PENTIP


Quo Vadis Winarno Surakhmad ?

Prof. DR. Winarno Surakhmad. MSc. Ed, Pada tahun 2005 di Bukittinggi dalam Temu Nasional FIP/JIP seluruh Indonesia  mengatakan bahwa “ Pendidikan kita dewasa ini diselenggarakan tanpa ilmu pendidikan. Sehingga biasa disebut sebagai pendidikan tanpa ilmu pendidikan atau PENTIP “.
Juga dikutip oleh Prayitno sebagai dasar pemikiran (rasional) bukunya yang berjudul Model Pendidikan karakter Cerdas.  Walau sudah tujuh tahun pernyataan berlalu, namun demi untuk sebuah kebenaran dan kejujuran perlu juga kita analisa. Sangat penting sekali dalam rangka membangun sikap ilmiah dikalangan orang-orang yang terpelajar di tanah air ini.
Apa yang dinyatakan oleh Winarno itu merupakan sebuah pernyataan yang terlalu tendensius. Sang Profesor barang kali sudah lupa bahwa   ilmu pendidikan adalah milik masyarakat semenjak dahulu kala. Terlalu arogan jika yang hanya memiliki ilmu pendidikan itu hanya orang setaraf Profesor. Apakah pernyataan ini dalam rangka mengelabui orang banyak atau dalam rangka mempromosikan diri sebagai Profesor di bidang pendidikan. Forum Temu Nasional FIP/JIP seluruh Indonesia di Bukittinggi itu bukanlah pertemuan sekedar pertemuan kangen-kangenan tenaga pengajar atau dosen-dosen FIP/JIP. Peremuan itu adalah pertemuan Ilmiah. Berarti sangat penting esensi dan fungsinya. Jadi jika di dalam forum itu disampaikan pernyataan tersebut sungguh sangat perlu dipertanyakan, terutama apakah memang  PENTIP  di Indonesia selama ini. Sudah sepantasnya logika diuamakan untuk menganalisis pernyataan tersebut. Sekali lagi,… forum tersebut  adalah forum ilmiah.
Bayangkan, sudah ratusan juta rakyat Indonesia yang dididik  dengan “Tanpa Ilmu Pendidikan”.  Sungguh ironis dan mencengangkan. Sangat riskan, jika ratusan ribu guru dan dosen dibiarkan mengajar. Lebih jauh lagi betapa rakyat indonesia selama ini tertipu oleh guru-guru yang tidak memiliki ilmu pandidikan.
Perlu diingat, sebelum Winarno lahir ke dunia, masyarakat Indonesia tetap saja melaksanakan pendidikan dengan Ilmu pendidikan. Misalnya seorang ayah atau ibu rumah tangga (mereka tidak pernah bersekolah formal sama sekali) mengajarkan kepada anaknya  agar  mengucapkan terima kasih jika ada orang yang memberi sesuatu kepadanya, atau mengucapkan kata  Alhamdulillah. Tidak mungkin terlaksana pendidikan itu secara baik jika sang ayah atau ibu tersebut tidak memiliki ilmu tentang  cara mengucapkan terima kasih. Walaupun ilmu tentang itu hanya sedikit.
Ilmu pada umumnya,  ilmu pendidikan khususnya sama juga halnya seperti air. Jika ukurannya hanya satu sendok,  statusnya tetap air, jika ukurannya satu ember, tetap juga  statusnya sebagai air. Demikian seterusnya untuk ukuran satu samudera yang luas itu,  statusnya tetap air. Di samping itu ilmu pada umumnya atau ilmu pendidikan khususnya ada sebagian yang bersifat terbuka dan ada yang tersembunyi. ilmu yang bersifat terbuka dapat di transferkan kepada orang lain baik secara oral atau tulisan. Sementara ilmu pendidikan yang tersembunyi sulit untuk di transferkan kepada orang lain. Pada bagian yang terakhir itu biasanya diperoleh dari pengalaman lapangan.
Begitu juga halnya dengan ilmu pendidikan. Mendidik anak hanya sebatas mengucapkan salam setiap berjumpa dengan sahabat atau kawan, tetap itu terlaksana secara baik dengan ilmu juga. Setiap pekerjaan yang baik sudah jelas tentu ada ilmunya, termasuk mendidik anak-anak atau juga orang dewasa. Jangan dikira jika seseorang telah menjadi Profesor barulah ia memiliki ilmu pendidikan. Berapa banyak anggota masyarakat kita, yang telah berhasil mendidik anak-anak dengan berbagai nilai dan norma serta pengetahuan dan keterampilan. Saya pikir semua itu terlaksana justru dengan ilmu pendidikan. Saya Juga pernah bersekolah di SPG (Sekolah Pendidikan Guru)….. disana juga diajarkan Ilmu-ilmu untuk mendidik anak-anak. Mungkin demikian juga guru-guru kita di semua sekolah dan semua jenjang pendidikan, sudah pasti mereka bisa mendidik dengan Ilmu. Ilmu yang digunakan untuk mendidik tidak dapat diklaim hanya sebagai produk perguruan tinggi dan dibawah binaan sorang Professor. Di luar sekolah ( pendidikan informal dan nonformal ) ilmu berkembang dari satu generasi kepada  generasi berikutnya secara oral termasuk juga Ilmu yang digunakan untuk mendidik anak-anak sampai mereka dewasa.
Umumnya di Pedesaan mereka belajar tanpa guru profesional. Mereka lebih terampil dan cekatan serta sangat faham dengan etik bermasyarakat
Perlu juga dipahami oleh kita semua bahwa di dalam masyarakat Indonesia sistem pendidikan   terselenggara melalui tiga jalur sebagai wahana pencapaian tujuan. Ketiga jalur memiliki keunggulan masing-masing, seyogianya karakteristik masing-masing mendapat porsi perhatian yang memadai oleh pemerhati pendidikan. Paparan karakteristik jalur pendidikan tersebut telah dijadikan  Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, sebagai dasar  pemikiran ini meliputi yakni:
a. Jalur Pendidikan Formal
b. Jalur Pendidikan Non Formal
c. Jalur Pendidikan In Formal
Secara ideal, ketiga jalur tersebut seharusnya mendapat perhatian sepadan, bahkan pemerhati tidak memilah dan membedakan (dalam arti jalur yang satu lebih penting dari jalur yang lain) ketiga jalur pendidikan tersebut.  Dimana para pemerhati pendidikan tidak menonjolkan pendidikan formal saja yang dikelola dengan Ilmu Pendidikan. Setiap satuan pendidikan tersebut ada ilmu pengelolaannya.  Diiringi persepsi dan kebiasaan masyarakat terhadap layanan pendidikan, tidak mengherankan apabila diantara ketiga jalur layanan tersebut, pendidikan sekolah formal lebih menyita perhatian Pemerintah dan masyarakat termasuk kebijakan pengembangan dan penetapan program. Kondisi tersebut selain menciptakan ketimpangan juga menyemai ketidakadilan perlakuan baik terhadap penyelenggara, sasaran dan program pendidikan.  Semua itu berawal dari pemahaman yang keliru juga.
Sekarang ke depannya adalah, apakah Winarno terjebak oleh pragmatisme atau ingin menggantinya dengan ilmu pendidikan dengan paradigma baru ? Kalau ia… kita tunggu.

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s