisa mengandung dan melahirkan serta menyusui dan menopause.

Bagaimana pula bentuk hubungan gender dengan seks (jenis kelamin) itu sendiri? Bentuk hubungannya adalah fungsional, sebagai hubungan sosial antara laki-laki dengan perempuan yang bersifat saling membantu, serta memiliki banyak perbedaan dan ketidak setaraan. Hubungan gender berbeda dari waktu ke waktu, dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lain, akibat perbedaan suku, agama, status sosial maupun nilai tradisi dan norma yang dianut. Masyarakat kultur tertentu dengan masyarakat kultur lainnya, masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan.

Dari peran ataupun tingkah laku yang diproses pembentukannya di masyarakat itu terjadi pembentukan yang “mengharuskan” misalnya perempuan itu harus lemah lembut, emosional, cantik, sabar, penyayang, sebagai pengasuh anak, pengurus rumah,dll. Sedangkan laki-laki harus kuat, rasional, wibawa, perkasa (macho), pencari nafkah,dll. Maka bagi yang tidak mengerti latar belakang dan latar depannya dianggap telah terjadi ketidakadilan dalam kesetaraan peran ini.

Proses pembentukan peran yang diajarkan secara turun-temurun oleh orangtua kita, masyarakat, bahkan lembaga pendidikan yang ada dengan sengaja atau tanpa sengaja memberikan peran (perilaku) yang sehingga membuat banyak orang berpikir bahwa memang demikianlah adanya peran dan fungsi yang harus kita jalankan. Bahkan ada orang yang  menganggapnya sebagai kodrat. Seperti ….“ kodrat seseorang sebagai perempuan untuk lemah gemulai, mau menerima apa adanya, dan enggak boleh membantah. Sementara lain lagi yang laki-laki harus berani, tegas, dan bisa ngatur”… Begini kita sering memahami peran jenis kelamin kita, bukan?

Dari kecil kita telah diajarkan, sebagai anak laki-laki  diberikan mainan yang memperlihatkan kedinamisan, tantangan, dan kekuatan, seperti mobil-mobilan dan pedang  atau senapan serta memanjat pohon. Sedangkan sebagai anak perempuan diberikan mainan boneka, alat memasak, dan lainnya. Lalu, ketika mulai sekolah dasar, dalam buku bacaan pelajaran juga digambarkan peran dan fungsi dari jenis kelamin, contohnya, “Bapak membaca koran, sementara Ibu memasak di dapur”. Peran dan fungasi hasil bentukan sosial-budaya inilah yang disebut dengan peran gender. Peran yang menghubungkan pekerjaan dengan jenis kelamin. Apa yang “pantas” dan “tidak pantas” dilakukan sebagai seorang laki-laki atau perempuan ? Dalam hal ini jangan diberi makna boleh dan tidak boleh, akan tetapi dalam makna yang “sebaiknya”.

Sekelompok perempuan dan hanya sebagian kecil laki-laki tengah beristirahat. Wajah mereka terlihat sedikit letih dan berkeringat. Mereka adalah perempuan tangguh, kuli jalan. Pekerjaan ini dilakoni mereka demi menopang ekonomi keluarga. Saat itu mereka menikmati minuman dan makan kecil. Peralatan seperti cangkul, ladiang, sabit dan keranjang masih tergelatak di sisi jalan.

Sekelompok Ibu-ibu bergotong royong membuka jalan baru.

Sekarang, apakah pembedaan itu penting ? Sehingga proses pembedaannya dimulai semenjak dari Pendidikan usia dini ? Atau tidak ? Pertanyaan ini  sederhana, tetapi sangat penting untuk dijelaskan.

Pertama yang perlu dipahami adalah bahwa laki-laki dan perempuan ada “persamaan” dan ada “perbedaan”. Pada fisik secara keseluruhan fisik laki-laki dan perempuan hampir sama, sama kaki, sama tangan, sama badan dan sama kepala. Kecuali yang menempatkan status mereka berbeda adalah alat kelamin atau sistem reproduksi. Alat kelamin itulah pembeda utama. Dalam hal alat sistem reproduksi ini sangat besar pengaruhnya terhadap sistem kesehatan dan kekuatan fisik. Selanjutnya akan mempengaruhi penentuan perbedaan peran dan fungsi di antara mereka. Secara kasat mata laki-laki lebih kuat dari wanita. Pada diri wanita, jenis kelaminnya menimbulkan akibat, terhalangnya melakukan aktifitas atau kerja berat pada saat-saat tertentu. Lebih lanjut, menimbulkan perbedaan kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan, baik kuantitas dan kontinuitasnya maupun kualitas serta efisiensinya.

Kedua, berkaitan dengan pekerjaan. Hampir semua pekerjaan dapat dikerjakan baik oleh  laki-laki danmaupun oleh perempuan. Baik pekerjaan kasar atau pun pekerjaan ringan. Kalau laki-laki bisa mencangkul disawah, perempuan juga bisa. Kalau laki-laki bisa memanjat pohon, wanita juga bisa dan lain-lainnya.

Ketiga dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu dan harus membangun sistem yang harmonis. Misalnya didalam masyarakat perlu pengaturan yang tegas tentang laki-laki dan perempuan terutama  dalam berhubungan kelamin. Dalam hal ini perlu aturan yang jelas, yakni apa yang di sebut dengan “keluarga”. Kalau tidak kehidupan umat manusia seperti binatang. Nyatanya dimana saja masyarakat sistem budayanya  membuat aturan dan akan selalu membuat aturan untuk tercipta apa yang disebut “system sosial yang harmonis”. Untuk itu jalan yang harus ditempuh adalah adanya pembagian kerja yang teratur. Dengan pembagian kerja atau fungsi tersebut akan mudah mencapai tujuan (efektifitas dan efesiensi). Dalam system organisasi kita kenal dengan istilah pembagian peran dan fungsi.

Dalam sebuah keluarga pada masyarakat yang berbudaya, selalu  sistemnya dikelola  dengan pembagian kerja antara laki-laki (suami) dengan perempuan ( isteri). Dalam realitasnya banyak orang membagi beban kerja berdasarkan “di dalam rumah” dan “diluar rumah”. Di dalam rumah maksudnya adalah pekerjaan pada berbagai urusan keperluan sehari-hari, seperti memasak makanan, mencuci pakaian, hamil, mengasuh dan merawat anak-anak. Sementara di luar rumah maksudnya adalah mencari nafkah (kebutuhan hidup) dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Berdasarkan pengalaman ribuan tahun kehidupan manusia, pembagian kerja antara suami dan isteri seperti itu sebagai kesimpulan yang sangat tepat,  yakni menetapkan tugas mencari nafkah dipikulkan pada pihak suami (laki-laki) sedangkan mengurus pekerjaan di dalam rumah dibebankan kepada pihak (isteri). Keputusan itu tentu saja sudah berdasarkan berbagai pertimbangan. Dasar pertimbangan itu yakni “pengalaman” yang sangat berharga dan bernilai tinggi. Bukan didasarkan pada angan-angan atau hipotesis seorang ahli. Faktor utama yang dijadikan pertimbangan adalah  factor resiko bila seorang isteri atau perempuan pergi meninggalkan rumah tanpa pengawalan dari pihak anggota keluarga yang lain.

Yang sering lupa bagi seorang analis gender adalah resiko kesetaraan gender, pertama adalah situasi dan kondisi yang melatar belakangi munculnya pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Salah satu diataranya yang sangat penting adalah untuk menghindari jangan terjadinya perzinahan. Perlu diingat bahwa perzinahan adalah salah satu dari sumber kekacauan system social. Akibat yang ditimbulkannya  sangat rumit penyelesaiaannya. Dampaknya sangat luas jika dibandingkan dengan bentuk kejahatan yang lain. Seperti tidak jelasnya penanggung jawab pengasuhan buah zina dan pembunuhan sesama anggota masyarakat.

Kedua latar depannya adalah, pada masa sekarang kita sering mengenal istilah perselingkuhan atau pelecehan seksual, yang pada umumnya dialami oleh  para perempuan yang memiliki kebebasan berkarir di luar rumah. Kita selalu saja  dapat mengenal para pezina pada umumnya dilakukan oleh anggota masyarakat yang telah memiliki persamaan gender yakni kesetaraan laki-laki dan wanita di luar rumah. Kesetaraan tersebut hampir di semua aspek kehidupan. Kita tidak lagi dapat menutup mata bagaimana kebebasan zina berkembang di dalam masyarakat yang disebut maju.

Disamping itu  akibat dari tidak adanya pembagian fungsi yang tegas sering iklim system rumah tangga menjadi tidak normal, pertengkaran dan stress sering terjadi. Karena suami dan isteri pada saat tertentu saling lempar tanggung jawab. Mereka  merasa memiliki hak dan kewajiban yang sama.  Apa yang dimaksud dengan hak dan kewajiban di antara suami dan isteri tidak jelas, dasarnya hanya “saling pengertian”,  maka akibatnya mereka sama-sama menanggung resiko. Konsep “saling pengertian” (yang mereka usung) tidak cukup untuk menghilangkan masalah. Perlu juga kita ketahui bahwa konsep saling pengertian itu tidak jelas batas dan bentuknya serta waktu dan tempatnya.

Yang tidak kalah pentingnya untuk dipahami adalah kelompok orang-orang yang memperjuangakan kesetaraan (persamaan) gender  mereka terjebak dengan wawasan yang terlalu sempit. Mereka tidak memahami sistem kehidupan manusia yang begitu luas dan rumit. Mereka hanya memahami sektor-sektor kehidupan tertentu saja. Misalnya mereka memahami kehidupan manusia yang layak seperti hanya di Kota saja, jenis pekerjaan bidang dagang dan jasa administrasi atau Speker saja. Mereka tidak pernah menghayati kehidupan di Pedesaan. Mereka tidak pernah mengamati bagaimana suka duka kehidupan banyak petani pulang pergi setiap hari ke kebun, ke ladang, ke sawah dan ke hutan mencari kayu. Semua itu dilakukan dalam jarak tempuh yang cukup jauh dari rumah (pemukiman).  Yang lebih menantang  adalah siang atau malam berjuang menangkap ikan ke Laut menantang badai.

Dengan kata lain, kita harus sadar bahwa ada pekerjaan itu yang membutuhkan tenaga besar dan ada yang sedikit. Ada pekerjaan yang beresiko tinggi ada yang rendah. Makanya sangat pantas dan wajar pekerjaan yang beresiko tinggi dan memerlukan tenaga yang relatif besar di serahkan pengerjaannya kepada pihak laki-laki. Sebaliknya, pekerjaan yang beresiko rendah dan tidak membutuhkan tenaga yang besar sangat wajar untuk kelompok perempuan.

Sekaitan dengan itu maka Pendidikan untuk anak-anak memang harus selalu diarahkan kepada pembenbentukan kesadaran terhadap peran dan fungsi yang harus dimainkan  dalam pembagian kerja tersebut di atas. Pekerjaan antara laki-laki dan perempuan itu memang sudah sewajarnya berbeda  jika kita mau membuat system keluarga dan system  sosial /kemasyarakatan yang harmonis. Maka bentuk-bentuk pekerjaan yang berbeda itulah yang dijadikan materinya pendidikan untuk-anak. Kita didik anak-anak laki-laki dan perempuan untuk peran dan fungsi yang berbeda dan saling mendukung untuk mewujudkana keharmonisan system social yang lebih luas.

Dimanapun masyarakatnya ketentuan seperti itu memang sangat layak dan pantas dipertahankan. Berbagai penelitian telah dilakukan di di Eropa dan Amerika serikat yang di anggap sebagai negara maju, tetap saja hasilnya menunjukan bahwa keluarga yang melakukan pembagian peran dan fungsi dengan baik menjalani hari-hari kehidupannya dengan lebih tenang. Sementara yang sudah menjunjung tinggi kesetaraan gender justru banyak menuai masalah di dalam kehidupan keluarga. Mulai dari stress samapi kepada saling tidak percaya antara suami dan istri. Angka perceraian sangat tinggi. Keluarga sebagian besar adalah keluarga orang tua tunggal.

Mungkin para analis akan membantah dengan alasan lain. Mereka akan tetap memperjuangkan kesetaraan gender. Mereka sering mengatakan,…..” sebenarnya kondisi ini tidak  ada salahnya. Tetapi akan menjadi bermasalah ketika peran-peran yang telah diajarkan kemudian menempatkan salah satu jenis kelamin (baik pria maupun perempuan) pada posisi yang tidak menguntungkan. Karena tidak semua laki-laki mampu bersikap tegas dan bisa mengatur/ memimpin, maka laki-laki yang lembut akan dicap banci. Sedangkan jika wanita lebih berani dan tegas akan dicap tomboi. Tentu saja hal ini  tidak enak (bagi kalangan tertentu) memberikan tekanan seperti itu”….

Mereka yang berfikiran seperti itu tentu saja ada di mana-mana belahan bumi ini. Akan tetapi mereka juga lupa. Ada sisi khususnya yang terlupakan. Yakni seorang wanita boleh saja mengerjakan apa saja yang mereka bisa dan apa saja yang mereka mau. Mungkin mereka harus berjuang mencukupkan penghasilan sumi, atau seorang anak perempuan harus memantu ayahnya. Akan tetapi tetap saja harus berada dalam koridor. Artinya jangan sampai melanggar norma ketertiban yang telah disepakati. Seperti yang telah disebutkan tadi jangan terjadi perzinahan dan pelecehan seksual. Maka salah satu jalan yang terbaik harus ditempuh. Yakni kalau perempuan keluar rumah (bekerja diluar rumah) harus ada yang mendampinginya. Misalnya bekerja di sawah atau berjuan di pasar perlu didampingi suami atau anaknya. Yang menjadi prinsip disini adalah menciptakan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan terjadinya zina atau pelecehan seksual. Dalam Islam sering disebut dengan pendampingan dengan muhrim. Sitem pendampingan dengan muhrim inilah sebagai control social yang sangat penting. Apapun bentuk standar pelayan public yang diberlakukan pemerintah (misalnya) tidak akan pernah efektif bila kesetaraan gender  tidak dikendalikan. Tetap saja perzinahan dan pelecehan seksual serta masalah social lainnya akan berkembang. Yang menjadi persoalan adalah bukan objek pekerjaan itu cocok atau tidak cocok dengan perempuan, akan tetapi lebih ditekankan pada “kepergian” sang wanita  meninggalkan rumah menuju ke lokasi tempat kerja tersebut. Di samping itu kehadiran sang wanita di tempat keja,  situasinya memberi kemungkinan orang dengan mudah untuk melakukan penyelewengan seksual.

Demikian saja untuk sementara, semoga bermanfaat bagi mereka yng ingin menjadi orang yang beriman dan berakhlaq mulia.

Ilustrasi: Dari  Yusnaldi, Hariana Singgalang, sabtu 22 Oktober 2011

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s