LOYALITAS SOSIAL


Allah telah berfirman di dalam Alquran;
 Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al-Hujurat 10)
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial.  Sebab utama manusia sebagai makhluk sosial adalah Allah telah membenamkan wadda dalam hati manusia pada saat proses penciptaannya, yakni sebuah sikap atau perasaan saling harap. Perasaan saling harap itu bukan hanya sesama manusia saja akan tepai juga terhadap yang lainnya, termasuk terhadap sang Maha Pencipta. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu dengan yang lain, dengan fikiran dan kehendaknya yang bebas. Bukti  manusia sebagai makhluk sosial adalah ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok – dalam bentuknya yang minimal dua orang, yang mengakui keberadaannya dan saling membantu memenuhi kebutuhan hidupnya, dan dalam bentuknya yang maksimal  perlu kelompok di mana dia dapat mengantukan berbagai harapan kepadanya. Karena keunikan dalam perbedaan itulah sistem sosial dibangunnya. Berbagai keahlian dan kemampuan mereka dapat saling mengisi, saling memberi dan menerima. Secara bersama-sama memenuhi aneka kebutuhan untuk hidup.
Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia beraneka ragam. Sebahagiannya ditinggikan beberapa derajat atas sebahagian yang lainnya. Orang-orang memiliki kelebian  akan saling melayani dengan orang mengalami kekurangan. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, dan seterusnya. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan keahlian dan  Kepandaian yang berbeda-beda pula.
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup mandiri. Manusia membutuhkan kebersamaan di dalam kehidupannya. Semua itu adalah dalam rangka saling memberi dan saling mengambil manfaat. Orang kaya tidak dapat hidup tanpa orang miskin yang menjadi pembantunya, seperti pegawainya, sopirnya, dan seterusnya. Demikian pula orang miskin tidak dapat hidup tanpa orang kaya yang mempekerjakan dan membayar jasanya.  Pada zaman sekarang peran orang kaya untuk membangun berbagai fasilitas ekonomi dan kesejahteraan semakin penting. Sehingga manusia membutuhkan hidup berkelompok.
Kebutuhan untuk berkelompok ini merupakan  sifat utama yang sangat intens  di dalam hakikatnya, para psikolog menamainya  dengan istilah naluri yang alamiah. Dengan sifat utama  itu munculah ikatan-ikatan aneka kelompok dan kerja sama,  baik pada manusia zaman purba ataupun  orang-orang yang hidup pada zaman modern. Kita mengenal adanya ikatan persaudaraan, ikatan keluarga, ikatan kesukuan, dan pada manusia modern adanya ikatan profesi atau alumni, ikatan negara atau bangsa, ikatan pencinta……, hingga ikatan peradaban atau ikatan agama.
Dalam hubungannya dengan manusia  selalu hidup bersama , sangat dipengaruhi oleh apa yang disebut dengan loyalitas sosial atau kesetiaan sosial. Dorongan  manusia untuk hidup selalu berkelompok, loyalitas sosial itu  dibina sejak lahir sampai usia yang tidak dapat ditentukan. Loyalitas sosial akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu berkelompok dan bermasyarakat dalam menjalani kehidupannya. Manusia yang hidup berkelompok atau bermsyarakat  juga tidak akan dapat hidup dengan sempurna jika tidak dilandaskan pada loyalitas sosial tersebut.
Loyalitas adalah  sebagai pengabdian atau senang memberi dan menerima kepada seseorang,  kelompok  atau  masyarakat yang menyebabkan  adanya hubungan timbal balik yang harmonis. Loyalitas sosial sebagai produk dari proses sosialisasi tumbuh seirama dengan perkembangan tingkah laku kelompok. Orang yang setia akan selalu saling memenuhi harapan-harapan kedua belah pihak. Langgengnya sebuah rumah tangga antara suami dengan isteri saling memenuhi harapan harapan dengan baik. Demikian pula antara perusahaan dengan konsumen harus ada loyalitas.
Tanpa adanya loyalitas  manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain (yang setia), manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya. Makanya setiap orang tua atau pendidik harus senantiasa membinakan sikapsikap yang akan menumbuh kembangakan sikap loyalitas tersebut. Proses pembinaannya dimulai semenjak anak dilahirkan hingga usia yang tidak terbatas. Karena loyalitas sosial itu meliputi semua kegiatan komunitas manusia, meliputi berbagai kelompok atau organisasi, berbagai masyarakat atau bangsa.
Loyalitas sosial wajib dibangun, karena loyalitas sangat urgen dan fundamental dalam sistem sosial. Untuk membangun sikap loyalitas tersebut di dalam sistem pergaulan kita, ada beberapa ketentuan yang wajib dilakukan,  di antaranya yakni:
Pertama saling berkomunikasi sesama individu di dalam kontek kelompok, baik di dalam keluarga, organisasi dan masyarakat luas. Dengan komunikasi harus saling menyampaikan kabar dan berita tentang situasi dan kondisi masing-masing anggota kelompok. Kabar dan berita selu diberikan agar masing-masing anggota kelompok saling memahami dan saling mengerti. Dengan adanya kabar dan berita tersebut masing-masing anggota akan dapat menyikapi informasi yang di terima. Misalnya kalau ada salah seorang dari anggota kelompok yang mengalami kesulitan  maka anggota kelompok yang lain bersegera memberikan bantuan dan sebagainya.
Kedua sering bekerja sama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, terutama pekerjaan  yang berkaitan dengan memenuhi kebutuhan bersama. Misalnya senantisa bergotong royong mengerjakan pembuatan dan perawatan jalan, membangun dan memelihara rumah ibadah serta menjaga keaman desa.
Gotong royong dalam kebaikan perlu dilestarikan, karena sikap ini sangat baik dan dapat mendukung pada kenyamanan kehidupan  umat manusia. Karena jika kita terbiasa untuk bergotong royong, maka kita akan senantiasa untuk bekerjasama, tolong menolong dan menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama dengan sukarela tanpa adanya imbalan. Selain itu, gotong royong juga akan sangat bermanfaat bagi pembangunan bangsa dan kesejahteraan anggota kelompok. Mari  terus kita pelihara sikap gotong royong dalam semua aktivitas kehidupan kita.
Dalam hal ini sangat penting diawali dengan apa yang dinamakan  musyawarah. Musyawarah adalah salah satu unsur dari sikap sosial yang ada dalam masyarakat. Di manapun manusia hidup di dunia ini mereka selalu bersikap suka bermusyawarah. Di Indonesia semua suku bangsa tetap menganut faham selalu bermusyawarah. Di belahan dunia lain juga sangat berkembang sikap suka bermyawarah. Biasanya musyawarah dilakukan bila ada permasalahan yang  akan dipecahkan atau mencari jalan keluar dari kesulitan.
Musyawarah dapat diartikan sebagai pengambilan keputusan didalam sebuah rapat. Keputusan diambil tidak berdasarkan suara terbanyak, keputusan diambil tidak berdasarkan pemikiran atau faham tertentu, melainkan oleh seluruh anggota rapat. Sikap musyawarah ini bagaikan sebuah tubuh, bila ada bahagian yang sakit seluruh tubuhnya akan  menolak dan jika ada anggota senang semua juga akan senang. Arinya dengan musywarah ddan kerjasama berbagai sumberdaya dapat dimaksimalkan pemanfaatannya.
Ketiga selalu selang-tenggang atau tolong menolong dengan kegiatan  pinjam meminjamkan. Di dalamya terkandung apa yang disebut dengan sikap toleransi. Perbuatan ini sangat penting dalam meringankan beban seseorang di dalam kelompok. Anggota kelompok harus selalu melakukan kegiatan pinjam meminjam, melaksanakan  arisan dan sebagainya. Kegiatan yang selalu ber-selang-tenggang ini adalah sebagai konsep tolong menolong. Di dalam masyarakat atau kelompok tidak ada orang sempurna dan serba cukup.  Tolong menolong dapat   dilakukan dalam semua lini kehidupan, tolong menolong bukan saja orang antara orang kaya dengan orang miskin, orang kuat kepada yang lemah, akan tetapi meliputi semua orang. Tolong menolong pada prinsipnya adalah antar sesama yang sedang mengalami keterbatasan dan orang memiliki kelebihan terhadap orang yang berkekurangan.
Banyak hal yang harus diperhatikan didalam proses membangun loyalitas soaial ini.  Misalnya; salah satu hal yang sangat penting diperhatikan dalam proses selang-tenggang ini adalah tenggang waktu. Seperti ada seseorang yang meminjam uang. Dia meminjam uang karena mengalami kekurangan atau kesulitan mendapatkan uang, maka pihak peminjam perlu memberikan tenggang waktu dengan toleransi yang memadai. Artinya orang yang dipinjamkan itu diberikan kesempatan sampai situasi dan kondisi yang memungkinkan dia mampu mengembalikan pinjamannya dengan sempuran dan cukup.  Sebaliknya pihak yang meminjam harus menunaikan kewajibannya sesuai dengan janji. Dalam hal ini yang kejujuran akan menentukan kadar kepercayaan di antara kedua belah pihak. Tenggang waktu merupakan salah satu faktor yang mendukung meringankan penderitaan seseorang memikul beban kehidupannya. Pada gilirannya akan mendatangkan perasaan senang dan simpati di antara keduanya.
Kokohnya sebuah organisasi atau negara selalu dilandasi oleh loyalitas sosial orang-orang yang menjadi anggotanya atau warganya. Kuat atau lemahnya sebuah partai juga didukung oleh kesolidan anggotanya. Makanya untuk kepentingan kokohnya kesatuan dan persatuan sebuah organisasi atau negara sangat perlu membangun loyalitas tersebut hingga tercapai kefanatikan anggotanya dalam menyakini ideologi atau agama yang diperjuangkan.
Loyalitas sosial ini wajib dipelihara. Di dalam kehidupan umat manusia musuh paling utama didalam kelompok adalah sikap orang yang suka mengurangi intensitas kesetiaannya atau menghilangkannya sama sekali. Skap seperti ini disebut dengan khianat atau hipokrit. Orang hipokrit merupakan musuh utama persatuan. Misalnya orang suka lompat pagar, dari sebuah organisasi ke organisasi yang lain, dari sebuah partai ke partai yang lain. Makanya setiap kelompok harus mencegah anggota kelompoknya yang mengurangi kesetiaan sosialnya itu. Jika ia menghilangkan loyalitas sosialnya sama sekali dia harus dikeluarkan dari anggota kelompok atau organisasi. Pada taraf tertentu orang yang berkhianat atau hipokrit wajib dihukum berat atau “jika perlu dibunuh”. Karena mereka merupakan penyebab datangnya sebuah  bencana pada sebuah  sistem kehidupan kelompok atau masyarakat.
Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

2 Responses to LOYALITAS SOSIAL

  1. yasrizal says:

    Namanya makhluk hidup tentu berkeinginan untuk berkawan ,berkanti-kanti,berdongan-dongan,berkonco-konco, kalau tak seperti itu itu bukan maklhuk hidup namanya, benda matipun juga berkelompok-kelompok dan satu sama lain saling mengikat. Contoh Struktur suatu bangunan ada pasir, ada semen, ada air, ada tanah, ada paku dll.

    • Jalius HR says:

      Tarimo kasih konti… lai ingek-maingek an. Lai indak lupo jo kaji lamo.
      Selamat berpuasa semoga Allah melimpahkan Rahmah, Barkah dan MagfirahNya.

      Wassalam Jalius di Lubuk Buaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s