Kebenaran Tidak Hakiki


 Judul tulisan ini adalah “ Kebenaran Tidak Hakiki” maksudnya adalah konsep kebenaran yang sering dibicarakan oleh kebanyakan para ilmuan atau ulama, belum merupakan kebenaran yang sesungguhnya (hakiki). Sebagai sebuah contoh dapat kita ikuti uraian berikut ini.
Tulisan ini diawali dengan sebuah kutipan dari tulisan Drs. H. Athor Subroto, M. Si
Staf Pengajar STAIN Kediri Jawa Timur. Tulisannya diterbitkan  di dalam Website Dinas Pendidikan Sumatera Barat E- Newsletter Disdik Sumbar. Kutipannya sebagai berikut:
  “ Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Yang Berbahagia
Semakin lama semakin tidak jelas – antara kebenaran dan kebatilan. Kadang, sesuatu yang benar – bisa tampak menjadi tidak benar. Kadang, sesuatu yang salah – bisa tampak menjadi benar. Sehingga, masyarakat awam menjadi bingung – mana yang benar dan mana yang salah. Dampak akhirnya – menjadi berbalik 190 derajat. Yang benar bisa menjadi kalah. Yang salah – bisa menjadi menang.
Apakah kebenaran hakiki itu. Para ahli berpendapat, bahwa kebenaran hakiki itu memiliki indicator – paling tidak sebagai berikut: 1. Universal, bisa diterima oleh segala lapisan masyarakat. 2. Tidak memihak. 3. Ada unsur keadilan. 4. Mengandung rahmat. 5. Mendatangkan ketentraman dan kesejahteraan. 6. Berlaku selamanya. 7. Tidak ada keraguan di dalamnya. 8. Datangnya dari Allah Swt.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 147

َالْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. Al-Baqarah [2]: 147).
Selama kebenaran itu datang dari Allah Swt, kita tidak perlu merasa ragu. Kita harus yakin, bahwa ketentuan itu adalah benar. Kita harus pegang teguh dan memperjuangkannya, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.
Tetapi kalau kebenaran itu hasil kerja manusia. Atau produk manusia, bisa kita mempercayai – selama mengacu kepada ketentuan Allah Swt. Sebaliknya, kalau produk itu tidak mengacu pada aturan Allah Swt, kebenaran itu bisa salah dan menyesatkan “.

Jalius menjelaskan sebagai berikut:

Setelah  membaca tulisan itu muncul sebuah pertanyaan;…. Apa yang di maksud dengan “hakikat kebenaran” itu  ? Sebab di dalam tulisannya Athor Subroto belum ada menjelasannya  walaupun di baca keseluruhan tulisan tersebut. Yang ada hanya ” indikator ” kebenaran hakiki menurut para ahli.  Ingat “hakikat kebenaran” tidak sama dengan “indikator ” dari kebenaran hakiki yang rumuskan oleh para ahli ( Para ahlinya ?? ).
Apakah “hakikat” kebenaran menurut ketentuan Allah atau menurut pendapat ahli ? Harus ada ketegasan dan rujukannya. Jangan dicampur adukan.
Sebaiknya dijelaskan pula satu persatu apa yang dikatakan :1. kebenaran, 2. kebatilan. 3. apa yang dikatakan betul dan salah. 4 kemudian apa yang disebut baik atau buruk. Sehingga jelas sasaran dan batas-batasnya. agar kita terhindar dari bercampur aduk penggunaan kata (konsep) yang berlainan maksudnya.
Selajutnya ada beberapa kekeliruan Drs. H. Athor Subroto, M. Si
Pertama, Indikator hakiki kebenaran yang dikemukakan oleh para ahli di atas sangat mempersempit ruang lingkup apa yang dikatakan kebenaran yang datang dari Allah. Misalnya, seperti “dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat” . Setahu saya terhadap adanya kebenaran, banyak masyarakat yang tidak bisa / tidak mau menerimanya. Buktinya ? betapa banyak masyarakat dunia yang kafir dan musyrik ? Ya karena memang kebenaran itu ada yang pahit dan ada pula yang berat untuk diakui.
Keliru kedua, Juga indikator lain dari kebenaran itu menurut ahli tidak  “selalu mendatangkan ketenteraman dan kesejahteraan”. Apakah Drs. H. Athor Subroto, M. Si tidak tahu ? Bahwa di dalam berkecamuknya perang ada kebenaran dan didalam kemiskinan serta kesusahan juga ada kebenaran. Kalau seperti yang dikemukakan oleh para ahli itu indikator kebenaran, itulah yang dimaksud dengan firman Allah “mereka hanya mengikuti hawa Nafsunya atau persangkaan belaka”. Apa yang enak menurut keinginannya. Sebagian kitab mereka buka dan sebagian kitab mereka sembunyikan.
Keliru ketiga, salah satu indiaktor kebenaran menurut ahli adalah “ berlaku selamanya “ . Sebuah contoh dapat dikemukakan disini; Soeharto adalah presiden Republik Indonesia. Dalam kenyataannya itu adalah sebuah  benar. Tapi telah berlalu masanya….Maka sejatinya adalah kebenaran itu tidak mengikuti teori para ahli tersebut di atas.
Keliru keempat,  kekeliruan Ustadz Drs. H. Athor Subroto, MSi yakni beliau  mengingkari firman Allah yang beliau kutip sendiri yakni….“firman Allah swt di dalam Al Qur’an Surat Al-Israa’ ayat 81 sebagai berikut;

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang  dan yang bathil telah lenyap”.
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. Al Israa’ [17] :81). Ayat ini sudah jelas bertolak belakang dengan pengantar tulisan beliau yakni;
..”Semakin lama semakin tidak jelas – antara kebenaran dan kebatilan. Kadang, sesuatu yang benar – bisa tampak menjadi tidak benar. Kadang, sesuatu yang salah – bisa tampak menjadi benar. Sehingga, masyarakat awam menjadi bingung – mana yang benar dan mana yang salah. Dampak akhirnya – menjadi berbalik 180 derajat. Yang benar bisa menjadi kalah. Yang salah – bisa menjadi menang…
Makanya saya bertanya,  apa sesungguhnya kebenaran itu menurut Ustadz Athor ?
Keliru kelima, ustadz Drs. H. Athor Subroto, M. Si juga  membuat sebuah pernyataan yang ada di dalam paragraf yang saya kutip ini …“Tetapi kalau kebenaran itu hasil kerja manusia. Atau produk manusia, bisa kita mempercayai – selama mengacu kepada ketentuan Allah Swt. Sebaliknya, kalau produk itu tidak mengacu pada aturan Allah Swt, kebenaran itu bisa salah dan menyesatkan”
Ini apa artinya ? bahwa kebenaran itu dia bagi menjadi dua kelompok, yakni kebenaran yang berasal dari Allah dan kebenaran yang bukan dari Allah. Pada hal kebenaran itu hanya datang dari Allah swt.  Apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi serta apa yang ada di antara keduanya semua adalah datang dari Allah, karena Allah yang menciptakannya. Kenapa ditambahkan kebenaran yang lain ?
Untuk itu,  Saya sarankan bacalah Al_quran itu dengan baik, agar mendapatkan pemahaman yang baik pula. Jangan dibaca hanya sebagian-sebagian saja yang menyebabkan pemahaman tidak utuh. Baca-lah berulang-ulang sampai ketemu  dengan pemahaman yang betul.
Perlu saya jelaskan di sini kepada kita semua tentang apa yang ditulis oleh  Drs. H. Athor Subroto, M. Si dalam  tulisannya di E-Newsletter Disdik Sumbar itu….” Benar dan Bathil, Betul dan Salah serta Baik dan Buruk bagaikan dua sisi mata uang yang bisa dibolak balik oleh siapapun juga menurut kepentingan dan keinginan masing-masing”….  Ya itu memang  hanya berlaku untuk orang fasik.
Kemudian jika ada pernyataan …” Semua tergantung pada hati/ jiwa/ qalbu yang diberikan Nya pada kita semua.” …Saya ingatkan bagi penulis sendiri tidak demikian karena bagi penulis  ada pedoman yang jelas untuk di ikuti terutama kitab suci Al-Quran juga undang-undang yang berlaku dalam masyarakat. Allah juga telah berfirman di dalam Al-Quran di dalam surat Al Ahzab ayat 4;

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ

Artinya; Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya;  Maksudnya adalah tidak ada dua konsep dalam satu objek pandang. Sebuah objek yang mengandung satu konsep tidak akan berubah statusnya hanya dengan sebuah pernyataan dari seseorang (itu salah satu sifat kebenaran). Pada satu saat berwarnaputi tidak akan pernah ada warna hitam pada saat itu juga. Disamping itu sebuah konsep tidak akan berubah esensinya hanya berdasarkan keinginan orang yang memandangnya.  Harap ayat ini direnungkan lagi dan jangan dilupakan.
Jadikanlah Al-Quran itu panduan untuk berfikir semoga kita mendapatkan Hidayahnya.
Wassalam Jalius.HR

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

8 Responses to Kebenaran Tidak Hakiki

  1. Drs. H. Athor Subroto, M. Si mengatakan:

    TANGGAPAN TERHADAP KOMENTAR BAPAK JALIUS HR YANG SAYA HORMATI

    Assalamu’alaikum Wr. Wb

    Puji syukur Alhamdulillah -kami panjatkan kehadirat Allah Swt, Tuhan yang menitahkan manusia di muka bumi menjadi khalifah –agar mewakili Tuhan membuat kebaikan di muka bumi “inni ja’ilun fil ardhi khalifah” (QS. Al Baqarah [2]: 30).
    Tuhan, yang telah menegaskan bahwa orang mukmin itu bersaudara “innama al mukminuna ikhwatun” (QS. Al Hujurat [49]: 10).
    Tuhan, yang memberi predikat zhalim kepada orang yang suka meremehkan mukmin lainnya. Kalau tidak (segera) bertaubat –maka ia tergolong orang yang zhalim “la yaskhar qaumun min qaumin ….wa man lam yatub fa ulaika hum al zhalimun” (QS. Al Hujurat [49]: 11).
    Tuhan, yang melarang mukmin berburuk sangka, (berniat dengan sengaja) mencari-cari keburukan orang, dan menggunjing orang lain “ijtanibu min al zhanni… ”(QS. Al Hujuraat [49]: 12)
    Tuhan, yang mengumumkan –orang yang paling baik diantara manusia ialah yang paling bertaqwa “inna akramakum indallahi atqakum” (QS. Al Hujurat [49]: 13). Orang yang bertaqwa itu ialah: dermawan dikala lapang maupun sempit, mengendalikan emosi, memaafkan orang ialn, bila berbuat keji dan menzhalimi diri sendiri segera ingat Allah –lalu beristighfar kepada Allah, serta tidak mengulang perbuatan buruknya, dan mereka menyadari hal itu. (QS. Ali Imran [3]: 134-135)
    Ini saya kutipkan beberap ayat dan hadits yang relevan dengan penjelasan saya atas komentar Pak Jalius sbb:

           •                                               

                                •   •      ••           •      •    
    10. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
    11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

    [1409] Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
    [1410] panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

    12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
    13. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat [49]: 10-13)

    Tuhan, yang tidak menyukai orang menyombongkan diri, congkak, angkuh. Firman-Nya:“Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong…” (QS. Al Israa’ [17]: 37)

     •   •  •        
    37. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, Karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al Israa’ [17]: 37)

    Tuhan, yang tidak memberi ilmu kepada manusia, kecuali hanya sedikit “wa ma utitum minal ilmi illa qalilaa…”(QS. Al Iraa’ [17]: 85)

    Tuhan, yang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga kecuali dengan rahmat-Nya (bukan karena amalnya) “lan yadkhula al jannah ahadun illa birahmatillah.” (HR. Baihaqi, dari Abi Sa’id al Khudri).

    Sabda Nabi Muhammad Saw:
    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ أَحَدٌ إِلَّا بِرَحْمَةِ اللَّهِ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْتَ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ وَقَالَ بِيَدِهِ فَوْقَ رَأْسِهِ (رواه البيهقي)
    “Dari Abi Sa’id al Khudri, dia berkata. Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seseorang masuk surga, kecuali dengan rahmat Allah. Kami bertanya, ya Rasulallah, (apakah) engkau juga tidak ? Rasulullah menjawab, aku juga tidak. Kecuali Allah memberi belaskasihan kepadaku dengan rahmat-Nya. Rasulullah saw sambil mengangkat tangannya sampai di atas kepala (karena, saking pentingnya masalah ini)”. (HR. Baihaqi)

    Ada Hadits Nabi Saw yang menerangkan perbuatan yang paling baik sbb:

    أبي ذرأنه سأل نبي الله صلى الله عليه وسلم أي العمل خير قال إيمان بالله وجهاد في سبيل الله (السنن الكبريى للنسائ, الجزء 3, الصحفة 173)

    “Dari Abi Dzar ra, bahwasanya dia bertanya kepada Nabi Saw, perbuatan apa yang paling baik ? Nabi saw bersabda: beriman kepada Allah, dan berjihad di jalan Allah.” (Al Sunan al Kabir li al Nasai, Al Juz 3, al Shahifah 173)

    Beriman itu ialah, mempercayai existensi Allah, tidak mencela dan menuduh fasiq/kafir/jelek orang lain, tidak merasa sok paling benar/pintar. Sedang berjihad itu, bukan (hanya) berjuang untuk kemenangan nafsunya/pendapatnya sendiri.

    Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan pengikutnya sampai hari kiamat.

    Jama’ah Jum’ah pada umumnya sudah tidak butuh definisi “kebenaran” yang dipermasalahkan Pak Jalius ini. Mengapa? Karena mereka sudah sangat-sangat memahami maksudnya. Sehingga, tidak membutuhkan definisi sebagaimana yang dikehendaki Pak Jalius –seperti yang biasa dikemukakan dalam forum ilmiyah, semisal seminar, ujian skripsi, dls. Naskah ini adalah bahan untuk khutbah Jum’ah. Waktunya, sangat terbatas, antara 15 – 20 menit.
    Mohon maaf, Pak Jalius ini masuk golongan mana ? Ilmuan tidak, ulama juga tidak? Ilmuan itu, sebutan bagi para ahli ilmu pengetahuan, dan Ulama, adalah sebutan para ilmuan agama dari kelompok muslim. Sayang sekali, Pak Jalius ini kok tidak jelas posisinya.
    Kalau jelas (posisinya) kan lebih enak diajak bicara dengan menggunakan akal (sehat), fikiran (yang jernih), dan hati (yang teduh). Maaf, komentarnya tidak menampakkan jiwa muslim yang kaffah. Terasa, fikiran negatifnya lebih mengedepan. Lebih tajamnya, beliau merasa sok paling benar, paling pintar, dan paling menguasai segala ilmu, (terasa) melebihi Tuhan. Contohnya, beliiau berkata, “konsep kebenaran yang sering dibicarakan oleh kebanyakan para ilmuan atau ulama belum merupakan kebenaran yang sesungguhnya (hakiki).”
    Pertanyaannya, masuk golongan mana Pak Jalius ini? Konsep kebenaran yang disampaikan para ilmuan dan ulama dikata salah. Lha konsep kebenaran dari siapa (lho) yang benar itu ? Tentu tidak ada yang bisa menjawab (berkementar) kecuali Pak Jalius. Wong beliau yang bisa menyalahkan para ilmuan dan ulama?
    (Mohon maaf Pak Jalius yang budiman. Ini naskah Khutbah Jum’ah. Bukan artikel biasa. Bukan bahan seminar atau diskusi, atau lainnya. Mestinya Pak Jalius harus bisa mmbedakan antara bentuk naskah khutbah Jum’ah dengan tulisan lain. Tentu Pak Jalius bisa membedakan berbagai artikel saya (bukan naskah Khutbah Jum’ah atau Id) yang telah diangkat dalam media yang sama ini. Misalnya, yang berjudul: Jujur, Taubat, Sabar, Syukur. Karena tulisan ini bentuknya artikel, maka saya uraikan dengan gamblang dan jelas definisi, sebab, aplikasi, dampak, dls. Mengapa diurai seperti itu? Karena, tidak terikat oleh waktu. Pembaca bisa memilih kesempatan untuk membaca dan merenungkan. Dan, tidak diikat oleh syar’i. Jadi, bisa leluasa dan luas untuk mengurai sehingga menjadi lebih jelas.
    Insya Allah saya tahu, Pak Jalius juga membaca artikel-artikel saya yang diterbitkan oleh E-newsletterdisidik (Sumbar) ini. Dan, Pak Jalius tidak berkomentar terhadap model artikel saya itu. Dulu ada komentar Pak Jalius terhadap artikel saya yang berjudul “Haji Itu Cita-cita”. Dalam artikel itu saya sebutkan diantaranya: “haji itu ibadah yang menggembirakan”. Komentar Pak Jalius, ibadah haji kok menggembirakan? Ibadah haji itu menakutkan. Begitu komentar Pak Jalius. Lalu, saya jelaskan. Ibadah haji itu menggembirakan, karena dosa-dosanya dapat doampuni. Dan, akan dimasukkan surga oleh Allah Swt. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw: “Al Hajju al Mabrur laisa lahu jazaa’ illa al jannah”. Haji yang mabrur itu, tidak ada balasannya kecuali surga.
    Lalu, setelah itu Pak Jalius berkomentar lagi terhadap tanggapan saya itu lebih banyak lagi. Kemudian saya tanggapi lagi. Beliau tidak terima, lalu menanggapi lagi. Kemudian saya tanggapi lagi secukupnya. Akhirnya, Pak Jalius berkata : “sudah cukup jangan ditanggapi lagi. Sayapun lalu berhenti.
    Akhir-akhir ini sering mengomentari beberapi naskah khutbah jum’ah yang sempat saya kirim ke media tersebut di atas. Sepertinya, Pak Jalius menghendaki model naskah khutbah Jum’ah itu supaya dibuat tidak beda modelnya dengan artikel atau tulisan bahan seminar, diskusi, dan atau lainnya. Ya mesti harus dibedakan (dong).
    Sepintas Pak Jalius –tidak bisa membedakan antara keduanya. Atau maaf, memang Pak Jalius tidak pernah khutbah. Sebab, seseorang yang telah biasa menulis dan melaksanakan khutbah Jum’ah, bila membaca model naskah Khutbah Jum’ah saya tsb di atas -sudah tidak asing lagi. Sudah bisa menerima, dan menggunakan model khutbahnya seperti itu.Tidak seperti Pak Jalius ini. Bagi Pak Jalius, harus menerangkan definisi segala macam yang dibicarakan –satu demi satu. Misalnya, beliau berkata: Sebaiknya dijelaskan pula satu persatu apa yang dikatakan :1. kebenaran, 2. kebatilan. 3. apa yang dikatakan betul dan salah. 4 kemudian apa yang disebut baik atau buruk. Sehingga jelas sasaran dan batas-batasnya. agar kita terhindar dari bercampur aduk penggunaan kata (konsep) yang berlainan maksudnya. Begitu komentar Pak Jalius.
    Apakah tidak lalu habis waktunya. Karena habis untuk menerangkan difinisi semuanya itu (yang pada dasarnya, jamaah sudah mengerti maksudnya). Jelas, bisa menghabiskan waktu yang idealnya 15 – 20 menit. Bahkan di Masjid PLN Trengguli Surabaya Jawa Timur, waktu khutbah dan shalat Jum’ah dibatasi (oleh Takmir Masjid) hanya 20 menit. Itu sudah dengan shalat jum’ahnya.
    Coba bayangkan, apakah tidak buyar jama’ah jum’ah kalau khutbah jum’ah memakai model Pak Jalius ini. Bisa jadi, jama’ah berdiri mengadakan shalat jum’ah lebih dahulu (sendiri) sebelum khotib mengakhiri khutbahnya. Sebab, khutbahnya kayak seminar, orasi ilmiyah, dan terlalu panjang, serta bertele-tele (banget). Khotib seperti model Pak Jalius ini, sudah jelas, tidak dipakai lagi oleh Takmir Masjid (manapun). Karena, tidak menutup kemungkinan -ada surat cinta dari jama’ah, “Khotibnya, bertele-tele kalau berkhutbah. Sulit ditangkap. Terlalu panjang. Menghabiskan waktu. Rekomnya, jangan dipakai (lagi)”. Tammat sudah khotib model Pak Jalius ini di muka bumi. Yang tepat, ya bicara di kampus atau lainnya.
    Mungkin tidak ada takmir masjid yang mau memakai Pak Jalius untuk berkhutbah Jum’ah, karena terlalu dibuat ilmiah, ruwet, sulit ditangkap, bertele-tele, melelahkan, menghabiskan waktu, kayak seminar. Bahkan, terkesan oleh jama’ah –sok pintar (sendiri), dan menggurui.
    Menurut hemat saya, penjelasan lebih luas, perlu diadakan dialog antara khotib dan jama’ah setelah shalat jum’ah usai. Model ini telah dilaksanakan oleh Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Khutbahnya, tidak bertele-tele dan ruwet. Sehingga waktunya tetap ideal, antara 15 – 20 menit. Setelah shalat jum’ah usai, dibuka dialog untuk memperjelas materi khutbah yang disampaikan oleh khotib tadi. Model ini telah dilaksanakan di Masjid Nasional itu sampai sekarang. Kebetulan saya juga diberi waktu untuk ikut mensyiarkan masjid kebanggaan masyarakat Jawa Timur ini.
    Sekali lagi Pak Jalius, jama’ah (Jum’ah) sudah tidak membutuhkan penjelasan tentang apa definisi hakekat kebenaran itu. Mereka sudah mengetahui dengan jelas apa yang dimaksud khotib dalam berkhutbah.
    Justeru yang sangat dibutuhkan oleh jama’ah (Jum’ah) adalah apa tanda-tanda kebenaran itu. Bukan apa hakekat kebenaran itu. Sebab, dari tanda-tanda atau indicator itulah, jama’ah (Jum’ah) diharapkan berusaha untuk menjadikan dirinya –kaum yang selalu dalam kebenaran, baik pola fikir, perilaku, tindakan, dan kebijakannya. Sehingga, diharapkan, mereka menjadi golongan “al-Shiddiq”, kaum yang berpredikat “dalam kebenar”. Di sini sangat diperlukan bagi seorang khotib atau da’i –Ilmu Sosiologi Dakwah. Sehingga dapat menangkap, sesungguhnya apa yang dibtuhkan audient atau sasaran dakwah itu.
    Mengapa “kebenaran” harus dibedakan ? Menurut hemat kami, selama kebenaran yang diambil atau diterapkan oleh umat manusia (sebagai khalifah Allah fi al-ardhi/wakil Allah di muka bumi) itu merujuk kepada ketentuan-ketentuan Allah swt sebagai “hudan”, sudah tidak ada masalah. Atau sudah tidak perlu (lagi) dipermasalahkan seperti fikiran Pak Jalius ini (harus dibedakan kebenaran dari Allah dan manusia). Menurut kami, selama para khalifah Allah sudah berpegang kebenaran dari Rabb-nya, maka tidak perlu menjadi kaum yang “mumtarin”, ragu (QS. Al Baqarah [2]: 147)

    Sekali lagi, mohon maaf Pak Jalius, ini bahan untuk khutbah. Waktu sangat terbatas. Bukan seperti di forum seminar, diskusi, penggalangan pendukung pilkada, dls. Kalau harus menerangkan satu demi satu definisi: 1. Kebenaran, 2. Keadilan, 3. Apa yang dikatakan betul dan salah, 4. Kemudian apa yang disebut baik atau buruk. Sehingga jelas sasaran dan batas-batasnya. Agar terhindar dari bercampur aduk penggunaan kata (konsep) yang berlainan maksudnya. Belum lagi, bicara tentang aplikasinya, belum juga dampaknya, belum lagi solusinya, dan belum kesimpulan, serta penutupannya. Maka jama’ah jum’ah pulang lebih dahulu sebelum shalat dimulai. Atau mengadakan shalat jum’ah sendiri sebelum khotib mengakhiri khutbahnya. Apa lalu berhasil khutbahnya, kalau setiap khutbah harus seperti itu?
    Bagaimana sangat mempersempit ruang lingkup kebenaran yang datang dari Allah? Sebenarnya, hati manusia -siapapun, dalam setiap merasakan dan menimbang nilai kebenaranan –adalah (bisa) tidak berbeda. Bahkan, Abu Lahab-pun, yang Abu Jahal-nya manusia sedunia itu, hatinya mengakui kebenaran ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. Ajaran Nabi Muhammad Saw itu menurut dia –benar. Datang dari langit. Yang tidak ada pada diri Abu Jahal ialah, aplikasinya. Karena ditekan oleh gengsi, harga diri, dan takut banget kehilangan nama di kalangan masyarakat Makkah yang sebelumnya telah mengagungkan dia –sang bekas besan Rasulullah Saw (karena salah satu putri Rasulullas Saw pernah menjadi menantunya). Apalagi, dalam strata keluarga, dia adalah pernah paman Nabi Saw (Sirah Nabawiyah, dan Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Akar dan Awal).
    Sifat iblis Abu yang Jahal ini, sangat melekat di dalam dirinya. Sombong, angkuh, hasud, takabbur, merasa lebih pandai, dst. Warisan dari Nabi Adam as dan Ibu Hawa. Maka Rasulullah Saw bersabda; “Kullu bani adama khatthaa’…” (setiap anak Adam itu bersalah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah, segera bertaubat). Al Kisah, iblis laknatullah telah menitipkan anaknya yang bernama “khannas” kepada Siti Hawa -saat baru diturunkan ke bumi oleh Allah Swt akibat pelanggarannya di surga. Adam sangat benci dengan titipan iblis ini. Karena Adam as selalu ingat tipu daya iblis saat di surga.
    Oleh Nabi Adam, anak iblis ini dibunuh. Tapi, setiap iblis datang, dia hidujp lagi. Begitu keadaannya, setiap habis dibunuh oleh Nabi Adam. Keadaaan seperti itulah yang menyebabkan musuh iblis ini merasa jengkel. Khannas itu-pun lalu dimakan berdua (Adam dan Hawa) -agar tidak hidup lagi. Memang benar, bayi iblis itu tidak hidup lagi menurut pandangan mata Adam dan Hawa. Namun, dia telah merasuk ke dalam daging, tulang, sungsum, urat, jaringan otak, dan bahkan ke seluruh anggota tubuh Adam dan Hawa. Berhasillah missi iblis –mengalirkan darahnya kedalam tubuh Adam dan Hawa –melalui daging, tulang, dan darah Khannas yang telah dikunyah habis tadi. Inilah penyebab, suatu saat sifat-sifat iblis yang tersebut di atas tadi, muncul dari diri Adam dan Hawa, serta anak cucunya. Maka Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat untuk suka membaca Surat Al Falaq, agar dijauhkan dari sifat-sifat laknatullah (sepanjang zaman) itu. Kalau ada seseorang yang sering memiliki sifat-sifat sombong, angkuh, hasud, takabbur, merasa lebih pandai, dst, dia mungkin masuk golongan iblis.
    Iblis-pun tahu dan mengerti rencana Allah Swt akan memilih Adam sebagai khalifah fi al-Ardi, namun dia berat untuk bersujud kepadanya. Dia tahu betul, mana yang salah dan mana yang benar. Tetapi, tidak mau melaksanakan.
    Apalagi manusia, hidupnya yang masih dibekali hati oleh Sang Penciptanya. Apapun agama yang ia anut, dia pasti tahu dan mengakui ini yang benar dan ini yang salah; Ini yang haq dan ini yang bathil; Ini yang betul dan ini yang keliru. Kecuali penganut agama yang taqlid (buta).
    Hendaknya, kita kedepankan sifat husnuzzhan (positif thingking) kepada sesama. Seyogyanya kita hindari dorongan hawa nafsu yang cenderung kepada sifat su-uzzhan (negatife thinking). Apalagi bertindak gampang menuduh “buruk” dan berbuat hasud kepada sesama. (QS. Al Hujurat [49]: 11).
    Tidak begitu mengherankan kalau Pak Jalius (agak) jengkel kepada kaum Yahudi yang mereka hanya mengikuti hawa nafsunya. Sebagian kitab, mereka buka dan sebagian kitab, mereka sembunyikan. Namun, amat disayangkan, kalau kejengkelan sang Profesor ini ditujukan kepada umat Nabi Muhammad Saw (yang berpegang teguh kepada dua perkara [Kitab Allah dan Sunnah Nabi]). Ummat Islam adalah penerus risalah Rasulullah Saw sampai akhir zaman dengan mengharap ridha Allah Swt. Berusaha sekuat tenaga untuk menghindari sifat-sifat iblis laknatullah.
    Peringatan Allah swt agar seseorang tidak menghina orang lain sbb:
                                              
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)
    [1409] Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
    [1410] panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.
    Hati siapapun tentu sulit untuk tidak mengakui bahwa kebenaran yang datang dari Allah itu pasti akan berlaku selamanya. Kalau Pak Jalius lalu mengemukan contoh Pak Harto mantan presiden RI. Benar telah berlalu masanya… Namun, menurut saya, rasanya (zaman Pak Harto) masih sangat melekat di hati masyarakat Indonesia. Zaman Bung Karno, masih terasa juga hingga sekarang. Bahkan zaman Wali Songo (Wali Sembilan-pun), masih sangat terasa atsarnya sampai sekarang, bahkan sampai nanti di akhir zaman. Apalagi, hanya (pada) zaman Pak Harto yang masih baru kemarin saja. Tentu, masih kental rasanya bagi bansa Indonesia zaman sekarang.
    Contoh nyata di lapangan. Suatu saat, saya kebetulan naik mobil di belakang sebuah truk. Tutup bak belakangnya, ada gambar Pak Harto separo badan, posisi duduk. Di depan (foto) Pak Harto itu tertulis sangat mencolok dan besar hurufnya, berbunyi: “ijek enak zamanku biyen” (bhs Jawa). Bahasa Indonesianya, “masih enak zaman saya dahulu”. Itu apa maknanya? Pak Jalius yang lebih tahu.
    Itulah suara hati yang berkembang di tengah masyarakat. Bukan-kah mereka menjadi bingung, ada orang yang tidak bersalah dimasukkan penjara. Maaf, ada orang yang terseret-seret masalah –mendapat perlindungan (selama dua tahun lebih, pada awalnya)? Masyarakat patut menjadi bingung ada pemandangan dramatis (yanga gratis) seperti itu. Andai tidak ada kritikan dari mass media atau media lainnya, bisa saja orang yang terseret namanya itu diselamatkan dengan cara disuruh pergi ke luar negeri. Atau bahkan (kalau mungkin) keluar dari dunia (ini). Apa tidak cukup membingungkan masyarakat pemandangan seperti ini?
    Di zaman yang sudah gila (maaf yang sudah gila itu bukan “zaman”nya, tapi orangnya) seperti ini, tidak cukup hanya membaca teks book saja. Namun, perlu juga membaca kenyataan di lapangan yang sudah sangat-sangat berbeda dengan teks itu.
    Apakah drama seperti ini (sengaja) mewarisi sandiwaranya Al Aziz (penguasa pemerintahan pada zaman Fira’un) dulu? Nabi Yususf As yang tidak bersalah justeru harus dijebloskan ke penjara. Keputusan seperti itu apa lalu tidak membingungkan masyarakat Mesir pada zamannya ? Dan yang mewarisi kebijakan Al Aziz itu apa tidak tahu? Al Aziz sebenarnya memang sangat-sangat mengetahui, bahwa Yusuf difihak yang benar. Dan Asiah, isteri Al Aziz dipihak yang salah. Tapi, demi kepentingan (public) maka kesalahan isterinya ditutup-tutupi. Dan Nabi Yusuf dicari-carikan (pasal) untuk dibuat salah, lalu dipenjarakan. Kisah kebijakan Al Aziz (yang tidak memihak kebenaran) ini diabadikan dalam Al Qur’an Surat Yusuf [12] ayat: 29-53.
    Sangat jelas, kebenaran (hakiki) hanya milik Allah Swt. Namun, tidak ada halangan kholifah fi al Ardhi itu membuat undang-undang atau peraturan dls untuk mengatur peri kehidupan di dunia ini agar bisa berjalan dengan sebaik-baiknya.
    Ada Undang-undang atau peraturan, atau ketentuan apapun yang dibuat oleh umat manusia dengan merujuk ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya –ini yang mesti diamankan. Tidak menutup mata, bahwa ada produk hukum yang datang dari kelompok penduduk bumi ini -yang tidak mengacu kepada ketentuan Allah Swt. Ini yang tidak perlu diamankan.
    Atau bahkan mungkin ada produk hukum yang datang dari kelompok jenis binatang –untuk mengatur peri kehidupan para binatang dengan berbagai jenisnya itu –bagaimana hidup di dalam hutan. Mereka juga diberi insting oleh Penciptanya untuk mengatur hidupnya itu dengan petunjuk Tuhannya.
    Atau masih ada lagi produk hukum dari kelompok lain, misalnya jin dan sejenisnya, termasuk jenis malakut. Di sana ada Jibril –sebagai komandannya.
    Mohon maaf Pak Jalus. Ayat yang dinukil Pak Jalius مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ itu tidak relevan dengan naskah khutbah Jum’ah yang dibicarakan ini.
    Dalam Tafsir Al Maragi Juz 19, 20, dan 21, Asbab al Nuzul-nya ialah, karena adanya anggapan bagi orang-orang Arab dahulu, bahwa setiap orang yang memiliki kecerdasan dan daya hafal yang kuat mempunyai dua kalbu. Mereka sering mengatakan, sesungguhya Ma’mar Al-Fahriy mempunyai dua kalbu karena dia mempunyai daya hafal yang luar biasa. Ma’mar pernah mengatakan, “Sesungguhnya aku mempunyai dua kalbu, aku dapat memahami dengan salah satunya, pemahaman yang lebih banyak dari apa yang dipaham oleh Muhammad.” Maka Allah mendustakan hal tersebut melalui ayat ini, baik pekataan Ma’mar ataupun anggapan yang berlaku di kalangan mereka. Ayat ini ditujukan kepada Ma’mar Al-Fahriy (yang sok paling pintar) dan sombong itu.
    Saya setuju saran Pak Jalius -bacalah Al_quran itu dengan baik, agar mendapatkan pemahaman yang baik pula. Jangan dibaca hanya sebagian-sebagian saja yang menyebabkan pemahaman tidak utuh. Baca-lah berulang-ulang sampai ketemu dengan pemahaman yang betul. Tetapi, pertanyaannya, sudahkah kita bisa melaksanakan seperti itu. Kalau tidak, kemarahan besar Allah ditimpakan kepada orang-orang yang hanya pandai bicara, tetapi tidak mau mengamalkan. Sebagaimana firman-Nya:
             
    “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaaf [61]: 3)
    Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan yang hanya pandai bicara, tetapi tidak pandai mengamalkan yang kita bicarakan itu. Kalau hanya pandai bicara, tetapi tidak pandai mengamalkan, itu namanya lain di mulut, lain di hati. Masuk golongan apa –orang seperti ini ?
    Akhirnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Jalius yang setia dan ada waktu untuk membaca bahkan menulis komentarnya terhadap Naskah Jum’ah saya yang diterbitkan oleh e-newsletterdisdik. Saya tunggu komentar Pak Jalius lainnya, sehingga saya bisa bertambah ilmu dari beliau.
    Demikian penjelasan saya. Semoga bermanfaat.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb

  2. Jalius HR mengatakan:

    وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَاتُهُ

    Terlebih dahulu saya mendoakan semoga Bapak dalam keadaan selalu dalam limpahan Rahmat dari Allah swt.
    Saya menganjurkan pada Bapak agar selalu membaca Al Quran suapaya mendapat penjelasan atau petunjukNya.

    Kemudian dari itu….Jika mau membuat sebuah pernyataan, selidiki dulu landasan atau rujukannya yang pas.
    Tanggapan yang Bapak buat di atas tetap saja tidak sesuai dengan ketentuan Allah di dalam Al Quran.

    Salah satu di antaranya seperti yang saya kutip ini:
    ” Tuhan, yang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga kecuali dengan rahmat-Nya (bukan karena amalnya) “lan yadkhula al jannah ahadun illa birahmatillah.” (HR. Baihaqi, dari Abi Sa’id al Khudri) “.

    Ingat Pak Athor… yang Bapak kurung itu “ bukan karena amalnya “.
    Allah memasukan manusia kedalam syorga dengan “RahmatNya”. Akan tetapi disebabkan juga oleh “amal “ seseorang. Allah akan memasukan manusia kedalam syorga adalah “ orang yang beriman dan beramal shaleh “.

    Beberapa ayat dibawah ini wajib Bapak pahami dengan baik dan hati-hati yakni;

    (1) Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia. (Al-Hajj: 50)

    (2) Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (Ar-Ra’d: 29)

    (3) tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya. (Al-Inshiqaaq: 25)

    (4) Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqara: 82)

    (5) Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”. (Fussilat: 8)

    (6) Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, (Al-Kahf: 107)

    (7) Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Maaida: 9)

    (8) kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun, (Maryam: 60)

    (9) Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (Taa-Haa: 82)

    (10) Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (Maryam: 96)

    (11) Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami”. (Al-Kahf: 88)

    (12) Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. (Al-Kahf: 30)

    (13) agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar. (Ar-Room: 45)

    (14) Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (Al-Ankaboot: 7)

    (15) kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (Ash-Shu’araa: 227)

    (16) Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (Taa-Haa: 75)

    (17) Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan. (Al-Hajj: 56)

    (18) Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (Al-Qasas: 80)

    (19) Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah “salaam”. (Ibrahim: 23)

    (20) (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya. (At-Talaaq: 11)

    Mana yang lebih kuat sebagai rujukan Al Quran atau al Hadist yang Bapak kutip ?

    Demikian saja dari saya Jalius HR, semoga Bapak selalu mendapatkan hidayahNya.
    Wassalam

  3. Drs. H. Athor Subroto, M. Si mengatakan:

    Tanggapan saya ke 3 atas komentar Pak Jalius ke 3 terhadap naskah khutbah Jum’ah saya yang berjudul “Hakekat Kebenaran.”
    أَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Puji syukur Alhamdulillah, kami panjatkan ke hadhirat Allah Swt. Atas berkat, rahmat, dan hidayah-Nya –kami dapat memberikan tanggapan yang ketiga terhadap komentar Pak Jalius yang ketiga kalinya -terhadap naskah Khutbah Jum’ah saya yang berjudul “Hakekat Kebenaran”.
    Kami menyampaikan ucapan banyak terima kasih atas doa Pak Jalius. Semoga Bapak juga mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah Swt lebih dari itu. Amin ya rabbal alamin.
    Terus terang, saya hormat kepada Bapak Jalius. Begitu saya menyampaikan tanggapan kedua atas komentar Pak Jalius yang kedua, Bapak langsung memberi respon yang cukup menarik untuk ditelaah kembali. Sungguh, Pak Jalius sangat memperhatikan tanggapan saya, sehingga berkenan dengan meluangkan waktunya yang pertama untuk memberikan komentar lagi.
    Saya berdoa, semoga Bapak diberi umur panjang, kecerdasan otak, dan rizqi yang luas, serta barakah umurnya.
    Kali ini Pak Jalius sudah tidak mengomentari pentingnya penyebutan definisi kebenaran, kebatilan, dst. Sekarang Pak Jalius mempersoalkan hadits Nabi Saw yang kami angkat dalam tanggapan kami yang kedua. Isi hadits itu, tidaklah seseorang masuk surga, kecuali mendapat kasih sayang Allah dengan “rahmat”-Nya (bukan karena amalnya).
    Pak Jalius menyangkal isi hadits ini dengan mengemukakan dasar 20 (dua puluh) nukilan terjemah ayat Al Qur’an yang hampir semuanya turun di Makkah. Lebih terkenal dengan sebutan Ayat-ayat Makkiyyah. Nukilan terjemah ayat-ayat itu menginformasikan bahwa, karena iman dan amal shaleh, seseorang masuk surga. (Bukan karena rahmat Allah), begitu maksudnya.
    Kemudian Pak Jalius menyakan kepada saya, “Mana yang lebih kuat sebagai rujukan Al Quran atau al Hadist yang Bapak kutip ?”
    Insya Allah saya membaca, menghayati, mengamalkan, dan mengajarkan Al Qur’an. Secara kebetulan, salah satu materi yang saya ampu di kampus adalah “Ulum Al-Qur’an”.
    Mohon maaf, di Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Jawa Timur –saya diberi amanat sebagai Pembina Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ). Mendapat tugas untuk membina regu MSQ tingkat Kabupaten dan Kota se Jawa Timur –yang dipersiapkan mengikuti MTQ Tingkat Provinsi Jawa Timur.
    Insya Allah, bulan Juli 2014 digelar MTQ Tingkat Nasional bertempat di Provinsi Kepri (Kepulauan Riau). Kami harus sudah mempersiapkan regu MSQ tingkat Jawa Timur –guna mengikuti even tingkat Nasional, dalam waktu satu tahun sebelumnya.
    Pada kesempatan itu (nanti), saya punya keinginan kuat –semuga diizinkan oleh Allah Swt –untuk bisa bertemu dengan Bapak Jalius di arena MTQ Nasional. Alangkah bahagianya saya, bisa bermuwajjahah, face to face dengan hamba Allah Swt yang banyak waktu (cepat) untuk membaca, menelaah, dan sekaligus memberi komentar tulisan saya serta menulisnya di E-Newsletterdisdik.
    Dalam kesempatan itu nanti, insya Allah akan saya serahkan dua atau tiga, bahkan lebih, buku berisi komentar Bapak Jalius terhadap naskah khutbah Jum’ah saya, dan tanggapan saya atas komentar Pak Jalius di website-nya Disdik Sumatera Barat. Di sampul buku tersebut, terpampang foto Pak Prof Jalius yang tampak energik itu. Buku-buku itu, saat ini sudah beredar di kalangan peserta pembinaan Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) di Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kabupaten Situbondo, di Dewan Masjid Indonesia Wilayah Jawa Timur, di LPTQ Prov Jatim, dls.
    Kalau Pak Jalius tidak sabar menunggu saat MTQ Nsional di Provinsi Kepri, sekarangpun sudah bisa saya kirim lewat pos atau titipan kilat yang ada. Tapi sayang, saya belum mendapatkan alamat kediaman Pak Jalius HR.
    Insya Allah saya selalu melihat dan meneliti serta menimbang ayat atau hadits yang akan saya pergunakan sebagai rujukan dalam sebuah pernyataan atau dakwah. Termasuk dalam menanggapi berbagai komentar Pak Jalius.
    Terasa oleh saya, bahwa Pak Jalius -orang yang ber-tipe selalu tidak bisa puas (pada awalnya). Walau tanggapan saya sudah merujuk Al-Qur’an dan Hadits, tetap saja Pak Jalius menyatakan bahwa tanggapan saya tidak sesuai dengan ketentuan Allah dalam Al Quran. Pak Jalius mengatakan: “Tanggapan yang Bapak buat di atas tetap saja tidak sesuai dengan ketentuan Allah di dalam Al Quran”.
    Statmen Pak Jalius ini kok tidak focus. Tanggapan saya dan ketentuan Allah mana yang tidak sesuai ?
    Patut ditanyakan, Al Qur’an mana yang dipakai Pak Jalius ini –kok tidak sama dengan Kitab Al Qur’an yang saya jadikan dasar menanggapi komentar Bapak ?
    Logikanya, kalau Pak Jalius menggunakan Al Qur’an “Rasm Utsmani”, tentu tidak (bisa) mengatakan begitu. Atau, tidak akan ada kesanggupan menyatakan tanggapan saya yang berdasarkan Al Qur’an (yang juga Rasm Utsmani) itu –tetap saja tidak sesuai dengan ketentuan Allah di dalam Alquan.
    Tidak tahu lagi, kalau Al Qur’an pak Jalius ini berbeda dengan kitab sucinya kaum Muslimin pada umumnya (di Asia Tenggara), selamanya tidak akan pernah ketemu. Wallahu a’lam.
    Pak Jalius, seratus persen, atau bahkan lebih dari seratus persen –saya mempercayai beberapa (maaf, terjemah, bukan ayat) Al Qur’an yang dikutip Pak Jalius itu. Sebab, bunyi nukilah beberapa terjemah Al Qur’an tsb adalah tidak berbeda dengan “terjemah” di dalam kitab suci saya.
    Kalau tidak salah, esensinya: adalah sebuah isim khabar (kata informasi) bahwa, Allah memasukkan orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga. (Mohon maaf Pak Jalius, untuk menulis kata “surga” tidak perlu ditulis dengan kata “syorga” –pakai huruf “y dan o”. Cukup ditulis dengan ejaan “s-u-r-g-a”. Sehingga tertulis “surga”. (Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, Jakarta, 2002, hal 1109).
    Insya Allah saya bukan hanya sekedar memahami dengan baik dan hati-hati (sesuai dengan perintah Pak Jalius). Bahkan otentik ayat-ayat tersebut sudah menjadi bacaan wajib saya dalam bertindak sebagai imam shalat –baik maktubah, jum’ah, ataupun ‘Id. Malah sebagai landasan berkhutbah, dan dakwah. Jadi, saya mesti membaca berulang-ulang sampai hafal, memahami, menghayati, dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
    Mari Pak Jalius –agak masuk ke alam ma’rifat. Artinya bukan sekedar pemenuhan syar’i (saja). Maksud saya, (lebih dalam lagi satu tingkatan) –dalam melihat amalan (shaleh) seseorang. Jangan hanya menggunakan satu ilmu saja dalam menangkap kandungan firman Allah Swt, tentang iman dan amal shaleh.
    Dua puluh kutipan “terjemah” ayat Al qur’an yang Pak Jalius kemukakan itu, hampir semuanya turun di Makkah. Sehingga, sebutannya adalah ayat-ayat Makkiyyah. Hanya tiga saja yang tidak. Yaitu, nukilan terjemah ayat-ayat Madaniyyah. Namun, esensinya ya sama saja, sebuah isim, bukan isim amar, kata perintah.
    Dalam Ulum Al qur’an, ayat-yat atau surat-surat yang turun di Makkah, hampir semuanya bermuatan penekanan pentingnya iman dan amal shaleh. Artinya, berupa himbuan atau ajakan untuk beriman kepada Allah Yang Ahad, dan pentingnya memihak kepada amal shaleh (daripada mengikuti kebiasaan kaum Jahiliyah yang jahat dan kejam itu).
    Mereka diberi iming-iming (bhs. Jawa), bahasa Indonesianya kegembiraan/harapan yang menyenangkan, yaitu surga. Tujuannya, agar mereka termotifasi dengan senang hati mau beriman kepada Allah Yang Ahad, dan meninggalkan kebiasaan kaum Jahiliyyah. Berubah menjadi berperilaku baik.
    Berbeda dengan fase Madaniyah. Kandungan ayat-ayatnya sudah banyak berbentuk perintah. Contoh: perintah shalat, puasa, dan haji. Ini maksudnya, bukan sekedar (hanya) melaksanakan shalat, puasa, dan haji. Melainkan diperlukan sebuah “niat yang ikhlas” karena Allah semata. Ibadah (amal shalehnya) itu, bukan karena ingin dipuji orang atau maksud lainnya (selain karena Allah). Sehingga, diperlukan hati yang bersih “lillahi ta’ala”.
    Maaf, kenyataan di lapangan, tidak sedikit seseorang melaksanakan shalat secara kasat mata (terlihat khusyu’). Tetapi, di dalam hatinya terdapat “riya’, ingin dipuji orang. Ingin dianggap khusyu’. Model shalat semacam ini, baru pada tataran “structural”, asala melaksanakan shalat. Belum masuk ke dalam tingkat “fungsional”, belum menegakkan shalat. Yaa… asal melaksanakan shalat (tampak khusyu’). Namun, belum menata hatinya agar shalatnya tertuju kepada Allah (semata), dan perikehidupannya belum mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam shalat.
    Shalat yang demikian ini belum sesuai dengan kalimat pernyatan dirinya sebagaimana pada awal raka’at pertama: “inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin”, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku (hanya) karena Allah semata.
    Apalagi, kalau sudah musim pemilu atau pilkada, wah…banyak orang yang interes terhadap pesta demokrasi tsb yang mengerjakan shalat (tampak sangat khusyu’). Atau beramal dengan menyumbang ini dan itu ke pondok pesantren dls.
    Kalau di zaman Pak Harto (almarhum) dulu, seseorang pergi haji –karena ada maksud tertentu pada pilkada. Ingin dipilih jadi bupati atau walikota, dst.
    Pertanyaannya, apakah kuwalitas “imannya” dijamin murni ? Dan, apakah orang yang ibadah (amal shalehnya) seperti itu dapat diterima oleh Allah, dan bisa masuk surga?
    Disinilah “belas kasihan” Allah yang berbentuk “rahmat” itu mustakhil diberikan kepadanya. Mengapa, karena imannya tidak murni, dan amal shalehnya tidak karena Allah semata.
    Apakah Pak Jalius berani menjamin (dengan sebenar-benarnya) bahwa kuwalitas iman dan amal ibadah seseorang seperti itu (imannya tidak murni, dan ibadahnya bukan karena Allah) -mesti masuk surga ?
    Kalau Pak Jalius (mau) menggunakan akal yang (sehat) dan hati yang (jernih), saya percaya bahwa, Pak Jalius akan memperbaiki pernyataannya yang tersebut di atas. Apalagi setelah membaca dua kisah sufi : 1. Orang Shaleh dan Pria Pemabuk di zaman Nabi Musa As. 2. Pencuri, dan Orang Shaleh, sbb:
    1. Orang Shaleh dan Pria Pemabuk di zaman Nabi Musa As
    Pada suatu ketika, nabi Musa akan menemui Allah di bukit Sinai. Seorang yang sangat saleh mengetahui hal tersebut dan mendatangi nabi Musa. Ia berkata, “Wahai nabi Allah, selama hidup ini saya telah berusaha menjadi orang yang baik dengan shalat, puasa, haji dan kewajiban beragama lainnya. Saya banyak menderita karenanya, namun itu tak masalah. Saya hanya ingin tahu apa yang Allah akan berikan kepadaku nanti. Tolong tanyakan kepadaNya”
    Nabi Musa menyanggupi permintaan salah satu orang saleh tersebut lalu meneruskan perjalanan menuju bukit Sinai. Di tengah perjalanan, beliau terhenti karena ada pemuda pemabuk di pinggir jalan. Pemuda itu bertanya akan kemana nabi Musa. Ketika nabi Musa menjawab akan bertemu Allah di bukit Sinai, pemabuk itu berkata:
    “Aku adalah peminum, aku tidak pernah shalat, tidak puasa, atau amalan shaleh lainnya, tanyakan kepada Allah apa yang dipersiapkan untukku oleh-Nya nanti.”
    Nabi Musa menyanggupi permintaan yang cukup aneh tersebut untuk menyampaikannya kepada Allah.
    Sekembalinya dari Sinai, ia menyampaikan jawaban Allah untuk orang saleh tersebut. Allah memberikan pahala besar dan hal yang indah-indah. Si orang saleh tersebut menanggapi biasa saja dan ia mengatakan bahwa ia telah menduga hal tersebut.
    Sedangkan ketika bertemu si pemabuk, nabi Musa menyampaikan, bahwa pemuda itu akan diberikan tempat yang paling buruk. Ketika mendengar ucapan nabi Musa, pemabuk itu berdiri dan justru menari-nari dengan riang gembira.
    Nabi Musa pun heran, kenapa pemabuk itu justru gembira, padahal ia dijanjikan tempat yang paling buruk. Beliau bertanya kepada pemabuk itu, ada apa gerangan hingga segembira itu.
    “Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku pendosa yang hina-dina. (Ternyata) aku (masih) dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorang-pun yang (masih) mengenalku,” jawab pemabuk itu dengan rasa bahagia yang terpancar di wajahnya.
    Namun setelah beberapa waktu (maksudnya, di alam akhirat), nasib keduanya pun berubah. Justru orang yang saleh berada di neraka dan si pemabuk berada di surga. Nabi Musa yang takjub, lalu bertanya kepada Allah, demikian jawaban Allah:
    “Orang yang pertama dengan segala amal salehnya tidak layak memperoleh anugerah (rahmat)-Ku karena anugerah (rahamat) tidak dapat dibeli dengan amal saleh.” Mengapa ? karena dia congkak, dan mendahului ketentuan Allah Swt.
    Orang kedua itu membuat-Ku senang karena ia senang dengan apapun yang Aku berikan kepadanya. Senangnya karena pemberian-Ku menyebabkan Aku senang kepadanya”
    Dari cerita diatas, ada beberapa hal yang bisa kita pahami. Bukan berarti seorang yang tidak taat beribadah bisa masuk surga, sama sekali bukan itu. Namun sikap bersyukurlah yang disukai oleh Allah (sehingga mendapat rahmat-Nya).
    Sedangkan sikap berpuas diri dan menganggap diri pantas menerima anugrah (rahmat) dari Allah dengan amal shalehnya, justru dapat menjerumuskan seseorang kepada api neraka karena sama saja dengan memperjualbelikan amal ibadahnya dengan balasan dari Allah.
    Mengapa pria pemabuk -dimasukkan surga oleh Allah ? karena dia mendapat belas kasihan berupa rahmat dari Allah Swt -atas kerelaannya menerima ketentuan (walau buruk) dari Allah Swt. Kemudian, mengapa orang shaleh dimasukkan neraka ? Karena sifat congkak, mendahului ketetntuan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Akibatnya, rahmat Allah dicabut dari diri orang shaleh yang over confidence itu.
    2. Kisah Sufi
    PENCURI dan ORANG SHALEH
    Suatu hari, seorang yang shaleh duduk bersama Nabi Isa as. Seorang pencuri melihat hal ini dan berpikir, “Jika aku duduk bersama orang shaleh itu, mungkin Allah akan mengampuniku karena keshalehan orang itu.”
    Pencuri itu merasa malu dan mulai menyesali dirinya telah menempuh jalan hidup yang sesat. Ia merasa dirinya tak pantas untuk duduk di samping seorang yang amat suci .
    Di sisi lain, orang shaleh itu -melihat si penjahat duduk di sampingya lalu mengomel dalam hati. Ia tak ingin bayangan penjahat itu jatuh ke tubuhnya.
    Tiba-tiba Allah berfirman kepada Nabi Isa as, “Katakan kepada orang yang shaleh dan pencuri itu bahwa Aku telah membersihkan catatan perbuatan mereka. Pahala si shaleh dan dosa pencuri telah Ku-hapus. Mereka harus mulai dari awal lagi. Pahala orang yang shaleh terhapus karena keangkuhannya dan dosa pencuri terhapus karena rasa malu dan penyesalannya…”
    Rasulullah Saw bersabda:
    وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ (رواه مسلم)
    “Dan tidak masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat rasa sombong walau hanya sebesar dzarrah (debu)” (HR. Muslim)
    Mengapa orang shaleh tadi dihapus amal pahalanya ? Karena dia merasa sok suci dengan amal shalehnya. Kemudian, mengapa pencuri dihapus dosa-dosanya ? Karena, dia merasa malu, menyesali kesalahannya, dan ingin bertaubat.
    Demikian, dalam suatu cerita pasti terkandung hikmah bagi orang-orang yang mau berpikir. (Al-Tanwir, 150-200, 2002)
    Pak Jalius yang saya hormati, saya percaya terhadap hadits Nabi Muhammad Saw yang saya nukil di dalam tanggapan saya atas komentar Pak Jalius terhadap naskah khutbah Jum’ah saya yang berjudul “Hakekat Kebenaran” tersebut di atas. Ini Haditsnya:
    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ أَحَدٌ إِلَّا بِرَحْمَةِ اللَّهِ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْتَ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ وَقَالَ بِيَدِهِ فَوْقَ رَأْسِهِ (رواه البيهقي)
    “Dari Abi Sa’id al Khudri, dia berkata. Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seseorang masuk surga, kecuali dengan rahmat Allah. Kami bertanya, ya Rasulallah, (apakah) engkau juga tidak ? Rasulullah menjawab, aku juga tidak. Kecuali Allah memberi belaskasihan kepadaku dengan rahmat-Nya. Rasulullah saw sambil mengangkat tangannya sampai di atas kepala (karena, saking pentingnya masalah ini)”. (HR. Baihaqi)
    Mohon maaf Pak Jalius, sudah bukan levelnya lagi pak Jalius menanyakan kepada saya, “Mana yang lebih kuat sebagai rujukan Al Quran atau al Hadist ?”
    Pertanyaan semacam ini (hanya) patut ditanyakan kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD). Misalnya, guru bertanya kepada murid-muridnya: “anak-anak, lebih kuat mana dalil Al Qur’an dengan Hadits ?”. Yang pantas menjawab adalah murid-murid SD. Dan, jawaban mereka benar atau salah, Allah Maha Mengetahui. Apakah Pak Jalius ingin kembali duduk di bangku SD (lagi). Tentu, tidaklah.
    Demikian tanggapan saya atas komentar Pak Jalius yang ketiga terhadap naskah Khutbah Jum’ah saya yang berjudul “Hakekat Kebenaran” yang dimuat oleh E-Newsletterdisidik, pada tanggal 22-11-2012.
    Tidak lupa saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang tidak berkenan, baik kepada Bapak Jalius maupun pembaca.
    Dan, terima kasih atas segala perhatiannya. Saya menunggu komentar Pak Jalius selanjutnya, agar saya mendapatkan ilmu lebih banyak lagi. Semuga bermanfaat.
    وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Hormat kami
    H. Athor Subroto

  4. Drs. H. Athor Subroto, M. Si mengatakan:

    SEBUAH RALAT TANGGAPAN KE 3

    Tanggapan saya ke 3 atas komentar Pak Jalius ke 3 terhadap naskah khutbah Jum’ah saya yang berjudul “Hakekat Kebenaran.”
    أَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Puji syukur Alhamdulillah, kami panjatkan ke hadhirat Allah Swt. Atas berkat, rahmat, dan hidayah-Nya –kami dapat memberikan tanggapan yang ketiga terhadap komentar Pak Jalius yang ketiga kalinya -terhadap naskah Khutbah Jum’ah saya yang berjudul “Hakekat Kebenaran”.
    Kami menyampaikan ucapan banyak terima kasih atas doa Pak Jalius. Semoga Bapak juga mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah Swt lebih dari itu. Amin ya rabbal alamin.
    Terus terang, saya hormat kepada Bapak Jalius. Begitu saya menyampaikan tanggapan kedua atas komentar Pak Jalius yang kedua, Bapak langsung memberi respon yang cukup menarik untuk ditelaah kembali. Sungguh, Pak Jalius sangat memperhatikan tanggapan saya, sehingga berkenan dengan meluangkan waktunya yang pertama untuk memberikan komentar lagi.
    Saya berdoa, semoga Bapak diberi umur panjang, kecerdasan otak, dan rizqi yang luas, serta barakah umurnya.
    Kali ini Pak Jalius sudah tidak mengomentari pentingnya penyebutan definisi kebenaran, kebatilan, dst. Sekarang Pak Jalius mempersoalkan hadits Nabi Saw yang kami angkat dalam tanggapan kami yang kedua. Isi hadits itu, tidaklah seseorang masuk surga, kecuali mendapat kasih sayang Allah dengan “rahmat”-Nya (bukan karena amalnya).
    Pak Jalius menyangkal isi hadits ini dengan mengemukakan dasar 20 (dua puluh) nukilan terjemah ayat Al Qur’an yang hampir semuanya turun di Makkah. Lebih terkenal dengan sebutan Ayat-ayat Makkiyyah. Nukilan terjemah ayat-ayat itu menginformasikan bahwa, karena iman dan amal shaleh, seseorang masuk surga. (Bukan karena rahmat Allah), begitu maksudnya.
    Kemudian Pak Jalius menyakan kepada saya, “Mana yang lebih kuat sebagai rujukan Al Quran atau al Hadist yang Bapak kutip ?”
    Insya Allah saya membaca, menghayati, mengamalkan, dan mengajarkan Al Qur’an. Secara kebetulan, salah satu materi yang saya ampu di kampus adalah “Ulum Al-Qur’an”.
    Mohon maaf, di Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Jawa Timur –saya diberi amanat sebagai Pembina Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ). Mendapat tugas untuk membina regu MSQ tingkat Kabupaten dan Kota se Jawa Timur –yang dipersiapkan mengikuti MTQ Tingkat Provinsi Jawa Timur.
    Insya Allah, bulan Juli 2014 digelar MTQ Tingkat Nasional bertempat di Provinsi Kepri (Kepulauan Riau). Kami harus sudah mempersiapkan regu MSQ tingkat Jawa Timur –guna mengikuti even tingkat Nasional, dalam waktu satu tahun sebelumnya.
    Pada kesempatan itu (nanti), saya punya keinginan kuat –semuga diizinkan oleh Allah Swt –untuk bisa bertemu dengan Bapak Jalius di arena MTQ Nasional. Alangkah bahagianya saya, bisa bermuwajjahah, face to face dengan hamba Allah Swt yang banyak waktu (cepat) untuk membaca, menelaah, dan sekaligus memberi komentar tulisan saya serta menulisnya di E-Newsletterdisdik.
    Dalam kesempatan itu nanti, insya Allah akan saya serahkan dua atau tiga, bahkan lebih, buku berisi komentar Bapak Jalius terhadap naskah khutbah Jum’ah saya, dan tanggapan saya atas komentar Pak Jalius di website-nya Disdik Sumatera Barat. Di sampul buku tersebut, terpampang foto Pak Prof Jalius yang tampak energik itu. Buku-buku itu, saat ini sudah beredar di kalangan peserta pembinaan Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) di Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kabupaten Situbondo, di Dewan Masjid Indonesia Wilayah Jawa Timur, di LPTQ Prov Jatim, dls.
    Kalau Pak Jalius tidak sabar menunggu saat MTQ Nsional di Provinsi Kepri, sekarangpun sudah bisa saya kirim lewat pos atau titipan kilat yang ada. Tapi sayang, saya belum mendapatkan alamat kediaman Pak Jalius HR.
    Insya Allah saya selalu melihat dan meneliti serta menimbang ayat atau hadits yang akan saya pergunakan sebagai rujukan dalam sebuah pernyataan atau dakwah. Termasuk dalam menanggapi berbagai komentar Pak Jalius.
    Terasa oleh saya, bahwa Pak Jalius -orang yang ber-tipe selalu tidak bisa puas (pada awalnya). Walau tanggapan saya sudah merujuk Al-Qur’an dan Hadits, tetap saja Pak Jalius menyatakan bahwa tanggapan saya tidak sesuai dengan ketentuan Allah dalam Al Quran. Pak Jalius mengatakan: “Tanggapan yang Bapak buat di atas tetap saja tidak sesuai dengan ketentuan Allah di dalam Al Quran”.
    Statmen Pak Jalius ini kok tidak focus. Tanggapan saya dan ketentuan Allah mana yang tidak sesuai ?
    Patut ditanyakan, Al Qur’an mana yang dipakai Pak Jalius ini –kok tidak sama dengan Kitab Al Qur’an yang saya jadikan dasar menanggapi komentar Bapak ?
    Logikanya, kalau Pak Jalius menggunakan Al Qur’an “Rasm Utsmani”, tentu tidak (bisa) mengatakan begitu. Atau, tidak akan ada kesanggupan menyatakan tanggapan saya yang berdasarkan Al Qur’an (yang juga Rasm Utsmani) itu –tetap saja tidak sesuai dengan ketentuan Allah di dalam Alquan.
    Tidak tahu lagi, kalau Al Qur’an pak Jalius ini berbeda dengan kitab sucinya kaum Muslimin pada umumnya (di Asia Tenggara), selamanya tidak akan pernah ketemu. Wallahu a’lam.
    Pak Jalius, seratus persen, atau bahkan lebih dari seratus persen –saya mempercayai beberapa (maaf, terjemah, bukan ayat) Al Qur’an yang dikutip Pak Jalius itu. Sebab, bunyi nukilah beberapa terjemah Al Qur’an tsb adalah tidak berbeda dengan “terjemah” di dalam kitab suci saya.
    Kalau tidak salah, esensinya: adalah sebuah isim khabar (kata informasi) bahwa, Allah memasukkan orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga. Betul, saya mengimani firman Allah Swt ini. Sehingga, umat manusia yang mengharapkan kehidupan dunia dan akhiratnya hasanah, mesti harus beriman dan beramal sahaleh.
    Mohon maaf Pak Jalius, untuk menulis kata “surga” tidak perlu ditulis dengan kata “syorga” –pakai huruf “y dan o”. Cukup ditulis dengan ejaan “s-u-r-g-a”. Sehingga tertulis “surga”. (Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, Jakarta, 2002, hal 1109).
    Insya Allah saya bukan hanya sekedar memahami dengan baik dan hati-hati (sesuai dengan perintah Pak Jalius). Bahkan otentik ayat-ayat tersebut sudah menjadi bacaan wajib saya dalam bertindak sebagai imam shalat –baik maktubah, jum’ah, ataupun ‘Id. Malah sebagai landasan berkhutbah, dan dakwah. Jadi, saya mesti membaca berulang-ulang sampai hafal, memahami, menghayati, dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
    Mari Pak Jalius –agak masuk ke alam ma’rifat sedikit. Artinya, bukan sekedar pemenuhan syar’i (saja). Maksud saya, (lebih dalam lagi satu tingkatan) –dalam melihat amalan (shaleh) seseorang. Jangan hanya menggunakan satu ilmu saja dalam menangkap kandungan firman Allah Swt, tentang iman dan amal shaleh. Artinya, iman dan amal shaleh seseorang itu –kita lihat dari dua ilmu, dari (ilmu) syariat dan (ilmu) hakekat.
    Dua puluh kutipan “terjemah” ayat Al qur’an yang Pak Jalius kemukakan itu, hampir semuanya turun di Makkah. Sehingga, sebutannya adalah ayat-ayat Makkiyyah. Hanya tiga saja yang tidak. Yaitu, nukilan terjemah ayat-ayat Madaniyyah. Namun, esensinya ya sama saja, sebuah isim khabar (kata informasi), bukan isim amar, kata perintah.
    Dalam Ulum Al qur’an, ayat-yat atau surat-surat yang turun di Makkah, hampir semuanya bermuatan penekanan pentingnya iman dan amal shaleh. Artinya, berupa himbuan atau ajakan untuk beriman kepada Allah Yang Ahad, dan pentingnya memihak kepada amal shaleh (daripada mengikuti kebiasaan kaum Jahiliyah yang jahat dan kejam itu).
    Mereka diberi iming-iming (bhs. Jawa), bahasa Indonesianya kegembiraan/harapan yang menyenangkan, yaitu surga. Tujuannya, agar mereka termotifasi dengan senang hati mau beriman kepada Allah Yang Ahad, dan meninggalkan kebiasaan kaum Jahiliyyah yang tidak baik. Berubah menjadi berperilaku baik.
    Berbeda dengan fase Madaniyah. Kandungan ayat-ayatnya sudah banyak berbentuk perintah. Contoh: perintah shalat, puasa, dan haji. Ini maksudnya, bukan sekedar (hanya) melaksanakan shalat, puasa, dan haji. Melainkan diperlukan sebuah “niat yang ikhlas” karena Allah semata. Ibadah (amal shalehnya) itu, bukan karena ingin dipuji orang atau maksud lainnya (selain karena Allah). Sehingga, diperlukan hati yang bersih “lillahi ta’ala”.
    Maaf, kenyataan di lapangan, tidak sedikit seseorang melaksanakan shalat secara kasat mata telah memenuhi syara’ dan (terlihat khusyu’). Tetapi, di dalam hatinya (masih) terdapat “riya’, ingin dipuji orang. Ingin dianggap khusyu’.
    Model shalat semacam ini, baru pada tataran “structural”, asal melaksanakan shalat sesuai syar’i. Belum masuk ke dalam tingkat “fungsional”, belum menegakkan shalat (secara hakiki). Yaa… asal melaksanakan shalat (tampak khusyu’) dan memenuhi syara’. Namun, belum menata hatinya agar shalatnya tertuju kepada Allah (semata), dan perikehidupannya belum mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam shalat. Atau, (maaf) shalatnya belum memenuhi secara hakekat.
    Shalat yang demikian ini belum sesuai dengan kalimat pernyatan dirinya sebagaimana pada awal raka’at pertama: “inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin”, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku (hanya) karena Allah semata.
    Apalagi, kalau sudah musim pemilu atau pilkada, wah…banyak orang yang interes terhadap pesta demokrasi tsb yang mengerjakan shalat (tampak sangat khusyu’). Atau beramal dengan menyumbang ini dan itu ke pondok pesantren dls dengan sebanyak-banyaknya.
    Kalau di zaman Pak Harto (almarhum) dulu, seseorang pergi haji –karena ada maksud tertentu pada pilkada. Ingin dipilih jadi bupati atau walikota, dst.
    Pertanyaannya, apakah kuwalitas “imannya” dijamin murni ? Dan, apakah orang yang ibadah (amal shalehnya) seperti itu dapat diterima oleh Allah, dan bisa masuk surga?
    Disinilah “belas kasihan” Allah yang berbentuk “rahmat” itu mustakhil diberikan kepadanya. Mengapa, karena imannya tidak murni, dan amal shalehnya tidak karena Allah semata.
    Apakah Pak Jalius berani menjamin (dengan sebenar-benarnya) bahwa kuwalitas iman dan amal ibadah seseorang seperti itu (imannya tidak murni, dan ibadahnya bukan karena Allah) -mesti masuk surga ?
    Kalau Pak Jalius (mau) menggunakan akal yang (sehat) dan hati yang (jernih), saya percaya bahwa, Pak Jalius akan memperbaiki pernyataannya yang tersebut di atas. Apalagi setelah membaca dua kisah sufi : 1. Orang Shaleh dan Pria Pemabuk di zaman Nabi Musa As. 2. Pencuri, dan Orang Shaleh, sbb:
    1. Orang Shaleh dan Pria Pemabuk di zaman Nabi Musa As
    Pada suatu ketika, nabi Musa akan menemui Allah di bukit Sinai. Seorang yang sangat saleh mengetahui hal tersebut dan mendatangi nabi Musa. Ia berkata, “Wahai nabi Allah, selama hidup ini saya telah berusaha menjadi orang yang baik dengan shalat, puasa, haji dan kewajiban beragama lainnya. Saya banyak menderita karenanya, namun itu tak masalah. Saya hanya ingin tahu apa yang Allah akan berikan kepadaku nanti. Tolong tanyakan kepadaNya”
    Nabi Musa menyanggupi permintaan salah satu orang saleh tersebut lalu meneruskan perjalanan menuju bukit Sinai. Di tengah perjalanan, beliau terhenti karena ada pemuda pemabuk di pinggir jalan. Pemuda itu bertanya akan kemana nabi Musa. Ketika nabi Musa menjawab akan bertemu Allah di bukit Sinai, pemabuk itu berkata:
    “Aku adalah peminum, aku tidak pernah shalat, tidak puasa, atau amalan shaleh lainnya, tanyakan kepada Allah apa yang dipersiapkan untukku oleh-Nya nanti.”
    Nabi Musa menyanggupi permintaan yang cukup aneh tersebut untuk menyampaikannya kepada Allah.
    Sekembalinya dari Sinai, ia menyampaikan jawaban Allah untuk orang saleh tersebut. Allah memberikan pahala besar dan hal yang indah-indah. Si orang saleh tersebut menanggapi biasa saja dan ia mengatakan bahwa ia telah menduga hal tersebut.
    Sedangkan ketika bertemu si pemabuk, nabi Musa menyampaikan, bahwa pemuda itu akan diberikan tempat yang paling buruk. Ketika mendengar ucapan nabi Musa, pemabuk itu berdiri dan justru menari-nari dengan riang gembira.
    Nabi Musa pun heran, kenapa pemabuk itu justru gembira, padahal ia dijanjikan tempat yang paling buruk. Beliau bertanya kepada pemabuk itu, ada apa gerangan hingga segembira itu.
    “Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku pendosa yang hina-dina. (Ternyata) aku (masih) dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorang-pun yang (masih) mengenalku,” jawab pemabuk itu dengan rasa bahagia yang terpancar di wajahnya.
    Namun setelah beberapa waktu (maksudnya, di alam akhirat), nasib keduanya pun berubah. Justru orang yang saleh berada di neraka dan si pemabuk berada di surga. Nabi Musa yang takjub, lalu bertanya kepada Allah, demikian jawaban Allah:
    “Orang yang pertama dengan segala amal salehnya tidak layak memperoleh anugerah (rahmat)-Ku karena anugerah (rahamat) tidak dapat dibeli dengan amal saleh.” Mengapa ? karena dia congkak, dan mendahului ketentuan Allah Swt.
    Orang kedua itu membuat-Ku senang karena ia senang dengan apapun yang Aku berikan kepadanya. Senangnya karena pemberian-Ku menyebabkan Aku senang kepadanya”. Dari sini, rahmat Allah diberikan kepadanya.
    Dari cerita diatas, ada beberapa hal yang bisa kita pahami. Bukan berarti seorang yang tidak taat beribadah bisa masuk surga, sama sekali bukan itu. Namun, sikap bersyukurlah yang disukai oleh Allah (sehingga mendapat rahmat-Nya).
    Sedangkan sikap berpuas diri dan menganggap diri pantas menerima anugrah (rahmat) dari Allah dengan amal shalehnya, justru dapat menjerumuskan seseorang kepada api neraka karena sama saja dengan memperjualbelikan amal ibadahnya dengan balasan dari Allah.
    Mengapa pria pemabuk -dimasukkan surga oleh Allah ? karena dia mendapat belas kasihan berupa rahmat dari Allah Swt -atas kerelaannya menerima ketentuan (walau buruk) dari Allah Swt. Kemudian, mengapa orang shaleh dimasukkan neraka ? Karena sifat congkak, mendahului ketetntuan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Akibatnya, rahmat Allah dicabut dari diri orang shaleh yang over confidence itu.
    2. Kisah Sufi
    PENCURI dan ORANG SHALEH
    Suatu hari, seorang yang shaleh duduk bersama Nabi Isa as. Seorang pencuri melihat hal ini dan berpikir, “Jika aku duduk bersama orang shaleh itu, mungkin Allah akan mengampuniku karena keshalehan orang itu.”
    Pencuri itu merasa malu dan mulai menyesali dirinya telah menempuh jalan hidup yang sesat. Ia merasa dirinya tak pantas untuk duduk di samping seorang yang amat suci .
    Di sisi lain, orang shaleh itu -melihat si penjahat duduk di sampingya lalu mengomel dalam hati. Ia tak ingin bayangan penjahat itu jatuh ke tubuhnya.
    Tiba-tiba Allah berfirman kepada Nabi Isa as, “Katakan kepada orang yang shaleh dan pencuri itu bahwa Aku telah membersihkan catatan perbuatan mereka. Pahala si shaleh dan dosa pencuri telah Ku-hapus. Mereka harus mulai dari awal lagi. Pahala orang yang shaleh terhapus karena keangkuhannya dan dosa pencuri terhapus karena rasa malu dan penyesalannya…”
    Rasulullah Saw bersabda:
    وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ (رواه مسلم)
    “Dan tidak masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat rasa sombong walau hanya sebesar dzarrah (debu)” (HR. Muslim)
    Mengapa orang shaleh tadi dihapus amal pahalanya ? Karena dia merasa sok suci dengan amal shalehnya. Kemudian, mengapa pencuri dihapus dosa-dosanya ? Karena, dia merasa malu, menyesali kesalahannya, dan ingin bertaubat.
    Demikian, dalam suatu cerita pasti terkandung hikmah bagi orang-orang yang mau berpikir. (Al-Tanwir, 150-200, 2002)

    Pak Jalius yang saya hormati, saya percaya terhadap hadits Nabi Muhammad Saw yang saya nukil di dalam tanggapan saya atas komentar Pak Jalius terhadap naskah khutbah Jum’ah saya yang berjudul “Hakekat Kebenaran” tersebut di atas. Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah seseorang masuk surga, kecuali dengan rahmat Allah….” Saya nukil kemnali Haditsnya sbb:

    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ أَحَدٌ إِلَّا بِرَحْمَةِ اللَّهِ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْتَ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ وَقَالَ بِيَدِهِ فَوْقَ رَأْسِهِ (رواه البيهقي)
    “Dari Abi Sa’id al Khudri, dia berkata. Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seseorang masuk surga, kecuali dengan rahmat Allah. Kami bertanya, ya Rasulallah, (apakah) engkau juga tidak ? Rasulullah menjawab, aku juga tidak. Kecuali Allah memberi belaskasihan kepadaku dengan rahmat-Nya. Rasulullah saw sambil mengangkat tangannya sampai di atas kepala (karena, saking pentingnya masalah ini)”. (HR. Baihaqi)
    Mohon maaf Pak Jalius, sudah bukan levelnya lagi pak Jalius menanyakan kepada saya, “Mana yang lebih kuat sebagai rujukan Al Quran atau al Hadist ?”
    Pertanyaan semacam ini (hanya) patut ditanyakan kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD). Misalnya, guru bertanya kepada murid-muridnya: “anak-anak, lebih kuat mana dalil Al Qur’an dengan Hadits ?”. Yang pantas menjawab adalah murid-murid SD. Dan, jawaban mereka benar atau salah, Allah Maha Mengetahui. Apakah Pak Jalius ingin kembali duduk di bangku SD (lagi). Tentu, tidaklah.
    Demikian tanggapan saya atas komentar Pak Jalius yang ketiga terhadap naskah Khutbah Jum’ah saya yang berjudul “Hakekat Kebenaran” yang dimuat oleh E-Newsletterdisidik, pada tanggal 22-11-2012.
    Tidak lupa, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang tidak berkenan, baik kepada Bapak Jalius maupun pembaca.
    Dan, terima kasih atas segala perhatiannya. Saya menunggu komentar Pak Jalius berikutnya, agar saya mendapat tambahan ilmu lebih banyak lagi. Semuga bermanfaat.
    وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Hormat kami
    H. Athor Subroto

    • Jalius HR mengatakan:

      ————————————————
      وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَاتُهُ
      ———————————————–

      Terima kasih Pak Athor Subroto.
      Ceritanya sangat panjang…. Tapi masih saja belum cocok sebagai sebuah jawaban yang betul. Dua buah cerita (kisah) dinukilkan dalam rangka menolak firman Allah. Secara ringkas saya sampaikan pada Bapak, jika membaca kitab Al Quran sebaiknya dipahami dengan baik. Kenapa harus saya sampaiakan seperti itu ?
      Pertama, kelihatannya Bapak inginnya kurang setuju dengan firman Allah, Bapak berkesimpulan orang yang beriman dan beramal shaleh belum jaminan masuk surga. Firman Allah yang ada di dalam Al Quran ( Allah akan memasukan orang yang beriman dan beramal shaleh ke dalam surga) itu seakan tidak penting. Yang peting adalah mengharap rahmatnya saja. Apakah mungkin jika tidak dengan upaya “ beriman” dan “Amal shaleh” ?
      Kedua, Tolong pahami dengan baik apa itu “Iman” dan apa pula “Amal shaleh”. Jangan dicampurkan saja amal shaleh dengan amal riya dan amal sai-ah, dan jangan pula memisahkan “Iman” dengan “Amal shaleh”. Sebab contoh yang Bapak nukilkan di atas, naik haji karena ada hubungannya dengan Pemilu kada dsb. Juga Bapak masukan ke dalam kelompok amal shaleh. Sungguh keliru.
      Ketiga, kalau ada sebuah cerita tolong di analisa dengan baik, betul atau salah ceritanya itu. Tepat atau tida cerita itu sebagai contoh. Seperti cerita yang Bapak tulis di atas, yakni kisah Orang Shaleh dan Pria Pemabuk di zaman Nabi Musa As. Setelah kedua orang itu bertanya, kemudian Nbi Musa as membawa pertanyaan itu kepada Allah, maka Allah memberikan jawaban : Allah memberikan pahala besar dan hal yang indah-indah. Sedangkan ketika bertemu si pemabuk, nabi Musa menyampaikan, bahwa pemuda itu akan diberikan tempat yang paling buruk.
      Catatan: Cerita orang shaleh itu, apak dia termasuk orang yang “ beriman” dan “beramal Shaleh” ? atau hanya dia sebagai orang yang hanya gemar beramal shaleh saja ? Kalau di dalam Al Quran, Allah selalu mengandengkan istilah “ iman” dan “amal sheh”.
      Selajutnya dalam cerita itu;… Namun setelah beberapa waktu (maksudnya, di alam akhirat), nasib keduanya pun berubah. Justru orang yang saleh berada di neraka dan si pemabuk berada di surga.
      Ingat Allah tidak menyalahi janjinya.
      Allah sudah berjanji..orang yang beriman dan bearmal shaleh akan dimasukan ke dalam surganya. Sekarang, di dalam cerita itu Allah merubah keputusannya, bahwa Allah memasukan orang sheleh kedalam neraka.
      Ingat Pak Athor, Jika ada perubahan keputusan Allah terhadap sesorang, berarti disebabkan bentuk amal orang itu yang berubah, misalnya dari orang yang biasa beramal sheleh menjadi orang beramal sai-ah (merusak) atau sebaliknya. Sebelumnya dia seorang yang beriman dan bertaqwa, berubah menjadi orang munafik atau musyrik.
      Orang shaleh yang bertanya kepada nabi Musa as itu Allah telah mengetahui amalnya dan imannya bagus. Maka Allah menjawab pertanyaan Nabi Musa as; bahwa orang itu masuk surga. (pada saat itu)
      Tetapi ternyata di akhirat orang tersebut masuk neraka, apa artinya…. Pertama , boleh jadi Nabi Musa as menyampaikan pertanyaa orang shaleh itu tidak dengan menyebutkan nama orang yang bertanya . Mungkin hanya menanyakan, apa balasan untuk orang yang beriman dan suka mengerjana amal shaleh serta banyak ibdah. Maka memang Allah memberikan jawaban seperti cerita di atas, yakni Allah memberikan pahala besar dan hal yang indah-indah. Kedua, mungkin saja orang yang bertanya itu hanya mengaku sebagai orang shaleh, sesungguhnya tidak, karena Allah lebih tahu tenatang amal orang itu. Ketiga, boleh jadi semenjak dia ( orang yang mengaku shaleh ) diberitakan akan masuk surga, dia menjadi orang congkak dan sombong atau angkuh. Orang ini tidak lagi dapat dikatakan sebagai orang shaleh….Allah sudah menegaskan Allah tidak menyukai orang-orang yang menyobongkan diri,
      Dalam hal ini Pak Athor haruslah hati-hati…. Jangan lasung saja dikatakan orang beriman dan beramal shaleh masuk neraka. Cerita di atas menjelaskan orang yang berbuat baik (shaleh) berubah menjadi orang yang suka amal ria dan sombong. Tentu saja ada perubahan ganjaran dengan hukuman untuk dia. Sangat jelas keputusan Allah seperti itu disebabkan amal perbuatan manusia juga.Tambahan lagi imannya juga belum jelas.
      Namun cerita seperti itu tidak dapat mengubah status firman Allah yang telah saya kirimkan catatannya ke komentar sebelum ini. Menurut Pak Athor ( sebagai Pakar Al Quran) apakah firman Allah yang turun di Makkah atau di Madinah memeang berbeda tingkat pentingnya ?
      Bagi seorang beriman memahami ayat Al Quran baik yang berupa kalimat amar ataupun berupa kalimat khabar sama saja pentingnya. Kita tidak perlu mengatakan bahwa surat yang turun di Makkah lebih penting dari surat yang turun di Madinah atau sebaliknya. Jiak Allah telah menetapkan Al Quran sebagai pedoman maka ….” tidak ada pilihan lagi bagi orang yang beriman setelah Allah dan rasulnya memberikan suatu ketetapan.”
      Demikian untuk sementara semoga Allah merahmati Bapak Athor Subroto.

  5. Amru mengatakan:

    Saya melihat bpk jalius ini kurang ilmunya dan juga mungkin kurang keyakinannya. itu yang dibahas diawal adalah sesuatu yang mudah dipahami dan tidak menjelimet seperti itu. anda hanya membingungkan diri anda sendiri. logika anda juga gak sehat. menurutku semuanya simple asal ada itikad baik dan asal tidak gila alias berakal sehat. kesejahteraan misalnya…tidak lah melulu berupa materi..sejahtera itu soal bathin….sebanyak apapun harta kalau masih merasa kurang maka dia itu adalah tidak sejahtera. Lenyapnya kebatilan itu setelah datangnya kebenaran Al-Qur’an maka orang yang mau mendapat petunjuk tak ada lagi alasan untuk mengatakan aku tak tahu kebenaran karena kebenaran itu telah datang melalui Islam/Al-Qur’an dan segala penjelasannya melalui hadist dan pemahaman para ahli agama Islam(ulama). Bukan berarti bahwa tidak ada lagi orang bodoh sontoloyo dan sejenisnya…! bukan….maka anda saya kira terlalu menjelimet dan cari-cari kata yang dangkal sekali. saya kira kurang berguna terlalu banyak berkata dengan bapak. hanya perlu satu syarat…ketulusan dan kejujuran hati. tak ada kebencian sama sekali jika anda ingin dpat kebenaran. kukira inipun pasti akan sangat tidak membantu anda…karena untuk beriman butuh hidayah dan taufik dari Tuhan. Anda perlu mendapat rahmatNya, agar anda selamat dunia dan akhirat. Benar bahwa amal itu tak berguna sama sekali bila amal itu tidak karena Rahmat Allah SWT. Aal menjadi sia-sia jika didalamnya didasari oleh ketidak ikhlasan dan kesombongan. Amal apapun tak cukup untuk membuat kita masuk surga…hanya karena rahmat Allahlah maka amal dan diri kita bisa menjadi berguna.

    • Jalius. HR mengatakan:

      Betul sekali….Ilmu saya sangat kurang ….jika dibandingkan dengan ilmu kamu Amru.
      Tapi sya menyarankan agar kamu biasakanlah membaca Al Quran dan memahaminya secara baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s