Ulil Amri


Sekilas Tentang Ulil Amri

Istilah Ulil Amri yang dalam tulisan dirujuk dari Al-Quran Surat An-Nisa: 59 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu…”.

Kata Ulil Amri merupakan kata yang akrab ditelinga kita (muslim). Seringkali dalam perbincangan sehari-hari kita menggunakan istilah ini. Akan tetapi apa sebenarnya makna ulil amri yang dimaksud dalam ayat tersebut?

Telah banyak ahli tafsir yang menjelaskannya, namun semuanya selalu menunjukan keapada orang yang faqih (ali dibidang urusan hukum agama). Namun juga tafsirannya belum memberikan kejelasan, artinya belum jelas makna spesifiknya. Sehingga akibatnya menimbulkan kekaburan jika dihubungkan dengan konsep pemimpin (wali). Untuk lebih jelas baca juga pengertian wali dalam Blog ini.

Sejumlah kitab tafsir, khususnya kitab tafsir klasik semisal Tafsir at-Thabari dan Ruh al-Maani, hanya menyebutkan contoh ulil amri itu pada jabatan atau profesi yang dipandang krusial pada masanya. Sedangkan Tafsir al Maraghi, yang merupakan kitab tafsir yang ditulis pada abad 20 ini, menyebutkan contoh-contoh Ulil Amri itu tidak hanya berkisar pada ahlul halli wal aqadi, ulama, pemimpin perang saja; tetapi juga memasukkan profesi wartawan, buruh, pedagang, petani ke dalam contoh Ulil Amri.

Sesungguhnya Ulil Amri itu adalah orang-orang/lembaga atau institusi yang mengurusi kebutuhan kita. Mereka menyediakan berbagai kebutuhan kita keseharian, seperti pendidikan, keamanan, tersedianya kebutuhan pokok seperti makan dan minum, layanan kesehatan dan sebagainya. Dengan kata lain Ulil Amri itu adalah orang/lembaga yang memegang otoritas (kuasa) untuk menjalankan tugas dalam rangka memenuhi kebutuhan seseorang atau sekelompok orang.

Otoritas (kuasa)

Kamus American Heritage menuliskan bahwa otoritas adalah kuasa untuk menegakkan hukum, untuk menciptakaan ketaatan, kemampuan memerintahkan atau menghakimi. Kuasa untuk mempengaruhi, mengatur orang lain, otorisasi.

Kamus Barons menyebutkan bahwa otoritas adalah kemampuan untuk mengarahkan supaya pekerjaan dapat terlaksana dengan baik. Otoritas hanya bisa berjalan baik jika seseorang mau menerima arahan tersebut.

Menurut Weber, kata authority diturunkan dari kata bahasa Latin “auctoritas”, biasanya digunakan di dalam hukum Roma untuk menghadapi orang-orang yang menentang pemerintahan atau keputusan pemerintah. Dalam Weberian sociology, authority dianggap sebagai bagian dari kekuasaan. Otoritas dianggap sebagai kuasa yang terlegitimasi dan terlindungi secara hukum untuk menjalankan kekuasaan atas diri orang lain. Otoritas dianggap sebagai hak atau kuasa yang terjustifikasi untuk memerintah, menegakkan hukum bahkan mengadili, yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi atau memerintah orang lain.

Dari berbagai pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa otoritas itu berhubungan dengan kekuasaan yang dimilliki seseorang atau sekelompok orang yang memiliki hak, wewenang dan legitimasi untuk mengatur, memerintah, memutuskan sesuatu, menegakkan aturan, menghukum atau menjalankan suatu mandate. Melalui pengertian tersebut, otoritas memiliki kaitan yang sangat erat dengan kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang.

Otoritas yang ada pada seseorang atau sebuah lembaga adalah karena adanya kepercayaan seseorang/ sekelompok orang yang diberikan (diamanahkan) kepada seseorang /lembaga untuk melaksanakan tugas tertentu guna memenuhi kebutuhan tertentu. Seperti seseorang diberi kepercayaan untuk mendirikan sebuah bangunan (tukang). Apapun yang dilakukan dan apapun permintaan atau perintah tukang tersebut (yang berkaitan dengan kepentingan bangunan) harus dipenuhi. Dalam hal itu tukang memiliki otoritas atas pelaksanaan bangunan tersebut. Apa saja keputusan  yang ditetapkan tukang semua pihak wajib mengikutinya. Yang memberikan kuasa tersebut dapat saja oleh seseorang kepada seseorang /lembaga. Masyarakat memberikan kuasa kepada polisi untuk mengatur tertib lalulintas dan sebagainya. Maka siapa saja yang menggunakan jalan raya wajib patuh pada aturan yang ada. Polisi jalan raya selalu bekerja menegakkan aturan itu. Dalam hal ini polisi diberi amanah menegakkan tertib lalu lintas.Terutama menciptakan tertib lalu lintas. Tentu saja setiap warga wajib taat mematuhi aturan lalu lintas.

Yang sering terjadi di dalam masyarakat adalah masyarakat memberikan kuasa (otoritas)  kepada seseorang atau kepada lembaga untuk melaksanakan suatu urusan. Orang atau lembaga yang menerima kuasa tersebut harus bekerja sesuai dengan amanah atau kepercayaan yang diberikan. Misalnya lagi seorang guru mengaji di surau, masyarakat memberikan amanah kepada seorang guru untuk menjalankan tugas sebagai seorang pendidik dan mengajar di lembaga surau. Maka setiap ketentuan yang diberlakukan oleh seorang guru kepada muridnya di dalam proses pembelajaran, maka murid tersebut wajib mematuhinya. Orang tua murid juga harus ikut pula mendukung keputusan guru tersebut.

Wajib Taat Pada Ulil Amri.

Ikut Ulil Amri salah satu pilar ketaatan kepada Allah. Jika tidak masyarakat akan jadi kacau, tidak sama misi dan tidak sama visi. Masyarakat muslim di Indonesia Ikut Muhammadiyah tidak wajib, karena tidak ada alasan dan perintah untuk itu. Sampai saat ini masyarakat muslim di Indonesia belum memberikan otoritas (kuasa) kepada Muhammadiyah. Setiap tahun penentuan jatuhnya 1 Ramadhan/Syawal (jadwal berpusa/lebaran bersama) misalnya, di Indonesia otoritasnya telah diberikan kepada pemerintah dalam hal ini Departemen/kementerian Agama. Hal ini sudah Inheren dengan tugas yang diembankan ke Departemen itu, yakni mengelola berbagai kepentingan dan atau kegiatan Agama Islam di Indonesia. Jika pelaksanaannya tidak pas seperti perhitungan awal Ramadhan tidak pas…tidak ada dosa untuk itu, karena sudah berada di dalam kerangka perintah Allah. Sekaligus telah memenuhi panggilan Allah untuk selalu bermusyawarah dalam berbagai perkara dan menegakan persatuan. Allah juga telah mengingatkan bahwa orang beriman itu bersaudara sesamanya. Dalam hal ini manifestasi dari persaudaraan itu adalah setiap persatuan. Maka dari itu sangat pantas persatuan itu juga harus dikoordinir dengan baik seefektif dan seefisien mungkin.  Dalam hal inilah menyatukan umat salah satu tugas yang diemban  oleh Departemen Agama. Demikian juga departemen yang lain.

Jadi dapat  ditegaskan setiap orang yang punya otoritas mengurusi kepentingan atau kebutuhan kita itu termasuk Ulil Amri. Apa lagi jika kita telah memberikan amanah kepada orang atau lembaga untuk mengurus kepentingan kita. Jika seorang atau lembaga menyuruh kita berbuat maksiat atau murtad (misalnya)… itu bukan Ulil Amri…(karena persoalan itu bukan memenuhi kebutuhan kita). Tambahan lagi… hal seperti itu telah menyalahi amanah yang diberikan.

Ulil amri yang sering disebut seperti Umar Ibnu Khatab, Utsman Ibnu Affan, Ali Ibnu Abi thalib dan Abu Bakar Sidik itu contoh di zamannya. Jika mereka sudah meninggal tentu tidak dia lagi, Pada zaman beliau itu penduduk dan kebutuhan belum banyak, hampir semua kebutuhan masyarakat bisa dia yang mengelola. jika dibandingkan dengan Indonesia sekarang. Bagaimana pula kira-kira pikiran pembaca tentang itu ?

Walau pelakunya bukan muslim, jika dia memegang otoritas (karena diberi kuasa) untuk mengurus atau mengelola kebutuhan kita tetap dia termasuk Ulil Amri…..harap dibedakan pemahamannya dengan konsep pemimpin. Pemimpin didalam Aq Quran lebih mengarah konsep wali. Tidak ada salahnya dan larangannya jika kita mendelegasikan tugas tertentu kepada bukan muslim. Larangan memberikan suatu urusan kepada bukan muslim jika memang mukmin tidak ada atau tidak kapabel tentang urusan yang diserahkan  itu. Misalnya menyerahkan urusan lalu lintas kepada orang yang bukan muslim. Mengelola penangkapan ikan di laut dan sebagainya.Termasuk juga jika kita bekerja di Perusahaan Asing dan atau kita tinggal berdomisili di Negara lain.

Jadi Ulil Amri itu adalah orang-orang/lembaga yang mengurusi kebutuhan kita. Mereka menyediakan berbagai kebutuhan kita keseharian, seperti pendidikan keamanan, tersedianya kebutuhan pokok makan dan minum, layanan kesehatan dan sebagainya. Apa saja ketentuan yang ada pada lembaga tersebut wajib dipatuhi oleh segenap warga yang berkepentingan dengannya.

Sebuah catatan jangan lupa; Kita memang diperintah oleh Allah untuk taat kepada ulil amri.  Namun perlu diperhatikan bahwa perintah taat kepada ulil amri tidak digandengkan dengan kata “taat” penulisannya di dalam Al Quran atau pengucapannya; sebagaimana kata “taat” yang digandengkan dengan Allah dan Rasul (periksa redaksi QS an-Nisa: 59 yang telah dituliskan di atas). Quraish Shihab, yang disebut-sebut sebagai mufassir Indonesia, memberi ulasan yang menarik: “Tidak disebutkannya kata “taat” pada ulil amri untuk memberi isyarat bahwa ketaatan kepada mereka tidak berdiri sendiri tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul, dalam arti bila perintahnya bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka tidak dibenarkan untuk taat kepada mereka. Dalam hal ini dikenal kaidah yang sangat populer yaitu: “La thaat li makhluqin fi ma’shiyat al-Khaliq”. Tidak dibenarkan adanya ketaatan kepada seorang makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq (Allah).”

Jika kita merasa tidak aman kita membutuhkan polisi, jika kita ingin pendidikan Ulil Amri menyediakan sekolah. Jika kita menikah Ulil Amri menyediakan Penghulu dan membuat catatan sebagai bukti legal. Dalam hal ini yang paling dominan tidak lain dari Pemerintah. Jika tidak mau ikut pemerintah jika perlu jangan masuk lembaga pemerintah baik menempuh jenjang pendidikan sekolah ataupun jadi pegawai negeri.. Janganlah  hanya sekedar beda pendapat di awal Ramadhan dan awal Syawal saja. Polisi… juga Ulil Amri.. karena kita memberikan otoritas atau amanah kepadanya untuk menjaga keamanan…walau polisi itu  bukan muslim. Depdiknas juga termasuk Ulil Amri…. karena lembaga tersebut memberikan pelayanan atau mengelola kebutuhan pendidikan untuk masyarakat. Demikian pula Departemen Agama di Indonesia….berbagai urusan keagamaan kita berikan kuasa kepadanya  untuk mengelola. Menetapkan jatuhnya awal Ramadhan/Syawal tugas pemerintah sangat penting untuk kebersamaan. Oleh sebab itu Umat Islam di Indonesia wajib mendukung persatuan. Jika tidak berarti menabur bibit perpecahan. Kita umat Islam di Indonesia jangan mengurai kembali benang yang telah di tenun.

Demikian uraian pendek ini,  semoga Allah merahmati kita semua yang mengikuti jalanNya.

Wassalam

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

One Response to Ulil Amri

  1. Insyaallah bermanfaat.. Ada tradisi di NTB- Lombok, ketaatan pada Tuan Guru (TG) sebutan untuk orang alim LEBIH Manjur dari kebenaran seungguhnya… Fenomenalogi yang mungkin satu-satunya di Indonesia… Jika seorang TG menyalonkan menyalonkan diri jadi DPR, he he 2x terpilihnya cepat…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s