Ilmu dan Agama


Setiap orang yang sedang belajar filsafat akan sering berhadapan dengan kata ilmu atau dan agama. Dalam pola pikir mereka sering terjadi pro dan kontra soal ilmu dan agama. Bahkan ada juga di antara mereka yang mempertentangkan satu sama lain. Misalnya  analisis tentang  Conflics Between science and Religion, tulisan ini sangat bagus untuk dibaca. Dalam tulisan berikut ini penulis juga akan ikut membagikan pemahaman  kepada pencinta filsafat atau yang suka berfikir kritis.

Ilmu sebagai produk proses penginderaan

Ilmu (Arab) sepadan/sama dengan pengetahuan (Indonesia) dan knowledge (Inggris). (Namun Ilmu dalam konteks Arab sedikit berbeda dengan Ilmu dalam konteks Indonesia.  Di dalam konteks Indonesia Ilmu adalah pengetahuan yang telah terstruktur secara baik dan mengenai objek tertentu).
Pengetahuan dapat kita pahami sebagai akumulasi (kumpulan) gambaran  tentang sesuatu yang “ada” dan tersimpan (memori) didalam otak kita. Gambaran tersebut adalah gambaran dari sesuatu yang pernah bersentuhan dengan indera kita. Dengan kata lain gambaran tersebut adalah produk dari penginderaan. Gambaran tersebut bisa saja berupa gambaran tentang benda-benda (bentuk,  zat,  dan sifat ), bunyi, situasi dan atau kondisi seperti cuaca, siang atau malam. Gambaran tersebut dapat diperoleh  melalui melihat, mencium, meraba, mencicipi dan mendengar. Apa saja yang telah diamati dengan pancaindera, masing-masing diberi nama, seperti rasa garam, namanya asin, warna garam putih, tempat masuk kedalam rumah namanya pintu. Maka dengan demikian pengetahuan itu mengandung dua aspek, pertama gambaran dari objek dan kedua nama dari objek tersebut. Bentuk kegiatan yang dapat mendatangkan gambaran tentang sesuatu  dengan menggunakan pancaindera itu bisa saja berupa pengamatan (observasi), tanya jawab,  eksperimen  dan membaca buku. Yang lebih populer di kalangan masyarakat kampus adalah melalui penelitian. Tempatnya  boleh di sekolah di kebun atau sawah, bahkan yang sering  dilakukan secara formal adalah di laboratorium.
Pengetahuan seseorang   terakumulasi semenjak dari  dia lahir. Gambaran yang ada dalam otak seseorang mulai dari hal yang kecil sampai pada yang sangat besar, mulai dari yang sederhana hingga yang lebih komplek, mulai dari yang sedikit hingga jumlah yang banyak. Semua gambaran itu bersumber dari apa yang ada  disekitar kita. Apa yang ada itu dapat bersentuhan (memberikan rangsangan) dengan panca indera. Proses persentuhan Pancaindera dengan sesuatu yang ada disekitar kita itulah yang disebut dengan pengalaman. Makanya pengalaman sebagai proses  menghasilkan pengetahuan. Hal ini berarti bahwa pengetahuan adalah  produk dari proses penginderaan atau pengalaman.
Dalam pemahaman selanjutnya, pengetahuan  seseorang tentang suatu objek  ada yang lengkap ada yang tidak. Artinya ada yang tahu sebagian dan ada yang tahu secara keseluruhan.  Seperti seorang petani, dia banyak  tahu tentang tanaman padi. Dia tahu mulai dari pengenalan bibit, menyemai bibit, cara  menanam dan perawatan hingga panen. Setelah panen pengetahuannya juga meliputi pengolahan hasil pasca panen. Akan lain halnya dengan seorang  yang tinggal di perkotaan. Boleh jadi dia tidak tahu dengan tanaman padi sama sekali, atau boleh jadi dia hanya tahu hanya tentang bentuk tanaman dan buahnya saja.
Selanjutnya pengetahuan yang lengkap tentang sesuatu dapat disusun secara sistematis (struktur atau tata urutannya). Jika pengetahuan telah disusun secara sistematis maka hal ini dinyatakan sebagai Ilmu. Pengetahuan yang telah di klasifikasi sebagai Ilmu itu dapat diberi nama dengan nama tertentu, misalnya ilmu beternak ayam, ilmu memasak kue, ilmu berlari dan Ilmu (cara membuat) anyaman bambu. Apa yang disebut sain termasuk kedalam kelompok ini. Ada ilmu yang hanya sekedar ada dalam otak, sangat kecil kemungkinannya untuk dapat dimanfaatkan, bahkan ada ilmu yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Biasanya ilmu yang tidak ada manfaatnya terkait juga dengan profesi seseorang. Ada ilmu yang menjelaskan suatu prosedur kelompok inilah yang disebut ilmu teoritis. Sebaliknya ada ilmu yang memang sangat penting / berguna untuk bekerja atau untuk melakukan aktivitas. Biasanya ilmu seperti inilah yang disebut dengan ilmu praktis ( keterampilan berguna untuk bekerja). Seseorang tidak akan bisa bekerja kalau tidak ada ilmu tentang apa yang mau ia kerjakan.

Mengamati pertumbuhan biji kacang

Ilmu itu ada yang sejati dan ada pula yang semu.
Pertama, Ilmu sejati diperoleh langsung dari objek yang dipelajari, gambaran yang diperoleh bersifat primer seperti petani yang sudah bertahun-tahun mengolah pertanian dan peternakan.
Kedua, ilmu yang semu adalah ilmu  yang diperoleh melalui perantara/media, apakah melalui buku-buku atau gambar serta ceramah seorang guru, misalnya pengetahuan seseorang tentang sepak bola diperolehnya hanya melalui cerita seseorang  atau tayangan televisi. Atau hanya tahu dengan nama-nama (teori saja), tahu tentang bentuk dan warna saja dan tidak tahu tentang sifatnya. Tentu saja kebanyakan ilmu para akademisi termasuk kedalam kelompok kedua.
Kalau dintinjau tentang isinya, ada pengetahuan tentang zat , bentuk dan sifat dari sesuatu yang ada. Seperti air secara kimia mengandung zat hidrogen (H) dan oksigen (O), Air sebagai objek pandang memiliki bentuk dan warna, yakni sesuai dengan bejana yang di tempati. Air sebagai objek pengamatan  memiliki sifat, misalnya menguap bila dipanaskan dan selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Disamping itu juga pengetahuan tentang hukum-hukum, misalnya hukum kausalitas (sebab dan akibat). Misalnya jika logam dipanaskan akan memuai.

Agama sebagai sumber pengetahuan.

Agama dapat dipahami sebagai sebuah “Risalah” yakni seperangkat informasi yang diturunkan (diwahyukan) oleh Tuhan (Allah) kepada umat manusia melalui Rasul.   Risalah itu mengandung informasi  terutama mengenai suruhan  dan larangan.  Suruhan dan larangan tersebut ada yang berkenaan dengan sistem kehidupan bermasyarakat dan sistem ritual (upacara sistem beribadat). Biasanya disebut juga dengan hukum (syari’at). Di samping itu rislah juga mengandung berita tentang masa lalu, peristiwa yang terjadi atau sejarah dan berita pada masa yang akan datang.   Dalam risalah juga ada pemberitahuan tentang apa yang baik dan yang buruk. Risalah juga memuat informasi tentang penjelasan tentang sesuatu, yakni apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Risalah ini berfungsi sebagai pedoman membantu manusia memahami  banyak hal. Pemahaman yang baik tentang sesuatu yang berguna  dalam beramal untuk mencapai kehidupan yang baik (harmonis) dan kehidupan yang lebih baik pada hari kemudian. Risalah tersebut biasanya dihimpun dalam sebuah buku yang disebut dengan kitab-suci (seperti Al Quran). Kitab suci  dapat dikembangkan lagi (penjelasannya) dengan apa yang disebut dengan kitab tafsir atau Al-Hadits. Ini berarti juga bahwa agama  merupakan salah satu sumber pengetahuan / ilmu.
 Jika ada orang yang membaca informasi dari Tuhan tersebut  secara baik, maka ia akan mendapatkan pemahaman atau pengetahuan. Pemahaman yang baik akan mendatangkan kepercayaan dan keyakinan. Kemudian  kalau memang dia mempercayai  atau meyakini  ilmu tersebut, maka orang tersebut dikatakan sebagai orang yang telah beriman. Jika orang yang telah beriman tersebut  beramal / berperilaku sesuai dengan ilmu yang diyakininya itu ia dikatakan sebagai orang yang telah beramal saleh. Orang yang telah beriman dan mengerjakan amal saleh itulah orang yang dikatakan  takwa. Karena itu orang yang disebut beragama berarti dia terlebih dahulu harus mendapatkan “ ilmu” atau informasi yang datang dari Tuhan, membacanya sampai paham dan yakin sepenuh hati serta berbuat (beramal) menurut pengetahuan tersebut.  Jadi orang yang beragama adalah orang yang telah mengetahui informasi yang datang dari Tuhan, memahaminya sampai yakin (beriman), Setiap perbuatan atau tingkah lakunya selalu disesuaikan dengan pengetahuannya itu.

Sekian….. Semoga Allah selalu menaungi kita dengan hidayahnya.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

2 Responses to Ilmu dan Agama

  1. didik ternando says:

    asslamualaikum wr.wb…terima kasih pak.postingan di blog bapak sangat membantu dan menambah pengetahuan saya… menurut pemahaman saya ilmu dan agama itu ibarat pakaian dan badan.jadi kalau manusia itu berjalan kepasar tanpa pakaian mungkin akan menarik perhatian banyak orang atau bahkan dianggap gila..permasalahan pribadi saya sekarang adalah pakaian apa yang pantas saya pakai dalam setiap situasi dan kondisi..dalam hal ini saya mohon bimbingan dan bantuan bapak untuk mengatasi permasalanan saya….

    • Jalius HR says:

      Wa’alaikum salam ww.
      Maaf Dididk terlambat membalasnya….. karena lupa.
      Pertanyaan Didik sangat bagus….dan wajib diberikan jawabannya.
      Apa bila seseorang telah memperoleh ilmu dari sebuah kitab ( Al-Quran) kemudian mempercayai atau meyakini ilmu tersebut orang tersebut dikatakan sebagai orang yang telah beriman. Kemudian jika orang tersebut beramal sesuai dengan ilmu yang diyakininya itu dikatakan sebagai orang yang telah beramal saleh. Orang telah beriman dan mengerjakan amal saleh itulah orang yang dikatakan ber -”taqwa”.
      Di dalam Al-Quran dinyatakan sebaik-baik pakaian adalah ” Taqwa “.

      Selamat membaca dan bermujahadah.
      Wassalam Jalius. HR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s