Sebab Turunnya Rezeki


Ada ulama yang keliru memahami persoalan turunnya rezeki.

Di dalam berbagai tulisan dan artikel saya menemui judul Sebab Turunnya Rezeki. Misalnya di dalam website EraMuslim dan Teladan Rasul.  Ada yang membuat 5 sebab, ada yang membuat 7 sebab  dan ada pula yang membuat 9 sebab seperti berikut ini; …Sebab-sebab itu adalah: (1)Takwa Kepada Allah, (2)Istighfar dan Taubat, (4)Tawakkal Kepada Allah, (5)Silaturrahim, (6)Infaq fi Sabilillah,  (7)Menyambung Haji dengan Umrah, (8)Berbuat Baik kepada Orang Lemah,(9) Serius di dalam Beribadah. Mitra Umat bulettin Juma’at PKPU juga tidak ketinggalan menyebarkan materi yang sama dengan judul 7 Sebab Turunnya Rezeki pada edisi 533 thn. XIII

7 sebab turunnya rezeki

Kesemua sebab itu diuraikan pula secara panjang lebar. Uraiannya lengkap dengan   rujukan. Ada rujukannya ayat Al Quran, ada pula Hadist Rasulullah saw. Saya kira ada yang keliru dalam memahami Ayat Al Quran dan hadist Rasulullah yang dikutipnya karena tidak sinkron dengan ayat-ayat Allah di dalam realitas kehidupan umat manusia.

             Ingat Allah Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki.

Allah menjamin hidup manusia di muka bumi ini. Allah akan memberikan rezeki kepada siapa yang Ia kehendaki. Allah akan menambahkan rezeki kepada siapa yang Ia kehendaki, jika manusia bersyukur Allah akan menambah nikmatNya. Allah sediakan semua kebutuhan manusia tanpa bayar satu sen pun. Semua itu secara inheren dengan penciptaan makhluk oleh Allah. Sehubungan dengan itu, ada sebuah ungkapan mengatakan “hidup adalah untuk makan ataukah makan adalah untuk hidup?

 Setelah saya membaca (mengamati) Alam Takambang (realitas kehidupan), terutama tentang kehidupan makhluk hidup ini,  siapa yang menciptakannya, dan mau ke mana setelah mati. Semenjak dulu kala fakta sejarah lembu dan kambing tidak punya rumah. Makanannya tetap saja rumput sejak dulu hingga sekarang. Hidupnya sehari-hari adalah mencari makan untuk hidup. Tidak lebih dari itu. Apakah manusia yang memiliki akal sama dengan binatang? Apakah hidup hanya untuk mencari makan setiap hari? Sebagian manusia memang ada seperti itu. Apakah tidak  ada lagi yang harus dikerjakan untuk kebaikan (amal saleh) atau memproduksi karya-karya yang bermanfaat untuk kemajuan manusia? Peluang ini selalu terbuka, bahkan telah diperintahkan oleh Allah kepada manusia.

 Di dalam Al Quran Allah berfirman: “Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah  yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata. Hud: 6

Firman Allah tersebut menjelaskan kepada kita, bahwa semua makhluk hidup yang membutuhkan makan dan minum Allah yang memberi rezekinya. Allah memberi rezeki itu karena Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah memberikan rezeki kepada makhluknya tidak membedakan asal usul, tempat tinggal, agama, beriman atau kafir. Semua diberi Allah rezeki. Apa yang dikatakan rezeki ? Rasulullah pernah bersabda ” rezeki itu adalah apa yang kita makan dan apa yang kita pakai”.

Bahkan secara kasat mata orang-orang non muslim senantiasa diberi rezeki melimpah oleh Allah. Orang yang berakhlak mulia dikasihi oleh Allah, diberi juga rezeki oleh Allah. Ada Orang yang sedikit pun tidak percaya kepada Allah juga diberi rezeki yang melimpah oleh Allah. Ada orang yang pekerjaannya berbuat maksiat siang/malam, Allah juga mengasihnya dengan banyak rezeki.  Ingat apa yang kita lihat kenyataannya di dalam masyarakat itu juga ayat-ayat Allah. Kenapa ulama dan bahkan yang mengaku cendekiawan Muslim tidak mempercayainya ? Atau tidak mengambil sebagai rujukan logikanya ?

Ada banyak orang beriman dan beramal saleh, bertakwa, sering beristigfar kehidupannya selalu miskin. Mereka tidak kaya, mereka hanya mengharapkan ridha Allah. Orientasinya hanya ketaqwaan. Allah berfirman “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya, (Al Baqorah 207)

Ada banyak pelacur (sering berbuat maksiat) hidupnya kaya, Allah melimpahkan rezeki kepadanya. Begitulah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Betapa kehidupan orang super kaya di dunia mereka kebanayakan non muslim yang tidak tahu dengan halal dan haram perilaku. Kehidupan mereka berorientasi hanya untuk kesejahteraan. Tentu saja fakta tersebut adalah sebagai bukti bahwa Allah menurunkan rezeki tidak ada kaitannya dengan sebab yang kemukakan pada awal tulisan ini.

Ada Yang lebih Fatal Logikanya

Yang lebih Fatal lagi logikanya, ada pula ustadz yang mengatakan sebaliknya yakni 5 sebab penghambat rezeki, seperti yang terdapat di dalam Website ARIEF MAULANA.com secara lengkap saya kutipkan seperti  berikut:

1. Hilangnya Rasa Tawakkal Kepada Allah

Kadang kala ketika rezeki kita mulai mengalir, ada rasa bangga dalam diri. Seolah-olah kita merasa bahwa ini semua adalah hasil dari kerja keras dan semangat pantang menyerah yang ada dalam diri kita. Kita merasa super hebat dan luar biasa. Kita lupa bahwa kesemuanya itu tidak terlepas dari faktor “x” yaitu Maha Pemurah dan Pengasihnya Allah.

Ketika itu terjadi, maka bersiaplah karena itu adalah titik balik dari tanjakan kesuksesan kita. Dan itulah titik balik di mana kita bukannya naik malah terus meluncur ke bawah. Bukankah Allah sudah berfirman “… Aku adalah seperti prasangka hambaku…”. Maka, pada saat kita berpongah-pongah ria dan lupa kepadaNya, maka Dia akan menganggap kita tidak membutuhkannya lagi. Di saat itulah Allah berpaling dari kita dan mencabut faktor “x” yang sebetulnya banyak mendominasi keberhasilan usaha kita.

2. Terlalu Banyak Dosa

Terlalu banyak dosa akan membuat hati kita tertutup debu. Memupuskan setiap doa yang dipanjatkan ke langit. Bahkan ada seorang Syekh terkenal yang mengatakan bahwa penutup dari pintu rezeki adalah dosa yang terlampau banyak. Sedangkan pembukanya adalah taubat. Jadi kalau Anda merasa rezeki seret, cobalah bercermin dosa apa saja yang sudah Anda perbuat selama ini.

Allah itu adil. Siapa yang berusaha maka pasti akan diberikan hasil. Ada hukum tanam benih tuai hasil. Selama kita usaha, ada hasil dibalik semua itu. Kalau kita tekun pasti berhasil. Tapi kalau tidak berhasil, dosa apa coba yang ada dalam diri kita. Jadi segeralah bertobat. Saya pikir itu wajar dan bisa dianalogikan dengan mudah. Bayangkan saja Anda adalah karyawan di sebuah perusahaan. Kira-kira kalau perilaku Anda tidak baik, kerja pernah beres, mudah dapat promosi kenaikan jabatan kan? Kira-kira atasan melirik Anda tidak akan dinaikkan jabatannya? Apalagi Allah yang punya kuasa menaikkan atau meurunkan rezeki dan kedudukan kita.

3. Berbuat Maksiat dalam Mencari Nafkah

Jaman sekarang jujur itu susah, orang yang tidak jujur aja kadang masih susah dapat duit. Akhirnya mark up sana mark up sini. Demi mencari uang melimpah. Sikut sana sikut sini, kalau perlu pakai dukun atau sewa orang untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Ini terang-terangan membuat rezeki kita ditahan oleh Allah. Andaikata kita merasa dapat banyak duit itu semua tidak berkah. Dan ciri-ciri harta yang tidak berkah di antaranya :

Sering dibelanjakan untuk hal yang sifatnya sia-sia belaka. Tidak banyak mendatangkan manfaat, baik dirinya maupun orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Sering dilanda penyakit, baik itu penyakit lahir maupun penyakit batin (iri, dengki, dll)

Sulit sekali hatinya tergerak untuk membelanjakan harta berlebih tersebut di jalan Allah. Padahal di setiap harta kita, ada hak orang lain yang mesti diberikan.

4. Dalam Bekerja Sering Melupakan Allah

Ciri-ciri paling mudah ditemui adalah meremehkan Shalat. Ketika kita benar-benar sibuk dan tiba waktunya shalat, kita cenderung menunda-nunda. Lebih penting bekerja daripada shalat. Bahkan yang kebangetan, sampai tidak shalat gara-gara kerja. Atau bisa juga berupa ketidak jujuran dalam berbisnis. Kita menganggap tidak ada yang tahu kebohongan kita. Itu artinya, kita sudah melupakan Allah yang selalu mengamati dan mengetahui setiap tindakan kita. Kalau Anda lupa padanya, Dia pun dengan mudah melupakan Anda.

5. Enggan Bersedekah

Sedekah itu memiliki beberapa kelebihan jika dilakukan dengan ikhlas. Menolak “bala” yang datang kepada kita, entah itu berupa penyakit, musibah, atau pun hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Kalaupun terpaksa terjadi (karena kehendak Allah), maka skalanya akan menjadi lebih kecil untuk kita.

Pupuk Kebaikan. Maksudnya dengan kita rajin bersedekah, sama artinya kita menebar pupuk-pupuk kebaikan. Ini nantinya akan menyuburkan pohon kebaikan dan berujung pada hak kita untuk memetik buah kebaikan itu sendiri. Bukankah sudah janji Allah bahwa setiap kita bersedekah dengan ikhlas, Alah akan melipat gandakan gantinya untuk kita. Cobalah dan buktikan sendiri.

Menjadi pelicin turunnya rezeki. Sudah banyak orang sukses yang merumuskan teori “Makin banyak memberi, makin banyak menerima”. Keluarkan sebagian harta Anda untuk sedekah dan tunggulah, sesungguhnya akan datang lebih banyak ganti yang diberikan oleh Allah. Itulah mengapa orang-orang sukses kelas dunia (Donald Trump, Warren Buffet, Bill Gates, dll) berlomba-lomba menyumbangkan sebagian harta atau pun penghasilan dari bisnisnya untuk kegiatan sosial. Dan Anda lihat, bukannya bangkrut, malah bisnis mereka semakin besar.

Dari uraian di atas dapat kita ketahui bahwa contoh yang dikemukakan pada (Donald Trump, Warren Buffet, Bill Gates, dll) sangat tidak cocok dengan uraian penjelasannya. Pernyataan 1 – 4 kontraproduktif. (Kenapa Rasulullah yang banyak bersedekah, hingga habis harta kekayaan istrinya, sampai akhir hayat beliau, beliau tidak pernah kaya lagi lagi ?). Ingat Allah tidak selalu menganti sedekah uang akan diganti lagi dengan uang pula.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ   ٢٠:١٣

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.

Karena mereka tidak hati-hati mereka lupa dengan firman Allah ini:  “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya,  …. (Thaahaa: 126)

Maka dari itu berhati-hatilah memahami  Al Quran, Sunnah/hadis Rasulullah serta ayat-ayat Allah di alam semesta ini. Demikian semoga kita selalu dilindungi oleh Allah dari kesalah berpikir dan beramal.

Wassalam Jalius.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

7 Responses to Sebab Turunnya Rezeki

  1. anonim says:

    Penulis ini apakah muslim ???1000 x

    • Jalius. HR says:

      Terima kasih atas kunjungannya ke explaining Blog ini. Semoga anda mendapat hidayah dari Allah.
      Saya hanya seorang yang beriman kepada Allah. Sangat mempercayai kitab dan RasulNya.

  2. Anonim says:

    Ass. Terimkasih untuk tulisannya. Saya sangat yakin anda seorang islam. Memberikan pandangan dengan konsisten yang baik, saya setuju dengan ulasan anda, ada banyak salah tafsir sehingga menciptakan kontraproduktif yang akhirnya tidak mampu lagi dijelaskan secara nalar logika. Karna Islam itu mengajarkan sesuatu yang dapat diterima oleh akal. Mungkin pada awalnya, para pendakwah mencoba memberikan efek yang optimal dengan mengajak umat tidak berbuat dosa, tidak bermaksiat, karna rezeki akan terhambat. Tidak ada yang salah dari tujuannya jika demikian :). Hanya saja jika dakwah itu dihadapkan oleh orang-orang yang mengutamakan logika, semua menjadi tidak logis jika dibandingkan dengan orang-orang non muslim yang rezekinya banyak. tulisan anda membantu mengembalikan pemahaman sesuai porsinya. Allah maha adil, pengasih dan penyayang. Semua tindakan amal baik dan buruk akan diperhitungkan walaupun hanya sebesar biji zarah :). Jangan takut menentang arah, sampaikan kebenaran meski harus dihujat karna tidak sesuai dengan arus. Wass.

  3. reza says:

    sebenernya tidak ada yg salah dgn tafsir para syekh atau ulama. yg membedakan adalah rumus hidup muslim dan non muslim berbeda.
    bahkan sesama orang muslim pun berbeda2. orang baik pun kadang dikalahkan dlm hal rezeki oleh orang yg korupsi.
    ketika org banyak beristighfar tp kehidupannya masih miskin? bisa jadi jika ia tdk beristighfar kehidupannya jauh lebih miskin.
    ketika nabi muhammad banyak bersedekah kenapa ia tdk kaya? bukan kah dlm satu hadist nabi pernah di tawari Allah emas satu gunung dan mengikuti kemanapun berada, namun beliau tolak. ketika ia mendapat rezeki ia selalu utamakan yg dibawahnya.
    banyak amal yg senantiasa berbuah dunia dan ada yg ternyata tidak berbuah dunia. namun Allah meyakinkan kita apapun amal kita pasti di balas. namun seringkali dalam bentuk yg tidak kita kenali. bisa jadi di balas ke anak cucu kita, kesehatan, panjang umur, ilmu yg bermanfaat, lolos dari bahaya atau apapun yg menurut Allah lebih bermanfaat utk kita.
    wallhu’alam

  4. Semua kembali kepada niat (tujuan/cita-cita motivasi setiap orang). Rizeki dapat diartikan dengan berbagai macam kategori, bergantung motivasi masing-masing orang yang menghendakinya. Bukankah Nabi SAW telah menjelaskan dalam hadist, yang artinya :
    Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

    Maksudnya, ketika sesorang dalam upaya mencari rezekinya terasa sulit hal itu tidaklah lepas dari beberapa persoalan, seperti yang telah Anda paparkan dari beberapa ulama yatu mengenai Sebab “Turunnya Rezeki” ada yang menuliskan 5,7, 9, 10 dll, hal itu bukan berarti mereka mengambil tanpa dasar, semua yang mereka paparkan itu dari sumber yang jelas dan subtansinya dapat dimengerti, meskipun dari beberapa penafsiran di nilai kurang tepat, tetapi hal itu tidak mengurangi makna yang dikandungnya.
    nah kembali ke soal niat atau motivasi seseorang dalam hal mencari rizki, hal ini tentu saja jangan di lihat dari mata zhohir kita, sebab akan memiliki tujuan yang berbeda sesuai kacamatanya yang menilai. buktinya, lihat saja hadis diatas.

    Adapaun orang kafir, pelacur, koruptor dll, menurut pandangan zdohir kita, ia lebih mapan dan kaya raya, motivasi mereka dengan mengambil caranya sudah jelas dan tidak perlu diragukan lg, adalah untuk memperkaya harta dunia saja dan tidak mungkin dengan cara seperti itu memiliki motivasi akhirat. Adapun orang-orang yang soleh (memiliki martabat yang ernilai disisi Tuhannya) dalam mencari rezeki, namun tetap miskin malah bertambah miskin, hal itu bukan berarti mereka benar-benar miskin dari segi dunia (seperti kita lihat secara mata lahir), melainkan mereka harus memperhitungkan tingkat kebutuhan yang sebenarnya dan dengan cara yang bagaimana mendapatkannya dan ketika mendapatkannya kemana pula harta itu harus keluarkannya.

    Kemudian lihat pula kenyataan yang ada pada diri Anda, Anda adalah salah seorang yang memiliki banyak kebutuhan, lalu untuk mencapai pemenuhan atas apa yang anda butuhkan itu, mungkin dengan bekerja, berdagang atau menjalankan profesi yang bisa menunjang, tetapi sejauh pengupayaan Anda tidak pula terpenuhi atas kebutuhan itu meski denga ekstra waktu dan tenaga yang Anda korbankan, bahkan ditambah do’a siang malam dan kebutuhan Anda tetap tidak terpenuhi alias tetap miskin, maka, kembalilah kepada asal niat/motivasi Anda kemudian baca lagi artikel “Sebab Turunnya Rezeki yang 5,7, 9, 10 dll” jika niat/motivasinya sdh benar, lalu koreksi pula cara mengerjakannya, cara mendapatkannya, cara membelanjakannya dll.

    Kesimpulannya, jika Anda mengatakan para ulama dalam menafsirkan diatas, dianggap keliru atau tidak tepat. seyogyanya Anda belum khatam membaca ayat dan hadis-hadisnya yang berkaitan dengan Rizki itu. Allahu A’lam…

    • Jalius. HR says:

      Pak Umar Kasa Latif yth.

      Apakah Bapak tidak bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri ?
      Beriman manusia itu atau tidak…beristigfar atau tidak…di sembahnya Allah itu atau tidak…Namun Allah memberi manusia rezeki.

      Sadar Bapak atau tidak ? bahwa tumbuhan dan binatang di darat atau di laut disediakan Allah untuk manusia ? Selalu di makan oleh siapa saja, dari dahulu sampai sekarang….Bukankan tumbuhan dan binatang itu tidak berupa rezeki bagi manusia ?
      Allah menyediakan itu semua bukan tersebab oleh manusia beriman atau beristigfar, bezakat atau sedekah. dll

      Jika ulama tersebut memberikan komentar tentang ” cara ” mendapatkannya…itu adalah soal aturan agama yang dijalankan. bukan soal sebab turunnya rezeki.

      Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita

      Wassalam

  5. Muh Nasrodin says:

    saya setuju dengan sebagian pemikiran bapak,tapi ada juga sebagian pemikiran bapak yang saya kurang setuju,kadang setiap orang punya pemahaman yang berbeda,maka kita harus bisa menghargai pendapat masing masing orang,begitu kita merasa pendapat kita yang paling benar itu juga menunjukkan bahwa kita sebetulnya masih banyak kekurangan..semoga pendapat saya ini bisa menjadi bahan renungan untuk diri kita masing masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s