Pengertian Iman


Iman menurut Konsep religi.

Berbicara tentang iman, tentu kita juga akan berbicara tentang keyakinan. Maka secara mutlak orientasi pembahasan difokuskan pada jiwa seseorang. Secara kejiwaan  atau lazimnya berada dalam fungsi  hati.  Hati merupakan pusat kendali dari iman dan keyakinan. Dengan hatilah manusia menerima atau menolak sebuah konsep atau pemikiran. Kita semua sepakat bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur pokok kejadian, terbentuknya jasad dan roh (jiwa), apabila keduanya pincang atau salah satu di antaranya tidak ada, maka secara mutlak tidak mungkin terbentuk makhluk yang bernama manusia. Iman salah satu faktor di dalam jiwa manusia yang sangat krusial.

Pemikiran banyak ulama Islam, Iman diartikan menurut bahasa adalah membenarkan dengan hati atau percaya, sedangkan menurut syara’ iman itu  adalah apa yang telah mantap dalam hati dan dibuktikan lewat amal perbuatan.

Sedangkan menurut Istilah, Ali Mustafa al-Ghuraby menyatakan:

Sesungguhnya Iman itu adalah ma’rifah dan pengakuan kepada Allah swt Dan Rasul-Rasul-Nya (atas mereka keselematan)”.

Dan menurut Jumhur Ulama yang dikemukakan oleh al-Kalabadzy:

Iman itu adalah perkataan, perbuatan dan niat, dan arti niat adalah pembenaran“.

Dari definisi bahasa dan istilah diatas. maka dipahami bahwa para ulama sepakat bahwa iman adalah pembenaran dengan hati. Ada pun mengenai ucapan dan pengamalan anggota badan, maka sebagian ulama memasukkan ke dalam bagian dari pada iman sedang lainnya menempatkan sebagai kelengkapan saja.

Iman  sebagai konsep  universal

Sungguh pun demikian kita juga harus memberikan pengertian iman dalam konteks yang lebih luas. Konteks yang lebih luas atau universal dimaksudkan agar dapat diterima untuk semua aktivitas manusia. Pengertian iman yang dijelaskan oleh para ulama sangat berorientasi hanya kepada soal keyakinan beragama  khususnya untuk beribadah atau pengabdian kepada Tuhan. Untuk lebih tegasnya hanya dipatok untuk 6 pilar saja (bagi umat Islam), yakni; Iman kepada Allah, kepada  Malaikat, kepada Rasul, kepada Kitab, kepada hari kiamat dan kepada kadar (qodar).

Pengertian demikian tentu saja belum dapat diaplikasikan untuk kepentingan sains atau ilmu serta untuk berbagai aktivitas manusia dalam menjalani kehidupan ini.

Kata Iman berasal dari kata Bahasa Arab yakni امن (amana)  yang berarti percaya atau mempercayai. Di dalam konsep iman terkandung  hal yang sangat utama dan penting yakni;

(1) pengakuan,

(2) Adopsi atau penerimaan.

(3) yakin.

Pengakuan adalah merupakan dasar dari iman. Pengakuan berarti menyatakan sah sesuatu, menyatakan betul sesuatu dan menyatakan baik sesuatu, dan juga sebaliknya. Pengakuan diberikan secara sungguh-sungguh. Tidak dengan basa basi.

Pengakuan secara kejiwaan didasarkan pada kepercayaan. Kepercayaan itu berada dalam  pikiran (mind). Sebuah konsep atau fenomena yang telah diamati atau informasi yang didengar atau baca dapat menimbulkan kepercayaan. Informasi dan fenomena di dalam pikiran dapat diterima. Walaupun  hanya sekali amati atau di dengar. Pada saat kita memberikan kesaksian kepercayaan kita kepada orang lain maka kita membuat sebuah pernyataan yakni berupa pengakuan. Yakni pengakuan baik atau buruk, betul atau salahnya sesuatu, besar atau kecil dan sebagainya.

Setelah adanya pengakuan harus pula diikuti dengan adopsi atau penerimaan. Penerimaan dalam arti bahwa apa yang telah diakui harus dijadikan sebagai  dasar mengambil sebuah keputusan atau tindakan. Dengan kata lain harus dijadikan untuk kepentingan. Semua ketentuan yang ada pada sesuatu yang kita akui harus diterima dan diikuti dalam arti menentukan sikap. Untuk lebih mudah dipahami dijelaskan dengan contoh, misalnya kita melihat atau mengamati api, dari berbagai pengalaman kita mengakui bahwa api panas dan membakar. Pengakuan yang kita berikan itu harus diterima sepenuhnya, yakni kita manfaatkan untuk kepentingan, seperti untuk membakar. Jika kita berhadapan dengan seorang yang terbukti hipokrit maka sikap kita harus menghindar dan hati-hati.

Sebuah batu berdasarkan  berbagai pengalaman kita keseharian, ternyata batu sangat keras. Batu yang keras itu kita akui, setelah itu kita gunakan untuk suatu kepentingan, misalnya untuk pemukul atau melempar, pengeras jalan dan sebagainya.

Pada gilirannya pengakuan dan penerimaan tersebut, jika kita mendapatkan pengalaman yang sama, dan juga ditambah dengan pengalaman orang lain maka akan muncul apa yang disebut dengan yakin. Yakin adalah merupakan konsep dari sebuah kesimpulan  akhir dari pengalaman kehidupan. Kesimpulan akhir itu disertai bukti-bukti yang tidak dibantah. Sebuah batu jika kita masukan ke dalam air akan tenggelam, kita akui dan kita terima sepenuh hati (tidak mengandung sedikit pun keraguan). Setiap kali kita berhadapan dengan pengalaman yang sama akan menghasilkan sebuah kesimpulan. Kesimpulan itu sungguh tidak dapat dibantah. Maka hal demikian kita sebut dengan yakin. Boleh jadi pengalaman itu bersifat reguler atau pun tanpa sengaja. Sebuah penelitian yang dilakukan secara cermat akan menghasilkan suatu keyakinan. Karena temuannya didukung oleh fakta-fakta yang valid.

Sungguh pun demikian yakin dapat juga dikategorikan atau klasifikasi, tergantung pada orang yang akan melakukannya, berdasarkan apa dan sebagainya. Misalnya yang pertama kita mengakui dan menerima saja, artinya hanya sebatas pengakuan terhadap pengetahuan teori saja. Di dalam dunia akademik biasanya disebut dengan teorisasi. Kedua meyakini sampai ada bukti yang tidak terbantahkan, seperti hasil eksperimen atau demonstrasi.

Bagi seseorang di dalam sains, Iman adalah  dasar atau syarat utama sistem berpikir dan bertindak atau mengambil keputusan. Di dalam kegiatan penelitian sering digunakan asumsi, asumsi itu juga merupakan sebuah kepercayaan. Jika ingin mengambil sebuah keputusan harus ada data-data yang  valid. Demikian juga bagi kelompok manajemen. Jika tidak sudah jelas keputusan dan tindakan tidak akan berhasil secara baik. Tidak akan mungkin proses perhitungan matematis diteruskan, jika 2 + 2 = 4 (kita tidak beriman kepadanya).

Di dalam kehidupan manusia Iman atau keyakinan menimbulkan banyak fungsi. Fungsi-fungsi itu meliputi semua aktivitasnya. Di antaranya adalah; mendapatkan pedoman yang dapat dipercaya; Iman menghilangkan keraguan; Dengan iman manajemen mudah dilaksanakan; dengan iman orang akan percaya diri; dengan iman pembentukan kepribadian yang utuh, karena jika tiada iman atau iman kurang akan melahirkan sikap hipokrit; Orang beriman dapat menjalin hubungan sesama manusia dengan baik; dengan iman yang sempurna orang dapat mengenal dan mendekati tuhannya.

Tentu saja dalam konteks yang lebih luas Iman sangat penting dalam proses memahami ayat-ayat Allah di alam semesta ini. Kedua konsep iman tersebut (konsep religi dan konsep universal) tetap harus sejalan, bahkan pada banyak hal tidak dapat dipisahkan. Apa yang dijelaskan di dalam kitab suci dan fenomena apa saja yang ada di alam semesta sangat membutuhkan iman sebagai syarat utama untuk memahaminya. Jika orang mampu mengimani semua fenomena (ayat-ayat Allah) baik yang ada di dalam kitab dan yang ada di alam raya ini, itulah orang yang beriman sesungguhnya. Adakalanya iman itu kuat ada kalanya iman itu lemah. Maka untuk itu secara psikologis sangat diperlukan apa yang dikatakan reinforcement atau penguatan.

Sungguh telah ditegaskan oleh Alah, Jika orang beriman itu   beramal saleh (baik) Allah menjanjikan bagi mereka kemenangan (produk unggulan). Produk unggulan atau hasil maksimal akan menimbulkan kehidupan yang lebih baik dan indah kelak (surga).

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s