Profesional


Oleh Jalius HRTenaga pengajar Universitas Negeri Padang.

Sebuah Istilah Yang Elitis

A qualified professional is someone who has completed a professional degree in one or more profession. The term also describes the standards of education and training that prepare members of the profession with the particular knowledge and skills necessary to perform the role of that profession. In addition, most professionals are subject to strict codes of conduct enshrining rigorous ethical and moral obligations. Professional standards of practice and ethics for a particular field are typically agreed upon and maintained through widely recognized professional associations. Some definitions of professional limit this term to those professions that serve some important aspect of public interest  and the general good of society.

Professional adalah sebuah kata telah menjadi istilah elit di dalam masyarakat dunia. Kata ini menjadi elit karena istilah ini selalu diusung untuk kepentingan tertentu.  Istilah ini ditujukan untuk membedakan keahlian seseorang atau sekelompok orang dengan kawan-kawannya yang lain. Pembeda itu bukan hanya sekedar penunjukan  sebuah kondisi dan stratifikasi, akan tetapi sekaligus mengacu kepada hak-hak istimewa di dalam masyarakat. Istilah profesional berasal dari kata profesi yang ditujukan kepada bidang pekerjaan tertentu yang harus dikerjakan dengan pengetahuan dan keterampilan khusus (keahlian). Bidang pekerjaan itu jika dikerjakan dengan  keahlian khusus dapat mencapai hasil yang maksimal, baik secara kuantitas maupun kualitas. Sementara kata profesional merupakan upaya menempatkan seseorang pada bidang pekerjaan  tertentu yang sesuai dengan keahliannya.

Jika kita telusuri kebelakang logikanya berawal dari; di dalam masyarakat di mana pun selalu ada orang-orang yang bagus kemampuan kerjanya. Mereka itu ditandai oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Biasanya dan memang seperti itu, mereka memiliki kemampuan bekerja yang lebih baik berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Biasanya spesifik pada jenis pekerjaan tertentu. Sebagai bukti kemampuan kerja yang bagus itu dapat dilihat dari efektivitas dan efisiensi kerjanya. Proses penyelesaian kerja membutuhkan waktu relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan kebanyakan orang lain. Artinya ada penghematan waktu. Misalnya orang yang professional pada fotografi, proses memfokuskan kamera pada objek yang difoto relatif lebih cepat dan tepat (sesuai dengan keinginan). Pada bagian lain dapat kita lihat cara mereka bekerja relatif lebih mudah, karena mereka tidak perlu banyak berpikir dalam menyelesaikan pekerjaannya. Mereka bekerja juga hemat tenaga dan biaya serta minimalis bahan yang digunakan. Hasil yang dicapai kualitasnya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan jika dikerjakan oleh orang lain.

Kemampuan kerja mereka yang bagus (ahli) itu menyebabkan banyak orang meminta tolong atau memakai jasa mereka untuk mengerjakan sesuatu. Maksudnya adalah untuk mendapatkan hasil yang bagus dan layak. Banyak orang memakai jasa mereka, karena mereka memang senang atau suka menolong orang. Sebaliknya orang yang memakai jasa mereka juga tidak merasa berkeberatan memberikan imbalan jasa pada mereka. Dalam keadaan seperti itu sangat kental nuansa suka sama suka tanpa ada aturan yang meningkat. Kondisi seperti ini menimbulkan dampak yang sangat luas terhadap sistem budaya atau peradaban bangsa.

Semakin banyak orang memakai jasa mereka, mengakibatkan mereka kekurangan waktu untuk dapat melakukan pekerjaan lain. Terutama pekerjaan yang berkaitan dengan perekonomian mereka. Waktu mereka banyak disita oleh orang lain yang minta tolong. Namun mereka juga mendapatkan banyak imbalan jasa. Karena memang masyarakat menyadari bahwa waktu mereka sudah tersita untuk menolong. Pada sebagian dari mereka terjadilah sebuah kondisi dimana kebutuhan hidup mereka sudah (hanya) berasal dari imbalan jasa dari pekerjaan yang mereka lakukan itu.

Hakikat dari profesional adalah penguasaan “pengetahuan dan keterampilan” yang memadai untuk mengerjakan satu atau dua bidang pekerjaan. Awalnya orang yang profesional, mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman. Dalam perjalanan hidup pengetahuan dan keterampilan yang sederhana (dasar) relatif cepat atau lambat berkembang kearah yang lebih baik. Pengetahuan dan keterampilan dasar yang telah dikuasai melalui pekerjaan secara rutin dapat meningkat efektivitas dan efisiensinya.  Kesempurnaan keahlian dapat juga dicapai jika melakukan latihan sampai pada target yang diinginkan. Seorang guru yang baru mengajar, ia hanya bisa sekedar dapat mengajar secara baik. Akan tetapi ia masih banyak mengalami kesulitan-kesulitan dalam berbagai hal, seperti menyiapkan bahan atau materi  pelajaran tertentu dan sebagainya. Namun setelah memperoleh banyak pengalaman dalam beberapa tahun berikutnya ia akan semakin mudah melakukan pekerjaan mengajar. Bahkan sampai pada taraf sangat mudah. Berbagai strategi dan metoda dikuasai secara lebih baik. Dengan keadaan seperti itu hampir semua anak didik mengakui dan menyenangi sang guru yang pintar mengajar.

Pekerjaan yang ditangani oleh orang-orang yang profesional memang sangat memuaskan hasilnya. Setiap pekerjaan yang dikerjakan oleh orang yang profesional dapat menghasilkan produk unggul dalam berbagai hal. Untuk mendapatkan produk unggulan itu didukung oleh, misalnya kecepatan dan ketepatan waktu, hemat biaya dan tenaga serta tidak membutuhkan banyak pikiran. Secara alamiah jumlah mereka sangat sedikit atau terbatas. Keadaan seperti itu dapat dipecahkan dengan cara belajar di sekolah, agar dapat menghasilkan tenaga dalam jumlah lebih besar. Melalui kegiatan magang dan kursus juga dapat menghasilkan tenaga profesional dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat.

Untuk menjadi profesional, seseorang perlu belajar, ada yang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan juga relatif singkat. Hal itu tergantung kepada jenis pekerjaan (ketrampilan). Baik melalui belajar di lembaga pendidikan formal, melalui pengalaman maupun melalui pelatihan. Profesional merupakan konsep yang meliputi hampir semua orang yang menguasai keahlian dalam pekerjaan, dalam arti tanpa batas jalur pendidikan dan bidang pekerjaan.

Professional konsep yang dikebiri

Dewasa ini istilah professional semakin ditingkatkan “gengsi”-nya. salah satu trik yang dijalankan adalah menambah persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat menyandang gelar profesional. Tujuan utamanya adalah memperjelas keistimewaan di dalam kelompok atau masyarakat. Sebelumnya kemampuan profesional dapat saja diperoleh dan disandang oleh orang memiliki keahlian pada bidang pekerjaan tertentu walaupun ia tidak pernah belajar di sekolah sampai ke Perguruan Tinggi. Artinya banyak orang yang bisa disebut sebagai profesional, asalkan saja dia memiliki keahlian dan mampu bekerja sesuai dengan keahliannya itu. Atau dapat di tambahkan, keahlian mereka dipakai dan dibayar oleh oleh pemakai jasa. Namun sekarang dicari-cari dalih agar kemampuan profesional hanya bisa disandangkan kepada orang-orang ditetapkan secara khusus, yakni dengan syarat tambahan. Syarat tambahan itu sungguh sangat memberatkan yaitu orang yang berusaha mendapatkan keahliannya melalui jalur pendidikan formal di Perguruan tinggi. Peningkatan gengsi itu diikuti pula dengan pemberian tunjangan khusus pada karyawan/pegawai, pada pegawai negeri sipil di Indonesia disebut dengan tunjangan profesi.

Menapaki tangga profesional
Menapaki tangga profesional

 

Untuk kepentingan itu kelompok orang yang profesional tingkat tinggi (biasanya di Perguruan tinggi) berupaya memaksakan kehendaknya itu. Kelompok mereka ini adalah orang-orang yang ada di Perguruan tinggi yang telah bergelar Profesor (Profesor = orang yang paling professional). Mereka merumuskan sebuah ketentuan bahwa orang yang profesional adalah orang yang bekerja, pekerjaannya itu sebagai mata pencahariannya. Sedangkan pengetahuan dan ketrampilan (keahlian) harus diperoleh melalui belajar di perguruan tinggi. Profesionalitas itu diakui dengan sebuah sertifikat atau ijazah. Pemikiran yang seperti itu disusun atau dikemas dengan berbagai macam analogi dan logika sebagai alasan. Pada akhirnya mereka menyodorkan agar bisa dijadikan sebagai undang-undang atau peraturan pemerintah. Jika seperti itu berarti orang yang profesional adalah orang (tamat perguruan tinggi) yang mengakui dirinya sendiri sebagai orang hebat atau kapabel di dalam masyarakat.

Sekilas memang persoalan ini “dianggap” sangat baik. Namun dibalik itu ada suatu hal yang sangat merugikan masyarakat sebagai dampaknya. Orang-orang yang bagus atau kapabel pada pekerjaan tertentu, kehebatan mereka  terbukti dan diakui oleh masyarakat tetapi mereka tidak berasal dari Perguruan Tinggi mereka tersingkir secara imperatif. Pada hal jasa mereka sangat/sama pentingnya dalam menangani suatu pekerjaan. Berarti juga memperketat persyaratan sebutan profesional menciptakan kondisi yang tidak adil. Terjadi sebuah diskriminasi dalam  masyarakat. Me-marginal-kan kelompok tertentu. Jika kita hubungkan dengan undang-undang sistem pendidikan di Indonesia, bahwa pendidikan dan belajar dapat diselenggarakan melalui tiga jalur yakni jalur formal, non formal dan informal. Jika orang yang belajar melalui jalur formal (sampai ke Perguruan Tinggi) memperoleh pengetahuan dan keterampilan (keahlian) berhak menyandang gelar profesional, tentu demikian pula halnya bagi orang belajar melalui jalur non formal dan informal. Persoalan sekarang adalah perlu pula semacam pengakuan secara formal, misalnya memberikan sertifikat untuk dinyatakan atau sebagai legalitas.

Seharusnya orang-orang yang berkiprah di perguruan tinggi (Profesor) mencari dan menggunakan istilah lain yang cocok dengan identitas mereka,  kepentingan untuk menyatakan tenaga profesional yang berasal dari Perguruan tinggi. Tujuannya agar masyarakat tahu bahwa ada tenaga professional yang berasal dari perguruan tinggi dan ada pula yang tidak. Semisal   “dokter”, sangat jelas bedanya dengan “dukun”.

Menurut pemikiran penulis tidak etis menjadikan milik bersama (banyak orang) menjadi milik pribadi atau kelompok. Istilah profesional tepat disandang oleh orang yang memiliki “keahlian tertentu dan mampu bekerja lebih baik”. Sementara soal bayaran sama saja antara kedua kelompok itu. Ingat istilah profesional bukan hanya sekedar menunjukan tingkat keahlian seseorang, akan tetapi lebih dari itu, menyangkut sumber ekonomi atau mata pencaharian dan juga sebagai alternatif yang lebih hemat bagi masyarakat. Disamping itu juga melekat status kehormatan.

Dewasa ini jika masyarakat menggunakan jasa tenaga profesional lulusan Perguruan Tinggi mayoritas masyarakat merasa berat dengan bayaran yang relatif tinggi jika dibandingkan orang-orang ahli secara pengalaman. Jika masyarakat berurusan kesehatan dengan dukun, mereka sangat senang tanpa ada beban perasaan yang memberatkan soal bayaran. Cukup dengan pemberian berapa sanggup/mau. Etika profesi mereka  juga memberatkan masyarakat. Seperti ogah mendatangi pasien ke rumahnya, betapa pun miskinnya mereka. sampai ke pelosok pedesaan. Di samping itu juga tingkat sosialistis profesional yang berasal dari Perguruan Tinggi kurang bersahabat dengan masyarakat khususnya kelompok menengah ke bawah.  Pendidikan di Perguruan tinggi secara tidak disadari telah melahirkan sikap individualis dalam masyarakat. Misalnya saja tenaga profesional dari perguruan tinggi secara enteng saja menyatakan di media massa orang yang melahirkan dengan jasa dukun tidak terjamin kebersihan, hal itu akan membahayakan kesehatan anak dan ibu. Ada juga yang lebih tidak etis lagi dengan kata-kata seperti ““Sebab, tukang urut tidak mengetahui anatomi tubuh anak. Tindakan yang dilakukan di luar medis juga dapat memperburuk keadaan anak,” jelas dokter muda, dr. Intania Imron.

Kata yang seperti itu telah menimbulkan image kesombongan dan pelecehan. Ada lagi “orang tua tidak pandai mendidik anaknya secara profesional”, digunakan sebagai dasar pemikiran dalam rangka mengembangkan lembaga pendidikan anak usia dini. Hanya saja ucapan yang seperti itu tidak lebih dari dalam rangka mempromosikan diri sebagai profesional. Namun di balik itu juga terselubung makna merampas pelanggan (hak orang lain).

Demikian, tulisan ini hanya sebuah refleksi terhadap perkembangan profesi.

Semoga bermanfaat.

Iklan

Perihal Jalius. HR
[slideshow id=3386706919809935387&w=160&h=150] Rumahku dan anakku [slideshow id=3098476543665295876&w=400&h=350]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s