Pengertian Wali


 

Ulama memberikan pengertian sangat tendensius

Kata wali berasal dari kata bahasa Arab yakni “ولي”. Pada umumnya ulama Islam memberikan pengertian sangat tendensius terhadap kata wali (ولي) ini , artinya  cenderung hanya berlaku untuk kontek komunitas muslim saja. Misalnya Imam Al-Thabari ra. menyebutkan bahwa ketika Nabi Saw. ditanya tentang makna awliya’, ia menjawab bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang dicemburui oleh para Nabi dan para Syuhada  (orang-orang yang mati dalam jihad); mereka saling mencintai tanpa memperhatikan faktor-faktor kekayaan dan keturunan, wajah mereka tampak bersinar dan bercahaya ketika berada di atas mimbar; mereka tidak khawatir ketika orang lain merasa khawatir, dan tidak sedih ketika orang lain merasa sedih.

Penjelasan al-Thabari ini tampaknya dianut oleh dua mufassir kemudian, yakni al-Zamakhsyari  dan Ibn Katsir  dengan menyebut dua hadis yang sama dalam kitab tafsir mereka.

Menurut Imam ‘Ali ibn Abi Thalib kwh, diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas ra. : “Ketika ‘Ali ditanya tentang arti awliya’, ia menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat tulus dalam menyembah Allah, melihat segi batin (esoteric) dari segala sesuatu, sementara orang lain melihat segi lahirnya (exoteric); mereka memiliki kesabaran untuk menunggu, tidak pernah tertipu oleh kesementaraan; mereka meninggalkan apa yang tidak akan abadi dan menghancurkan apa yang akan menghancurkan mereka.

Menurut Imam Husain ibn ‘Ali ra. yang mengatakan bahwa awliya’ adalah mereka yang mengikuti perintah-perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, meninggalkan kesenangan dunia, berjuang di jalan Allah, berjuang untuk kehidupan yang terbaik, tidak mencari nama dan mengejar kemewahan yang berlebih, dan mereka membayar apa yang menjadi kewajiban mereka.

Di samping itu, dua penafsiran lain yang berbeda diberikan oleh al-Qurthubi (w. 671/1272) dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an dan al-Alusi (w.1251/1835) dalam Ruh al-Ma’ani. Penafsiran al-Qurthubi didasarkan pada pendapat Imam‘Ali ibn Abi Thalib kwh. yang mengatakan bahwa awliya’ adalah mereka yang wajahnya pucat karena mereka kurang tidur, mata mereka sayu karena banyak menangis, perut mereka kosong karena kurang makan, bibir mereka kering karena banyak berzikir.

Apa yang dijelaskan oleh Rsulullah, seperti yang dikutip oleh Imam Al-Thabari ra di atas, para sahabat dan ulama sesudahnya itu adalah hanya yang berkaitan dengan Wali Allah. Yakni wali yang terkait dengan kontek orang-orang yang taat menjalankan perintah Allah, seperti yang ada di dalam firman Allah ….

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [ ١٠:٦٢

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Wali merupakan konsep  universal

Seharusnya kata “wali” tersebut bermakna sangat luas. Kata “wali’ berlaku untuk semua umat manusia, apa dia mengaku muslim atau tidak. Di dalam sisitem kehidupan ada seseorang yang menjalankan tangung jawab penuh (otoritas yang luas) untuk memenuhi kebutuhan atau menjalankan berbagai urusan.

Dalam bahasa Arab kata  ولي yang beratri dekat dengan, dalam arti orang yang menguasai, rnengurus; memerintah; mencintai dan menolong. Menjadikan “wali” berarti mengangkat sebagai penguasa, penanggung jawab, menguasakan, mempercayakan kepada seseorang untuk melaksanakan berbagai urusan. Wali bertanggung jawab penuh terhadap kelangsungan misalnya pendidikan seorang anak, kebutuhan pokok dan perlindungan keamananya. Wali juga melaksanakan (menegakkan) hak-hak seseorang, sekelompok orang atau masyarakat.

Yang sangat penting sekali tanggung jawab wali adalah dalam pembinaan mental, kepercayaan dan keyakinan. Jika seorang wali adalah seorang muslim, dia akan melaksanakan tugasnya menanam dan membina keyakinan dan kepatuhan kepada ajaran Islam. Jika seorang wali adalah seorang Nasrani, dia akan melaksanakan tugasnya menanam dan membina keyakinan dan kepatuhan kepada ajaran Nasrani. Jika seorang wali adalah seorang Minang, dia akan melaksanakan tugasnya menanam dan membina keyakinan dan kepatuhan kepada adat istiadat Minangkabau. Jika seorang wali melaksanakan (menegakkan) hak-hak masyarakat, di Minang Kabau (misalnya) disebut dengan Wali Nagari. Ada juga istilah lain misalnya wali hakim atau juga wali dalam pernikahan. Makanya wali secara fungsional merupakan pemimpin yang wajib dipatuhi. Sehubungan dengan hal ini kita sangat penting memperhatikan peringatan Allah berikut ini;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ

[إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [ ٥:٥١

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali(mu); sebahagian mereka adalah wali bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ ۚ

      وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. At-Taubah 23

 [ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا [٤:١٤٤

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

 Peringatan Allah tersebut di atas mengandung makna, bahwa konsep wali berlaku sangat umum. Artinya konsep wali bukan berlaku hanya di dalam komunitas Muslim saja seperti yang telah dinukilkan oleh kebanyakan ulama. Konsep wali berlaku untuk semua komunitas manusia di Bumi ini. Makanya Allah melarang kita tidak mengangkat (menjadikan) sesorang sebagai wali yang berasal dari non muslim (kafir). Seorang Presiden atau kepala negara juga merupakan seorang wali, oleh sebab itu di Indonesia sekali-kali jangan mengangkat presiden  orang yang tidak mengerti  agama Islam.

Demikian semoga bermanfaat.

Wassalam

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

4 Responses to Pengertian Wali

  1. Titis Lubis says:

    Assalamu’alaykum wr wb. PAK jalius yth. Karena makna wali juga menyangkut pengertian orang yg mengurus, menguasai dan menolong, apakah berarti sebagai Muslim kita juga harus memilih, misalnya, dokter yg Muslim, atau pengacara yg Muslim? Artinya, utk segala aspek kehidupan, kita memilih wali yg Muslim juga?

  2. Jalius. HR says:

    Tentu saja..ya

  3. kalo makna wali adalah penguasa/pemimpin,..bagai mana dgn awliaAllah atau waliyullah ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s