Din Syamsuddin Juga Keliru


Tulisan ini adalah merupakan sebuah tanggapan terhadap pernyataan Din Syamsuddin yang dipublikasikan oleh harian ibu kota yakni  Republika on line pada tanggal 26 Juli 2012,  penulis mengaksesnya pada 23:27 WIB.

http://ramadhan.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/12/07/26/m7s0e2-din-kaum-mustadhafin-perlu-dakwah-pencerahan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Kaum mustadh’afin di Indonesia memerlukan model dakwah pencerahan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan mereka, kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin.

Din Syamsudin

Din Syamsudin pada Pengajian Ramadhan 1433 Hijriah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (26/7/2012).

“Kaum mustadh’afin adalah kelompok umat atau masyarakat yang lemah dan dilemahkan atau kaum yang lemah dan tertindas sehingga memerlukan model dakwah yang lebih terfokus dan komprehensif, yakni dakwah pencerahan,” katanya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (26/7).

Menurut dia pada Pengajian Ramadhan 1433 Hijriah Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, mereka memerlukan dakwah dengan materi, pendekatan, dan metode yang tepat sasaran, yang tidak cukup memadai dengan model yang konvensional yang cenderung parsial, monolitik, dan kuno.

“Oleh karena itu, penting untuk menawarkan alternatif model praksis dakwah pencerahan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan kaum mustadh’afin di Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan masyarakat yang miskin, yatim, dan telantar dikategorikan dalam kaum yang lemah dan dilemahkan atau mustadh’afin. Hal itu terjadi bukan karena kondisi dan budaya melainkan korban dari struktur yang tidak adil atau menindas.

Mereka terdiri atas buruh tani, petani, nelayan, buruh pabrik, korban pemutusan hubungan kerja, tenaga kerja Indonesia di mancanegara yang mengalami nasib buruk, korban perdagangan manusia, anak jalanan, dan bayi telantar.

Selain itu, orang yang terjebak dalam pelacuran akibat kondisi sosial ekonomi yang serba kekurangan atau sebab lain yang merugikan hak hidupnya.

Perlu di jelaskan sebagai berikut

Setelah penulis menganalisa tulisan Rol (Republika online) di atas, pemikiran  ustad kita ini (Din Syamsuddin) ada juga kelirunya jika dinilai dengan perspektif Al-Quran.,

Pertama adalah beliau lupa dengan firman Allah yang akan dijelaskan di bawah ini. Coba kita pikir apa yang dikatakan ustad kita itu; “masyarakat yang miskin, yatim, dan telantar dikategorikan dalam kaum yang lemah dan dilemahkan atau mustadh’afin. Hal itu terjadi bukan karena kondisi dan budaya melainkan korban dari struktur yang tidak adil atau menindas”. Berdasarkan pernyataan ini jelas  sang ustadz belum memahami sepenuhnya ketentuan Allah swt. Beliau lupa bahwa kehidupan manusia ini sesungguhnya diatur oleh Allah. Dikatakannya lagi orang miskin adalah korban dari struktur yang tidak adil, berarti juga pernyataan  ustad  itu mengandung makna bahwa Allah tidak adil. Artinya kemiskinan yang dialami oleh sebagian masyarakat kita adalah akibat ketidak adilan Allah.

Ingat Firman Allah di bawah ini:

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.  Qs. Az-zukhruf  32

Firman Allah tersebut di atas juga membantah teori “lingkaran syetan”  yang sering dikemukakan oleh pakar pendidikan dan kependudukan  yakni, katanya kemiskinan menyebabkan kebodohan dan kebodohan menyebabkan kemiskinan.

Karena adanya orang yang berlebih  dan yang kurang dalam hal perolehan nikmat Allah, baik dari segi harta, kecerdasan, ilmu, dan kekuatan fisik, maka dengan keadaan itulah sistem kehidupan umat manusia ini terlaksana dengan harmonis. Mereka saling melayani. Misalnya orang kaya dan miskin saling melayani dengan uang dan tenaga. Orang miskin belum tentu dia sebagai orang bodoh. Tapi orang bodoh adalah sebagai orang yang tidak berilmu. Pada kelompok orang kaya terdapat orang yang bodoh (belum mengerti) dan demikian pula sebaliknya, di dalam kelompok orang miskin juga ada di antara mereka yang bodoh atau belum tahu. Dakwah (pendidikan)  memang sangat  diperlukan untuk orang yang bodoh, baik dia berasal dari kelompok miskin ataupun dari kelompok orang kaya.

Orang miskin yang senyatanya adalah kekurangan harta.  Orang miskin harus mendapatkan tambahan rezeki dari orang yang kaya (lebih) dalam  bentuk  infaq dan sadaqoh. Bantuan ekonomi sangat penting bagi mereka. Jika orang kaya telah memenuhi panggilan Allah untuk memberikan sebagian rezekinya kepada orang miskin,  niscaya akan terwujudlah apa yang dimaksud dengan hubungan harmonis. Itulah yang disebut dengan orang kaya yang adil. Kita jangan selalu menempatkan “kemiskinan” sebagai sebuah konsep yang berada pada posisi yang salah/tidak baik. Justru sebaliknya, jika tidak ada orang miskin akan rusaklah sistem kemasyarakatan. Orang kaya yang suka senang sendiri yang tidak suka berbagi/ berkasih sayang dengan orang miskin, itulah   yang salah atau tidak diredhai oleh Allah.

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?  Qs. An-Nahal 71

Di dalam Al-Quran perintah Allah sangat terfokus kepada pengaturan hubungan yang harmonis antara orang-orang yang memiliki kelebihan dan orang yang mengalami kekurangan. Allah memerintahkan kepada orang yang diberi kelebihan perolehan nikmat Allah untuk selalu memberi kepada orang yang mengalami kekurangan.  Orang kaya kepada miskin, orang yang kuat kepada yang lemah dan orang pintar kepada yang bodoh harus saling berkasih sayang. Inilah misi agama yang wajib dijalankan. Makanya yang sangat penting  dilakukan adalah proses penyadaran dengan pesan-pesan  Allah di dalam Al-Quran. Pesan yang ada pada ayat di atas juga menjelaskan kepada kita bahwa orang kaya sangat enggan berbagi dengan budak (orang yang dijadikan pekerja/karyawan). Apa lagi keengganan memberi atau berbagi dengan orang miskin yang tidak ada hubungan apapun dengan mereka.

Kedua adalah penggunaan istilah dakwah “pencerahan”. Sebaiknya beliau itu lebih baik menggunakan istilah “Dakwah” saja (didalamnya terkandung makna penyadaran yang bersumber dari Al-Quran) dan makna konsepnya lebih luas. Sementara itu jika menggunakan istilah “pencerahan” sebagai padanan dari kata enlightenment  makna sangat terbatas atau parsial. Karena istilah pencerahan /enlightenment  sebatas dan fokus rasionalitas saja dan sangat cocok dengan konsep umat Nasrani. Konsep pencerahan (enlightenment) lahir pada abad pertengahan, dalam sejarah dikenal dengan istilah  renaisance.

Dakwah (pendidikan) hanya untuk orang bodoh /  belum mengerti.

Sekaitan dengan menghadapi orang miskin, yang sangat penting dipahami adalah bahwa orang miskin bukan orang bodoh atau belum mengerti. Akan tetapi orang miskin ada yang bodoh, orang kaya juga ada yang bodoh. Orang yang  sangat penting di dakwahi terlebih dahulu adalah orang kaya yang bodoh atau belum mengerti dengan perintah agama, yakni orang kaya wajib menyantuni orang miskin.  Dewasa ini jumlah orang kaya (kelebihan rezeki)  sangat besar jumlahnya jika dibandingkan dengan kelompok orang miskin. Dalam hal ini  sasaran dakwah adalah menyadarkan orang kaya agar mereka mengerti dan memahami kondisi orang miskin.  Mereka disadarkan untuk mau selalu memberikan sebagain rezekinya kepada orang yang miskin jika mereka ingin menjadi orang   yang beriman. Orang kaya juga perlu dan selalu dimotivasi untuk   mau  memberi kepada si miskin dan saling berkasih sayang dengan mereka. Jika perlu memaksa orang yang maunya senang sendiri (hidup mewah) untuk   suka   memberi kepada orang miskin.

Gunakanlah kesadaran untuk memahami firman Allah berikut ini;

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.  Qs. Adz-dzariaat 19

Di samping itu di dalam sistem buruh dan majikan, kita harus mengusahakan agar kelompok orang kaya mau memberi upah yang layak kepada buruh/karyawan (orang miskin) yang di pekerjakannya. Tujuannya tentu saja adalah di samping dia tidak berkecil hati juga agar mereka senang jadi pekerja. Hubungan yang harmonis antara si kaya dengan si miskin inilah yang merupakan landasan utama   hubungan buruh dan majikan. Hal ini pulalah yang menjadi salah satu faktor mendasari hubungan-hubungan yang harmonis sistem sosial di dalam masyarakat.

Selain itu Ustad kita itu mengajak umat  kepada sebuah kebingungan yakni;

Pertama jika kaum mustadh’afin adalah kelompok umat atau masyarakat yang lemah dan dilemahkan atau kaum yang lemah dan tertindas, kenapa sasaran dakwahnya kepada orang yang tertindas itu ? Kenapa tidak kepada kelompok orang yang menindasnya ? Siapa yang berlaku  tidak adil terhadapnya, tentu kepada merekalah layaknya sasaran utama dakwah harus disampaikan. Betapapun program dakwah disusun  dan dijalankan tidak akan berarti apa-apa salama kelompok penindas tidak dicegah.

Kedua jika melakukan dakwah yang memerlukan model dakwah yang lebih “terfokus dan komprehensif”. Dua istilah ini merupakan dua konsep yang saling berlawanan. Dakwah yang lebih “terfokus” sudak jelas maknanya sangat spesifik dan praktis. Konsepnya sangat pragmatis. Program yang “lebih terfokus” akan   berbenturan denga keinginan yang bersifat “komprehensif” atau menyeluruh. Suatu program yang komprehensif tentu saja meliputi banyak aspek, membutuhkan dana, tenaga yang sangat besar dan waktu yang relative lama. Seperti apa dakwah yang “lebih terfokus dan komprehensif” yang digagas oleh sang ustadz itu ? Akibat dari pemikiran yang seperti ini, jika program ingin juga disusun kita akan ketemu dengan apa yang sering disebut orang “nafsu besar tenaga kurang“. artinya hanya ada dalam angan-angan.

Lebih lajut uraian ustadz kita itu …. “mereka memerlukan dakwah dengan materi, pendekatan, dan metode yang tepat sasaran, yang tidak cukup memadai dengan model yang konvensional yang cenderung parsial, monolitik, dan kuno.”  Mau yang terbaik, tapi konsep yang telah kuno mau ditinggalkan. Padahal sudah banyak bukti berbagai program yang sudah kuno itu hasilnya tidak diragukan lagi. Bisanya di dalam sistem berfikir bukan yang kuno yang harus ditinggalkan, akan tetapi adalah sesuatu yang efektifitas dan efesiensinya yang rendah.   Itupun juga dengan catatan jika telah ada alternatif penggantinya. Atau dengan kata lain sebuah program yang produktifitasnya rendah, tidak efisien atau tidak menguntungkan yang harus ditinggalkan dan diganti dengan pilihan terbaik. Sekaitan dengan itulah   sebuah  ide dari sang ustadz  sangat penting dicermati. Apa sistem atau program kerja yang dilakukan oleh para rasul dalam menghadapi orang-orang miskin, bukankah itu yang lebih kuno ? Mau pakai konsep yang modern, kita perlu hati-hati dengan semangat tajdid (inovasi). Jangan kita sampai salah suai.   Kita perlu perikasa dulu sebelum ide pembaharuan  diadopsi. Periksa dulu sebelum dibeli.

Bagi penulis sangat sulit membayangkannya. Tapi kita akan selalu mendukung ide tajdid (inovasi)  yang bersifat teknis.

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s