Kebenaran Dan Nilai


Saya pernah membaca sebuah   buku  berjudul Filsafat Pendidikan, buku tersebut dikarang oleh Prof. DR.H. Jalaluddin dan Prof. DR.H. Abdullah Idi, M.Ed.   Di halam  4  paragraf  ke – 2,  saya membaca  yang kutipannya  sebagai  berikut:

………” Dengan demikian kebenaran filsafat adalah kebenaran relative. Artinya kebenaran itu sendiri mengalami perkembangan sesuai dengan perubahan zaman dan peradaban manusia.  Bagaimanapun, penilaian tentang suatu kebenaran yang dianggap benar itu masih tergantung pada ruang dan waktu. Apa yang dianggap benar oleh masyarakat atau bangsa lain, belum tentu akan dinilai sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat atau bangsa lain. Sebaliknya sesuatu yang dinilai benar oleh suatu masyarakat atau bangsa dalam suatu zaman  akan berbeda pada zaman berikutnya “……

Dari kutipan di atas kita dapat menemukan sebuah kerancuan berfikir secara  logika (ilmu menalar). Kerancuan itu adalah pengarang buku tersebut tidak membedakan konsep “ kebenaran ”  yang bersifat  universal dan konsep “ nilai ”. Secara praktisnya  ada kesan bahwa dia menganggap  konsep “ ke-benar-an ” sama saja dengan konsep “ nilai ”. Paling tidak mereka mencampur aduk kedua konsep tersebut. Pada hal kedua konsep itu tidak sama. Oleh sebab itu kita harus memahami dengan baik apa itu yang dikatakan “ kebenaran ”  dan apa pula yang dikatakan “ nilai “…….Masing-masing konsep harus jelas defenisinya. Sehingga nanti kita akan tahu mana konsep yang bersifat relatif dan mana yang bersifat absolute.

Konsep Kebenaran

Berikut dapat dijelaskan, bahwa  konsep kebenaran secara  universal mengacu kepada peri hal semua yang  “ada “    di alam raya ini. Dengan kata lain  semua yang ada di langit dan di bumi serta  semua yang ada di antara keduanya. Terutama disekitar kita.   “Ada “ nya sesuatu meliputi atributnya, seperti ada zat-nya, ada bentuk-nya dan ada sifat-nya. Ada sesuatu juga berupa  peristiwa, proses, situasi dan kondisi yang berlaku atasnya.

Sebuah kebenaran  ada yang  telah berlalu masanya dan ada pula yang akan datang. Contoh yang sederhana untuk ini adalah, pada waktu 45 tahun yang lalu penulis sudah ada, ada dalam keadaan kanak-kanak. Demikian pula pada masa 20 tahun yang akan datang ada kemungkinan penulis  menjadi seorang kakek. Ada nya sesuatu dengan segala situasi dan kondisinya itu adalah kebenaran. Pada  suatu ketika penulis pernah terjatuh dari  atas sepeda, lutut penulis jadi lecet dan berdarah. Itu adalah sebuah peristiwa yang sungguh ada pernah terjadi, itu juga sebuah kebenaran.  Apakah sebuah kejadian atau peristiwa merupakan suatu hal yang kita sukai atau tidak, kalau memang ada terjadi, itu adalah sebuah kebenaran. Pengakuan mutlak untuk itu, kebenaran yang seperti ini sangat menarik dan juga penting untuk dianalisis lebih lanjut.

Sementara kebenaran  yang pahami dan dipercayai selama ini oleh kebanyakan pakar filsafat adalah  pemahaman  atau pemikiran tentang sesuatu. Pemikiran tersebut kemudian disampaikan kepada orang lain dalam bentuk pernyataan / proposisi. Bahkan ironisnya lagi adalah kebenaran itu difokuskan pula kepada konsep-konsep yang  berada di dalam lingkungan konsep kebajikan atau nilai praktis dari sesuatu. Pernyataan tentang kebenaran tersebut hanya  sebatas  “ alam pikiran ”, yakni “gambaran” atau idea yang diperoleh  seseorang melalui panca indranya. Gambaran-gambaran tentang  “ ada ” itu terutama yang telah diberi nama dan diklasifikasi, seperti batu manusia atau tumbuhan dan hewan.   Akumulasi dari gambaran dan nama-nama tersebut disebut dengan pengetahuan. Sebuah pengetahuan selalu berisikan gambaran dari suatu objek, baik gambaran tentang sifat, bentuk dan zatnya sebuah objek. Gambaran atau alam ide yang telah didapatkan melalui panca indra tersebut kemudian diberi nama secara parsial.   Pengetahuan-pengetahuan itu   dapat/ diolah dengan akal dan pikiran manusia. Dalam kajian filsafat dinamakan dengan ontologi. Dalam hal ini perlu diingat bahwa siapapun orangnya yang berfilsafat, apakah ia Plato, Aristoteles,  maupun Rene Decarts dia hanya bisa berfikir sebatas gambaran atau bayangan  yang telah dia peroleh melaui  inderanya dan atau hanya sebatas apa yang dia tahu atau pengetahuan  yang ada pada dia, yakni pengetahuan yang telah dia kumpulkan semenjak  lahir ke dunia.

Satu hal lagi yang perlu menjadi perhatian kita adalah di alam semesta ini masih sangat banyak yang belum diketahui dan diinderai oleh para filosof. Bahkan sangat banyak para filosof yang belum pernah meninggalkan kampung halamannya.  Seperti,.. apa yang ada diperut bumi atau di dasar samudera dan apa yang ada di ruang angkasa (manusia) belum tahu. Apalagi Plato dan Aristoteles  belum membaca Injil dan Al-Quran. Juga Rene De belum sampai ke Indonesia.

Sejumlah pengetahuan atau ilmu yang dimiliki oleh seseorang   adalah gambaran atau bayangan dari kebenaran yang  yang telah diamati pancaindra.  Dengan kata lain pengetahuan atau ilmu berada “di dalam”  pemikiran  (di dalam kepala ) manusia, sementara kebenaran  objeknya berada  di luar  pikiran (di luar kepala) manusia, yakni di lingkungan atau alam raya ini. Ada atau tidak ada seseorang yang mengamati sebuah batu, ada atau tidaknya dia mengatakan bahwa batu keras, namun  batu tetap saja “ ada ” sebagai benda yang keras, memiliki bentuk , menempati ruang serta mempunyai berat dan sifat. Makanya kebenaran itu tidak menurut pendapat siapa-siapa, akan tetapi apa yang ada    sebagai sebuah kebenaran sudah ada dengan sendirinya (diciptakan Tuhan).

Allah telah mengingatkan kita…” Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta”. Qs. 6 . 116

Sebuah  contoh lagi, misalnya air. Air adalah suatu benda yang  “ ada “ di bumi. Eksistensi air itu ditunjang oleh tiga faktor, yakni zat-nya,  bentuk-nya dan  sifat-nya. Jika  “air “ keadaanya  telah memenuhi tiga  faktor tersebut kita akui dan kita nyatakan dengan ungkapan yang sangat jelas dan tegas, yakni kita menggunakan   kata “ benar ”. Jika ada orang yang berbicara tentang air, tapi hanya  mengandung satu atau dua faktor saja dari atribut air, maka perkataannya itu mengandung dua kemungkinan;   Pertama adalah perkataannya itu termasuk “ bathil “ (tidak ada dan tidak akan pernah ada) air yang seperti itu. Tidak akan dikatakan air kalau tidak ada zatnya, atau berlainan sifatnya.  Kedua, boleh jadi pengenalan orang bersangkutan terhadap  air belum lengkap.

Misalnya lagi, pada mulanya para pengamat dan pemikir mengatakan bahwa bumi itu datar,  setelah banyak orang di kemudian hari melakukan   penyelidikan, ternyata bumi itu bulat. Kenyataan seperti itu tidak dapat dikatakan  ” kebenaran itu bersifat relatif “.  Karena penyelidikan manusia yang menghasilkan pengetahuan  pada awalnya belum sampai kepada kenyataan yang sesungguhnya. Artinya data yang diperoleh belum lengkap atau tidak valid. Selama rentang waktu, mulai dari pengamatan manusia  pertama tentang ke-ada-an “bumi” sampai sekarang   ternyata “bumi ” tidak berubah. Maka hasil pengamatan yang diungkapkan dengan sebuah pernyataan bahwa “bumi ini datar ” sesungguhnya pernyataan tersebut adalah ” bathil ” ( tidak ada realita yang seperti itu).

Jika ada pernyataan yang mengatakan  bahwa “kebenaran filsafat adalah kebenaran relatif”,  berarti bukan berarti ” kebenaran ” yang bersifat relatif akan tetapi yang sesungguhnya  adalah ” pengetahuan ” orang yang berfilsafat itulah yang relatif (dalam arti pengetahuan para pemikir itu yang belum tepat atau sempurna tentang objek yang diamatinya). Seperti halnya yang dikatakan juga oleh Thales.… Ia mengatakan bahwa air adalah “ultimate reality” (yang mengeluarkan semua benda). Tidak seorangpun yang dapat membuktikannya sampai pada saat sekarang.

Sekaitan dengan kebenaran ( hal-hal  yang berkaitan dengan benar) akan berlaku dimana saja dan kapan saja. Seperti air,  di Indonesia bersifat cair, menguap jika  dipanaskan, membiaskan cahaya  dan selalu mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah, maka di Amerika air juga seperti itu, di Eropa juga. Di Indonesia, air jika didinginkan akan dapat membeku, maka  di tempat dan waktu yang lain  juga seperti itu  jika berada dalam temperatur yang sama. Itu adalah kebenaran yang tidak dapat dipungkiri dan disangkal. Dapat dibuktikan oleh  orang yang berlainan  kapan saja.

Contoh yang lain,  jika sebuah tongkat dicelupkan kedalam air, maka akan kelihatan tonkat tersebut sepertinya bengkok. Dalam hal ini berlaku hukum  kausalitas atu hukum sebab – akibat.  Sebab pem-“bias”-an itu akibatnya tongkat kelihatan bengkok juga suatu kebenaran (sesuatu yang ada ).  Banyak orang yang dapat membuktikan hukum pembiasan itu. Hukum itu tidak dapat dibantah oleh siapapun. Kebanyakan ahli filsafat atau pemikir selama ini  menganggap hukum “bias” itu sebagai tipuan panca indera. Pada hal hukum bias sungguh ada dan selalu ada dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dengan demikian berarti kebenaran bersifat mutlak.  Adanya Firman Tuhan yang telah diwahyukan kepada para rasul yang dibukukan sebagai “ kitab suci ” juga seabagai kebenaran.   Jadi apa yang ada di alam raya ini semuanya datang dari Tuhan itulah kebenaran ( al-haq ). Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Qs. Yunus 94.

Konsep  Nilai

Konsep nilai mengacu kepada kesesuaian sesuatu dengan kebutuhan atau  keinginan. Artinya jika sesuatu kita hubungkan dengan kepentingan atau kebutuhan kita akan melihat hubungan praktisnya. Jika hubungan  itu menujukan ke-sesuai-an atau cocok dengan kebutuhan, keinginan atau keperluan, maka keadaan seperti itu dinyatakan atau diberikan pengakuan secara jujur dengan menggunakan kata-kata “ baik”. Sebuah contoh dikemukakan disini, tahi ayam ternyata tidak baik kalau dihubungkan dengan makanan kita. Tahi ayam dinyakan baik jika dihubungkan dengan tanaman, baik untuk pupuk.

Jika sesuatu itu tidak sesuai dengan kebutuhan dinyatakan dengan kata-kata buruk. Dalam hal ini di antara baik dan buruk dapat diberlakukan rentangan skala  mulai dari kondisi sangat buruk sampai pada kondisi yang sangat baik. Misalnya sangat buruk, buruk, baik dan sangat baik. Boleh juga diberlakukan skala 1 – 10 misalnya. Dalam hal ini  baik dan buruknya sesuatu dapat  dianggap sebagai konsep umum, kedalam konsep umum ini dapat saja kita masukan konsep yang lain  yang sejenis, misalnya indah dan jelek, cantik- tidak cantik dan sebagainya. Maka baik atau buruknya sesuatu itulah yang disebut dengan “Nilai”.  Proses menentukan atau menetapkan  baik atau buruknya sesuatu disebut dengan penilaian.

Di dalam konsep nilai banyak jenis pembagian yang dapat dilakukan. Misalnya nilai susila, nilai moral, nilai agama, nilai ekonomi, nilai sejarah, nilai etika dan atau nilai estetika. Sebuah undang-undang atau peraturan juga termasuk kedalam konsep nilai, karena semua itu sangat berhubungan dengan pengaturan baik –  buruknya tindak perbuatan anggota masyarakat atau komunitas. Kemudian ada istilah norma. Norma  adalah ketentuan atau aturan tentang apa yang boleh di kerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan. Apa yang boleh dikerjakan berarti akan mendatang kan kebaikan.   Jika tidak boleh (dilarang)  dikerjakan berarti jika sesorang melakukan suatu perbuatan, akan mendatangkan hal yang tidak disukai atau keburukan. Sekaitan dengan itu tentu saja lain  adat lain pula normanya, lain agama lain pula normanya.

Selanjutnya baik atau buruknya sesuatu sangat tergantung kepada yang membutuhkannya. Misalnya  apa yang baik menurut sesorang belum tentu baik bagi orang lain. Apa yang telah terbukti baik kemarin    belum tentu baik hari ini atau lusa.  Namun kapan saja dan dimana saja, apa yang dikatakan “ baik “ tetap saja menunjukan hubungan fungsional dengan kebutuhan. Maka dalam persoalan seperti ini kita harus mengelompokan “ nilai “ tersebut. Misalnya ada nilai yang bersifat universal,  baik atau buruknya sesuatu berlaku dimana saja, semua orang mengakuinya  dan menerimanya sebagai sesuatu yang baik atau menyatakanya sebagai sesuatu yang buruk. Ada nilai yang bersifat lokal, artinya baik atau buruknya sesuatu hanya diakui oleh sekelompok orang atau komunitas tertentu saja. Ada juga nilai yang bersifat alternative dan individual. Nilai ( baik – buruk ) juga sangat dipengaruhi oleh tempat dan waktu, misalnya seseorang pakaiannya hanya celana pendek saja, baik dipandang orang pada waktu mandi di sungai misalnya, tapi tidak baik dipandang orang di tempat pesta. Pembagian nilai juga   dilakukan berdasarkan kepentingan. Maka dengan demikian  “nilai “ dapat dinyatakan sebagai yang bersifat “ relatif “. Nilai ( baik – buruk ) sesuatu sangat banyak faktor yang mempengaruhinya. Sesuatu dinyatakan baik atau buruk dapat saja dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, tempat tinggal, agama dan sebagainya. Makanya baik atau buruknya sesuatu memang bersifat relatif.

Namun demikian di dalam masyarakat, atau kelompok, tentu saja akan berlaku ketentuan; ada kebutuhan kita yang sama dan ada   yang berlainan. Misalnya seorang yang bernama A mempunyai kebutuhan 15 macam, B mempunyai kebutuhan 20 macam dan c juga mempunyai kebutuhan 18 macam. Dalam kenyaan sehari-hari selau ada kebutuhan yang sama di antara  A – B – C. Boleh jadi ada 10 macam (kurang atau lebih) kebutuhan yang sama, sementara yang lainnya adalah perbedaannya. Pada kebutuhan yan sama itulah terdapatnya persamaan nilai. Dengan persamaan nilai itulah akan terlaksananya apa yang di sebut kerja sama. Mereka akan bekerja sama memenuhi kebutuhan tersebut ( terutama) dan juga kerja sama untuk mendapatkan kebutuhan yang berbeda.  Kerjasama merupakan salah satu metodologi pemenuhan kebutuhan. Kerjasama dapat muncul dalam banyak manifestasi, seperti gotong royong, perusahaan,dan sebagainya. Setiap “kerjasama” selalu mendatangkan efektifitas dan efesiensi –  makanya kerjasama biasa  disebut dengan nilai sosial.

Sebuah tindakan atau perilaku sesuai dengan keinginan anggota kelompok dan masyarakat, atau diterima oleh masyarakat, maka perilaku tersebut disebut dengan etika. Etika juga dinyatakan sebagai bernilai sosial. Pada realitanya setiap masyarakat atau budaya memperlihatkan ada nilai yang sama dan ada nilai yang berbeda. Terhadap nilai yang sama pada semua masyarakat atau budaya kita sebut sebagai nilai “universal”. Sebaliknya terhadap nilai yang berbeda dapat kita nyatakan bahwa nilai tersebut bersifat relatife.

Semoga bermanfaat.

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s