Filsafat Dan Kelirunya Para Filsuf


 Tersesat di Jalan terang Tapi mereka tidak sadar

Ada suatu hal yang sangat mustahil dalam alam pikir para filsuf. Tapi mereka tidak sadar.  Kenapa ?  Banyak para pemikir filsafat (filsuf) mengatakan bahwa filsafat adalah proses mencari “ kebenaran “ secara mendalam dan menyeluruh. Seperti yang dikatakan oleh Socrates, filsafat adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh atau cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Proses mencari kebenaran itu hanya didasarkan pada rasio atau penalaran yang tidak menggunakan data empiris. Sementara data empiris digunakan oleh  mereka yang bergerak dalam bidang Ilmu, guna mendapatkan pengetahuan yang valid. Dalam hal ini pertanyaan yang sangat mendasar yang perlu diajukan adalah, apakah para Filsuf bisa berpikir   dengan baik dan sempurna jika otaknya kosong dari data-data empiris ? Dengan kata lain tidak menggunakan data empiris atau pengetahuan yang ada. Misalnya, dapatkah dia berpikir tanpa pengetahuan tentang manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang telah  pernah di amatinya? Coba kosongkan pengetahuan  empiris yang telah ada tentang manusia , kemudian berpikirlah….. tentang manusia.

Berfilasafat tidak lebih dari menghubung-hubungkan pengetahuan yang telah ada kemudian mencoba membuat sebuah pernyataan atau proposisi.

Berfilsafat tidak lebih dari menghubung-hubungkan pengetahuan yang telah ada kemudian mencoba membuat sebuah pernyataan atau proposisi.

Bukankah seorang filsuf jika dia memikirkan hakikat kehidupan manusia, karena dia sudah memadatkan sejumlah besar pengetahuan tentang manusia. Semenjak dari dia dilahirkan (kecil) sudah mengenal dua orang ayah dan ibunya, yang memiliki dua kaki dan tangan, serta memiliki mata dan telinga. Dia mengenal tetangga dan teman bermain serta anggota masyarakat lainnya. Dia sudah banyak tahu tentang apa makanan dia sendiri dan orang lain. Apa saja yang dikerjakan manusia selalu diperhatikannya. Itulah pengetahuan empiris, hasil dari proses pengindraan. Plato dan Aristoteles mereka belum berfilsafat pada usia dini atau kanak-kanak. Karena memang dalam usia itu pengetahuan (data empiris)-nya belum memadai untuk diolah dalam proses berpikir (filsafat).

Sampai pada usia kurang lebih 40 tahun pengetahuan sang Filsuf tentang manusia sudah tidak mungkin lagi untuk bisa dia ceritakan dan menuliskan semuanya, karena memang sudah amat besar jumlahnya. Disamping jumlahnya besar aneka ragamnya juga tidak terhingga. Demikian pula pengetahuannya tentang alam sekitar dimana dia tinggal atau beradaptasi. Pengetahuannya yang banyak itu dijadikan sebagai bahan baku untuk berfikir (berfilsafat). Semua pengetahuannya baik pengetahuan yang bersifat kuantitatif maupun dan kualitatif. Sang filsuf sudah pasti, pada saat dia bermenung sambil berpikir (merenung) dia akan mengolah data-data yang ada dalam memori (otak). Pengetahuan yang telah ada di dalam otaknya di hubung-hubungkannya antara satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain. Dia mencoba membangun sebuah  postulat atau kesimpulan dan juga berbagai pengertian. Berbagai rumusan dia kemukakan, Namun dia tidak bisa terlepas dari pengetahuannya tentang kosakata yang ada dalam memori. Apakah pengetahuan  yang telah ia simpan dalam otaknya itu adalah pengetahuan yang dasarnya bukan data empiris ?

Proses berpikir sang Filsuf dapat juga sebagai kebalikan dari pengambilan kesimpulan tadi. Dia mencoba merenungkan sebuah ketentuan yang bersifat umum (proposisi) yang telah menjadi bagian dari kepercayaan orang banyak atau komunitas. Dia memulai menganalisis. Dari konsep umum dibaginya atas beberapa aspek, terus dirinci lagi sampai kepada bagian terkecil atau faktor-faktor pendukung sebuah aspek. Sang filsuf akan berhadapan dengan data-data dan fakta empiris atau apa yang pernah dia alami dalam pengalaman hidupnya dan juga orang lain. Dengan kata lain berpikir secara induktif berarti kita menyusun fakta-fakta empiris  digunakan untuk membuat rumusan yang bersifat umum (abstrak). Demikian pula sebaliknya, berpikir secara deduktif berarti kita menganalisis atau menguraikan konsep umum guna mendapatkan bukti-bukti data empiris. Tidak mungkin Plato dan Aristotels dapat membuat sebuah kesimpulan “setiap manusia akan melalui peristiwa mati”, jika dia tidak pernah melihat sejumlah orang yang mati atau meninggal dunia termasuk ayah dan nenek dia. Paling tidak untuk memahami konsep mati harus ada bukti empiris sebagai pembenaran.

Aristoteles

Aristotels, Filosof besar Yunani. Ilustrasi Wikipedia

Kerja mereka para filsuf mungkin tidak lebih dari seorang membuat adonan di dapur, kemudian dicetak menjadi semacam kue. Setelah kue tersebut matang dan siap disajikan di ruang tamu, lantas dia mengatakan …”kue ini diturunkan dari langit ke tujuh atau di Negara Angin Ribut”. Apa lagi kue tersebut dikemas dalam bahasa yang tidak terpakai dalam kehidupan masyarakat keseharian agar terkesan mewah (sulit). Sayang sekali orang-orang yang tidak melihat proses membuat adonan tersebut serta merta mengakui  ”kue diturunkan dari langit ke tujuh atau di Negara Angin Ribut” tanpa curiga.

Ada beberapa orang Profesor yang mengaku banyak tahu tentang filsafat, karena memang dia dosen Filsafat Ilmu, saya bertanya kepada mereka tentang istilah dari Filsafat. Pertanyaan saya  hanya sederhana, yakni apakah “filsafat” itu sebagai “proses’ berfikir atau sebagai “produk” berfikir ? Lantas sang Prof. tersebut menjawab  “ bisa kedua-duanya”. “Kalau sebagai proses berpikir, ya mereka merenung sambil memikirkan sesuatu. Kalau sebagai produk, filsafat juga menghasilkan pemikiran-pemikiran filosofis”.


Wooww… alangkah janggalnya pemikiran seperti itu. Jika bahan yang diolah dalam sebuah proses, boleh jadi hasilnya sama dengan sebelum diproses. Namun bentuk atau kualitasnya minimal akan beda juga. Tapi jika proses (metodologi) yang digunakan, materi setelah melalui proses …. kenapa hasil sama dengan yang ada di dalam proses ? Kalau begitu sama saja  “memasak” dengan “masakan”  Prof? Makanya janganlah meremehkan arti sebuah nama, karena nama itulah yang membedakan suatu objek/fenomena dengan objek/ fenomena lain.

Jika hal seperti  itu harus diakui….begitulah Alam Pikiran Yunani

Inilah sebuah peringatan dai Allah yang perlu dicamkan;

وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ

Dan janganlah kamu mengikuti  keinginan orang-orang yang telah sesat dahulunya   dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Al Maidah 77)

Selamat menganalisis.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

4 Responses to Filsafat Dan Kelirunya Para Filsuf

  1. La Galugu says:

    Profesor itu benar.
    Filsafat itu buah pikiran yang lahir dari proses berpikir yang jernih dan ilmiah.
    Filsafat yang benar itu pasti berujung di kalimat Tauhid.
    Nabi Ibrahim menemukan Tuhannya juga melalui berfilsafat.

    • Jalius HR says:

      Terima kasih atas kunjungannya. Semoga bermanfaat.
      Perlu diingat, Nabi Ibrahim menemukan Tuhannya bukan karena ia berfilsafat. Tapi Dia berpikir dan berpikir selalu menggunakan data empiris. Dia selalu menggunakan dalil (bukti-bukti ) yang nyata. Dia tidak berpikir begitu saja, tetapi dengan mengelola pengetahuan yang telah ada. Ingat setiap pengetahuan bersumber dari data empiris, yakni sesuatu yang didengar, yang dilihat dengan mata, dicium dengan hidung dan dirasakan oleh kulit dan lidah. Kemudian apa yang ia pikirkan dia katakan secara jujur. Memang data empiris tidak dapat dipungkiri. Akibatnya terjadilah benturan yang hebat dengan keyakinannya. Apa yang dianggap sebagai kebenaran (Tuhan) tidak memenuhi keyakinan Nabi Ibrahim as. Apa yang ia pikirkan sebagai Tuhan selalu merupakan hal-hal yang merupakan kebatilan (yang harus dilenyapkan). Pada kondisi seperti itulah Nabi Ibrahim as mengalami kebingungan.
      Jika Allah tidak mewahyukan petunjuk kepadanya, sungguh Nabi Ibrahim tidak akan tahu dengan Tuhannya. Dalam ha ini sangat keliru, kalau Allah sebagai Tuhan dianggap sebagai hasil berpikir dan merenung.

  2. ahyar says:

    assalamualikum
    apakah merenung bisa disebut dengan berfilsafat?

    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s