Konsep Hijrah Jangan Dirubah


,,,,,,,,,,,,,,,,,,, 

Tulisan ini dimaksudkan sebagai kritikan terhadap pemahaman yang keliru tentang “Hijrah”.
Hijarah sebagai sebuah kata bermakna pertama umum dan kedua bermakna kusus. Pengertian secara umum  adalah perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Pengertian secara khusus adalah yang berlaku atas sebuah peristiwa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad saw, yakni perpindahan beliau baginda Rasulullah dari Masjidil Haram yang terletak di Kota Makkah ke Masjid Al Aqshayang terletak di Kota Madinah (Saudi Arabia). Pembahasan selanjutnya adalah mengenai konsp”hijrah” dalam pengertian kedua tsersebut.

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziah (pemikrannya masih berkembang samapai saat ini) membagi hijrah menjadi 2 macam. Prtama, hijrah dengan Qalbu (hati) menuju Allah dan RasulNya. Hijrah ini hukumnya fardhu ‘ain, artinya wajib bagi setiap orang di setiap waktu. Macam yang kedua yaitu hijrah dengan badan dari negeri kafir menuju negeri Islam. Di antara kedua macam hijrah ini hijrah dengan hati kepada Allah dan RasulNya adalah yang paling pokok. Konsep hijrah yang pertamalah yang sangat berkembang di kalangan cendekiawan muslim di dunia.

Kenapa Harus dirubah konsep hijrah ?

Pada hal rasulullah hijrah tidak dalam rangka seperti yang dijelaskan di atas. Makna hijrah tidak akan tepat jika diambil hanya pengertian kata secara umum. Persoalan ini sama juga halnya dengan pengertian “tawaf”. Kita tidak boleh menerapkan istilah tawaf untuk kegiatan atlit olah raga melakukan warmingup   (pemanasan) dengan cara berlari mengelilingi lapangan sepak Bola. Perlu diingat situasi dan kondisi serta proses perpindahan Rasulullah dari Mekkah ke Madinah dalam rangka menegakan Agama Allah,  peristiwa itu yang telah disepakati sebagai peristiwa hijrah.

Konsep hijrah lebih pas seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Hijrah dapat dilakukan dewasa ini jika persyaratan dan tujuannya sama dengan apa yang dilakukan rasulullah. Sebab utama yang melatarbelakangi hijrah Rasulullah yang tidak boleh dilupakan dalam memahami dan merumuskan konsep hijrah adalah pertama Rasulullah disakiti dan kedua Rasulullah diusir dan ketiga Rasulullah dan sahabatnya diperangi oleh orang-orang kafir Mekah.

Situasi dan kondisi sebagai syaratnya dan tujuan yang ingin dicapai tidak  menurut atau harus sesuai dengan logika para ahli/ kebanyakan cendekiawan Muslim dewasa ini. Jika ada orang yang merubah konsep hijrah dalam pengertian lain maka dikhawatirkan mereka sama halnya dengan apa yang diperingatkan Allah berikut ini;

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ

Mereka suka merubah perkataan dari tempat-tempatnya (konsep dasar). Itulah tabiat orang yahudi.

Rasulullah juga pernah bersabda  “Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Siapa yang hijrahnya demi dunia, ia akan meraihnya, atau kepada wanita, ia dapat menikahinya. Hijrah seseorang tergantung apa yang dijadikan tujuan hijrahnya”. Pahamilah sabda Nabi itu. Sabda Nabi tersebut merupakan penjelasan terhadap orang-orang atau para sabat yang ikut hijrah bersama beliau. Sabda itu tidak ditujukan untuk pelaksanaan hijrah sesudah  Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah. Penting diingat, Rasulullah juga pernah bersabda “setelah ini tidak ada lagi hijrah”. Karena itu konsep hijrah harus di bangun berdasarkan apa yang berlaku pada Rasulullah dan sahabatnya.

Konsep hijrah akan menjadi kacau jika mengikuti pengertian yang diberikan oleh kebanyakan cendekiawan dewasa ini. Setiap merek mencari model hijrah agar terkesan sebagai pengikut Rasulullah. Tujuan mereka sangat baik yakni menggunakan sabda tersebut dalam rangka mengajak orang untuk melakukan perubahan sikap dan tingkah laku, terutama hijrah Qalbu (seperti yang dikemukakan Ibnul Qayyim Al Jauziah). Pada hal dewasa ini yang cocok dan sangat penting dilakukan dalam rangka melakukan perubahan perilaku adalah menjalankan konsep tobat.

Ada juga sebagai ulama mengutip firman Allah untuk mendukung argumentasinya seperti;

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

Maka segeralah kembali (berlari) kepada (mentaati) Allah. Ad – Dzariyat 50

Banyak ulama dewasa ini kata “kembali” diberikan konotasi sebagai berlari, sehingga mereka dapat memberikan maknanya dalam bentuk lain, bahwa ayat tersebut mereka maksudkan bahwa Allah menyuruh orang muslim tiap diri untuk melakukan hijrah. Pada hal ayat tersebut sangat tepat untuk menyuruh orang melakukan tobat.

Sekaitan dengan tobat, pertanyaan yang perlu di ajukan adalah kenapa setiap awal tahun hijrah selalu cendekiawan muslim mengusung tema hijrah dalam berbagai kesempatan berkhotbah, seminar atau ceramah? Kenapa mereka enggan mengunakan tema-tema yang bersangkutan dengan Tobat?

Coba baca salah contoh pemahaman konsep hijrah yang saya kutipkan dari salah satu tuliasan seperti di bawah ini;

Hijrah berarti berpindah dan perubahan.

Hijrah berarti berpindah dari suatu kepada sesuatu yang lain, baik hijrahnya adalah hijrah zatiyah ataupun hijrah maknawiyah. Dalam hidup ini ada tiga jenis hijrah yang harus terbangun dengan baik, dan tidak boleh terhenti.

1. Hijrah dari larangan-larangan Allah saw.

Berhijrah dari larangan Allah berarti meninggalkan segala larangan-larangan Allah swt dan berpindah ke pengamalan perintahNya. Berpindah dari kegelapan dosa menuju cahaya amal saleh. Rasulullah saw dalam sabdanya; “orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah swt (hadits)”. Larangan mencakup khitab tahrim (haram), dan khitab takrih (benci).

2. Hijrah dari Perbuatan yang Mubah.

Perbuatan mubah seringkali dipahami sebagai bagian yang lepas dari tuntutan hukum, karena tidak ada konsekuensi di dalamnya. Memang benar statement tersebut, sebab mubah dalam terminologi figh memaknakan pembolehan, boleh dikerjakan dan boleh tidak dikerjakan.

3. Hijrah dari yang baik kepada yang lebih baik, atau yang terbaik.

Salah satu ciri orang beriman adalah tidak pernah puas dengan kebaikan, dan kesalehan yang telah dilakukannya. Ia terus berjuang bahkan berkorban untuk mencapai puncak kebaikan. Ia sangat “tamak” akan kebaikan dan kesalehan-kesalehan.

Sumber: (http://abdulrahmansakka.blogspot.com/2008/12/hijrah-menuju-perubahan.html)

Mau di apakan ?

Peringatan

Perlu diingat  perpindahan Rasulullah dari  Kota Mekkah ke Kota Madinah dalam rangka menegakkan Agama Allah, Peristiwa Hijrah Rasulullah itu sangat kental sebagai sebuah strategi dan metodologi Allah dalam pemenangan perjuangan atas orang kafir Makkah. Perpindahan tersebut tidak dalam rangka merubah perilaku atau sikap, Sebab Rasulullah dan sahabatnya sebelum hijrah perilakunya sudah bagus. Cara berpikirnya juga sudah bagus. Kepribadia dan Tauhid Rasulullah d Makkah dan di Madinah sama saja. Sekali-kali jangan di kira bahwa setelah Hidah peerilaku beliau dan shabatnya berubah menjadi baik. Hal seperti itulah itu lah yang harus disepakati sebagai peristiwa hijrah. Maka konsepna tidak perlu dirubah.

.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s