Sertifikat Ulama


Hati-hati jika  orang berilmu telah berlaku fasik.
  ……” Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Quro Pondok Cabe, Tangerang Selatan KH Syarif Rahmat berpendapat pentingnya sertifikasi ulama di Indonesia terkait upaya menghadang paham terorisme melalui saluran keagamaan. Menurut dia, dua ukuran yang dipakai dalam melakukan sertifikasi ulama atau ustadz.
“Kriterianya dua hal yakni keislaman dan keindonesiaan, itu yang menjadi ukurannya. Saya kira MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang memiliki otoritas,” ujar Syarif kepada INILAH.COM melalui saluran telepon, Minggu (16/9/2012)….”
(http://nasional.inilah.com/read/detail/1905537/sertifikasi-ulama-kenapa-tidak)
Disamping itu juga disinyalir, bahwa BNPT juga telah berwancana pula untuk itu.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/09/12/ma8oh9-sertifikasi-ulama-bnpt-ilmunya-harus-lebih-tinggi
Ulama tidak perlu sertifikat atau disertifikasi.
Tidak ada lembaga yang berhak mematok standar Ulama.  Orang yang diakui sebagai ulama adalah orang yang telah teruji pengetahuan dan sikapnya di dalam lingkungan masyarakatnya. Bukan dengan tes kompetensi secara formal. Masyarakatlah yang menjadi saksinya, tua – muda, besar atau kecil, waktu siang atau malam, orang miskin atau kaya, semua ikut menilainya dan memberikan pengakuan terhadapnya.  Bukan berdasarkan tes oleh lembaga tertentu atau dengan mengukur kuantitas pengetahuannya. Akan tetapi di samping ilmu yang relative memadai,  Ilmu dan sikapnya harus sejalan.
Lagi pula, kemampuan seorang ulama juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan budayanya dan perjalanan kehidupan ( pengalaman) ulama bersangkutan.  Artinya kualitas (standar) ulama  tidak dapat di patok  awal seseorang menjadi ulama. Bentuk amal shaleh yang mereka kerjakan keseharian menjadi panutan bagi warga di sekitar. Mereka muncul secara alamiah, bukan diorbitkan dan dipersiapkan dengan sertifikasi. Seorang ulama biasanya ter-orbit dengan sendirinya, dia besar sendiri dan tidak dibesarkan.
Jika ada pemikiran kearah itu(sertifikasi ulama), berarti orang tersebut sudah terkontaminasi oleh paham Yahudi dan Nasrani. Sebab Memang Yahudi dan Nasranilah selalu menekan perkembangan Islam di mana-mana. Mereka yang menggagas ide itu berarti mereka tidak tahu esensi dari seorang ulama. Seperti yang di kutip di atas, “Kriterianya dua hal yakni ke Islaman dan ke Indonesiaan”,  Inilah sebuah kekeliruan. Ulama itu adalah pewaris para Nabi….. Kalau syarat utama ke Islaman, terang saja ulama yang kita bicarakan hanya dalam kontek Islam.  Jika bicara soal ke Islaman, sulit mematok standar minimal Ke Islaman seseorang untuk itu.  Misalnya berapa ayat Al Quran yang harus hafal, berapa pula hadist Rasulullah. Bagaimana pula pemahaman terhadap kandungan makna di dalam ayat-ayat yang dihafalnya.  Apa pula alat ukurnya untuk amal shaleh keseharian yang diperbuatnya. Sedangkan Ke Indonesiaan, ….jangan dikira ulama hanya ada di Indonesia saja. Bukan ulama yang ada di Indonesia saja warisatul anbia’
Makanya,….
Jika ada orang yang ber- ide untuk melakukan sertifikasi ulama perlu juga di waspadai, bahwa mereka ingin menekan perkembangan Islam dan akan melarang secara diam-diam orang yang memperjuangkan Islam. Sedikit demi sedikit terjadi pendangkalan dan pengkerdilan. Yang terakhir inilah yang sangat penting dari tujuan mereka. Ingat orang Islam bukan Docile.
Wassalam Jalius.
Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s